Sunday, May 14, 2017

MENANTI SEBUAH JAWABAN


Aku melihat dari balik jendela ruangan kelas XII IPA 2, hari ini mendung dan sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Aku segera mengeluarkan jaket dari tas ransel hitamku dan mulai beranjak dari bangku tempat dudukku.
“Dim, bentar anak-anak pada ngumpul tuh di cafe biasa. Gak ikutan?” Tanya Leo, teman sekelasku. Bukan, dia bukan hanya sekedar teman bagiku, dapat dibilang dia sudah seperti saudaraku sendiri. Dia sudah mengenalku sejak kami masuk di Sekolah Dasar yang sama. Apapun keadaanku, Leo selalu mendukungku bahkan disaat-saat yang paling terpuruk sekalipun, Leo selalu ada seakan-akan dia telah mengetahui segala isi hatiku meskipun aku tidak mengatakannya. Aku hidup hanya bersama dengan ayah dan adik perempuanku yang saat ini baru saja memasuki Sekolah Menengah Pertama. Ayah dan ibuku bercerai ketika aku masih berusia 10 tahun dan adikku baru saja berusia 5 tahun. Saat ini ibuku telah menikah lagi dan memiliki seorang anak perempuan, entah bagaimana aku dan adikku lebih memilih tinggal bersama dengan ayah. Meskipun begitu, aku tidak pernah merasa kesepian karena Leo selalu menemaniku.
Entahlah, mungkin hanya aku teman satu-satunya yang dia miliki.
“Boleh” Aku menjawab singkat
“Oke, ntar gue kerumah lu dulu deh”
“Yaelah meskipun lu gak ngomong gue juga tau kok lu bakal mampir dulu. Pasti mau liat Anya kan lu”
“Enak aja, yah tapi kalau dibolehin abangnya boleh juga sih” Leo nyengir
“Sialan lu, adik gue masih kecil banget tau, baru aja masuk SMP. Awas yah lu”
“Santai, jangan galak-galak lah ke adik ipar” aku memukul pelan pundak Leo sambil tertawa dan begitupun dengan Leo. Entah sejak kapan aku mulai suka mengejek Leo dengan mengatakan bahwa dia menyukai adik perempuanku, dan Leo pun merespon hal itu dengan seakan-akan Ia memang suka dengan adik perempuanku, Anya. Namun aku tahu itu hanya lelucon kami berdua saja, Leo tidak benar-benar menyukai adikku, aku bisa melihat itu dimatanya. Selain itu, setauku selama ini Leo telah menyukai seseorang, aku tidak pernah melihatnya tapi dia selalu menceritakan orang itu. Leo memang terkadang menjadi orang yang sibuk dengan pikirannya sendiri.
Dimas Nugraha, itulah namaku. Nama yang diberikan oleh ibuku yang saat ini telah bahagia bersama dengan keluarga barunya. Meskipun begitu, setiap bulan Ia selalu menyempatkan waktunya untuk bertemu aku dan adikku, mengecek setiap keperluan kami dan memastikan kami tidak kekurangan apapun. Hubungan antara ayah dan ibuku juga sangat baik meskipun mereka telah bercerai, alasan mengapa mereka berpisah pun tidak pernah mereka jelaskan secara jelas padaku apalagi adikku. Ayahku hanya mengatakan bahwa perpisahan bukan berarti kau kehilangan orang itu hanya saja kau diberikan kesempatan untuk mengetahui seperti apa itu ikhlas. Ayahku tidak pernah menceritakan kejelekan ibuku, begitupun dengan ibuku. Ayahku selalu berkata “Ibumu merupakan wanita yang luar biasa, dia tidak akan pernah benar-benar meninggalkanmu, hanya saja biarkanlah dia menemukan kebahagiaannya” sedangkan ibuku selalu berkata “Ayahmu laki-laki yang tangguh, dia akan mengajarimu cara memperlakukan wanita dengan benar. Belajarlah dari dia”. Mungkin perkataan ayahku masih bisa kumengerti, namun aku memerlukan waktu yang lebih untuk mengerti perkataan ibuku. Dia mengatakan bahwa aku harus belajar dari ayahku yang tangguh, apakah mungkin maksudnya tangguh karena telah merelakan ibuku bahagia bersama dengan orang lain? Aku tidak mengerti dengan mereka berdua, mereka terlihat sangat baik-baik saja bahkan aku tidak pernah mendengar mereka bertengkar.
Suami baru ibuku pun juga baik terhadap ayahku, kami pernah berlibur kepuncak bersama dan mereka terlihat dekat bahkan ibuku masih perhatian pada ayahku. Anya juga dekat dengan anak perempuan ibuku yang saat ini masih duduk dibangku Sekolah Dasar. Aku benar-benar tidak mengerti, aku tidak mengerti dengan ayah dan ibuku, aku selalu saja ingin menanyakan alasan mereka memutuskan untuk bercerai. Apakah karena masalah ekonomi? Tidak, tidak mungkin karena ayahku merupakan seorang arsitek bahkan memiliki usaha sendiri dan selama ini kami hidup berkecukupan bahkan aku merasa lebih dari cukup. Apakah karena ayah selingkuh? Tapi tidak mungkin, ibuku selalu mengatakan bahwa ayah lelaki yang tahu memperlakukan wanita dengan benar, tidak mungkin ayah selingkuh. Atau apakah ibu yang selingkuh dengan suaminya yang sekarang? Tapi ayahku mengatakan bahwa ibuku wanita yang luar biasa jadi tidak mungkin ibuku selingkuh. Lantas apa alasannya, aku selalu ingin tahu namun ayah maupun ibu tidak pernah benar-benar menjelaskannya, aku seperti mendengar mereka hanya memuji satu sama lain, aku merasa ada yang mereka sembunyikan dan tidak ingin aku maupun adikku tahu. Kenapa mereka tidak bersama saja? Apakah mereka tidak saling mencintai? Lalu mengapa mereka menikah? Aku selalu ingin mengatakan hal itu, namun jika melihat wajah ayah dan ibuku, aku seperti tidak mampu berkata apa-apa lagi, aku melihat ketulusan dimata mereka yang membuatku menjadi tenang dan tidak mengkhawatirkan apapun. Yah, aku memutuskan untuk membiarkan urusan mereka biarlah mereka yang mengetahui, selama kami masih berhubungan baik tidak masalah bagiku. Aku bersyukur lahir dikeluarga ini, meskipun orangtuaku bercerai namun aku tidak merasa kehilangan kasih sayang dari keduanya.
Aku dan Leo berjalan hingga sampai ke tempat parkir sekolah dan mulai menghampiri motor kami yang jaraknya tidak berjauhan. Seperti biasa Leo selalu menancap gas motornya terlebih dahulu seakan-akan dia mengajakku untuk melakukan balap motor namun itu tidak benar-benar terjadi, terlalu banyak lelucon antara aku dan Leo hingga aku tidak dapat membedakan kapan disaat Ia serius dan bercanda. Kali ini aku membiarkannya melaju sendirian, entahlah hari ini aku seperti ingin menikmati cuaca mendung yang biasanya sangat panas di kota ini.
Motor kubiarkan melaju dengan kecepatan 40 km/jam, dengan perhitungan insting aku memastikan akan sampai dirumah sebelum hujan turun meskipun dengan kecepatan sedang. Perlahan aku menyusuri setiap jalan sambil menikmati dinginnya hari ini sampai disuatu persimpangan jalan, aku melihat ada seorang gadis dengan pakaian seragam yang sudah tak asing lagi bagiku, yah seragam itu adalah seragam sekolahku, aku sangat mengenali warna roknya. Aku memperhatikannya dari jauh, perempuan itu terlihat kebingungan sambil sesekali melihat mobil didepannya hingga aku menghentikan motorku dibelakang mobil yang kupikir itu adalah mobilnya.
“Ada apa?” Tanyaku, gadis itu melihatku dengan mata berbinar, aku bisa melihat bola matanya yang sempat melihat celanaku dan aku tahu Ia pasti mengetahui bahwa kita bersekolah ditempat yang sama.
“Anak Nusa Bangsa juga? Wah kebetulan dong” sahut perempuan itu, Ia nampak gembira dan aku pun tersenyum, bukan karena melihatnya gembira namun karena tebakanku benar bahwa Ia memperhatikan warna celanaku yang pastinya juga tidak asing baginya. Aku pun turun dari motorku dan mendekati gadis itu
“Ini mobilmu? Mobilmu mogok ya?” Tanyaku sambil memperhatikan wajahnya, sepertinya Ia mengikat rambut panjangnya dengan asal-asalan karena terlihat tidak rapi, wajahnya juga berkeringat, padahal siang ini mendung dan cuaca cukup dingin.
“Iya nih, gue bingung banget, gue mau hubungi temen gue tapi gak bisa soalnya hp gue juga baterainya abis dan gue gak ngerti apa-apa soal ini. Lo bisa bantuin gue gak?”
“Yaudah gue coba liat dulu deh” Aku mulai memeriksa mesin mobil itu, sebenarnya aku tidak terlalu paham dengan otomotif, tapi aku biasa melihat ayahku saat memeriksa mobilnya yang mogok ketika perjalanan sehingga aku mencoba untuk mengingat apa yang ayahku lakukan saat memeriksa mobilnya.
