Aku melihat
dari balik jendela ruangan kelas XII IPA 2, hari ini mendung dan sepertinya
sebentar lagi akan turun hujan. Aku segera mengeluarkan jaket dari tas ransel
hitamku dan mulai beranjak dari bangku tempat dudukku.
“Dim, bentar anak-anak pada ngumpul
tuh di cafe biasa. Gak ikutan?” Tanya Leo, teman sekelasku. Bukan, dia bukan
hanya sekedar teman bagiku, dapat dibilang dia sudah seperti saudaraku sendiri.
Dia sudah mengenalku sejak kami masuk di Sekolah Dasar yang sama. Apapun
keadaanku, Leo selalu mendukungku bahkan disaat-saat yang paling terpuruk
sekalipun, Leo selalu ada seakan-akan dia telah mengetahui segala isi hatiku
meskipun aku tidak mengatakannya. Aku hidup hanya bersama dengan ayah dan adik
perempuanku yang saat ini baru saja memasuki Sekolah Menengah Pertama. Ayah dan
ibuku bercerai ketika aku masih berusia 10 tahun dan adikku baru saja berusia 5
tahun. Saat ini ibuku telah menikah lagi dan memiliki seorang anak perempuan, entah
bagaimana aku dan adikku lebih memilih tinggal bersama dengan ayah. Meskipun
begitu, aku tidak pernah merasa kesepian karena Leo selalu menemaniku.
Entahlah, mungkin hanya aku teman satu-satunya yang dia miliki.
“Boleh” Aku menjawab singkat
“Oke, ntar gue kerumah lu dulu deh”
“Yaelah meskipun lu gak ngomong gue
juga tau kok lu bakal mampir dulu. Pasti mau liat Anya kan lu”
“Enak aja, yah tapi kalau dibolehin
abangnya boleh juga sih” Leo nyengir
“Sialan lu, adik gue masih kecil
banget tau, baru aja masuk SMP. Awas yah lu”
“Santai, jangan galak-galak lah ke
adik ipar” aku memukul pelan pundak Leo sambil tertawa dan begitupun dengan Leo.
Entah sejak kapan aku mulai suka mengejek Leo dengan mengatakan bahwa dia
menyukai adik perempuanku, dan Leo pun merespon hal itu dengan seakan-akan Ia
memang suka dengan adik perempuanku, Anya. Namun aku tahu itu hanya lelucon
kami berdua saja, Leo tidak benar-benar menyukai adikku, aku bisa melihat itu
dimatanya. Selain itu, setauku selama ini Leo telah menyukai seseorang, aku
tidak pernah melihatnya tapi dia selalu menceritakan orang itu. Leo memang
terkadang menjadi orang yang sibuk dengan pikirannya sendiri.
Dimas
Nugraha, itulah namaku. Nama yang diberikan oleh ibuku yang saat ini telah
bahagia bersama dengan keluarga barunya. Meskipun begitu, setiap bulan Ia selalu
menyempatkan waktunya untuk bertemu aku dan adikku, mengecek setiap keperluan
kami dan memastikan kami tidak kekurangan apapun. Hubungan antara ayah dan
ibuku juga sangat baik meskipun mereka telah bercerai, alasan mengapa mereka
berpisah pun tidak pernah mereka jelaskan secara jelas padaku apalagi adikku.
Ayahku hanya mengatakan bahwa perpisahan bukan berarti kau kehilangan orang itu
hanya saja kau diberikan kesempatan untuk mengetahui seperti apa itu ikhlas.
Ayahku tidak pernah menceritakan kejelekan ibuku, begitupun dengan ibuku.
Ayahku selalu berkata “Ibumu merupakan wanita yang luar biasa, dia tidak akan
pernah benar-benar meninggalkanmu, hanya saja biarkanlah dia menemukan
kebahagiaannya” sedangkan ibuku selalu berkata “Ayahmu laki-laki yang tangguh,
dia akan mengajarimu cara memperlakukan wanita dengan benar. Belajarlah dari
dia”. Mungkin perkataan ayahku masih bisa kumengerti, namun aku memerlukan
waktu yang lebih untuk mengerti perkataan ibuku. Dia mengatakan bahwa aku harus
belajar dari ayahku yang tangguh, apakah mungkin maksudnya tangguh karena telah
merelakan ibuku bahagia bersama dengan orang lain? Aku tidak mengerti dengan
mereka berdua, mereka terlihat sangat baik-baik saja bahkan aku tidak pernah
mendengar mereka bertengkar.
Suami baru
ibuku pun juga baik terhadap ayahku, kami pernah berlibur kepuncak bersama dan
mereka terlihat dekat bahkan ibuku masih perhatian pada ayahku. Anya juga dekat
dengan anak perempuan ibuku yang saat ini masih duduk dibangku Sekolah Dasar.
Aku benar-benar tidak mengerti, aku tidak mengerti dengan ayah dan ibuku, aku
selalu saja ingin menanyakan alasan mereka memutuskan untuk bercerai. Apakah
karena masalah ekonomi? Tidak, tidak mungkin karena ayahku merupakan seorang
arsitek bahkan memiliki usaha sendiri dan selama ini kami hidup berkecukupan
bahkan aku merasa lebih dari cukup. Apakah karena ayah selingkuh? Tapi tidak
mungkin, ibuku selalu mengatakan bahwa ayah lelaki yang tahu memperlakukan
wanita dengan benar, tidak mungkin ayah selingkuh. Atau apakah ibu yang
selingkuh dengan suaminya yang sekarang? Tapi ayahku mengatakan bahwa ibuku
wanita yang luar biasa jadi tidak mungkin ibuku selingkuh. Lantas apa
alasannya, aku selalu ingin tahu namun ayah maupun ibu tidak pernah benar-benar
menjelaskannya, aku seperti mendengar mereka hanya memuji satu sama lain, aku
merasa ada yang mereka sembunyikan dan tidak ingin aku maupun adikku tahu.
Kenapa mereka tidak bersama saja? Apakah mereka tidak saling mencintai? Lalu
mengapa mereka menikah? Aku selalu ingin mengatakan hal itu, namun jika melihat
wajah ayah dan ibuku, aku seperti tidak mampu berkata apa-apa lagi, aku melihat
ketulusan dimata mereka yang membuatku menjadi tenang dan tidak mengkhawatirkan
apapun. Yah, aku memutuskan untuk membiarkan urusan mereka biarlah mereka yang
mengetahui, selama kami masih berhubungan baik tidak masalah bagiku. Aku
bersyukur lahir dikeluarga ini, meskipun orangtuaku bercerai namun aku tidak
merasa kehilangan kasih sayang dari keduanya.
Aku dan Leo
berjalan hingga sampai ke tempat parkir sekolah dan mulai menghampiri motor
kami yang jaraknya tidak berjauhan. Seperti biasa Leo selalu menancap gas motornya
terlebih dahulu seakan-akan dia mengajakku untuk melakukan balap motor namun
itu tidak benar-benar terjadi, terlalu banyak lelucon antara aku dan Leo hingga
aku tidak dapat membedakan kapan disaat Ia serius dan bercanda. Kali ini aku
membiarkannya melaju sendirian, entahlah hari ini aku seperti ingin menikmati
cuaca mendung yang biasanya sangat panas di kota ini.
Motor
kubiarkan melaju dengan kecepatan 40 km/jam, dengan perhitungan insting aku
memastikan akan sampai dirumah sebelum hujan turun meskipun dengan kecepatan
sedang. Perlahan aku menyusuri setiap jalan sambil menikmati dinginnya hari ini
sampai disuatu persimpangan jalan, aku melihat ada seorang gadis dengan pakaian
seragam yang sudah tak asing lagi bagiku, yah seragam itu adalah seragam sekolahku,
aku sangat mengenali warna roknya. Aku memperhatikannya dari jauh, perempuan
itu terlihat kebingungan sambil sesekali melihat mobil didepannya hingga aku
menghentikan motorku dibelakang mobil yang kupikir itu adalah mobilnya.
“Ada apa?” Tanyaku, gadis itu
melihatku dengan mata berbinar, aku bisa melihat bola matanya yang sempat
melihat celanaku dan aku tahu Ia pasti mengetahui bahwa kita bersekolah
ditempat yang sama.
“Anak Nusa Bangsa juga? Wah
kebetulan dong” sahut perempuan itu, Ia nampak gembira dan aku pun tersenyum,
bukan karena melihatnya gembira namun karena tebakanku benar bahwa Ia
memperhatikan warna celanaku yang pastinya juga tidak asing baginya. Aku pun
turun dari motorku dan mendekati gadis itu
“Ini mobilmu? Mobilmu mogok ya?”
Tanyaku sambil memperhatikan wajahnya, sepertinya Ia mengikat rambut panjangnya
dengan asal-asalan karena terlihat tidak rapi, wajahnya juga berkeringat,
padahal siang ini mendung dan cuaca cukup dingin.
“Iya nih, gue bingung banget, gue
mau hubungi temen gue tapi gak bisa soalnya hp gue juga baterainya abis dan gue
gak ngerti apa-apa soal ini. Lo bisa bantuin gue gak?”
“Yaudah gue coba liat dulu deh” Aku
mulai memeriksa mesin mobil itu, sebenarnya aku tidak terlalu paham dengan
otomotif, tapi aku biasa melihat ayahku saat memeriksa mobilnya yang mogok
ketika perjalanan sehingga aku mencoba untuk mengingat apa yang ayahku lakukan
saat memeriksa mobilnya.
“Kayaknya mesinnya deh, yah
sebenernya sih gue juga gak terlalu paham sama otomotif jadi mending bawa ke
bengkel aja biar aman”
“Gimana caranya bawa kebengkel, ini
aja gak bisa jalan” aku berpikir sejenak, kemudian aku mencoba untuk menolong
gadis malang ini
“Yaudah gini aja deh, gue bakal cek
dulu ke arah jalan sana kali aja ada bengkel yang deket dari sini, ntar gue
panggilin deh orangnya kesini”
“Serius? Wah makasih banget ya”
gadis itu terlihat sangat bahagia, senyum lebar diwajahnya juga begitu manis.
