Ini cerita udah dibuat dari kelas 1 SMP dan jadi pas lagi kelas 2 SMP,
jadi maklum aja yah kalau tulisannya agak alay-alay gimana gitu.. dibuang sayang
NOVEL
7
HARI KETEMU HANTU
SINOPSIS
Chaca, Beby, Tasya, Helen, Indra, Virgo, dan Oyon adalah
sekelompok Remaja yang telah menjalin Persahabatan sejak kecil. Mereka
bersekolah di SMU BINTANG, salah satu sekolah swasta Favorit di Jakarta. Pada
suatu hari, wali kelas Mereka, Rosdiaty atau biasa disapa Bu’Rose. Memberikan
tugas kelompok kepada Siswa-Siswi Kelas 11 A (kelas dua SMU) itu selama 7 hari
atau satu minggu untuk menyelesaikan tugas kelompok mereka.
Tapi, pada saat
berbincang-bincang mengenai persiapan Praktek nanti, Mereka bertujuh pun sepakat
untuk meyewah rumah selama 7 hari untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh
Bu’Rose dan guru-guru lainnya.
Selama tinggal dirumah sewaan itu, Chaca, Beby, Tasya, Helen, Indra, Virgo, dan Oyon, mengalami kejadian yang tak terduga. Tapi ternyata disitulah, dirumah itu, Mereka menemukan jawaban yang selama ini mereka tunggu.
Disalah satu ruang
yang ada dirumah sewaan tersebut, Mereka menemukan sebuah jawaban yang selama ini mereka
tunggu.
Siapakah sebenarnya
yang Mereka tunggu...?
Dan, Apakah jawaban
yang mereka dapat...?
Temukan jawabannya hanya di-
7 HARI KETEMU
HANTU...!!!
BAB I

“Pencarian rumah’’
Pagi itu begitu cerah. Murid-murid SMU
BINTANG, telah duduk dibangku mereka masing-masing untuk menerima pelajaran. Di
kelas 11 A (2 SMU) adalah kelas tujuh
orang Remaja yang bersahabat sejak kecil.
Beberapa waktu
lalu, mereka ditinggal salah satu Sahabat mereka, yang bernama Nabila. Ia pergi
ke Kalimantan untuk ujian, karena memang dia hanya seminggu di Jakarta. Karena
ayahnya punya tugas kantor di Jakarta. Setelah itu, Nabila pulang ke
Kalimantan. Tetapi, Nabila akan selalu ada dalam hati tujuh sahabatnya di
Jakarta. Yaitu, Cha-Cha, Beby, Tasya, Helen, Indra, Virgo, dan Oyon.
“Anak-anak, karena
sebentar lagi Kita akan menghadapi UN. Untuk itu, Kita perlu mengadakan praktek
terlebih dahulu. Ada yang mau bertany ?” Jelas Ibu Rose, Wali Kelas mereka
memberi tahukan tentang Persiapan Ujian Praktek.
“Bu, prakteknya
dikerjakan berkelompok atau sendiri-sendiri ?” Tanya Oyon, sambil mengajukan
tangannya.
“Gimana kalau
Prakteknya dikerjakan berkelompok aja bu...?” Usul Helen.
“Oh, ide yang
bagus. Apakah kalian setuju dengan usul Helen ?” Jawab Bu’Rose sambil tersenyum,
dan kembali bertanya pada muridnya.
“S’tuju...Banget...Bu...!!!”
Teriak murid satu-persatu.
“Ibu, Kita
kelompoknya maximal dan minimalnya berapa orang ?” Tanya Chaca.
“Kalau ibu sich
terserah kalian aja. Ada yang punya usul ?” Ibu Rose kembali bertanya kepada
muridnya.
“Bu... Gimana kalau
berkelompoknya tuch, tujuh orang aja...???” Tanya Beby.
“Iya, biar Kita
bisa satu kelompok khan Beb” Sahut Virgo.
“Ih... Virgo apa’an sih...!” Bantah
Beby.
“Tapi bener kan
Beb...?” Tanya Tasya.
“He,He,He...! Iya
sih...!” Jawab Beby.
“Tobat... Deh...
Beby... tobat...!” Sahut Indra.
“Sudah-sudah...
Jangan ribut... Menurut ibu boleh-boleh saja satu kelompok tujuh orang. Kalian
setuju kan...???” Jawab Bu’Rose tegas. Lalu bertanya kembali.
“Kalau Kita sich
fine-fine aja Bu’...! Iya nggak...?” Kata Chaca, lalu di’ikuti sahut-sahutan
dari murd-murid yang lain.
“Ya’Sudah kalau
begitu, sekarang Kita sepakat untuk sau kelompok tujuh orang. Dan waktu
prakteknya ada tujuh hari atau satu minggu. Jadi, selama satu minggu itu, Ibu
akan memberi’kan tugas praktek di pelajaran ibu, yaitu Matematika. Dan
guru-guru lain yang mengajar dikelas ini, juga akan memberikan tugas prakteknya
untuk kalian. Sudah jelas...???” Sahut Bu’Rose mulai kesal.
“Iya...Bu...!!!”
Jawab murid serentak.
“Oke, kalau begitu
Kita mulai pelajaran.”
Beberapa menit kemudian, terdengar bunyi bel.
Kring..........Kring............Kring............!!!!!
“Okey, Karena
waktunya sudah habis. Tolong tugasnya dikumpul sekarang. Virgo, tolong Kamu
kumpul pekerjaan teman-teman’Mu. Dan bawa ke’meja Ibu, Ibu tunggu.” Kata
Bu’Rose tegas. Sambil menyuruh Virgo yang menjadi Ketua Kelas di 11 A,
sekaligus menjadi Ketua Osis.
“Iya, Bu” Jawab
Virgo singkat.
“Aduh... Duh...
Duh...!!! Gue belu selesai lagi” Sahut Beby panik.
“Udah... Kumpul...
Beb...!” Kata Chaca yang duduk disamping Beby.
“Ih... loe gimana
sich Cha... Udah tau gue belum selesai... loe malah suruh gue kumpul” Protes
Beby.
“Cup... Cup...
Kacian...!” Ejek Chaca.
“Eh,eh...! Len,
tolong bantu’in gue donk... Ini gimana caranya...???” Tanya Beby ke’ Helen,
dengan manja.
“Hmm... Beby,
kebiasaan dech..! Yaudah nich... Liat gue punya aja.” Tawar Helen sambil
menaruh bukunya di’atas meja, didepan Beby.
“Ih...! Thank you
so much Len...!” Kata Beby sambil mulai menulis di bukunya dengan melihat
catatan Helen.
“Ya’ ampun, Beb...!
Tuch khan gampang. Kok’ masih liat punya Helen sich...!” Ejek Indra.
“Bagi loe...! Lagian, gue khan cuma
ngeliat satu nomor aja... Selesai dech... Nich buku loe Len... Thank’s yach...”
Kata Beby ceria. Dan mengembalikan buku Helen.
“Okey... Dech... Beb... Your welcome”
Jawab Helen.
Pada saat di
kantin, Mereka berlima atau lebih akrab dipanggil De’Rainbow (itu adalah nama persahabat
mereka) sedang membicarakan tentang Ujian Praktek yang akan datang.
“Hmmm... Gimana
kalau Kita nyewah rumah aja selama seminggu. Biar kalau tugas Kelompoknya
dikerjain sama-sama and juga biar bisa kompak terus. Setuju nggak...?” Usul
Chaca.
“Setuju...................Buanget..................!!!!!”
Sahut Beby sambil mengangkat tangannya dan menurunkannya kembali.
“Gue juga
setuju......!!!” Sambung Indra. Lalu disusul oleh Tasya, Virgo, dan Oyon.
“Iya, gue juga
setuju kok. Lagian menurut buku yang gue baca, kekompakan itu akan lebih
gampang terjalin jika ada kerjasama dari semua anggota kelompok tersebut.
Nah....! Sedangkan kerjasama tuch akan lebih gampang bila setiap tugas
dikerjakan sama-sama. Jadi, akan lebih baik. Kalau Kita sama-sama terus...!”
“Okey deh...!
Kalau gitu, sebentar pulang sekolah Gue, Virgo, ama Oyon mau cari rumah yang
bisa di sewah selama seminggu. Bisa khan Go, Yon..???” Kata Indra.
“Bisa donk In...!”
Jawab Virgo dan Oyon bersama’an.
Tiba-Tiba terdengar bunyi bel masuk.
Kring.............Kring..............Kring..............!!!
“Ya... Udah masuk”
Kata Beby agak murung.
”Yaudah, Kita masuk
yuk. Abis ini khan Pelajarannya Ibu Ning. Nggak mau di’Jewer khan... Kalau
telat masuk ?” Sahut Virgo.
“Yaudah..... Masuk yuk...!” Ajak Chaca
sambil menarik tangan Beby.
Pada saat sudah
pulang sekolah. Mereka bertujuh pun masih tetap membicarakan tugas kelompok dan
rumah yang akan mereka sewah. Lalu, Indra, Virgo, dan Oyon. Sepakat untuk
mencari rumah sewahan yang nggak jauh dari sekolah. Supaya mereka ke sekolahnya
tidak terlambat.
“Eh... Tapi ingat
lho yach...! In, Go, Yon. Kalian cari rumahnya jangan sembarang, harus tau asal
usulnya gimana !” Kata Helen mengingatkan Indara, Virgo, dan Oyon.
“Emangnya, kenapa
sich Len...?” Tanya Chaca.
“Soalnya, Menurut
buku yang gue baca. Rumah tuch, kalau udah ditinggalin lebih dari tiga bulan.
Berarti itu udah jadi rumah jin.” Jelas Helen.
“Wow...! Berarti
udah jadi rumah hantu donk Len...?” Tanya Beby.
“Yach...! Bisa di
bilang gitu juga sich...!” Jawab Helen.
“I...i...i...!!!
Takyuuut...!” Sambung Tasya.
“Udah dech... Kita
khan lagi ngebicara’in rumah sewahan, bukannya rumah hantu. Nich juga, Helen
ngapain sich pake nakut-nakutin segala...!” Sahut Chaca agak
kesal.
“Ih... Siapa juga
yang nakut-nakutin. Gue khan Cuma mau ngenyampe’in apa kata buku yang gue baca,
kok malah gue sich yang disalahin. Lagian, itu perlu di waspadain lho Cha...!”
Bantah Helen.
“Iya” Jawab Chaca
singkat.
“Yaudah dech...
Kalau gitu, Gue, Virgo, ama Oyon duluan yach. Soaalnya Kita bertiga khan mau
cari rumah sewaan” Sahut Indra.
“Ocey...
Dech...!!!” Sambung Tasya.
“Eh, In, Go, Yon.
Ingat kata-kata gue tadi yach...!” Kata Helen mengingatkan.
“Sipzzz...
Len, tenang aja. Lagian, Kita khan nggak
mungkin mau cari rumah hantu” Jawab Virgo menenangkan.
“Betul itu, masa
Kita mau cari-cari bahaya sich...!” Sambung Oyon.
“Okey... Kalau
gitu, Gue, Virgo, ama Oyon duluan yach...!” Sahut Indra.
“Eh...! In, Go,
Yon... Jangan lupa kabari Kita-Kita yach. Kalau udah dapat rumahnya” Sambung
Beby, lalu di susul Chaca, Tasya, dan Helen.
“Tenang aja Cha,
Beb, Sya, Len... Pasti Kita kabarin dech.” Jawab Indra.
“Dah...!!!” Sahut
Indra, Virgo, dan Oyon.
“By...!!!” Sambung
Chaca, Beby, Tasya, dan Helen.
Akhirnya, Mereka pun berpisah di depan gerbang SMU BINTANG, dan
pulang kerumah mereka masing-masing.
Setelah pulang
kerumah masing-masing, dan sehabis ganti baju. Indra, Virgo, dan Oyon
bersiap-siap untuk mencari rumah.Tapi sebelum itu, Virgo dan Oyon kerumah
Indra, karena mereka mencari rumah sewaan
menggunakan mobil Indra. Setelah, sampai dirumah Indra, Virgo dan Oyon
lansung memencet bel dan yang membukakan pintu adalah maminya Indra.
“Eh, Na’ Virgo dan
Oyon. Masuk-masuk...!” Tawar Mami Indra sambil mempersilahkan duduk.
“Cari Indra
yach...?” Tanya Mami Indra.
“Iya tante.
Indra’nya ada...?” Sahut Virgo.
“Oh... Ada-ada,
Indra..... Ada Virgo dan Oyon nich...!” Teriak mami Indra.
“Iya mi...” Sahut
Indra, sambil turun dari tangga rumahnya dan berkata:
“Eh... Go, Yon,
yuk...! E... Mi... Aku, Virgo, ama Oyon mau pamit dulu”
“Lho, mau kemana...?”
Tanya mami Indra.
“Kita mau cari
rumah sewahan Mi. Soalnya khan, Aku, De’Rainbow, Virgo, ama Oyon tuch... satu
kelompok dalam Ujian Praktek nanti. jadi, rencananya Kita mau nyewah rumah.
Biar kalau Kita mau ngerjain tugas Prakteknya di’kerjain disitu aja. S’kalian
nginep. Boleh khan Mi...?” Jawab Indra, lalu bertanya pada maminya.
“Boleh kok... Mami
ijinin. Yang penting Kalian harus jaga diri Kalian” Jawab Mami Indra lalu
menasehati.
“Tenang aja mi...
Kita pasti bisa jaga diri Kita kok. Kalau gitu, Indra pergi dulu yach mi.
Dah... mami.” Sahut Indra lalu pamit.
“Permisi
tante...” Pamit Virgo dan Oyon.
“Iya, hati-hati
yah...!” Jawab Mami Indra.
Setelah itu Indra, Virgo dan Oyon pun langsung naik ke’mobil dan
berangkat.
“Kita cari rumah
sewahanya di mana dulu nich...?” tanya indra yang lagi mengemudi.
“Gi mana kalau kita
carinya di dekat – dekat sekolah dulu” jawab Virgo yang lagi duduk di samping
indra.
”Oh ya...! Gue baru
ingat, kalau nggak salah ada rumah sewahan yang nggak jauh dari sekolah kita!
“Sahut Oyon.
“Di mana tuch Yon?”
tanya Virgo.
“Itu tuh, di jalan
Ki hajar dewantara.” Jawab Oyon.
“Yah...ya itu sich
jauh Yon...!” kata Indra.
“Nggak kok, kira –
kira satu kilometer lah...dari sekolah kita, gimana?” tawar Oyon.
“Boleh juga tuch,
gimana In ?” tanyaVirgo.
“Okey dech kita
kesana yach...!” jawab Indra
Beberapa
waktu kemudian, Indra, Virgo, dan Oyon telah sampai dirumah sewaan tersebut.
Tapi mereka terkejut melihat rumah itu.’
“Nich... rumahnya
Yon...?” tanya Indra memulai pembicaraan.
“Kayaknya sich...!”
jawab Oyon.
“Kayaknya ngaak
nyaman dech... Untuk ditempatin.” Sahut Virgo.
“Yaudah, kalau
gitu... Kita cari rumah lain aja yuk.” Kata Indra sambil naik kemobilnya. Lalu
Virgo dan Oyon juga naik naik ke dalam mobil.kemudian,mereka bertiga
pun,melanjutkan perjalanan untuk mencari rumah yang akan mereka sewah.Akhirnya
mereka bertiga pun mendapatkan rumah yang cocok untuk mereka tempati.Dan
tiba-tiba saja,virgo berkata
“E...e...in..berenti
donk.loe liat dech...!
“oh...iya...ada rumah
yang di kontrakkin.”sahut Indra sambil menunjuk rumah tersebut.
“Turun
yuk...!!!”ajak Oyon.
Lalu Mereka bertiga pun turun dan melihat – lihat keadaan ruar
rumah sambil mencari informasi tentang rumah tersebut ke tetangganya.
“E...e...permisi
bu... saya boleh numpang tanya nggak...???”tanya indra kepada ibu – ibu yang
sedang menyapu halaman.
“Iya...boleh...emangnya
mau tanya apa?”jawab ibu itu.
“Kita mau tanya,
rumah yang ini kan dikontrakkan, truzzz...berapa lama penghuninya udah
ninggalin rumah ini?” Tanya Virgo
“Orang rumah ini
baru tiga hari yang lalu meninggalkan rumah ini.”jawab ibu itu.
“Oh... Yaudah kalau
gitu makasih ya bu...”kata Oyon sambil segera pergi.”
“iya...sama – sama”
jawab ibu itu sambil meneruskan menyapu.
“gimana kalau rumah
sewahannya ini aja!”usul Indra.
“wah...gue setujuh
banget tuch In.”sahut Virgo.
“Iya...benar.. lagian
suasananya juga enak. Truzzz... baru di tinggalin tiga hari.” kata Oyon senang.
Akhirnya Indra, Virgo,
dan Oyon pun telah sepakat, untuk menyewa rumah tersebut selama seminggu. Lalu,
Indra segera menyimpan nomor telepon yang tertera pada papan kontrakan itu
di-HP’nya. Kemudian, Indra segera menghubungi De’Rainbow, memberitahukan bahwa
mereka bertiga telah mendapatkan rumah sewahan. De’Rainbow pun tidak keberatan
dengan keputusan Indra, Virgo, dan Oyon. Untuk menyewah rumah tersebut. Lalu
mereka bertiga pun, naik kemobil untuk segera pulang. Dalam perjalanan, Virgo
menghubungi nomor telepon yang ada di
papan kontrakan tersebut. Lalu mereka pun sepakat akan menyewa rumah tersebut
dan telah membicarakannya pada pengontrak rumah tersebut. Setelah menutup
telepon Virgo pun berkata:
“In, Yon...! Kata
pengontraknya dia setuju untuk mengontrakan rumahnya pada Kita, Ya... Walaupun
Cuma Seminggu.”
“Truzzz...! dia
bilang apa lagi.” Tanya Oyon.
“Katanya sich...!
Kalau mau lebih jelas. Besok Kita kekontrakan itu dan bertemu langsung dengan
Dia.” Jawab Virgo.
“Ocey... Dech...!
Kalau gitu Kita s’kalian ajak De’Rainbow juga, mereka pasti senang dech !” Kata
Indra.
Ke’Esokan Harinya,
Indra, Virgo, dan Oyon memberitahukan tentang sebuah rumah yang telah mereka
dapatkan, Kepada De’Rainbow. Indra pun berkata:
“Cha, Beb, Sya,
Len...! Gue, Virgo, ama Oyon udah dapat rumah sewahannya.”
“Wah...
Dimana...???” Tanya Beby.
“Di JL.Kihajar Dewantoro. No:3A.” Jawab
Virgo.
“Hmm...! Tapi...
Kalian ingat kata-kata Gue khan...?” Tanya Helen.
“Yaiyailah... dan
loe pasti nggak nyangka Len... Kalau tu’ rumah baru ditinggalin tiga hari. Ama
penghuninya.” Jawab Oyon.
“Truzz.....Truzz.....Truzz.....!
Kalian udah hubungin Pengontraknya ?” Tanya Tasya.
“Udah kok’. Dan
katanya kalau mau lebih jelas, sebentar ini Kita di suruh datang kerumah
kontrakannya itu. Mau nggak...?” Jawab Virgo lalu bertanya.
“Waw... Mau banget.
Lagian Aku juga udah nggak sabar nich... Pengen liat rumahnya kayak
apa...!” Jawab Beby.
“Iya... Kita mau
kok” Sahut Chaca. Lalu di’susul Tasya dan Helen.
“Ocey... Kalau gitu...
Sebentar habis pulang sekolah Kita ganti baju dulu. Nah... Kalau udah siap.
Ntar, Gue jemput dirumah Kalian masing-masing. Ocey...!” Kata Indra.
“Oh... Ya...
Truzz... Kalau rumahnya udah di’sewah. Kita kapan nempatinnya ?” Tanya Beby.
“Gimana kalau besok aja. Khan hari minggu, Jadi khan
Kita bisa bersih-bersih and skalian mindahin barang-barang.” Usul Chaca.
“Wah... Ide bagus tu’ Cha...!” Kata
Tasya.
“Iya... Lagian khan kalau nggak salah
Kita mulai prakteknya hari Senin khan...?” Tanya Helen.
“Yapzzz...!” Jawab Oyon.
“Ow... Berarti waktunya pas donk...!”
Sahut Tasya.
Tiba-tiba saja. Bel masuk pun berbunyi. Dan mereka
bertujuh segera menuju kelas dan setelah pulang sekolah Chaca, Beby, Tasya,
Helen, Indra, Virgo, dan Oyon langsung pulang kerumah mereka masing-masing. Dan
bersiap-siap untuk pergi melihat keadaan rumah yang telah mereka sewah.
Setelah selesai bersiap-siap Indra pun menjemput
Sahabatnya satu per satu, dimulai dari Chaca, lalu Beby, Tasya, Virgo, Helen,
dan terakhir Oyon.
Beberapa waktu kemudian, Mereka ber-tujuh pun telah
sampai dirumah sewahan tersebut. Para cewek De’Rainbow (Chaca, Beby, Tasya, dan
Helen) sangat terkejut melihat rumah yang telah disewah Indra, Virgo, dan Oyon.
“Nich Rumahnya... Yach...?” Tanya Chaca.
“Iya...! Gimana menurut kalian ?” Jawab Indra.
“Hmm... Lumayan sich... Nggak nyeremin. Tapi kok’
kotor...!!!” Sahut Beby sambil melangkah menuju teras rumah tersebut, Lalu
telunjuknya mencolek abu yang ada dimeja teras. Tapi segera Beby membersihkan
telunjuknya, dengan cara meniupnya.
“Em..... Namanya juga udah tiga hari nggak
dibersihin Beb !” Sambung Helen sambil melangkah menuju teras juga. Lalu
di’ikuti Chaca, Tasya, Virgo, Indra, dan Oyon.
“E...e... Go... Pengontrak rumah ini mana sich...
Kok’ nggak datang-datang ?” Tanya Tasya pada Virgo.
“Mungkin bentar lagi Sya. Kalau gitu Gue telefon
dulu dech...!” Jawab Virgo.
Ketika Virgo sedang mencoba menelefon pengontraknya.
Tiba-tiba saja datang seorang wanita separuh baya menghampiri Mereka. Virgo pun
segera mematikan telfonnya.
“Permisi... Apa kalian yang akan menyewah rumah ini
?” Tanya Wanita separuh baya tersebut.
“Iya... Kalau boleh tau, Tante siapa yach...?” Kata
Chaca lalu bertanya pada wanita tersebut.
“Panggil saja Saya Tante Anggi. Karena Saya yang
mengontrak’kan rumah ini!” Jawab wanita tersebut atau akrab dipanggil Tante
Anggi.
“Haaaaa......!!!” Sahut Chaca, Beby, Tasya, Helen,
Virgo dan Oyon bersamaan, Tapi juga sangat terkejut.
“Aduh... Tante Anggi maafin Kita yach... Kita nggak
tau.” Kata Helen.
“Nggak apa-apa kok’. Saya bisa maklumi.” Sahut Tante
Anggi.
“Ehmm... Tante Anggi, Kita bisa khan... Masuk kedalam
?” Tanya Tasya.
“Oh... Iya... Tante jadi lupa. Silahkan masuk. Ini
kuncinya. Lho... Tapi kok’ Tante lihat, Kalian belum bawa apa-apa.” Jawab Tante
Anggi.