“Kayaknya mesinnya deh, yah sebenernya sih gue juga gak terlalu paham sama otomotif jadi mending bawa ke bengkel aja biar aman”
“Gimana caranya bawa kebengkel, ini aja gak bisa jalan” aku berpikir sejenak, kemudian aku mencoba untuk menolong gadis malang ini
“Yaudah gini aja deh, gue bakal cek dulu ke arah jalan sana kali aja ada bengkel yang deket dari sini, ntar gue panggilin deh orangnya kesini”
“Serius? Wah makasih banget ya” gadis itu terlihat sangat bahagia, senyum lebar diwajahnya juga begitu manis. Ah, apa yang kupikirkan
“Yaudah mending lo masuk aja dulu kedalem mobil, daripada nunggu diluar ntar kenapa-napa lagi. Gue pergi dulu ya”
“Iyaa, makasih banyak ya. Gue nunggu sini” gadis itu terlihat menungguku hingga pergi dan dia masuk kedalam mobilnya saat motorku sudah mulai berjalan menjauh, itu dapat terlihat jelas dari kaca spion motor ini. Tidak begitu membutuhkan perjalanan yang jauh, aku menemukan sebuah bengkel yang hanya berjarak sekitar 1 km dari tempat gadis itu. Setelah menjelaskan keadaannya pada salah satu montir akhirnya aku membonceng montir itu untuk melihat keadaan mobil gadis itu.
“Wah, ini mah emang mesinnya kudu dibetulin neng” ucap montir itu, entah mengapa aku jadi memperhatikan wajah gadis itu yang mulai cemas
“Jadi gimana dong bang?” Tanya gadis itu terlihat khawatir
“Yah dibawa kebengkel aja neng, saya mah gak bisa betulin disini, alat gak lengkap” ucap montir
“Yaudah kita bawa kebengkel aja” aku menyarankan
“Caranya?” Tanya gadis itu
“Ya didorong lah, gimana lagi” aku mencoba untuk bisa menjadi lelaki yang berguna dengan menggunakan tenagaku, paling tidak itu yang diajarkan oleh ayahku
“Emang bisa?” Gadis itu sepertinya belum yakin
“Bisalah, bang bantuin dorong ya” Aku mulai meletakkan tanganku dibelakang mobil jazz putih milik gadis itu, begitupun dengan abang montir yang juga membantu
“Gak apa-apa?” Tanya gadis itu
“Santai aja lagi, lo masuk aja kedalem buat nyetir arah mobilnya”
“Ya yaudahdeh iya” Gadis itu masuk dengan wajah agak ragu-ragu, dia terlihat seperti merasa bersalah karena telah merepotkanku. Tapi entah mengapa, aku merasa tidak keberatan melakukan hal ini, malahan aku senang terlebih lagi, dia cantik, tidak.. dia bukan hanya sekedar cantik tapi dia manis. Dengan kekhawatiran yang terlihat jelas diwajahnya, dia tetap manis. Ah, apa yang sedang aku pikirkan, aku segera menepuk pelan wajahku.
“Wah, ini mah gak bisa selesai cepet nih neng. Neng jarang ngurus mobilnya ya?” Kata montir itu setelah memeriksa bagian mesin mobil tersebut.
“Saya sih hanya tau make aja bang, mana ngerti sama yang begituan” Ucap gadis itu
“Jadi gimana bang?” Tanyaku
“Paling boleh diambil besok” Jawab montir itu, kulihat gadis yang saat ini berada disampingku raut wajahnya berubah dengan ekspresi terkejut
“Udah tenang aja, biarin aja mobilnya disini dulu, pulangnya biar kuantar” Aku tidak mengerti kenapa aku tiba-tiba bisa mengatakan hal ini, kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku. Aku, juga tidak bisa melihat gadis ini menjadi khawatir.
“Eh.. jangan, gak usah. Gue udah terlalu banyak ngerepotin lo, gue gak mau ngerepotin lagi tapi makasih banyak yah lo udah mau nolongin gue”
“Santai aja lagi, gak apa-apa kok”
“Jangan, gue yang gak enak. Pulangnya ntar biar gue naik taksi aja” gadis ini menolak, yah mungkin dia merasa sudah sangat merepotkanku. Ingin sekali kujelaskan bahwa hal ini sama sekali tidak membuatku repot atau kesusahan. Aku senang membantunya.
“Yaudah kalau gitu biar gue temenin nyari taksi aja gimana?”
“Em yaudah deh iya” gadis itu tersenyum, aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari senyumannya. Namun sebagai lelaki, aku tidak mungkin terus memperhatikannya. Segera kumencoba mengalihkan pandanganku.
“Bang, mobilnya diambil besok ya”
“Iya neng, gak usah khawatir disini aman kok”
“Makasih bang” Aku dan gadis ini mulai berjalan meninggalkan bengkel tersebut hingga sampai didepan sebuah jalan. Sambil menunggu taksi yang lewat, aku memulai pembicaraan untuk memecah keheningan.
“Oh ya, daritadi kita belum kenalan. Nama gue Dimas”
“Valerie, tapi panggil aja Vali”
“Kelas berapa? Kok gue gak pernah liat?”
“Kelas 11 IPA 1, yah gue emang gak terlalu sering kekantin. Lebih banyak ngabisin waktu diperpus sih soalnya. Lo sendiri?”
“Gue di kelas 12 IPA 2” Aku bisa melihat raut wajahnya berubah ketika mendengarku menyebutkan nama kelasku. Bola matanya terlihat sedikit membesar
“Kakak kelas? Aduh, maaf gue gak tahu. Gue pikir kita seangkatan, seharusnya daritadi gue manggilnya kak ya. Gue juga gak merhatiin lambang kelas 12 diseragam, saking paniknya. Maaf ya kak” Aku hanya memperhatikan gadis ini berbicara, wajahnya terlihat lucu dan itu membuatku ingin sekali tertawa. Aku mencoba meyakinkannya bahwa hal itu sama sekali tidak masalah bagiku. Kami bercerita banyak tentang sekolah sambil memperhatikan jalan jika ada taksi yang lewat. Ini sudah lewat 20 menit dan tidak ada satu pun taksi yang lewat saat itu.
“Udah lebih dari 20 menit, kayaknya disekitar sini taksi jarang lewat deh” Aku melihat Vali, wajahnya berubah lagi memperlihatkan perasaan tidak enaknya padaku.
“Gue antar aja yuk, keburu ujan nih” sebagai lelaki, aku harus bisa membaca situasi dan mencoba memikirkan apa yang dia pikirkan karena aku tahu, Vali tidak mungkin menawarkan dirinya agar aku mengantarnya pulang.
“Maaf ya, gue ngerepotin lagi” Ia menundukkan wajahnya
“Udahlah santai aja, gue juga gak mungkin ninggalin lo sendirian disini, ditambah lagi ini udah sore. Tunggu bentar disini ya, gue ambil motor dulu”
“Eh kak, gue ikut”
“Tapi motornya kan ditempat mobil lo mogok tadi, itu sekitar hampir 500 km loh dari sini. Tenang aja, gue gak lama kok”
“Bukan itu kak, gue makin gak enak kalau kakak kesana sendirian jalan kaki sementara gue cuman nunggu disini aja. Lagian kan kakak jadi kesusahan gini karena nolongin gue, jadi biarin gue ikut jalan kaki ketempat tadi ya” Wajah Vali memelas, aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku hanya menganggukan kepalaku dan kulihat dia tersenyum. Ya Tuhan, bagaimana Kau bisa menciptakan senyum seindah itu.
Hari ini, aku bahagia. Hujan yang turun saat aku dan Vali masih dalam perjalanan pulang, membuat kami harus berteduh didepan sebuah café. Tapi aku senang bisa menghabiskan banyak waktu berbincang dengan Vali, dia gadis yang manis, bukan hanya senyumannya tapi juga kepribadiannya, dan dia juga murah senyum. Aku meminjamkan jaketku padanya, dia sempat menolak namun tidak mungkin kubiarkan gadis yang sedang bersamaku kedinginan. Sejujurnya cuaca ini memang dingin, namun akan lebih terasa dingin jika aku membiarkannya kedinginan dan tidak memberikan jaketku. Aku sama sekali tidak keberatan melakukan hal ini, aku senang bisa menolong Vali. Ia berkali-kali mengucapkan terimakasih padaku, sebenarnya aku ingin mengatakan padanya bahwa dia tidak perlu berterimakasih sebanyak itu tapi aku tidak bisa mengatakan apapun. Senyumannya.. Ya Tuhan, ada apa dengan dadaku.
Semenjak hari itu, aku dan Vali sering jalan bersama, aku pun juga sering menghubunginya. Mulai dari aku menemaninya mengambil mobilnya, Ia mengembalikan jaketku yang telah Ia cuci terlebih dahulu, aku menemaninya mencari buku di toko buku, Ia menemaniku mencari bahan kerajinan untuk tugas sekolah Anya hingga aku membantunya mengerjakan tugas Fisika. Yah, aku sangat menyukai pelajaran fisika, selesai sekolah nanti aku ingin mengikuti tes masuk di STMKG (Sekolah Tinggi Metereologi, Klimatologi dan Geofisika), itu salah satu impianku. Sampai suatu hari, aku merasakan hal yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Selama ini aku tidak pernah berbuat banyak seperti ini terhadap seorang gadis. Jika aku dekat dengan seorang gadis, itu karena gadis itulah yang terus mendekatiku bahkan menyatakan cintanya duluan terhadapku. Selama ini juga aku selalu menerima setiap ada gadis yang mencoba hadir dikehidupanku, namun entah mengapa, mereka yang memutuskan untuk bersamaku namun mereka juga yang memutuskan hubungannya denganku. Katanya aku lelaki yang tidak peka, tidak perhatian, cuek dan sebagainya. Terkadang aku benar-benar tidak mengerti dengan wanita, aku benar-benar tidak mengerti apa yang ada dipikiran mereka. Sampai saat ini aku menyadari sesuatu bahwa aku menyayangi Vali, bukan sayang sebagai seorang kakak kelas atau teman, tapi lebih dari itu, aku mencintainya.