Ah, apa yang kupikirkan
“Yaudah mending lo masuk aja dulu
kedalem mobil, daripada nunggu diluar ntar kenapa-napa lagi. Gue pergi dulu ya”
“Iyaa, makasih banyak ya. Gue
nunggu sini” gadis itu terlihat menungguku hingga pergi dan dia masuk kedalam
mobilnya saat motorku sudah mulai berjalan menjauh, itu dapat terlihat jelas
dari kaca spion motor ini. Tidak begitu membutuhkan perjalanan yang jauh, aku
menemukan sebuah bengkel yang hanya berjarak sekitar 1 km dari tempat gadis
itu. Setelah menjelaskan keadaannya pada salah satu montir akhirnya aku
membonceng montir itu untuk melihat keadaan mobil gadis itu.
“Wah, ini mah emang mesinnya kudu
dibetulin neng” ucap montir itu, entah mengapa aku jadi memperhatikan wajah
gadis itu yang mulai cemas
“Jadi gimana dong bang?” Tanya
gadis itu terlihat khawatir
“Yah dibawa kebengkel aja neng,
saya mah gak bisa betulin disini, alat gak lengkap” ucap montir
“Yaudah kita bawa kebengkel aja”
aku menyarankan
“Caranya?” Tanya gadis itu
“Ya didorong lah, gimana lagi” aku
mencoba untuk bisa menjadi lelaki yang berguna dengan menggunakan tenagaku,
paling tidak itu yang diajarkan oleh ayahku
“Emang bisa?” Gadis itu sepertinya
belum yakin
“Bisalah, bang bantuin dorong ya”
Aku mulai meletakkan tanganku dibelakang mobil jazz putih milik gadis itu,
begitupun dengan abang montir yang juga membantu
“Gak apa-apa?” Tanya gadis itu
“Santai aja lagi, lo masuk aja
kedalem buat nyetir arah mobilnya”
“Ya yaudahdeh iya” Gadis itu masuk
dengan wajah agak ragu-ragu, dia terlihat seperti merasa bersalah karena telah
merepotkanku. Tapi entah mengapa, aku merasa tidak keberatan melakukan hal ini,
malahan aku senang terlebih lagi, dia cantik, tidak.. dia bukan hanya sekedar
cantik tapi dia manis. Dengan kekhawatiran yang terlihat jelas diwajahnya, dia
tetap manis. Ah, apa yang sedang aku pikirkan, aku segera menepuk pelan
wajahku.
“Wah, ini mah gak bisa selesai
cepet nih neng. Neng jarang ngurus mobilnya ya?” Kata montir itu setelah
memeriksa bagian mesin mobil tersebut.
“Saya sih hanya tau make aja bang,
mana ngerti sama yang begituan” Ucap gadis itu
“Jadi gimana bang?” Tanyaku
“Paling boleh diambil besok” Jawab
montir itu, kulihat gadis yang saat ini berada disampingku raut wajahnya
berubah dengan ekspresi terkejut
“Udah tenang aja, biarin aja
mobilnya disini dulu, pulangnya biar kuantar” Aku tidak mengerti kenapa aku
tiba-tiba bisa mengatakan hal ini, kata-kata itu keluar begitu saja dari
mulutku. Aku, juga tidak bisa melihat gadis ini menjadi khawatir.
“Eh.. jangan, gak usah. Gue udah
terlalu banyak ngerepotin lo, gue gak mau ngerepotin lagi tapi makasih banyak
yah lo udah mau nolongin gue”
“Santai aja lagi, gak apa-apa kok”
“Jangan, gue yang gak enak.
Pulangnya ntar biar gue naik taksi aja” gadis ini menolak, yah mungkin dia
merasa sudah sangat merepotkanku. Ingin sekali kujelaskan bahwa hal ini sama
sekali tidak membuatku repot atau kesusahan. Aku senang membantunya.
“Yaudah kalau gitu biar gue temenin
nyari taksi aja gimana?”
“Em yaudah deh iya” gadis itu
tersenyum, aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari senyumannya. Namun
sebagai lelaki, aku tidak mungkin terus memperhatikannya. Segera kumencoba
mengalihkan pandanganku.
“Bang, mobilnya diambil besok ya”
“Iya neng, gak usah khawatir disini
aman kok”
“Makasih bang” Aku dan gadis ini
mulai berjalan meninggalkan bengkel tersebut hingga sampai didepan sebuah
jalan. Sambil menunggu taksi yang lewat, aku memulai pembicaraan untuk memecah
keheningan.
“Oh ya, daritadi kita belum
kenalan. Nama gue Dimas”
“Valerie, tapi panggil aja Vali”
“Kelas berapa? Kok gue gak pernah
liat?”
“Kelas 11 IPA 1, yah gue emang gak
terlalu sering kekantin. Lebih banyak ngabisin waktu diperpus sih soalnya. Lo
sendiri?”
“Gue di kelas 12 IPA 2” Aku bisa
melihat raut wajahnya berubah ketika mendengarku menyebutkan nama kelasku. Bola
matanya terlihat sedikit membesar
“Kakak kelas? Aduh, maaf gue gak
tahu. Gue pikir kita seangkatan, seharusnya daritadi gue manggilnya kak ya. Gue
juga gak merhatiin lambang kelas 12 diseragam, saking paniknya. Maaf ya kak”
Aku hanya memperhatikan gadis ini berbicara, wajahnya terlihat lucu dan itu
membuatku ingin sekali tertawa. Aku mencoba meyakinkannya bahwa hal itu sama
sekali tidak masalah bagiku. Kami bercerita banyak tentang sekolah sambil
memperhatikan jalan jika ada taksi yang lewat. Ini sudah lewat 20 menit dan
tidak ada satu pun taksi yang lewat saat itu.
“Udah lebih dari 20 menit, kayaknya
disekitar sini taksi jarang lewat deh” Aku melihat Vali, wajahnya berubah lagi
memperlihatkan perasaan tidak enaknya padaku.
“Gue antar aja yuk, keburu ujan nih”
sebagai lelaki, aku harus bisa membaca situasi dan mencoba memikirkan apa yang
dia pikirkan karena aku tahu, Vali tidak mungkin menawarkan dirinya agar aku
mengantarnya pulang.
“Maaf ya, gue ngerepotin lagi” Ia
menundukkan wajahnya
“Udahlah santai aja, gue juga gak
mungkin ninggalin lo sendirian disini, ditambah lagi ini udah sore. Tunggu bentar
disini ya, gue ambil motor dulu”
“Eh kak, gue ikut”
“Tapi motornya kan ditempat mobil
lo mogok tadi, itu sekitar hampir 500 km loh dari sini. Tenang aja, gue gak
lama kok”
“Bukan itu kak, gue makin gak enak
kalau kakak kesana sendirian jalan kaki sementara gue cuman nunggu disini aja.
Lagian kan kakak jadi kesusahan gini karena nolongin gue, jadi biarin gue ikut
jalan kaki ketempat tadi ya” Wajah Vali memelas, aku tidak bisa berkata
apa-apa. Aku hanya menganggukan kepalaku dan kulihat dia tersenyum. Ya Tuhan,
bagaimana Kau bisa menciptakan senyum seindah itu.
Hari ini,
aku bahagia. Hujan yang turun saat aku dan Vali masih dalam perjalanan pulang,
membuat kami harus berteduh didepan sebuah café. Tapi aku senang bisa
menghabiskan banyak waktu berbincang dengan Vali, dia gadis yang manis, bukan
hanya senyumannya tapi juga kepribadiannya, dan dia juga murah senyum. Aku
meminjamkan jaketku padanya, dia sempat menolak namun tidak mungkin kubiarkan
gadis yang sedang bersamaku kedinginan. Sejujurnya cuaca ini memang dingin,
namun akan lebih terasa dingin jika aku membiarkannya kedinginan dan tidak
memberikan jaketku. Aku sama sekali tidak keberatan melakukan hal ini, aku
senang bisa menolong Vali. Ia berkali-kali mengucapkan terimakasih padaku,
sebenarnya aku ingin mengatakan padanya bahwa dia tidak perlu berterimakasih
sebanyak itu tapi aku tidak bisa mengatakan apapun. Senyumannya.. Ya Tuhan, ada
apa dengan dadaku.
Semenjak
hari itu, aku dan Vali sering jalan bersama, aku pun juga sering
menghubunginya. Mulai dari aku menemaninya mengambil mobilnya, Ia mengembalikan
jaketku yang telah Ia cuci terlebih dahulu, aku menemaninya mencari buku di
toko buku, Ia menemaniku mencari bahan kerajinan untuk tugas sekolah Anya
hingga aku membantunya mengerjakan tugas Fisika. Yah, aku sangat menyukai
pelajaran fisika, selesai sekolah nanti aku ingin mengikuti tes masuk di STMKG
(Sekolah Tinggi Metereologi, Klimatologi dan Geofisika), itu salah satu
impianku. Sampai suatu hari, aku merasakan hal yang belum pernah kurasakan
sebelumnya. Selama ini aku tidak pernah berbuat banyak seperti ini terhadap
seorang gadis. Jika aku dekat dengan seorang gadis, itu karena gadis itulah
yang terus mendekatiku bahkan menyatakan cintanya duluan terhadapku. Selama ini
juga aku selalu menerima setiap ada gadis yang mencoba hadir dikehidupanku,
namun entah mengapa, mereka yang memutuskan untuk bersamaku namun mereka juga
yang memutuskan hubungannya denganku. Katanya aku lelaki yang tidak peka, tidak
perhatian, cuek dan sebagainya. Terkadang aku benar-benar tidak mengerti dengan
wanita, aku benar-benar tidak mengerti apa yang ada dipikiran mereka. Sampai
saat ini aku menyadari sesuatu bahwa aku menyayangi Vali, bukan sayang sebagai
seorang kakak kelas atau teman, tapi lebih dari itu, aku mencintainya.