“Iya... Tante... Kita emang nggak bawa barang.
Soalnya Kita Cuma mau lihat-lihat aja dulu.” Kata Indra.
“Emm... Rencananya sich. Besok Kita udah mau
beres-beres Tante. S’kalian mau ngangkat barang atau prabotan rumah untuk di
masukin kedalam.” Sambung Virgo.
“Kalian nggak perlu bawa prabotan rumah. Kecuali
baju, buku, dan perlengkapan Kalian masingg-masing. Karena di’dalam sudah ada
kursi, meja, kulkas, Tv, DLL. Tinggal Kalian menatanya saja.” Kata Tante Anggi
menjelaskan.
“Waw.....! Enak donk... Berarti Kita nggak perlu
susah-susah lagi ngangkat barang atau prabotan rumah. Khan, udah ada.” Sahut
Beby.
“Tante Anggi, boleh tau. Barang-barang itu punya
Tante yach ?” Tanya Oyon.
“Oh... Enggak, itu punyanya pemilik rumah ini.”
Jawab Tante Anggi.
“Lho... Berarti, Tante bukan Pemilik rumah ini ?”
Tanya Helen.
“Iya...” Jawab Tante Anggi, singkat.
“Truzzz... Kalau bukan Tante, siapa donk...?” Tanya
Tasya.
“Rumah ini milik Adik Tante. Dia sengaja nitip
ke’Tante untuk di’kontrak’kan.” Jawab Tante Anggi.
“Emangnya Pemilik rumah ini nggak tinggal di’sini ?”
Tanya Tasya.
“Tidak. Mereka sekarang lagi ada di’Kalimantan.”
Jawab Tante Anggi.
Lalu Indra yang telah membuka pintu rumah tersebut
menyuruh mereka masuk. Sambil berkata:
“Eh... Masuk yuk !”
“Waw, udah ada perlengkapannya lagi.” Kata Beby.
“Ya’Ampun Beby... Tadi khan Tante Anggi udah bilang,
Kalau nich rumah dikontrak’an udah s’kalian dengan perlengkapannya.” Sambung
Helen kesal.
“Di’sini ada 3 kamar. Jadi, Kalian bisa membagi-bagi
siapa saja yang akan menempati kamar tersebut.” Sahut Tante Anggi.
“Di’sini khan ada 3 Kamar, jadi gimana kalau 1 kamar
2 orang. Kayak gue ama Helen dan Beby ama Chaca. Ehmm... Tapi, Indra, Virgo,
ama Oyon. Nggak apa-apa khan kalau se’kamar 3 orang...!” Usul Tasya.
“Gue stuju banget tuch Sya.” Sahut Beby.
“Gue juga.” Sambung Chaca dan Helen.
“Ya..... Bagus, Kita nggak di tanyain.” Sahut Indra.
“Iya... Di’cuekin lagi...” Sambung Virgo.
“Nggak mau dengar pendapat Kita bertiga nich...!”
Sambung Oyon.
“Sorry... Dech...!” Jawab Chaca, Beby, Tasya, dan
Helen serempak.
“Tapi, Kalian s’tuju khan...?” Tanya Beby.
“Yaiyalah... Asalkan Kalian berempat seneng, Kita
bertiga juga ikutan Seneng kok.” Jawab Indra.
“Ya... Walaupun sempat di’cuekin. He,he,he...!”
Sambung Virgo dan Oyon.
Akhirnya
Mereka bertujuh pun tertawa. Dan hampir saja lupa, bahwa di’situ ada Tante
Anggi.
“Ya’sudah kalau begitu. Tante mau pamit dulu yach.”
Sahut Tante Anggi.
“Lho... Kok’ buru-buru sich Tante ?” Tanya Tasya.
“Tante masih punya urusan yang lain. Kalian
lihat-lihat saja dulu. Tapi tetap jaga diri Kalian yach...!” Jawab Tante Anggi,
menasehati.
“Iya... Tante.” Kata Chaca.
“Ya’sudah... Kalau begitu Tante pamit yach.” Sahut
Tante Anggi, lalu segera pergi.
Lalu mereka bertujuh pun melihat-lihat keadaan rumah
serta isinya. Lalu, tiba-tiba terdengar suara teriakan Beby dari ruang belakang
atau dapur.
“A...........a........A.........!!!” Teriak Beby.
“Lho... Itu khan suara Beby.” Sahut Oyon.
“Kalau gitu cepat Kita lihat yuk...!” Sambung Tasya.
Setelah
sampai menghampiri Beby, Indra pun berkata:
“Beby loe kenapa sich...!”
“A...a... Iin... Tolongin gue.” Kata
Beby panik.
“Emangnya ada apa sich Beb ?” Tanya Virgo.
“Itu... Ada tikus...!!! Jawab Beby.
“Hmm... Kira’in apa’an...!” Sahut Chaca, Tasya, dan
Helen.
“Masa sama tikus aja pake teriak histeris begitu.”
Kata Indra.
Akhirnya, Mereka bertujuh pun pergi ke’depan atau
teras rumah tersebut dan memutuskan untuk segera pulang, karena telah puas
melihat-lihat isi rumah. Setelah Mereka mengunci pintu dan kuncinya di’pegang
oleh Chaca. Lalu, Chaca, Beby, Tasya, Helen, Indra, Virgo, dan Oyon pun segera
menuju mobil dan pulang.
* * *
Bab ii
“Muncul keanehan”
HARI PERTAMA:
Hari ini adalah hari Pertama Chaca, Beby, Tasya,
Helen, Indra, Virgo, dan Oyon menempati rumah tersebut. Mereka pun
mempersiapkan segala keperluannya. Setelah bersiap-siap, Mereka bertujuh pun
segera berangkat menuju rumah tersebut.
Setelah sampai dirumah tersebut, Mereka bertujuh pun
segera menyimpan koper dan langsung membagi tugas untuk membersihkan dan
langsung menata rumah tersebut agar terlihat lebih indah dan rapi. Setelah selesai,
Chaca, Beby, Tasya, Helen, Indra, Virgo, dan Oyon pun beristirahat.
“Hmm...! Capek juga.” Kata Helen sambil duduk.
“Duh... Capek buanget. Malahan haus lagi.” Sahut
Beby.
“Yaudah... Kalau gitu gue ambil air minum dulu
dech...! Kalian nggak mau nitip.” Tawar Virgo.
“Gue mau donk... Go...!” Sahut Beby, lalu di’susul
Tasya, Chaca, Helen, Indra, dan Oyon.
“Tunggu bentar yach...!” Kata Virgo.
Lalu, saat Virgo sedang mengambil air. Tiba-tiba,
Dia melihat ada yang merah-merah menempel di’lantai, disamping kulkas. Virgo
heran, dan Ia pun mengira itu hanya cat. Tapi, Ia kembali bingung.
“Masa, disini ada cat warna merah sich...!
Padahalkan dirumah ini nggak ada dinding, kayu atau kursi dan meja yang
berwarna merah” Ucap Nurani Virgo, mulai befikir. Virgo pun sempat mengira
bahwa itu darah. Tapi, Ia tambah bingung lagi, “Kenapa sampai ada darah” Ucap
lagi Nurani Virgo. Dan akhirnya, Ia pun memanggil Indra, Chaca, Beby, Tasya,
Helen, dan Oyon untuk memastikan, apakah itu benar-benar darah.
Setelah dipanggil, Indra, Chaca, Beby, Tasya, Helen,
dan Oyon pun segera menghampiri Virgo. Mereka benar-benar sangat terkejut
dengan apa yang ditemukan oleh Virgo.
“Wah... Jangan-jangan darah...!!!” Sahut Beby.
“I...i...I...!!! Takyuttt...!” Kata Tasya sambil
merangkul tangan Beby. Dan begitu pun sebaliknya.
“Duh... Beb... Sya...! Berfikir yang jernih donk...
Mana mungkin disini ada darah...!” Sahut Chaca.
“Truzzz..... Apa donk...???” Tanya Beby dan Tasya,
bersamaan.
“Ya... Mana gue tau. Emang gue paranormal.” Jawab
Chaca.
“Virgo, coba loe cek dulu dech...!” Perintah Oyon.
“Tadi, udah gue pegang.” Jawab Virgo.
“Truzzz..... Truzzz..... Gimana ?” Tanya Indra.
“Ini tuch... Kayak mengeras gitu...” Jawab Virgo.
“Udah dech... Dari pada Kita tambah bingung mikirin
nich bercak-bercak merah. Mending Kita bersihin aja dech... Biar nggak bikin
pusing.” Kata Helen.
“Ha... Kita... Loe aja kali... Gue nggak...!” Sahut
Beby dan Tasya, bersamaan.
“Emangnya siapa yang ajak Kalian berdua... Orang,
gue Cuma mau ngajakin Chaca kok’ !” Kata Helen.
“Ha... Gue...???” Tanya Chaca, kaget.
“Ya...Iya...! Loe mau khan Cha ? Ya... Kalau loe
nggak mau juga nggak apa-apa kok’. Gue bisa sendiri !” Jawab Helen, agak kesal.
Sambil berjalan menuju dapur, untuk mengambil air.
“Eeittsss..... Tunggu dulu donk. Gue mau kok’.” Kata
Chaca, menenangkan.
“Ya... Bagus dech. Kalau gitu !” Kata Helen.
“Ya... Jangan ngambek donk, Len... Ntar tambah jelek
lho...!” Sahut Beby, bercanda, (agak sedikit mengejek sich...!).
“I..ih...! Beby apa’an sich...! Nggak lucu, tau...”
Sahut Helen, kesal.
“Ya, Ampun... Len, Beby khan Cuma becanda.” Kata
Tasya, menenangkan.
“Becanda, sich becanda... Lagian, udah nggak
ngebantuin.. Ngejek lagi...” Kata Helen, kesal. Dan tiba-tiba Oyon pun datang
dengan membawa ember berisi air, lengkap dengan kain pembersih.
“Yon, Loe ngapain bawa-bawa ember segala...!” Tanya
Indra, heran.
“Lah... Katanya Helen ma Chaca mau ngebersihin tu’
lantai. Nich... Gue bawa’in alat pembersihnya.” Jawab Oyon.
“Loe mau ngebantuin juga Yon ?” Tanya Helen.
“Ya... Enggak sich. Cuma pengen ngebawa’in ini aja.”
Jawab Oyon.
“Yah...! Loe sama aja nich, ama Beby, Tasya, Indra,
ma Virgo. Mau’nya ambil enak aja. Bukan temen nich namanya.” Kata Helen.
“Emang Kita bukan Temen. Tapi, khan... Kita
Sahabat.” Sahut Indra.
“Apa’an sich... Ya’udah dech, kalau gitu mending
Kalian gih sana. Soalnya gue ma Chaca mau ngebersihin.” Kata Helen.
“Bener yach, Kita tinggal ke’depan nggak apa-apa
nich ?” Tanya Indra.
“Yaudah... Sana.....!!!” Jawab Chaca.
Lalu Tasya, Beby, Indra, Virgo, dan Oyon pun pergi
keruang tamu. Namun, Virgo masih penasaran dengan apa yang Ia lihat barusan.
Tapi, karena telah di’bujuk oleh Beby, Tasya, Indra, dan Oyon. Akhirnya, Virgo
dapat menghilangkan pikirannya tentang ke’anehan yang terjadi barusan. Tak
terasa, waktu pun sudah larut malam. Chaca, Beby, Tasya, Helen, Indra, Virgo,
dan Oyon pun sedang mempersiapkan keperluan praktek. Helen yang sedang
kebingungan mencari buku Matematika’nya yang hanya Ia taruh di’rak bukunya
tiba-tiba saja hilang. Helen pun bertanya pada Chaca, Beby, Tasya, Indra, Virgo,
dan Oyon. Tapi, satu orang pun dari mereka, tidak ada yang mengetahui dimana
buku Matematika Helen. Dan pada saat Helen ingin ke’dapur untuk mengambil air,
tiba-tiba Ia melihat buku Matematika’nya ada di’depan gudang belakang. Helen
yang sedang bingung pun menghampiri Chaca, Beby, Tasya, Indra, Virgo, dan Oyon.
“Eh... Kok’ buku Matematika gue ada di depan pintu
gudang belakang sich...?” Tanya Helen.
“Yah... Len, Kita mana tau tentang buku Matematika
loe.” Jawab Tasya.
“Atau... Jangan-jangan, loe semua sengaja ngerjain
gue. Dengan naruh buku Matematika gue didepan pintu gudang belakang khan...???”
Tebak Helen.
Tebak Helen.
“Ih... Waw...! Tahan... Bu’.. Nanti Pendarahan...”
Sahut Indra.
“Lagian, kayak kurang kerjaan banget sich, Kita
ngerjain loe dengan naruh buku Matematika loe didepan gudang belekang.” Kata
Beby.
“Iya... Nich...! Emang apa untungnya juga coba...
Kalau Kita ngerjain loe... Nggak ada khan...?” Sambung Virgo.
“Ada kok’... Menurut buku yang gue baca. Cara kalian
tuch, namanya cari-cari sensasi. Lagian bilang aja dech... Gue juga nggak
bakalan marah kok’.” Kata Helen.
“Ih... Waw.....! Helloww.....! Len, masa Kita
ngerjain loe Cuma untuk cari-cari sensasi doank.” Sahut Indra.
“Iya, Lagian ngabisin waktu aja. Mending waktunya
dipake buat ngerjain PR, nich banyak.” Sambung Chaca.
“Truzzz..... Kenapa buku Matematika gue bisa ada
didepan pintu gudang belakang...?” Tanya Helen.
“Tanyakanlah... Pada rumput yang bergoyang...” Jawab
Oyon, tapi ngelantur.
“Udah... Len... Nggak usah dengerin kata-kata Oyon tuch... Dia emang suka ngaur.” Sahut
Beby.
Akhirnya, Helen pun memutuskan untuk tidak
memikirkan keanehan yang barusan terjadi. Karena, Ia fikir. Mungkin, Ia lupa
kalau pernah menaruh buku Matematika nya didepan gudang belakang. Atau bisa
saja, Cuma kebetulan. Dan Helen pun bergabung untuk belajar bersama Chaca,
Bbey, Tasya, Indra, Virgo, dan Oyon.
HARI KE-DUA:
Pada pukul 06.30. Chaca, Beby, Tasya, Helen, Indra,
Virgo, dan Oyon, sudah berangkat ke’sekolah. Waktu pun terus berjalan dan tanpa
terasa waktu pulang sekolah telah tiba. Mereka pun pulang kerumah sewaan
tersebut.
Setelah sampai dirumah, Mereka pun menjalani
aktivitas seperti biasa.
Pada saat Beby kekamarnya, Ia tiba-tiba melihat
kalau tas make-up’nya tidak ada.
“Wah...! Mana tas make-up gue...!!!” Teriak Beby,
panik.
Lalu Tasya, Chaca, Indra, Helen, Virgo, dan Oyon,
segera pergi kekamar Beby dan Chaca.
“Lho...! Kenapa Beb...?” Tanya Virgo.
“Tas make-up gue nggak ada !” Jawab Beby.
“Hah...! Maksud loe ilang Beb...?” Sahut Helen.
“Aduh... Masa Ilang sich...!” Kata Beby, sambil
melihat dan membuka-buka laci.
“Mungkin Kamu salah salah taruh kali Beby...!” Tebak
Tasya.
“Enggak, gue tuch yakin banget... Kalau tas make-up
gue tuch ada disini. Dan gue nggak
pernah bawa-bawa tas make-up gue keluar.” Kata Beby Menjelaskan.
“Coba... Loe ingat-ingat lagi dech Beb...!” Sahut
Chaca.
“Iya, jangan sampai kayak Helen semalem. Nuduh Kita
nyembunyi’in buku Matematika’nya !” Kata Oyon sambil memandang Helen.
“Apa’an sich...!” Kata Helen, agak kesal.
“Duuhh.......! Mana sich tas make-up gue. Kehilangan
tas make-up gue, kayak kehilangan setengah dari hidup gue...!” Sahut Beby, agak
sedih.
“Ih... Waw...! Nggak segitunya kali Beb...!” Kata
Indra.
“Gimana nggak segitunya, tas make-up gue tuch selalu
menemani gue kemana-mana...! Atau jangan-jangan, tas make-up gue ada di ruang
tamu !” Tebak Beby.
“Lho...! Bukannya loe bilang tadi tas make-up loe
nggak pernah bawa keluar dari kamar.” Kata Tasya mengingatkan.
“Mungkin aja khan... Gue lupa naruh dimana, atau
kemarin gue nggak sempat bawa ke’kamar...!” Tebak lagi Beby.
“Mungkin aja kali...! Coba loe liat aja dech... Keluar.” Tawar Indra.
“Ya’udah... Kalau gitu gue ama yang lainnya ke’ruang
tengah, ya... Beb !” Sahut Virgo.
Kemudian, Beby pun segera keluar dan Chaca, Tasya,
Indra, Helen, Virgo, serta Oyon, pun keruang tengah untuk menonton TV.
Setelah Beby ke’ruang tamu. Ia tak melihat atau
mendapatkan tas make-up’nya. Tapi, tiba-tiba Beby melihat Chaca ada diteras.
Dan Beby pun menghampirinya.
“Lho... Cha, bukannya loe ada didalem ! Truzz...
muka loe kok’ pucat gitu sich...!” Tanya Beby agak bingung.
Dengan sikap bicara agak aneh, Chaca pun bertanya
dan mengatakan:
“Beb... Kamu cari tas make-up’mu khan...?”
“Iya...!” Jawab Beby.
“Nih, tas make-up kamu !” Kata Chaca, sambil memberi
tas kecil berwarna pink yang merupakan tas make-up Beby.
“Wah...! Loe temu dimana Cha...? Atau jangan-jangan,
loe umpetin yach ?” Tanya Beby.
“Loe nggak perlu tau Beb...!” Kata Chaca singkat.
“Ya’udah dech... Kalau gitu... Kita kedalem yuk !”
Ajak Beby.
“Loe aja... Gue masih mau tetap disni.” Kata Chaca.
“Ya’udah dech...! Kalau gitu gue kedalem...
yach...!” Sahut Beby, lalu segera menuju ke’ruang tengah.
Sesampainya diruang tengah. Beby sangat terkejut
sekali. Melihat Chaca ada disamping Tasya sedang duduk dan asyik nonton TV.
“Lho... Cha... Loe ada diteras ?” Tanya Beby, dan
kata-katanya agak sedikit tersendat-sendat.
“Beby Galia Putri... Gue dari tadi tuch disini.
Kalau nggak percaya, tanya aja dech tuch... Sama Tasya, Helen, Indra, Virgo,
ama Oyon !” Jawab Chaca.
“Truzzz... Kalau emang loe dari tadi ada disini.
Yang sama gue waktu diteras tadi siapa donk...!” Kata Beby.
“Emangnya kenapa sich Beb ?” Tanya Indra.
“Tadi tuch... Gue khan lagi nyari tas make-up gue...
Truzzz... Gue ngeliat Chaca ada diteras. Dan, yang ngasih tas make-up ini tuch.
Chaca...!” Jawab Beby.
“Hah......! Gue......???” Sahut Chaca kaget.
“Mungkin loe salah liat kali Beb...!” Kata Oyon.
“Ih... Kalian kok’ nggak percaya banget sich...!
Yaudah... Kalau gitu, sini ikut gue !” Sahut Beby.
Lalu, Beby pun mengajak Chaca, Tasya, Helen, Indra,
Virgo, dan Oyon ke’teras untuk memastikan. Apakah di’teras ada sosok Chaca atau
tidak.
Sesampainya didepan teras, tidak ada siapa-siapa.
Beby pun sangat terkejut. Dan Chaca, Tasya, Helen, Indra, Virgo serta Oyon
mengira, bahwa Beby Cuma bercanda saja.
“Mana... Beb... Katanya ada Chaca !” Kata Helen.
“Emangnya, tadi Kamu benar-benar ngeliat Chaca yach,
Beb ?” Tanya Tasya.
“Iya... Bener... Gue nggak bohong kok’.
Seribu’rius... Sumpah ta’kewer-kewer dech ! Tapi, kok’ nggak ada yach !!!”
Jawab Beby, meyakinkan sahabat-sahabatnya itu.
“Yang bener loe Beb, masa Chaca ada dua sich !”
Sahut Indra.
“Ih...! Kalian semua kok’ nggak percaya sich ama
gue.” Teriak Beby kesal dan segera masuk kekamarnya.
“Lho...! Beb..... Beby..........!!!” Teriak Oyon
memanggil Beby. Tapi, tetap saja Beby mengabaikannya.
“Yah...! Mulai lagi dech, penyakitnya !” Kata Chaca.
“Iya, cepat ngambek.” Sambung Helen.
“Yaudah dech...! Kalau gitu, Kita masuk aja yuk...!”
Tawar Virgo. Lalu Chaca, Tasya, Helen, Indra, Virgo, dan Oyon pun masuk kedalam
rumah tersebut.
Setelah hari telah sore, Mereka pun sudah terlihat
menyiapkan bahan praktek. Dan kali ini. Giliran Indra yang mendapat keanehan.
Pada waktu Indra sedang keluar dari teras rumah. Ia melihat bayangannya ada
tiga. Awalnya, Indra mengira bahwa itu Cuma bayangan pohon yang ada
dibelakangnya. Tapi, setelah Indra menjauh dari pohon tersebut, tiga bayangan
itu masih tetap ada. Setelah Indra perhatikan, itu memang benar-benar
bayangannya. Anehnya, salah satu dari tiga bayangan yang Indra lihat, itu
berambut panjang. Akhirnya, Indra pun segera kembali kerumah dengan
tergesah-gesah dan segera berkumpul dengan Chaca, Beby, Tasya, Helen, Virgo,
dan Oyon. Yang masing-masing sedang menyusun bahan praktek.
“Loe kenapa In...? Kok’ mukanya kayak orang habis
di’kejar hantu sich.” Tanya Virgo.
“Iya... Kok tergesa-gesa gitu sih !” Sambung Tasya.
“Ih...! Tobat... Deh... Tobat.....! Gue... Gue..
Itu...! Anu...!” Jawab Indra tergesa-gesa/tersendat-sendat.
“Aduh... In, Mendingan loe minum dulu dech...!”
Tawar Beby sambil memberikan Indra air putih, dan sehabis meminum air yang
diberikan Beby. Indra pun langsung menceritakan apa yang Ia alami.
“Hmm........! Loe tau nggak... Tadi tuch, gue kan
lagi jalan-jalan keluar teras sebentar. Trus, tiba-tiba gue tuch ngeliat
bayangan gue ada tiga.” Jelas Indra.
“Wah... Loe... Serius, In...?” Sahut Helen.
“Iya... Limaribu’rius lagi...! Dan anehnya, gue tuch
ngeliat salah satu dari bayangan gue tuch, rambutnya panjang, trus.. kakinya
nggak nginjak tanah. Awalnya sich, gue ngira itu tuch Cuma bayangan pohon yang
ada dibelakang gue. Tapi, setelah gue perhati’in trus gue menghindar dari pohon
yang ada dibelakang gue. Bayangan itu masih ada. Yaudah, gue lari dech..
kesini.” Jelas Indra panjang lebar.
“Ih........... Seremmm...........!!!” Sahut Beby dan
Tasya
Sementara itu, Chaca yang baru selesai mandi dan
ganti baju, sedang menyisir rambutnya sambil melihat kaca yang ada dikamarnya
dan Beby.