Aku belum memberitahukan hal ini pada Leo, aku juga belum mengenalkan Vali dengan Leo. Setiap aku ingin memperkenalkan Vali dan Leo, selalu saja ada sesuatu hal yang menyebabkan hal itu belum terjadi. Pertama kalinya bagiku merasakan hal seperti ini, hal yang berbeda dari gadis-gadis sebelumnya. Vali memang berbeda, Vali tidak seperti gadis yang selama ini berada disekitarku, Ia apa adanya dan selalu tersenyum. Aku tidak tahu apakah dia merasakan hal yang sama terhadapku, tapi beberapa bulan lagi Ujian Nasional, aku tidak bisa tidak mengatakan perasaanku pada Vali sebelum kelulusan tiba dan aku juga tidak ingin lelaki lain mendahuluiku. Mendengar Ia dekat dengan lelaki lain, itu membuatku geram meski tak pernah kutunjukkan padanya. Aku merasa bahwa Vali juga memiliki perasaan yang sama sepertiku, itu terlihat jelas dengan responnya terhadapku selama ini namun bagaimanapun juga aku tidak bisa menutup kemungkinan bahwa ada seseorang yang juga menyukai Vali sama sepertiku. Aku tidak bisa menahan ini, aku akan menyatakannya. Tidak peduli bagaimana perasaan Vali yang sebenarnya terhadapku, aku hanya merasa harus mengatakannya sebelum aku menyesal.
Ingin sekali kumenceritakan hal ini pada Leo, namun aku melihat Leo sedang sibuk dengan pergantian jabatan osisnya sebentar lagi, maklum Leo adalah Ketua Osis dan dia pasti sibuk mempersiapkan laporan terakhir selama Ia menjabat sebagai Ketua Osis selama satu tahun ini. Aku akan memberitahukan hal ini ketika aku sudah menyatakan perasaanku pada Vali, ini pasti akan menjadi kejutan untuk Leo.
Malam itu aku mempersiapkan segalanya, aku menyiapkan mulai dari basa-basiku berbincang dengan Vali hingga kata-kata yang harus kuucapkan padanya. Jantungku terasa berdebar lebih cepat, hatiku seakan bergejolak, dalam perutku seakan ada puluhan kupu-kupu terbang setiap kali aku menguatkan tekadku untuk menyatakan perasaanku pada Vali. Aku tidak tahu apakah wanita mengerti akan hal ini, namun jika saja mereka tahu bahwa hal ini sebenarnya tidaklah mudah bagi seorang lelaki untuk menyatakan perasaannya terhadap seseorang yang benar-benar mereka cintai. Mungkin hal ini akan mudah bagi lelaki yang tidak serius, tapi tidak denganku. Ini juga pertama kalinya bagiku untuk menyatakan perasaan terhadap seseorang. Kukumpulkan semua keberanianku, dan aku juga siapkan hatiku jika memang Vali tidak memiliki perasaan yang sama denganku.
Aku menjemput Vali ditempat lesnya, Vali senang dengan piano sehingga Ia memutuskan untuk mengikuti les piano agar dapat memainkannya dengan baik. Aku pun juga sudah memikirkan café yang bagus untukku dapat menyatakan perasaanku pada Vali.
“Hai kak Dim, tumben ngajak jalan sampe mau bela-belain jemput ditempat les. Terus, kakak juga tumben bawa mobil” Sapaan Vali membuat jantungku kembali berdebar. Aku sengaja membawa mobil ayahku malam ini, aku mencoba untuk membuat malam ini menjadi berbeda dari biasanya. Hanya saja aku mencoba sebaik mungkin untuk terlihat biasa saja.
“Iya yah hehehe, kemaren sempat buka Instagram terus ada café yang bagus gitu, pengen nyoba aja. yuk” Vali hanya tersenyum dan masuk kedalam mobil. Diperjalanan kami berbincang dan bercanda seperti biasa. Tanpa Vali ketahui, hatiku berdebar setiap mengingat bahwa aku akan menyatakan perasaanku sebentar lagi. Kami sampai disebuah café yang sebenarnya telah kukunjungi sebelumnya, suasana cafenya yang santai tapi menarik, aku sengaja memilih tempat seperti ini agar Vali tidak terlalu merasa canggung. Jika aku memilih tempat yang romantis, mungkin saja Ia akan mulai curiga dan akhirnya merasa bahwa aku terlalu berlebihan karena kami belum memiliki hubungan lebih dari teman atau kakak dan adik kelas.
“Tempatnya asik ya kak, live music nya juga yang nyanyi suara adem, bagus” entah bagaimana kujelaskan aku selalu terpesona dengan senyuman manis Vali, senyuman apa adanya, senyuman tulus yang tidak dibuat-buat. Kami mulai lagi berbincang seperti biasa dan menyelipkan candaan disela-sela perbincangan kami. Sampai akhirnya, aku mulai mengungkapkannya.
“Val? Selama ini selain aku, kamu dekat sama siapa aja?” Aku mulai memberanikan diriku
“Oh, banyak sih kak Dim, temen-temen sekelasku, kita semua dekat kok, yah meskipun gak semuanya juga sih tapi sebagian besar kita deket” Vali mengunyah kentang goreng yang Ia masukkan kedalam mulutnya.
“Eh bentar, kok kakak ngomongnya jadi aku kamu sih” Vali tertawa, sepertinya Ia sadar dengan perubahan sikapku.
“Hehehe, gak apa-apa kok. Emm Val, kira-kira kalau aku suka sama kamu ada yang marah gak ya?” Astaga, apa-apaan aku ini, ini diluar dugaanku, aku tidak menyiapkan kata-kata itu sebelumnya. Aku dapat melihat jelas perubahan raut wajah Vali, Ia terlihat terkejut.
“Kak Dim apaan sih, jangan ngaco deh” Vali terlihat mengalihkan pandangannya, aku tidak tahu harus berkata apa, ini bukan yang kusiapkan sebelumnya. Ah, mengapa susah sekali menyatakan perasaan seperti ini.
“Valerie, aku serius, selama ini.. aku sayang sama kamu, aku pikir ini hanya rasa sayang biasa tapi semakin lama aku semakin sadar, aku bukan hanya sayang sebagai teman atau kakak kelas kamu tapi lebih dari itu” Akhirnya, aku bisa mengatakannya. Aku melihat jelas perubahan raut wajah Vali menjadi datar, meskipun begitu entah mengapa aku merasa Ia tetap manis
“Val, apa boleh kalau kita lebih dari sekedar teman atau kakak sama adik kelas? Aku serius Val, aku gak pernah kayak gini sebelumnya. Kalau kamu juga punya perasaan yang sama, aku mau kita bisa sama-sama terus, aku gak mau kehilangan kamu. Aku mau kita jalanin sisa kehidupan kita sama-sama terus, mungkin ini terlalu cepat, tapi aku udah mikirin ketika aku lulus SMA nanti dan diterima di pendidikan STMKG, kamu bisa nunggu aku selesai kan Val? Aku juga bakan nunggu kamu sampe selesai kuliah dan kerja. Terus saat kita sama-sama udah siap, kita bisa nikah. Gimana Val?” Sepertinya aku terlalu banyak berbicara, bahkan aku sampai memikirkan hal yang terlalu jauh. Apakah aku berlebihan? Sepertinya iya, itu terlihat jelas diwajah Vali. Ia sangat terkejut mendengar pengakuanku. Aku tidak mengerti kenapa aku bisa berbicara sejauh itu, aku memang berpikir bahwa jika Vali juga mencintaiku kita bisa menikah nanti, tapi aku tidak pernah berpikir akan mengatakan hal itu pada Vali terlebih lagi saat-saat seperti ini. Vali diam, Ia hanya menatapku seakan-akan matanya berbicara bahwa Ia tak percaya dengan apa yang kukatakan.
“Wah kak Dim, aku gak nyangka kakak mikir sampe segitunya. Akuu…” Vali menghentikan ucapannya, sungguh ini hanya sepersekian detik tapi jedanya sangat lama bagiku
“Aku terkesan dengan omongan kakak yang kayak gini. Selama ini aku pikir Kak Dim gak mungkin suka sama cewe kayak aku. Jadi…” Vali menghentikan lagi perkataannya, entah mengapa aku juga ikut berbicara
“Gak apa-apa kok Val” Potongku
“Ha?”
“Gak apa-apa kalau kamu belum bisa jawab itu sekarang. Aku cuman pengen kamu tahu aja perasaanku yang sebenernya” Aku tidak ingin terkesan memaksa Vali, biarlah mungkin dia perlu lebih meyakinkan hatinya.
“Kak Dim..” Vali menatapku seakan-akan ingin mengatakan sesuatu, aku seperti tidak sanggup melihatnya, tatapannya begitu tulus dan wajahnya semakin kuperhatikan malah semakin cantik
“Udah malem, balik yuk. Ntar kamu masuk angin lagi” aku melepas kardiganku dan meletakkannya dengan pelan kepundak Vali. Aku merasa malam ini mulai semakin dingin, aku juga tak bisa membedakan apakah suhu yang memang mendadak dingin atau perasaanku saja.
Dalam perjalanan pulang aku maupun Vali lebih banyak diam, kami hanya sesekali berbicara lalu diam kembali. Sungguh suasana yang tidak menyenangkan hingga akhirnya kami sampai didepan rumah Vali.
“Makasih ya kak dim” Ucap Vali sambil keluar dari dalam mobil, aku hanya tersenyum dan hendak memasukkan gigi untuk menjalankan mobil
“Kak dim” Panggil Vali dan aku pun melihatnya
“Meskipun aku belum jawab, tapi aku janji gak akan ngecewain Kak Dimas” lagi-lagi Ia tersenyum, kubalas senyumannya bersama dengan hatiku yang terasa lega
“Aku balik yah” Vali hanya menganggukkan kepalanya sambil terus tersenyum, aku menjalankan mobil hingga kulihat Vali masuk kedalam rumahnya dari kaca spion.