Aku belum memberitahukan
hal ini pada Leo, aku juga belum mengenalkan Vali dengan Leo. Setiap aku ingin
memperkenalkan Vali dan Leo, selalu saja ada sesuatu hal yang menyebabkan hal
itu belum terjadi. Pertama kalinya bagiku merasakan hal seperti ini, hal yang
berbeda dari gadis-gadis sebelumnya. Vali memang berbeda, Vali tidak seperti
gadis yang selama ini berada disekitarku, Ia apa adanya dan selalu tersenyum. Aku
tidak tahu apakah dia merasakan hal yang sama terhadapku, tapi beberapa bulan
lagi Ujian Nasional, aku tidak bisa tidak mengatakan perasaanku pada Vali
sebelum kelulusan tiba dan aku juga tidak ingin lelaki lain mendahuluiku.
Mendengar Ia dekat dengan lelaki lain, itu membuatku geram meski tak pernah
kutunjukkan padanya. Aku merasa bahwa Vali juga memiliki perasaan yang sama
sepertiku, itu terlihat jelas dengan responnya terhadapku selama ini namun bagaimanapun
juga aku tidak bisa menutup kemungkinan bahwa ada seseorang yang juga menyukai
Vali sama sepertiku. Aku tidak bisa menahan ini, aku akan menyatakannya. Tidak
peduli bagaimana perasaan Vali yang sebenarnya terhadapku, aku hanya merasa
harus mengatakannya sebelum aku menyesal.
Ingin
sekali kumenceritakan hal ini pada Leo, namun aku melihat Leo sedang sibuk
dengan pergantian jabatan osisnya sebentar lagi, maklum Leo adalah Ketua Osis
dan dia pasti sibuk mempersiapkan laporan terakhir selama Ia menjabat sebagai
Ketua Osis selama satu tahun ini. Aku akan memberitahukan hal ini ketika aku
sudah menyatakan perasaanku pada Vali, ini pasti akan menjadi kejutan untuk
Leo.
Malam itu
aku mempersiapkan segalanya, aku menyiapkan mulai dari basa-basiku berbincang
dengan Vali hingga kata-kata yang harus kuucapkan padanya. Jantungku terasa
berdebar lebih cepat, hatiku seakan bergejolak, dalam perutku seakan ada
puluhan kupu-kupu terbang setiap kali aku menguatkan tekadku untuk menyatakan
perasaanku pada Vali. Aku tidak tahu apakah wanita mengerti akan hal ini, namun
jika saja mereka tahu bahwa hal ini sebenarnya tidaklah mudah bagi seorang
lelaki untuk menyatakan perasaannya terhadap seseorang yang benar-benar mereka
cintai. Mungkin hal ini akan mudah bagi lelaki yang tidak serius, tapi tidak
denganku. Ini juga pertama kalinya bagiku untuk menyatakan perasaan terhadap
seseorang. Kukumpulkan semua keberanianku, dan aku juga siapkan hatiku jika
memang Vali tidak memiliki perasaan yang sama denganku.
Aku
menjemput Vali ditempat lesnya, Vali senang dengan piano sehingga Ia memutuskan
untuk mengikuti les piano agar dapat memainkannya dengan baik. Aku pun juga
sudah memikirkan café yang bagus untukku dapat menyatakan perasaanku pada Vali.
“Hai kak
Dim, tumben ngajak jalan sampe mau bela-belain jemput ditempat les. Terus,
kakak juga tumben bawa mobil” Sapaan Vali membuat jantungku kembali berdebar.
Aku sengaja membawa mobil ayahku malam ini, aku mencoba untuk membuat malam ini
menjadi berbeda dari biasanya. Hanya saja aku mencoba sebaik mungkin untuk
terlihat biasa saja.
“Iya yah
hehehe, kemaren sempat buka Instagram terus ada café yang bagus gitu, pengen
nyoba aja. yuk” Vali hanya tersenyum dan masuk kedalam mobil. Diperjalanan kami
berbincang dan bercanda seperti biasa. Tanpa Vali ketahui, hatiku berdebar
setiap mengingat bahwa aku akan menyatakan perasaanku sebentar lagi. Kami
sampai disebuah café yang sebenarnya telah kukunjungi sebelumnya, suasana
cafenya yang santai tapi menarik, aku sengaja memilih tempat seperti ini agar
Vali tidak terlalu merasa canggung. Jika aku memilih tempat yang romantis,
mungkin saja Ia akan mulai curiga dan akhirnya merasa bahwa aku terlalu
berlebihan karena kami belum memiliki hubungan lebih dari teman atau kakak dan
adik kelas.
“Tempatnya
asik ya kak, live music nya juga yang nyanyi suara adem, bagus”
entah bagaimana kujelaskan aku selalu terpesona dengan senyuman manis Vali, senyuman
apa adanya, senyuman tulus yang tidak dibuat-buat. Kami mulai lagi berbincang
seperti biasa dan menyelipkan candaan disela-sela perbincangan kami. Sampai
akhirnya, aku mulai mengungkapkannya.
“Val?
Selama ini selain aku, kamu dekat sama siapa aja?” Aku mulai memberanikan
diriku
“Oh, banyak
sih kak Dim, temen-temen sekelasku, kita semua dekat kok, yah meskipun gak
semuanya juga sih tapi sebagian besar kita deket” Vali mengunyah kentang goreng
yang Ia masukkan kedalam mulutnya.
“Eh bentar,
kok kakak ngomongnya jadi aku kamu sih” Vali tertawa, sepertinya Ia sadar
dengan perubahan sikapku.
“Hehehe,
gak apa-apa kok. Emm Val, kira-kira kalau aku suka sama kamu ada yang marah gak
ya?” Astaga, apa-apaan aku ini, ini diluar dugaanku, aku tidak menyiapkan
kata-kata itu sebelumnya. Aku dapat melihat jelas perubahan raut wajah Vali, Ia
terlihat terkejut.
“Kak Dim
apaan sih, jangan ngaco deh” Vali terlihat mengalihkan pandangannya, aku tidak
tahu harus berkata apa, ini bukan yang kusiapkan sebelumnya. Ah, mengapa susah
sekali menyatakan perasaan seperti ini.
“Valerie,
aku serius, selama ini.. aku sayang sama kamu, aku pikir ini hanya rasa sayang
biasa tapi semakin lama aku semakin sadar, aku bukan hanya sayang sebagai teman
atau kakak kelas kamu tapi lebih dari itu” Akhirnya, aku bisa mengatakannya.
Aku melihat jelas perubahan raut wajah Vali menjadi datar, meskipun begitu
entah mengapa aku merasa Ia tetap manis
“Val, apa
boleh kalau kita lebih dari sekedar teman atau kakak sama adik kelas? Aku
serius Val, aku gak pernah kayak gini sebelumnya. Kalau kamu juga punya
perasaan yang sama, aku mau kita bisa sama-sama terus, aku gak mau kehilangan
kamu. Aku mau kita jalanin sisa kehidupan kita sama-sama terus, mungkin ini
terlalu cepat, tapi aku udah mikirin ketika aku lulus SMA nanti dan diterima di
pendidikan STMKG, kamu bisa nunggu aku selesai kan Val? Aku juga bakan nunggu
kamu sampe selesai kuliah dan kerja. Terus saat kita sama-sama udah siap, kita
bisa nikah. Gimana Val?” Sepertinya aku terlalu banyak berbicara, bahkan aku
sampai memikirkan hal yang terlalu jauh. Apakah aku berlebihan? Sepertinya iya,
itu terlihat jelas diwajah Vali. Ia sangat terkejut mendengar pengakuanku. Aku
tidak mengerti kenapa aku bisa berbicara sejauh itu, aku memang berpikir bahwa
jika Vali juga mencintaiku kita bisa menikah nanti, tapi aku tidak pernah
berpikir akan mengatakan hal itu pada Vali terlebih lagi saat-saat seperti ini.
Vali diam, Ia hanya menatapku seakan-akan matanya berbicara bahwa Ia tak
percaya dengan apa yang kukatakan.
“Wah kak
Dim, aku gak nyangka kakak mikir sampe segitunya. Akuu…” Vali menghentikan
ucapannya, sungguh ini hanya sepersekian detik tapi jedanya sangat lama bagiku
“Aku
terkesan dengan omongan kakak yang kayak gini. Selama ini aku pikir Kak Dim gak
mungkin suka sama cewe kayak aku. Jadi…” Vali menghentikan lagi perkataannya,
entah mengapa aku juga ikut berbicara
“Gak
apa-apa kok Val” Potongku
“Ha?”
“Gak
apa-apa kalau kamu belum bisa jawab itu sekarang. Aku cuman pengen kamu tahu
aja perasaanku yang sebenernya” Aku tidak ingin terkesan memaksa Vali, biarlah
mungkin dia perlu lebih meyakinkan hatinya.
“Kak Dim..”
Vali menatapku seakan-akan ingin mengatakan sesuatu, aku seperti tidak sanggup
melihatnya, tatapannya begitu tulus dan wajahnya semakin kuperhatikan malah
semakin cantik
“Udah
malem, balik yuk. Ntar kamu masuk angin lagi” aku melepas kardiganku dan
meletakkannya dengan pelan kepundak Vali. Aku merasa malam ini mulai semakin
dingin, aku juga tak bisa membedakan apakah suhu yang memang mendadak dingin
atau perasaanku saja.
Dalam
perjalanan pulang aku maupun Vali lebih banyak diam, kami hanya sesekali
berbicara lalu diam kembali. Sungguh suasana yang tidak menyenangkan hingga
akhirnya kami sampai didepan rumah Vali.
“Makasih ya
kak dim” Ucap Vali sambil keluar dari dalam mobil, aku hanya tersenyum dan hendak
memasukkan gigi untuk menjalankan mobil
“Kak dim”
Panggil Vali dan aku pun melihatnya
“Meskipun
aku belum jawab, tapi aku janji gak akan ngecewain Kak Dimas” lagi-lagi Ia
tersenyum, kubalas senyumannya bersama dengan hatiku yang terasa lega
“Aku balik
yah” Vali hanya menganggukkan kepalanya sambil terus tersenyum, aku menjalankan
mobil hingga kulihat Vali masuk kedalam rumahnya dari kaca spion.