Anehnya, Chaca yang memiliki rambut yang tidak
terlalu panjang itu. Tiba-tiba, Ia melihat rambutnya dikaca sangat panjang dan
tebal. Tapi, beberapa kali Chaca menunduk untuk melihat rambutnya dikenyataan
itu seperti biasa. Lalu Ia melihat lagi
kecermin, rambutnya sangat panjang dan tebal. Tetapi, kenyataannya tidak.
Akhirnya, Chaca pun segera keluar dari kamarnya.
Lalu langsung berkumpul dengan Tasya, Beby, Helen, Indra, Virgo, dan Oyon. Dan segera menceritakan apa yang barusan Ia
alami.
“Loe kenapa lagi sich Cha ?” Tanya Tasya.
“Duh... Tadi tuch... Gue khan lagi nyisir rambut.
Tiba-tiba aja gue ngeliat dicermin tuch... Rambut gue panjang banget. Trus..
Tebel lagi..” Jelas Chaca.
“Masa sich Cha...!” Sahut Beby penasaran.
“Iya bener... Dan yang lebih anehnya lagi. Pas gue
ngeliat kenyataannya tuch, rambut gue biasa-biasa aja. Tapi, pas gue liat
dicermin.. Rambut gue panjang banget, tebel lagi. Yaudah, gue kesini aja.”
Jelas Chaca.
“Ih...! Serem juga.” Sahut Oyon.
“Yaudah... Kalau gitu mending Kita cepat nyelesai’in
nich tugas. Truzzz... Abis itu dinner and sleaping. Soalnya gue nggak mau,
terjadi hal-hal aneh lagi.” Kata Helen.
“Ocey... Dech...!” Sahut Chaca, Beby, Tasya, Helen,
Indra, Virgo, dan Oyon.
* * *
BAB III
“MUNCUL KETAKUTAN”
HARI KE’TIGA:
Pagi itu, Tasya, Beby, Virgo, Helen, Indra, dan Oyon
telah bersiap-siap berangkat ke’Sekolah. Tetapi, Chaca masih dikamar, karena Ia
yang terakhir mandi.
Pada saat Chaca sedang mengikat rambutnya, Ia
melihat seperti ada bayangan yang lewat dicermin. Chaca pun membalikkan diri,
tapi tidak ada siapa-siapa.
Sementara
itu, diruang tamu telah menunggu Beby, Tasya, Helen, Indra, Virgo, dan Oyon.
“Hmm...! Chaca mana sich...?” Protes Helen.
“Iya...! Tumben banget Chaca lama kayak gini...”
Sambung Tasya.
“Padahal khan dia yang biasanya lebih ceoat dari
Kalian bertiga.” Kata Indra.
“Yaudah dech...! Kalau gitu, gue susul aja yach...
Si Chaca. Pengen masti’in dia udah
selesai apa belum.” Sahut Beby, sambil beranjak dari tempat duduknya dan menuju
kekamarnya dan Chaca.
Sementara itu, Chaca yang sedang ada dikamarnya.
Melihat ada bayangan yang lewat dibalik gorden jendela. Karena penasaran, Chaca
pun secara perlahan membuka gorden tersebut. Dan tiba-tiba, spontan ada tangan
yang memegang pundak Chaca dari belakang. Setelah Chaca membalik’kan diri,
ternyata tangan yang memegang pundaknya itu adalah Beby.
“Ha.........! Beby loe ngagetin aja sich...!” Sahut
Chaca sebel bercampur takut.
“Oouuppzzz.....! Sorry Cha...! Lagian, loe liatin
apa sich. Kok’ serius banget...?” Tanya Beby penasaran.
“E... Udah... Lupain aja.” Jawab Chaca menutup
pembicaraan dan langsung pergi ke’ruang tamu untuk berkumpul bersama
kawan-kawannya. Sedangkan Beby masih tetap ditempatnya dan terlihat bingung.
“Hmm...! Akhirnya loe nongol juga Cha !” Kata Oyon.
“Lho.....! Beby mana ?” Tanya Virgo.
“Yah...! Tadi, Beby yang manggil Chaca biar cepat
kesini. Eh...! Dia’nya malah ninggal dech tuch.” Kata Indra.
“Hai.....! Gue disini...!” Sahut Beby.
“Loe... kemana aja sich... Beb...?” Tanya Tasya.
“Enggak kok’.. Tadi gue heran aja. Chaca tuch..................!!!”
Jawab Beby, tapi tak bisa meneruskan pembicaraannya karena mulutnya langsung
di’tutup oleh tangan Chaca. Dan Chaca pun mengedipkan mata, untuk mengkode Beby
agar tidak meneruskan pembicaraannya. Beby pun menggangguk, karena mengerti
kode dari Chaca. Dan Chaca pun melepaskan tangannya dari mulut Beby.
“Ih...! Chaca apa’an sich !” Kata Beby.
Sedangkan Tasya, Helen, Indra, Virgo, dan Oyon,
hanya terlihat bingung dengan tingkah Chaca dan Beby. Lalu terdengar sahutan
Helen, mengingatkan setelah melihat jam dinding:
“Wah...! Udah jam setengah tujuh lewat 10 menit.”
“Yaudah... Kalau gitu berangkat yuk !” Ajak Indra.
“Eh... Tunggu bentar.” Kata Tasya.
“Lho...! Kenapa lagi sich Sya ?” Tanya Virgo.
“Biar nggak ada yang ketinggalan, gue hitung dulu
yach...!” Jawab Tasya.
“Hmm...! Terserah loe dech !” Sahut Chaca.
“Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh,
delapan...!!! Lho... Kok’... Ada delapan sich...!” Kata Tasya, Heran.
“Lho...! Perasaan, Kita Cuma tujuh orang aja
dech...! Kok’ delapan sich !” Sahut Beby.
“Udah dech ! Nggak usah ngulur-ngulur waktu. Dari
pada nanti Kita telat. Mending Kita pergi ke’sekolah, SEKARANG...!” Ajak Indra,
sambil berdiri dari tempat duduknya menuju pintu. Karena melihat Chaca, Beby,
Tasya, Helen, Virgo, dan Oyon masih diam ditempat duduknya.
“Loe semua masih mau tetap disini ?” Tanya Indra.
“Ya... Enggak’Lah.....!” Jawab Tasya, Beby, Chaca,
Helen, Virgo, dan Oyon, serempak.
“Yaudah... Ayo...!” Ajak Indra lalu menuju
ke’mobilnya. Di’ikuti oleh Chaca, Beby, Tasya, Helen, Virgo, dan Oyon.
Pada saat dalam perjalanan menuju ke’sekolah
(Didalam mobil), Chaca yang biasanya sering ngomong (cerewet), terlihat diam
dan kelihatan memikirkan sesuatu.
“Gue bilang nggak yach...! Soal yang tadi
ke’teman-teman. Hmm...! Mendingan nggak usah dech ! Entar, malah bikin Mereka
semua pada takut lagi...!” Nurani (dalam hati) Chaca berbicara.
“Lho... Beb... Loe liat dech Chaca... Tumben benget,
Dia diem kayak gitu ?” Bisik Tasya, bertanya pada Beby.
“Yah... Loe nanya ke’gue. Mana gue tau...!” Bisik
kembali Beby menjawab pertanyaan Tasya.
“Eh...! Lagi ngomongin apa sich ? Kok pake
bisik-bisik’kan ?” Tanya Helen.
“Enggak kok’... Chaca tuch, tumben banget dia diem
kayak gitu !” Jawab Beby.
“Iya... Yach...! Sya, coba loe tanya dech ma Chaca
!” Usul Helen.
Tasya pun mengangguk dan bertanya pada Chaca.
“Cha, loe kok’ tumben banget sich... Diam kayak
gini. Emangnya, loe mikirin apa sich...?”
“E...e... Enggak kok’ gue nggak lagi mikirin
apa-apa.” Jawab Chaca.
Tidak lama kemudian, Mereka pun telah sampai
disekolah. Dan segera masuk kelas. Lalu mengikuti kegiatan belajar mengajar
seperti biasa.
Pada saat jam istirahat, Beby dipanggil Ibu Rose,
untuk memberi tahukan kepada Chaca, Tasya, dan Helen, bahwa saat jam pulang
nanti Mereka dipanggil. Untuk memeriksa Ulangan Harian Matematika.
“Beby pun segera mencari Chaca, Tasya, dan Helen,
untuk memberi tahukan hal ini pada Mereka. Tapi, Beby tidak menemukan Chaca,
Tasya, atau Helen. Padahal, Beby sudah mencari ke’mana-mana. Tapi tidak
ditemukannys juga.
Akhirnya, Beby pun memutuskan untuk menunggu Chaca,
Tasya, dan Helen di’kelas. Pada saat Beby menuju ke’kelas. Ia melihat Virgo dan
Indra. Lalu bertanya:
“Go, In... Loe berdua liat Chaca, Tasya, atau Helen,
nggak...???”
“Enggak tuch...! Emangnya kenapa.. Beb...?” Jawab
Indra dan Virgo, lalu bertanya.
“Enggak kok’ !” Jawab Beby singkat. Lalu, Beby pun
teringat dengan perintah Ibu Rose, yang menyuruhnya, Chaca, Tasya, dan Helen.
Untuk tidak segera pulang saat jam pulang sekolah, karena harus memeriksa
Ulangan Harian teman-temannya.
“Kalau gue, Chaca, Tasya, ama Helen pulangnya
lambat, otomatis.. Indra, Virgo, ama Oyon.. nggak bisa masuk rumah donk. Sampai
Kita datang, soalnya khan.. kuncinya ada ma gue.” Nurani (dalam hati) Beby
mulai berbicara.
“In... Go...! Nich, kunci rumah !” Sahut Beby, sambil
memberikan kunci kepada Indra.
“Lho... Kok’...! Di’kasih ke’Kita sich Beb...?”
Tanya Virgo.
“Emmm...! Iya, tuch kunci sengaja gue kasih
ke’Kalian. Soalnya khan... Sebentar gue, Chaca, Tasya, ama Helen tuch agak lama
pulang. Karena Kita tuch ditugasin ma Bu Rose. Buat memeriksa Ulangan Harian
di’kelas Kita.” Jawab Beby.
“O...o...! Eh, liatin punya gue yach...!” Sahut
Indra.
“Gue... Juga...!” Sambung Virgo.
“Ocey... Dech...! Kalau gitu, gue masuk dulu...
yach... Biar nunggu Chaca, Tasya, ama Helen di’kelas aja.” Sahut Beby.
“O... Kalau gitu.. Gue ama Virgo juga mau
ke’kantin.” Kata Indra.
Akhirnya, Beby masuk ke’kelas dan Indra ama Oyon
menuju kantin.
Saat di’kelas, Beby heran. Mengapa kelas begitu
sepi, padahal biasanya ramai.
“Tumben banget nich kelas sepi” Nurani (dalam hati)
Beby berbicara.
Saat Beby duduk, tiba-tiba handphone’nya berbunyi.
Dan ketika Beby lihat, ternyata yang menelepon adalah Nabila.
“Wah......! Nabila......! Hallo.... Nab, apa
kabar.....??? Kok’ udah nggak pernah ngasih kabar lagi sich...! Hallo......!!!
Nabila.....! Hallo...Hallo........!!!” Ucap Beby mengangkat telphone’nya, tapi,
tak terdengar suara apapun.
Ketika Chaca memasuki kelas, Ia melihat Beby sedang
berbicara di’telphone’nya. Chaca pun, segera duduk di’samping Beby dan menanyakan:
“Telephone dari siapa sich Beb...?”
“Dari Nabila...!” Jawab Beby.
“Wah... Nabila... Mana... Mana.....!” Sahut Chaca
sambil mengambil handpone Beby.
“Hallo... Nab...! Apa kabar......??? Hallo...! Lho
Beb katanya dari Nabila, tapi kok’... nggak ada suaranya sich...!” Tanya Chaca,
bingung. Sambil melihat layar handpone Beby. Dan tulisannya, tetap masih
menunjukan waktu percakapan.
“Yah......! Gue juga nggak tau...!!!” Jawab Beby
bingung.
“Yaudah... Dech...! Mati’in aja...!” Kata Chaca,
lalu segera mematikan telepon.
“Yah...! Cha, kok’ di’mati’in sich...!” Tanya Beby.
“Dari pada Kita bicara-bicara sendiri kayak orang
gila. Mending di’mati’in khan...! Truzzz.... Mungkin tadi tu’ jaringan kurang
bagus, makanya nggak ada suaranya. Kalau Kita nggak mati’in.. Bisa-bisa
pulsanya Nabila abis lagi...!” Jawab Chaca panjang lebar.
“O...o...O... Gitu.....! Oh.. Yach...! Cha, kata
Bu’Rose. Gue, loe, Tasya, ma Helen di’tugasin buat bantu Bu’Rose sebentar untuk
periksa Ulangan Harian Matematika temen-temen Kita.” Kata Beby.
“Kapan...???” Tanya Chaca.
“Sebentar... Abis pulang sekolah. Kita, kumpul
di’kelas ini. Ntar.. Bu’Rose yang ke’sini.” Jawab Beby.
“Truzzz...... Loe udah bilang ama Tasya ma
Helen...???” Tanya Chaca.
“Belum...! Gimana caranya coba...! Gue aja belum ketemu
mereka dari tadi. Sama kayak loe, Gue cari’in kemana-mana juga...! Mang loe semua
pada kemana sich...?” Jawab Beby, lalu bertanya.
“He..He..He...! Gue, Tasya, ma Helen tadi tu’
ke’Perpus. Cuma Gue duluan ke’sini, kalau Mereka sich.. Masih mau netap di’Perpus.
Sebenarnya sich, Kita mau ajak loe Beb.. Tapi, percuma aja.. Loe juga mana mau
di’ajakin ke’Perpus. Kecuali kalau lagi disuruh guru!” Jawab Chaca.
“He..He..He..! Tau aja sich loe....!” Sahut Beby.
“Oh..Ya...! Beb, Indra, Virgo, ama Oyon.. Udah loe kasih
nggak kunci rumah. Soalnya khan.. Kalau Mereka pulang, tapi kunci rumahnya ada
ma loe. Wah...! Bisa jamuran tu’ Mereka nunggu. Udah belum...???” Tanya Chaca.
“Ih... Cha, loe nanya mulu dari tadi...! Gini yach Chaca Ananda Yudistira...! Gue tadi
tu’ udah memberikan kunci rumah ma Indra. Jadi, kalau Mereka pulang.. Mereka
nggak perlu nunggu, karena kunci khan udah ada sama Mereka...! Gitu...! Udah..
‘ah...! Stop nanya’nya.. Jadi pusing gue” Jawab Beby.
“Ocey... Dech...! Beby Galia Putri...!” Kata Chaca.
Tidak lama kemudian, Tasya dan Helen pun menghampiri
Beby dan Chaca. Lalu, Chaca dan Beby pun memberitaukan perintah dari Bu’Rose.
Dan setelah jam pulang tiba. Mereka berempat pun tetap duduk di’tempat Mereka,
menunggu kedatangan Bu’Rose.
Tak lama Mereka menunggu. Bu’Rose pun datang, dengan
membawa kertas Ulangan Harian Matematika. Bu’Rose pun segera membagikan Hasil
kertas Ulangan Harian kepada Mereka berempat, dan mencatat kunci jawaban
di’papan. Akhirnya, Chaca, Beby, Tasya, Helen, dan Bu’Rose pun, Sama-sama
memeriksa hasil Ulangan Harian.
Sementara itu, di’rumah sewahan, Indra, Virgo, dan
Oyon terlihat asyik menonton TV. Sambil menunggu kedatangan Chaca, Beby, Tasya,
dan Helen. Pada saat Oyon ke’dapur untuk mengambil cemilan. Tiba-tiba, Ia
mendengar suara orang sedang bermain piano. Oyon pun berusaha untuk mencari
siapa yang memainkan piano dengan begitu indah. Tapi, Ia sama skali tidak
menemukannya. Semula, Ia mengira bahwa yang memainkan piano tersebut adalah
tetangga sebelah. Tapi anehnya, suara piano tersebut sangat kedengaran ketika
Oyon melewati gudang belakang. Karena tidak yakin, Oyon pun mendekatkan
telinganya di’pintu gudang belakang tersebut. Dan kedengarannya, piano itu
seperti dimainkan didalam gudang belakang. Setelah itu, tiba-tiba saja, bulu’kuduk
Oyon merinding. Akhirnya, Oyon pun segera pergi ke’ruang tengah untuk berkumpul
kembali bersama Indra dan Virgo dan meninggalkan tempat tersebut.
Setelah sampai di’ruang tengah, Oyon telah melihat
kehadiran Chaca, Beby, Tasya, dan Helen.
“Lho.....! Cha, Beb, Sya, Len.. Kalian kapan
sampe’nya?” Tanya Oyon.
“Barusan...!” Jawab Chaca.
“Kemana aja sih loe Yon. Kok’ ngambil cemilan aja
lama banget sich...!” Sahut Indra.
“Eh...! Loe tau nggak...! Tadi tu’ gue ngedengerin
suara orang bermain piano. Gila...! Suara merdu buanget...! Sumpeh
ta’kewer-kewer dech...!” Kata Oyon, menceritakan kejadian yamg berusan Ia
alami.
“Masa sich Yon...? Di’mana...?” Tanya Tasya.
“Gue juga nggak tau. Tapi, kedengarannya tuch.
Kayaknya, di’gudang belakang...!” Jawab Oyon.
“What...! Di’gudang belakang...!!!” Sahut Beby.
“Hah.....! Gila loe Yon...! Masa ada orang mainin
piano di’gudang belakang sich...!!!” Kata Helen.
“Iya... Nich...! Oyon ngaur...! Yang bener aja
Yon...! Masa iya sich hantu yang mainin
piano dalam gudang.” Sahut Chaca.
“Ya...Ampun...! Itu tuch... Cuma perkira’an gue
doank...! Prediksi...Neng...Prediksi. Soalnya, kedengarannya tuch kayak
disitu...!!! Atau jangan-jangan...! Kalian yach, yang mainin piano. Karna
pengen ngerjain gue, makanya nggak ada yang ngaku...!” Tebak Oyon.
“Ye.......! Enak aja...! Gue main pianika aja nggak
pernah lancar-lancar. Boro-boro mau main piano...!” Sahut Beby.
“Hmm...! Apalagi gue, Khan, Gue tuch taunya Cuma
main biola dhoank...!” Kata Helen.
“Iya... Nich...! Oyon, jangan sembarangan nuduh
donk...! Kita semua tuch...! Di’sini nggak ada yang tau main piano.” Sahut
Taaya.
“Yah....! Dulu aja, loe khan Yon.. Yang selalu
ngejek-ngejek Helen. Bilang kalo Helen tuch sembarangan nuduh Kita nyembuni’in
buku Matemtika’nya. Padahal enggak khan...!” Kata Chaca
“Iya... Yah...! Kok’ jadi kebalik sich...!” Kata
Indra.
“Makanya loe Yon...! jangan kualat sama Helen. Gini
khan jadinya...!” Sambung Virgo.
“Tapi kok aneh yach...! Oyon kok’ ngedengerin suara
piano. Padahal khan...! Kita tuch di’sini nggak ada yang main piano dan..
di’sini juga nggak ada piano...!” Sahut Tasya.
“Hmmm..........!!! Kalau berhubungan ma piano
gini...! Jadi inget ma Nabila dech...! Soalnya khan...! Nabila suka banget main
piano.” Kata Beby.
“Iya... Yah... Beb...! Nabila tuch emang berbakat
banget kalau mainin piano.” Sambung Chaca.
“Hmmm.........!!! Jadi kangen..... Dech...! Ma
Nabila...!” Sambung lagi Tasya dan Helen bersamaan.
“Udah..... Dech......! Kok’ jadi pada sedih-sedihan
gini sich...!” Sahut Indra.
“Namanya juga kangen In...! Emangnya ada yach, Orang
tuch seneng kalau berpisah ma Sahabat.” Kata Tasya.
“Bukannya gitu Sya...! Kita semua tu’ kangen banget
ma Nabila. Tapi, mau di’gimanain lagi. Kita tuch harus nunggu sampe Nabila
dateng.” Kata Indra.
Tak terasa, waktu pun terus berjalan, malam telah
tiba. Dan pada saat makan malam, Indra memasak mie, karena persediaan bahan
makanan telah habis.
“Yah...! Malam ini Kita terpaksa makan mie dech...!
Soalnya khan... persediaan bahan makanan Kita tuch udah pada abis.” Kata Helen.
“Yaudah... Dech...! Kalau gitu besok abis pulang
sekolah Gue, Tasya, Beby, ama Helen bakal ke Supermarket dulu buat beli
bahan-bahan makanan.” Sahut Chaca.
“Ocey... Dech...! Cha...!” Kata Tasya, Beby, dan
Helen. Secara bersamaan.
Pada saat Indra sedang memasak, Beby dan Helen
menghampiri Indra.
“Gue bantu’in yach In...!” Tawar Beby.
“Silahkan...!” Kata Indra, sambil menaruh bumbu
di’dalam panci.
“Ya...Ampun...! In...! Kalo naruh bumbu’nya tuch,
jangan kebanyakan. Emang Kamu nggak tau yach...! Kalau bumbu’nya tuch banyak
mengandung MSG.” Kata Helen.
“Ya... Emang kenapa kalau ada MSG’nya...?” Tanya
Indra.
“Ya... Nggak bagus untuk otak.” Jawab Helen.
“Tapi Len, kalo bumbu’nya nggak di’taruh semua.
Mie’nya apa enaknya...!” Sahut Indra.
“Ya...Ampun...! Gini yach In..! Menurut buku yang
gue baca: Apa aja yang mengandung MSG,
itu tuch nggak bagus buat otak ama pertumbuhan. Emang loe mau, Kita semua tuch
jadi lupa pelajaran. Truzzz, muka Kita tuch juga kayak orang tua...!” Kata
Helen.
“Ya... Enggak lah...! Gila... loe...! Masa muka gue
yang guanteng gini jadi kayak orang tua sich...!” Sahut Indra.
“Ih..........!!!!! Ogah... Gue.....!” Sambung Beby.
“Ya... Makanya jangan ditaruh kebanyakan bumbu’nya.”
Kata Helen mengingatkan.
“Iya... Dech...!” Kata Indra.
“Nah...! Gitu donk...! Dari tadi... ke’...!
Nurut...! Yaudah Gue ke’yang lainnya dulu yach...!” Kata Helen, dan segera
pergi.
“Ha...Ha...Ha...!!! Iin... Iin...! Udah tau kalau
Helen tuch nggak bisa di’lawan kalau udah menyangkut ma kata-kata’nya yang
selalu bilang ‘Menurut Buku Yang Gue Baca’. Tapi, loe masih aja ngelunjak.
Jadi’nya, kalah khan. He,he,He...!” Ejek Beby.
“Apa sich loe Beb...! Hmmm... Akhirnya nich mie
mateng juga.” Kata Indra.
“Yaudah...! Kalau gitu gue panggilin Tasya yach...!”
Sahut Beby dan segera memanggil Tasya untuk menyiapkan piring.
Saat di’meja makan. Tasya heran, mengapa tiba-tiba
di’meja makan ada 8 piring. Padahal seingatnya, Ia hanya mengambil 7 piring
saja.
“Ya...Ampun...! Sya, kok’ loe repot-repot banget
sich. Ngebawa piring 8. Khan perlunya tuch Cuma 7 aja.” Sahut Chaca.