***
Malam itu tiba-tiba saja Leo mengajakku untuk mengunjungi sebuah pertunjukkan musik, aku menerima ajakannya. Kami berdua pergi dengan menggunakan pakaian rapi, aku tidak mengerti ini acara apa, Leo hanya menjelaskan bahwa aku akan terpesona dengan pertunjukkannya.
“Awas aja ya kalau gak asik” Ucapku pada Leo yang sedang mengemudi saat dalam perjalanan
“Tenang aja, acaranya pasti asik, asal jangan jatuh cinta sama pemainnya” Balas Leo dengan tawa diakhir perkataannya
“Lagian tumben ngajak ke acara beginian, dari pakaiannya pasti acara formal nih”
“Gak formal formal amat kok, gue bakal kenalin lu sama seseorang”
“Siapa?” Tanyaku
“Cewek yang sering gue ceritain ke elu lah” Jawab Leo
“Oh jadi karena itu, pantesan rapi banget” Ucapku sambil membayangkan bagaimana gadis yang disukai oleh Leo, aku tahu selera Leo, pasti gadis itu cantik tapi dalam pikiranku bagaimanapun cantiknya gadis itu akan kalah dengan Valerieku
“Ntar kalau lu udah ngenalin gue sama gadis lu, gue juga bakal kenalin gadis gue ke elu” Kataku pada Leo
“Dih, cewek mana lagi tuh? Paling juga yang ngejar-ngejar lu itu kan”
“Enak aja, yang ini beda kali”
“Serah lu dah”
“Namanya siapa sih?” Tanyaku penasaran pada Leo
“Aurora” Jawab Leo
“Aurora?”
“Bagus kan, kayak princess gitu lah”
“Hahaha serah deh” Ucapku, aku tidak tahu bahwa Aurora adalah benar nama gadis itu atau hanya sekedar panggilan dari Leo, aku tidak peduli siapa pun namanya, yang jelas aku akan memberikan seluruh jempolku untuknya karena berhasil mendapatkan hati Leo. Selama ini Leo merupakan orang yang sangat cuek dengan wanita, beberapa kali aku melihat beberapa gadis mencoba mencuri perhatiannya namun tidak berhasil. Leo tidak suka dengan gadis yang terlalu agresif, ngeri katanya.
Kami masuk kedalam sebuah ballroom hotel setelah Leo menyerahkan dua tiket masuk pada penjaga didepan pintu. Seperti dugaanku ini merupakan acara semi formal, lelaki yang datang kebanyakan menggunakan jas ddengan wanitanya yang menggunakan dress dengan berbagai model dilengkapi dengan make up sebagai ciri khasnya. Aku melihat disekelilingku, mencari pencerahan atas acara yang sedang aku datangi bersama Leo, ternyata ini adalah sebuah pertunjukkan musik klasik, aku tidak tahu sejak kapan Leo menyukai musik klasik tapi tentu saja bukan karena pertunjukkannya melainkan orang yang akan memainkan musiknya.
Aku dan Leo duduk ditengah ruangan yang berada tidak jauh dari panggung, orang-orang masih sibuk dengan perbincangannya masing-masing. Melihat semua ini, aku teringat dengan Valerie. Ia juga pernah mengatakan bahwa Ia sangat menyukai musik klasik, adem katanya. Tanpa kusadari itu membuatku tersenyum. Aku dan Leo tak banyak bicara, selama pertunjukkan Leo terlihat serius menikmatinya, sementara aku cukup terpesona dengan lantunan musik yang tidak pernah kudengar sebelumnya. Ah, wajah Vali kembali terbayang dalam pikiranku. Sampai akhirnya dipenutup pertunjukkan, ada seorang gadis yang memainkan piano dipanggung itu, wajahnya benar-benar tak asing, itu Vali, Valerie. Aku menggosok pelan mataku, berpikir ini adalah lamunanku saja, tapi gadis itu masih sama. Aku membiarkannya, aku tidak peduli apakah itu benar Valerie atau bukan, aku senang bisa melihat gadis itu yang melantunkan musik piano dari Chopin yang berjudul Nocturne. Hingga akhirnya setelah gadis itu selesai memainkan pianonya, Leo mulai berbicara setelah kami berdua sama-sama terdiam
“Itu dia Dim” Ucap Leo
“Apa?” Tanyaku belum mengerti
“Itu dia, Aurora, yang barusan” Jawab Leo sambil tersenyum kearahku
“Yang main piano?”
“Iya, cantik kan?” Perkataan Leo membuatku terkejut, Aurora yag dimaksudkan oleh Leo adalah orang yang aku lihat seperti Vali. Apakah tadi hanya lamunanku saja? Karena terlalu memikirkannya. Aku berharap bahwa tadi hanya lamunanku saja, Leo juga mengatakan bahwa nama orang itu adalah Aurora, sementara gadis yang kulihat dan kukenal adalah Vali, Valerie. Aku pasti mengkhayal saat pertunjukkannya. Sampai akhirnya, Leo membawaku padanya saat pertunjukkan telah usai. Oh Tuhan, itu benar Vali.
“Hei” Sapa Leo pada gadis itu yang sedang berbicara dengan temannya, gadis itu mengalihkan pandangannya dan melihat Leo
“Ka Leo?” Ucap gadis itu seakan tidak percaya, gadis itu Vali, aku yakin dia Valerie.
“Kok bisa disini?” Tanya Vali yang belum melihatku, aku berada dibelakang Leo, sengaja menyembunyikan wajahku
“Tau dong, oh iya” Kata Leo sambil menarik pelan tanganku untuk dapat berada disampingnya dan dapat dilihat oleh Vali
“Kenalin, temenku Dimas” Lanjut Leo
“Dimas” Ucapku sambil mengulurkan tanganku seakan tidak pernah mengenalnya. Aku bisa melihat jelas ekspresi wajah Vali yang terkejut juga terlihat bingung, Ia menjabat tanganku namun tidak berkata apa-apa. Sebenarnya aku juga tidak mengerti apa yang telah kulakukan, hanya saja, aku tidak ingin Leo tahu bahwa aku telah mengenal Vali sebelumnya
“Ini nih Aurora yang aku bilang ke kamu Dim, orang-orang sih manggil dia Vali, tapi aku lebih suka sebut dia Aurora” Kata Leo, Vali tersenyum mendengarnya
“Kok bisa?” Tanyaku
“Valerie Aurora, itu namaku kak” Jawab Vali menatapku dan aku juga menatapnya, Ia seakan ingin mengatakan sesuatu namun segera kuhindari, kualihkan perhatian Leo
“Maafin temen gue nih, dia emang suka beda dari yang lain” Kataku pada Vali, aku masih bisa melihat wajahnya yang bingung
“Kak Dimas..” Ucap Vali seakan ingin mengatakan sesuatu namun lagi-lagi aku mengalihkannya
“Kalian kenal dimana?” Tanyaku
“Satu sekolahan kali sama kita, tapi Vali ini jarang kelihatan kalau disekolah” Jawab Leo yang terlihat tidak mencurigai apa pun
“Terus gimana bisa ketemu?” Tanyaku
“Vali ini les ditempat tante gue ngajar Dim, pertunjukkan ini juga tahunya dari tante” Jawab Leo. Aku masih bisa merasakan bahwa Vali menatapku dengan tatapan bingung. Aku juga melihat senyumnya yang terlihat dipaksakan saat kami bertiga melakukan beberapa obrolan. Setelah itu kemudian kami pergi meninggalkan ballroom hotel itu, meninggalkan Vali yang tersenyum pada Leo namun mengkerutkan dahinya saat melihat kearahku.
Dalam perjalanan Leo menceritakan detail kejadian saat Ia bertemu dengan Vali. Ternyata Leo mengenalnya saat pertama kali masuk dalam tim piano ditempat les musik milik tantenya. Sejak saat itu, dalam beberapa kesempatan Leo mengunjungi tempat les itu dan bercerita dengan Vali. Leo menjelaskan kelebihan Vali yang sebenarnya telah kuketahui, aku juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh Leo. Aku mendengarkan cerita Leo sambil menahan sakit didadaku, entahlah, hanya saja dadaku terasa sesak, apalagi saat mendengar Leo ternyata sangat mencintai Vali.
Keesokkan harinya, aku mengajak Vali untuk bertemu, aku akan berkunjung kerumahnya. Aku ingin menjelaskan kepadanya tentang sikapku semalam padanya. Sebelum mengajaknya bertemu, aku telah menguatkan hatiku, mengatur kata-kata yang akan kuucapkan. Hatiku masih terasa sangat perih, tubuhku juga terasa lemas, ternyata aku dan Leo menyukai gadis yang sama. Awalnya aku bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Pilihan sekarang ada padaku, mengatakan sejujurnya pada Leo bahwa aku juga menyukai Vali dengan resiko persahabatan kami terancam atau menyimpannya demi persahabatan kami dengan resiko hatiku akan tersakiti. Dan aku, memilih pilihan yang kedua. Aku tidak akan membiarkan persahabatan kami hancur, Leo sangat berharga bagiku, aku tidak ingin kehilangan seorang sahabat seperti Leo, aku tidak ingin egois, lagipula aku tidak mengetahui perasaan Vali terhadapku, aku tidak tahu apakah dia juga mencintaiku atau tidak, atau bahkan dia mungkin mencintai Leo. Aku mencintai Vali, namun jika dia tidak mencintaiku, paling tidak gadis baik seperti Vali bisa bersama dengan orang seperti Leo. Jawaban dari Vali yang kunantikan saat memintanya untuk menjadi kekasihku tak akan kupertanyakan lagi. Tak ada gunanya aku menanti sebuah jawaban yang aku tahu, aku tidak akan pernah mendapatkannya.
Aku duduk bersebelahan dengan Vali diteras rumahnya, kami lebih banyak diam, seakan-akan sibuk dengan pikiran masing-masing, seakan-akan banyak pertanyaan yang ingin kami tanyakan namun hal itu tertahan oleh kami masing-masing.