***
Malam itu
tiba-tiba saja Leo mengajakku untuk mengunjungi sebuah pertunjukkan musik, aku
menerima ajakannya. Kami berdua pergi dengan menggunakan pakaian rapi, aku
tidak mengerti ini acara apa, Leo hanya menjelaskan bahwa aku akan terpesona
dengan pertunjukkannya.
“Awas aja
ya kalau gak asik” Ucapku pada Leo yang sedang mengemudi saat dalam perjalanan
“Tenang
aja, acaranya pasti asik, asal jangan jatuh cinta sama pemainnya” Balas Leo
dengan tawa diakhir perkataannya
“Lagian
tumben ngajak ke acara beginian, dari pakaiannya pasti acara formal nih”
“Gak formal
formal amat kok, gue bakal kenalin lu sama seseorang”
“Siapa?”
Tanyaku
“Cewek yang
sering gue ceritain ke elu lah” Jawab Leo
“Oh jadi
karena itu, pantesan rapi banget” Ucapku sambil membayangkan bagaimana gadis
yang disukai oleh Leo, aku tahu selera Leo, pasti gadis itu cantik tapi dalam
pikiranku bagaimanapun cantiknya gadis itu akan kalah dengan Valerieku
“Ntar kalau
lu udah ngenalin gue sama gadis lu, gue juga bakal kenalin gadis gue ke elu”
Kataku pada Leo
“Dih, cewek
mana lagi tuh? Paling juga yang ngejar-ngejar lu itu kan”
“Enak aja,
yang ini beda kali”
“Serah lu
dah”
“Namanya
siapa sih?” Tanyaku penasaran pada Leo
“Aurora”
Jawab Leo
“Aurora?”
“Bagus kan,
kayak princess gitu lah”
“Hahaha
serah deh” Ucapku, aku tidak tahu bahwa Aurora adalah benar nama gadis itu atau
hanya sekedar panggilan dari Leo, aku tidak peduli siapa pun namanya, yang
jelas aku akan memberikan seluruh jempolku untuknya karena berhasil mendapatkan
hati Leo. Selama ini Leo merupakan orang yang sangat cuek dengan wanita,
beberapa kali aku melihat beberapa gadis mencoba mencuri perhatiannya namun
tidak berhasil. Leo tidak suka dengan gadis yang terlalu agresif, ngeri
katanya.
Kami masuk
kedalam sebuah ballroom hotel setelah Leo menyerahkan dua tiket masuk pada
penjaga didepan pintu. Seperti dugaanku ini merupakan acara semi formal, lelaki
yang datang kebanyakan menggunakan jas ddengan wanitanya yang menggunakan dress dengan berbagai model dilengkapi
dengan make up sebagai ciri khasnya.
Aku melihat disekelilingku, mencari pencerahan atas acara yang sedang aku
datangi bersama Leo, ternyata ini adalah sebuah pertunjukkan musik klasik, aku
tidak tahu sejak kapan Leo menyukai musik klasik tapi tentu saja bukan karena
pertunjukkannya melainkan orang yang akan memainkan musiknya.
Aku dan Leo
duduk ditengah ruangan yang berada tidak jauh dari panggung, orang-orang masih
sibuk dengan perbincangannya masing-masing. Melihat semua ini, aku teringat
dengan Valerie. Ia juga pernah mengatakan bahwa Ia sangat menyukai musik
klasik, adem katanya. Tanpa kusadari itu membuatku tersenyum. Aku dan Leo tak
banyak bicara, selama pertunjukkan Leo terlihat serius menikmatinya, sementara
aku cukup terpesona dengan lantunan musik yang tidak pernah kudengar sebelumnya.
Ah, wajah Vali kembali terbayang dalam pikiranku. Sampai akhirnya dipenutup
pertunjukkan, ada seorang gadis yang memainkan piano dipanggung itu, wajahnya
benar-benar tak asing, itu Vali, Valerie. Aku menggosok pelan mataku, berpikir ini
adalah lamunanku saja, tapi gadis itu masih sama. Aku membiarkannya, aku tidak
peduli apakah itu benar Valerie atau bukan, aku senang bisa melihat gadis itu
yang melantunkan musik piano dari Chopin yang berjudul Nocturne. Hingga akhirnya
setelah gadis itu selesai memainkan pianonya, Leo mulai berbicara setelah kami
berdua sama-sama terdiam
“Itu dia
Dim” Ucap Leo
“Apa?”
Tanyaku belum mengerti
“Itu dia,
Aurora, yang barusan” Jawab Leo sambil tersenyum kearahku
“Yang main
piano?”
“Iya,
cantik kan?” Perkataan Leo membuatku terkejut, Aurora yag dimaksudkan oleh Leo
adalah orang yang aku lihat seperti Vali. Apakah tadi hanya lamunanku saja?
Karena terlalu memikirkannya. Aku berharap bahwa tadi hanya lamunanku saja, Leo
juga mengatakan bahwa nama orang itu adalah Aurora, sementara gadis yang
kulihat dan kukenal adalah Vali, Valerie. Aku pasti mengkhayal saat
pertunjukkannya. Sampai akhirnya, Leo membawaku padanya saat pertunjukkan telah
usai. Oh Tuhan, itu benar Vali.
“Hei” Sapa
Leo pada gadis itu yang sedang berbicara dengan temannya, gadis itu mengalihkan
pandangannya dan melihat Leo
“Ka Leo?”
Ucap gadis itu seakan tidak percaya, gadis itu Vali, aku yakin dia Valerie.
“Kok bisa
disini?” Tanya Vali yang belum melihatku, aku berada dibelakang Leo, sengaja
menyembunyikan wajahku
“Tau dong,
oh iya” Kata Leo sambil menarik pelan tanganku untuk dapat berada disampingnya
dan dapat dilihat oleh Vali
“Kenalin,
temenku Dimas” Lanjut Leo
“Dimas”
Ucapku sambil mengulurkan tanganku seakan tidak pernah mengenalnya. Aku bisa
melihat jelas ekspresi wajah Vali yang terkejut juga terlihat bingung, Ia
menjabat tanganku namun tidak berkata apa-apa. Sebenarnya aku juga tidak
mengerti apa yang telah kulakukan, hanya saja, aku tidak ingin Leo tahu bahwa
aku telah mengenal Vali sebelumnya
“Ini nih Aurora
yang aku bilang ke kamu Dim, orang-orang sih manggil dia Vali, tapi aku lebih
suka sebut dia Aurora” Kata Leo, Vali tersenyum mendengarnya
“Kok bisa?”
Tanyaku
“Valerie
Aurora, itu namaku kak” Jawab Vali menatapku dan aku juga menatapnya, Ia seakan
ingin mengatakan sesuatu namun segera kuhindari, kualihkan perhatian Leo
“Maafin
temen gue nih, dia emang suka beda dari yang lain” Kataku pada Vali, aku masih
bisa melihat wajahnya yang bingung
“Kak
Dimas..” Ucap Vali seakan ingin mengatakan sesuatu namun lagi-lagi aku
mengalihkannya
“Kalian
kenal dimana?” Tanyaku
“Satu
sekolahan kali sama kita, tapi Vali ini jarang kelihatan kalau disekolah” Jawab
Leo yang terlihat tidak mencurigai apa pun
“Terus
gimana bisa ketemu?” Tanyaku
“Vali ini
les ditempat tante gue ngajar Dim, pertunjukkan ini juga tahunya dari tante”
Jawab Leo. Aku masih bisa merasakan bahwa Vali menatapku dengan tatapan bingung.
Aku juga melihat senyumnya yang terlihat dipaksakan saat kami bertiga melakukan
beberapa obrolan. Setelah itu kemudian kami pergi meninggalkan ballroom hotel
itu, meninggalkan Vali yang tersenyum pada Leo namun mengkerutkan dahinya saat
melihat kearahku.
Dalam
perjalanan Leo menceritakan detail kejadian saat Ia bertemu dengan Vali.
Ternyata Leo mengenalnya saat pertama kali masuk dalam tim piano ditempat les musik
milik tantenya. Sejak saat itu, dalam beberapa kesempatan Leo mengunjungi
tempat les itu dan bercerita dengan Vali. Leo menjelaskan kelebihan Vali yang
sebenarnya telah kuketahui, aku juga merasakan hal yang sama seperti yang
dirasakan oleh Leo. Aku mendengarkan cerita Leo sambil menahan sakit didadaku,
entahlah, hanya saja dadaku terasa sesak, apalagi saat mendengar Leo ternyata
sangat mencintai Vali.
Keesokkan
harinya, aku mengajak Vali untuk bertemu, aku akan berkunjung kerumahnya. Aku
ingin menjelaskan kepadanya tentang sikapku semalam padanya. Sebelum
mengajaknya bertemu, aku telah menguatkan hatiku, mengatur kata-kata yang akan
kuucapkan. Hatiku masih terasa sangat perih, tubuhku juga terasa lemas,
ternyata aku dan Leo menyukai gadis yang sama. Awalnya aku bingung dan tidak
tahu harus berbuat apa. Pilihan sekarang ada padaku, mengatakan sejujurnya pada
Leo bahwa aku juga menyukai Vali dengan resiko persahabatan kami terancam atau
menyimpannya demi persahabatan kami dengan resiko hatiku akan tersakiti. Dan
aku, memilih pilihan yang kedua. Aku tidak akan membiarkan persahabatan kami
hancur, Leo sangat berharga bagiku, aku tidak ingin kehilangan seorang sahabat
seperti Leo, aku tidak ingin egois, lagipula aku tidak mengetahui perasaan Vali
terhadapku, aku tidak tahu apakah dia juga mencintaiku atau tidak, atau bahkan
dia mungkin mencintai Leo. Aku mencintai Vali, namun jika dia tidak
mencintaiku, paling tidak gadis baik seperti Vali bisa bersama dengan orang
seperti Leo. Jawaban dari Vali yang kunantikan saat memintanya untuk menjadi
kekasihku tak akan kupertanyakan lagi. Tak ada gunanya aku menanti sebuah
jawaban yang aku tahu, aku tidak akan pernah mendapatkannya.