“Hah...! Perasa’an... Gue Cuma ngambil 7 tadi...!
Kok’ bisa ada 8 sich...!” Sahut Tasya.
“Keselip kali Sya...!” Tebak Beby.
“Se’tau gue sich enggak. Masa piring se’tebal ini
bisa keselip sich..!” Kata Tasya.
“Ya’udah...! Masa masalah kecil doank kayak gini.
Di’perbesarin lagi sich...! Mendingan makan skarang...!” Sahut Indra.
HARI KE’EMP4T:
Pagi itu, Chaca telah habis mandi. Dan saat Chaca
menuju ke’kamarnya untuk segera membangukan Beby, Ia melihat Beby sedang duduk
diam di sofa ruang tengah dengan wajah yang terlihat pucat.
“Lho...! Beb, loe kenapa sich...? Kok’ muka loe
pucat gitu...?” Tanya Chaca.
“Nggak apa kok’ Cha...!” Jawab Beby, agak aneh.
Chaca pun pergi menuju ke’kamarnya. Tapi anehnya,
tiba-tiba saja Ia melihat Beby masih terbaring di’tempat tidur. Lalu karena
tidak yakin, Chaca pun segera membuka pelan-pelan pintu kamarnya dan melihat
lagi ke’ruang tengah, dan Ia tidak melihat siapa pun. Ketika Chaca membalik’kan
diri, sontak Ia sangat kaget karena tiba-tiba saja dihadapan’nya ada Beby.
“A...a...A...!!!” Teriak Chaca.
“Loe kenapa sich Cha...? Ngeliat gue kok’ kayak
ngeliat hantu gitu...!” Ucap Beby, heran.
“I...i...ini.....! Beby khan...!!!” Kata Chaca,
sambil melihat kaki Beby yang menginjak lantai.
“Ya...Iya’Lah.....! Siapa lagi...! Ih...! Cha, loe
kok’ aneh banget sich...! Emangnya ada apa sich...!” Sahut Beby.
“E...enggak... kok’...! Nggak ada apa-apa. Mungkin
tadi gue salah liat kali...!” Ucap Chaca.
“Hah...! Salah liat apa...?” Tanya Beby.
“Udah Lah...! Lupa’in aja...! Eh...! Loe kok’ nggak
mandi sich...! Udah cepetan sana...! Entar telat lho...!” Jawab Chaca, lalu
menyuruh Beby untuk segera mandi. Beby pun mengambil baju mandi dan segera
pergi menuju kamar mandi.
Setelah semuanya telah siap. Mereka bertujuh pun
segera berangkat menuju ke’sekolah.
Tidak terasa, waktu pun terus berjalan. Jam pulang
sekolah pun telah tiba. Seperti kesepakatan kemarin, Chaca, Beby, Tasya, dan
Helen pun tidak langsung pulang ke’rumah sewaha tersebut. Tetapi pergi ke
Supermarket terlebih dahulu, untuk membeli semua perlengkapan bahan makanan
yang telah habis. Dan juga tidak lupa untuk membeli cemilan-camilan dan sekedar
buah-buahan.
Setelah selesai membeli semua perlemgkapan makanan,
Chaca, Beby, Tasya, dan Helen pun langsung pulang ke’rumah sewahan tersebut.
Saat Mereka sampai, Indra, Virgo, dan Oyon pun segera membantu Chaca, Beby,
Tasya, dan Helen untuk menaruh semua barang belanjaan.
“Nich...! Giliran Kalian bertiga yang ngeberesin
nich semua barang belanjaan...!” Ucap Tasya.
“Iya...! Soalnya khan... Gue, Chaca, Tasya, ama
Helen khan...! Udah capek...! Gara-gara muter-muter Supermarket buat beli nich
semua...!” Sambung Beby.
“Iya... Dech...! Iya...!” Kata Indra.
“Ya’udah...! Masuk sana...! Biar Gue, Iin, ma Oyon
aja yang ngeberesin nich semua...!” Sambung Virgo.
“Iya...! Kalian khan capek...!” Sambung lagi Oyon.
Akhirnya, Chaca, Beby, Tasya, dan Helen pun masuk
kedalam rumah sewahan tersebut untuk istirahat. Sedangkan Indra, Virgo, dan
Oyon membereskan belanjaan yang di’beli Chaca, Beby, Tasya, dan Helen.
Pada saat sore telah tiba, Tasya, Chaca, Beby,
Helen, Indra, Virgo, dan Oyon sedang belajar mengerjakan PR dan mempersiap’kan
bahan-bahan praktek.
“Hmmm......! Akhirnya, nich tugas-tugas selesai
juga...!” Kata Helen.
“Iya... Nich...! Moga-moga aja, Kelompok Kita bisa
dapat nilai bagus yach...!” Sahut Tasya.
“Pasti’nya donk...! Kelompok Kita khan...
kompak...!” Kata Indra.
“Hmmm.......! Pengen ngemiilll........!!!” Sahut
Beby.
“Yaudah... Beb, ambil aja di’kulkas...! Tadi khan,
Kita banyak beli cemilan...!” Kata Chaca.
“Oh...Iya...Yach...! Kok’ gue lupa sich...!” Kata
Beby, sambil beranjak dari tempat duduknya untuk pergi mengambil cemilan.
“Gue... Juga... ah...! Eh...! Ada yang mau nitip
nggak...?” Tanya Virgo, pada Tasya, Chaca, Helen, Indra, dan Oyon.
“Gue... donk... Go...!” Jawab Tasya.
“Gue... Juga...!” Sambung Chaca, lalu di’ikuti
Helen, Indra, dan Oyon.
“Ocey... Dech...!!!” Kata Virgo, lalu beranjak dari
tempat duduk’nya untuk menyusul Beby.
Saat di’dapur, Beby pun segera membuka kulkas dan
melihat isinya.
“Hmmm......!!! Enak’nya.. Makan yang mana yach...! Emmm......!
Apel aja dech...!” Ucap Beby, sambil mengambil buah apel. Ketika Beby hampir
menutup pintu kulkas, Virgo pun datang dan menahan pintu kulkas yang hampir
di’tutup oleh Beby.
“Virgo...! Loe mau ngambil cemilan juga...?” Tanya
Beby.
“Yuuppzzz.......!!! Eh... Beby... Loe ngambil buah
apel yach...?” Jawab Virgo, lalu menanyakan kembali.
“Iya...! Soalnya khan, gue lagi pengen aja...!”
Jawab Beby. Sambil hampir memakan buah apel yang belum di’cuci.
“Eiittzzz.....! Cuci dulu donk... Beb... Buah
Apel’nya. Masa di’makan gitu aja sich...!” Kata Virgo, mengingatkan Beby.
“Oh...Iya...Yach...! Jadi lupa...!” Kata Beby,
sambil mencuci buah apel tersebut. Dan di’ikuti oleh Virgo, yang juga mengambil
buah apel.
Saat Beby dan Virgo sedang bercakapan sambil mencuci
buah apel dan menaruh’nya di’piring, tiba-tiba saja terdengar suara kulkas
terbuka dan buah-buahan yang ada di’dalam kulkas tersebut jatuh. Beby dan Virgo
pun terkejut.
“Lho...! Go...! Pintu kulkas’nya kok’ kebuka sendiri
sich...???” Tanya Beby.
“Yah...! Loe tanya gue...! Mana gue tau...!” Jawab
Virgo.
“E..emangnya...! Loe yakin, pintu kulkas’nya tadi
tuch, Udah loe tutup rapat...???” Tanya Beby.
“I..iya...... Beb...! Gue tu’ yakin banget.. Kalau
pintu kulkas’nya tadi tuch udah gue tutup rapat-rapat...!” Jawab Virgo.
“Lho...! Tapi kok’.. Bisa ke’buka gitu...! Malah..
Buah-buahanya pada jatuh lagi...!” Kata Beby.
“Yaudah...Dech...!!! Kalau gitu... Mending Kita
beresin aja yuk...!” Ajak Virgo.
“Hah...! Kita...? Loe aja kale... Gue enggak...!!!”
Sahut Beby.
“Ya... Ampun... Beb...! Bantu’in Lah...Khan.....!!!”
Sahut Virgo.
“Iya... Dech...! Soalnya, Gue juga kasihan ngeliat
loe...! He...He...He...!” Canda Beby.
“Yaudah... Bantuin...!” Kata Virgo. Lalu Beby dan
Virgo pun, segera membereskan buah-buahan yang jatuh.
“Hmmm......! Udah khan...!” Sahut Beby.
“Iya...!” Sahut Virgo. Lalu, Beby pun melangkah
untuk egera berkumpul bersama Tasya, Chaca, Helen, Indra, dan Oyon.
“Lho...! Beb...! Loe mau kemana...???” Tanya Virgo.
“Yah... Mau ngumpul ma anak-anak yang lainnya
Lah...! Mau kemana lagi...!” Jawab beby.
“Truzzz.....! Buah-buahan itu siapa yang bawa
donk...?” Tanya Virgo, sambil menunjuk buah apel yang ada di’piring dan
terletak di’atas meja.
“Yah..... Loe Lah...! Siapa lagi...! Masa gue
sich... Yang harus ngebawa tuch buah-buah apel. Khan loe yang di’suruh. Ih,
Virgo gimana sich...!” Jawab Beby, lalu pergi ke’ruang tengah untuk segera
berkumpul bersama Tasya, Chaca, Helen, Indra, dan Oyon.
“Hmmm........! Gue lagi dech...!” Ucap Virgo, lalu
mengambil buah apel yang ada di’piring dan segera pergi menuju ke’ruang tengah
untuk berkumpul bersama Chaca, Tasya, Helen, Indra, dan Oyon.
Sesampainya di’ruang tengah, Beby pun langsung duduk
dan tidak lama kemudian Virgo pun juga telah sampai dan segera menaruh piring
tersebut di’atas meja, lalu Ia pun duduk.
“Nah...! Ini nich.. Yang di’tunggu-tunggu...!” Kata
Oyon.
“Thank’s yach... Go...!” Sahut Tasya.
“Hmmm......! Ada apa sich.. Beb, Go...? Kok’ muka Kalian
aneh gitu...???” Tanya Chaca, sambil mengambil satu buah apel yang ada di atas
meja.
“Emm........! Loe smua tau nggak...! Tadi tuch...
Aneh banget...!” Jawab Beby.
“Hah...! Aneh...!!!” Kata Helen.
“Emangnya, aneh apa’nya sich Beb...???” Tanya Tasya.
“Gini, tadi tuch.. Gue ma Virgo khan.. Lagi nyuci
apel, tapi.........” Jawab Beby, tapi enggan meneruskan pembicaraannya dan
langsung melihat kearah Virgo.
“Tiba-tiba aja tuch... Pintu kulkas ke’buka sendiri
dan... Buah-buahan di’dalem.. Pada jatuh semua...!!!” Sambung Virgo, meneruskan
pembicaraan Beby.
“Masa sich...!!!” Kata Indra.
“Iya... Bener...! Kita nggak bo’ong kok’...!” Sahut
Beby.
“Lagian apa untungnya coba.. Buat gue ma Beby, kalau
cuman ngerjain atau nakut-nakutin Kalian. Ih, nora banget...!” Sambung Virgo.
“Emmm........!!! Kok’... Aneh yach...!” Sahut Chaca.
“Emangnya aneh apanya lagi sich.. Cha...?” Tanya
Oyon.
“Ya... Enggak...! Emangnya.. Kalian Semua nggak pada
nyadar yach...! Kalau akhir-akhir ini
tuch...! Kita s’lalu dapat kejadian-kejadian aneh gitu...!” Jawab Chaca.
“Iya... Cha.....! Loe emang bener...! Akhir-akhir
ini tuch... Kita semua emang pada ngedapet kejadian-kejadian aneh gitu. Coba
dech...! Kalian semua inget-inget, apa yang terjadi semenjak Kita tinggal
di’rumah ini...!” Sahut Helen
“Oh...Iya...! Dari sejak hari pertama Kita tinggal
di’rumah ini tuch...! Kita emang udah dapet kejadian aneh. Contohnya, waktu
Virgo nge’dapet bercak-bercak merah gitu di’lantai. Truzzz.... pas malem’nya,
Helen yang nge’dapetin buku cetak matematika’nya ada di’depan pintu gudang
belakang.” Kata Tasya, mengingatkan.
“Truzzz.....! Ke’esok’kan hari’nya, tas make-up Beby
ilang trus Beby bilang.. Kalau Dia ngeliat Chaca di’teras dan yang ngasih tas
make-up Beby tuch Chaca. Padahal khan, Chaca ama Kita terus di’ruang tengah.”
Kata Indra.
“”Truzzz....! Pas sore’nya Indra ngeliat kalau
bayangan’nya tuch... Ada tiga dan salah satu dari bayangan’nya tuch berambut
panjang. Lalu pas malem’nya, Chaca ngeliat di’cermin kalau rambutnya tuch
panjang...ma...tebel... buanget.....! Tapi, pas ngeliat ke’kenyataan.. ternyata
rambut Chaca biasa-biasa aja...! Ih.....Serem......!!!” Sahut Beby.
“Truzzz......! Ke’esok’kan hari’nya.. Tasya ngitung
Kita ada delapan. Padahal khan Kita Cuma tujuh doang.....!” Sahut Virgo.
“Dan...yang...terakhir...! Oyon nge’dengerin suara
orang main piano. Padahal khan... Kita nggak ada yang ada yang tau main piano
dan di’sini juga nggak ada piano...!” Sahut Helen.
“Tuch... Khan.....! Apa gue bilang, Kita tuch..
semenjak tinggal di’rumah ini selalu dapet kejadian-kejadian aneh mulu.” Sahut
Chaca.
“What.......!!! Jangan-jangan.. Rumah ini ada
hantu’nya lagi...! I..i...!!!” Kata Beby.
“Hus...! Beby jangan ngomong sembarangan dong...!
Tapi... Kalau emang bener gimana dong...!!!” Kata Oyon.
“Hu...u...u...! Sama aja loe Yon...!” Sahut Indra.
“Jadi... Kita musti gimana dong...nich...! Apa..Kita
cari rumah lain aja...!!!” Tawar Virgo.
“Gue s’tuju ama loe Go...!” Sahut Beby, sambil
mengajukan tangannya. Dan menurunkannya kembali.
“Aduh...uh...! Kalian jangan langsung ngambil
keputusan gitu aja donk...!” Sahut Chaca.
“Aduh... Cha...! Please... Dech...! Gue tu’ takut..
Kalau sampe terjadi apa-apa ma Kita semua. Emang loe mau tanggung jawab...! Udah
dech.. Cha...! mendingan Kita pindah aja yuk...!” Kata Beby.
“Ya...Ampun... Beby...! Bukan itu maksud gue. Ya
kalau Kita mau pindah nggak segampang itu. Lagian... Kayaknya Cuma loe doank
dech.. yang heboh. Gue ama yang Lain’nya fine-fine aja kok’...!” Kata Chaca.
“Iya... Beb...! Loe tu’ tenang aja. Pasti nggak
bakalan terjadi apa-apa kok’ ma Kita.” Sambung Tasya.
“Ya...! Truzzz gimana donk skarang...! Apa Kita
masih mau tetap tinggal di’sini...!” Kata Beby.
“Yuuppzz....! Dan Kita juga musti cari tau, apa
penyebab slama ini Kita tu’ dapet keanehan truzzz...!” Sahut Helen.
“Cara’nya...???” Tanya Oyon.
“Ya...! Di’selidiki lah Yon...!” Jawab Helen.
“Ya... Gue tau di’selidiki... Tapi, cara’nya untuk
nyelidiki ini semua tu’ gimana....???” Tanya Oyon.
“Ya... Kita cari tau...! Tentang asal-usul rumah ini
mungkin. Atau kalau perlu, Kita tanya aja ma tante Anggi.” Jawab Helen.
“Kayak’nya nggak perlu sampe segitunya juga dech
Len...!” Kata Tasya.
“Maksud’nya Sya...???” Tanya Helen.
“Maksud’nya tu’... Kayaknya Kita nggak perlu sampe
nanya-nanya ama tante Anggi. Entar dia malah tersinggung lagi...!” Jawab Tasya.
“Kalau Kita nggak nanya ma Tante Anggi. Truzzz...
Kita mau nanya ma siapa lagi Sya...???” Tanya Indra.
“Iya... Sya...! Khan.. Yang tau persis rumah ini tu
tante Anggi khan..!” Sambung Virgo.
“Kita Khan... Juga bisa nanya-nanya ama
tetangga-tetangga sebelah.” Jawab Tasya.
“Iya...! Tasya benar...! Dan kalau emang rumah ini
ada penunggu’nya. Masa sich.. Dia gangguin Kita kalau nggak ada sebab’nya.
Lagian, prasaan semenjak Kita tinggal di’rumah ini, Kita ngelakuin hal-hal yang
wajar kok’...! Jadi, gue tu’ yakin banget kalau ada hal lain yang buat Kita
belakangan ini tu’.. dapet kejadian aneh.” Kata Chaca.
“Loe kok’ bisa yakin gitu sich Cha...?” Tanya Oyon.
“Gue juga nggak tau. Kenapa sampai gue tu’ yakin
banget kalau... Ada hal lain yang membuat Kita tu’ sampe ngedapet kejadian
aneh.” Jawab Chaca.
“Hmmm.....!!! Gue jadi penasaran...! Pokok’nya Kita
harus selidikin...!” Kata Indra.
“Aduh...! Guys...! Jangan terlalu nekat gitu
donk...! Gue takut banget nich.. Kalau sampe terjadi apa-apa ma Kita.” Sahut
Beby.
“Udah..Lah... Beb...! Jangan terlalu negatif thingking gitu donk...! Santai aja kali...!”
Sahut Virgo.
“Nah... Truzzz...! Kalau misalnya Kita tu’ udah
nggak tinggal di’rumah ini lagi. Alias tugas-tugas Kita udah pada selesai semua
dan Kita di’rumah ini juga udah tujuh hari, tapi.. Informasi yang Kita dapet
belum lengkap....! Gimana donk...???” Tanya Beby.
“Ya... Kalau itu sich Beb, ntar Kita pikirin lagi
dech...!” Jawab Indra.
“Hmmm.....!!! Up to you all...! Pokok’nya gue nggak
mau yach...! Kalau sampe Kita terlalu lama di’sini...!” Kata Beby.
“Nggak kok’ Beb...! Kita tu’ nggak bakalan lama-lama
kok’ di’sini...!” Kata Tasya.
“Lagian loe sich Beb...! Kebanyakan nonton film
horor.. Jadi takut khan...! Hmmm...! Suka nonton film’nya.. Tapi kok’ takut ma
horor’nya.. Sharus’nya loe tu’ bisa ngambil hikmah’nya donk Beb.” Sahut Helen,
sambil menggelengkan kepala’nya.
“Udah... Udah...! Nggak usah di’perpanjang lagi.
Mendingan.. Kita nyiapin bahan untuk
Praktek IPA besok....! Ocey...!” Kata Chaca.
“Mang besok Kita Praktek Biologi.. pa, Fisika...?”
Tanya Virgo.
“Ya... Dua-dua’nya... Lah...!” Jawab Tasya.
“Yang penting.. Besok tu’ Kita Praktek... Bukan
ulangan. Soal’nya otak gue suka buntu kalau ngerjain Fisika.” Sahut Oyon.
“Sama... Yon...! Tu’ plajaran Fisika kok’ susah amet
yach...!” Sambung Beby.
“Ye.....! Loe berdua’nya aja yang nggak belajar..
Makanya plajarannya jadi susah. Khan gue udah pernah bilang ama Kalian berdua..
Belajar.. Beb... Yon...! Eh.. Bukannya belajar.. Malah nonton TV.” Sahut Helen.
“Ya...! Blagu amet sich loe Len...!” Kata Beby.
“Ye... Enak aja...! Mang siapa yang blagu sich...!
Gue tu’ Cuma ngasih nasehat. Ya, kalau loe nggak mau dengerin juga nggak
apa-apa.. Khan bukan gue yang rugi.” Kata Helen.
“I...i...h...! Helen.....!” Kata Beby, agak kesal.
“Aduh...uh....! Udah... Donk... Udah....! Nggak usah
pada berantem.. Gue tu’ tadi udah yakin banget...! Kalau ujung-ujung’nya tu’
Kalian pasti berantem. Bener khan...!” Sahut Chaca.
“Hmmm......! Beby Helen.. Gitu Loh...! Alergi kalau
nggak berantem...!” Sahut Indra.
“Ih...! Indra...........!!!” Teriak Beby dan Helen
bersama’an.
“Udah..... Donk......!!! Udah.....!!! Kok’ pada
berantem semua sich...! Nich juga Iin...! Kok’ pada nambah-nambahin segala
sich...! Mendingan.. Kita tu’ nyiapin bahan buat praktek besok...! Ocey...!”
Sahut Tasya. Mengakhiri pembicara’an.
* * *
Bab iv
“kedatangan hantu kHikan”
HARI KE-LIMA:
Pada saat jam istirahat sekolah telah tiba, Tasya
segera ke’Perpustakaan sekolah, karena Ia harus mencari buku materi B.Inggris,
karena esok mereka ada Praktek B.Inggris.
Pada saat Tasya sedang berjalan menuju Ruang
Perpustakaan, Ia tiba-tiba melihat sosok wanita yang wajahnya agak pucat dan
sedikit menyeramkan lewat di’sampingnya. Tasya pun segera membalik’kan diri,
untuk melihat kembali sosok wanita tersebut. Tetapi, sosok wanita tersebut
sudah tidak ada. padahal Ia baru saja melihatnya. Akhirnya, Tasya pun segera
membalikkan diri kembali untuk melanjutkan pejalanannya, tetapi, setelah Tasya
membalikkan diri kembali. Sontak Ia sangat terkejut karena sosok wanita
tersebut telah ada di’hadapan dirinya. Saking terkejut’nya.. Tasya pun
berteriak dan akhirnya pingsan. Siswa-Siswi SMU BINTANG yang berada di’sekitar
Tasya pun juga terkejut, karena melihat Tasya yang tiba-tiba berteriak dan
pingsan seketika. Padahal, Mereka sama sekali tidak melihat sosok wanita yang
baru saja di’lihat oleh Tasya. Akhirnya, Tasya pun segera di’ bawa ke’Ruang
UKS. Sementara Claudia dan Amanda yang melihat Tasya pingsan, segera
memberitahukan kepada Chaca, Beby, Helen, Indra, Virgo, dan Oyon. Bahwa Tasya
pingsan dan berada di’UKS.
“Eh.. Cha, Beb, Len...!” Teriak Claudia dan Amanda,
memanggil Chaca, Beby, dan Helen.
“Kenapa sich Claud, Man...???” Tanya Chaca.
“Iya.. Kok’ muka Kalian kayak orang di’kejar hantu
gitu sich...!” Sambung Beby.
“Itu..... Anu.....!!!” Jawab Amanda.
“Apa’an sich... Itu.. Anu.. Itu.. Anu...?” Tanya
Helen.
“Anu.... Cha, Beb, Len...! Tasya Pingsan...!” Jawab
Claudia dan Amanda, bersamaan.
“Hah.......!!!” Sahut Chaca, Beby, dan Helen.
“Lho.. Kok’.... Bisa sich...???” Tanya Chaca.