“Val, maaf ya kemaren aku pasti kayak orang bego yah pura-pura gak kenal kamu” Kataku memecahkan keheningan
“Itu yang ingin aku tanyain sama, kaka kenapa sih kemaren?” Tanya Vali
“Ada alasannya kok” Jawabku seadanya
“Kaka sama Ka Leo ternyata temenan yah” Ucap Vali
“Iya, dia bukan cuman temen, dia sahabat aku yang paling berharga” Kataku
“Sebenernya, Ka Leo udah nembak aku sebelum kaka, itu kenapa aku bingung pas kaka juga ternyata nembak aku, jadi sekarang aku pengen kasih tahu kaka jawabannya…” Sebelum Vali melanjutkan perkataannya, aku segera mengalihkannya
“Gini Val, sebelumnya aku mau minta maaf, kamu jangan salah paham dulu. Kemaren aku dekatin kamu, itu sebenarnya aku pengen tahu bagaimana cewek yang disukain sama Leo. Leo gak tahu itu, Leo gak tahu kalau aku sebenarnya udah kenal kamu, makanya kemaren aku pura-pura gak kenal sama kamu” Jelasku, aku bisa melihat ekspresi wajah Vali yang seakan tidak percaya dengan perkataanku
“Maksud Ka Dimas?” Tanya Vali
“Aku gak pernah benar-benar suka sama kamu, aku bilang gitu karna mau nge tes kamu” Plak! Sebuah tamparan dari tangan Vali melayang dipipiku. Tidak sakit, hatiku jauh lebih sakit dari tamparan itu
“Kaka mainin aku?” Mata Vali mulai berkaca
“Gak Val, bukan gitu. Leo itu sahabat aku, aku gak mau dia salah pilih cewek. Dia itu sayang banget sama kamu. Dan ternyata kamu cewe yang baik banget, kamu cocok sama Leo. Aku pengen kenal dulu sama kamu, tapi Leo gak tahu itu” Kataku, aku bisa melihat ada amarah dimata Vali
“Udah cukup, kakak mau tahu jawaban aku kemaren apa sebenernya?” Tanya Vali, kulihat air matanya siap untuk keluar
“Gak, gak perlu kamu jawab. Itu gak ada gunanya Val” Jawabku, dadaku terasa sesak
“Kak tapi...”
“Val, gak perlu. Aku gak bener-bener suka sama kamu. Yang beneran sama kamu itu Leo” Kataku menahan sakit didada
“Jadi kaka gak bener-bener suka sama aku? Kaka mainin aku ya?” Vali mengeluarkan air mata, dan itu membuat hatiku semakin hancur
“Gak gitu Val, tolong jangan salah paham, aku udah jelasin kan. Kamu baik, aku setuju kamu sama Leo” Kataku meyakinkan Vali yang tidak melihat kearahku
“Maaf Val” Kataku lagi setelah beberapa detik terdiam
“Udah, udah cukup. Aku udah cukup tahu. Mending sekarang kaka pulang, toh jawaban dari aku juga gak penting kan buat kaka” Kata Vali menghapus air matanya, seakan-akan mencoba untuk bersikap biasa
“Leo gak tahu ini, tolong jangan kasih tahu Leo” Kataku pada Vali yang sama sekali tidak melihat kearahku
“Kaka tenang aja, lagian sekarang kaka udah tahu kan gimana cewek yang disukain sama sahabat kaka. Jadi gak usah pake ngetes-ngetes lagi, gak perlu” Kata Vali
“Val” Aku mencoba agar Vali dapat melihat kearahku
“Udah kan? Aku ngantuk kak, mau tidur. Kaka mending pulang, udah malem juga” Kata Vali kemudian segera beranjak dari tempat duduknya dan masuk kedalam rumahnya. Ia menutup pintu rumahnya, meninggalkanku yang masih duduk terpaku. Saat dia menutup pintu rumahnya, kudengar tangisannya yang samar-samar, itu membuat hatiku benar-benar hancur. Tak dapat kujelaskan bagaimana sesaknya dadaku saat itu, aku segera beranjak dan pergi dengan air mata yang tiba-tiba mengalir dipipiku.
Sebenarnya aku ingin mengetahui jawaban Vali, aku ingin mengetahui isi hatinya, entah mengapa aku sangat yakin bahwa Vali juga memiliki perasaan yang sama terhadapku. Tapi tidak, tidak perlu kuketahui. Aku tidak perlu menanti lagi, menanti jawaban yang tidak akan pernah ada jawabannya.
***
Semenjak hari itu, aku tidak pernah lagi menemui Vali. Aku hanya mendengar cerita dari Leo, ternyata Vali menerima Leo sebagai kekasihnya. Melihat Leo yang begitu bahagia, membuatku senang meskipun dadaku terasa sakit. Aku tidak pernah melihat Leo bahagia seperti itu, Ia terus tersenyum bahkan beberapa kali mentraktirku sebagai tanda rasa senangnya.
Tidak terasa dua tahun sudah berlalu, aku dan Leo meneruskan mimpi kami masing-masing, begitupun dengan Vali. Sesuai dugaanku Vali mengambil jurusan musik disalah satu perguruan tinggi swasta di kota ini, hal itu kudengar dari Leo sementara Leo mengambil jurusan Teknik Industri dan aku saat ini sedang mengikuti pendidikan di STMKG jurusan Meteorologi, sesuai impianku.
Sampai suatu ketika, tiba saatnya hari ulang tahunku yang ke 20 tahun. Ibuku mempersiapkan makan malam kecil untuk keluarga kami disebuah restoran. Ibuku juga mengajak Leo yang ternyata saat itu datang bersama Vali. Aku, ibuku, ayahku, Anya, ayah tiriku, adik tiriku, Leo dan Vali, kami duduk makan bersama sambil menceritakan berbagai hal. Seperti yang telah kukatakan, ayahku dan ayah tiriku sangat dekat, mereka bahkan berencana akan membangun bisnis bersama. Sampai akhirnya ayahku, memperkenalkan seseorang malam itu. Seorang wanita berhijab yang terlihat lebih muda dari ibuku. Aku bertanya-tanya dalam hati siapa wanita yang dikenalkan pada kami sampai aku menduga ini pasti kekasih baru ayahku. Saat itu umur ayahku adalah 45 tahun, Ia menikah dengan ibuku saat berusia 24 tahun dan ibuku 22 tahun. Ibuku dan ayah tiriku kemudian terlihat mencoba akrab dengan wanita yang diperkenalkan oleh ayahku. Aku mulai bosan dengan obrolan ini, aku mengajak Leo dan Vali untuk pergi, tak lupa aku juga mengajak Anya. Kami pergi meninggalkan makan malam itu untuk pulang kerumah, saat itu waktu baru menunjukkan jam 9 malam. Sebelum kami berpisah ditempat parkir untuk menuju mobil masing-masing, Leo memberikanku hadiah, katanya itu ilihan Vali. Aku menerimanya dan memeluk sahabatku Leo, aku bahkan bertanya dalam hati kecilku, mengapa aku sangat menyayangi orang ini.
Dalam perjalanan pulang, aku teringat akan wajah Vali yang mana saat itu adalah pertama kalinya aku melihatnya lagi setelah lebih dari dua tahun, dia tambah cantik dan elegan namun tetap sederhana. Perasaan ini masih sama, aku masih mencintainya. Diperjalanan Anya memintaku untuk berhenti didepan sebuah toko pusat stasioner, katanya Ia ingin membeli sebuah crayon untuk pelajaran seni lukisnya esok hari, aku mengikuti permintaan Anya sekalian membeli beberapa pulpen dan buku catatan untuk perluanku. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan untuk pulang kerumah. Sesampainya dirumah, aku dan Anya masuk kedalam kamar kami masing-masing.
Aku duduk dan membuka kado yang diberikan oleh Leo, sebuah jam tangan berwarna hitam, aku tersenyum seiring dengan setitik air mata yang tanpa kusadari jatuh membasahi pipiku, aku melihat jam itu, jam yang kata Vano pilihan dari Vali, teringat lagi akan perasaanku pada Vali yang tidak akan pernah terwujud. Ayahku tiba-tiba saja datang membuka pintu kamarku.
“Ayah masuk ya?” Tanya ayahku yang berada didepan pintu
“Masuk aja yah” Jawabku sambil segera menghapus sisa air mataku. Aku tidak tahu sejak kapan air mataku begitu mudahnya jatuh sepertii ini. Aku memutar kembali ingatanku pada terakhir kalinya aku menangis ketika mengetahui kedua orang tuaku bercerai, setelah itu tak pernah lagi ada air mata yang jatuh sampai akhirnya Vali datang seiring dengan rasa yang menyesakkan dada. Ayahku duduk disampingku sambil menepuk pelan pundakku, sepertinya ada yang ingin Ia sampaikan.
“Kamu tahu Tante Dian?” Tanya ayahku
“Yang tadi ayah kenalin itu?” Aku balik bertanya
“Iya, gimana menurut kamu?”
“Maksud ayah?” Aku mulai bisa membaca situasi, perasaanku mengatakan ayahku akan menikahi wanita itu
“Kamu pasti mengerti maksud ayah, kamu bukan Anya Dim”
“Ayah akan nikah lagi?” Tanyaku memastikan pikiranku
“Iya sama Tante Dian” Ayahku melihatku dengan tatapan berharap aku akan menyetujuinya
“Ayah sayang sama dia?”