Aku duduk
bersebelahan dengan Vali diteras rumahnya, kami lebih banyak diam, seakan-akan
sibuk dengan pikiran masing-masing, seakan-akan banyak pertanyaan yang ingin kami
tanyakan namun hal itu tertahan oleh kami masing-masing.
“Val, maaf
ya kemaren aku pasti kayak orang bego yah pura-pura gak kenal kamu” Kataku
memecahkan keheningan
“Itu yang
ingin aku tanyain sama, kaka kenapa sih kemaren?” Tanya Vali
“Ada
alasannya kok” Jawabku seadanya
“Kaka sama
Ka Leo ternyata temenan yah” Ucap Vali
“Iya, dia
bukan cuman temen, dia sahabat aku yang paling berharga” Kataku
“Sebenernya,
Ka Leo udah nembak aku sebelum kaka, itu kenapa aku bingung pas kaka juga
ternyata nembak aku, jadi sekarang aku pengen kasih tahu kaka jawabannya…”
Sebelum Vali melanjutkan perkataannya, aku segera mengalihkannya
“Gini Val, sebelumnya
aku mau minta maaf, kamu jangan salah paham dulu. Kemaren aku dekatin kamu, itu
sebenarnya aku pengen tahu bagaimana cewek yang disukain sama Leo. Leo gak tahu
itu, Leo gak tahu kalau aku sebenarnya udah kenal kamu, makanya kemaren aku
pura-pura gak kenal sama kamu” Jelasku, aku bisa melihat ekspresi wajah Vali
yang seakan tidak percaya dengan perkataanku
“Maksud Ka
Dimas?” Tanya Vali
“Aku gak
pernah benar-benar suka sama kamu, aku bilang gitu karna mau nge tes kamu”
Plak! Sebuah tamparan dari tangan Vali melayang dipipiku. Tidak sakit, hatiku
jauh lebih sakit dari tamparan itu
“Kaka
mainin aku?” Mata Vali mulai berkaca
“Gak Val,
bukan gitu. Leo itu sahabat aku, aku gak mau dia salah pilih cewek. Dia itu
sayang banget sama kamu. Dan ternyata kamu cewe yang baik banget, kamu cocok
sama Leo. Aku pengen kenal dulu sama kamu, tapi Leo gak tahu itu” Kataku, aku
bisa melihat ada amarah dimata Vali
“Udah
cukup, kakak mau tahu jawaban aku kemaren apa sebenernya?” Tanya Vali, kulihat
air matanya siap untuk keluar
“Gak, gak
perlu kamu jawab. Itu gak ada gunanya Val” Jawabku, dadaku terasa sesak
“Kak tapi...”
“Val, gak
perlu. Aku gak bener-bener suka sama kamu. Yang beneran sama kamu itu Leo”
Kataku menahan sakit didada
“Jadi kaka
gak bener-bener suka sama aku? Kaka mainin aku ya?” Vali mengeluarkan air mata,
dan itu membuat hatiku semakin hancur
“Gak gitu
Val, tolong jangan salah paham, aku udah jelasin kan. Kamu baik, aku setuju
kamu sama Leo” Kataku meyakinkan Vali yang tidak melihat kearahku
“Maaf Val”
Kataku lagi setelah beberapa detik terdiam
“Udah, udah
cukup. Aku udah cukup tahu. Mending sekarang kaka pulang, toh jawaban dari aku
juga gak penting kan buat kaka” Kata Vali menghapus air matanya, seakan-akan
mencoba untuk bersikap biasa
“Leo gak
tahu ini, tolong jangan kasih tahu Leo” Kataku pada Vali yang sama sekali tidak
melihat kearahku
“Kaka
tenang aja, lagian sekarang kaka udah tahu kan gimana cewek yang disukain sama
sahabat kaka. Jadi gak usah pake ngetes-ngetes lagi, gak perlu” Kata Vali
“Val” Aku
mencoba agar Vali dapat melihat kearahku
“Udah kan?
Aku ngantuk kak, mau tidur. Kaka mending pulang, udah malem juga” Kata Vali
kemudian segera beranjak dari tempat duduknya dan masuk kedalam rumahnya. Ia
menutup pintu rumahnya, meninggalkanku yang masih duduk terpaku. Saat dia
menutup pintu rumahnya, kudengar tangisannya yang samar-samar, itu membuat
hatiku benar-benar hancur. Tak dapat kujelaskan bagaimana sesaknya dadaku saat
itu, aku segera beranjak dan pergi dengan air mata yang tiba-tiba mengalir
dipipiku.
Sebenarnya
aku ingin mengetahui jawaban Vali, aku ingin mengetahui isi hatinya, entah
mengapa aku sangat yakin bahwa Vali juga memiliki perasaan yang sama
terhadapku. Tapi tidak, tidak perlu kuketahui. Aku tidak perlu menanti lagi,
menanti jawaban yang tidak akan pernah ada jawabannya.
***
Semenjak
hari itu, aku tidak pernah lagi menemui Vali. Aku hanya mendengar cerita dari
Leo, ternyata Vali menerima Leo sebagai kekasihnya. Melihat Leo yang begitu
bahagia, membuatku senang meskipun dadaku terasa sakit. Aku tidak pernah
melihat Leo bahagia seperti itu, Ia terus tersenyum bahkan beberapa kali
mentraktirku sebagai tanda rasa senangnya.
Tidak
terasa dua tahun sudah berlalu, aku dan Leo meneruskan mimpi kami
masing-masing, begitupun dengan Vali. Sesuai dugaanku Vali mengambil jurusan
musik disalah satu perguruan tinggi swasta di kota ini, hal itu kudengar dari
Leo sementara Leo mengambil jurusan Teknik Industri dan aku saat ini sedang mengikuti
pendidikan di STMKG jurusan Meteorologi, sesuai impianku.
Sampai
suatu ketika, tiba saatnya hari ulang tahunku yang ke 20 tahun. Ibuku
mempersiapkan makan malam kecil untuk keluarga kami disebuah restoran. Ibuku
juga mengajak Leo yang ternyata saat itu datang bersama Vali. Aku, ibuku,
ayahku, Anya, ayah tiriku, adik tiriku, Leo dan Vali, kami duduk makan bersama
sambil menceritakan berbagai hal. Seperti yang telah kukatakan, ayahku dan ayah
tiriku sangat dekat, mereka bahkan berencana akan membangun bisnis bersama.
Sampai akhirnya ayahku, memperkenalkan seseorang malam itu. Seorang wanita
berhijab yang terlihat lebih muda dari ibuku. Aku bertanya-tanya dalam hati
siapa wanita yang dikenalkan pada kami sampai aku menduga ini pasti kekasih
baru ayahku. Saat itu umur ayahku adalah 45 tahun, Ia menikah dengan ibuku saat
berusia 24 tahun dan ibuku 22 tahun. Ibuku dan ayah tiriku kemudian terlihat mencoba
akrab dengan wanita yang diperkenalkan oleh ayahku. Aku mulai bosan dengan
obrolan ini, aku mengajak Leo dan Vali untuk pergi, tak lupa aku juga mengajak
Anya. Kami pergi meninggalkan makan malam itu untuk pulang kerumah, saat itu
waktu baru menunjukkan jam 9 malam. Sebelum kami berpisah ditempat parkir untuk
menuju mobil masing-masing, Leo memberikanku hadiah, katanya itu ilihan Vali. Aku
menerimanya dan memeluk sahabatku Leo, aku bahkan bertanya dalam hati kecilku,
mengapa aku sangat menyayangi orang ini.
Dalam
perjalanan pulang, aku teringat akan wajah Vali yang mana saat itu adalah
pertama kalinya aku melihatnya lagi setelah lebih dari dua tahun, dia tambah
cantik dan elegan namun tetap sederhana. Perasaan ini masih sama, aku masih
mencintainya. Diperjalanan Anya memintaku untuk berhenti didepan sebuah toko
pusat stasioner, katanya Ia ingin
membeli sebuah crayon untuk pelajaran seni lukisnya esok hari, aku mengikuti
permintaan Anya sekalian membeli beberapa pulpen dan buku catatan untuk
perluanku. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan untuk pulang kerumah. Sesampainya
dirumah, aku dan Anya masuk kedalam kamar kami masing-masing.
Aku duduk
dan membuka kado yang diberikan oleh Leo, sebuah jam tangan berwarna hitam, aku
tersenyum seiring dengan setitik air mata yang tanpa kusadari jatuh membasahi
pipiku, aku melihat jam itu, jam yang kata Vano pilihan dari Vali, teringat lagi
akan perasaanku pada Vali yang tidak akan pernah terwujud. Ayahku tiba-tiba
saja datang membuka pintu kamarku.
“Ayah masuk
ya?” Tanya ayahku yang berada didepan pintu
“Masuk aja
yah” Jawabku sambil segera menghapus sisa air mataku. Aku tidak tahu sejak
kapan air mataku begitu mudahnya jatuh sepertii ini. Aku memutar kembali
ingatanku pada terakhir kalinya aku menangis ketika mengetahui kedua orang
tuaku bercerai, setelah itu tak pernah lagi ada air mata yang jatuh sampai
akhirnya Vali datang seiring dengan rasa yang menyesakkan dada. Ayahku duduk
disampingku sambil menepuk pelan pundakku, sepertinya ada yang ingin Ia
sampaikan.
“Kamu tahu
Tante Dian?” Tanya ayahku
“Yang tadi
ayah kenalin itu?” Aku balik bertanya
“Iya,
gimana menurut kamu?”
“Maksud
ayah?” Aku mulai bisa membaca situasi, perasaanku mengatakan ayahku akan
menikahi wanita itu
“Kamu pasti
mengerti maksud ayah, kamu bukan Anya Dim”
“Ayah akan
nikah lagi?” Tanyaku memastikan pikiranku
“Iya sama
Tante Dian” Ayahku melihatku dengan tatapan berharap aku akan menyetujuinya
“Ayah
sayang sama dia?”