“Gue juga nggak tau Cha...! Yang gue tau, tadi tu’
Tasya tiba-tiba aja teriak truz pingsan.” Jawab Claudia.
“Truzzz.....! Skarang Tasya di’mana...?” Tanya Beby.
“Skarang Tasya lagi di’UKS Beb...!” Jawab Amanda.
“Yaudah dech.. Kalau gitu, Kita ke’sana aja yuk...!”
Ajak Helen.
“Ayo...! E..e... Claud.. Man... Thank’s yach...!
Atas info’nya.” Kata Chaca.
“Sama-sama Cha.” Kata Claudia.
Setelah itu, Chaca, Beby, dan Helen pun segera pergi
menuju ke’ruang UKS. Dan setelah sampai di’ruang UKS. Chaca, Beby, dan Helen
pun, melihat Tasya terbaring di’ranjang UKS. Dan tiddak lama dari itu, Tasya
pun sudah terlihat perlahan membuka mata’nya.
“Duh... Gue di’mana...?” Tanya Tasya, sambil
memegang kepala’nya.
“Loe di’UKS Sya...!” Jawab Beby.
“Gimana ma keada’an loe... Udah mendingan nggsk...?”
Tanya Chaca.
“Dikit...Lah...!” Jawab Tasya.
“Emangnya loe kenapa sich Sya...! Kok’ pingsan
gini...???” Tanya Helen.
“Iya Sya...! Soal’nya, gue denger dari anak-anak..
Kata’nya loe tiba-tiba teriak.. truz pingsan...! Mang ada apa sich.. Sya.....!”
Sambung Beby.
“Hmmm.........!!! Gue juga nggak tau guys...! Tadi
tu’......! Aduh... Gue bingung dech...! Apa tadi tu’ beneren.. Atau gue Cuma
halusi nasi doank...!” Jawab Tasya.
“Udah...Lah... Sya...! Nggak usah terlalu di’pikirin
kayak gitu dech.. Mendingan loe mikirin aja kesehatan loe. Ntar.. Kalau loe
udah sembuh.. Baru dech.. Loe ceritain ke’Kita.” Kata Chaca, mengingatkan
Tasya.
Tidak lama kemudian, bel pun berbunyi.
“Yah.....! Udah masuk...!” Sahut Beby.
“Yaudah... Dech...! Kalau gitu, Kita masuk dulu yach
Sya...!” Kata Helen
“E...e...! Tunggu, Gue ikut...!” Sahut Tasya.
“Lho.....! Emangnya, loe udah nggak apa-apa Sya...!
Istirahat aja dulu di’sini.” Kata Chaca.
“Loe gimana sich Cha, khan abis sini ada Praktek
Biologi.. Masa gue nggak ikutan sich...! Nggak dapet nilai donk gue.” Ucap
Tasya.
“Ya’Ampyun.....! Tasya, loe khan bisa ijin. Lagian,
Kita khan juga Praktek’nya berkelompok. Jadi Loe pasti loe juga bakal dapet
nilai yang sama kayak Kita.” Ucap Beby.
“Iya Sya, Loe istirahat aja dulu di’sini. Ntar kalau
loe pingsan saat pelajaran gimana donk...! Lagian Bu’Hartati juga pasti ngerti
kok’.. Keadaan loe...!” Sambung Helen.
“Gue.. Udah nggak apa-apa.. Chaca, Beby, Helen.
Beneren dech...! Gue udah baikan skarang...!” Kata Tasya, sambil bangkit dari
tempat tidur.
“Yaudah.. Dech Sya...! Terserah loe...!” Sahut Beby.
“Iya.. Dech...! Yang penting loe’nya udah sembuh.”
Sambung Chaca.
“Yaudah... Dech...! Kalau emang loe udah mendingan.
Kalau gitu tunggu apa lagi, Ao cepeten masuk kelas...! Ntar telat lagi...!”
Ajak Helen.
“Yaudah Yuk...!” Sambung Tasya.
Akhirnya, Chaca, Beby, Tasya, dan Helen pun segera
pergi menuju ke’kelas untuk Praktek IPA Biologi. Untung saja Bu’Hartati (Guru
Biologi Mereka) belum masuk kelas, jadi Mereka bisa masuk dengan lancar dan
tidak lama kemudaian, Bu’Hartati pun datang. Dan Mereka pun segera mengadakan
Praktek IPA Biologi.
Tidak terasa, waktu pun terus berjalan. Akhirnya,
Jam pulang sekolah telah tiba. Chaca, Beby, Tasya, Helen, Indra, Virgo, dan
Oyon pun segera pulang ke’rumah sewaan Mereka tersebut.Setelah sampai di’rumah
dan makan siang. Indra pun bertanya pada Tasya. Tentang masalah tadi ketika
masih di’sekolah pada jam istirahat.
“Oh ya...! Sya, gue dengar-dengar.. Tadi loe pingsan
yach...? Truz sempat masuk ruang UKS.” Tanya Indra.
“Iya.. In...!” Jawab Tasya.
“Lho...! Emangnya kenapa sich Sya...? Loe sakit
yach...?” Tanya Virgo.
“Tapi Sya, kalau loe emang bener sakit. Kok’ tadi
waktu Praktek Biologi, loe kelihatan baik-baik aja kok’. Mang sebenernya, ada
apa sich Sya...!” Sambung Oyon.
“Enggak kok’.. Gue nggak sakit. Gue baik-baik aja.”
Jawab Tasya.
“Lho...! Truzzz.....! Kalau emang loe nggak sakit,
kenapa coba.. Tadi loe pingsan...?” Tanya Beby.
“Ya...! Itu yang gue bingung sampe skarang...! Gue
juga nggak tau, apa yang gue liat tadi itu beneren.. Atau Cuma halusi nasi gue
aja...!” Jawab Tasya.
“Maksud loe Sya...? Jujur gue nggak ngerti banget.”
Tanya Chaca.
“Truzz.. Maksud loe, ngeliat... loe ngeliat
apa’an...?” Sambung Helen.
“Gue tu’.. ngeliat sosok wanita lewat di’samping
gue. Truzz, muka’nya tu’ pucat ma serem banget. Makanya, pas ngeliat itu, gue
langsung berbalik.. Karna pengen masti’in itu bener apa enggak. Tapi,
ternyata.. Sosok wanita itu udah nggak ada lagi. Yaudah.. Gue fikir, itu Cuma
halusi nasi gue aja. Tapi, pas gue berbalik mau ke’Perpus.. Eh.. Tiba-tiba,
sosok wanita itu udah ada di’hadapan muka gue. Ih...! Pokok’nya.. Nyeremin
banget, Ya.. Gue teriak.. Dan pingsan. Dari situ, gue udah nggak inget apa-apa
lagi.” Jawab Tasya, menjelaskan apa yang terjadi pada’nya.
“Ih... Waw...! Kok’ serem banget sich Sya...!” Sahut
Beby.
“Ih... Waw...! Gue aja merinding Beb...!” Kata
Chaca.
“Ih... Waw...! Loe berdua ngejiplak kata-kata
gue...!” Sahut Indra.
“Skali-skali khan nggak apa-apa In...!” Ucap Beby.
“Truzzz... Sya...! Gimana donk...?” Tanya Virgo.
“Yaudah...! Dari situ Gue udah nggak inget apa-apa
lagi.” Jawab Tasya.
“Tapi, kok’... Waktu Claudia ama Amanda britau Gue,
Beby, ama Chaca. Mereka kok’ nggak bilang yach, kalau loe tu’ pingsan karena
ngeliat sosok wanita yang nyeremin.. Atau bisa juga di’bilang Hantu.” Kata
Helen.
“Iya.. Yach...! Malahan, Claudia ama Amanda bilang..
Mereka berdua nggak tau kenapa loe tiba-tiba aja pingsan...!” Sambung Chaca.
“Emmm.......! Kayak’nya.. bukan cuma Claudia ama
Amanda aja yang nggak ngeliat sosok wanita yang gue liat. Tapi juga semua
anak-anak yang ada di’sekitar gue waktu itu.” Ucap Tasya.
“Jadi, Sya.. Maksud loe, Cuma loe doank yang ngeliat
sosok wanita itu...!” Kata Oyon.
“Kayak’nya sich gitu Yon...!” Kata Tasya.
“What...! Berarti.. Kata Helen bener donk...! Yang
loe liat itu, Hantu.. Sya..!” Sahut Beby.
“Udah... Ah...! Nggak usah mikirin itu lagi. Ntar
makin ke’sana makin ngaur lagi...!” Ucap Chaca.
“Iya.. Bener apa kata Chaca, mendingan berhenti
mikirin yang kayak-kayak gitu’an...! Mendingan, Kita mikirin persiapan Praktek
buat besok. Khan besok hari terakhir.” Kata Helen.
Setelah itu, Mereka pun berusaha untuk melupakan
kejadian yang menimpa Tasya. Dan
terlihat sudah mempersiapkan, untuk praktek besok. Dan tak terasa, malam pun
t’lah tiba. Jarum jam menunjuk’kan pukul 20:00. Bagi Kikan, inilah saat’nya,
karena malam itu adalah tepat Jumat Malam.
“Aduh...! Kok gue udah ngantuk banget yach...! Mang
nich jam brapa sich...!” Sahut Beby.
“Ya’ampun Beb..! Tumben banget loe udah ngantuk,
padahal nich juga baru jam delapan.” Sahut Chaca.
“Iya... Nich...! Gue juga nggak tau, kenapa jam
segini gue udah ngantuk banget.” Sahut Beby.
“Yaudah.. Beb...! Kalau emang loe ngantuk, tidur aja.
Nggak usah di’paksa’in. Lagian khan, tugas-tugas ama PR kita udah pada selesai
smua.” Sahut Tasya.
“Iya.. Dech...! Kalau gitu gue tidur dulu yach...!”
Kata Beby, sambil berdiri dari tempat duduk’nya. Dan Chaca pun, tiba-tiba juga
ikut berdiri dari tempat duduk’nya.
“Napa..
Cha...! Loe ngantuk juga.. Yach...!” Sahut Helen.
“Enggak.. Kok’...! Gue tu’ Cuma kebelet...!” Kata
Chaca.
“Ya..Ampun, Cha...! Gue tu’ mau ke’kamar... Mau
tidur...! Bukan’nya mau ke’WC.” Ucap Beby.
“Ih...! Beby...! Ngigo loe yach...! Mang siapa yang
ngajakin loe ke’WC.” Ucap Chaca.
“Udah... Dech... Beb...! Mending loe tidur gih..
Sana...! Ntar loe malah ngigo yang aneh-aneh lagi.” Kata Indra.
“Idih...! Kalian tu’ apa-apa’an sich...! Mang siapa
yang ngigo.” Ucap Beby, dengan mata melek.
“Ya.. Habis’nya, Loe tadi ngomong’nya ngelantur...!”
Ucap Virgo.
“Ha...! Emang siapa yang ngelantur.” Kata Beby.
“Ya.. Loe Lah...! Duh... Beb, loe kok’ ngomong’nya
makin ke’sana makin nggak nyambung sich,
jadi kayak orang linglung loe...!” Kata Oyon.
“Monyon... Loe Yon...! Enak aja bilang gue
linglung.” Kata Beby.
“Yaudah..... Beby......! Tidur aja sana...!!!” Kata
Tasya, Indra, Helen, Virgo, dan Oyon, bersamaan.
“Udah... Dech...! Beb, mending loe tidur aja..
yach...!” Sahut Chaca, sambil menarik tangan Beby.
“Ya’Ampun...! Gue hampir lupa...! Gue khan belum
ngisi buku buat di’bawa besok.” Sahut Helen.
“Mau ngisi buku, atau mau baca buku, Len...!” Ucap
Tasya.
“He,he,he,...! Dua-dua’nya sich...! Yaudah.. Kalau
gitu gue ke’kamar yach...!” Kata Helen, sambil berdiri dari tempat duduk’nya.
Dan segera pergi menuju kamar’nya.
“Aduh.....! Nich.. Signal kok’.....! Hilang-hilang
gini sich...!” Sahut Oyon.
“Emang biasa’nya kayak gitu Yon...! Coba dech...!
Loe cari signal di’luar atau di’teras aja...! Biasa’nya kalau di’luar tu’..
Signal’nya lebih dapet...!” Ucap Virgo.
“Yaudah... Dech...! Kalau gitu gue ke’teras aja kali
yach...! S’kalian mau cari angin.” Kata Oyon.
“He,he,he...! Iya bener....! Cari angin, plus..
masuk angin...!” Ucap Indra.
“Ada-ada aja sich.. Loe Sya...! Yaudah...! Kalau
gitu gue keluar yach..!” Ucap Oyon, sambil berdiri dari tempat duduk’nya. Dan
segera pergi ke’luar menuju teras rumah.
“Oh.. Ya...! Sya, Go...!” Sahut Indra.
“Hmmm.....! Loe mau kemana lagi sich In...?” Tanya Virgo.
“Lho...! kok’ loe tau sich Go. Kalau gue mau pergi.”
Jawab Indra.
“YaiyaLah...! Loe’nya sering kayak gitu.” Kata Virgo.
“Lho...! In, loe mau kemana malem-malem gini...?”
Tanya Tasya.
“Nggak kok’ Sya, maksud gue tu’...! Gue mau pergi
ke’kamar mandi, buat cuci muka. Biasalah...! Pencegahan jerawat...!” Jawab
Indra.
“O..o...! Kira’in loe mau keluar rumah. Lho, In..
Bukannya di’kamar mandi lagi ada Chaca yach...?” Tanya Tasya.
“Lho.. Sya...! Loe lupa yach...! Kamar mandi’nya
khan ada dua. Jadi, gue bisa ke’kamar mandi yang satu’nya lagi...!” Jawab
Indra.
“Oh.. Iya.. Yach...!” Ucap Tasya.
“Yaudah... Dech...! Gue ke’belakang dulu yach...!
Ucap Indra, sambil berdiri dari tempat duduk’nya. Dan segera pergi menuju
ke’belakang.
Sementara itu, saat Beby dan Chaca sampai di’depan
kamar’nya. Chaca dan Beby bertemu dengan Helen yang juga ingin masuk
ke’kamar’nya.
“Lho...! Helen...!” Sahut Chaca.
“Eh...! Chaca, Beby...! Gue fikir, Beby udah
di’kamar.. truz.. Chaca udah di’kamar mandi.” Kata Helen.
“Iya nich...! Beby jalan’nya lelet banget sich...!
Emang loe ngantuk banget yach.. Beb...?” Tanya Chaca.
“Iya.. Nich...! Gue juga nggak tau kenapa gue bisa
ngantuk banget kayak gini. Yaudah...! Kalau gitu gue masuk yach...!
By...By...!” Jawab Beby, sambil membuka pintu kamar’nya dan segera masuk.
“Eh...! Kalau gitu, gue juga masuk yach Cha, biasa..
Mau baca buku ama masukin buku pelajaran buat besok...!” Kata Helen.
“Yaudah...! Gue juga mau ke’toilet nich...! Kebelet
banget, by...!” Ucap Chaca, dan segera pergi menuju ke’ kamar mandi. Dan Helen
pun, juga masuk ke’kamar’nya.
Tidak lama dari situ. Chaca pun sudah ke’toilet dan
setelah Chaca ke’luar dari toilet tersebut. Chaca melihat Indra yang baru saja
ingin masuk ke’kamar mandi di’sebelah’nya.
“Lho... In...! Loe mau ngapain...?” Tanya Chaca.
“He,he,he...! Biasa, gue mau cuci muka.. buat
mencegah jerawat...! Loe khan tau sendiri, kalau muka gue tu’.. Sensitif banget
ama yang nama’nya jerawat.” Jawab Indra.
“Ya’Ampun... In...! Kenapa loe nggak nyuci
di’wastafel aja...?” Tanya Chaca.
“Duh...! Cha.. Loe kayak nggak tau gue aja...! Gue
khan......” Jawab Indra. Tapi, Chaca langsung memotong pembicaraan’nya.
“Udah....Udah..... In.....! Nggak usah di’terusin.
Mending loe masuk aja ke’dalem, truz loe cuci muka. Ocey...! Lagian, bagus juga
sich...! Loe nggak pake wastafel, soal’nya khan.. gue juga mau cuci muka.” Ucap
Chaca.
“Yaudah.. dech...! Gue masuk aja.” Kata Indra, lalu
segera masuk ke’kamar mandi.
Dan Chaca pun, segera berjalan menuju ke’wastafel
yang ada di’dekat dua kamar mandi tersebut. Ketika Chaca menunduk untuk
mengambil air dan mencuci muka. Ia merasa, ada sesuatu di’belakangnya. Ternyata
dugaan’nya benar, ketika Ia melihat ke’cermin ada sosok wanita yang berambut
panjang mengenakan pakaian putih panjang dan wajahnya sangat menyeramkan, tepat
berdiri di’belakangnya. Chaca pun sangat terkejut dan Ia langsung nerbalik
ke’belakang. Tetapi, tidak ada siapa pun. Dan tiba-tiba saja ada suara air
keran yang menyala sendiri tanpa ada yang nyalakan, karena seingat Chaca, tadi
Ia sudah mematikan air keran tersebut. Chaca pun berbalik arah lagi untuk
segera mematikan air keran tersebut. Jantung Chaca, berdenyut cepat dan
sesekali menarik nafas. Ketika Chaca memegang pemutar air keran tersebut,
tiba-tiba saja.. Tangan Chaca di’pegang oleh tangan sosok wanita yang sangat
menyeramkan itu. Chaca pun sangat terkejut, karena ternyata di’depan’nya telah
ada sosok wanita yang sangat menyeramkan itu. Ia pun berteriak dan segera
melepaskan tangan’nya dari genggaman sosok wanita tersebut dan langsung lari.
Sedangkan Indra yang sedang asyik mencuci muka juga terkejut mendengar teriakan
Chaca. Indra pun mengira, Bahwa Chaca berteriak cuman karena melihat tikus atau
hewan melata lainnya. Akhirnya, Indra pun meneruskan pekerjaannya.
Sementara itu, Beby yang dari tadi sudah masuk
ke’kamarnya. Merasa ada keganjilan, Ia pun cuma duduk diranjang’nya. Lalu
berpikir:
“Lho....! Tadi gue ngantuk banget, tapi ko’.. pas
udah sampe di’sini. Ngantuk gue jadi ngilang. Udah...’ah....! Mending gue tidur
aja.” Pikir Beby.
Saat Beby sedang berbaring ditempat tidurnya,
tiba-tiba saja. Ia melihat sesosok wanita dengan wajah yang sangat menyeramkan
juga berbaring disampingnya. Beby pun berteriak dan segera lari menuju pintu
keluar kamar. Tetapi, setelah Beby membuka pintu kamarnya. Pintu tersebut tidak
dapat dibuka. Padahal, Beby tidak mengunci pintu tersebut. Beby pun sangat
panik, karena sosok wanita menyeramkan atau bisa dibilang hantu tersebut
berjalan mendekatinya dengan tangan terangkat seperti ingin membunuh Beby.
“A...a.....!!! Tolong.....!!! Chaca, Tasya, Helen,
Indra, Virgo, Oyon...!!! Tolongin gue...!!! Tolong buka pintunya.. Siapa aja
yang diluar...!!!” Teriak Beby sambil menggedor-gedorkan pintu berusaha membuka
pintu tersebut.
Tidak lama kemudian, setelah Hantu tersebut mulai
mendekati Beby. Beby pun telah pasrah dan tiba-tiba saja pintu kamar itu
terbuka. Beby pun segera lari dan dengan tidak sengaja bertabrakan dengan
Chaca. Karena panik, Beby pun terjatuh berteriak karena Ia berfikir Chaca
adalah hantu yang barusan Ia lihat dikamar.
“A.....a.....a.....!!!” Teriak Beby sambil menutup
matanya menggunakan tangannya.
“Beby.....!” Sahut Chaca.
Ketika mendengar suara Chaca, Beby pun perlahan
membuka matanya dan ketika Beby melihat Chaca, Beby pun langsung memeluk Chaca.
“Loe kenapa sich Beb.....?” Tanya Chaca dengan suara
agak panik karena Ia juga telah melihat hantu tersebut.
“Chaca....! Gue takut banget...! Pokoknya malam ini
juga Kita harus pulang...!” Jawab Beby sambil menitikkan air mata karena saking
takutnya Ia.
“Emangnya Kenapa sich Beb...? Loe nggak apa-apa
khan...?” Tanya Chaca sambil melihat Beby.
“Cha.. Gue tu’ baru aja ngeliat hantu tau nggak
di’kamar Kita...!” Jawab Beby.
“Hantu.....!!! Maksud Kamu, sosok wanita yang
berwajah menyeramkan, berambut panjang, dan mengenakan kain putih...!” Ucap
Chaca.
“Kok’ Loe tau sich...? Atau, Jangan bilang kalau Loe
juga ngeliat hantu itu...!” Tanya Beby, dengan nada panik bercampur bingung.
“Ya..Ampun... Beby....!!! Gue emang bener ngeliat
hantu itu.” Jawab Chaca.
Sementara itu, Indra yang baru saja keluar dari
kamar mandi sangat terkejut. Karena ketika Ia baru membuka pintu kamar mandi,
dihadapannya hadir hantu yang dilihat Chaca dan Beby. Lalu, dengan perlahan,
Indra pun melangkahkan kakinya kesamping untuk segera lari. Tetapi, ketika Ia
berlari, tiba-tiba jatuh dihadapannya sosok pocong. Ia pun berteriak dan segera
lari.
Sedangkan Tasya dan Virgo yang sedang menonton TV
heran, karena Chaca dan Indra tidak muncul-muncul.
“Duh...! Go, kok’
Indra sama Chaca lama banget sich...!” Ucap Tasya.
“Iya...Yah...! Perasaan, kalau gue hitung-hitung
Mereka tu udah setengah jam lebih nggak nongol-nongol.” Kata Virgo.
“Yaudah...Dech...! Kalau gitu, gue liat aja mereka
dibelakang.” Kata Tasya sambil berdiri dari tempat duduknya dan pergi menuju
kekamar mandi.
Ketika Tasya melewati gudang belakang, Ia mendengar
suara-suara aneh. Dan tiba-tiba saja Ia melihat sosok wanita berambut panjang
sedang duduk disebuah kursi panjang dengan kepala menunduk sambil menangis.
Tasya berfikir kalau yang Ia lihat itu
adalah Beby.
“Lho...! Beby...! Loe kenapa...! Trus, loe ngapain
disini...! Gue fikir Loe udah tidur...!” Sahut Tasya sambil duduk disebelah
wanita tersebut.
Pada saat itu suasana menjadi hening, dan seperti
tidak ada suara apa pun. Tiba-tiba saja wanita tersebut memperlihatkan wajahnya
yang menyeramkan sambil mengatakan “Tolong
Saya” . Saat itu Tasya sangat terkejut, Ia pun berteriak
sekencang-kencangnya sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman wanita
tersebut. Tasya pun terus berteriak dan menutup matanya.
Sedangkan Beby dan Chaca yang mendengar teriakan
Tasya pun segera datang menghampiri Tasya.
“Eh...! Cha, itu kok’ kayak suaranya Tasya.” Sahut
Beby.
“Iya... Beb, itu emang bener suaranya Tasya...!”
Sambung Chaca.
“Kalau Gitu, Mending Kita liat aja yuk...!” Ajak
Beby, lalu Mereka berdua pun langsung datang menghampiri Tasya.