“Bukan hanya sayang, dia berbeda dari wanita lain. Kamu tahu kan, setelah ayah bercerai dengan ibumu, banyak wanita mendekati ayah tapi ayah tahu maksud mereka yang hanya mengejar materi” Jelas ayahku, sedikit membanggakan dirinya, aku tertawa kecil ditengah-tengah perkataan ayahku
“Ibadahnya bagus, meskipun dia tidak secantik ibumu tapi ayah rasa dia bisa menjadi ibu yang baik bagi kamu dan Anya” Lanjut ayahku, aku melihatnya dan tersenyum
“Aku bahagia kalau ayah bahagia, gak usah khawatirin Anya, nanti aku yang kasih pengertian ke dia, selama ini aku lihat Anya tumbuh jadi gadis yang baik” Sebenarnya masih banyak yang ingin aku tanyakan pada ayahku tentang Tante Dian, tapi entah mengapa mengingat wajah Tante Dian yang teduh dan sepertinya tulus pada ayahku, aku mengurungkan niatku
“Ayah tidak tahu kenapa ayah sangat bangga padamu dan Anya, dulu ayah sangat khawatir, bagaimana kalian bisa tumbuh dengan orang tua yang telah bercerai. Satu-satunya yang ayah pikirkan saat itu hanya kamu dan Anya Dim. Terimakasih sudah tumbuh dengan baik, terimakasih sudah menjaga Anya” Kata Ayahku
“Anya itu adikku Yah, aku tidak mungkin biarin dia tumbuh dengan liar” Ayahku tertawa kecil mendengar perkataanku, begitupun denganku sampai akhirnya aku melanjutkan ucapanku
“Apa ayah mencintai ibu?” Tanyaku tiba-tiba, aku sendiri tidak tahu dari mana pertanyaan itu berasal, terlontar begitu saja sampai membuat ayahku segera memandangku kemudian kembali melihat kearah depan, kupandang wajah ayahku yang mulai terlihat kerutan disekitar matanya
“Tentu, dulu.. ayah sangat mencintainya, bahkan sampai saat ini ayah masih menyayangi ibumu. Kamu tahu Dim, Tante Dian orang pertama yang bisa membuat ayah merasakan hal yang sama seperti yang ayah rasakan pada ibumu” Jawab ayahku
“Bagaimana ayah bisa bertahan melihat ibu dan suaminya? Ibu menikah lagi setelah setahun bercerai dari ayah, malahan ayah sangat dekat dengan suami ibu. Bagaimana bisa begitu Yah?” Aku bertanya seakan mewakili perasaanku, benakku mulai berkata ‘tolong ajari aku yah, ajari aku bagaimana bertahan melihat orang yang kita cintai bahagia bersama orang lain
 “Ayah sudah mengenal suami ibumu jauh sebelum ayah mengenal ibumu, dia lelaki yang sangat baik, bahkan pengorbanannya tidak akan pernah bisa ayah lupakan” Jawab ayahku, dia menatapku lalau melanjutkan perkataannya “Ayah sangat bahagia bisa memiliki orang seperti ibumu sampai-sampai membutakan ayah dengan kejadian sebenarnya, sampai-sampai ayah tidak pernah bertanya apakah ibumu juga merasakan hal yang sama” Kata Ayahku kemudian terdiam, seperti merasa dia tidak seharusnya berkata seperti itu
“Maksud ayah?” Tanyaku tak mengerti, ayahku kemudian memandangku
“Dim, ayah bangga kamu tidak berontak dan tidak pernah bertanya alasan sebenarnya ayah dan ibumu bercerai. Ayah selama ini kuat karena melihatmu dan Anya tumbuh dengan pribadi sangat baik. Sudah saatnya kamu tahu yang sebenarnya, ayah tidak bisa menyimpan ini terlalu lama dan ayah juga tidak ingin kejadian ini terulang padamu” Jelas ayahku, membuatku semakin menunggu penjelasan selanjutnya dari dia. Aku tidak berkata apa-apa, kutatap ayahku yang sebentar lagi akan memberitahuku tentang pertanyaanku selama ini, penantian sebuah jawaban yang aku simpan selama 10 tahun
“Dim, dulu.. ayah memiliki sahabat, kami selalu bersama, kamu tahu dulu ayah merupakan mahasiswa yang sangat aktif berlembaga berbeda dengan sahabat ayah itu yang sangat cuek dengan hal disekelilingnya. Tapi dia selalu mendukung apapun keputusan ayah bahkan membantu ayah mengerjakan beberapa pekerjaan, seperti persahabatanmu dan Leo. Sahabat ayah itu banyak didekati oleh gadis-gadis cantik dan populer dikampus, dia terima saja setiap ada gadis yang menyukainya, berbeda dengan ayah yang tidak mudah begitu saja menerima seorang gadis, ayah tidak suka gadis agresif. Sampai akhirnya.. ayah bertemu dengan ibumu yang mengubah segala sudut pandang ayah. Ibumu dulu termasuk dalam tim paduan suara, suaranya sangat merdu” Jelas ayahku, entah mengapa kepribadian ayah mengingatkanku pada Leo
“Iya, Ibu dulu sering nyanyiin lagu sebelum tidur buatku Yah” Kataku kemudian ayahku tersenyum dan melanjutkan perkataannya “Ayah menikahi ibumu setelah dia menyelesaikan kuliah S1 nya. Ayah sangat bahagia, apalagi saat kamu dan Anya lahir” ayahku menghela napas lalu melanjutkannya “Suatu hari, ayah mendapatkan buku harian lama milik ibumu yang tanpa sengaja ayah lihat saat kami menginap dirumah nenekmu. Tanpa sepengetahuan ibumu, ayah membacanya, berharap bahwa ayahlah orang yang Ia tuliskan dalam buku hariannya. Tapi ternyata tidak”
“Maksud ayah?”
“Ibumu mencintai orang lain Dim, sahabat ayah, Dito” Kata ayahku yang membuat mataku membesar, aku tidak percaya ini. Ya Tuhan, apa ini, kenapa kisah ini mirip denganku
“Jadi sahabat ayah itu, suami ibu saat ini?” Tanyaku dan ayah dengan pelan menganggukkan kepalanya. Entah mengapa, tubuhku tiba-tiba lemas mendengar pengakuan ayahku
“Ternyata, sahabat ayah itu berkorban untuk ayah. Dia menyimpan perasaannya selama bertahun-tahun. Buku harian ibumu seakan memberikan ayah semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang tersimpan dalam benak. Pantas saja sahabat ayah itu belum menikah dan tidak pernah terlihat menggandeng wanita lain, bahkan beberapa kali ayah mendapati ibumu menangis, ketika ayah tanya katanya rindu dengan ibunya. Ternyata mereka berdua berkorban untuk ayah” Jelas ayahku
“Kenapa ibu menikahi ayah kalau dia mencintai orang lain?”
“Kamu tahu, sampai sekarang ayah masih ingat dengan jelas tulisan ibumu” Ayahku seakan kembali kemasa lalunya, Ia menceritakan bagaimana Ia membaca tulisan ibuku.
“Dalam buku itu tertulis ‘Anne, saya tidak pernah memintamu untuk bersamaku, jika kamu meninggalkan Bian, saya pun juga tidak akan bersamamu, maka kamu akan kehilangan dua orang yang sangat mencintaimu. Bian akan membahagiakanmu lebih dariku, dia sangat mencintaimu, dia tidak akan pernah mengecewakanmu, saya sangat mengenalnya, dia sahabatku. Percaya padaku’” Perkataan ayahku membuatku kembali teringat bagaimana aku meminta Vali untuk bersama dengan Leo. Apa ini? mengapa cerita ayahku seakan membawaku pada masa depan Vali dan Leo
“Terus, apa yang ayah lakukan?” Tanyaku penasaran setelah beberapa saat terdiam
“Ayah marah, sangat kecewa, sedih tapi juga bangga pada mereka berdua. Ketulusan mereka meluluhkan hati ayah. Tentu ayah memerlukan waktu untuk berpikir dengan baik dan jernih. Mereka sudah banyak berkorban, ibumu, benar-benar wanita yang tangguh dan sabar. Sampai akhirnya, ayah ingin mengembalikan ibumu pada cintanya. Tapi ayah memikirkanmu dan Anya, butuh beberapa bulan hingga akhirnya, ayah yakin.. melepaskan ibumu adalah hal yang tepat dan terbaik” Jelas ayahku
“Ayah, bagaimana bisa ayah sekuat itu?”
“Pengorbanan ayah tidak ada bandingnya dengan pengorbanan ibumu dan sahabat ayah itu. Awalnya sahabat ayah itu tidak ingin ayah menceraikan ibumu, namun ayah tidak bisa terus bersama dengan orang yang tidak sepenuhnya mencintai ayah” Kata ayahku kemudian Ia diam beberapa detik dan meneruskannya kembali “Dimas, ibumu sangat menyayangimu dan Anya, saat memutuskan untuk bercerai, kami sama-sama berjanji akan memberikan apa saja untuk kalian berdua, kami tidak akan kepengadilan hanya untuk memperebutkan hak asuh anak, karena kalian berhak mendapatkan kasih sayang dari ibu dan ayah kalian, sebenarnya ayah yang meminta agar kamu dan Anya tetap tinggal bersama ayah” Jelas ayahku, sementara aku benar-benar kehabisan kata-kata, tidak tahu harus berkata apalagi. Ternyata alasan mereka bercerai jauh dari bayanganku sebelumnya, bagaimana bisa serumit ini.
“Dimas, dengarkan ayah, jika kamu mencintai seseorang, jangan merelakan dia bersama orang lain jika dia juga mencintaimu. Kalian hanya akan sama-sama berkorban. Maafkan ayah dan ibumu Dim, kamu dan Anya akhirnya juga jadi ikut berkorban demi kami” Perkataan ayahku kali ini membuatku memeluknya, aku bisa merasakan kesedihan yang teramat dalam. Inikah yang akan terjadi jika aku terus membiarkan Vali bersama dengan Leo. Tapi aku tidak tahu bagaimana sebenarnya perasaan Vali terhadapku bahkan aku tidak membiarkannya menjawab pertanyaanku yang memintanya untuk menjadi kekasihku.