“Bukan
hanya sayang, dia berbeda dari wanita lain. Kamu tahu kan, setelah ayah
bercerai dengan ibumu, banyak wanita mendekati ayah tapi ayah tahu maksud
mereka yang hanya mengejar materi” Jelas ayahku, sedikit membanggakan dirinya,
aku tertawa kecil ditengah-tengah perkataan ayahku
“Ibadahnya
bagus, meskipun dia tidak secantik ibumu tapi ayah rasa dia bisa menjadi ibu
yang baik bagi kamu dan Anya” Lanjut ayahku, aku melihatnya dan tersenyum
“Aku
bahagia kalau ayah bahagia, gak usah khawatirin Anya, nanti aku yang kasih
pengertian ke dia, selama ini aku lihat Anya tumbuh jadi gadis yang baik”
Sebenarnya masih banyak yang ingin aku tanyakan pada ayahku tentang Tante Dian,
tapi entah mengapa mengingat wajah Tante Dian yang teduh dan sepertinya tulus pada
ayahku, aku mengurungkan niatku
“Ayah tidak
tahu kenapa ayah sangat bangga padamu dan Anya, dulu ayah sangat khawatir,
bagaimana kalian bisa tumbuh dengan orang tua yang telah bercerai. Satu-satunya
yang ayah pikirkan saat itu hanya kamu dan Anya Dim. Terimakasih sudah tumbuh
dengan baik, terimakasih sudah menjaga Anya” Kata Ayahku
“Anya itu
adikku Yah, aku tidak mungkin biarin dia tumbuh dengan liar” Ayahku tertawa
kecil mendengar perkataanku, begitupun denganku sampai akhirnya aku melanjutkan
ucapanku
“Apa ayah
mencintai ibu?” Tanyaku tiba-tiba, aku sendiri tidak tahu dari mana pertanyaan
itu berasal, terlontar begitu saja sampai membuat ayahku segera memandangku
kemudian kembali melihat kearah depan, kupandang wajah ayahku yang mulai
terlihat kerutan disekitar matanya
“Tentu,
dulu.. ayah sangat mencintainya, bahkan sampai saat ini ayah masih menyayangi
ibumu. Kamu tahu Dim, Tante Dian orang pertama yang bisa membuat ayah merasakan
hal yang sama seperti yang ayah rasakan pada ibumu” Jawab ayahku
“Bagaimana
ayah bisa bertahan melihat ibu dan suaminya? Ibu menikah lagi setelah setahun
bercerai dari ayah, malahan ayah sangat dekat dengan suami ibu. Bagaimana bisa
begitu Yah?” Aku bertanya seakan mewakili perasaanku, benakku mulai berkata ‘tolong ajari aku yah, ajari aku bagaimana
bertahan melihat orang yang kita cintai bahagia bersama orang lain’
“Ayah sudah mengenal suami ibumu jauh sebelum
ayah mengenal ibumu, dia lelaki yang sangat baik, bahkan pengorbanannya tidak
akan pernah bisa ayah lupakan” Jawab ayahku, dia menatapku lalau melanjutkan
perkataannya “Ayah sangat bahagia bisa memiliki orang seperti ibumu
sampai-sampai membutakan ayah dengan kejadian sebenarnya, sampai-sampai ayah
tidak pernah bertanya apakah ibumu juga merasakan hal yang sama” Kata Ayahku kemudian
terdiam, seperti merasa dia tidak seharusnya berkata seperti itu
“Maksud
ayah?” Tanyaku tak mengerti, ayahku kemudian memandangku
“Dim, ayah
bangga kamu tidak berontak dan tidak pernah bertanya alasan sebenarnya ayah dan
ibumu bercerai. Ayah selama ini kuat karena melihatmu dan Anya tumbuh dengan
pribadi sangat baik. Sudah saatnya kamu tahu yang sebenarnya, ayah tidak bisa
menyimpan ini terlalu lama dan ayah juga tidak ingin kejadian ini terulang padamu”
Jelas ayahku, membuatku semakin menunggu penjelasan selanjutnya dari dia. Aku
tidak berkata apa-apa, kutatap ayahku yang sebentar lagi akan memberitahuku
tentang pertanyaanku selama ini, penantian sebuah jawaban yang aku simpan
selama 10 tahun
“Dim,
dulu.. ayah memiliki sahabat, kami selalu bersama, kamu tahu dulu ayah
merupakan mahasiswa yang sangat aktif berlembaga berbeda dengan sahabat ayah
itu yang sangat cuek dengan hal disekelilingnya. Tapi dia selalu mendukung
apapun keputusan ayah bahkan membantu ayah mengerjakan beberapa pekerjaan, seperti
persahabatanmu dan Leo. Sahabat ayah itu banyak didekati oleh gadis-gadis
cantik dan populer dikampus, dia terima saja setiap ada gadis yang menyukainya,
berbeda dengan ayah yang tidak mudah begitu saja menerima seorang gadis, ayah
tidak suka gadis agresif. Sampai akhirnya.. ayah bertemu dengan ibumu yang
mengubah segala sudut pandang ayah. Ibumu dulu termasuk dalam tim paduan suara,
suaranya sangat merdu” Jelas ayahku, entah mengapa kepribadian ayah
mengingatkanku pada Leo
“Iya, Ibu
dulu sering nyanyiin lagu sebelum tidur buatku Yah” Kataku kemudian ayahku
tersenyum dan melanjutkan perkataannya “Ayah menikahi ibumu setelah dia
menyelesaikan kuliah S1 nya. Ayah sangat bahagia, apalagi saat kamu dan Anya
lahir” ayahku menghela napas lalu melanjutkannya “Suatu hari, ayah mendapatkan
buku harian lama milik ibumu yang tanpa sengaja ayah lihat saat kami menginap
dirumah nenekmu. Tanpa sepengetahuan ibumu, ayah membacanya, berharap bahwa
ayahlah orang yang Ia tuliskan dalam buku hariannya. Tapi ternyata tidak”
“Maksud
ayah?”
“Ibumu
mencintai orang lain Dim, sahabat ayah, Dito” Kata ayahku yang membuat mataku
membesar, aku tidak percaya ini. Ya Tuhan, apa ini, kenapa kisah ini mirip
denganku
“Jadi sahabat
ayah itu, suami ibu saat ini?” Tanyaku dan ayah dengan pelan menganggukkan
kepalanya. Entah mengapa, tubuhku tiba-tiba lemas mendengar pengakuan ayahku
“Ternyata,
sahabat ayah itu berkorban untuk ayah. Dia menyimpan perasaannya selama
bertahun-tahun. Buku harian ibumu seakan memberikan ayah semua jawaban dari
pertanyaan-pertanyaan yang tersimpan dalam benak. Pantas saja sahabat ayah itu
belum menikah dan tidak pernah terlihat menggandeng wanita lain, bahkan
beberapa kali ayah mendapati ibumu menangis, ketika ayah tanya katanya rindu
dengan ibunya. Ternyata mereka berdua berkorban untuk ayah” Jelas ayahku
“Kenapa ibu
menikahi ayah kalau dia mencintai orang lain?”
“Kamu tahu,
sampai sekarang ayah masih ingat dengan jelas tulisan ibumu” Ayahku seakan
kembali kemasa lalunya, Ia menceritakan bagaimana Ia membaca tulisan ibuku.
“Dalam buku
itu tertulis ‘Anne, saya tidak pernah
memintamu untuk bersamaku, jika kamu meninggalkan Bian, saya pun juga tidak
akan bersamamu, maka kamu akan kehilangan dua orang yang sangat mencintaimu.
Bian akan membahagiakanmu lebih dariku, dia sangat mencintaimu, dia tidak akan
pernah mengecewakanmu, saya sangat mengenalnya, dia sahabatku. Percaya padaku’”
Perkataan ayahku membuatku kembali teringat bagaimana aku meminta Vali untuk
bersama dengan Leo. Apa ini? mengapa cerita ayahku seakan membawaku pada masa
depan Vali dan Leo
“Terus, apa
yang ayah lakukan?” Tanyaku penasaran setelah beberapa saat terdiam
“Ayah
marah, sangat kecewa, sedih tapi juga bangga pada mereka berdua. Ketulusan
mereka meluluhkan hati ayah. Tentu ayah memerlukan waktu untuk berpikir dengan
baik dan jernih. Mereka sudah banyak berkorban, ibumu, benar-benar wanita yang
tangguh dan sabar. Sampai akhirnya, ayah ingin mengembalikan ibumu pada
cintanya. Tapi ayah memikirkanmu dan Anya, butuh beberapa bulan hingga
akhirnya, ayah yakin.. melepaskan ibumu adalah hal yang tepat dan terbaik”
Jelas ayahku
“Ayah,
bagaimana bisa ayah sekuat itu?”
“Pengorbanan
ayah tidak ada bandingnya dengan pengorbanan ibumu dan sahabat ayah itu.
Awalnya sahabat ayah itu tidak ingin ayah menceraikan ibumu, namun ayah tidak
bisa terus bersama dengan orang yang tidak sepenuhnya mencintai ayah” Kata
ayahku kemudian Ia diam beberapa detik dan meneruskannya kembali “Dimas, ibumu
sangat menyayangimu dan Anya, saat memutuskan untuk bercerai, kami sama-sama
berjanji akan memberikan apa saja untuk kalian berdua, kami tidak akan
kepengadilan hanya untuk memperebutkan hak asuh anak, karena kalian berhak
mendapatkan kasih sayang dari ibu dan ayah kalian, sebenarnya ayah yang meminta
agar kamu dan Anya tetap tinggal bersama ayah” Jelas ayahku, sementara aku
benar-benar kehabisan kata-kata, tidak tahu harus berkata apalagi. Ternyata
alasan mereka bercerai jauh dari bayanganku sebelumnya, bagaimana bisa serumit
ini.
“Dimas,
dengarkan ayah, jika kamu mencintai seseorang, jangan merelakan dia bersama
orang lain jika dia juga mencintaimu. Kalian hanya akan sama-sama berkorban.
Maafkan ayah dan ibumu Dim, kamu dan Anya akhirnya juga jadi ikut berkorban
demi kami” Perkataan ayahku kali ini membuatku memeluknya, aku bisa merasakan
kesedihan yang teramat dalam. Inikah yang akan terjadi jika aku terus
membiarkan Vali bersama dengan Leo. Tapi aku tidak tahu bagaimana sebenarnya
perasaan Vali terhadapku bahkan aku tidak membiarkannya menjawab pertanyaanku
yang memintanya untuk menjadi kekasihku.