Tetapi, ketika Beby dan Chaca datang menghampiri
Tasya. Hantu tersebut telah hilang entah kemana. Saat itu, Chaca dan Beby pun
segera menenangkan Tasya.
“Sya, Loe kenapa sih...?” Tanya Chaca, sambil
melihat Tasya. Dan Tasya pun perlahan membuka matanya. Ketika Ia melihat Chaca
yang berada disampingnya. Tasya pun langsung memeluk Chaca.
“Chaca....!!!” Ucap Tasya, panik.
“Ada apa sih Sya...?” Tanya Beby.
“Gue juga nggak tau Beb, Apa yang barusan terjadi.
Yang pasti, tadi gue abis ngeliat hantu...!” Jawab Tasya.
“Apa...! Hantu....!!!” Sahut Beby dan Chaca,
bersamaan.
Saat itu, tiba-tiba Indra datang dengan wajah yang
sangat panik.
“Indra, Loe kenapa lagi sih...?” Tanya Beby.
“Tau...Nggak...! Tadi, gue abis ngeliat hantu.”
Jawab Indra.
“Hah....! Loe ngeliat hantu juga In...!” Kata Tasya.
“Emangnya Loe juga ngeliat Sya...?” Tanya Indra.
“Iya...!” Jawab Tasya.
“Bukan Cuma Kalian berdua aja yang ngeliat, tapi Gue
ama Chaca juga ngeliat hantu itu...!” Sahut Beby.
“Serius Loe Beb...!” Ucap Indra.
“Iya.. Bener...! Gue nggak bo’ong...! Untuk apa coba
Gue bo’ong. Tanya sendiri aja ama Chaca.” Kata Beby.
“Cha, yang dikatain Beby itu benar...?” Tanya Tasya.
“Iya, yang dikatain Beby itu emang benar...!”
Sementara itu, Virgo yang lagi asyik menonton TV,
tiba-tiba saja mendapat chanel yang menayangkan film horor. Virgo pun segera
mengganti chanel tersebut, tetapi, remot TV seperti tidak dapat digunakan.
“Wah...! Parah benget sih nih remot...! Baterainya
udah soak kali...! Duh, gimana cara ganti chanelnya kalau kayak gini. Mana
diputerin film horor lagi...! Ih...Serem...!” Ucap Virgo, sambil mengambil
cemilan yang ada di’atas meja.
Tetapi, ketika Virgo ingin mengambil cemilan
tersebut, tiba-tiba saja. Cemilan itu terjatuh di’bawah meja. Saat itu, Virgo
pun mengambil cemilan itu dengan meraba-raba lantai dibawah meja tersebut.
Lalu, Virgo pun mendapat sesuatu di’bawah meja itu, yang disangkanya cemilan.
Ia pun dengan perlahan mencoba melihat apa yang Ia pegang. Ternyata, yang Ia
pegang ialah sebuah tangan yang terputus. Lalu, tiba-tiba saja ketika Ia
menengok, telah hadir hantu wanita yang perlahan mendekatinya. Virgo pun sangat
terkejut dan Ia pun langsung bergegas pergi dari ruang tersebut, sambil
berteriak.
Sedangkan Oyon, yang sedang sibuk mencari signal
di’teras rumah. Tiba-tiba, Ia melihat bayangan lewat dihadapannya. Karena
penasaran, Oyon pun melihat-lihat keadaan sekitarnya. Lalu, ketika Ia
membalikkan diri. Tiba-tiba jatuh dihadapannya, sosok pocong yang telah kaku.
Ketika itu, Ia belum terlalu melihat jelas bahwa itu adalah pocong. Oyon pun
dengan perlahan melihat pocong tersebut, dan tiba-tiba saja, pocong tersebut
bergerak dengan sendirinya. Oyon pun sangat terkejut dan segera lari masuk
kedalam rumah.
Sementara itu, Helen yang sedang asyik membaca buku
dikamarnya. Tiba-tiba melihat sosok bayangan wanita lewat dijendela kamarnya.
Karena penasaran, Ia pun dengan perlahan berjalan dan membuka gorden jendela
kamarnya tersebut. Setelah Ia membuka gorden jendela dan melihat-lihat keadaan
sekitarnya, Ia tidak melihat apapun, akhirnya Helen pun melanjutkan membaca
buku. Tetapi, tiba-tiba saja buku yang Ia taruh diatas meja terjatuh dengan
sendirinya kelantai. Dan pada saat Ia ingin mengambil buku tersebut, Ia melihat
kaki yang sedang berdiri (yang sepertinya berada didekatnya). Tetapi setelah
Helen lihat lagi, ternyata tidak ada seorang pun didekatnya. Lalu, tiba-tiba
saja ada darah menetes jatuh dihidungnya. Dan ketika Helen melihat kearah atas,
ada sesosok wanita yang sangat menyeramkan sedang menempel diplafon kamar
tersebut. Helen pun berteriak dan segera keluar dari kamar tersebut.
Setelah keluar dari kamarnya, Helen bertemu dengan
Virgo yang pada saat itu juga sedang lari tergesa-gesa ketakutan.
“Virgo...!” Sahut Helen.
“Helen...!” Balas Virgo.
Dan Indra, Chaca, Beby dan Tasya pun datang.
“Lho.. Virgo, Helen...!” Sahut Chaca.
“Lho.. Beb, bukannya Loe udah tidur...!”
“Trus, Kalian berempat ko’ bisa barengan sich...!”
Tiba-tiba saja Oyon pun datang dengan wajah
ketakutan.
“Oyon, loe kenapa...?” Tanya Indra.
“Apa jangan-jangan, loe habis ngeliat hantu juga
yach...?” Sambung Beby.
“Bukan hantu lagi Beb, tapi pocong...!” Jawab Oyon.
“Haa... pocong......!!!” Sahut Chaca, Beby, Tasya,
Helen Indra, dan Virgo bersamaan.
“Kayaknya Kita semua perlu ada rapat kecil dech..
Yaudah kalau gitu Kita keruang tengah aja yuk. Untuk menenangkan diri!” Kata
Chaca.
“Nggak...akh.....! Pokoknya Gue nggak mau kalau
di’ruang tengah!” Sahut Virgo.
“Emangnya kenapa sih Go ?” Tanya Tasya.
“Loe semua tau nggak, barusan tadi. Gue tuch abis
ngedapetin tangan buntung sama ngeliat hantu!” Jawab Virgo.
“Yaudah, kalau gitu, Kita semua bicara dikamar Gue,
Virgo ama Oyon aja. Karena khan Cuma kamar Kita bertiga aja yang nggak
didatengin hantu” Kata Indra.
“Yaudah yuk...!” Sahut Helen.
Lalu mereka semua pun pergi kekamar Indra, Virgo,
dan Oyon. Setelah sampai, mereka semua pun duduk sambil menenangkan diri.
“Kayaknya malam ini Kita semua bener-bener
didatengin hantu dech...!” Kata Chaca membuka pembicaraan.
“Iya Cha, Loe bener. Setelah Kita semua ngedapet
kejadian aneh. Ech,, malah didatengin hantu...!” Sambung Tasya.
“Trus, skarang Kita semua musti gimana dhonk.....!”
Kata Helen.
“Pulang...! Gue mau Kita pulang. Siapa tau aja khan,
penghuni rumah ini tu’ nggak suka ama kehadiran Kita disini. Makanya Dia
ngehantuin Kita satu-satu. Itu berarti, tandanya Kita udah disuruh pulang...!”
Sahut Beby.
“Ha... Pulang...!” Sahut Tasya.
“Tapi Beb, kalau menurut penglihatan Gue. Nich hantu
bukan dari penghuni rumah ini...!” Sahut Indra.
“Kalau emang bukan dari penghuni rumah ini, dari
mana lagi dhonk...?” Tanya Virgo.
“Gue juga nggak tau pasti dari mana asalnya hantu
ini. Yang pastinya, dia bukan dari penghuni rumah ini!” Jawab Indra.
“Loe bener In, Gue juga berfikir kayak gitu. Lagian
kalau emang bener ini dari penghuni rumah ini, ngapain coba, dia gangguin Kita
sementara Kita tu’ nggak pernah gangguin dia” Sahut Chaca.
“Iya Cha, Menurut buku yang gue baca.
Makhluk-makhluk halus kayak gini tu’ nggak bakalan ganggu Kita, kalau Kita
nggak pernah ganggu mereka” Sambung Helen.
“Iya..yach.....! Kata Oyon.
“Terserah Kalian dech, mau mikir apa. Tapi, gue mau
pulang. Karena gue tu’ nggak mau dihantuin lagi!” Sahut Beby.
“Trus, kalau loe pulang. Loe pikir loe nggak bakalan
dihantuin lagi! Loe salah Beb, malahan mungkin hantu ini tu’ bakal ikutin loe
sampe rumah...!” Sahut Indra, tegas.
“Apaan sich In, udah dech. Nggak usah pake
nakut-nakutin gitu” Kata Beby.
“Lho, siapa yang nakut-nakutin. Emang yang gue
katain tu’ bener ko’...!” Bantah Indra.
“Udah... Udah...! Beby, Indra...! Kalian berdua ko’
jadi pada berantem sich...!” Sahut Tasya.
“Iya nich, Kita tu’ disini mau ngebicarain gimana
Kita selanjutnya sama ngenyelesaiin masalah. Bukannya malah ngenambah
masalah...!” Sambung Chaca.
“Iin tu’, yang duluan!” Sahut Beby.
“Lagiand loe sich, manja banget. Baru gini aja udah
minta pulang!” Kata Indra.
“Gue khan takut Iin...!” Kata Beby.
“Aduuhh..... Ko’ malah berantem lagi sich...! Udah
dhonk...!” Sahut Tasya.
“Disaat-saat kayak gini Kalian ko’ malah berantem.
Udah dech, mendingan Kalian baikan skarang...!” Sambung Chaca.
“Ko’ malah pada diam-diaman sich. Baikan dhonk...!”
Kata Oyon.
“Yang duluan mulai dia dhonk yang minta maaf!” Sahut
Beby.
“Apaan sich Beb!” Kata Indra.
“Huh... Kalian nich, mau minta maaf aja kayaknya
susah banget yach! In, yaudah loe aja yang duluan minta maaf!” Kata Helen.
“Ih.. Ogah!” Ucap Indra.
“Indra, ladiesfers dhonk skali-skali...!” Sahut
Tasya.
“Yaudah dech, Beb, gue minta maaf!” Ucap Indra,
sambil mengulurkan tangannya.
“Hmmm... Yaudah dech, gue maafin!” Ucap Beby, sambil
menjabat tangan Indra.
“Nah, gitu dhonk.. Khan kalau kayak gini jadi
enakan!” Sahut Virgo.
“Yaudah, kalau gitu mendingan skarang Kita semua
tidur aja. Lagiand ini juga udah mau larut malam” Ucap Chaca.
“Tapi Cha, gue masih takut nich buat balik kekamar
Kita lagi...! Ntar kalau hantunya balik lagi gimana!” Sahut Beby.
“Iya Sya, gue juga masih takut nich. Soalnya khan,
tadi gue tu’ ngeliat hantunya nempel gitu di’plafon. Hiii......!!!” Sahut Helen.
“Trus, Kita mau tidur dimana dhonk!” Ucap Chaca dan
Tasya bersamaan.
“Hmm... Yaudah kalau gitu, Kalian berempat tidur aja
dikamar ini!” Kata Virgo.
“Trus, Kalian bertiga gimana?” Tanya Helen.
“Kita khan bisa tidur di’sofa atau tidur dikarpet
aja. Iya nggak In, Yon!” Jawab Virgo.
“Yuuppzz... Bener banget!” Sahut Indra dan Oyon.
“Yaudah dech, Cha, Beb, Sya. Tidur yuk, ngantuk
nich...!” Sahut Helen.
Akhirnya mereka semua pun segera begegas tidur dan
berharap hari esok dapat lebih baik lagi.
* * *
BAB V
“MISTERI NABILA TERUNGKAP”
HARI KE-ENAM:
Pada
saat Tasya terbangun dari tidurnya, Ia sangat terkejut. Karena Ia sama skali
tidak melihat siapa pun didekatnya. Dan setelah Ia melihat jam menunjukKan
pukul 02.00 tengah malam. Lalu, tiba-tiba saja Ia mendengar suara teriakan
seorang wanita. Karena penasaran, akhirnya Tasya pun segera keluar dari kamar
tidurnya dan segera mencari tempat teriakan yang baru saja Ia dengar. Dan
tiba-tiba saja, terdengar suara ketukan pintu dari gudang belakang, Tasya pun
segera berjalan menuju ke gudang tersebut. Perlahan Tasya pun membuka pintu
gudang tersebut, tetapi, tiba-tiba saja ada tangan yang memegang pundaknya.
Tasya pun langsung membalikkan diri dan sontak Ia sangat terkejut karena
dihadapannya telah hadir seorang wanita yang sangat menyeramkan (Hantu).
Tasya pun berteriak, dan tiba-tiba saja diikuti
dengan teriakan Chaca, Beby, dan Helen, yang sama-sama terbangun dari tidurnya.
Ternyata, semua yang baru saja Tasya alami itu hanyalah sebuah mimpi. Pada saat
itu, bukan hanya Tasya yang mendapat mimpi demikian, tetapi juga Chaca, Beby,
dan Helen juga mendapat mimpi yang sama.
“Oh...My...Gadz....!!! Gue mimpi apaan sich, kok
mimpi gue serem banget...!” Sahut Beby.
“Beb, apa loe mimpi didatengin seorang wanita yang
lebih cocok dibilang hantu itu...?” Tanya Chaca.
“Iya bener...! Lho... Cha, ko’ loe bisa tau mimpi
gue sich...?” Jawab Beby lalu bertanya kembali pada Chaca.
“Ya...Ampun... Beb, gue juga mimpi kayak gitu...!”
Jawab Chaca.
“Haa........!!!” Sahut Tasya, Beby, dan Helen
bersamaan.
“Ech... Len, jangan bilang loe juga dapetin mimpi
yang sama!” Ucap Tasya.
“Astagaa... Sya, gue tu’ juga mimpi didatengin hantu
yang megang pundak gue dari belakang.....! I...i...!” Kata Helen.
“Lho... ko’ mimpi Kita bisa sama sich...!” Kata
Tasya.
“Truz... Kita kebangunnya juga bareng....!” Ucap
Chaca.
“Waaa..... Pertanda apa lagi sich nich. Prasaan gue
jadi nggak enak nich!” Ucap Beby.
“Iya nich Beb, gue juga!” Kata Tasya.
Kemudian, Indra yang baru saja terbangun pun
langsung menghampiri Chaca, Beby, Tasya dan Helen.
“Ada apa sich nich...! Pagi-pagi ko’ udah ricuh...!”
Kata Indra.
“Aduch.. In... Loe tu’ nggak tau yach, kalau baru aja
Gue, Chaca, Tasya ama Helen tu’ ngedapetin mimpi yang sama...!” Sahut Beby.
“Haa..... Masa sich...?” Tanya Indra.
“Iya In, yang dikatain Beby itu emang bener!” Jawab
Tasya.
“Hmmm... Yaudah dech, mendingan ini Kita pikiran aja
lagi nanti. Mending sekarang Kita siap-siap aja kesekolah, soalnya khan ini
juga hari trakhir Kita praktek” Sahut Chaca.
“Iya.. Lebih baik Kita fokus aja dulu ke praktek
sebentar. Masalah yang semalem, nanti aja ya, Kita bicarain lagi” Sambung
Tasya.
“Yaudah Kalau gitu Kalian siap-siap aja. Gue mau
keluar dulu, skalian ngebangunin Virgo ama Oyon” Ucap Indra.
Akhirnya, Mereka semua pun bersiap-siap untuk segera
pergi kesekolah. Sesampainya Mereka disekolah, Mereka semua pun segera
mempersiapkan bahan praktek yang akan dibahas.
Tidak lama kemudian, setelah Mereka menyelesaikan
tugas praktek mereka. Bel pun berbunyi menandakan jam istirahat. Pada saat jam
istirahat, ada pemberitahuan dari pihak guru-guru untuk seluruh siswa SMU
Bintang diperbolehkan pulang karena ada rapat dewan guru.
“Hmmm.....! Kita diperbolehin pulang yach...!” Sahut
Tasya membuka pembicaraan.
“Iya... Dan itu berarti Kita bakalan balik lagi
kerumah sewaan itu...!” Ucap Beby.
“Lho... Khan disitu emang tempat Kita Beb” Kata
Indra.
“Aduch.. In...! Gue nich masih deg-deggan tau.. Gue
tu’ takut kalau kejadian semalem itu terulang lagi, soalnya Gue tu’ nggak mau
kalau sampe terjadi apa-apa ma Kita” Kata Beby.
“Udahlah Beb, loe tenang aja. Gue yakin ko’ kalau
Kita semua pasti akan baik-baik aja. Ocey...!” Kata Chaca menenangkan.
“Yaudah dech, kalau gitu mending Kita pulang aja
yuk!” Ajak Virgo.
“Pulang kerumah sewaan itu yach!” Ucap Helen.
“Yaiyalah.. Mau kemana lagi” Sahut Oyon.
“Yaudah yuk!” Ajak Indra.
“Kalian beneren mau pulang sekarang!” Sahut Beby.
“Yaiyalah Beb, kalau bukan sekarang, truz kapan
lagi!” Ucap Indra.
“Hmmm... Beby, Gue tau, loe tu’ masih trauma ama
kejadian semalem. Makanya itu, mendingan Kita bicarain dirumah aja!” Ucap Tasya.
“Yaudah dech kalau gitu. Terserah Kalian” Ucap Beby.
Mereka bertujuh pun segera pulang kerumah sewaan
tersebut.Sesampainya dirumah itu, Mereka pun kembali berkumpul.
“Ocey.. Jadi, sekarang Kita harus gimana?” Tanya
Chaca memulai pembicaraan.
“Emmm... Apa Kita ceritain aja ke Tante Anggi
tentang kejadian semalem? Siapa tau aja, Tante Anggi tau, kenapa Kita tu’ bisa
didatengin hantu yang nggak jelas!” Usul Helen.
“Boleh juga sich” Sahut Oyon.
“Gimana Cha?” Tanya Tasya.
“Kalau gue sich terserah Kalian aja” Jawab Chaca.
“ Yaudah, Kalau gitu. Gue telfon Tante Anggi
skarang” Sahut Indra sambil mengambil handphonenya dan menelfon Tante Anggi.
“Duch.. Handphone’nya tu’ nggak aktif” Sahut Indra
setelah menelefon Tante Anggi tetapi handphone Tante Anggi tidak aktif.
“Hmmm... Jangan-jangan Tante Anggi sengaja lagi,
nggak nggaktifin handphone’nya. Biar Kita nggak bisa hubungin Dia” Sahut Beby.
“Beby, nggak boleh berprasangka buruk gitu dhonk.
Mungkin aja khan, handphone’nya Tante Anggi tu’ nggak aktif karena loubet atau
ada alasan lain” Sahut Tasya mengingatkan Beby.
“Iya Beb, Kita tu’ nggak boleh berprasangka buruk
gitu ma Tante Anggi” Sambung Helen.
“Iya...Iya...!” Kata Beby.
“Truz, Kita skarang musti gimana dhonk?” Tanya
Virgo.
“Nich gue juga lagi mikir Go” Jawab Chaca.
Tiba-tiba, ada suara ketukan pintu dari luar.
“Kayaknya ada diluar ada orang dech” Sahut Oyon.
“Iya, Go, liatin gih sana!” Perintah Helen.
“Iya...Iya...!” Ucap Virgo sambil berjalan menuju pintu
dan membukanya.
Tetapi, Virgo tidak melihat siapa pun berada diluar.
Lalu, Virgo pun masuk kembali dengan kebingungan.
“Siapa Go...?” Tanya Indra.
“Nggak tau. Soalnya, tadi pas gue buka pintu, nggak
ada siapa-siapa diluar!” Jawab Virgo.
“Haaa..... Srius loe Go?” Tanya Helen terkejut.
“Iya bener.. Gue nggak bo’ong, untuk apa juga coba
gue bo’ong!” Jawab Virgo meyakinkan.
“Duch... Tu’ khan.. Jangan-jangan hantu itu lagi!”
Sahut Beby.
“Beb, bisa nggak sich.. Kalau loe tu’ nggak mikir
yang aneh-aneh lagi!” Sahut Chaca.
“Iya Beb, siapa tau aja itu tu’ tetangga sebelah,
karena Kita lama ngebukain pintu, jadinya dia pergi. Makanya, pas Virgo ngeliat
orang itu udah nggak ada!” Sambung Tasya.
“Terserah Kalian dech, yang pastinya perasaan gue
tu’ udah nggak enak” Kata Beby.
“Iya nich Beb, perasaan gue juga tiba-tiba nggak
enak” Sambung Helen.
Tiba-tiba saja Chaca melihat disalah satu jendela
yang ada diruang tengah itu ada tulisan “Tolong
Saya”. Chaca sangat terkejut melihat tulisan itu. Tetapi, Ia berusaha untuk
tidak memperhatikan tulisan itu lagi karena Ia berfikir itu hanyalah halusi
nasinya saja. Tetapi ketika Chaca melihat lagi, ternyata tulisan itu masih ada
dan nyata. Oyon yang heran melihat Chaca pun langsung bertanya pada Chaca.
“Cha, kenapa loe. Ko’ diem sich?” Tanya Oyon, yang
tidak melihat tulisan yang dilihat Chaca.
Chaca pun segera membalikkan dirinya membelakangi
jendela yang ada tulisannya itu.
“Kenapa sich Cha?” Tanya Tasya kembali.
“Loe liat!” Kata Chaca.
“Liat apaan sich!” Kata Tasya heran.
“Loe semua liat nggak!” Sahut Chaca.
“Liat apaan sich Cha” Sahut Beby.
“Iya Cha, Kita tu’ beneran nggak ngerti apa maksud
Kamu” Sahut Helen.
“Loe ngeliat sesuatu yach Cha” Sahut Virgo.
“Cha, bilang aja dech.. Jangan buat Kita
bertanya-tanya gini!” Sahut Indra.
“I...ih.....! Masa Kalian semua nggak liat sich.
Kalau dijendela tu’ ada tulisan!” Kata Chaca.
“Haaa... Tulisan!” Ucap Beby sambil melihat jendela
yang disebutkan Chaca.
“Ih... Cha, tulisan apaan sich, dijendela tu’ sama
skali nggak ada tulisan apa pun” Ucap Oyon.
“Iya Cha, dijendela itu emang nggak ada tulisan
apa-apa” Sambung Virgo.
“Apa......!!! Masa sich...!” Kata Chaca sambil
membalikkan dirinya kembali ke arah jendela tersebut.
Chaca sangat terkejut karena tulisan yang baru saja
Ia lihat ternyata sudah tidak ada lagi.
“Astagaa.....!” Sahut Chaca.
“Emangnya kenapa sich Cha?” Tanya Virgo.
“Gini yach, tadi tu’ gue baru aja ngeliat tulisan Tolong Saya dijendela itu” Jawab Chaca.
“Apa.. Masa sich Cha” Sahut Oyon.
“Iya bener. Gue nggak bo’ong” Ucap Chaca meyakinkan.
“Waahh.... Perasaan gue makin tambah nggak enak
nich!” Sahut Beby.
“Iya Beb, perasaan gue juga jadi ikut-ikutan nggak
enak gini” Sahut Tasya.
“Udah... Cukup...! Kita tu’ udah terlalu banyak
ngedapetin kejadian aneh kayak gini...! Pokoknya gue mau pulang. Sekarang!
Lagiand khan tugas-tugas praktek Kita khan udah slesai” Sahut Beby.
“Beb, apaan sich.. Dari kmarin minta pulang mulu!”
Kata Helen.
“Kalian semua tau nggak sich, kalau gue tu’ takut
terjadi apa-apa ma Kita semua! Gue tu’ nggak mau kalau Kita digangguin terus
sementara Kita nggak tau apa-apa” Kata Beby.
“Tapi Beb, gue yakin, hantu ini tu’ nggak bakal
berenti gangguin Kita kalau Kita nggak tolong Dia!” Sahut Indra tegas.
“Apa.....!!!” Ucap Tasya, Beby dan Helen bersamaan.
“Maksud loe In...?” Tanya Chaca, Virgo, dan Oyon
bersamaan.
“Gini yach, gue tu’ yakin banget kalau yang
ngegangguin Kita semua ini pengen kalau Kita semua bisa tolongin Dia!” Jawab
Indra.
“Truz kalau Dia emang beneren mau minta tolong.
Kenapa Dia mau ngegangguin Kita?” Tanya Oyon.
“Mungkin aja khan, Dia pengen kalau Kita tu’ tau,
kalau Dia butuh bantuan Kita” Jawab Chaca.
“Nah, tu’ Chaca tau” Kata Indra.
“Ocey...! Truz, gimana caranya Kita mau tolongin
Dia. Sementara Kita tu’ nggak tau apa-apa!” Sahut Helen.
“Iya bener apa kata Helen. Kita tu’ nggak bisa
bantuin Dia, kalau Kita tu’ nggak tau masalah yang sebenarnya!” Sambung Tasya.
“Duch, guys.. Apa ini nggak terlalu ngebahayain
Kita, kalau Kita ngebantuin Dia...?” Tanya Beby ragu.
“Nggak ko’ Beb, Gue yakin Kita nggak bakalan kenapa-kenapa.
Loe tenang aja” Jawab Virgo.
“Yang pastinya Gue yakin. Dia nich pasti bakalan
ngasih arahan lagi ke’Kita” Sahut Indra.
“Iya In, gue juga berpikir kayak gitu” Sahut Tasya.
Waktu pun terus berjalan, dan tidak terasa, malam
pun telah tiba. Chaca, Beby, Tasya, Helen, Indra, Virgo, dan Oyon pun terus
membicarakan hal apa yang nantinya akan Mereka alami lagi.
“Hmmm..... Malam ko’ datengnya kayak cepat banget
sich” Sahut Helen membuka pembicaraan.
“Gue ko’.. pengennya jadi cepat-cepat besok dech”
Sambung Beby.
“Beby, Helen.. Apaan sich, ngomong ko’ nggak jelas
banget” Sahut Chaca.
“Hmmm... Truz, Kita musti ngapain dhonk skarang”
Sahut Virgo.
“Nich gue juga lagi mikir Go” Kata Indra.
“Oh...ya...! Sampe skarang khan, Kita belum tau apa
penyebab pasti hantu itu gangguin Kita dan Kita juga belum tau maksudnya minta
tolong ma Kita. Sementara, besok khan hari trakhir Kita disini” Kata Oyon.
“Iya...yach...! Trus Kita musti gimana dhonk
skarang!” Kata Tasya.
“Hmm... Kalau udah kayak gini sich, Kita harus ngelakuin
sesuatu nich” Ucap Indra.
“Yaiya... Ngelakuin sesuatu tapi apa? Dari tadi tu’
Kita Cuma bengong dhoank tau nggak!” Kata Helen.
“Iya Len, sementara waktu Kita tuch mepet banget”
Sambung Tasya.
“Duch... Gue jadi haus nich ngeliat Kita semua nggak
jelas kayak gini” Kata Beby.
“Yaudah kalau haus, gih ambil minum didapur sana!”
Ucap Oyon.
“Hmmm... Emang loe berani Beb, kedapur sendirian”
Ucap Indra.
“I..ih... Nggak luchuu.....! Apaan sich, nggak usah
pake nakut-nakutin gitu dech!” Kata Beby.
“Ech... Siapa coba yang nakut-nakutin” Ucap Indra.
“Yee... Kalian pikir gue nggak berani apa kedapur
sendirian” Kata Beby.
“Masa sich....! Tapi, gue nggak yakin tu’ Beb, Loe
bisa kedapur sendirian” Kata Virgo.
“Kenapa...? Perlu bukti...?” Sahut Beby.
“Yuupppzzz...!” Kata Virgo.
“Ocey... Nice...!” Sahut Beby, memberanikan diri.
“Loe yakin Beb...?” Tanya Chaca tidak yakin.
“Yakin... Gue yakin banget...!” Jawab Beby
meyakinkan.
“Yaudah Beb, Loe mau kedapur ngambil air khan...!
Skalian, nitip yach...! He..He..He...” Sahut Tasya.
“Hmm... Yaudah...! Gue kedapur nich...!” Sahut Beby
sambil berdiri dari tempat duduknya, tetapi belum berjalan.
“Yaudah.. Gih sana.. Katanya berani...!” Sahut
Helen.
“Iya.. Nich gue juga udah mau kedapur ko’...!” Sahut
Beby, memberanikan dirinya sambil berjalan menuju dapur.
Ketika Beby berjalan, Ia mencoba memberanikan
dirinya agar tidak takut dengan hal apapun. Dan tiba-tiba, Ia seperti melihat
sosok wanita sedang berjalan. Beby pun sengat terkejut, tetapi, ketika Ia lihat
lagi. Wajah sosok wanita itu seperti Nabila sahabat mereka.
“Nabila...!” Sahut Beby.
Wanita itu pun berbalik arah menghadap ke Beby.
Tetapi Wanita tersebut langsung berjalan lagi, seperti ingin menunjukkan
sesuatu pada Beby. Pada saat itu, Beby pun memberanikan dirinya. Beby mengikuti
jalannya wanita tersebut yang Ia fikir adalah Nabila. Setelah berjalan,
tiba-tiba saja wanita itu menghilang, Beby pun sudah tidak melihat lagi wanita
itu. Dan Beby pun baru sadar bahwa Ia sedang berdiri tepat didepan pintu gudang belakang.
“Lho.. ko’ gue bisa kesini sich...! Trus, cewek yang
kayak Nabila tadi mana yach..!” Kata Beby.
Sambil memberanikan dirinya, Beby pun membuka secara
perlahan pintu gudang belakang tersebut. Setelah pintu itu terbuka, Beby
mencoba melihat-lihat apa yang ada dalam gudang tersebut. Saat itu, ketakutan
Beby seakan hilang. Ia pun dengan beraninya masuk kedalam gudang itu, ketika Ia
melihat sebuah kulkas. Beby pun mengamati baik-baik kulkas yang ada
dihadapannya itu sambil meraba-raba permukaan kulkas tersebut yang penuh abu.
“Ih... Nich kulkas kayaknya masih bisa digunain
dech, tapi ko’ udah masuk gudang sich” Kata Beby.
Beby pun terus mengamati kulkas tersebut, entah
mengapa hatinya enggan menoleh keatah lain selain mengamati kulkas tersebut.
Beby pun heran, mengapa kulkas tersebut dicok, dan disamping kiri-kanan kulkas
itu panas, seperti sedang mengawetkan esuatu didalamnya.
Dengan penuh rasa penasaran, akhirnya Beby pun
secara perlahan membuka kulkas tersebut. Dan setelah kulkas itu terbuka,
bbyyaaarrrr...... Beby sangat terkejut, karena didalam kulkas itu ternyata ada
sesosok mayat wanita.
“A....a.....a.....a....a.........!!!!!
Tooloonngg.............!!!” Teriak Beby sambil keluar dari gudang tersebut dan
membiarkan pintu gudang dan kulkas terbuka.
Sementara Chaca, Tasya, Helen, Indra, Virgo, dan
Oyon yang mendengar teriakan Beby pun segera pergi melihat Beby.
“Lho... itu khan suara Beby” Sahut Tasya.
“Ya..Ampun... Kenapa lagi sich Dia” Sambung Chaca.
“Jangan-jangan Beby kenapa-kenapa lagi!” Kata Helen
khawatir.
“Yaudah.. Kalau gitu mendingan Kita cepetan Liat
Beby yuk..!” Ajak Indra.
“Ayo..Ayo...!” Sahut Virgo, lalu diikuti Oyon.
Chaca, Tasya, Helen, Indra, Virgo, dan Oyon pun
segera lari untuk melihat keadaan Beby.
“A...a...a.....!” Teriak lagi Beby.
Sementara Chaca, Tasya, Helen, Indra, Virgo, dan
Oyon sangat terkejut melihat Beby yang sedang terduduk sambil menitikkan air
mata.
“Ya..Ampun.....! Beby.. Loe kenapa...?” Tanya Chaca.
“Iya.. Beb, Loe kenapa...?” Sambung Tasya.
“Loe nggak apa-apa khan Beb...? Sambung Helen.
“Beb, Loe baik-baik aja khan!” Sambung Indra diikuti
oleh Virgo dan Oyon.
Beby pun menunjukkan telunjuknya mengarah pada
kulkas yang berisi mayat tersebut. Chaca, Tasya, Helen, Indra, Virgo, dan Oyon
pun sangat terkejut melihat sosok mayat wanita yang berada didalam kulkas
tersebut.
“Astafirrullahallazim.....!” Sahut Chaca terkejut.
“Astagaaa....!” Sahut Tasya.
“Haa... Ya..Ampun.....!” Sahut Helen.
“Astagaa......! Disitu ko’ bisa ada mayat sich!”
Kata Indra.
“Beb, loe ko’ bisa nemuin mayat disitu!” Sambung Virgo.
“Iya.. Beb...!” Sambung Oyon.
“Gue juga nggak tau...! Kenapa gue tadi bisa berani
ngebuka pintu itu dan ngedapetin mayat disitu!” Sahut Beby, sambil
menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Yaudah Beb, loe tenang yach...!” Kata Tasya
menenangkan.
“Indra, Virgo, Oyon...! Ngapain Kalian masih disitu,
cek sana itu mayat siapa!” Perintah Chaca.
“Duch... Cha, mendingan Kita ngeceknya bareng-bareng
aja yuk!” Kata Oyon.
“Bentar-bentar...... Kayaknya mayat ini gue kenal
dech!” Sahut Indra, sambil memperhatikan mayat itu dari jauh.
“Apa In, Loe kenal ma mayat itu!” Kata Virgo.
“Gue juga nggak yakin sich...! Tapi, kayaknya mayat
ini tu’ mirip sama........” Kata Indra tetapi enggan untuk meneruskan
perkataannya karena masih berfikir.
“Mirip sama Nabila.....!” Sambung Chaca.
“Apa... Nabila......!” Sahut Beby terkejut.
“Masa Nabila sich...!” Sambung Tasya.
“Indra, Virgo, Oyon, tolong cek dhonk...! Kalau itu
emang bener-bener Nabila gimana!” Kata Helen.
“Iya...Iya... Go, Yon, Yuk Kita Cek!” Ajak Indra.
“Yaudah..dech... Yuk...!” Sahut Virgo.
“Ayo...!” Sahut Oyon.
Indra, Virgo, dan Oyon pun segera berjalan dengan
perlahan untuk melihat dengan jelas siapa mayat tersebut. Setelah sampai
didepan mayat itu, Indra, Virgo dan Oyon pun memperhatikan mayat itu.
“Astagaa..... Nabila........!” Sahut Indra, setelah
memperhatikan mayat tersebut dengan teliti.
“Iya..Iya.. Nich emang Nabila!” Sambung Virgo.
“Ya..Ampun.. Bener, ternyata ini Nabila!” Sambung
Oyon.
“Apaa.......!!!” Sahut Chaca, Beby, Tasya, dan Helen
bersamaan.
“Masa sich...!” Kata Chaca, sambil berjalan menuju
ketempat Indra, Virgo dan Oyon didalam gudang.
“Kita kesana yuk!” Ajak Beby.
“Lho.. Beb, loe udah nggak apa-apa?” Tanya Helen.
“Iya.. Gue nggak apa-apa ko” Jawab Beby.
“Yaudah, kalau gitu Kita kesana aja” Kata Tasya.
“Ayo” Sahut Beby sambil berjalan menuju kedalam
gudang tersebut, lalu diikuti oleh Tasya dan Helen.
“Ech, ko’ Cuma diliatin aja sich. In, Go, Yon,
keluarin dhonk, mayatnya dari kulkas” Sahut Chaca.
“I..iya.. dech Cha” Sahut Indra sambil mengeluarkan
mayat tersebut dari kulkas dan dibantu oleh Virgo dan Oyon.
Ketika mayat tersebut diletakkan kelantai, Chaca,
Beby, Tasya, dan Helen pun memperhatikan mayat itu dengan sangat teliti. Dan
ternyata, mayat itu adalah benar mayat Nabila sahabat mereka yang mereka fikir
berada di Kalimantan.
“Ya..Ampun....! Ini emang bener Nabila...!” Sahut
Chaca, ketika memegang wajah mayat tersebut. Matanya mulai berkaca karena Ia
telah merasa kehilangan salah satu sahabatnya.
“Astagaa....! Iya Cha, ini emang bener Nabila!” Kata
Tasya.
“Nggak, nggak mungkin.. Kita semua tau khan, kalau
Nabila tu’ lagi ada di Kalimantan. Nggak mungkin ini mayat Nabila!” Sahut Beby,
tidak percaya.
“Gue juga nggak yakin kalau ini emeng bener-bener
mayat Nabila!” Sambung Helen.
“Kalian berdua perlu bukti! Ini, inikan gelang yang
Kita kasih ke Nabila waktu itu, sebagai kenang-kenangan” Kata Chaca meyakinkan,
sambil memperlihatkan tangan mayat itu yang memakai sebuah gelang.
“Ini nggak mungkin Nabila!” Kata Beby, sambil
menitikkan air mata, karena Ia merasa telah kehilagan sahabat.
“Beb, Kita semua juga nggak percaya kalau mayat ini
Nabila, tapi itu kenyataannya.” Kata Indra.
“Nabila... Ko’ kamu bisa kayak gini sich Nab!” Kata
Tasya, sambil memegang tangan mayat itu dengan penuh rasa haru.
“Len, ini emang bener Nabila Len...!” Kata Beby
sambil berpelukan dengan Helen dengan penuh duka.
“Iya Beb.. Kita semua disini juga merasa kehilangan.
Ini nich sahabat Kita Beb, sahabat yang slama ini Kita tunggu-tunggu” Kata
Helen dengan penuh rasa duka dan haru.
“Yaudah, kalau gitu, Gue, Indra, sama Oyon minta
bantuan tetangga-tetangga sebelah yach!” Sahut Virgo.
“Iya Go, biar besok mayat Nabila udah bisa
dimakamkan” Kata Chaca
“Iya Cha, kasian kalau mayat Nabila dibiarin kayak
gini trus!” Sambung Indra.
“Yaudah,
ayo...!” Kata Oyon sambil berjalan keluar untuk meminta bantuan
tetangga-tetangga sekitar, diikuti oelh Indra dan Virgo.
Malam itu, benar-benar malam yang tak terduga oleh
Chaca, Beby, Tasya, Helen, Indra, Virgo, dan Oyon. Malam yang dimana mereka
menemukan mayat sahabat mereka sendiri. Saat itu, digudang tersebut benar-benar
diselimuti dengan penuh duka dan tangisan dari mereka semua, karena telah
kehilangan sahabat yang mereka nantikan, ternyata telah pergi untuk
selama-lamanya.
Inilah jawaban yang mereka dapatkan, seorang Nabila,
sahabat yang mereka tunggu-tuggu kedatangannya, ternyata tlah tiada
meninggalkan mereka semua. Kesedihan yang mereka semua rasakan pada malam itu
benar-benar seperti tak dapat dihentikan, apalagi ketika melihat mayat Nabila
yang terbujur kaku tak bernyawa. Rasa kehilangan dari Chaca, Beby, Tasya, Helen,
Indra, Virgo, dan Oyon memang benar-benar tak dapat diuraikan. Tangisan demi
tangisan selalu terdengar dari Chaca, Beby, Helen, dan Tasya. Kehilangan
seorang sahabat bagi mereka, bagaikan kehilangan sebagian dari hidup mereka.
HARI KE-TUJUH:
Pagi itu, kesedihan yang teramat dalam (tangisan)
dari Chaca, Beby, Tasya, Helen, Indra, Virgo, dan Oyon mengiringi pemakaman
Nabila, menuju ketempat peristirahatan terakhirnya. Setelah pemakaman selesai,
Chaca, Beby, Tasya, Helen, Indra, Virgo, dan Oyon tidak langsung pulang,
melainkan masih menetap untuk melihat kuburan Nabila lebih lama.
“Nab, Gue nggak nyangka kalau ini loe. Kenapa loe
perginya cepet banget sich Nab. Gue tu’ masih pengen bisa ngeliat wajah loe
Nab!” Sahut Beby sambil memegang batu nisan Nabila dengan penuh kesedihan.
“Nab, Kita semua ikhlas ko’ ngelepas kepergian loe.
Tapi sampe kapan pun, Kita akan tetap selalu jadi sahabat. Loe yang tenang yach
disana” Kata Helen yang juga memegang batu nisan Nabila dengan penuh kesedihan.
“Nab, meskipun loe udah nggak ada. Tapi, Kita akan
selalu ingat sama loe. Kita semua nggak akan pernah ngelupain masa-masa Kita
sama-sama ama kamu” Sahut Tasya yang bergantian dengan Beby memegang batu nisan
Nabila dengan penuh duka dan haru.
“Nab, anugrah terindah bagi Kita semua itu adalah
bisa mengenal loe dan menjadikan loe sahabat Kita, Gue sama yang lainnya nggak
akan pernah lupa ama semua kebaikan loe slama ini” Kata Chaca yang bergantian
memegang batu nisan Nabila dengan penuh rasa duka dan haru.
“Nab, skarang udah nggak ada lagi canda ama tawa loe
yang selalu menghibur Kita semua. Kehilangan loe adalah hal yang paling
menyedihkan buat Kita semua” Kata Indra dengan penuh duka.
“Nab, meskipun loe udah nggak ada. Tapi loe akan
selalu ada dihati Kita semua” Kata Virgo dengan penuh duka.
“Nab, Semoga loe tenang yach disana!” Kata Oyon
singkat tetapi dengan haru yang begitu mendalam.
“Pokoknya, sampe kapan pun, Kita semua akan selalu
jadi sahabat, slamanya!” Sahut Chaca.
“Meskipun salah satu dari Kita udah nggak ada”
Sambung Beby.
“Hmmm..... Gue nggak mau kehilangan Kalian semua!”
Sahut Helen.
“Pokoknya Kita semua jangan sampe terpisah yach!”
Sambung Tasya.
“Gue sayang ma Kalian semua...!” Kata Chaca, Beby,
Tasya, dan Helen bersamaan sambil berpelukan.
“Yaudah, kalau gitu Kita pulang yuk!” Ajak Oyon.
“Yaudah dech, yuk!” Sambung Indra, diikuti oleh
Virgo dan yang lainnya.
Akhirnya, mereka semua pun pulang kerumah sewaan
tersebut. Suasana duka dan haru masih menyelimuti hati mereka. Sesampainya
dirumah tersebut mereka pun menenangkan diri mereka masing-masing walaupun
kesedihan masih menyelimutihati hati mereka.
“Gue bener-bener nggak nyangka, kalau disini Kita
bisa nemuin mayat Nabila” Sahut Tasya membuka pembicaraan.
“Hmm... Gue tau skarang, yang minta tolong ma Kita
kmarin-kmarin itu adalah Nabila!” Sahut Indra.
“Iya In, Dia minta tolong ke Kita buat ngeluarin Dia
dari kulkas itu dan segera menguburkan Dia!” Sambung Chaca.
“Apa itu berarti, yang ngehantuin Kita slama ini tu
Nabila yach!” Kata Beby.
“Emmm... Bisa juga sich! Tapi, apa bener Nabila!”
Sambung Helen.
“Tapi ko’.. Kayaknya yang ngehantuin Kita slama ini
tu’.. Kayak pengen buat Kita nggak tenang gitu!” Kata Tasya.
“Berarti, kalau emang bener itu Nabila, masa Nabila
tega sich buat Kita semua jadi ketakutan dan nggak tenang!” Sambung Indra.
“Iya, Truz, masa muka Nabila serem banget sich...!”
Sambung Beby.
“Nggak, gue yakin kalau yang ngehantuin Kita slama
ini tu’ bukan Nabila” Sahut Chaca.
“Ko’ loe bisa yakin banget gitu sich Cha?” Tanya
Virgo.
“Gue juga nggak tau kenapa gue bisa yakin banget
kayak gini. Nurani gue merasa pokoknya yang ngehantuin atau yang ngegangguin
Kita slama ini tu’ bukan Nabila” Jawab Chaca.
“Iya Cha, gue juga yakin kalau yang ngehantuin Kita
slama ini tu bukan Nabila. Soalnya kalau Dia emang Nabila, ngapain coba, Dia
ngegangguin Kita satu-satu kayak pengen ngebunuh Kita!” Sambung Indra.
“Iya.. Bener banget tu’...!” Sahut Oyon.
“So, siapa dhonk, yang ngehantuin Kita slama ini?”
Tanya Beby.
“Iya, apa jangan-jangan penghuni rumah ini?” Sambung
Helen.
“Mungkin aja sich Len. Kalau menurut loe Cha?” Tanya
Tasya.
“Hmm... Gue juga nggak tau pasti sich, siapa yang
ngehantuin Kita slama ini!” Jawab Chaca.
“Truz, ko’ Nabila bisa meninggal disini sich. Bukannya
dia lagi ada di Kalimantan yach!” Kata Oyon.
“Iya yach, Ko’ bisa jadi gini sich” Sambung Helen.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.
“Duch, siapa lagi tu!” Sahut Oyon.
“Yaudah dech, gue liat keluar dulu dech!” Kata Virgo
sambil berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu depan untuk
membukanya.
Ketika Virgo membuka pintu, Ia melihat seorang gadis
berdiri didepannya.
“Kalau boleh tau kamu siapa yach?” Tanya Virgo pada
gadis itu.
“Namaku Rini, aku dari tetangga sebelah. Dan aku juga
adalah teman Nabila” Jawab gadis itu yang bernama Rini.
“Oh, kamu teman Nabila. Truz, ada perlu apa?” Tanya
Virgo.
“Emmm... Sebenarnya, gue pengen menceritakan sesuatu
pada kamu dan teman-teman kamu” Jawab Rini.
“Oh.. Gitu yach! Yaudah, kalau gitu, masuk aja!”
Kata Virgo sambil mempersilahkan Rini masuk.
Rini pun masuk kedalam rumah tersebut dan Virgo pun
juga masuk untuk memperlihatkan Rini pada Chaca, Beby, Helen, Tasya, Indra, dan
Oyon.
“Go, siapa tu?” Tanya Beby.
“Oh, ini Rini. Dia tetangga sebelah Kita, sekaligus
juga teman Nabila” Jawab Virgo.
Chaca, Beby, Tasya, Helen, Indra, dan Oyon pun
saling memperkenalkan diri mereka masing-masing pada Rini, begitu pun
sebaliknya.
“Oh ya! Rin, kamu udah tau khan, kabar kalau Nabila
udah nggak ada” Kata Helen.
“Iya Rin, Kita semua aja nggak tau kenapa Nabila
bisa meninggal. Dan Beby ngedapetin mayat Nabila tu’ dikulkas” Kata Chaca.
“Padahal setau Kita semua kalau Nabila tu’ lagi ada
di Kalimantan” Sambung Tasya.
“Oh ya! Truz, ada perlu apa nich Rin?” Tanya Oyon.
“Emm... Sebenarnya ada yang harus gue ceritain ke
Kalian semua. Dan ini perlu Kalian tau” Jawab Rini.
“Emangnya loe mau nyeritain apa sich ke Kita” Kata
Indra.
“Iya, kayaknya serius banget dech, emangnya tentang
apa sich?” Tanya Oyon.
“Ini tentang Nabila” Jawab Rini.
“Apa.. tentang Nabila!” Sahut Beby.
“Kayaknya ini adalah jawaban dari semua pertanyaan
Kalian tentang Nabila” Kata Rini.
“Berarti loe tau dhonk, penyebab Nabila meninggal?”
Tanya Virgo.
“Iya. Dan perlu Kalian ketahui, bahwa rumah yang
Kalian tempati skarang adalah rumah Nabila” Jawab Rini, sambil menganggukkan
kepalanya.
“Apaa... Ruma Nabila!” Sahut Helen terkejut.
“Yaudah, kalau gitu loe ceritain aja semuanya ke
Kita” Kata Chaca.
“Gue ceritanya dari awal aja yach!” Kata Rini.
“Terserah loe, yang penting semuanya loe ceritaiin
aja ke Kita” Sahut Indra.
Rini pun menceritakan semua kejadian yang Ia
ketahui. Ternyata Rini adalah salah satu teman dekat Nabila dilingkungan
tersebut. Rini mengaku bahwa sebelum keberangkatan Nabila ke Kalimantan 7 hari yang
lalu, Nabila sempat bercerita tentang persahabatannya dengan Chaca, Beby,
Tasya, Helen, Indra, Virgo, dan Oyon. Kata Rini, Nabila mengaku Ia sangat berat
dan tidak ingin meninggalkan mereka semua. Oleh karena itu, Nabila pun membujuk
orang tuanya agar Ia tetap disekolahkan di SMU BINTANG tempat Ia menjalin
persahabatannya dengan mereka bertujuh. Akhirnya, orang tua Nabila pun
mengabulkan permintaan Nabila. Mendengar hal itu, Nabila sangat gembira dan
tidak sabar ingin memberitahukan berita gembira itu pada Chaca, Beby, Tasya,
Helen, Indra, Virgo, dan Oyon. Tetapi, Nabila pun harus bersabar karena Ia
ingin memberi suatu kejutan untuk mereka bertujuh. Rini pun ikut senang dengan
berita tersebut, ketika itu, orang tua dan keluarga Nabila pun berangkat ke Kalimantan
sedangkan Nabila menetap dirumah tersebut. Dan pada saat itu, dirumah tersebut
hanya ada Nabila dan Rini. Ketika Nabila dan Rini sedang berbincang-bincang,
tiba-tiba saja salah satu teman Nabila di Kalimantan datang kerumah tersebut.
Dan pada saat itu juga, Rini pun pulang ke rumahnya karena takut mengganggu.
Tetapi, pada saat Rini kembali lagi kerumah Nabila,
teman Nabila dari Kalimantan itu pun masih ada dan Rini pun tidak sengaja
mendengar percakapan mereka. Rini mengaku bahwa teman Nabila tersebut sempat
marah-marah pada Nabila, karena mengganggap bahwa Nabila telah melupakan Ia dan
teman-temannya di Kalimantan dan telah memiliki sahabat baru hingga sudah tidak
ingin lagi pulang ke Kalimantan. Dan teman Nabila tersebut pun melihat foto
Nabila Chaca, Beby, Tasya, Helen, Indra, Virgo, dan Oyon yang sengaja Nabila
taruh di ruang tamu. Teman Nabila pun semakin merasa iri pada persahabatan yang
telah Nabila jalani bersama dengan Chaca, Beby, Tasya, Helen, Indra, Virgo, dan
Oyon. Rini pun sempat mendengar bahwa teman Nabila itu berkata Ia akan membuat
sahabat-sahabat Nabila (Chaca, Beby, Tasya, Helen, Indra, Virgo, dan Oyon) akan
menyesal dan membuat hidup mereka tidak tenang karena Ia menganggap bahwa
Mereka semua telah membuat Nabila lupa dengannya dan juga teman-teman Nabila di
Kalimantan. Tetapi, Nabila pun berkata pada temannya tersebut bahwa Ia akan
selalu melindungi Chaca, Beby, Tasya, Helen, Indra, Virgo, dan Oyon. Teman
Nabila pun berkata jika Nabila berhasil melindungi mereka bertujuh, Ia tidak
akan mengganggu mereka lagi.
Pada saat itu, Rini mengaku Ia sudah tidak tau lagi
apa yang terjadi didalam rumah tersebut. Karena pada saat itu, Rini dipanggil
oleh ibunya untuk membelikan ibunya sesuatu di toko depan. Pada saat Rini lewat
didepan rumah Nabila, Rini melihat teman Nabila tersebut keluar dari rumah
Nabila dengan sangat tergesa-gesa dengan wajah ketakutan. Rini pun segera pergi
ke toko depan jalan untuk menjalankan perintah ibunya. Namun, setelah Rini
sampai ke toko tersebut dan menyelesaikan apa yang telah diperintahkan ibunya.
Rini melihat lagi teman Nabila dengan wajah panik menyebrang di jalan raya
tersebut. Tetapi, ketika teman Nabila menyebrang, tiba-tiba saja sebuah mobil
dengan kecepatan tinggi lewat dan menabrak teman Nabila tersebut. Orang-orang
pun berkerumun melihat kejadian itu. Salah satu orang disekitar itu pun
memeriksa denyut nadi teman Nabila tersebut, tetapi, ternyata Ia tlah meninggal
ditempat sebelum ambulance datang. Rini mengaku sangat terkejut melihat
kejadian itu, karena teman Nabila tersebut meninggal ditempat. Akhirnya, Rini
pun segera menuju kerumah Nabila untuk memberitahukan kejadian itu pada Nabila.
Tetapi, setelah Rini sampai dirumah Nabila, Rini tidak menemukan siapa pun
didalam rumah tersebut termasuk Nabila. Yang Ia temukan hanyalah bercak-bercak
darah. Rini sangat terkejut melihat bercak-bercak darah yang berada dilantai
dan dinding. Tetapi, Rini trus memanggil-manggil Nabila. Hasilnya, Rini tidak
menemukan Nabila dirumah tersebut. Akhirnya, Rini pun memutuskan untuk pulang
kerumahnya dan melupakan kejadian yang Ia alami.
Setelah bercerita panjang lebar pada Chaca, Beby,
Tasya, Helen, Indra, Virgo, dan Oyon. Chaca pun berkata:
“Jadi, loe sama skali nggak nemuin Nabila?”
“Iya, dan yang gue temukan itu hanyalah bercak-bercak
darah yang ada dilantai sama dinding rumah. Yang sebelumnya tu’ seingat gue
nggak ada waktu gue masih dirumah Nabila!” Kata Rini.
“Oh ya! Trus, loe tau nggak, sipa nama teman Nabila
itu?” Tanya Oyon.
“Emmm... Gue juga nggak tau pasti sich. Tapi,
seingat gue, waktu itu, Nabila sempat nyebut nama temannya itu. Dan nama
temannya itu... Ki... Oh iya, gue inget, Nama temannya tu’ Kikan!” Jawab Rini.
“Haa... Kikan...! Oh.. Gue tau skarang,
jangan-jangan, yang ngebunuh Nabila itu Kikan!” Sahut Beby.
“Beb, jangan nuduh tanpa ada bukti gitu dhonk!”
Sahut Tasya.
“Aduh, Sya, buktinya itu udah ada dan jelas banget!
Loe dengar sendiri khan cerita Rini tadi!” Sahut Beby.
“Emmm..... Sebenarnya, gue juga berpikiran yang sama
ama kayak loe Beb” Sahut Rini.
“Tu’ khan, Rini aja berpikiran kayak gitu!” Kata
Beby.
“Iya juga sich” Kata Tasya.
“Trus Rin, setelah loe pulang kerumah loe. Apa yang
loe lakuin?” Tanya Virgo.
“Gue nggak ngelakuin apa-apa. Dan masalah ini yang
tau hanya gue sama Kalian semua. Karena sebelum ini, gue nggak berani ntuk
cerita sama siapa-siapa. Dan semenjak kejadian itu, gue udah nggak pernah lagi
ketemu Nabila, dan ternyata Nabila udah nggak ada. Sampe 2 hari setelah itu,
gue liat Tante Anggi masangin papan didepan rumah ini yang menuliskan kalau
rumah ini dikontrakan” Jawab Rini.
“Ocey, gue tau skarang. Yang ngehantuin atau yang
ngegangguin Kita slama ini tu adalah arwah Kikan!” Sahut Indra.
“Iya bener banget, dan yang ngelindungin Kita itu
adalah Nabila” Sambung Virgo.
“Dan skarang, mungkin arwah Kikan juga udah nggak
gangguin Kita lagi. Khan, Nabila udah bisa ngelindungin Kita semua” Sambung
Oyon.
“Nabila juga udah tenang ko disana” Sahut Chaca.
“Gue ngak nyangka dech, kalau kejadiannya tu’ bakal
kayak gini!” Kata Helen.
“Oh ya! Waktu pemakaman tadi, Kalian ngeliat Tante
Anggi nggak?” Tanya Tasya.
“Nggak tu’!” Jawab Oyon.
“Iya, gue juga nggak ngeliat Tante Anggi” Sambung
Helen.
“Kira-kira Tante Anggi kemana yach” Kata Chaca.
Tiba-tiba saja terdengar ketukan pintu dari arah
luar.
“Hmmm... Sipa lagi sich tu’!” Sahut Indra.
“Virgo.....” Sahut Oyon.
“Iya.. Iya.. Gue bukain pintunya” Sahut Virgo sambil
beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keruang tamu unutuk membuka pintu
tersebut.
“Tante Anggi!” Sahut Virgo setelah membuka pintu
tersebut dan ternyata yang mengetuk pintu adalah Tante Anggi.
“Iya ini Saya!” Sahut Tante Anggi.
“Yaudah Tante, masuk yuk!” Ajak Virgo sambil
mempersilahkan Tante Anggi masuk kedalam rumah tersebut.
Virgo pun mengajak Tante Anggi untuk berkumpul
bersama Chaca, Beby, Tasya, Helen, Indra, Virgo, dan Oyon.
“Tante Anggi!” Sahut Chaca.
“Mari duduk Tante” Kata Tasya.
“Oh ya! Tante udah tau khan, berita yang terjadi
semalem dirumah ini” Kata Indra.
“Iya Tante udah tau” Kata Tante Anggi.
“Trus, tadi ko’ waktu pemakaman Tante Anggi nggak
ada sich. Apa Tante ada urusan lain yach, sampe nggak bisa dateng!” Kata Chaca.
“Hiiikksss......” Tangis Tante Anggi tiba-tiba.
“Lho.. Tante ko’ nangis!” Sahut Helen.
“Tante Anggi nangis karena kehilangan Nabila yach!
Keponakan Tante” Kata Rini.
“Hiiikksss..... Maafkan Saya!” Kata Tante Anggi
dengan penuh kesedihan.
“Tante ko’ minta maaf sich? Emangnya kenapa Tan?
Tanya Indra.
“Iya Tante, emangnya Tante salah apa? Sambung Tasya.
“Mungkin kesalahan Saya ini susah untuk Kalian
maafkan” Kata Tante Anggi.
“Maksudnya?” Tanya Beby.
“Tante, Kita bener-bener nggak ngerti apa maksud
Tante” Sambung Chaca.
“Bisa nggak Tante jelasin ke Kita semua. Sebenarnya
ada apa sich Tan? Sambung Lagi Helen.
“Emmm..... Kalian semua pasti bertanya-tanya khan,
siapa sebenarnya pembunuh Nabila!” Kata Tante Anggi.
“Iya, Kita semua emang bertanya-tanya siapa pembunuh
Nabila. Tapi, kemungkinan Kita juga udah tau ko’ siapa pembunuhnya” Kata Virgo.
“Jadi, Kalian sudah tau siapa pembunuhnya” Kata
Tante Anggi.
“Sebenernya, Kita juga belum terlalu yakin sich,
kalau yang ngebunuh Nabila itu teman Nabila sendiri yaitu Kikan” Kata Chaca.
“Yuuppss..... Karna dari bukti-bukti yang Kita
dapet. Ada kemungkinan kalau yang ngebunuh Nabila itu Kikan” Sambung Indra.
“Kalian salah!” Sahut Tante Anggi.
“Salah? Salah apanya sich Tan? Tanya Beby.
“Iya, Tan, apanya yang salah?” Sambung Tasya.
“Kalian salah, sebenarnya bukan Kikan yang membunuh
Nabila. Tapi..........” Jawab Tante Anggi, namun enggan meneruskan
kata-katanya.
“Tapi siapa Tante?” Tanya Chaca.
“Sebenarnya......! Maafkan Tante!” Kata Tante Anggi
dengan wajah sedih.
“Sebenernya apa sich Tante? Ko’ dari tadi Tante
minta maaf mulu” Sahut Chaca.
“Tante, cerita aja ke Kita. Apa yang sebenarnya
terjadi” Sahut Virgo.
“Sebenarnya... Yang membunuh Nabila itu
adalah.......” Kata Tante Anggi, tapi ragu meneruskan kata-katanya.
“Siapa Tante...? Tanya Beby, lalu disusul oleh yang
lainnya.
“Yang membunuh Nabila itu adalah....... Tante
sendiri...!” Jawab Tante Anggi dengan penuh penyesalan dan sempat menitikkan
air mata penyesalan.
“Apaa......!!!” Sahut Beby.
“Haa... Masa sich!” Sahut Helen.
“Astagaa... Tante srius!” Sahut Tasya.
“Ih...Waww.....!” Sahut Indra.
“Suer dech, gue bener nggak percaya!” Sahut Virgo.
“Kalau emang itu bener, kenapa Tante tega sich!” Sahut
Oyon.
“Tante, apa omongan tante barusan betul. Kalau emang
betul, kenapa bisa!” Sahut Chaca.
“Tapi, kenapa pada saat itu, aku nggak ngeliat Tante
dirumah ini!” Sahut Rini.
“Tante benar-benar minta maaf, Tante khilaf. Tante
benar-benar menyesal dengan perbutan Tante ini! Sebenarnya, pada saat Rini
dipanggil oleh ibunya dan masuk kedalam rumahnya, Tante datang dan masuk
kedalam rumah ini. Tante mendapatkan Nabila dan Kikan sedang bertengkar hebat.
Tante ingin membela Nabila, karena Kikan benar-benar sudah keterlaluan. Bicara
dengan Tante saja Dia sudah tidak sopan” Kata Tante Anggi menjelaskan apa yang
terjadi.
“Trus, kenapa Tante ngebunuh Nabila?” Tanya Chaca.
“Maafkan Tante, tapi pada saat itu, Tante
benar-benar sudah tidak tahan lagi dengan tingkah laku Kikan. Sehingga, Tante
mencoba memukul kepala Kikan pakai vas bunga. Tetapi.......” Jawab Tante Anggi.
“Tapi apa Tante?” Tanya Helen.
“Tapi Nabila malah menghadang, hingga akhirnya.. Vas
bunga itu bukan terkena kepala Kikan, tetapi, kepala Nabila hingga akhirnya
Nabila mengeluarkan banyak darah...! Pada saat itu, Kikan sangat terkejut,
Tante mengatakan padanya agar merahasiakan hal ini. Makanya, pada saat Kikan
keluar dari rumah ini, Rini melihat Kikan dengan wajah ketakutan!” Jawab Tante
Anggi dengan penuh penyesalan.
“Trus, apa yang naruh mayat Nabila dikulkas itu juga
Tante?” Tanya Beby.
“I...iiya....! Karena pada saat itu Tante
benar-benar panik. Tante sudah tidak tau apa yang harus Tante lakukan, apalagi
pada saat Rini masuk dan memanggil-manggil Nabila. Makanya saat itu Tante
menaruh mayat Nabila ke kulkas!” Jawab Tante Anggi sambil menundukan kepalanya
dengan penuh penyesalan.
“Ya...Ampun Tante tu’ keterlalua banget sich!” Sahut
Indra mulai emosi.
“Iya.. Gue nggak nyangka Tante setega itu ngebunuh
keponakan Tante sendiri!” Sambung Virgo yang juga mulai emosi.
“Tante tau, kalau yang Tante lakuin itu nggak punya
prikemanusiaan!” Sambung lagi Oyon yang juga mulai emosi.
“Saya benar-benar minta maaf! Saya menyesal!” Kata
Tante Anggi sangat penuh penyesalan.
“Udahlah Tante, semuanya udah terjadi, nggak ada
yang perlu disesalin lagi!” Kata Indra.
“Udah dhonk In, Go, Yon! Jangan emosi gitu dhonk,
Kita khan juga udah dengar sendiri pengakuannya Tante Anggi!” Sahut Tasya
menenangkan.
“Tante, seharusnya Tante bukan minta maaf ke Kita,
tapi pada keluarga Tante terutama orang tua Nabila, dan juga pastinya sama
Nabila yang udah Tante bunuh” Kata Chaca.
“Iya, Saya skarang sudah pasrah. Dan Saya juga sudah
menyerahkan diri Saya kekantor Polisi” Kata Tante Anggi.
“Baguslah kalau gitu, Tante bisa mempertanggung
jawabkan perbuatan Tante” Sahut Beby.
“Iya, dan untung aja Tante bisa jujur ke Kita
semua!” Sambung Helen.
“Aku bener-bener nggak nyangka Tante setega itu.
Tante tau nggak, Nabila itu sering cerita ma aku kalau Dia itu sangat senang
bisa punya Tante kayak Tante Anggi, dan Nabila itu juga udah nganggap Tante
seperti ibunya sendiri!” Sahut Rini.
“Skali lagi Saya benar-benar minta maaf. Saya sudah
pasrah apa pun keputusan keluarga Saya setelah mengetahui haal ini” Kata Tante
Anggi.
Dan tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar.
“Virgo, bukain gih sana pintunya!” Sahut Indra.
“Iya..Iya...! Kayaknya hari ini Kita kedatengan
banyak tamu dech...!” Sahut Virgo, sambil berjalan menuju pintu dan membukanya.
“Permisi, apakah disini ada yang bernama Anggi
Atsariyah?” Tanya Polisi tersebut.
“I..iya.. Pak!” Jawab Virgo.
Lalu, Chaca, Beby, Tasya, Helen, Indra, Oyon, Rini,
dan Tante Anggi pun keluar keteras rumah.
“Saya yang bernama Anggi Atsriyah” Sahut Tante
Anggi.
“Kalau begitu, anda kami tahan, atas tuduhan
pembunuhan!” Kata Polisi itu tegas.
Tante Anggi pun akhirnya ditangkap oleh Polisi
tersebut untuk mempertanggung jawabkan perbutannya.
“Hmmm... Gue nggak nyangka dech, kalau ternyata yang
ngebunuh Nabila itu Tante Anggi” Sahut Tasya.
“Iya..yah...!” Sambung Helen.
“Yaudah kalau gitu mendingan sekarang Kita semua
beres-beres aja. Trus Kita pulang dech!” Sahut Chaca.
“Waww..... Akhirnya Kita pulang juga! Gue udah
kangen nich, seminggu nggak nengok-nengok kamar gue!” Sahut Beby.
“Giliran pulang aja seneng!” Sahut Oyon.
“He..He..He...!” Kata Beby.
Mereka bertujuh pun beres-beres dengan memasukkan
semua barang mereka ke koper mereka masing-masing. Setelah selesai, mereka pun
kembali ke teras rumah tersebut.
“Pokoknya semua kejadian disini nich nggak akan
pernah gue lupain!” Kata Tasya.
“Iya, gue juga.. Bener-bener pengalaman yang nggak
pernah gue alamin sebelumnya” Kata Helen.
“Yuuppss... Semua yang terjadi dirumah ini tu’ bisa
jadi pelajaran buat Kita semua. Terutama loe Beb!” Kata Chaca.
“Lho... Ko’ gue sich!” Sahut Beby.
“Yaiyalah loe, biar nanti loe tu’ nggak nuduh orang
sembarangan!” Kata Indra.
“Btul...Btul...Btul.....! Dan Kita juga bisa dapet
teman baru” Sambung Oyon.
“Oh ya! Trus, kunci rumahnya gimana dhonk. Masa mau
Kita bawa juga sich!” Sahut Virgo.
“Emm... Rin, Kita bisa minta tolong nggak. Buat
nitip kunci rumah ini ke loe. Biar nanti pas ada keluarga Nabila kesini, loe
bisa ngasih kunci itu ke mereka” Kata Chaca, sambil memberikan kunci rumah
tersebut pada Rini
“Iya.. Bisa ko’ kunci nich aman ma gue” Kata Rini
sambil mengambil kunci rumah tersebut dari Chaca.
“Hmmm... Yang pastinya, gue nggak bakalan ngelupain
kejadian dimana gue ngedapetin mayat Nabila. Waww.....” Kata Beby.
“Pokoknya, semua kejadian disini tu’ Kita ambil hikmahnya
aja” Kata Helen.
“Dan nggak akan pernah lupa sama Nabila!” Sahut
Tasya.
“Yuuppss..... Mana mungkin Kita semua bisa lupa sama
Nabila!” Kata Indra.
“Biarpun skarang Dia udah nggak ada, tapi, Kita akan
slalu ngenang Dia sebagai sahabat sejati Kita!” Sambung Beby.
“Pokoknya, persahabatan Kita nggak bisa terganggu
oleh hal apa pun” Sahut Oyon.
“Meskipun badai menghadang, Kita harus tetep kuat!”
Sahut Virgo.
“Cielah... Gaya loe Go!” Sahut Beby.
“Hmmm... Luph U all...!” Sahut Chaca.
“Me...To.....!” Sahut Tasya, Beby, Helen, Indra,
Virgo, dan Oyon bersamaan.
“Yaudah, kalau gitu Kita pulang yuk!” Ajak Indra.
“Yaudah Yuk!” Kata Helen.
“Asyik...Asyik... Pulang...!” Sahut Beby.
“Oh ya! Rin, thank’s
yach, loe udah mau kasih informasi yang berarti banget buat Kita!” Kata
Chaca.
“Iya, sama-sama, gue seneng ko’ bisa kenal ma Kalian
semua” Kata Rini.
“Ocey dech, kalau gitu Kita pamit yach Rin” Kata
Tasya.
“Iya..Iya..!” Kata Rini.
“By...By... Rin!” Sahut Beby.
“By... Nanti kalau ada waktu jalan-jalan kesini
yach!” Sahut Rini.
“Siippsss...!” Sahut Indra, Virgo, dan Oyon
bersamaan.
Akhirnya, mereka bertujuh pun pulang dengan membawa
pengalaman yang tak pernah mereka bayangkan akan terjadi pada mereka semua.
Inilah Mereka...
* * *
# SELESAI #

cantik yang punya blognya ^^
ReplyDeletebagus jg ceritanya