Keesokkan harinya, aku duduk ditaman belakang rumahku, tempat yang tepat untuk menenangkan pikiran. Ayahku mendesain rumah ini pasti dengan banyak pertimbangan sehingga Ia bisa membuat rumah yang menurutku sangat nyaman. Aku mendengar langkah kaki yang rasanya semakin dekat denganku. Kulihat sekelilingku dan kudapati ayah tiriku berjalan kearahku. Aku bisa menebak, ayahku pasti sudah memberitahukan padanya kalau dia sudah menceritakan semuanya. Ayah tiriku kemudian duduk disampingku sambil menepuk pelan pundakku, aku tersenyum melihatnya. Setelah beberapa saat terdiam Ia mulai bersuara
“Dimas, maafkan saya, gara-gara saya, kamu dan Anya jadi korban atas kesalahan kami, kamu dan Anya akhirnya harus menerima perceraian orang tua kalian” Katanya tanpa basa-basi
“Bapak gak salah, gak ada yang bisa disalahin” Kataku padanya
“Ayah dan ibumu beruntung punya anak kayak kamu Dim” Aku hanya tersenyum mendengar perkataannya. Kemudian ayah tiriku mulai bersuara lagi “Dim, kadang kita berpikir kita hanya perlu berkorban untuk membahagiakan orang yang sangat kita cintai. Tapi masalah hati, kita tidak bisa bermain dengan hal itu. Kamu tahu, dulu saya pikir, membiarkan ibumu menikah dengan ayahmu adalah hal yang tepat, tapi ternyata itu sangat salah. Saya terlalu takut kehilangan seorang sahabat seperti ayahmu, dan itu membuat saya sadar, seharusnya saya lebih percaya terhadap ayahmu”
“Maksud bapak?” aku tidak mengerti dengan perkataannya yang terakhir
“Seharusnya saya percaya padanya, dia tidak mungkin meninggalkan saya hanya karena kami mencintai wanita yang sama, apalagi kalau wanita itu mencintai saya, dia pasti akan dengan ikhlas merelakan hal itu, karena dia sahabat saya, dia pasti akan bahagia untuk kami” Perkataan ayah tiriku membuatku memandangnya, memandangnya seakan aku melihat cerminan diriku. Ya Tuhan, apakah ini tanda darimu. Apakah ini yang akan terjadi dimasa depan jika aku terus membiarkan Vali bersama Leo. Akankah Leo nantinya akan lebih kecewa lagi ketika dia mengetahui hal yang sebenarnya seperti ayahku?
“Dim, saya pikir waktu itu saya hanya perlu berkorban untuk membiarkan ibumu menikahi ayahmu. Tapi ternyata tidak, saat itu saya malah menyakiti ayahmu, sahabat yang sangat saya sayangi. Benar kata orang, satu kebohongan akan menimbulkan banyak kebohongan lain. Apalagi ini masalah hati. Kadang kita hanya perlu menerima kenyataan, bukan menolaknya dan mencari pembenaran lain, seakan kita tidak terima dengan kenyataan itu” Jelas ayah tiriku menasehati. Aku terus terdiam, kurasa dia menyaari bahwa aku sedang memikirkan sesuatu
“Saya harap kamu gak mengulang kesalahan saya, jangan Dimas, jangan kamu berpikir hanya kamu saja yang berkorban, yang ada kalian hanya akan sama-sama berkorban nantinya, bahkan akan menambah orang lain lagi untuk berkorban karena salah dalam memahami hati” Lanjutnya, aku merasa Ia mengetahui isi kepalaku
“Kenapa bapak bilang gini ke saya?” Tanyaku akhirnya, seakan-akan tidak mengerti apa yang dikatakannya
“Gadis yang ikut makan malam dengan kita kemarin, kamu menyukainya kan? Siapa namanya? Valerie ya?” Pertanyaan ayah tiriku membuatku mengalihkan pandanganku darinya, kemudian kemudian Ia tertawa kecil dan melanjutkan perkataannya saat melihatku tidak memberikan tanda-tanda akan menjawab “Kamu gak bisa bohong soal ini Dim, saya bisa lihat dari mata kamu juga dengan mata dia, cara kalian yang saling bergantian memandang, itu pernah saya rasakan dulu dengan ibumu. Dan saya harap kamu sudah memastikan bahwa dia memang benar-benar mencintai Leo, bukan kamu. Karena kamu tahu kan, apa yang nanti bisa saja terjadi kalau ternyata dia mencintai kamu, bukan Leo”
“Pak, bagaimana saya tahu perasaan dia, memberikan dia kesempatan untuk menjawab pertanyaan saya saja tidak saya berikan” Kataku tiba-tiba, aku merasa telah terpancing olehnya
“Kalau begitu pastikan sekarang” Ujarnya sambil terus memandangku
“Gak bisa Pak, dia udah sama Leo”
“Apa salahnya meminta jawaban dari dia, hanya memastikan, kamu gak kasihan sama Leo kalau ternyata Valerie tidak benar-benar mencintainya? Kalau Vali memang benar mencintai Leo, maka dalam hal ini kamu memang harus merelakannya. Tapi kalau ternyata dia mencintai kamu bagaimana?”
“Bagaimana dengan Leo?”
“Leo akan baik-baik saja, percaya saja sama dia. Kamu sahabatnya kan? Kamu seharusnya tidak meragukan kesetiaan dia. Kalau dia memang benar-benar menganggap kamu sahabatnya, dia tidak akan mungkin meninggalkanmu hanya karena kamu dan Vali saling mencintai. Bahkan nanti dia akan kecewa karena kamu meragukan kesetiaan dia” Perkataan Ayah tiriku membuat aku benar-benar berpikir saat itu, aku membenarkan ucapannya. Memang benar, aku menganggap bahwa akulah yang berkorban untuk mereka, tapi kalau Vali ternyata mencintaiku, berarti aku membiarkan orang yang kucintai juga berkorban dan begitu pun dengan Leo jika nantinya dia mengetahui yang sebenarnya dan semua itu hanya karena pikiranku yang tidak ingin kehilangan sahabat seperti Leo.
“Dimas, bagaimanapun pintarnya kamu menyembunyikan kebohongan, nanti pasti akan terbongkar juga. Jangan mengulangi kesalahanku Dim” Katanya kemudian. Aku tersenyum melihatnya “Pak, terimakasih pak, aku akan ke Vali sekarang” Ucapku sambil beranjak dari tempatku, ayah tiriku tersenyum dan menepuk pelan pundakku seakan memberi semangat.
Aku segera menjalankan mobilku sambil mengingat perguruan tinggi tempat Vali berkuliah. Leo pernah mengatakannya padaku, sekarang aku hanya perlu mengingatnya, perguruan tinggi swasta, oke sekarang aku ingat. Aku mengemudikan mobilku melewati beberapa jalan hingga sampai ketempat tujuanku. Aku bertanya pada beberapa mahasiswa yang berada disekitar kampus itu, syukurlah jarak jurusan musik tidak jauh dari tempatku berada.
Saat sampai di Jurusan Musik, aku bertanya lagi pada beberapa mahasiswa apakah ada yang mengenal dan mengetahui keberadaan Valerie, hingga sampai akhirnya aku menemukan Vali. Aku melihatnya duduk disebuah taman kampus yang hijau, Ia duduk sambil membaca sebuah buku. Dia masih sama, masih cantik dan manis. Aku menghampirinya, aku tidak memikirkan kata-kata yang akan kuucapkan. Aku hanya ingin mengetahui perasaan Vali terhadapku, yah.. hanya itu.
“Hei Val” Sapaku padanya yang kemudian memandangku
“Kak Dimas?” Vali memperlihatkan ekspresi terkejutnya. Aku duduk disampingnya
“Val, sebelumnya saya bener-bener minta maaf sama kamu”
“Soal?” Tanya Vali, aku menghela napas lalu mencoba menjawab pertanyaan Vali
“Maaf, dulu saya bilang saya cuman pura-pura dekatin kamu, saya bilang saya gak bener-bener sayang sama kamu. Itu semua bohong Val, saya gak pernah main-main sama kamu, saya gak pernah pura-pura suka sama kamu. Sebenernya saya gak tahu kalau ternyata orang yang disukai Leo itu kamu. Saya kayak gitu karena saya gak mau persahabatan saya sama Leo rusak hanya karena kita suka sama cewek yang sama” Jawabku menjelaskan kejadian sebenarnya
“Terus?”
“Ya terus, saya mau minta maaf. Tolong maafin saya Val, saya salah. Saya rela kok kamu nampar saya lagi, terserah kamu mo ngapain saya” Kataku, aku melihat Vali terus memandangku, aku tidak dapat menebak apa yang sedang Ia pikirkan
“Iya aku maafin kok” Katanya kemudian, seakan Ia tidak peduli dengan pernyataanku
“Saya boleh nanya sesuatu?”
“Apa?”