Keesokkan
harinya, aku duduk ditaman belakang rumahku, tempat yang tepat untuk
menenangkan pikiran. Ayahku mendesain rumah ini pasti dengan banyak
pertimbangan sehingga Ia bisa membuat rumah yang menurutku sangat nyaman. Aku
mendengar langkah kaki yang rasanya semakin dekat denganku. Kulihat
sekelilingku dan kudapati ayah tiriku berjalan kearahku. Aku bisa menebak,
ayahku pasti sudah memberitahukan padanya kalau dia sudah menceritakan
semuanya. Ayah tiriku kemudian duduk disampingku sambil menepuk pelan pundakku,
aku tersenyum melihatnya. Setelah beberapa saat terdiam Ia mulai bersuara
“Dimas, maafkan
saya, gara-gara saya, kamu dan Anya jadi korban atas kesalahan kami, kamu dan
Anya akhirnya harus menerima perceraian orang tua kalian” Katanya tanpa
basa-basi
“Bapak gak
salah, gak ada yang bisa disalahin” Kataku padanya
“Ayah dan
ibumu beruntung punya anak kayak kamu Dim” Aku hanya tersenyum mendengar
perkataannya. Kemudian ayah tiriku mulai bersuara lagi “Dim, kadang kita
berpikir kita hanya perlu berkorban untuk membahagiakan orang yang sangat kita
cintai. Tapi masalah hati, kita tidak bisa bermain dengan hal itu. Kamu tahu,
dulu saya pikir, membiarkan ibumu menikah dengan ayahmu adalah hal yang tepat,
tapi ternyata itu sangat salah. Saya terlalu takut kehilangan seorang sahabat
seperti ayahmu, dan itu membuat saya sadar, seharusnya saya lebih percaya
terhadap ayahmu”
“Maksud
bapak?” aku tidak mengerti dengan perkataannya yang terakhir
“Seharusnya
saya percaya padanya, dia tidak mungkin meninggalkan saya hanya karena kami
mencintai wanita yang sama, apalagi kalau wanita itu mencintai saya, dia pasti
akan dengan ikhlas merelakan hal itu, karena dia sahabat saya, dia pasti akan
bahagia untuk kami” Perkataan ayah tiriku membuatku memandangnya, memandangnya
seakan aku melihat cerminan diriku. Ya Tuhan, apakah ini tanda darimu. Apakah
ini yang akan terjadi dimasa depan jika aku terus membiarkan Vali bersama Leo.
Akankah Leo nantinya akan lebih kecewa lagi ketika dia mengetahui hal yang
sebenarnya seperti ayahku?
“Dim, saya
pikir waktu itu saya hanya perlu berkorban untuk membiarkan ibumu menikahi
ayahmu. Tapi ternyata tidak, saat itu saya malah menyakiti ayahmu, sahabat yang
sangat saya sayangi. Benar kata orang, satu kebohongan akan menimbulkan banyak
kebohongan lain. Apalagi ini masalah hati. Kadang kita hanya perlu menerima
kenyataan, bukan menolaknya dan mencari pembenaran lain, seakan kita tidak
terima dengan kenyataan itu” Jelas ayah tiriku menasehati. Aku terus terdiam,
kurasa dia menyaari bahwa aku sedang memikirkan sesuatu
“Saya harap
kamu gak mengulang kesalahan saya, jangan Dimas, jangan kamu berpikir hanya
kamu saja yang berkorban, yang ada kalian hanya akan sama-sama berkorban
nantinya, bahkan akan menambah orang lain lagi untuk berkorban karena salah
dalam memahami hati” Lanjutnya, aku merasa Ia mengetahui isi kepalaku
“Kenapa
bapak bilang gini ke saya?” Tanyaku akhirnya, seakan-akan tidak mengerti apa
yang dikatakannya
“Gadis yang
ikut makan malam dengan kita kemarin, kamu menyukainya kan? Siapa namanya?
Valerie ya?” Pertanyaan ayah tiriku membuatku mengalihkan pandanganku darinya,
kemudian kemudian Ia tertawa kecil dan melanjutkan perkataannya saat melihatku
tidak memberikan tanda-tanda akan menjawab “Kamu gak bisa bohong soal ini Dim,
saya bisa lihat dari mata kamu juga dengan mata dia, cara kalian yang saling bergantian
memandang, itu pernah saya rasakan dulu dengan ibumu. Dan saya harap kamu sudah
memastikan bahwa dia memang benar-benar mencintai Leo, bukan kamu. Karena kamu
tahu kan, apa yang nanti bisa saja terjadi kalau ternyata dia mencintai kamu,
bukan Leo”
“Pak,
bagaimana saya tahu perasaan dia, memberikan dia kesempatan untuk menjawab
pertanyaan saya saja tidak saya berikan” Kataku tiba-tiba, aku merasa telah
terpancing olehnya
“Kalau
begitu pastikan sekarang” Ujarnya sambil terus memandangku
“Gak bisa
Pak, dia udah sama Leo”
“Apa
salahnya meminta jawaban dari dia, hanya memastikan, kamu gak kasihan sama Leo
kalau ternyata Valerie tidak benar-benar mencintainya? Kalau Vali memang benar
mencintai Leo, maka dalam hal ini kamu memang harus merelakannya. Tapi kalau
ternyata dia mencintai kamu bagaimana?”
“Bagaimana
dengan Leo?”
“Leo akan
baik-baik saja, percaya saja sama dia. Kamu sahabatnya kan? Kamu seharusnya
tidak meragukan kesetiaan dia. Kalau dia memang benar-benar menganggap kamu
sahabatnya, dia tidak akan mungkin meninggalkanmu hanya karena kamu dan Vali
saling mencintai. Bahkan nanti dia akan kecewa karena kamu meragukan kesetiaan
dia” Perkataan Ayah tiriku membuat aku benar-benar berpikir saat itu, aku
membenarkan ucapannya. Memang benar, aku menganggap bahwa akulah yang berkorban
untuk mereka, tapi kalau Vali ternyata mencintaiku, berarti aku membiarkan
orang yang kucintai juga berkorban dan begitu pun dengan Leo jika nantinya dia
mengetahui yang sebenarnya dan semua itu hanya karena pikiranku yang tidak
ingin kehilangan sahabat seperti Leo.
“Dimas,
bagaimanapun pintarnya kamu menyembunyikan kebohongan, nanti pasti akan
terbongkar juga. Jangan mengulangi kesalahanku Dim” Katanya kemudian. Aku
tersenyum melihatnya “Pak, terimakasih pak, aku akan ke Vali sekarang” Ucapku
sambil beranjak dari tempatku, ayah tiriku tersenyum dan menepuk pelan pundakku
seakan memberi semangat.
Aku segera
menjalankan mobilku sambil mengingat perguruan tinggi tempat Vali berkuliah.
Leo pernah mengatakannya padaku, sekarang aku hanya perlu mengingatnya,
perguruan tinggi swasta, oke sekarang aku ingat. Aku mengemudikan mobilku
melewati beberapa jalan hingga sampai ketempat tujuanku. Aku bertanya pada
beberapa mahasiswa yang berada disekitar kampus itu, syukurlah jarak jurusan
musik tidak jauh dari tempatku berada.
Saat sampai
di Jurusan Musik, aku bertanya lagi pada beberapa mahasiswa apakah ada yang
mengenal dan mengetahui keberadaan Valerie, hingga sampai akhirnya aku
menemukan Vali. Aku melihatnya duduk disebuah taman kampus yang hijau, Ia duduk
sambil membaca sebuah buku. Dia masih sama, masih cantik dan manis. Aku
menghampirinya, aku tidak memikirkan kata-kata yang akan kuucapkan. Aku hanya
ingin mengetahui perasaan Vali terhadapku, yah.. hanya itu.
“Hei Val”
Sapaku padanya yang kemudian memandangku
“Kak
Dimas?” Vali memperlihatkan ekspresi terkejutnya. Aku duduk disampingnya
“Val,
sebelumnya saya bener-bener minta maaf sama kamu”
“Soal?”
Tanya Vali, aku menghela napas lalu mencoba menjawab pertanyaan Vali
“Maaf, dulu
saya bilang saya cuman pura-pura dekatin kamu, saya bilang saya gak bener-bener
sayang sama kamu. Itu semua bohong Val, saya gak pernah main-main sama kamu,
saya gak pernah pura-pura suka sama kamu. Sebenernya saya gak tahu kalau
ternyata orang yang disukai Leo itu kamu. Saya kayak gitu karena saya gak mau
persahabatan saya sama Leo rusak hanya karena kita suka sama cewek yang sama”
Jawabku menjelaskan kejadian sebenarnya
“Terus?”
“Ya terus,
saya mau minta maaf. Tolong maafin saya Val, saya salah. Saya rela kok kamu
nampar saya lagi, terserah kamu mo ngapain saya” Kataku, aku melihat Vali terus
memandangku, aku tidak dapat menebak apa yang sedang Ia pikirkan
“Iya aku
maafin kok” Katanya kemudian, seakan Ia tidak peduli dengan pernyataanku
“Saya boleh
nanya sesuatu?”
“Apa?”
“Tentang
perasaan kamu, apa kamu benar-benar mencintai Leo?” Tanyaku
“Apa
gunanya kaka tahu? Gak penting juga kan” Vali balik bertanya
“Saya harus
tahu Val” Kataku mencoba meyakinkan Vali
“Maksud
kaka apa sih? Dateng tiba-tiba, pergi terus ngilang tiba-tiba, terus sekarang
dateng lagi. Kaka pikir bisa datang pergi gitu aja, aku udah gak punya urusan
sama kaka” Vali sedikit meninggikan suaranya kemudian Ia beranjak dari tempat
duduknya dengan membawa buku yang tadi dibacanya. Aku mengejarnya dan menarik
pelan tangannya agar dia berhenti berjalan
“Val, aku
ngaku salah, salah banget. Tolong, aku cuman mau tahu perasaan kamu” kataku
padanya, angin yang brhembus saat itu membuat rambutnya menutupi sebagian
wajahnya
“Bukannya
kaka gak peduli dengan perasaan aku? Bukannya kaka gak mau tahu dengan itu?
Kaka sendiri kan yang minta aku buat gak usah ngasih jawaban” Vali benar-benar
meninggikan suaranya
“Iya Val,
aku minta maaf, aku memang salah. Tapi sekarang aku sadar, aku harus tahu
perasaan kamu, aku gak bisa terus kayak gini Val” Ucapku seiring dengan mata
Vali yang melihat kearahku, aku bisa melihat emosinya mulai meredah, kami
sama-sama terdiam, hanya saling menatap untuk beberapa saat kemudian aku
melihat air mata jatuh membasahi pipinya
“Kaka mau
tau jawabannya?” Vali bertanya dan aku hanya menganggukkan kepalaku kemudian Ia
melanjutkan perkataannya “IYA, jawabannya iya. Waktu itu akum au jawab iya akum
au jadi pacar kakak” Vali sedikit meninggikan suaranya “Aku sayang sama kaka,
tapi kaka jahat, kaka gak kayak Kak Leo. Aku sayang sama kaka tapi kaka gak
peduli. Kaka udah buat aku sayang sama kaka tapi kaka gak peduli. Sekarang aku
udah sama Ka Leo” Vali berkata sambil memukul-mukul pelan buku yang dipegangnya
kelenganku, entah mengapa aku bisa merasakan kesedihannya. Aku lalu memeluknya,
kupeluk dia yang masih menangis dengan kata-katanya yang membuat dadaku sesak
“Kaka gak tahu gimana susahnya aku ngelupain kaka selama ini. Ka Leo baik
banget kak, aku gak akan sanggup nyakitin dia” Vali masih menangis dan aku
masih memeluknya
“Val, kita
selesaiin ini bareng-bareng, percaya sama aku, Leo sahabat aku, dia pasti bisa
ngerti” Aku melepaskan pelukanku seiring dengan kulihatnya Leo yang berada
tidak jauh dari kami. Ia melihatku juga Vali, dia melihat kami dengan tatapan
terkejut, aku bisa melihat dahinya yang mengkerut.
“Yo..” Aku
mencoba menghampirinya namun Ia berlari menjauh dari kami, dia pasti melihat
aku dan Vali berpelukan. Aku mengejar Leo, namun Leo berlari sangat cepat
hingga aku hanya bisa melihat mobilnya yang melaju dengan kencang. Aku
menghampiri Vali yang terlihat sangat cemas, kemudian aku meyakinkan Vali bahwa
semuanya akan baik-baik saja. Aku akan mengurus ini, kutinggalkan tempat itu
dan Vali yang masih merasa cemas. Kususul Leo kerumahnya, namun saat sampai
dirumah Leo, tak kulihat mobilnya, saat kutanya pada seorang asisten rumah
tangga dirumahnya ternyata Leo belum pulang kerumahnya. Aku segera pergi
meninggalkan rumah Leo sambil berpikir dimana sebenarnya keberadaan Leo. Sampai
akhirnya aku teringat akan suatu tempat, tempat dimana hanya aku dan Leo yang
tahu.
Dugaanku
benar, aku melihat Leo sedang duduk menatap kosong kearah depan, itu sebuah
tempat dengan pemandangan danau dan pohon yang tumbuh dengan rindang. Aku
menghampirinya dan duduk disebelahnya. Aku diam begitupun dengannya, kubiarkan
keadaan ini, aku membiarkan Ia menenangkan pikirannya terlebih dahulu. Sampai
beberapa saat kemudian Ia mulai bersuara
“Lu tahu
tempat ini kan?” Tanya Leo dengan masih memandang kedepan, kearah danau
“Tempat
main waktu kita kecil” Jawabku
“Bukan,
tempat ini tempat pertama kali yang lu datengin saat lu benar-benar hancur”
Kata Leo yang mengingatkanku pada saat dimana orang tuaku bercerai. Iya, saat
itu aku berlari dari sekolah dan pergi ketempat itu. Tempat dimana setiap bulan
kedua orangtuaku membawaku dan Leo untuk piknik ditempat itu. Aku hanya diam,
lalu Leo bersuara kembali “Saat ini gue tahu kenapa waktu itu lu lari kesini,
gue juga hancur Dim” Ucapan Leo membuat hatiku juga hancur
“Yo, tolong
dengerin gue..” Kataku sampai Leo memotongnya “Kenapa lu sih Dim? Kenapa harus
elu yang ngerebut Vali?” Ucapan Leo kali ini menyesakkan dadaku
“Yo, gak
gitu Yo, jangan salah paham dulu..” Aku tidak bisa melanjutkan perkataanku, Leo
kembali memotongnya “Gue denger Dim, gue denger Vali suka sama lu. Lu ngapain
sih, dateng kekampusnya Vali terus meluk dia”
“Yo, please, dengerin gue dulu. Gue jelasin
semuanya sekarang, tolong dengerin gue sebagai sahabat lu” Kataku pada Leo yang
kulihat mulai meredahkan emosinya. Aku mencoba membujuk Leo untuk
mendengarkanku dan menenangkan pikirannya. Ketika kulihat dia sudah mulai
tenang, aku menceritakan semuanya pada Leo. Kuceritakan bagaimana aku bertemu
dengan Vali, kemudian jatuh cinta padanya, sampai aku berpura-pura tidak
mengenal Vali dan membiarkan mereka berdua bersama hingga datang ke kampus Vali
untuk menanyakan kepastian hatinya.
Setelah
mendengar penjelasanku, kulihat Leo menundukkan kepalanya kemudian Ia
memandangku, matanya merah berkaca, Ia memandangku tanpa berkata apa-apa, aku
pun juga memandangnya. Sampai akhirnya Leo memelukku setelah beberapa saat kami
sama-sama terdiam.
“Lu kenapa
sih Dim, kalau kayak git ulu malah nyakitin gue, lu nyakitin Vali” Ucap Leo
sambil melepas pelukannya
“Iya gue
salah, gue minta maaf Yo, gue pikir itu yang terbaik tapi ternyata enggak Yo”
Kataku
“Yang
pastinya gue butuh waktu Dim, gue belum bisa ketemu Vali, gue juga belum bisa
ketemu lu. Tolong kasih gue waktu” Kata Leo
“Iya Yo,
gue paham. Tapi tolong maafin gue, gue gak mau kehilangan sahabat kayak lu”
Kataku pada Leo, aku benar-benar takut dia akan menjauhiku, aku takut waktu
yang dia katakana adalah untuk selamanya tidak bisa bertemu aku dan Vali.
Beberapa saat kemudian Leo pergi, meninggalkan tempat itu, aku masih duduk
terdiam berharap Leo memaafkan ketidakjujuranku.
***
Beberapa
minggu kemudian, pernikahan ayahku dan Tante Dian diadakan disebuah ballroom
hotel. Sebuah pernikahan yang sederhana, hanya keluarga besar dan rekan kerja
ayahku saja yang diundang malam itu. Sementara itu, aku menunggu kedatangan
seseorang yang kuharap akan datang saat itu. Aku keluar dari pesta, pergi ke
balkon hotel, menikmati pemandangan lampu-lampu malam dari atas. Sampai
akhirnya aku mendengar langkah kaki yang mendekatiku, kubalikkan badanku dan kulihat
Leo dan Vali yang datang bersama, aku sempat terpesona dengan kecantikan Vali
saat itu namun aku lebih bahagia karena untuk pertama kalinya aku dapat bertemu
dengan Leo setelah kejadian beberapa minggu yang lalu.
“Leo,
akhirnya lu dateng juga” Aku memeluk Leo dan kemudian melepasnya
“Nih gue
bawain” Leo menunjuk Vali dengan dagunya, aku melihatnya dengan tatapan bingung
“Udah
seharusnya Vali sama lu kan” Leo mengambil tanganku dan mempersatukannya dengan
tangan Vali, seiring dengan melangkahnya Vali agar dapat sejajar denganku
“Yo, gue
gak tahu harus bilang apa” Kataku
“Apaan sih,
emang udah seharusnya kan kalian sama-sama. Makasih ya Dim, udah mau jujur dan
makasih udah ngasih gue kesempatan untuk bareng sama Vali” Kata Leo padaku kemudian
Ia memandang Vali dan mulai bersuara “Val, maaf karna perasaanku kamu jadi
ngorbanin perasaan kamu” Kata Leo pada Vali
“Gak usah
minta maaf kali kak, aku bersyukur udah kenal jauh sama Ka Leo” Ucap Vali dan
tersenyum diakhir perkataannya. Kami bertiga pun tertawa, entah apa yang
membuat kami tertawa. Sampai akhirnya Anya datang menghentikan tawa kami
“Kak Dimas,
kok disini sih? ayah panggil tuh buat foto” Kata Anya yang sudah berada
dihadapan kami
“Oh yaudah
kesana yuk” Ajakku
“Ehm, Dim..
kalau gue jadi adik ipar lu aja gimana?” Pertanyaan Leo membuatku memandangnya,
aku tidak tahu dia serius atau bercanda. Tapi kulihat matanya memandang Anya,
berbeda saat kami masih SMA dulu.
“Adik gue
baru 15 tahun ya Yo, awas lu macem-macem” Ucapku kemudian tertawa kecil, Vali
juga tertawa
“Mending ama
gue lagi, cowok diluar sana banyak yang brengsek tauk” Kata Leo
“Apaan sih”
Ucapku sambil mulai melangkahkan kakiku dengan Vali yang menggandeng tanganku.
Aku melirik Leo yang berada dibelakangku, kulihat dia mencoba menyamakan
langkah kakinya dengan Anya dan samar-samar kudengar Ia berkata pada Anya “Nya,
cepet gede dong” sementara Anya hanya memandangnya dengan tatapan tidak bingung.
Aku hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah Leo dan kepolosan Anya, dalam
benakku sangat senang jika Anya bisa bersama dengan orang seperti Leo.
***
THE END

0 comments:
Post a Comment