“Tentang perasaan kamu, apa kamu benar-benar mencintai Leo?” Tanyaku
“Apa gunanya kaka tahu? Gak penting juga kan” Vali balik bertanya
“Saya harus tahu Val” Kataku mencoba meyakinkan Vali
“Maksud kaka apa sih? Dateng tiba-tiba, pergi terus ngilang tiba-tiba, terus sekarang dateng lagi. Kaka pikir bisa datang pergi gitu aja, aku udah gak punya urusan sama kaka” Vali sedikit meninggikan suaranya kemudian Ia beranjak dari tempat duduknya dengan membawa buku yang tadi dibacanya. Aku mengejarnya dan menarik pelan tangannya agar dia berhenti berjalan
“Val, aku ngaku salah, salah banget. Tolong, aku cuman mau tahu perasaan kamu” kataku padanya, angin yang brhembus saat itu membuat rambutnya menutupi sebagian wajahnya
“Bukannya kaka gak peduli dengan perasaan aku? Bukannya kaka gak mau tahu dengan itu? Kaka sendiri kan yang minta aku buat gak usah ngasih jawaban” Vali benar-benar meninggikan suaranya
“Iya Val, aku minta maaf, aku memang salah. Tapi sekarang aku sadar, aku harus tahu perasaan kamu, aku gak bisa terus kayak gini Val” Ucapku seiring dengan mata Vali yang melihat kearahku, aku bisa melihat emosinya mulai meredah, kami sama-sama terdiam, hanya saling menatap untuk beberapa saat kemudian aku melihat air mata jatuh membasahi pipinya
“Kaka mau tau jawabannya?” Vali bertanya dan aku hanya menganggukkan kepalaku kemudian Ia melanjutkan perkataannya “IYA, jawabannya iya. Waktu itu akum au jawab iya akum au jadi pacar kakak” Vali sedikit meninggikan suaranya “Aku sayang sama kaka, tapi kaka jahat, kaka gak kayak Kak Leo. Aku sayang sama kaka tapi kaka gak peduli. Kaka udah buat aku sayang sama kaka tapi kaka gak peduli. Sekarang aku udah sama Ka Leo” Vali berkata sambil memukul-mukul pelan buku yang dipegangnya kelenganku, entah mengapa aku bisa merasakan kesedihannya. Aku lalu memeluknya, kupeluk dia yang masih menangis dengan kata-katanya yang membuat dadaku sesak “Kaka gak tahu gimana susahnya aku ngelupain kaka selama ini. Ka Leo baik banget kak, aku gak akan sanggup nyakitin dia” Vali masih menangis dan aku masih memeluknya
“Val, kita selesaiin ini bareng-bareng, percaya sama aku, Leo sahabat aku, dia pasti bisa ngerti” Aku melepaskan pelukanku seiring dengan kulihatnya Leo yang berada tidak jauh dari kami. Ia melihatku juga Vali, dia melihat kami dengan tatapan terkejut, aku bisa melihat dahinya yang mengkerut.
“Yo..” Aku mencoba menghampirinya namun Ia berlari menjauh dari kami, dia pasti melihat aku dan Vali berpelukan. Aku mengejar Leo, namun Leo berlari sangat cepat hingga aku hanya bisa melihat mobilnya yang melaju dengan kencang. Aku menghampiri Vali yang terlihat sangat cemas, kemudian aku meyakinkan Vali bahwa semuanya akan baik-baik saja. Aku akan mengurus ini, kutinggalkan tempat itu dan Vali yang masih merasa cemas. Kususul Leo kerumahnya, namun saat sampai dirumah Leo, tak kulihat mobilnya, saat kutanya pada seorang asisten rumah tangga dirumahnya ternyata Leo belum pulang kerumahnya. Aku segera pergi meninggalkan rumah Leo sambil berpikir dimana sebenarnya keberadaan Leo. Sampai akhirnya aku teringat akan suatu tempat, tempat dimana hanya aku dan Leo yang tahu.
Dugaanku benar, aku melihat Leo sedang duduk menatap kosong kearah depan, itu sebuah tempat dengan pemandangan danau dan pohon yang tumbuh dengan rindang. Aku menghampirinya dan duduk disebelahnya. Aku diam begitupun dengannya, kubiarkan keadaan ini, aku membiarkan Ia menenangkan pikirannya terlebih dahulu. Sampai beberapa saat kemudian Ia mulai bersuara
“Lu tahu tempat ini kan?” Tanya Leo dengan masih memandang kedepan, kearah danau
“Tempat main waktu kita kecil” Jawabku
“Bukan, tempat ini tempat pertama kali yang lu datengin saat lu benar-benar hancur” Kata Leo yang mengingatkanku pada saat dimana orang tuaku bercerai. Iya, saat itu aku berlari dari sekolah dan pergi ketempat itu. Tempat dimana setiap bulan kedua orangtuaku membawaku dan Leo untuk piknik ditempat itu. Aku hanya diam, lalu Leo bersuara kembali “Saat ini gue tahu kenapa waktu itu lu lari kesini, gue juga hancur Dim” Ucapan Leo membuat hatiku juga hancur
“Yo, tolong dengerin gue..” Kataku sampai Leo memotongnya “Kenapa lu sih Dim? Kenapa harus elu yang ngerebut Vali?” Ucapan Leo kali ini menyesakkan dadaku
“Yo, gak gitu Yo, jangan salah paham dulu..” Aku tidak bisa melanjutkan perkataanku, Leo kembali memotongnya “Gue denger Dim, gue denger Vali suka sama lu. Lu ngapain sih, dateng kekampusnya Vali terus meluk dia”
“Yo, please, dengerin gue dulu. Gue jelasin semuanya sekarang, tolong dengerin gue sebagai sahabat lu” Kataku pada Leo yang kulihat mulai meredahkan emosinya. Aku mencoba membujuk Leo untuk mendengarkanku dan menenangkan pikirannya. Ketika kulihat dia sudah mulai tenang, aku menceritakan semuanya pada Leo. Kuceritakan bagaimana aku bertemu dengan Vali, kemudian jatuh cinta padanya, sampai aku berpura-pura tidak mengenal Vali dan membiarkan mereka berdua bersama hingga datang ke kampus Vali untuk menanyakan kepastian hatinya.
Setelah mendengar penjelasanku, kulihat Leo menundukkan kepalanya kemudian Ia memandangku, matanya merah berkaca, Ia memandangku tanpa berkata apa-apa, aku pun juga memandangnya. Sampai akhirnya Leo memelukku setelah beberapa saat kami sama-sama terdiam.
“Lu kenapa sih Dim, kalau kayak git ulu malah nyakitin gue, lu nyakitin Vali” Ucap Leo sambil melepas pelukannya
“Iya gue salah, gue minta maaf Yo, gue pikir itu yang terbaik tapi ternyata enggak Yo” Kataku
“Yang pastinya gue butuh waktu Dim, gue belum bisa ketemu Vali, gue juga belum bisa ketemu lu. Tolong kasih gue waktu” Kata Leo
“Iya Yo, gue paham. Tapi tolong maafin gue, gue gak mau kehilangan sahabat kayak lu” Kataku pada Leo, aku benar-benar takut dia akan menjauhiku, aku takut waktu yang dia katakana adalah untuk selamanya tidak bisa bertemu aku dan Vali. Beberapa saat kemudian Leo pergi, meninggalkan tempat itu, aku masih duduk terdiam berharap Leo memaafkan ketidakjujuranku.
***
Beberapa minggu kemudian, pernikahan ayahku dan Tante Dian diadakan disebuah ballroom hotel. Sebuah pernikahan yang sederhana, hanya keluarga besar dan rekan kerja ayahku saja yang diundang malam itu. Sementara itu, aku menunggu kedatangan seseorang yang kuharap akan datang saat itu. Aku keluar dari pesta, pergi ke balkon hotel, menikmati pemandangan lampu-lampu malam dari atas. Sampai akhirnya aku mendengar langkah kaki yang mendekatiku, kubalikkan badanku dan kulihat Leo dan Vali yang datang bersama, aku sempat terpesona dengan kecantikan Vali saat itu namun aku lebih bahagia karena untuk pertama kalinya aku dapat bertemu dengan Leo setelah kejadian beberapa minggu yang lalu.
“Leo, akhirnya lu dateng juga” Aku memeluk Leo dan kemudian melepasnya
“Nih gue bawain” Leo menunjuk Vali dengan dagunya, aku melihatnya dengan tatapan bingung
“Udah seharusnya Vali sama lu kan” Leo mengambil tanganku dan mempersatukannya dengan tangan Vali, seiring dengan melangkahnya Vali agar dapat sejajar denganku
“Yo, gue gak tahu harus bilang apa” Kataku
“Apaan sih, emang udah seharusnya kan kalian sama-sama. Makasih ya Dim, udah mau jujur dan makasih udah ngasih gue kesempatan untuk bareng sama Vali” Kata Leo padaku kemudian Ia memandang Vali dan mulai bersuara “Val, maaf karna perasaanku kamu jadi ngorbanin perasaan kamu” Kata Leo pada Vali
“Gak usah minta maaf kali kak, aku bersyukur udah kenal jauh sama Ka Leo” Ucap Vali dan tersenyum diakhir perkataannya. Kami bertiga pun tertawa, entah apa yang membuat kami tertawa. Sampai akhirnya Anya datang menghentikan tawa kami
“Kak Dimas, kok disini sih? ayah panggil tuh buat foto” Kata Anya yang sudah berada dihadapan kami
“Oh yaudah kesana yuk” Ajakku
“Ehm, Dim.. kalau gue jadi adik ipar lu aja gimana?” Pertanyaan Leo membuatku memandangnya, aku tidak tahu dia serius atau bercanda. Tapi kulihat matanya memandang Anya, berbeda saat kami masih SMA dulu.
“Adik gue baru 15 tahun ya Yo, awas lu macem-macem” Ucapku kemudian tertawa kecil, Vali juga tertawa
“Mending ama gue lagi, cowok diluar sana banyak yang brengsek tauk” Kata Leo
“Apaan sih” Ucapku sambil mulai melangkahkan kakiku dengan Vali yang menggandeng tanganku. Aku melirik Leo yang berada dibelakangku, kulihat dia mencoba menyamakan langkah kakinya dengan Anya dan samar-samar kudengar Ia berkata pada Anya “Nya, cepet gede dong” sementara Anya hanya memandangnya dengan tatapan tidak bingung. Aku hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah Leo dan kepolosan Anya, dalam benakku sangat senang jika Anya bisa bersama dengan orang seperti Leo.
***
THE END





0 comments:

Post a Comment

 

Readvelo Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang