FIRST
TIME
Langit masih terlihat gelap,
matahari belum sepenuhnya terbit namun pagi itu Viola telah sibuk dengan
perlengkapannya sendiri dan sempat risih dengan kepangan 20 yang menghiasi
rambutnya ditemani dengan pita-pita hijau terang yang semakin membuatnya kurang
nyaman, belum lagi perlengkapan yang harus Ia bawa. Namun sesampainya disekolah
barunya Ia tak begitu risih lagi karena semua siswa baru yang mengikuti MOS
juga kurang lebih berpenampilan sama sepertinya.
“Hey, nggak telat kan” sapa
sahabatnya Febby yang sejak SMP menemani hari-hari Viola.
“Hey, nggak dong. Ini tuh
belum jam 6 tau” Ucap Viola santai
“Oke lah, kirain kamu telat
bangun”
“Gimana mau telat bangun
kalau dari malam aja udah gelisah tidurnya”
“Udah, bawa santai aja lagi.
Masih mau lima hari lagi kita kayak gini”
“Hah ? lima ? nggak salah,
bukannya enam”
“Kok enam sih, kan hari ini udah”
“Udah apanya, kita aja belum
ngapa-ngapain”
“Oh iya yah”
Setelah berbincang ria, tak
lama setelah itu terdengar kakak senior dengan menggunakan seragam putih
abu-abu yang merupakan panitia penyelenggaraan MOS tersebut menyuruh mereka
untuk berkumpul. Semua peserta MOS termasuk Viola dan Febby pun bergerak cepat
menuruti perintah dan berbaris di kelas masing-masing. Karena mereka berdua
berada dikelompok yang berbeda.
Viola berdiri diam
ditempatnya sambil sesekali melirik Febby yang juga berbaris tak jauh darinya.
Ia merasa sangat asing disekolah yang baru Ia masuki, meskipun ada beberapa
temannya yang berasal dari SMP yang sama.
“Wali-wali kelasnya berdiri
didekat barisannya masing-masing, pilih ketua dan sekertaris” Sahut panitia
yang berada didepan dengan menggunakan toa yang digandengnya sedari tadi.
Viola hanya melihat
orang-orang disekitarnya semua terdiam kecuali para kakak senior yang merupakan
panitia sedang memilih ketua dan seketaris dari masing-masing kelas. Tiba-tiba
ada yang memegang lengannya dan Ia pun segera menoleh, seorang kakak senior
perempuan yang merupakan wali kelasnya sedang berada disampingnya. Viola pun
merasakan detak jantungnya berdetak dengan cepat.
“Kamu jadi sekertaris kelas
ini yah” Ucap kakak senior tersebut sambil menarik pelan lengan Viola untuk
menempatkannya dibarisan paling depan.
“Saya kak ?” Tanya Viola tak
yakin
“Iya kamu, berbaris paling
depan yah” Jawab kakak tersebut lalu menanyakan kembali pada temannya yang juga
merupakan wali kelas tersebut.
“Jerry, yang ini kan” sahut
senior tersebut pada temannya dan temannya pun hanya mengangguk sambil sedikit
tersenyum
“Kamu disini yah” Kata senior
tersebut lalu berdiri didepan barisan, berdampingan dengan kakak senior
laki-laki yang juga merupakan wali kelas MOS di kelas Viola dan teman-teman
barunya.
“Untuk wali kelasnya
masing-masing, perkenalan sama adik-adiknya. Sambil duduk saja yah” Perintah
lagi panitia yang berada didepan. Semua peserta MOS pun duduk melantai termasuk
wali kelasnya yang terdiri dari dua orang panitia masing-masing perempuan dan
laki-laki. Viola berpikir mungkin panitia yang berada didepan telah ditugasi
untuk mengurus jalannya MOS ini.
“Kita perkenalan dulu, aku
Sesha kelas 12 IPA1” Ucap senior tersebut yang bernama Sesha
“Hmm aku Jerry kelas 12 IPA2”
Ucap senior disebelahnya yang bernama Jerry
“Oh ya, trus ketua sama
sekertarisnya namanya siapa ?” Tanya Sesha
“Kalau aku Didit kak” Sahut
Didit yang sebelumnya tidak dikenal Viola
“Aku Viola kak” Ucap Viola
“Oh Viola” Sahut Sesha sambil
melirik Jerry dan Jerry pun hanya terdiam tanpa ekspresi
“Peserta Mos semuanya tulis biodata dikertas
selembar yah, kumpul sama wali kelasnya masing-masing” Sahut salah satu panitia
“Semuanya, nulis biodata
dikertas selembar yah” Kata Shesa mengulangi pemberitahuan yang baru saja
disampaikan
“Ehh, kayaknya barisan yang
dibelakang nggak denger tuh” Kata Jerry
“Yaudah aku koordinir yang
dibelakang aja, kamu disini yah. Jangan kemana-mana loh” Kata Shesa lalu
beranjak dari tempatnya dan berjalan kebelakang barisan.
Seluruh perserta Mos pun
sibuk menulis biodatanya masing-masing termasuk Viola.
“Ini kak” Ucap Viola sambil
memberikan kertas biodatanya pada Jerry yang berada didepannya. Jerry pun
mengambil kertas tersebut dan melihatnya
“Kok cuman ini sih, dikit
banget” Protes Jerry
“Emangnya apa lagi kak ?”
Tanya Viola hati-hati
“Kamu harus nulis asal
sekolah, minat, bakat, prestasi, penyakit yang pernah diderita, kalau perlu
nomor HP kamu juga ditulis” Kata Jerry sambil mengembalikan kertas tersebut
pada Viola
“Emm iya deh kak” Viola pun
mengambil kembali kertasnya dan menambahkan apa yang dikatakan Jerry. Setelah
selesai Viola pun kembali memberikan kertasnya pada Jerry
“Coba aku lihat” Sahut Jerry
sambil mengambil kertas biodata Viola dan melihatnya.
Kemudian terdengar lagi suara
dari panitia yang menggunakan toa
“Adik-adik, Kita butuh lima
orang untuk maju kedepan, kakak panitia tolong pilih dong lima orang itu”
“Untuk apa” Viola bersuara
kecil bertanya pada dirinya sendiri namun suara kecil Viola itu terdengar oleh
Jerry
“Nanti kamu juga bakalan tau
kok, liat aja ntar kalau Cahya udah ngomong lagi” Sahut Jerry yang mengejutkan
Viola.
“Cahya ?” Tanya Viola
hati-hati nyaris seperti berbisik
“Oh iya kamu kan belum tau,
yang didepan itu namanya Kak Cahya”
“Oh Kak Cahya. Emm iya kak”
Viola tak berani berbicara banyak pada kakak panitia.
Setelah didepan telah
terkumpul lima orang peserta Mos yang telah dipilih oleh panitia, Cahya pun
kembali berbicara
“Oke, di sini sudah ada lima
orang teman kalian”
“Mereka ini akan menirukan
gaya dance 7icon” Lanjut Cahya sambil tersenyum
“Bingung yah, kenapa lima
orang. Karena dua orangnya lagi dari kalian-kalian ini yang tertawa atau
senyum-senyum lihat mereka didepan pas lagi joget” Cahya melanjutkan kembali kata-katanya.
“Jadi, jangan ada yang
ketawa” Sahut salah satu panitia
“Oke, music” Sahut Cahya
memberikan kode pada temannya dan terdengarlah lagu Playboy dari 7icon
“Ada-ada aja mereka. Ehh,
kamu tinggal dialamat ini ?” Tanya Jerry sambil menunjuk alamat Viola yang
tercantum dikertas tersebut
“Iya kak” Jawab Viola polos
“Berarti deket dong ama rumah
aku, kompleks ini kan nggak jauh dari rumah aku”
“Oh gitu yah kak”
“Ehh, ulang tahun kamu akhir
bulan ini yah?” Tanya Jerry saat melihat kembali kertas biodata Viola
“Iya kak” Jawab Viola
“Wahh, sayang banget yah Mos
udah selesai di tanggal ini”
“Emangnya kenapa kak?”
“Yahh kalau ulang tahun kamu
masih Mos, panitia ada bahan lagi buat dikerjain” Kata Jerry sambil tertawa
kecil
“Yahh, masa gitu sih kak” Viola
murung
“Itu udah suka-sukanya
panitia lah dek, tapi kan untungnya ulang tahun kamu udah selesai Mos” Jerry
tersenyum
“Iya yah kak” Viola membalas
senyuman Jerry
“Oh ya, kenapa kamu nggak
masuk SMA yang ada didekat rumah kamu itu ?” Tanya Jerry
“Emm disini udah keterima
duluan kak trus juga pengen nyari suasana baru aja” Jawab Viola.
“Oh gitu..” Ucap Jerry
“Kalau kakak, kenapa nggak
masuk di SMA yang itu aja ? kan deket”
“Yahh, aku kurang suka sama
pergaulannya dek, trus SMA ini emang udah dari dulu keluarga aku banyak yang
sekolah disini”
“Oh gitu kak” Viola sudah tak
memperhatikan peserta Mos yang sedang berada didepan karena berbincang dengan
Jerry.
“Tapi kamu mendaftar juga di
SMA itu ?” Tanya Jerry
“Iya kak, tapi cuman ngambil
formulir aja, pas aku tau disini udah diterima jadinya nggak ngurus berkas
lagi” Jawab Viola
“Ohh sama dong kayak aku
dulu, cuman aku udah ikut testnya. Kamu kenapa nggak ikut testnya juga ?”
“Yah gimana mau ikut kak,
disini aja udah mos tapi disana masih test”
“Pantesan, mungkin disini
terlalu cepet kali ya”
“Atau disana yang terlalu
lambat kak”
“Udahlah, itu urusan sekolah.
Lagian kalian ini sehabis mos ada liburnya kok”
“Beneran kak ?”
“Itulah baguslah sekolah ini,
abis mos ada liburnya. Yah itung-itung
buat kita fresh lah”
“Bagus dong kak”
“Iya dong” Senyum Jerry dan Viola
pun juga tersenyum namun dilihat oleh panitia yang memperhatikan peserta jika
ada yang tertawa. Seorang panitia pun menghampiri Viola
“Ehh kamu kok ketawa” Tunjuk
panitia tersebut pada Viola
“Hah?” Viola terkejut dan
hanya bisa diam
“Ehh nggak, tadi dia bicara
ama aku” Sahut Jerry cepat
“Oh gitu, yaudah” Panitia
tersebut pun pergi dan Viola tersenyum pada Jerry menandakan ucapan terimakasih
yang dibalas senyuman juga oleh Jerry.
“Ehh, yang lain udah pada
kumpul biodatanya kan” Sahut Sesha yang tiba-tiba datang
“Iya udah, nih biodatanya”
Ucap Jerry sambil memberikan kertas-kertas yang sedari tadi Ia pegang
“Oh ya, Shesa tadi aku sempat
ngeliat asal sekolah Viola, kalian dari SMP yang sama yah” Lanjut Jerry ketika
sebelumnya masih terdiam
“Masa sih, coba aku liat”
Kata Shesa sambil mengambil biodata
“Oh iya bener. Viola ternyata
Kita dari SMP yang sama yah” Lanjut Shesa
“Wah kebetulan dong kak” Kata
Viola dan Shesa pun hanya tersenyum lalu berjalan pergi diikuti Jerry
“Emm,, kamu udah liat-liat
biodata Viola yah“ Kata Shesa saat berjalan bersama Jerry
“Yahh tadi itu cuman
kebetulan aja Sa” Jerry menyangkal
“Hmm masa sih Ri” Shesa tak
percaya
“Ah rese kamu” Jerry pun
berjalan lebih cepat dan pergi meninggalkan Shesa yang hanya tertawa geli
melihat tingkah temannya itu.
* * *
SMS
Hari pertama Mos telah
terlewatkan sudah, baru satu hari dijalaninya namun Viola merasa seakan waktu
sangat berjalan lambat saat mengikuti Mos. Ingin rasanya cepat-cepat
menghabiskan sisa hari untuk mengikuti Mos dan meninggalkan putih biru diganti
dengan putih abu-abu yang sudah dinantikannya. Rasanya seperti sangat cepat
hari telah berganti lagi, ini merupakan hari kedua Mos yang diikuti Viola.
“Chayo Vio, ini hari kedua.
Empat hari lagi Kita bakal ninggalin ini semua” Sahut Febby menyemangati Viola
yang sibuk mengumpulkan daun-daun kering yang berserakan dihalaman sekolah.
“Iya iya” Sahut Viola sambil
tersenyum, Febby tahu bahwa Viola sangat tak suka dibentak-bentak dan dimarahi
jika Ia tak berbuat salah seperti yang dilakukan oleh kakak senior saat Mos
berlangsung.
“Semuanya kumpul dilapangan
sesuai kelasnya” Terdengar kembali suara Panitia dan semua peserta Mos pun
mengikutinya.
“Waktunya pembagian tugas, untuk
kelas pertama yang diujung sana membersihkan aula dan walikelasnya bimbing
adik-adiknya” Kata panitia dan kelas yang disebutkan itu merupakan kelas Viola.
Dengan dampingi Jerry dan Shesa mereka pun menuju ke aula.
Sesampainya di aula, Viola
dan peserta Mos lainnya yang ada dikelas yang sama juga saling membantu
membersihkan aula tersebut. Saat telah selesai membersihkannya. Shesa dan Jerry
pun menyuruh mereka untuk berkumpul membentuk bundaran.
“Kalian semua udah pada
saling kenal ?” Tanya Shesa
“Ada yang sudah tapi ada yang
belum kak” Jawab salah satu perserta Mos
“Emm yaudah kalau gitu Kita
kenalan aja dulu, sebutkan nama sama asal sekolahnya sekalian aku juga pengen
memastikan nomor-nomor HP kalian nih. Supaya kalau ada informasi-informasi kan
aku bisa SMS” Kata Shesa.
“Dimulai dari sebelah kanan
sini aja” Sambung Jerry dan semuanya pun memperkenalkan dirinya masing-masing
dan tiba saatnya giliran Viola
“Nama saya Viola Angela, asal
sekolah dari SMP Bintang” Ucap Viola
“Nomor kamu yang akhirnya 777
itu?” Tanya Shesa
“Iya kak” Jawab Viola
“Oke” Ucap Shesa lalu melirik
Jerry
“Kamu nggak mau ambil nomornya
Ri” Lanjut Shesa sambil tertawa kecil dan Jerry pun hanya terdiam
“Oke lanjut” Sahut Jerry
memecahkan keheningan dan Shesa pun hanya bisa tersenyum. Dan perkenalan pun
terus berlanjut hingga akhirnya selesai lalu mereka semua kembali ke lapangan
untuk melanjutkan kegiatan Mos tersebut.
* * *
Viola terbaring lemas
ditempat tidurnya, rasanya Ia ingin segera tidur namun mengingat harus pergi
dengan Febby Ia pun mengurungkan niatnya. Tak lama kemudian ponselnya pun
berbunyi menandakan ada pesan masuk, dibukanya pesan itu
From: Febby
“Dmna ? Prgi skrng yuk.."
Viola pun menarik nafas
panjang lalu mulai mengetik tombol diponselnya untuk membalas pesan dari Febby
To : Febby
“Iya iya,
siap2 aj yah. Bentar lg aku dah mau k’situ..”
From : Febby
“Ok’ok, ditnggu yah.. J”
Viola pun bersiap-siap untuk
pergi menuju kerumah Febby, dan setelah itu sampailah Ia ditempat tujuan. Febby
yang mendengar suara mobil milik Viola pun bergegas keluar rumahnya dan
mengajak Viola masuk. Meskipun dikamar Febby, Viola tetap menyempatkan
berbaring lagi ditempat tidur Febby
“Kamu tau nggak, aku cape
banget nget nget dehh pokoknya” Sahut Viola masih tetap dalam posisi berbaring
“Aku juga tau” Ucap Febby
Sesaat sesudah itu, terdengar
lagi suara ponsel milik Viola berbunyi menandakan pesan masuk.
“Sms kamu tuh Vio” Sahut
Febby
“Iya aku tau” Ucap Viola
kemudian mengambil ponsel
ditasnya.
From: (no name)
“Ini dngan viola?”
“Siapa sih Vio ?” Tanya Febby
yang sedang sibuk mengurus rambutnya yang basah
“Nggak tau, nomor baru” Jawab
Viola datar kemudian membalas pesan singkat tersebut
To : (no name)
“Iya, maaf ini sapa yah?”
Viola kembali pada posisi
awalnya dan tak lama dari situ ponselnya
kembali berdering.
Dibukanya pesan tersebut, matanya melotot dan reflex Ia terbangun dari
baringnya sambil terus menatap layar ponsel yang berada ditangannya dengan
tatapan tak percaya.
“Kenapa sih Vio?” Tanya Febby
yang menyadari tingkah aneh Viola yang dilihatnya dari cermin
“Ini sms dari Kak Jerry”
Jawab Viola
“Hah ? Kak Jerry?” Febby
membalikkan badannya
“Iya, panitia Mos. Walikelas
aku”
“Dia sms kamu ?”
“Iyyaa”
“Wahh, curiga aku”
“Iiih kamu apa-apaan sih”
“Becanda Vio”
Viola kembali melihat layar ponselnya
lalu mulai menekan tombol-tombolnya untuk membalas pesan dari Jerry
To : (no name)
Ohh ka’jerry, kirain sapa :D
ada perlu apa ka’ ?
“Yahh, sms yang tepat”
Komentar Febby
“Udah ah diem, pergi sekarang yuk!
sebelum aku ketiduran disini”
“Hhahaha, oke deh” Ucap Febby
lalu bersiap pergi bersama Viola.
Saat sampai disebuah tempat
perbelanjaan, Febby sibuk mencari suatu barang yang ingin dibelinya begitu pun
dengan Viola yang juga disibukkan dengan ponselnya yang terus berbunyi
menandakan pesan masuk dari Jerry.
“Dari tadi kayaknya kamu
ribet sama HP yahh” Sahut Febby yang memperhatikan Viola
“Iya nih, Kak Jerry sms mulu”
Sahut Viola
“Yaudah bales aja”
“Iya ini juga lagi dibales
kok”
“Emm Vio, kayaknya…..” Ucap
Febby yang enggan meneruskan perkataannya
“Kayaknya kenapa?” Tanya
Viola bingung
‘Tapi
masa iya sih baru kenal trus kakak kelas itu udah suka sama Vio’ Batin Febby mulai berbicara
“Emmm enggak kok, cuman
perasaan aku aja kali”
“Ohh yaudah, asalkan kamu
jangan mikirin yang macem-macem yahh” Nyengir Viola
“Iiih enggak lagi Vio” Febby
tertawa kecil
“Vio, balik yuk! Udah jam
berapa nih. Besok kan Kita harus pergi subuh-subuh lagi ke sekolah” Kata Febby sambil
memperlihatkan jam yang yang melingkar manis ditangannya
“Iya yaudah yuk” Ajak Viola kemudian
mereka berdua pun pulang
* * *
Pagi itu, seperti dua hari
sebelumnya Viola dan peserta Mos lainnya tetap mengikuti jalannya Mos dan
begitu pun hari-hari selanjutnya sampai akhirnya tiba lah saat hari terakhir
kegiatan Mos tersebut. Hari itu Viola seperti lebih bersemangat dari
sebelumnya, wajahnya berseri, ini merupakan hari terakhir dirinya menggunakan
rok biru dan kaos Mos.
“Ciiyelah, cerah banget muka
kamu. Tumben.. nggak kayak kemarin-kemarin” Sahut Febby tersenyum saat bertemu
Viola dihalaman depan sekolah
“Iya dong, ini kan hari
terakhir. Hatiku seneng banget tau nggak, hhehehe” Viola nyengir
“Ahhaha, gaya lu Vio” Sahut
Febby sambil tertawa
“Adik-adik yang sudah datang,
masuk ke aula sekarang” Perintah Panitia
“Ehh ke aula yuk” Ajak Viola
“Ciiyelah, semangat banget”
Ejek Febby
“Harus dong, ini kan hari
terakhir” Kata Viola sedikit berbisik
“Oke lah” Ucap Febby
Viola dan Febby duduk
ditempat yang berbeda sesuai dengan barisan kelas mereka. Saat Viola duduk
ditempatnya, Ia merasa ada yang berbeda. Rasanya Ia seperti tak ingin Mos ini
berakhir, namun Ia pun segera menghapus rasa itu.
Hari itu seperti begitu cepat
berjalan hingga sampailah saat jam makan istirahat dan waktu itu dimanfaatkan
beberapa peserta untuk memberikan coklat pada kakak senior yang menjadi panitia
favorit mereka. Termasuk Viola, Ia memberikan sebuah wafer coklat untuk Shesa
yang selama Mos begitu baik dengannya.
“Kak, ini buat kakak” Kata
Viola sambil memberikan wafer coklat yang dibawanya
“Wah, makasih yah Vio” Shesa
tersenyum
“Iya sama-sama kak” Ucap Viola
dan tiba-tiba Jerry pun datang
ditengah-tengah mereka berdua
“Ehm, masa aku nggak dikasih
sih” Sahut Jerry
“Emm…” Viola memeriksa tas kantongannya,
Ia melihat ada dua coklat yang sama dan salah satu coklat itu memang sebenarnya untuk jaga-jaga walaupun itu merupakan coklat
kesukaannya
namun
Viola tetap memberikan satu coklat itu pada Jerry karena pemikirannya
masih ada satu coklat lagi untuknya
“Ini buat kakak” Kata Viola tersenyum
“Ehh beneren nih, padahal
tadi aku cuman becanda loh”
“Iya kak, ini buat kakak”
Viola memberikan coklat tersebut
“Ikhlas kan” Ucap Jerry
sambil mengambil coklat tersebut
“Hhehe iya kak, ikhlas kok”
“Oke, makasih yah”
“Iya sama-sama kak” Jerry pun
kembali duduk ditempatnya semula begitu pun Viola.
Saat Jerry baru saja duduk tiba-tiba ada salah satu peserta yang merupakan
teman sekelas Mos Viola juga memberikan Jerry wafer coklat yang sama seperti
wafer coklat yang diberikan Viola untuk Shesa namun jumlahnya lebih banyak lagi.
Saat Jerry menerimanya Ia pun kembali beranjak dan menemui Viola kembali.
“Vio, aku bisa titip ini kan d’tas kamu?” Pinta Jerry sambil menunjukkan
wafer coklat tersebut
“Emm,, iya boleh kok ka’” Sahut Viola sambil mengambil wafer coklat tersebut.
“Yaudah sebentar aku ambil yah”
“Iya kak” Jerry
pun kembali duduk ditempatnya
Jam istirahat selesai sudah,
panitia kembali mengambil alih kegiatan tersebut.
“Adik-adik, karena ini adalah
hari terakhir, sekarang Kita nyanyi sama-sama aja yah. Yang namanya Oni maju
kedepan main gitar, Kita semua tau kok kamu pintar mainin gitar” Kata salah
satu Panitia dan yang bernama Oni pun maju kedepan dengan percaya dirinya, Oni
juga merupakan salah satu teman Viola dari SMP. Oni pun mulai memainkan gitar
yang berada dipangkuannya dengan sangat indah, Ia melantunkan lagu milik Jamrud
yang berjudul Pelangi Dimatamu. Panitia maupun beberapa peserta ikut bernyanyi
bersama termasuk Viola meskipun suara Viola bernyanyi lebih seperti berbisik.
Perasaan Viola semakin tidak ingin cepat-cepat mengakhiri hari terakhir Mos
ini, Ia seakan meresa sedih apalagi ketika melihat panitia-panitia yang sudah
tak lagi memberikan hukuman.
Setelah beberapa saat
bernyanyi bersama, tiba-tiba terdengar keributan didepan pintu aula, panitia
maupun peserta semuanya berdiri dan terdiam seketika. Ada beberapa panitia
laki-laki yang sedang berkelahi, setelah melihat itu panitia laki-laki yang
lainnya pun ikut membantu temannya masing-masing hingga terjadi kekacauan.
Saling pukul-memukul tak terhindari lagi, beberapa panitia perempuan terlihat
hanya bisa berteriak untuk menyuruh teman-temannya berhenti berkelahi. Viola
semakin takut, dari kecil Ia sangat tak suka dengan perkelahian yang saling
memukul dan itu sekarang terjadi didepan matanya, Viola dapat merasa tubuhnya
bergetar seakan ingin terjatuh, dilihatnya Jerry sedang berusaha memisahkan
teman-temannya yang sedang berkelahi. Kemudian Shesa pun mengambil alih
kelasnya, Ia menyuruh semua peserta duduk kembali. Mata Shesa terlihat
mengeluarkan air mata, sedih melihat teman-temannya berkelahi. Sampai akhirnya
kekacauan pun meredah, Cahya kembali mengambil alih kegiatan tersebut
“Semua peserta harap diam,
dan nama yang aku panggil maju kedepan” Ucap Cahya dengan wajah serius tanpa
ekspresi
“Deny Hidayat, Indriani, dan
Taufik. Tiga orang yang aku sebutin maju kedepan sekarang” Lanjut Cahya namun
nama yang dipanggil tak juga maju
“Yang dipanggil tadi maju
dong” Sahut salah satu panitia
“Semuanya berdiri” Perintah
Cahya tegas dan semua peserta pun berdiri
“Tiga orang tadi mau maju
sendiri atau mau dijemput” Lanjut kembali Cahya dengan raut muka tanpa ekspresi
dan tiga orang tersebut pun maju dengan raut wajah yang terlihat bingung lalu
berdiri berhadapan dengan peserta lain. Dalam hati Viola masih bertanya-tanya,
‘ada apa ini sebenarnya’, bukan hanya Viola, semua peserta pun sangat
kebingungan
“Peserta yang berdiri didepan
sekarang, tau nggak apa salah kalian” Kata Cahya sedikit membentak dan
ketiganya pun menggeleng
“Emangnya kalian nggak punya
mulut yah sampe pake isyarat kepala segala” Bentak panitia lainnya
“Tidak kak, kita nggak tau”
Ucap ketiga peserta tersebut hampir
bersamaan.
“Eh ehh, kenapa ini? Mereka
bertiga kan adik waliku, kenapa dimajuin kedepan” Sahut salah satu panitia yang
merupakan walikelas dari ketiga peserta yang sedang berdiri didepan.
“Mereka ini salah Rin” Ucap
Cahya pada temannya yang bernama Rini
“Salah kenapa ?”
“Mereka nggak aktif, sering
nggak denger kata-kata panitia. Emangnya kalian bertiga pikir kalian bisa
seenaknya disini. Belum juga masuk sekolah udah buat masalah”
“Tapi masa cuman mereka sih,
masih banyak yang lain kok. Mereka ini nggak tau apa-apa” Protes Rini
“Ehh udah dong, masa kalian
berdua bertengkar hanya gara-gara tiga peserta Mos ini” Sahut panitia lainnya
“Semua peserta Mos selain
dari tiga orang ini, kalian terima teman kalian diginiin. Dibentak-bentak
padahal nggak salah” Kata Rini
“Ehh mereka ini salah Rin”
Sahut Cahya
“Tapi buktinya nggak ada kan”
“Udah dong, Rini.. Cahya..”
Sahut Shesa
“Ehh peserta lainnya kenapa
diem aja, hanya gara-gara kalian kita bertengkar” Sahut panitia lainnya
“Nggak solidaritas banget sih
kalian. Mana kebersamaannya” Sambung Rini
“Nggak kolektif nih kalian,
selama Mos ini kan Kita selalu ngajarin kebersamaan. Tapi masa pas hari
terakhir Kalian malah lupain itu” Lanjut lagi Cahya. Kemudian tiba-tiba seorang
guru pun datang mencoba meredahkan suasana.
“Eh sudah sudah, semua orang
kan masing-masing punya kesalahan dan yang lainnya diharapkan bisa memaafkan.
Jika sadar membuat kesalahan segera minta maaf, jangan ditunda-tunda karena
semakin bertambahnya waktu berarti bertambahnya usia. Begitu pun ketiga orang
yang didepan ini yang juga sedang bertambah usia” kemudian terlihat dari
belakang barisan keramaian beberapa panitia membawa kue ulang tahun sambil
menyanyikan lagu Happy Birthday.
“Selamat Ulang Tahun yahh”
Ucap Cahya dan Rini secara bergantian lalu menjabat tangan ketiga peserta
tersebut. Senyum pun akhirnya terlihat dari ketiganya setelah sebelumnya sempat
merasa takut.
Semua peserta maupun panitia
terlihat lega kemudian semuanya pun bersama-sama menyanyikan lagu Happy
Birthday, setelah peniupan lilin panitia pun saling mencolek cream kue tart pada
beberapa peserta maupun sesama panitia. Bermain dengan cream kue pun tak dapat
dihindari hingga kejar-kejaran kue didalam aula. Viola tersenyum dan Febby pun
sudah berada disamping Viola saat itu.
“Kamu sempat ketakutan yahh”
Sapa Davin pada Viola. Davin merupakan teman dekat Viola sejak SMP. Viola
nyaman berada didekat Davin dan begitu pun sebaliknya, mungkin karena Viola
menyukai Davin namun entah mengapa saat mulai masuk SMA dan mengikuti Mos ini,
perasaan Viola terhadap Davin seakan memudar bahkan Viola berpikir Ia sudah tak
lagi mengharapkan hubungan yang lebih bahkan hanya ingin tetap menjalin
persahabatan dengan Davin.
“Hhehe, yah nggak juga sih”
Viola menyangkal namun sambil tertawa kecil
“Masa sih, muka kamu tadi itu
lucu tau nggak” Ejek Davin dan Viola pun hanya bisa memukul pundak Davin dan
tiba-tiba saja ada air yang sedang mengarah kearah mereka berdua, reflex Viola
pun berlindung dibelakang Davin. Saat ini para panitia dan peserta sedang bermain
air sampai membasahi hampir
seluruh lantai aula. Menyadari aula kotor akhirnya ketua panitia pun mengambil
tindakan untuk menyuruh seluruh panitia dan peserta keluar ruangan dan
bersenang-senang dihalaman.
Saat semua peserta dan panitia berada di halaman, ketua osis maupun ketua
panitia pun saat itu menyuruh peserta untuk berbaris kembali sesuai kelasnya.
“Mulai saat ini kalian resmi dinyatakan sebagai siswa disekolah ini” Ucap
Ketua Osis tegas dengan diakhiri senyuman
“Selamat datang disekolah ini, untuk melepas ini semua silahkan lemparkan
papan nama kalian masing-masing” Lanjut keua panitia
Semua peserta pun segera melemparkan papan nama mereka yang selama satu
minggu mereka pakai, ini merupakan akhir MOS dan mereka semua pun telah
dinyatakan resmi sebagai siswa-siswi di sekolah tersebut.
Viola sibuk melihat keselilingnya, mencari seseorang namun orang yang Ia
cari tak ditemukannya.‘Kak Jerry mana
yah?’ Batinnya terus bertanya pada dirinya sendiri. Saat Febby kembali
menghampirinya kosentrasinya pun pecah dan melupakan orang yang dicarinya itu.
Ia pun kembali disibukkan dengan berfoto-foto ria masih tetap bersama Febby dan
teman-teman barunya.
* * *
KARENA
WAFER
Viola terbaring ditempat tidurnya, rasanya badannya begitu segar sehabis
mandi dan melupakan aktivitasnya yang sangat melelahkan. Tiba-tiba Ia teringat
sesuatu dan Ia pun segera mengambil ponselnya, baru saja Ia akan mengetik pesan
namun sebuah pesan pun masuk dan Ia segera membukanya.
From : Ka’ Jerry
“De’,
waferku masih ada ama kamu kan?”
To : Ka’ Jerry
“Astaga
iya ka’, padahal aku baru aja mau sms kka.
Jadi
gmna dong ka’? masuk sekolah kan masih seminggu lagi”
From : Ka’ Jerry
“Yaudah,
aku ambilnya dirumah kamu aja
Bs kan?”
To : Ka’ Jerry
“Emm, bs
sih ka’.
Tpi
emangnya kka tau rumah aku?”
From : Ka’ Jerry
“Yah
kamu kasih tau alamatnya lah de’ :D”
To : Ka’ Jerry
“Ohh
hhehe iya yah ka’”
Rencana’nya
kka kpan mau ambil nih?”
From : Ka’ Jerry
“Em
besok aja yah de’. Bs?”
To : Ka’ Jerry
“Ok’ok,
bs ko’ ka’ ;)
From : Ka’ Jerry
“Yaudah
ntar kamu kirimin alamatnya yah J”
To : Ka’ Jerry
“Iya ka’ J”
@Kamar Jerry
Saat adik Jerry membuka pintu kamar Jerry, dilihatnya Jerry sedang asyik
lompat-lompat kegirangan sambil menggenggam ponselnya dan sesekali melihat
pesan yang berada diponselnya tersebut.
“Kaka ngapain?” Tanya adik Jerry dengan wajah heran sambil mengkerutkan
keningnya.
“Ehh, kamu masuk ko’ nggak ngetuk-ngetuk pintu dulu sih. Kamu yang ngapain
kesini” Sahut Jerry, Ia terlihat salah tingkah
“Yee orang cuman mau kasih tau ko’, kaka dipanggil mama tuh” Omel adik
Jerry
“Hah? Ngapain cha?”
“Mana aku tau, tanya aja ndiri”
“Iih jadi adik kok bawel banget sih acha” sahut Jerry
“kaka tuh bawel, udah buruan sana. Aku laporin mama loh kaka udah dapet
pacar baru lagi” Ucap adik Jerry yang bernama Acha
“Iih apa’an sih kamu cha, enak aja kalau ngomong” Protes Jerry
“Ehh emang bener, tuh barusan kaka lompat-lompat nggak jelas banget. Pasti
karna baru dapet gebetan baru lagi kan. Hayyo ngakuu” Acha melihat Jerry dengan
tatapan menyelidik
“nggak ada cha” ucap Jerry
“Ahh kaka bohong” Acha tak mau kalah
“beneran nggak ada cha, awas kamu yah” Jerry pun beranjak dari tempatnya
dan mengejar Acha adiknya yang telah lari duluan.
* * *
@Kamar Viola
Pagi itu matahari mulai menampakkan cahayanya, Viola pun terbangun dari
tidurnya. Rasanya masih ingin Ia melanjutkan tidurnya namun ponsel yang berada
tak jauh darinya terus berdering. Viola pun mengambil ponselnya, ada 2 pesan
masuk
From :
Ka’ Shesa
“Sdikit
pemberitahuan, untuk semua panitia dan peserta mos, besok kita mau rekreasi ke
pantai, tapi pake kendaraan masing-masing yah. Yang bisa dateng aja, kalau ga’
bisa yah ga’ apa-apa J”
Viola
terdiam sejenak sambil berpikir Ia akan datang atau tidak, lalu Ia pun membuka
pesan yang lain.
From :
Ka’ Jerry
“Pagi Vio J udah bngun de’ ?
Viola pun membalas pesan
tersebut
To : Ka’
Jerry
“Baru bangun nih ka’, hhehe :D”
From : Ka’ Jerry
“Hhehe, kecapean yah de’ ?”
To : Ka’
Jerry
“Yah gitu deh ka’, soalnya udah seminggu ga’
bangun lambat kyak gini :D”
From : Ka’ Jerry
“Hhaha, mentang-mentang libur jadi mau tiduran
terus nih de’ ?”
To : Ka
‘Jerry
“Yah ga’ lah ka’, rugi amat libur cuma tidur
mulu :D”
From : Ka’ Jerry
“Bener de’,
Oh ya, kamu udah dapet pesan dari shesa ?”
To : Ka’
Jerry
“Iya udah ka’. Kka pergi yah ?”
From : Ka’ Jerry
“Ga tau de’, kamu ?”
To : Ka’
Jerry
“Yah ga’ yau juga ka’, kalau temen aku ga’
pergi yah aku juga ga’”
From : Ka’ Jerry
“Ohh, kalau kamu pergi, mau
gak bareng ama aku de’ ? J”
Viola sempat tersenyum,
batinnya mulai berkomentar ‘yeah, Ka
Jerry ngajak bareng’ saat itu juga ponselnya berdering menandakan panggilan
masuk, Ia pun menerima panggilan tersebut yang berasal dari Febby.
“Vioo,
kamu udah dapet pesannya kan ?” Terdengar suara Febby
“Pesan
yang mana?”
“Itu
loh, besok kan ada rekreasi ke pantai. Kamu ikut gak ?”
“Oh yang
itu, pengen sih. Cuman kamu pergi gak ?”
“Aku
juga pengen tapi gak ada kendaraan lagian kayaknya besok aku harus pergi nemenin nyokap deh, trus
tadi aku juga smsan sama Davin dan yang lainnya, katanya sih mereka juga gak pergi”
“Yaudah
kita gak usah pergi kalau gitu. Lagian palingan kebanyakan senior”
“Hmm iya
deh kalau gitu, yaudah aku tutup yah telponnya”
“Hah?
Jadi kamu telpon cuman nanyain itu doang?”
“Hhehe,
iya”
“Hmm
dasar, yaudah, dahh”
“Dahh”
telepon terputus, Viola kembali melanjutkan pesan yang akan Ia kirim untuk
Jerry.
To : Ka’
Jerry
“Tapi sayangnya aku ga’ ada temennya ka’ L jadi bsok aku
ga’ pergi”
From : Ka’ Jerry
“Yahh iya deh. Kalau gitu besok aku ke rumah
kamu aja yah J”
To : Ka’
Jerry
“Hah? Ngapain ka’ ?”
From : Ka’ Jerry
“Ambil wafer de’. Hhehe :D”
To : Ka’
Jerry
“Ohh iya deh ka’ :D”
Dan seterusnya, mereka pun terus saling mengirim pesan.
Hari terasa singkat, matahari mulai terbenam dan langit pun mulai gelap. Viola merasa rumahnya sangat
sepi. Mama dan kakaknya pergi keluar kota, padahal besok lusa adalah
hari ulang tahun Viiola. Perasaan sedih mulai hadir namun segera diabaikannya,
dikamarnya Ia hanya menonton film melalui laptop atau membaca novel karena hanya itu yang dapat Ia
lakukan untuk
mengisi waktu kosongnya. Dalam benak Viola sempat
terlintas siapakah yang memberi ucapan pertama kali untuknya. Saat itu
ponselnya kembali berdering dan Ia menduga itu pesan dari Jerry,
setelah dilihatnya ternyata dugaannya tepat.
From : Ka’ Jerry
“Hay Vio J”
To : Ka’
Jerry
“Hay jg kka Jerry J”
From : Ka’ Jerry
“Lagi ngapain de’? aku ganggu ga’ ?”
To : Ka’
Jerry
“Lagi baca novel, kka ? Ga’ ganggu ko’ ka”
From : Ka’ Jerry
“Ohh, Ga’ sibuk kan de’ ?”
To : Ka’
Jerry
“Ga’, knpa ka’?”
From : Ka’ Jerry
“Aku depan rumah kamu nih”
Sontak Viola pun terkejut
dan segera melihat keluar dari balik jendela kamarnya dan ternyata benar Jerry
sedang duduk manis di atas motornya. Lalu viola pun segera keluar rumah untuk menghampiri Jerry.
“Kak
Jerry? Kaka tau rumah aku ?” Tanya Viola saat telah berhadapan
dengan Jerry
“Kamu
kan udah sms alamatnya Vio” Jawab Jerry tenang
“Yah,
untung kaka gak nyasar. Kaka kok gak bilang kalau mau kesini, mau ambil
wafer yah kak?”
“Hhehe iya sih” Jerry
nyengir
“Aku pikir kakak besok ngambil
wafernya”
“Yah aku cuman lagi males aja
dirumah”
“Oh gitu.. Yaudah tunggu
bentar, aku ambilin dulu yah kak” Viola lalu masuk kedalam rumahnya
‘Aduuuhh
Jerry, masa ajak jalan aja ngak berani sih’ batin Jerry berkomentar kemudian tak lama Viola
pun keluar dari rumahnya
“Nih kak wafernya” Ucap Viola
sambil memberikan wafer tersebut pada Jerry
“Iya, makasih yah udah
disimpenin” ucap Jerry
“Iya sama-sama kak”
“Emm, Viola.. besok kamu sibuk gak? Atau ada
acara gitu”
Tanya Jerry
“Eemmm… kayaknya gak ada deh, emang kenapa kak?”
“Kalau ngak ada planning, kamu bisa gak nemenin aku jalan ?”
“ha?
Emm.. Jalan? Kemana ka ?” Viola terkejut dengan ajakan Jerry yang menurutnya
sangat tiba-tiba
“Kemana
aja, taman juga boleh. Kamu bisa gak ? kalau gak bisa yah gak apa-apa juga sih” Jerry menunduk
“Emm... tapi besok kan ka?”
“Iya besok kok”
“Iya deh, aku bisa kok kak”
Ucapan Viola disambut senyuman senang oleh Jerry
“Beneran? Yess.. Yaudah,
besok jam 7 malam aku jemput yah” Kata Jerry ceria
“Iya kak” Viola membalas
senyum Jerry
“Yaudah, aku balik yah” Pamit
Jerry sambil terus tersenyum
“Iya kak, hati-hati” Kata
Viola kemudian Jerry pun berjalan menuju mobilnya lalu meninggalkan rumah
Viola.
* * *
UNGKAPAN
HATI JERRY
Keesokkan harinya, tepat jam 7
lewat 5 menit malam itu Jerry sudah berada didepan rumah Viola menunggu sampai
Viola keluar dari rumahnya.
“Hai kak” Sapa Viola
menghampiri Jerry, penampilan Viola
malam itu seolah semakin memikat hati Jerry dengan
kesederhanaannya. Jerry dan Viola pun beranjak pergi dan meninggalkan halaman
rumah Viola.
Diperjalanan
Jerry memikirkan tempat yang tepat untuk dikunjungi dan akhirnya Ia pun membawa
Viola kesebuah tempat yang merupakan tempat favoritnya, Ia juga berharap Viola
dapat menyukai tempat tersebut.
Setelah
sampai ditempat tujuan, Viola segera turun dari mobil milik
Jerry. Mata Viola menunjukkan kekaguman pada tempat tersebut, sebenarnya tempat
itu tak asing lagi baginya hanya saja ini pertama kalinya Ia ketempat itu pada
malam hari,
sebuah café yang berada diatas bukit. Lampu-lampu yang menghiasi
kota dan disekeliling pantai terlihat sangat jelas dan memperindah pemandangan
pada malam itu.
“Gimana
tempatnya, kamu suka ?” Tanya Jerry
“Suka
banget kak, baru kali ini aku kesini malem” Jawab Viola
“Kamu
udah pernah kesini sebelumnya ?”
“Iya pernah kak, tapi waktu itu pagi sama sore. Aku gak tau kalau ternyata tempat ini lebih kelihatan keren
kalau malam”
“ehh duduk dong, kamu betah juga berdiri mulu” Ajak Jerry lalu Viola pun
mengikuti Jerry yang duduk disalah satu kursi yang berada di tempat tersebut
“Oh ya, aku ngajak kamu jalan sama sms kamu terus, itu ngak ada
yang marah ?” Tanya Jerry hati-hati
“Ngak ada lah kak, emangnya sapa yang mau marah” Viola sedikit nyengir
“Yah sapa tau aja de, pacar kamu mungkin”
“Aku ngak punya pacar kak. Kaka ngeledek yah”
“Yah aku
pikir kamu udah punya pacar, aku boleh mendaftar dong de’ ?”
“Ahhaha.. kaka becanda yah? ngak lucu tau kak” Viola tertawa garing
“Aku serius Vio, ngak becanda. Boleh ngak ?” Jerry mulai menatap Viola
“Kaka apaan sih. Kaka ada-ada aja deh”
“Hmm jujur de, sebenarnya aku suka ma kamu dari hari pertama mos, sekarang aku
hanya ingin kita punya hubungan lebih dari teman. Boleh de ?” Jerry terus
menatap Viola dengan keseriusan dimatanya. Namun Viola tak berani membalas
tatapan serius Jerry, Ia merasa ini seperti mimpi dan mencoba mencairkan
suasana
“Lebih dari teman ? maksud kaka hubungan kayak kaka adik gitu. Kita jadi
sodara kak” Viola mencoba mengelak
“Gimana yah aku ngejelasinnya” Jerry mulai kehabisan akal menghadapi sikap
polos Viola kemudian melanjutkan kembali perkataannya
“Hmm, aku sayang kamu Vio. Kamu mau jadi pacar aku ?" Jerry pun
mengungkapkan perasaannya, Viola sangat terkejut, pikirannya tak menentu dan
entah mengapa Viola tiba-tiba teringat Davin. Namun pikiran tentang Davin segera dihilangkannya, Ia ingin melupakan perasaannya yang sempat menyukai
Davin.
“Apa yang kaka suka dari aku ?” Tanya Viola pelan
“Aku ngeliat kamu orangnya simple, trus baik, ngak
sombong, murah senyum juga, pokonya kamu lain lah dari yang lainnya” Jawab
Jerry jujur
“Kalau menurut kamu, aku gimana ?” Jerry balik bertanya
“Emm, kaka orangnya baik, jujur, dewasa, sopan yah pokoknya gitu deh kak”
“Jadi gimana de ?” Jerry menunggu kepastian
“Emm apa kaka ngak terlalu cepat ambil keputusan ? Kita baru aja kenal kak, kaka
belum tahu sifat-sifat jelekku, aku hanya ngak mau nantinya kaka nyesal udah suka ama aku.. aku ini banyak kekurangan kak, belum lagi
sifatku yang masih kekanak-kanakan, manja, dan yang lainnya. Aku takut kaka ngak bisa
terima itu” Viola mencoba dewasa dan berpikir jauh kedepan.
“Apa pun kekurangan kamu, aku bisa terima de. Nyesal itu ngak ada
sebelum, tapi sesudah.. jadi buat apa aku nyesal, aku kenal kamu orangnya gini,
buat apa disesalkan” Jerry sempat terdiam dan meneruskan perkataannya
“Kalau memang kamu ngak bisa, yah ngak apa-apa.. aku hanya ngak mau berharap sesuatu yang ngak pasti, buat apa dipaksakan. Hanya itu aja” Jerry mulai pasrah
“Ka, kayak’nya aku butuh waktu. Lagian aku juga ngak mau
ngecewain Ka Jerry.. aku hanya butuh waktu buat kenal Ka Jerry lebih jauh dan
kayaknya Ka Jerry juga butuh waktu buat yakinkan hatinya kaka, beneran sama aku
atau gimana.. mungkin untuk saat ini kita jadi kaka ade aja dulu ka. Aku harap
kaka bisa ngerti” Viola merasa itu adalah kata-kata terbaik untuk
disampaikannya pada Jerry. Ini memang terlalu cepat menurutnya, Ia juga ingin
melihat keseriusan Jerry padanya. Viola juga tak ingin Jerry hanya
mempermainkannya setelah Ia mengorbankan perasaan dan waktunya hanya untuk
kesenangan sementara.
“iya de, aku bisa ngerti kok” Jerry tersenyum. Seakan ingin meredahkan
suasana Viola pun mengajak Jerry agar segera pulang dan Jerry pun
mengabulkannya.
Sesampainya didepan rumah Viola, Jerry pun pamit pulang sambil tersenyum dan meninggalkan Viola yang masih
melihatnya sampai hilang dari pandangan.
* * *
Tepat jam 12 malam, ponsel milik Viola terus berdering menandakan pesan
masuk, namun itu diabaikannya dan setelah jam 7 pagi barulah Ia terbangun. Ia
melihat ponselnya ada 1 panggilan tak terjawab dan itu adalah Jerry lalu Ia
membuka pesan masuk yang menumpuk, ini merupakan ulang tahun Viola yang ke
15tahun. Jerry orang pertama yang memberinya ucapan selamat ulang tahun,
kemudian Davin dan setelah itu Febby sahabatnya serta teman-teman dekatnya yang lain.
Setelah membalas semua pesan tersebut, Viola masih tetap terbaring ditempat
tidurnya sambil berpikir ‘tahun ini,
dirumah benar-benar sangat sepi’ Ia lalu teringat pada mamanya yang berada diluar kota. Tahun ini berbeda dengan tahun-tahun
sebelumnya, tak ada acara apa-apa hari ini karena tak ada mamanya yang
menyiapkan segala keperluan meskipun hanya sekedar acara makan-makan dirumahnya,
itu sempat membuat
Viola sedih belum lagi papanya yang sibuk bahkan mungkin tidak mengingat hari ulang tahunnya. Kemudian ponselnya kembali berdering dan itu adalah pesan dari mamanya yang
memberikan ucapan disusul dengan papanya, hanya senyuman yang dapat Ia lakukan saat membaca pesan tersebut.
Hari itu terasa singkat, tak ada yang special menurut Viola kecuali ucapan
dari teman-temannya yang terus datang melalui pesan singkat serta sms dari
Jerry yang menemaninya sepanjang hari. Hingga malam tiba, Viola hanya asyik
membaca novel dikamarnya tanpa mengetahui bahwa Febby telah mengajak Davin dan
temannya yang lain untuk memberikan kejutan pada Viola malam itu.
Saat Viola sedang asyik membaca novel dikamar, tiba-tiba tantenya pun
memberi tahu bahwa ada temannya yang sedang menunggu diteras rumah. Viola pun
sempat heran dan segera keluar dari kamarnya menuju teras rumah. Ketika Ia
membuka pintu tiba-tiba saja dihadapannya ada Febby yang membawa hadiah dan ada
Davin yang membawa kue tanpa lilin dan diatas kue tersebut bertuliskan Happy
Birthday ‘VIO’ serta dibelakang mereka berdua ada teman Viola yang lain sambil
mereka menyanyikan lagu Happy Birthday untuk Viola. Langsung saja Viola memeluk
Febby
“Makasih banyak yahh” Kata Viola sambil terus memeluk Febby
“Iya sama-sama, oh ya nih ada kado” Balas Febby dan memberikan hadiahnya
untuk Viola saat Viola telah melepaskan pelukannya.
“Aduhh, ngak ada lilinnya nih” Sahut Davin sambil tertawa kecil
“Ngak apa-apa, lilin kan ngak penting. Kalian udah datang kesini ngasih
surprise itu udah lebih dari cukup buat aku” Ucap Viola dan melanjutkan
ucapannya
“Yaudah masuk yuk”
Sesampainya diruang tamu Viola pun mengambil piring dan sendok untuk tempat
kue tersebut lalu kue tersebut dipotongnya untuk dibagikan pada teman-temannya
saat itu. Suasana yang hidup kembali dirasakan Viola, Ia sangat senang dengan
kejutan yang diberikan oleh teman-temannya. Sedikit mencuri waktu, Ia
menyempatkan untuk bercerita dengan Febby tentang Jerry
“Febby” Panggil Viola pelan agar teman-temannya yang lain tak mendengar,
keributan mereka memang membuat suara Viola tak didengar
“Kenapa Vio?” Tanya Febby penasaran, Ia tahu jika Viola sudah memperkecil
suaranya berarti ada sesuatu yang ingin Viola katakan
“Ka Jerry” Ucap Viola masih tetap mengecilkan suaranya
“Kenapa Ka Jerry?” Febby makin penasaran
“Ka Jerry nembak aku tadi malem”
Bisik Viola
“WHAT?” Febby tiba-tiba membesarkan suaranya dan membuat teman-teman yang
lainnya menoleh kearah Febby dan Viola
“Sssssttt” Viola memperingatkan Febby agar tak terkejut
“Kenapa kalian?” Tanya Davin
“Ngak kenapa-kenapa kok, lanjut aja ceritanya” Viola mengelak
“Oh yaudah” Ucap salah satu temannya, untung saja mereka tetap melanjutkan
obrolan mereka
“Jangan kenceng-kenceng Feb” Viola menarik tangan Febby agar sedikit
menjauh dari teman-temannya
“Kecoplosan, kenapa bisa sih?” Tanya Febby memperkecil suaranya
“Mana aku tau” Jawab Viola juga dengan memperkecil suaranya
“Dia serius?”
“Kayaknya sih serius Feb, aku juga ngak tau sih”
“Trus, gimana?”
“Gimana apanya?”
“Kamu terima ngak Vio?” Febby terlihat serius menunggu jawaban Viola
“Aku tolak, tapi tepatnya aku belum jawab sih” Viola bimbang
“Trus Davin? Kamu udah gak suka lagi sama dia?”
“Kayaknya sih gitu, aku juga gak tau kenapa sih. Kayaknya emang aku ama Davin lebih cocok jadi teman aja
deh”
“Yahh Vio galau, ulang tahun jangan galau-galauan dong Vio” Febby
menyemangati
“Hmm, menurut kamu gimana?” Tanya Viola
“Kalau aku sih terserah kamu aja, perasaan kamunya gimana, ama sapa, Davin atau Ka
Jerry?”
“Aku juga bingung”
“Hmm.. oh ya Vio, aku sempat baca ditwitter Ka Jerry” Febby mengingat
sesuatu
“Hah? Apa’an? Di tweetnya yah?” Viola penasaran
“Lupa, tapi yang jelas, dia galau gitu, kamu terima apa ngak. Emangnya kamu
jawab apa sih Vio?”
“Hmm aku cuman bilang, untuk saat ini kita kaka ade aja dulu”
“Berarti kamu masih kasih harapan dong ke dia”
“Bukan harapan sih, cuman aku pengen liat keseriusan dia aja. Aku ngak mau
kali kalau sampai cuman dimainin doang, lagian kan Ka Jerry itu kaka kelas 12
pula sementara aku cuman adik kelas 10 yang baru masuk”
“Yahh, jadi Davin?”
“Ih kamu Davin mulu deh. Aku kan udah bilang, kayaknya aku sama dia itu cocoknya jadi
teman aja. Lagian kayaknya dia juga berpikir begitu, dia kan orangnya cuek”
“Tapi... ehh, berati kamu suka nih sama Ka Jerry?”
“Aduuhhh... aku ngak tau. Galau beneran nih” Rengek Viola
“Udah udah, kita liat aja nanti. Lagian Ka Jerry masih tetep sms kamu juga
kan?”
“Iya masih sih”
“Yaudah, katanya kamu mau liat keseriusan dia”
“Iya deh, doain aku yah”
“Hah? Doain apa?” Febby bengong
“Biar ngak galau. Hhehe” Viola nyengir
“Dasar lu, yaudah gabung ama mereka yuk” Ajak Febby dan mereka berdua pun
kembali bergabung bersama dengan teman-temannya yang lain.
Malam itu membuat Viola sangat bahagia, selain dapat berkumpul dengan
teman-temannya, Jerry juga setia menemaninya walaupun hanya lewat sms. Setelah
menghabiskan malam bersama akhirnya teman-teman Viola pun bergegas pulang
karena jam telah menunjukkan tepat pukul 11 malam
“Wahh, bisa-bisa ngak dibukain pintu nih aku” Sahut salah satu teman Viola
“Untung aku bawa kunci rumah” Sahut Febby
“Jadi mau balik sekarang nih ?” Tanya
Davin
“Iya lah, balik sekarang yuk” Jawab
Denis salah satu teman Viola
“Hmmm ayo” Ucap Davin
“Yaudah, kalau semuanya dah mau balik sekarang. Hati-hati yah” Ucap Viola
lalu mengantarkan semua temannya keteras rumah
“Ehh iya, sekali lagi makasih yah surprisenya” Kata Viola
“Oke sip, kamu kebanyakan bilang makasihnya deh” Balas Davin
“Hehehe, soalnya kalau ngak ada kalian ulang tahunku rasanya suram” Viola
tertawa kecil
“Iya iya Vio, sama-sama. Yaudah kita balik yah” Sahut Febby memeluk Viola
dan bergegas meninggalkan rumah Viola. Akhirnya semua teman-teman Viola pun
pulang dan rumah seketika menjadi sangat sepi.
Setelah membereskan ruang tamu yang agak berantakan Viola segera masuk
kekamarnya, Ia ingin segera tidur namun sedikit pertanyaan muncul dibatinnya ‘tumben.. kok ka’ Jerry ngak sms lagi yah.
Apa dia udah tidur?’ saat Viola baru
saja memejamkan mata tiba-tiba ponselnya berdering, pesan dari Jerry
From : Ka’ Jerry
“Maaf mengganggu de, kka cman mau blng ssuatu
& mngkin ini bagi ade ga’ pnting tapi buat kka ini perlu dibilang
Jujur de, sbenarnya kka syng ma ade, kka suka
ma ade. Tapi kka ga brharap blasannya krna kka liat slma ini ade ga
mngharapkan kka jg. Tujuan kka saat ini bkn mau tembak ade, kka cman ingn
bilang prasaan kka ke ade. Kka cman ga mau brhrap yg ga pasti. Kka bkn ga
optimis tapi kka udah rasa dari caranya ade sms ke kka, di situ mnurut kka
cerminan prasaannya ade ke kka. Kka jg ga mngkin maksain ade buat suka ma kka.
Maaf ga bisa bilang ini lngsung de, mngkin krna
waktunya ga ada. Mksih de, kmarin-kmarin udah ngasih waktunya buat kka”
Tanpa Viola sadari tiba-tiba saja air matanya jatuh, perasaannya tak
menentu. Entah mengapa
tiba-tiba saja terlintas dipikiran Viola tentang perasaannya pada
Davin teman dekatnya, Ia benar-benar bingung dengan perasaannya sendiri. Namun
sepertinya Viola mulai merasakan apa yang dirasakan oleh Jerry, sedih karena tak dapat
menerima Jerry. Ia ingin melihat ketulusan Jerry, bagaimana pun juga Jerry
masih merupakan orang
baru yang belum lama Ia kenal meskipun sudah merasa dekat
dengan Jerry namun bagi Viola itu belum cukup. Lagi-lagi Ia tidak ingin
dipermainkan namun selain itu Viola juga belum yakin dengan perasaannya pada Jerry
karena Ia hanya menganggap Jerry sebagai kakak untuknya. Lalu
dengan pelan Ia pun mencoba membalas pesan Jerry
To : Ka’ Jerry
“Iya ka’,
sekarang aku tau gimana perasaan kka. Maaf yah ka’, tapi saat ini aku
bener-bener ingin kita jadi kka ade dulu.”
Viola menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan berharap Jerry mengerti
maksudnya, tak lama ponselnya pun berdering kembali
From : Ka’ Jerry
“Iya de, aku ngerti kok J”
To : Ka’ Jerry
“Makasih ka’ J
Bdw kka belum mau tidur?”
From : Ka’ Jerry
“Ini baru aja mau tidur Vio
Kalau
kamu ?”
To : Ka’ Jerry
“Ohh, aku juga dah tidur nih ka’”
From : Ka’ Jerry
“Yaudah tidur aja,
Good
nite, nice dream yah Vio J”
To : Ka’ Jerry
“Iya, kka juga
Good nite,
sleep well ka’ Jerry J”
Viola meletakkan ponselnya disamping meja yang berada disamping tempat
tidurnya, Ia lalu mencoba menenangkan pikirannya agar menjadi lebih jernih dan
menutup mata sambil berharap hari esok akan menjadi lebih baik lagi.
* * *
AWAL
KEBIMBANGAN
Satu minggu berlalu sudah, liburan telah berakhir dan sekolah siap untuk
memasuki tahun ajaran baru. Hari ini merupakan hari pertama murid kelas 10
masuk sekolah baru mereka.
Saat tiba disekolah barunya, Ia sangat merasa asing dengan orang-orang yang
baru Ia lihat, hanya Febby yang tetap setia bersamanya. Hari ini juga merupakan
pembagian kelas mereka. Nama Viola telah terdaftar sebagai murid kelas X3
sedangkan Febby terdaftar dikelas X2, sekelas dengan Davin dan juga beberapa teman Viola yang dari sekolah yang sama. Sedangkan
dikelas Viola hanya ada Ia dan salah seorang temannya saja yang berasal dari
sekolah yang sama.
“Huuuaah... pengen sama-sama ama kalian” Rengek Viola
“Kamu sih kepisah” Sahut Davin lalu segera masuk kedalam kelas X2
“Kalau boleh milih aku juga ngak mau pisah kelas” Protes Viola
“Yaahh trus mau gimana lagi” Sahut Febby
“iya sih, yaudah” Viola pasrah
“Udah, yang penting kan kita masih sebelahan kelas” kata Febby
“Iya, yaudah kalau gitu. Aku dah pasrah nih”
“Jangan manyun gitu dong”
“Ngak lagi” Viola menyangkal
“Kalau gitu kita masuk aja dulu kekelas kita masing-masing” Ucap Febby
“yaudah kalau gitu, aku masuk kelas yah, dahh” Sahut Viola
“Iya aku juga mau masuk, dahh” Balas Febby lalu mereka berdua pun masuk
kekelas masing-masing.
Viola benar-benar merasa asing dikelas barunya, namun setelah berkenalan
dengan beberapa teman baru yang berada dikelas tersebut, Ia agak lega.
2 Bulan Kemudian..
Siang itu pelajaran terakhir akan segera dimulai, sambil menunggu guru
masuk Viola dan teman-temannya menghabiskan waktu untuk bersantai. Viola telah terbiasa dengan teman dan kelas
barunya itu, rasa nyaman berada didekat teman serta kelasnya mulai terasa.
Walaupun begitu, Ia dan Febby tetap bersama saat pulang sekolah, mereka seakan
tak merasa keberatan lagi dengan terpisahnya kelas, persahabatan mereka tetap
terjalin.
Viola dan Jerry semakin dekat, ternyata meskipun Viola sempat menolak cinta
Jerry namun Jerry tak menyerah, Ia tetap berusaha mendekati Viola.
Viola merasa nyaman jika berkomunikasi dengan Jerry meskipun hanya sekedar
saling mengirim pesan lewat ponselnya. Ia mulai tertarik dengan kedewasaan
Jerry, baru kali Ia dekat dengan kaka kelas seperti Jerry. Mungkin tanpa
disadarinya Viola
telah menyukai Jerry.
“Viiooo” panggil Shelli teman sekelas Viola yang dekat dengannya
“Apa’an sih, jarak kita dekat nih jangan teriak-teriak deh” Omel Viola yang
sedang asyik mendengar lagu dari ponsel milik temannya, Shelli pun mendekat
kesamping Viola
“Ka Jerry itu siapa sih?” Tanya Shelli dengan mengecilkan suaranya sambil
tersenyum menyelidiki
“Ehh.. kamu tau dari mana Ka Jerry ?” Viola terkejut
“Kamu baca sms aku yah?” Sambungnya, lalu Viola pun segera merebut ponselnya
dari tangan Shelli namun Shelli dengan cepat menjauhkan ponsel tersebut hingga
tak dapat dijangkau Viola
“Jawab dulu dong, itu siapa? Pacar kamu yahh” Shelli semakin penasaran
“Ngak, bukan kok.. kita belum pacaran” Ucap Viola mengatakan apa yang terlintas
dipikirannya
“Hah belum pacaran, berarti nanti udah dong” Shelli nyengir
“Ehh.. aduhh.. ngak.. bukan kok” Viola gelagapan
“Hhaha hayyoo ngakuu” Shelli makin menyelidiki
“Aduuhh... Shelli kepo deh” Viola manyun
“Biarin, makanya jawab dulu dong. Daripada aku teriak-teriak Ka Jerry
gimana. Lagian masa sama aku doang kamu rahasiaan gitu sih” Shelli makin
penasaran
“Wahh parah banget sih kamu. Yaudah deh, iyaiya aku bakal ceritain tantang
Ka Jerry tapi jangan ngasih tau sapa-sapa yah” Viola pasrah
“Nah gitu dong, dari tadi kek” Shelli lega
“Sini dong mendekat” Viola lalu menceritakan tentang dirinya dan Jerry dari
awal mereka bertemu sampai saat itu. Shelli terlihat sangat memperhatikan
setiap kata yang diucapkan Viola.
“Ohh jadi gitu” Shelli mangut-mangut
“Iya”
“Trus trus, gimana?” Tanya Shelli
“Gimana apanya, yaudah gitu aja”
Jawab Viola
“iih.. perasaan kamu sama Ka Jerry”
“Yahh” Viola terdiam
“Aku ngak tau” Sambungnya
“Kok ngak tau sih, kalau aku liat dari cara kamu sms ke dia, kayaknya kamu
juga suka deh sama Ka Jerry” Kata Shelli dan Viola pun terdiam lalu berpikir
“Selama ini kamu senang kan kalau dia sms?” Shelli terus bertanya
“I..iya sih, trus kalau dia ngak sms kayak gimanaaa gitu” Kata Viola apa
adanya
“Nah bener, berarti kamu suka sama Ka Jerry, trus sms Ka Jerry juga kamu
ngak hapus-hapus kan. Padahal tadi aku cuma iseng doang loh liat-liat pesan
kamu”
“Masa sih, aku sama sekali ngak sadar loh”
“Yahh kamu gimana sih, nanti kamu tunjukin yah ke aku yang mana Ka Jerry”
“Iyaiya,
tapi dia lagi di Makassar tuh”
“Ngapain?”
“Mana aku tau, ada urusan kali. Lagian udah 3hari ini dia ngak pernah sms
aku lagi” Viola menunduk dan mukanya terlihat murung
“Kenapa ngak kamu aja yang sms
dia duluan. Kali aja dia nunggu sms dari kamu”
“Yahh masa aku harus sms dia duluan sih, selama ini aku ngak pernah sms dia
duluan. Ngak ahh”
“Yaudah kalau gitu sabar aja, kalau dia kangen yah pasti dia juga bakal sms
kamu kok” Shelli menyemangati
“Iyaiya, ternyata kamu ngak cuman pinter nanya doang tapi juga bisa ngasih
saran yah” Ucap Viola sambil tertawa kecil
“Shelli gitu lohh” Ucap Shelli bangga kemudian juga tertawa bersama Viola
Tiba-tiba guru mereka pun datang, kemudian mereka berdua pun duduk
dikursinya masing-masing begitu pun dengan siswa yang lainnya. Anjas yang
merupakan ketua kelas pun memberi perintah agar semua siswa kelas X3 memberi
salam
“Asslamualaium bu” Sahut seluruh siswa serempak
“Walaikumsalam, ibu ngak lama. Soalnya guru mau rapat setelah ini, jadi ibu hanya masuk dan memberikan tugas kelompok untuk
kalian. Besok semuanya harus dikumpul” Kata guru tersebut tegas
“Coba buka LKS masing-masing halam 27 Uji Kompetensi 2 nomor 1 sampai 10”
Lanjutnya
“Wahh, kebanyakan bu” Sahut siswa satu per satu
“Ini tentang Logaritma bu, susah” Sahut Viola
“Yasudah kalau begitu, kerjakan sampai 5 saja” Ucap guru tersebut yang
disambut sorakan gembira dari seluruh siswa
“Tapii, buka halaman 35 uji kompetensi 1 nomor 1 sampai 5. Minggu lalu ibu
sudah jelaskan tentang Fungsi Kuadrat kan” Sambungnya dan seluruh siswa pun
hanya bisa pasrah
“Jangan lupa hari Senin dikumpul yah. Ibu pergi dulu” Guru tersebut pun
segera pergi meninggalkan ruangan kelas
“Gila yah, baru juga masuk langsung ngasih tugas, mana banyak lagi
tugasnya” Sahut Shelli
“Iya nih, tak adakah waktu untuk kita weekend dengan tenang tanpa tugas.
Mana aku sama sekali ngak ngerti logaritma lagi” Ucap Viola
“Iya nih, kita kerja bareng yuuk” Ajak Shelli
“Jangan cuman kita berdua doang, dijamin nih tugas ngak bakal selesai”
Komentar Viola
“Hhehe iya bener, ajak Anjas yuk, dia kan pintar ama yang kayak beginian”
Usul Shelli
“Yah benar” Viola membetulkan
“Anjas, kita kerja bareng yuuk” Sahut Viola pada Anjas yang berada tak jauh
dari mereka berdua
“Wah kebetulan banget, ntar malem Dayat, Hugo sama Riskhy mau kerumah aku
juga tuh. Katanya mau ngerjain nih tugas sama-sama” Kata Anjas
“Ikutan doong” Sahut Putra yang mendengar percakapan mereka
“Waah ngak ngajak-ngajak nih kalian” Sahut Diani salah satu teman mereka
“Yaudah kalau gitu entar malem yang mau ngerjain tugas sama-sama kerumah
aku aja” Teriak Anjas agar semua teman-temannya dapat mendengar
“Anjas ngak usah teriak-teriak dong” Ucap Shelli
“Lagian, ntar dikirain Kita ngak ngajak yang lain lagi”
“Yaudah, beneren entar malem yah, jam 7 aja” Kata Viola
“Iya, aku tunggu kalian jam 7, jangan ngaret. Kalau gitu aku duluan yah”
Ucap Anjas lalu pergi meninggalkan ruangan kelas bersama Hugo dan Dayat
“Yah, malem minggu bukan jalan-jalan malah pake buat ngerja tugas deh. Oh
ya, entar kita bereng yah Shel” ucap Viola
“iya tuh.. Oke, jam 7 jemput aku yah. Ntar kita skalian jalan-jalan aja,
tapi jalan-jalannya kerumah Anjas”
Shelli tertawa kecil
“Hhaha iya bener, balik yuk”
“Yuk” Shelli dan Viola pun bergegas untuk meninggalkan kelas yang mulai
sepi.
***
@Kamar Viola
Malam itu
Viola terbaring diranjangnya, rasanya Ia ingin segera
tidur setelah menghabiskan malam bersama teman-temannya, selain mengerjakan
tugas mereka juga melakukan banyak hal dirumah Anjas seperti membeli gorengan
lalu mereka makan bersama sambil bercanda ria. Lega rasanya karena besok adalah
hari minggu dan Viola dapat bangun lambat seperti hari minggu biasanya. Baru
saja Ia menutup mata, ponselnya pun berdering dan segera dibacanya pesan
tersebut
From : Ka’ Jerry
“Hai vio,
Belum
tidur de’ ?”
Viola lebih terlihat semangat dan tersenyum setelah membaca pesan dari
Jerry, sudah 3hari ini Jerry tak lagi mengirim pesan untuknya.
To :
Ka’ Jerry
“Hai jg ka’jerry
Belum
ka’, kka ?”
From :
Ka’ Jerry
“Belum lah de’ kalau udah mana bisa aku sms
kamu :D
Apalagi
udah beberapa hari ga dngar kabar dari kamu. hhehe”
Viola tersenyum dan membalas lagi pesan dari Jerry begitu pun sebaliknya,
mereka melakukan kebiasaan mereka berdua seperti hari-hari sebelumnya yaitu
saling mengirim pesan atau smsan. Hingga setelah menghabiskan waktu sekitar 1jam untuk smsan, Jerry
teringat sesuatu dan ingin memberitahukannya pada Viola
From :
Ka’ Jerry
“De’,aku boleh cerita sesuatu ngak?”
To :
Ka’ Jerry
“Kka mau cerita apa? Cerita aja ka’”
From :
Ka’ Jerry
“Emm gini de’ critanya, skrng aku lagi punya
pacar.. tapi jujur, aku kurang syang ma dia. Awalnya aku cuman dekat doang ma
dia, cuman karena ngak mau nyakitin dia jadinya kita pacaran. Tapi, skali lagi
aku jujur, aku kurang syang ma dia karena.............
Menurut kamu, apa yg hrus aku lakuin de’? aku
ga mau jadinya permainin cwek.. aku ga
mau kena karma”
Jleek! Viola terdiam,
tangannya yang tadi memegang ponsel sekarang terjatuh dengan lemas disamping
bantalnya. Entah apa yang Ia pikirkan dalam diamnya, hatinya seakan sedih
teringat perasaannya dengan Jerry ‘kenapa
saat aku udah mulai suka kaka malah pacaran sama orang lain.
Jadi selama 3hari ini ngak kasih kabar ternyata kaka pacaran ama orang lain’ batinnya mulai berkomentar, ingin rasanya apa yang ada
dalam batinnya itu Ia tulis untuk dikirimkan pada Jerry, namun Ia tetap
berusaha menenangkan pikirannya lalu mulai mencoba membalas pesan tersebut
To :
Ka’ Jerry
“Yah.. sbenarnya trserah kka aja sih itu. Jujur
emang susah ka’, tapi lebih baik. Kalau mnurut’ku sih kka coba aja buat sayang
sma pcar’nya kka itu, mngkin aja lambat laun kka bisa sayang spenuhnya ^^
Usahain jangan kecewain orng yg sayang sama
kka”
Merasa
itu adalah kata-kata yang terbaik untuk Jerry, Viola pun mengirimnya dan tetap
berusaha untuk tidak memikirkan perasaannya saat itu. Sebenarnya Ia ingin
bertanya siapa pacar Jerry, kapan mereka pacaran, lalu mengapa Ia tak bisa
sayang dengan pacaranya itu, karena apa, apa karena dirinya. Namun Ia terus
berusaha untuk melupakan pertanyaan-pertanyaannya itu.
From :
Ka’Jerry
“Tapi, kalau aku sayangnya
ma orang lain?? Salah?? Aku udah coba de’.. susah banget..”
To :
Ka’Jerry
“Yah,, kalau sdh bgtu smua trgantung ma kka,
itu hnya perasaannya kka yg tau.
Paling ga kka
hargai orang yg sayang ma kka ^^”
From :
Ka’ Jerry
“Mnghargai tdk hrus pcaran kan??
Lagian aku pcran ama dia krna orang yg aku
sayang itu kayaknya ga respon ma aku, jadi aku coba cari yg lain. Aku juga ga’
mau orng yg aku sayang itu terima tapi ga bener-bener sayang”
‘Apa maksudnya ini, kaka nyinggung aku? Aku ngak respon
gimana ka?’ batin Viola terus berkomentar. Ingin sekali rasanya Ia
mengatakan itu pada Jerry namun Ia terus mengurungkan niatnya. Ia hanya bisa
memendam perasaannya
To :
Ka’ Jerry
“Hmm betul juga sih yg kka bilang,
Yah ikut kata hati’nya kka aja kalau gitu”
From : Ka’ Jerrry
“Kalau mau ikuti kata hatiku, aku sayang ama
orang lain
Tapi, aku kayak digantungin ama orang itu.. tapi ga tau
lah, masih ada harapan ga yah
Biar aja deh..”
To : Ka’ Jerry
“Hmm optimis aja kka,
pasti ada jalan kok ;) aku rasa masih ada harapan
Emm bdw kka blum ngantuk nih? Kayaknya aku
udah mau tidur deh ka’”
Viola berniat untuk
mengakhiri percakapan ini, Ia seperti ingin melupakan apa yang dikatakan Jerry
malam ini padanya. Perasaanya benar-benar campur aduk sekarang. Viola tak
peduli lagi apa balasan pesan dari Jerry, Ia meletakkan ponselnya diatas meja
yang tak jauh dari tempat tidurnya, lalu mulai menutup mata meskipun didengarnya ponsel kembali
berdering, Ia tetap tak ingin bergerak sama sekali dan tetap pada posisinya
mencoba menenangkan pikiran dan melupakan kesedihan dihatinya kemudian
tertidur.
***
Di Minggu pagi ini, seperti biasa Viola selalu bangun lambat, biasanya jika
ada janji atau planning yang Ia buat dengan temannya meskipun hanya sekedar
jogging barulah Ia akan bangun sepagi mungkin namun tidak dengan pagi ini. Saat
Ia terbangun dilihatnya jam telah menunjukkan pukul 8 pagi, Ia ingin tidur
kembali namun mengingat pekerjaan mingguannya dirumah yaitu mengepel lantai
yang harus Ia kerjakan, dengan masih sedikit rasa ngantuk Ia pun bangun dan
segera membereskan kamarnya yang lumayan berantakan. Ia melakukan aktivitasnya
dihari minggu seperti biasa sambil menunggu datangnya hari esok. Hari ini tak
ada pesan masuk dari Jerry, entah mengapa hari ini Ia memang menginginkannya.
Ia tak ingin dulu teringat oleh Jerry yang sekarang telah menjadi milik orang
lain. Hari ini benar-benar sederhana, hingga malam tiba hanya Ia habiskan untuk
menonton tv dan tidur lebih cepat
hingga datangnya pagi.
Pagi itu terlihat mendung, membuat upacara pada senin itu begitu tenang
karena cuaca yang mendukung. Selesainya upacara berlangsung seluruh siswa pun masuk kekelasnya
masing-masing begitu juga dengan Viola namun hari ini Ia sedikit berbeda dari
biasanya yang selalu penuh canda.
“Vio kenapa sih? Kok kayak orang putus asa gitu” tegur Shelli ketika
melihat Viola yang duduk dikelas tanpa ekspresi diwajahnya
“Nggak kenapa-kenapa kok” ucap Viola datar
“Aduuhh.. lagi ada masalah yah? cerita dong. Kali aja abis cerita bisa agak
lega” Shelli sangat tak menyukai jika teman candanya kehilangan semangat
seperti itu.
“Hhhhh” Viola menarik napas panjang lalu menunduk sebentar dan kembali
melihat Shelli yang menunggunya berbicara
“Aku sendiri juga nggak tau aku kenapa. Cuman lagi nggak mood aja” Ucap
Viola masih dengan tanpa semangat
“Yaahh kenapa bisa nggak mood? Vio galau yaahh”
“Hah? Galau?” Viola lalu berpikir dan menyadari mengapa Ia seperti ini,
perasaannya benar-benar tak menentu.
“kayaknya galau beneran niih” tebak Shelli melihat ekspresi Viola yang
membingungkan
“Hhuuuaa” Rengek Viola sambil menjatuhkan pelan kepalanya keatas meja yang
berada didepannya
“Aduuhh.. jangan galau gitu dong Vio. Kenapa emangnya? Ka Jerry yah?” Tebak
Shelli namun Viola hanya semakin merengek dan menaikkan kembali kepalanya lalu
melihat Shelli
“Aku ngak tahu” Jerit Viola, kemudian Shelli pun melihat Viola sebentar
lalu segera meminjam ponselnya
“Hp kamu mana? Sini’in dong” Pinta Shelli sambil mengulurkan tangannya
kemudian Viola tanpa berkata apa-apa lagi Ia segera memberikan ponselnya pada
Shelli dan Ia pun menjatuhkan kembali kepalanya keatas meja. Shelli yang telah
menggenggem ponsel milik Viola segera membuka pesan dari Jerry hingga Ia
menemukan satu pesan yang membuatnya terkejut dan terpaku melihat pesan
tersebut.
“Jadi karena ini” Ucap Shelli yang tak dihiraukan oleh Viola
“Aduuuh Vio sabar yah” Kata Shelli sambil mengelus-ngelus pundak Viola
“Aku rasa Ka Jerry itu terpaksa kok pacaran ama orang lain, kamu sih nggak
kasih kepastian ke dia” komentar Shelli lalu Viola pun segera menaikkan
kepalanya dan memandang Shelli
“Maksud kamu?” ucap Viola
“Yah, kamu belum bilang perasaan kamu ke Ka Jerry kan?”
“Emangnya perasaan aku gimana” Viola terlihat bingung
“Ya ampun, Violaa kamu tuh suka juga kan sama Ka Jerry” Shelli meyakinkan
“Masa sih? Menurut kamu gitu yah” Viola tak yakin
“Terus kalau emang kamu nggak ada feeling sama Ka Jerry ngapain kamu galau
badai gini pas tau Ka Jerry punya pacar” Mendengar perkataan Shelli, Viola
hanya terdiam dan mengalihkan pandangannya dari Shelli, berpikir akan
perasaannya terhadap Jerry ‘Aku
bener-bener suka yah sama Ka Jerry? Kok bisa? Aku kenapa nggak sadar’
batinnya mulai berkomentar. Shelli yang menyadari bahwa Viola sedang memikirkan
perasaannya hanya bisa terdiam menunggu Viola berbicara
“Aku bener-bener bingung Shell, aku sendiri juga nggak yakin sih kalau
ternyata aku juga jadi suka beneran ama Ka Jerry. Awalnya emang aku suka ama
dia, tapi hanya sebagai kakak” Jelas Viola
“Terus? Sekarang gimana?”
“Yaaahh kalau sekarang sih.. aku juga nggak tau” Viola menunduk
“Kenapa nggak yakin? Davin?” Mendengar Shelli menyebut nama Davin, Viola segera memandang Shelli
“Hah? Kok jadi Davin sih” Viola mengkerutkan keningnya
“kamu suka juga
kan sama Davin?” Tanya Shelli yang membuat Viola makin menarik nafas panjang
“enggak kok, udah nggak lagi” Ucap Viola spontan
“udah nggak? Berarti dulu pernah dong” Shelli menebak sambil tertawa kecil
“Yaaah iya sih, tapi itu kan dulu. Ehh kamu kok tau Davin?” Tanya
Viola heran
“Banyak gosip lagi, ada juga yang bilang Davin itu mantan kamu lah” Jawab
Shelli apa adanya
“Hah? Sapa yang bilang gitu?” Viola terkejut
“Nggak tau.. dulu waktu tes masuk SMA, kamu sering boncengan ama Davin kan?”
“Iya sih, kamu tau dari mana? Kamu liat yah” Tanya Viola menyelidiki
“nggak pernah liat sih, cuman dengar-dengar dari orang aja. Cewek yang suka
ama Davin kan nggak cuman satu orang doang, makanya pas mereka ngeliat kamu
boncengan ama Davin, jadi ciut deh satu-satu lantaran dikirain Davin udah digebet duluan ama
kamu” Jelas Shelli menceritakan apa yang Ia ketahui
“serius? Sampe segitunya?” Viola tak percaya
“Iyaa, ngapain coba aku ngarang” Shelli berkata apa adanya, mereka berdua
sama-sama diam sejenak
“Ehh.. terus terus, kenapa sekarang kamu udah nggak suka lagi ama Davin?” Tanya
Shelli tiba-tiba
“iih Shelli kepo deh, yah sekali lagi aku bilang, Aku
bener-bener nggak tauu.. tiba-tiba aja gitu, perasaan aku udah nggak kayak dulu
lagi. Denger orang ada yang suka ama Davin yah aku biasa aja” Jawab Viola mengeluarkan isi hatinya
“Hmmm karena udah ada Ka Jerry kan” Tebak Shelli
“Apaan sih shelli” Sanggah
Viola
“Emang bener kan?” Ucap
Shelli jail
“Hmm,, tapi kalau menurut
kamu nih ya, aku cocoknya ama Ka Jerry atau Davin?” Tanya Viola yang ingin
mendengar pendapat dari Shelli
“Kalau menurut aku sih
cocokan ama Davin, soalnya kan Davin satu angkatan ama Kita jadi gampang gitu
kalau mau komunikasi ama kita-kita. Kalau Ka Jerry kan senior jadi Kita pasti
segan kalau ada apa-apa” Jawab Shelli apa adanya
“Tambah galau kan kamu Vio”
Ejek Shelli bercanda
“Apaan sih, udah ahh.. males bicarain itu-itu mulu” Ucap Viola
“Makanya jangan galau dong”
“Ih sapa yang galau coba” Viola mengelak
“Ehh ngomong-ngomong guru nggak masuk nih” sambung Viola sambil melihat
disekitarnya
“Oh iya yah, keasyikan ngobrol kita malah nggak sadar kalau dari tadi guru
nggak masuk-masuk” Ucap Shelli yang juga mencoba melihat kelas lain dari
jendela kelas.
“Kayaknya kelas-kelas lain juga guru-gurunya pada nggak masuk deh” Ucap
Viola dan kemudian ketua kelas mereka pun masuk kedalam kelas dan meminta
seluruh siswa kelas tersebut masuk untuk mendengarkan penyampaiannya
“Teman-teman, saat ini seluruh guru-guru sedang ada rapat dan setelah rapat
mereka semua akan menghadiri sebuah pertemuan, aku juga nggak tau pertemuan
apaan tapi yang jelas untuk hari ini Kita semua dibolehkan untuk pulang” perkataan
Anjas pun disambut teriakan gembira dari seluruh siswa dikelas tersebut
“Horeee yes.. pulang pulaang.
Tumben guru rapat mulu” Sahut Shelli gembira sementara Viola masih terpaku
ditempatnya
“Dirumah aku ngapain coba, tambah galau nih” Ucap Viola tak bersemangat
sambil mengambil tasnya
“yah dia galau beneran” sahut Shelli, kemudian ponsel milik Viola berdering
menandakan pesan masuk yang segera dibacanya. Saat membaca pesan tersebut Viola
sangat terkejut, matanya agak melotot memandang layar ponselnya kemudian Ia
merasa tubuhnya mulai melemas seakan tak percaya dengan pesan yang Ia baca
From: Yhani
“Innalilahiwainalilahi
rojiun,
Syg, kirana meninggal L”
Lalu dengan pelan dan mata yang mulai berkaca-kaca, Viola pun membalas
pesan tersebut
To : Yhani
“ innalilahi
Serius
say? Tau dari mana?”
From : Yhani
“Dari Tiwi, barusan dia sms. Kita kerumahnya
yah, sekarang”
To : Yhani
“Iya, aku ke febby dulu”
Shelli
yang melihat mata Viola yang seperti akan mengeluarkan air mata segera bertanya
pada Viola
“Kamu
kenapa Vio?”
“temen
SMP aku ada yang meninggal Shell, dia temen dekat kita” air mata Viola kemudian
jatuh dan sontak Shelli pun segera memeluk Viola.
“Aku ke
Febby dulu yah Shell” Viola pun meninggalkan ruangan kelas dan segera
menghampiri Febby dikelasnya.
“Feb”
Panggil Viola didepan pintu kelas dan Febby pun segera menghampiri Viola lalu
memeluknya.
“Kirana Vio” ucap
Febby
“Iya, kita kerumah kirana yah” Kata Viola mencoba tenang
“Kamu
bawa kendaraan?” Tanya Febby
“Nggak
sih” Jawab Viola tak bersemangat
“Kalian
ngak melayat?” Tanya Davin tiba-tiba saat berpapasan dengan Viola dan Febby
“Melayat
kok, tapii...” Ucap Viola namun belum sempat Ia meneruskan perkataannya, Davin telah
memotongnya
“Yaudah
bareng aja yuk”
“Kamu bawa mobil?” Tanya
Viola
“Ngak sih, hari ini aku bawa
motor” Jawab Davin
“Terus Febby gimana?” Tanya Viola
“Kan ada
Denis, dia juga
bawa motor kok” Jawab Davin
“Yuk
pergi sekarang, nungguin apa lagi” Sahut Denis yang merupakan teman dekat Davin
Tanpa
berkata-kata lagi mereka berempat pun segera menuju tempat parkir dan pergi meninggalkan sekolah menuju rumah
kirana untuk melayat. Kirana adalah teman SMP mereka yang menderita kanker,
saat Kirana masih hidup mereka sering bersama-sama bahkan rumah Kirana menjadi
tempat perkumpulan mereka untuk membahas apa saja sampai UN tiba.
Saat
melewati pintu gerbang tanpa diketahui Viola, ada yang memperhatikannya dari
jauh. Shesa yang melihat Viola berboncengan dengan Davin sempat
terkejut karena sepengetahuannya Jerry sedang dekat dengan Viola, pertanyaan
pun muncul dikepala Shesa, ada hubungan apa Viola dan Davin. Tanpa
berpikir panjang Shesa pun segera membuka akun twitternya dan memention Jerry.
***
PERTEMUAN
SINGKAT
Sesampainya dirumah, seperti biasa Viola langsung masuk kekamarnya dan
berbaring ditempat tidur, dilihatnya jam telah menunjukkan pukul 5 sore. Hari
ini benar-benar diluar dugaannya, Ia lalu teringat kembali wajah Kirana yang
polos namun Viola selalu mencoba untuk tetap tenang dan mengiklaskan kepergian
Kirana sampai
akhirnya Ia tertidur.
Matahari mulai menampakkan cahayanya, pagi itu Viola lebih awal berangkat
kesekolah dari hari-hari sebelumnya. Viola dan teman-temannya pun melakukan
aktivitas disekolah seperti biasa, Viola tak ingin sedih berlama-lama karena Ia
yakin temannya Kirana sudah tenang dialamnya.
Saat jam istirahat tiba, entah mengapa Viola enggan untuk mengikuti
teman-temannya pergi kekantin. Ia hanya ingin menikmati suasana disekitar
ruangan kelas 10. Shesa yang kebetulan sehabis dari perpustakaan dan berjalan
melewati daerah kelas 10, melihat Viola yang sedang asyik duduk sendirian disebuah kursi panjang dibawah
pohon yang tidak jauh dari kelasnya. Shesa pun menghampirinya
“Hey Vio?” Sapa Shesa sambil duduk disamping Viola
“Hey ka, Kaka dari mana? tumben ada disekitar sini” tanya Viola
“Yah, aku sih tadi dari perpus, balikin buku yang kemaren aku pinjem. Kamu
kok menyendiri sih?”
“Yah cuman lagi pengen aja ka”
“Masa sih? Galau yah?”
“Ngak lah ka, apa coba yang digalauin” Viola menyangkal sambil tertawa
kecil dan Shesa pun teringat sesuatu
“Oh ya, kalau boleh tau yang kemarin boncengan sama kamu itu siapa? Davin yah?
Atau?” tanya Shesa hati-hati
“Ohh, iya ka. Kemarin itu aku boncengan ama Davin. Kaka kok bisa tau Davin?”
“Yah kan alumni SMP yang sama” Ucap Shesa sederhana dan mulai bertanya
“Em kamu pacaran sama sapa sekarang de? Davin?”
“Aku ngak pacaran sama sapa-sapa kok ka, Davin itu cuman temen kok.
Kemarin itu kita pergi melayat kerumah temen aku yang meninggal ka” jelas Viola
“temen kamu meninggal de? Innalilahi”
“Iya ka, makanya aku ama Davin bareng sama teman-teman yang lain juga perginya sama-sama”
“Oh gitu yah. Emm trus, gimana ama Jerry de?” Tanya Shesa menyelidiki
“Emm, yah ngak kenapa-kenapa ka, Ka Jerry kan udah punya pacar” Ucap Viola
“Dia ngak bener-bener sayang kok sama pacarnya, dia itu sayangnya sama kamu
Vio” mendengar perkataanya Shesa, Viola pun hanya bisa diam dan menunduk, berpikir apa yang harus Ia
katakan.
“Vio, aku tau Jerry, dia itu kalau udah sayang sama orang yah dia bakal
bener-bener sayang” Jelas Shesa
“Emm, gitu yah ka. Aku cuman ngak mau dipermainin aja ka, aku masih sedikit
trauma sih” Ucap Viola pelan
“Trauma kenapa Vio? Cerita aja lagi”
“Emm soalnya dulu aku suka dibohongin mulu ama cowo, aku ngak mau
dibohongin lagi ka”
“Oh gitu, tapi aku yakin kok, Jerry ngak gitu orangnya. Dia baik kalau
nyayangin orang”
“Iya ka, aku rasa juga Ka Jerry orangnya bener-bener baik”
“Trus, perasaan kamu sendiri gimana ama Jerry?” Tanya Shesa, Ia ingin mengetahui
isi hati Viola demi temannya Jerry
“Emm...” Viola terdiam sejenak, berpikir dan meyakinkan hatinya akan
perasaannya pada Jerry
“kayaknya ka, aku.. juga suka sama Ka Jerry” ucap Viola sembari terus
meyakinkan hatinya bahwa Ia tak salah bicara
“Bener de? Iya deh, yang penting kamu juga jangan main-main ama temen aku
de. Kamu tenang aja, Jerry ngak mungkin bohongin kamu kok. Buktinya, meskipun
dia udah punya pacar, dia tetep ngaku kan ama kamu” Kata Shesa, Ia lega
mendengar Viola juga menyukai Jerry, paling tidak Jerry masih punya harapan
“Iya ka, emm.. oh ya, kaka sendiri pacaran sama siapa?” Tanya Viola yang
membuat Shesa sedikit terkejut
“Yah.. aku sih ngak pacaran sama sapa-sapa kok” Jawab Shesa
“Masa sih ka”
“Iya bener, kamu nih. Eh kayaknya udah mau masuk bentar lagi. Aku kekelas
yah Vio” Kata Shesa sambil beranjak dari tempatnya
“Yah, Ka Shesa kabur” Sahut Viola yang hanya disambut lambaian tangan oleh
Shesa.
***
Bel tanda berakhirnya pelajaran pada hari itu terdengar keseluruh ruangan
disekolah tersebut dan seluruh siswa siswi pun berhamburan keluar kelas.
“Jeerryy.....” panggil Shesa sambil berlari kecil kearah Jerry yang sedang
berjalan sendirian dikoridor sekolah.
“ada apa lagi sha?” tanya Jerry datar
“mulai sekarang kamu nggak perlu lagi tu’ galau badai mulu mikirin
perasaannya Vio ke kamu” ucap Shesa ceria
“hah? Apaan sih Sesha, maksud kamu apa?” Jerry tak mengerti
“Viola juga suka ama kamu Jerry” Ucap Shesa jelas, Jerry hanya terdiam
dengan pandangan kosong lalu melihat wajah Shesa yang menunggu komentar Jerry.
“kamu tau dari mana? Aku udah ngak mau terlalu berharap banyak Sha, apalagi
kemarin dia boncengan ama cowo yang aku juga ngak tau itu sapa” Ucap Jerry
murung sambil duduk dibangku panjang yang berada tak jauh darinya
“aku denger dari Vio, dia sendiri yang bilang kalau dia juga sebenarnya
suka sama kamu tapi kamunya malah pacaran ama orang lain” omel Shesa sambil
duduk didekat Jerry
“masa sih? Dia ngomong gitu?” Jerry tak percaya
“iyaa, terus yang kemarin boncengan ama dia itu namanya Davin, dia
temen seperjuangannya Vio di SMP” Jelas Shesa
“wahh, ada harapan dong” Jerry tersenyum
“emang ada, cuman kamunya aja yang kurang peka. Kamu pikir gimana
perasaannya pas dia tau kalau orang yang menarik pelan hatinya terus tiba-tiba
pacaran ama orang lain”
“iya siih, aku juga ngak tau kenapa aku jadi kayak gini” Jerry menunduk
“terus, kalau udah kayak gini, pacar kamu gimana?”
“emm.. aku ngak mungkin mutusin dia gitu aja”
“yang nyuruh kamu putusin dia siapa coba, mending kamu urusin aja dulu
hubungan kamu. Jangan hanya karna denger Vio juga suka ama kamu trus pacar kamu
dilupain gitu aja. Ngak mau karma kan” Shesa menasehati
“Iya sih, ntar aku coba bicara sama Vio juga deh. Aku juga pengen denger
langsung dari dia gimana perasaannya” Ucap Jerry
“Yaudah, aku dukung kamu kok” Kata Shesa sambil memukul pelan pundak Jerry
dan Jerry pun hanya tersenyum
“kalau gitu aku duluan yah, bentar ada les nih” kata Shesa sambil beranjak
dari tempatnya
“Iya deh, makasih banyak yah Sha” Ucap Jerry tersenyum
“Iya sama-sama, duluan yah, bye” Shesa pun meninggalkan Jerry yang masih
duduk ditempatnya.
@Rumah Viola
Viola melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 8 malam lalu Ia pun
menyalakan televisi dan mencari channel yang bagus. Saat sedang asyik menonton sebuah siaran komedi tiba-tiba
saja Ia mendengar suara ketukan pintu dari luar yang menandakan ada tamu.
“Ih siapa sih ganggu aja, paling juga teman papa. Papa kan lagi keluar
kota” Ucap Viola pelan sambil beranjak dari tempatnya dan membuka pintu. Sontak
Viola sempat terkejut dan terdiam sejenak lalu akhirnya bicara
“Ka Jerry”
“Hai Vio, ganggu yah” Kata Jerry
“Ngak kok ka, cuman aku heran aja, tumben kakak dateng ngak bilang-bilang
dulu”
“Tadinya aku emang ngak ada niat buat kesini, cuman gara-gara tadi baru
pulang dari rumah temen trus lewat depan kompleks rumah kamu yah aku mampir
aja” Jelas Jerry
“Ohh gitu, masuk ka” Tawar Viola
“Eh ngak usah, diteras aja”
“Emm yaudah deh, duduk aja kalau gitu ka” Ucap Viola sambil duduk
dikursinya, begitu pun dengan Jerry
“Kamu lagi ngapain tadi?” Tanya Jerry
“Cuman nonton aja kok ka” Jawab Viola
“Ohh nonton apa’an?”
“Acara komedi gitu ka di tv,
biasalah penghibur hati”
“Kamu suka juga yah nonton
komedi? Sama dong kalau gitu” dan seterusnya mereka berbincang tentang apa pun
yang terlintas saat itu.
Jerry terdiam begitu pun dengan
Viola saat mereka sama-sama kehabisan
akal untuk mencari topik pembicaraan. Namun setelah beberapa
saat saling terdiam, Jerry sadar ini tak baik jika terus dibiarkan.
“Emm Vio?” Ucap Jerry lalu diam sejenak dan mulai bicara lagi
“Tadii... kamu ketemu Shesa yah?”
“Em iya ka. Kenapa?” Viola mulai merasa jantungnya berdebar tak menentu
“Ngak, tapi... aku... pengen tanya sesuatu ama kamu. Boleh ngak?” Ucap
Jerry hati-hati
“Tanya aja kali ka, aku jawab ko”
“Beneran yah, tapi jawab jujur”
“Iya Ka Jerry, emang kaka mau nanya apa?”
“Emm aku
langsung to the poin aja yah, sebenarnya... perasaan kamu ke aku itu gimana sih de?”
Tanya Jerry pelan, Ia sangat penasaran dengan jawaban Viola, saat itu Ia
benar-benar ingin mengetahui kepastian dari Viola tentang perasaannya
“Ha? Emmm... gimana apanya ka?” Viola pura-pura tak mengerti saat
sebelumnya sempat terkejut dalam diamnya. Ia benar-benar harus meyakinkan
perasaannya pada Jerry sambil merangkai kata-kata yang akan Ia sampaikan
“Yah perasaan kamu ke aku, kamu suka atau ngak ? eh bukan... kamu sayang atau
ngak sama aku de?” Tanya Jerry langsung, Ia tak ingin lagi larut dalam menunggu
kepastian dari Viola
“Aku rasa, kakak kan udah punya pacar jadi untuk apa lagi ka Jerry tanya tentang perasaan aku
ke kakak. Lagian apa pun perasaan aku, itu juga ngak penting kan buat kakak” Viola
masih tak ingin mengatakan perasaannya pada Jerry. Ia hanya tak ingin
mengganggu hubungan Jerry, apalagi sampai membuat Jerry melupakan pacarnya
“Vio, kamu ngak tau gimana ngak enaknya diberi harapan tapi ngak diberi
kepastian tentang gimana perasaan kamu sebenarnya. Aku tau, aku emang udah
salah pacaran ama orang lain. Tapi apa ngak boleh kalau aku tau kepastian dari
kamu de” Jerry mulai resah, meskipun menyayangi Viola namun Ia juga ingin tau
perasaan Viola terhadapnya
“Ka Jerry, aku benar-benar minta maaf, aku bukannya ngak mau ngasih
kepastian. Tapi aku rasa kakak udah nyaman dengan kita yang kayak kemarin-kemarin, apalagi setelah tau kalau
kakak pacaran ama orang lain, itu buat aku ngira kalau kaka udah ngak perlu lagi
kepastian dari aku ka” Viola mengeluarkan isi hatinya
“Yaudah, aku ngerti ko de, yang penting kamu tau kalau aku sayang sama kamu
Vio” Jerry tersenyum
“Maaf yah ka’ kalau kemarin-kemarin udah buat kaka nunggu, tapi aku beneran ngak
bermaksud kayak gitu. Emm aku juga sayang ko sama kaka” Mata
Viola tiba-tiba membesar dan tangannya reflex memegang halus bibirnya,
menandakan bahwa Ia sama sekali tak sadar dengan ucapannya yang terakhir. Namun hal itu disambut senyuman lebar oleh Jerry
“Makasih yah de, kamu udah kasih kepastian. Aku senang ko” Jerry lega,
mendengar langsung perasaan Viola
“Longlast yah buat hubungan kaka” Viola tersenyum
“Iya de, aku coba jalanin terus ko hubunganku” Kata Jerry lalu melihat jam
yang melingkar ditangannya
“Oh ya, udah jam 10 nih, aku balik yah. Ngak enak juga kalau terlalu malam
aku disini” Ucap Jerry sambil beranjak dari tempatnya
“Iya sih, yaudah deh kalau gitu hati-hati aja yah ka” Kata Viola yang juga
beranjak dari tempat duduknya
“Iya de, kamu juga tidur aja sana, besok kan mau sekolah”
“Iya kaka, abis ini aku langsung tidur ko”
“Yaudah aku balik yah. bye” Jerry berjalan menuju mobilnya
“Bye ka” Viola melihat Jerry sampai hilang dari pandangan. Ia pun masuk
rumahnya dan mematikan televisi yang tadi Ia nyalakan lalu masuk ke kamarnya
dan berbaring diranjangnya. Ia tersenyum mengingat semua kejadian yang hari ini
Ia alami,
pertemuan singkatnya dengan Jerry sudah membuatnya merasa lega.
***
SUATU
KEBETULAN
Sore itu Viola sedang asyik
mendengarkan musik dari mp3 miliknya namun karena merasa bosan Ia pun mengambil
ponselnya lalu mencari sebuah nama dikontak untuk dihubunginya
“Hallooo” terdengar suara
setelah beberapa saat Viola meletakkan ponselnya ditelinga
“Shellii dimana?” Tanya Viola
“Dirumah, tumben nelpon. Ada
apa Vio?” Ucap Shelli
“Aku boring banget nih, jalan
yuuk”
“Yah kamu telat ngajaknya,
aku udah punya janji duluan nih Vio”
“Belagu banget sih pake punya
janji segala, tumben”
“Hhehehe” Shelli nyengir
“Janji ama sapa sih Shell ?”
“Sama teman lama aku, soalnya
udah lama banget ngak ketemu dia”
“Ohh iya deh, lain kali aja
kalau gitu”
“Oke deh, aku pergi dulu yah
Vio”
“Iya Shel, kamu hati-hati”
Viola tertawa kecil
“Aduuuhh perhatian banget
sih” Balas Shelli
“Udah ah, ntar pulsa aku abis
lagi, oke bye..”
“Bye” Ucap Shelli lalu Viola
pun mengakhiri telepon
“Uuhh enaknya ngapain kalau
kayak gini, tidur aja deh” Kata Viola sambil membantingkan dirinya diatas
tempat tidur
Di tempat yang berbeda
Shelli mengetuk pintu rumah
dan tak lama kemudian pintu tersebut pun dibuka oleh seorang gadis seumurannya
“Shelliii” Ucap gadis itu
“Achaaa” Balas Shelli lalu
mereka berdua pun berpelukan
“Masuk yuk” Ajak Acha dan Ia
pun mengajak Shelli masuk ke kamarnya
“Kalau Kita cerita-cerita
disini lebih nyaman dan aman pastinya” Kata Acha sambil duduk diatas tempat
tidurnya diikuti Shelli
“Aman? Maksud kamu?” Tanya
Shelli bingung
“Iya aman tanpa gangguan dari
kakak aku, dia kan jail banget” Jawab Acha
“Ohh kirain apaan, duh udah
lama banget nih ngak ketemu” Kata Shelli
“Iya nih, kamu sih pas masuk
SMP udah ngak pernah kasih kabar lagi”
“Gimana mau kasih kabar Cha,
hpku rusak.. pas diperbaiki kontaknya malah ilang semua. Kamu tuh yang ganti
nomor hp”
“Hhehehe mana aku tau hp kamu
rusak”
“Ehh jadi gimana nih sekolah
kamu?” Tanya Shelli
“Baik kok, kamu sendiri?”
“Baik juga”
“Oh ya, waktu kamu nyebutin
sekolah kamu kemarin, aku baru inget berarti kamu satu sekolah ama kakaku dong”
Ucap Acha
“Kakak kamu? Emangnya dia
kelas berapa?”
“Udah kelas 12 sih, kali aja
kamu kenal.. dia juga pengurus osis” Jelas Acha
“Emang namanya siapa Cha?”
“Namanya Jerry”
“Haaaaa?? Ka Jerry?” Shelli
terkejut
“Iya, kamu kenal yah?” Acha
sedikit bingung melihat respon Shelli yang tak biasa
‘gimana
ngak, dia kan deket ama Viola’
batin Shelli berkomentar lalu Ia menjawab pertanyaan Acha
“Iya kenal kok, dia kan yang
MOS aku dulu”
“Ohh… tau ngak, dia itu deket
sama adik kelasnya yang seangkatan sama kita”
“Viola maksud kamu?” Ucap
Shelli
“Nah loh, kok kamu tau sih?”
Tanya Acha
“Iyalah tau, orang dia temen
sekelas aku kok” Jawab Shelli
“Waah kok bisa kebetulan
banget yah”
“Seharusnya aku yang tanya
Cha, kok kamu bisa tau Viola sih?” Tanya Shelli penasaran
“Iya dong, aku kan sering
baca sms nya dihp Ka Jerry” Jawab Acha santai
“Serius? Kamu kepo juga yah
Cha” Shelli tertawa kecil
“Hhehehe.. pokoknya kalau dia
udah ke kamar mandi, aku ambil lagi hpnya trus baca deh smsnya ama Viola”
“Wahh dasar kamu miss kepo”
“Hhehehehe” Acha nyengir lalu
kembali berkata
“Kamu tau ngak, Ka Jerry tuh
suka banget ama Viola sampai-sampai foto Viola ada di laptop sama di hpnya
juga”
“Masa sih Cha?”
“Iya Shel, aku liat kok..
terus nama panjang Viola yang dia tulis dibuku itu juga dia foto loh” Jelas
Acha
“Sampai segitunya?”
“Yah itulah Ka Jerry, rumah
Viola juga ngak jauh dari sini kan?”
“Iya, kamu tau juga?”
“Aku kan baca smsnya,
hhehehe”
“Tapi bukannya Ka Jerry
udah punya pacar yah?” Tanya Shelli
“Iya sih, tapi kayaknya Ka
Jerry ngak suka deh sama pacarnya itu” Jawab Acha
“Masa sih? Terus ngapain dia
pacaran kalau gitu”
“Yah mana aku tau.. Emm
emangnya Viola itu juga suka yah sama Ka Jerry?”
“Emm kayaknya sih iya, cuman
Ka Jerry nya udah punya pacar tuh”
“Iya sih, aku juga bingung
ama kakakku itu”
‘Waahh
ada berita baru nih buat Viola’ batin
Shelli
“Ehh ngomong-ngomong Kita kok
malah jadi ngegosipin kakak aku yah” Sahut Acha
“Ini mah bukan gosip Cha,
tapi kenyataan” Ucap Shelli
“Iya sih, yaudah deh kalau
gitu Kita ganti topik” Usul Acha
“Iyaiya, aku pengen denger
cerita kamu tentang sekolah baru nih”
“Aku juga pengen denger
cerita kamu”
Dan seterusnya, mereka berdua
pun melanjutkan cerita dengan topik lain tanpa membicarakan lagi tentang Viola
dan Jerry.
Keesokkan harinya disekolah saat
jam istirahat, dikantin Shelli pun menceritakan semua yang Ia ketahui dari Acha
tentang Jerry.
“Kok bisa kebetulan banget
kayak gitu sih” Komentar Viola setelah mendengarkan cerita dari Shelli
“Yah gitu deh, namanya juga
takdir. Tapi aku ngak nyangka loh Ka Jerry sampai simpan foto kamu dihpnya”
Ucap Shelli
“Hmmm… Ka Jerry orangnya
susah ditebak”
“Masa sih?”
“Iya, mana sekarang Davin
malah sms-sms terus lagi”
“Jangan-jangan dia mau pdkt
lagi sama kamu” Tebak Shelli
“Febby pernah bilang gitu
sih” Ucap Viola
“Yah terus?”
“Emm… menurut kamu,
misalnya.. tapi ini masih misalnya aja yah. Kalau emang Davin coba deket lagi,
lebih baik aku sama Davin atau Ka Jerry?”
“Hmmmm… aku kan udah pernah
bilang, kalau menurut aku sih, mendingan kamu ama Davin” Kata Shelli
“Masa sih? Kenapa?”
“Iih lupa yah, gini.. kalau
kamu sama Davin kan seangkatan jadi lebih gampang deket sama kita-kita biar
kalau jalan bareng kan ngak perlu jaim. Tapi kalau sama Ka Jerry, dia kan
senior jadi yah kita pasti segan gitu lah” Terawang Shelli
“Oohh, trus aku harus gimana
dong?” Viola bingung
“Emm atau gini aja, siapa
yang duluan nembak kamu yah itu yang kamu terima” Saran Shelli
“Gitu yah?” Viola tak yakin
“Yah itu kan cuman saran,
lagian siapa cepat dia dapat”
“Yeee… kamu kira aku barang
apa” Ucap Viola cemberut
“Hhehehe.. Tapi itu juga kan
masih terserah kamu Vio, keputusan tetap kamu yang harus pilih satu pilihan
aja”
“Iyaa, ciieee tumben bijak
gitu”
“Kan belajar dari kamu”
Shelli tertawa kecil begitu pun dengan Viola
“Kamu nih, yaudah Kita masuk
kelas yuk” Ajak Viola
“Ayoo” Shelli dan Viola pun
beranjak dari tempatnya dan pergi meninggalkan kantin menuju ke kelas mereka.
***
@Rumah Jerry
Sore itu Jerry bersama Acha
dan dua orang sepupu mereka sedang duduk diruang tamu sambil sesekali bercanda
“Eh Jerry coba aku liat
tangan kamu” Sahut salah satu sepupu Jerry
“Hah buat apa?” Tanya Jerry
bingung
“Mau ngeramal tuh Ka” Sahut
Acha sekaligus menjawab pertanyaan Jerry
“Ohh bilang kek, nih” Ucap
Jerry sambil menunjukkan tangannya pada sepupunya itu
“Emm kalau aku liat dari
garis tangan kamu.. jodohmu udah deket nih” Kata sepupu Jerry
“Iya lah deket, orang
rumahnya aja ada dikompleks deket sini kok” Sahut Acha tiba-tiba
“Tuh kan bener” Sahut sepupu
Jerry
“Haa? Eh Acha maksudnya apa?”
Jerry pura-pura tak mengerti meskipun Ia tahu yang dimaksud Acha itu adalah
Viola
“Emang iya kan, namanya
Viola” Ucap Acha yang membuat Jerry semakin terkejut
“Ehh kamu tahu dari mana
Cha?” Tanya Jerry penasaran
“Ada deeehh” Acha lalu
beranjak dari tempatnya menuju dapur untuk mengambil segelas minuman dan Jerry
pun mengejarnya
“Acha kamu tahu dari mana
sih?” Kata Jerry semakin penasaran
“Lagian cari pacar seumuran
ama aku, yah aku tahu lah” Kata Acha santai
“Kamu tuh emang ratunya kepo”
Jerry gemas
“Iih biarin dari pada ngak
tau apa-apa” Cibir Acha sambil mengeluarkan lidahnya dan segera pergi
meninggalkan Jerry
“Nih anak tahu dari mana sih”
Jerry bertanya-tanya sendiri, bingung mengapa Acha bisa tahu tentang Viola.
* * *
DAVIN
ATAU JERRY
2 Bulan Kemudian
Viola sedang duduk didepan
kelasnya sambil membaca sebuah novel, Febby pun datang menghampirinya
“Hey, aku cari dari tadi,
ternyata disini. Sms ku kenapa ngak dibales sih?” Sahut Febby
“Ha? Sms yang mana? Dari tadi
hp aku simpan ditas tuh dalem kelas” Ucap Viola
“Hm pantesan” Febby lalu
terdiam, begitu pun Viola yang kembali membaca novelnya lalu teringat sesuatu
“Eh, entar malem jadwal kita
les kan?” Tanya Viola
“Iya, bareng yahh” Ucap Febby
“Iyalah, aku perginya sama
sapa lagi kalau bukan sama kamu” Kata Viola
“Emang” Kata Febby terdiam
sejenak lalu menyambung perkataannya
“Oh ya Vio, jadi gimana tuh
kamu ama Ka Jerry?” Tanya Febby
“Emm…” Viola menutup novelnya
sambil melirik Febby“ Yah gitu deh, ngak ada apa-apa. Dia cuman kadang curhat aja
tentang pacarnya”
“Kamu suka yah sama dia?”
“Ngak tau juga sih Feb, aku
bingung. Udah beberapa minggu ini Ka Jerry ngak pernah lagi hubungin aku, sms
pun udah ngak pernah” Viola menunduk
“sibuk kali.. oh ya, terus,
Davin?”
“Kok Davin sih, emangnya dia kenapa”
Viola kembali melihat Febby
“Bukannya Davin dekat juga
yah sama kamu?”
“Iya sih, tapi yah
dekat-dekat gitu aja”
“Aku denger-denger dia lagi
nyari pacar tuh, bosen kali dia jomblo mulu”
“Terus? Hubungannya ama aku
apa Feb ?”
“Ih Vio beneran ngak nyadar
apa pura-pura ngak nyadar sih. Dia itu maunya ama kamu Vio”
“Masa sih, udah deh Feb,
aku udah ngak ada feeling lagi ko buat
pacaran ama dia. Semenjak kenal Ka Jerry perasaan aku ama Davin udah pudar”
“Ih ngak percaya, liat aja
ntar” Ucap Febby setelah tak lama kemudian bel masuk kelas berbunyi lalu mereka
berdua pun beranjak dari tempatnya masing-masing.
* * *
@Rumah Davin
Davin dan Denis terlihat
asyik bermain playstation yang ada dikamar Davin
“Aaahhh” Davin melempar stick
playstationnya
“Tumben kamu kalah mulu kali
ini” Ucap Denis sambil tertawa kecil
“Aku ngak main lagi ah, lagi
gak konsen nih” Kata Davin sambil berbaring diranjangnya
“Gak konsen? Kenapa?” Tanya
Denis yang terus melanjutkan permainannya
“Hmm… Viola” Jawab Davin
“Maksudnya? Emang kenapa ama
Viola?”
“Menurut kamu, sebaiknya aku
cepat nembak Viola atau gimana?” Davin meminta saran dari Denis
“Yaah kalau aku sih mending
kamu cepetan nembak Viola kalau ngak mau keduluan ama orang lain” Kata Denis
“Maksudnya? Keduluan ama
sapa?”
“Gini bro, kamu tahu Ka Jerry
kan?” Denis menghentikan permainannya dan duduk disamping Davin
“Kakak kelas itu? aku pernah
denger namanya sih. Emang dia kenapa?”
“Dia itu juga suka sama
Viola”
“Masa sih? Kamu tahu
darimana?” Tanya Davin sedikit terkejut
“Yaiyalah tahu, dia kan senior
diekstrakulikuler aku disekolah. Kamu juga tahu kan, waktu Mos aku sekelas sama
Viola dan Ka Jerry walikelasnya. Dia juga sering tanya-tanya Viola kalau kita
latihan” Jawab Denis
“Serius?”
“Iya lah bro, masa aku bohong
sih. Makanya kalau kamu emang beneran suka ama Viola yah tembak aja bro,
saingan kamu senior tuh” Denis meyakinkan
“Tapi aku belum berani bro,
kalau dia tolak gimana?”
“Payah lu bro, belum tempur
udah nyerah duluan. Kapan mau majunya kalau gini” Denis gemas
“Tapi kira-kira Viola juga
suka ngak yah ama aku” Davin menerawang
“Yaelah, inget gak waktu SMP,
Febby pernah bilang ke aku kalau Viola sebenernya suka sama kamu tapi kamunya
malah cuek”
“Hmm… jadi tembak sekarang
nih”
“Iyalah, kapan lagi..
keduluan ama senior baru tau rasa lu” Ucap Denis meyakinkan Davin
“Yaudah deh, kalau lewat sms
ngak apa-apa nih?”
“Yah emangnya kalau ngomong
langsung kamu berani?”
“Yah engak sih, bisa-bisa
kehabisan kata-kata”
“Dasar lu”
“Yah kamu kan tahu Den, aku
orangnya pemalu”
“Yaudah makanya kalau gak berani
langsung yah lewat hp aja”
“Iya deh, bilangnya gimana?”
Tanya Davin polos
“Somplak lu, nembak cewek aja
ribetnya minta ampun” Denis semakin gemas dengan Davin
“Yaahh aku kan baru kali ini
nembak cewek Den”
“Iya deh iya, ntar aku ajarin
bro”
“Oke bro” Davin pun mengambil
ponselnya dan mulai mengetik sebuah pesan untuk dikirimkan pada Viola
Ditempat lain dalam waktu
yang bersamaan
Disalah satu kelas yang
ditempati Viola, Febby dan beberapa orang yang merupakan teman sekelas les
mereka sedang asyik menerima materi dari seorang guru yang sering mereka sapa
mam Vanny hanya sedikit lebih tua dari mereka. Ditempat inilah Viola, Febby
serta beberapa temannya mengikuti les bahasa inggris setiap 2 kali dalam satu
minggu. Saat yang lainnya sedang mengerjakan sebuah soal, Viola terlihat sibuk
dengan ponsel miliknya yang terus berdering sementara Febby yang menyadari hal
itu pun hanya diam melihat Viola. Wajahnya terlihat bingung sampai Ia tak
konsen menerima materi saat itu sampai waktunya selesai
“Kamu kenapa sih Vio, dari
tadi sibuk mulu ma HP. Ka Jerry sms yah?” Febby mengoceh saat hendak keluar
dari dalam kelas
“Bukan Ka Jerry yang sms Feb”
Ucap Viola tak bersemangat sambil duduk di kursi panjang yang berada dikoridor
tempat les tersebut
“Terus dari siapa? Davin
yah?” Tanya Febby
“Iya” Jawab Viola singkat
dengan muka datar
“Kenapa Vio? Emm… Davin
nembak kamu yah?” Tebak Febby
“Kamu kok tau sih” Viola
membesarkan matanya, terkejut dengan tebakan Febby yang benar
“Aku kan udah bilang, Davin
emang suka ama kamu. Trus gimana jawabanmu?” Tanya Febby penasaran
“Aku belum jawab, aku ngak
tau harus jawab apa Feb” Jawab Viola bimbang
“Loh kenapa? Kamu juga suka
kan sama Davin?”
“Yah makanya itu aku ngak tau.
Kalau aku terima Davin, gimana ama Ka Jerry”
“Iya sih..”
“Aku harus jawab apa Feb, apa
aku tolak Davin aja”
“Ehh, yahh.. hm itu sih
terserah kamu Vio. Itu udah menyangkut perasaan kamu, hanya kamu yang bisa
mutusin semuanya” Febby menasehati
“Tapi bantuin aku dong Feb,
aku bener-bener ngak tau mau jawab apa. Mana dia nembaknya lewat hp lagi”
“Yah kamu tau sendiri lah
Vio, Davin orangnya kan emang pemalu, mana berani dia ngomong langsung ke kamu”
“Iya sih, tapi gimana ama Ka
Jerry Feb, aku ngak tau kenapa pikiran aku malah ke Ka Jerry. Dulu waktu Ka Jerry
nembak aku, pikiranku juga melayang ke Davin trus sekarang malah kebalikannya.
Aku harus gimana nih Feb” Viola terlihat sangat bingung, perasaannya
benar-benar tak menentu
“Jangan bimbang dibuat
pilihan, kamu pasti tau kok yang terbaik buat kamu itu apa Vio. sekarang gini
deh, coba kamu pikirin kalau misalnya kamu terima Davin itu bakalan gimana
nantinya, atau malah sebaliknya kamu tolak Davin dan tetap nungguin Ka Jerry
itu juga bakalan gimana, kamu tau sendiri kan Ka Jerry juga udah punya pacar,
cuman sekedar ngingetin kamu aja ko, semua ada konsekuensinya dan kamu harus
terima itu”
“Febby aku bener-bener
bingung. Nih kamu pegang aja dulu HP aku, terserah kamu mau balas apa sms dari
Davin” Kata Viola sambil memberikan handphone nya pada Febby.
“Vio aku ngak tau, ini udah
bener-bener menyangkut kehidupan pribadi kamu nantinya”
“Febby terus aku harus gimana
dong, aku juga ngak mau ngecewain Davin, dia baik banget ama aku, Kita juga
udah lama temenan, aku ngak mau semuanya rusak” Viola terdiam, menatap kosong
kedepan begitu juga dengan Febby yang masih menunggu Viola berbicara sampai
beberapa saat kemudian
“Feb, kayaknya aku…..” Kata
Viola namun terhenti
“Apa?” Febby penasaran
“Aku… bakal terima Davin”
“Beneran? Yakin?”
“Iya, aku juga ngak mau kali berharap
terus ama Ka Jerry. Lagian Ka Jerry juga udah punya pacar, kalau aku juga punya
pacar jadi kita kan sama-sama ngak saling berharap” Kata Viola yang disambut
pelukan dari Febby
“Apa pun itu aku selalu
ngedukung kamu kok, yaudah cepetan kamu bales aja nih sms Davin” Febby pun
memberikan handphone ketangan Viola namun Viola menolaknya
“Kamu aja deh yang bales,
terserah kamu mau bilang apa, yang penting intinya aku terima Davin” Ucap Viola
dan Febby pun membalas pesan dari Davin.
Viola terus menatap kedepan dengan perasaan
tak menentu, Ia memang menyukai Davin sejak kedekatan mereka saat sebelum Ujian
Nasional SMP berlangsung. Namun ketika mulai memasuki kehidupan SMA dan
datangnya Jerry yang mulai mengisi kehidupannya, Viola seakan telah melupakan perasaannya
pada Davin apalagi setelah mengetahui bahwa sejak masuk SMA Davin sudah menjadi
incaran banyak cewek disekolahnya. Bahkan salah satu teman sekelas Viola pun
juga menyukai Davin. Itu yang sempat membuat Viola risih karena Ia tak
mengharapkan seorang pacar yang banyak disukai cewek apalagi itu teman
sekolahnya. Namun perasaan tak enak itu segera dihilangkan Viola, mengingat
malam ini Ia telah resmi menjadi pacar Davin. Senang, namun Ia masih dibuat
bimbang dengan perasaannya sendiri dan saat itu pun Ia bertekad untuk melupakan
Jerry dan mencoba mulai mengembalikan perasaannya pada Davin yang sekarang
telah menjadi pacarnya.
***
“Ciieee yang galaunya ngak
abis-abis” Sahut Shelli saat memasuki kelas dan melihat Viola yang termenung
dibangkunya
“Apaan sih Shel, Udah ngak lagi” Ucap Viola santai
“Masa sih.. Oke deh kalau
gitu” Shelli pun diam dan membuka bukunya
“Shel” Panggil Viola sedikit
berbisik
“Kenapa?”
“Ada yang mau aku bilang ke
kamu”
“Iya apa? Bilang aja kali”
“Tapi jangan kasih tau
sapa-sapa yah” Viola mulai serius
“Iya ngak bakal aku kasih tau
sapa-sapa ko, janji.. keep silent” Shelli meyakinkan
“Hmm jadi gini, semalem itu..
aku…” Viola ragu menyambung ucapannya
“Iya kamu kenapa? Jangan
bikin penasaran gitu dong Vio” Rengek Shelli
“Tapi janji yah ngak ngasih
tau sapa-sapa dulu”
“Iya janji, beneran deh.
Emang ada apa sih?”
“Gini shel, aku semalem udah…
jadian sama Davin” Ucap Viola pelan
“What? Serius? Wahhh
congratulation yahh” Ucap Shelli riang menepuk pelan pundak Viola
“Iyaiya, tapi jangan kasih
tau orang dulu”
“Iya kamu tenang aja, lagian
kenapa sih dirahasiain gitu bukannya itu kabar bagus yah?” Tanya Shelli bingung
“Ngak kenapa-kenapa sih, aku
masih ngak enak aja sama yang lain. Terus juga aku belum siap kalau banyak yang
tau apalagi kalau sampai ke anak kelas 12” Jawab Viola
“Yah kenapa harus ngak enak
ama yang lain sih, Davin kan bukan pacar orang”
“Yah bukan itu masalahnya,
tapi kan…..” Belum sempat Viola melanjutkan ucapannya, Shelli segera
memotongnya
“Karena teman sekelas kita
ada yang suka sama Davin? Udahlah Vio santai aja lagi, Davinnya kan suka sama
kamu jadi apa salahnya sih”
“Iya sih, tapi paling ngak
untuk saat ini jangan dulu deh. Biarin aja mereka tau sendiri nanti”
“Yaudah deh kalau gitu. Terus
gimana ama Ka Jerry?” Pertanyaan Shelli membuat Viola terdiam sejenak
“Kalau itu sih, yah aku juga
ngak tau Shel”
“Hmm aku tahu, pasti kamu
ngak pengen ini banyak yang tahu biar ngak sampe ke anak kelas 12 itu maksudnya
Ka Jerry kan? emm bukannya waktu itu kamu bilang kalau Ka Jerry udah punya
pacar yah”
“Iya sih dia udah punya
pacar, tapi hampir sebulan ini Ka Jerry udah ngak pernah lagi hubungin aku,
sama sekali dia ngak ngasih kabar apa-apa padahal biasanya dia sering curhat
tentang pacarnya”
“Dia lagi sibuk kali Vio, udahlah
kan sekarang kamu juga punya Davin” Shelli menyemangati
“Iya sih, mungkin emang Ka
Jerry udah lupain aku, mungkin juga dia udah ngak berharap lagi”
“Yah mungkin, udahlah Vio
lagian cakepan Davin kok dibanding Ka Jerry”
“Apaan siih shellliiii” Viola
mendorong pelan bahu Shelli lalu terdiam dan dalam diamnya Viola mulai bicara
dalam hati ‘Aku harus ngelupain Ka Jerry,
HARUS’ tegas Viola.
“Teman-teman guru Kita ngak
masuk tapi dia ngasih tugas buat dikerjain sekarang, tugasnya di LKS sambungan
yang minggu lalu” Sahut Anjas yang berada didepan papan tulis
“Kumpulnya kapan?” Tanya
Shelli
“Hari inilah, sebentar pas
jamnya udah abis tugas ini harus selesai trus dikumpul ama aku, ntar aku yang
bawa ke ruang guru” Jelas Anjas
“Oke deh, Vio mending Kita
cepet kerjanya yuk biar abis itu Kita bisa ke kantin, laper nih” Kata Shelli
dan Viola pun hanya mengangguk pelan
@Koridor Sekolah:
Saat jam pelajaran terakhir
berlangsung, lagi-lagi dikelas Viola guru mata pelajaran yang mengajar saat itu
berhalangan hadir tanpa memberikan mereka tugas, akhirnya beberapa teman Viola
pun memutuskan untuk pulang termasuk Shelli, namun tidak dengan Viola. Ia hanya
memanfaatkan waktu itu untuk membaca sebuah novel yang baru saja dipinjamnya
dari perpustakaan sekolah.
Viola duduk disebuah bangku
panjang yang berada tak jauh dari kelasnya, saat sedang asyik membaca sendirian
sambil ditemani lagu yang Ia putar dari handphone miliknya, Viola tak sadar ada
yang memperhatikannya dari kejauhan dan kemudian menghampirinya
“Hai Vio” Sapa Davin sambil
duduk disamping Viola
“Ehh Davin” Viola tersenyum
“Dari kemarin-kemarin aku
perhatiin kamu baca novel mulu” Kata Davin membuka pembicaraan
“Iya nih, lagi dapet cerita
bagus aja” Kata Viola
“Em aku ngak ganggu nih?”
Tanya Davin pelan
“Idih nyantai aja lagi Vin”
Viola memukul pelan bahu Davin
“Iya deh” Davin tertawa kecil
“Eh kamu ngak masuk kelas?”
Tanya Viola sambil melirik kelas Davin yang hanya bersebelahan dengan kelasnya
“Bete dikelas” Jawab Davin
“Loh kenapa?”
“Gurunya marah mulu sih”
“Kalau gurunya marah-marah
trus ngapain kamu keluar ntar malah tambah dimarahin tau”
“Ngak bakal dimarahin Vio,
aku kan udah izin tadi lagian aku juga udah selesain tugas kok. Jadi mendingan
aku temenin kamu disini kan” Davin tersenyum diakhir ucapannya sambil melirik
Viola
“Iih kamu nih ya, masuk aja
sana”
“Ngak mau, kamu sendiri
ngapain diluar?”
“Kelas aku kan gurunya ngak
masuk Vin, malahan temen aku udah ada yang pulang”
“Ohh gitu, yaudah aku disini
aja nemenin kamu” Ucap Davin santai
“Davin” tegas Viola
“Viola” Balas Davin lalu
mereka tertawa bersama
“Davin, ntar kamu dimarahin
lama-lama diluar kelas” Viola mengingatkan
“Hmm.. iya deh aku masuk
tapiiiii ntar pulang bareng yah”
“Emm gimana yahh” Ucap Viola
sambil melihat ke atas menandakan Ia sedang berfikir lalu Ia pun melanjutkan
ucapannya
“Aku dijemput aja yah Vin,
nanti malah ngerepotin kamu”
“Aduh Vio sama sekali ngak
ngerepotin kok, sekarang kamu udah jadi tanggung jawab aku” Davin tertawa kecil
“Apaan sih Davin lebay deh”
balas Viola yang juga ikut tertawa kecil
“Lagian kamu ngak mau aku
anter sih. Kalau masih ngak mau juga, aku bakal disini terus sama kamu”
“Davin ntar gurunya marah
tau”
“Biarin aja, ntar kalau
gurunya marah aku bilang kamu yang nahan aku biar ngak masuk” Davin bercanda
“Apaan sih Davin kok jahat
gitu”
“Makanya, aku anterin yah
pulangnya” bujuk Davin
“Hmm iya deh.. yaudah kalau
gitu kamu masuk gih sana” perintah Viola
“Yesss,, iya deh aku masuk
kalau gitu. Tapi bener yah, kamu nungguin aku sampe keluar kelas” Davin
mengingatkan
“Iya aku disini terus kok Vin,
kamu tenang aja” Viola meyakinkan
“Iya deh kalau gitu aku masuk
yah, jangan kemana-mana loh”
“Iya Davin Fahreza, masuk gih
sana” Viola mendorong pelan bahu Davin agar segera beranjak
“Iyaiya baweel” Davin pun
beranjak dari tempatnya lalu berjalan mundur agar dapat tetap melihat Viola lalu
melambai sebelum masuk kedalam kelasnya dan Viola pun hanya dapat tersenyum
melihat tingkah Davin.
* * *
GALAU
Tidak terasa satu minggu
sudah Viola dan Davin pacaran, selama itu Viola menganggap Davin seorang sosok
yang cuek namun perhatian. Meskipun kadang Viola masih teringat dengan Jerry
namun kasih sayang dari Davin untuknya dapat melupakan perasaannya pada Jerry
walau hanya sesaat. Hubungan mereka pun juga sudah diketahui oleh teman-teman
Viola karena Davin menjadikan foto mereka berdua sebagai profil BBM ponselnya
dan ternyata respon teman-teman Viola tak seburuk yang Ia kira malahan semuanya
merespon baik hubungan Viola dan Davin.
Saat Viola sedang asyik
menonton sebuah drama korea dikamarnya, ponselnya berdering menandakan pesan
masuk dan Viola segera membukanya karena mengira bahwa itu pesan dari Davin
From : Ka’ Jerry
“Hay Vio J
Apa kabar?”
Viola terdiam, terpaku
ditempatnya dengan pikiran tak menentu ‘Ka
Jerry kenapa datang lagi? kenapa baru ngasih kabar? Kemana selama sebulan lebih
ini? Aku udah punya pacar ka” batin Viola mulai berbicara, ingin rasanya Ia
mengatakan semua itu pada Jerry namun lagi-lagi Ia menahannya lalu membalas
pesan tersebut
To : Ka’ Jerry
“Hay jg ka’
Alhamdulilah baik J
klau kka?”
From : Ka’ Jerry
“Baik jg kok de’
Lama ngak jumpa yah, jadi kangen. Hhehehe :D”
Perasaan Viola kembali tak
menentu, senang namun Ia teringat Davin apalagi saat membaca kata terakhir
pesan dari Jerry membuatnya meneteskan air mata tanpa Ia sadari namun segera
dihapusnya dan membalas pesan Jerry
To : Ka’ Jerry
“Hhehe, ingat pacar kka :D”
From : Ka’ Jerry
“Hmm…
Aku udah ngak punya pacar Vio, sekitar 2minggu yg lalu aku putus”
Viola menarik nafas panjang
terdiam dengan menggenggam ponselnya, tak dapat Ia tahan lagi air matanya
kembali menetes dengan perasaan yang bercampur aduk ‘kenapa kaka baru dateng lagi? Kalau kakak putusnya 2 minggu lalu
berarti itu seminggu sebelum aku jadian sama Davin kak. Kemana kaka
kemarin-kemarin? Kenapa baru ngasih kabar sekarang? Kaka jahat!’ batin Viola
terus berkomentar bertanya semua keganjalan dalam hatinya. Namun Ia menahan semua
pertanyaan itu, Ia tak ingin terlihat sedih didepan Jerry dan akhirnya Ia pun
membalas singkat pesannya
To : Ka’ Jerry
“Knpa bs ka’?”
From : Ka’Jerry
“Aku ngak bs terusin hbungan itu de,
rasanya ngak enak pcran dgn org tapi hati udah sma org yg lain”
Air mata Viola semakin deras,
hatinya seakan tak kuat membaca setiap kata yang dikirim Jerry ‘kakak kenapa bilang ini ke aku, apa
maksudnya kak? Apa orang lain yang dimaksud itu aku? Kakak kenapa selalu
nyindir aku sih? Kenapa kakak selalu aja kayak gini ngak pernah mau langsung
ngomong kalau itu aku. Tolong jangan buat aku tambah bingung dengan perasaan
aku kak…” Viola hanya bisa berbicara
dihatinya, Ia benar-benar tak tau harus membalas apa pesan dari Jerry, setelah
mematikan laptop dan menyimpannya Viola memutuskan untuk segera tidur
menenangkan perasaannya
To : Ka’ Jerry
“kka sabar aja yah, kka pasti dpt penggantinya
kok ;)
Oh ya ka’, aku udah mau tdur nih
Soalnya besok pagi ada ulangan, ngak apa-apa kan ka’?”
From : Ka’ Jerry
“Yahh iya deh klau gitu, smga ulngan bsok
lancar ya de
Tdur aja, good nite
Nice dream yah viola J
Viola pun meletakkan ponselnya
diatas meja dan segera berbaring diranjangnya, Ia benar-benar ingin menenangkan
pikirannya dari Jerry maupun Davin sampai akhirnya Ia tertidur.
Di tempat lain dalam waktu
yang bersamaan
Jerry sedang duduk termenung
sambil melihat bintang dari jendela kamarnya ‘Yahh.. kenapa Viola udah tidur sih, padahal kan malam ini aku mau
nembak dia. Yaudah deh, aku bakal cari waktu yang tepat biar bisa nembak Viola’
batin Jerry berbicara, malam ini Ia memang sudah berencana untuk menyatakan
perasaannya pada Viola yang disayanginya bahkan saat baru saja putus dengan
pacarnya Jerry pun telah menyusun kata-kata untuk meminta Viola menjadi
kekasihnya hanya saja karena kesibukan Jerry 2 minggu lalu untuk mengurus nilai
dan persiapan sebuah tes agar bisa mendapat beasiswa ke Singapura dan masuk
Universitas idamannya, Ia pun menunda rencananya untuk menembak Viola agar
tetap bisa fokus dan memberi kejutan pada Viola orang yang tanpa diketahuinya
telah menjadi milik Davin.
***
Sejak malam itu, Viola dan
Jerry kembali dekat seperti sebelumnya mereka sering bertukar pikiran tentang
segala hal dan ini membuat Viola makin sulit untuk melupakan Jerry meskipun Ia
telah mencoba berbagai cara agar jauh dari Jerry namun tetap saja Jerry tak
menyerah untuk terus dekat dengannya. Hal ini yang membuat Viola masih enggan
untuk memberitahukan hubungannya dengan Davin.
Kedewasaan Jerry selama ini membuat
Viola tak ingin jauh dari Jerry, sifat seorang cowok yang Ia idamkan semua ada
pada Jerry yang sudah Ia anggap sebagai kakaknya sendiri. Viola tak ingin Jerry
menjauh darinya saat mengetahui bahwa Ia telah menjadi kekasih Davin. Ketulusan
dan kebaikan Jerry padanya membuat Viola semakin dibuat bimbang oleh
perasaannya sendiri.
Dengan berjalannya waktu yang
terasa cepat, satu bulan lebih sudah Viola menjadi kekasih Davin dan selama itu
juga Viola dekat dengan Jerry yang masih tak mengetahui hubungan Viola dan
Davin. Setiap kali Viola ingin mengatakan tentang hubungannya dengan Davin,
selalu saja Jerry membuat Ia mengurungkan niatnya karena melihat Jerry yang
begitu perhatian dengan sikap dewasanya dibanding Davin yang menurut Viola
selalu menuntut untuk diperhatikan dengan sikap kekanak-kanakannya. Namun Viola
selalu mencoba menghargai Davin sebagai kekasihnya meskipun sebenarnnya Ia
masih bimbang dengan perasaannya sendiri yang menurutnya masih
setengah-setengah antara Davin dan Jerry.
Hingga sampai suatu ketika
Jerry yang berkunjung kerumah Viola menawarkan sebuah bazar makanan yang pada
akhirnya Viola pun membeli bazar tersebut
“Tapi kakak anterin yah
makanannya, soalnya aku ngak ada temennya kalau mau ngambil” Ucap Viola sambil
memberikan menu makanan bazar tersebut
“Iya aku bakalan anter kok,
pokoknya besok malem tungguin aja tapi agak lambat dikit ngak apa-apa kan?”
“Ngak masalah kak, yang
penting makanannya sampai kesini ngak nyangkut kemana-mana” Viola tertawa kecil
“Kamu nih, tenang aja Vio
makanan itu ngak bakalan nyangkut diperut aku kok” Canda Jerry yang disambut
tawa dari keduanya
“Yaudah kalau gitu aku pamit
yah, soalnya masih ada urusan nih” Ucap Jerry sambil beranjak dari tempatnya
“Iya kak, hati-hati” Sahut
Viola saat Jerry hendak memasuki mobilnya
“Yooii,, bye” Jerry pun pergi
meninggalkan rumah Viola
Keesokkan harinya, Viola
sengaja mengkosongkan planning malam minggu ini karena menunggu bazar yang akan
diantarkan Jerry kerumahnya. Namun tanpa sepengetahuan Viola, ternyata Davin
dan ketiga temannya mendatangi rumahnya sekedar untuk berkunjung atau pun
jalan-jalan
“Viooo temen kamu nih” Teriak
mama Viola
“Iyaiya ma” Viola pun segera
beranjak dari tempatnya yang mengira bahwa teman yang mamanya maksud itu adalah
Jerry. Namun setibanya Ia diteras sempat terkejut melihat kedatangan Davin, Anjas, Dayat dan Hugo
“Lohh kalian” Ucap Viola
terkejut
“Iya kita, kamu pikir sapa?
Ngak usah kaget gitu lagi Vio” Davin heran dengan ekspresi wajah Viola yang
menurutnya memang sedang terkejut
“Enggak kok” Viola lalu duduk
disamping Davin
“Tumben kalian kesini ngak
bilang-bilang dulu” lanjutnya
“Soalnya Kita ngak tau nih
mau kemana, abis nemenin Anjas kerumah pacarnya yah kita kesini, kebetulan aja
lewat” Jelas Hugo
“Ohh gitu” setelah itu mereka
pun berbicara tentang apa saja yang mereka alami bersama sambil tertawa
bercanda. Namun setelah beberapa saat mereka bercanda, Anjas, Hugo dan Dayat
memutuskan untuk pergi kerumah Shelli
“Eh Kita kerumah Shelli yuk”
Ajak Hugo
“Ayoo” Dayat menyambung
“Ngapain kalian kesana?”
Tanya Viola
“Yah jalan-jalan, emang tadi
rencananya abis dari sini Kita mau langsung kerumah Shelli” Jawab Dayat
“Iya, lagian ngak enak juga
kali kita bertiga disini kayaknya ganggu kamu ama Davin deh” Sambung Anjas
“Iih apaan sih, nyantai aja lagi”
Sahut Viola
“Ngak ah, mendingan Kita
kerumah Shelli aja” Kata Hugo
“Emm… kamu ngak ikut ama
mereka Vin?” Tanya Viola mengingat bahwa Jerry akan mengantar bazar makanannya
sebentar lagi
“Ngapain aku ikut mereka”
Jawab Davin
“Kamu nih Vio, Davin kan mau
malam mingguan disini mana mungkin dia mau ikutan ma kita-kita” sahut Anjas
“Apaan sih kalian rese deh”
cetus Viola
“Yaudah kalau gitu Kita
kerumah Shelli dulu yah Vio” Pamit Dayat sambil beranjak dari tempatnya disusul
oleh Anjas dan Hugo
“Iya deh, hati-hati kalian”
Ucap Viola dan mereka bertiga pun pergi meninggalkan rumah Viola.
“Kamu kok bisa jalan ama
mereka sih Vin? Mereka kan temen sekelas aku” Tanya Viola membuka pembicaraan
“Yah ngak tahu juga sih,
sebenernya tadi aku baru pulang dari rumah sepupu tapi dijalan pas lampu merah
ketemu mereka bertiga dan kebetulan mereka mau kerumah kamu trus ngajak aku
deh, yah aku ikut lah” Jawab Davin
“Ohh gitu” ucap Viola sambil
berpikir tentang Jerry yang akan kerumahnya, takut jika Jerry mendapati Ia
sedang bersama Davin
“Emm kamu udah makan?” Tanya
Davin
“Belum, kamu?”
“Udah tadi, kenapa belum
makan?”
“Yaahhh…” Viola sempat
terdiam namun segera melanjutkan uucapannya
“Aku nungguin bazar yang mau
dianterin”
“Ohh, bazar dari mana?”
“Bazar itu… punyanya kakak kelas”
Jawab Viola hati-hati, Ia tak mau berbohong meskipun dalam hatinya merasa tidak
enak jika Davin tahu
“Dia tahu rumah kamu ngak?”
Tanya Davin, Ia juga penasaran dengan kakak kelas yang dimaksud Viola
“I..iiyaa dia tahu” Jawab
Viola pelan
“Coba kamu sms deh, masa udah
jam 9 gini bazarnya ngak dianterin juga” Ucap Davin, firasatnya mengatakan
bahwa kakak kelas yang dimaksud adalah Jerry yang tanpa sepengetahuan Viola,
Davin telah mengetahui kedekatan dia dengan Jerry kakak kelas yang bahkan sebelum
menjadi pacarnya sudah dekat dengan Viola.
“Dia emang udah bilang, kalau
dia bakalan telat ngantar bazarnya” Kata Viola, Ia selalu hati-hati dalam
berbicara saat itu
“Emangnya kakak kelas siapa
sih?” Tanya Davin memastikan
“emm…” Viola benar-benar bingung
namun Ia tak ingin terlihat salah tingkah
“Kakak kelas 12, palingan
bentar lagi dia nongol kok” Jawab Viola mencoba tetap santai denga bicaranya
“Ohh…” Davin tak ingin
bertanya lagi, dalam hatinya Ia semakin yakin bahwa itu adalah Jerry
Setelah itu Viola segera
mencari topik lain untuk dibahas agar dapat mencairkan suasana yang menurutnya
mulai tak enak dan mereka berdua pun kembali menceritakan berbagai pengalaman
mereka masing-masing yang dapat mengundang tawa. Beberapa waktu kemudian,
terdengar suara sebuah mobil yang sepertinya menuju kerumah Viola
“Itu, kakak kelas yang
anterin bazar kamu kali” Ucap Davin
“Emm ngak tau yah” Viola
hanya tetap mencoba menenangkan dirinya sendiri agar tak salah dalam berbicara
kemudian saat Viola serta Davin sedang sama-sama terdiam melihat siapa yang
akan datang dan ternyata itu adalah benar Jerry.
Viola pun segera beranjak dari tempatnya dan
itu sempat membuat Davin heran karena Viola begitu cepat beranjak seakan-akan
tak ingin Jerry melihat kebersamaan mereka, lalu Viola pun menunggu Jerry yang
sedang berjalan setelah turun dari mobilnya, ekspresi Jerry saat itu terlihat
lain dari biasanya sementara Viola mencoba tetap tenang meskipun hatinya tak
menentu saat itu
“Ini dek bazar kamu, maaf yah
telat” ucap Jerry datar sambil memberikan bungkusan makanan pada Viola
“Iya kak ngak apa-apa kok,
makasih yah” kata Viola sambil menerima bungkusan tersebut
“Yaudah kalau gitu aku pamit
yah” Ucap Jerry yang sempat melihat Davin sebelum Ia berbalik
“Iya kak, hati-hati” Ucap Viola
“Iya” Jerry pun berjalan
pelan menuju mobilnya sambil berpikir siapa cowok yang bersama Viola saat itu
dan Viola pun hanya bisa terdiam ditempatnya melihat Jerry yang tak seperti
biasanya itu hingga menghilang dari pandangan lalu Viola pun kembali duduk
ketempatnya semula
“Kita makan bareng yuk” Ajak
Viola sambil hendak membuka bungkusan tersebut
“Ngak deh, kamu makan aja,
aku kan udah tadi” Ucap Davin yang mulai curiga dengan Viola dan Jerry meskipun
itu tak diperlihatikannya
“Emm yaudah deh. Aku kedalam
dulu yah” Viola pun menyimpan makanan tersebut kedalam rumahnya dan kembali
menemani Davin diteras.
“Em aku balik aja yah Vio,
udah malem banget nih” Ucap Davin
“Hmm yaudah deh, aku juga
ngak mau kamu terlalu kemaleman dijalan” Kata Viola
“Iya, aku pamit yah, salam
sama mama kamu” Davin beranjak dari tempatnya
“Iya, hati-hati yah
pelan-pelan aja bawa mobilnya” Ucap Viola
“Kamu tenang aja, ntar kalau
udah sampe rumah baru aku sms” Davin pun berjalan menuju motornya sambil
sesekali berbalik melihat Viola yang menunggunya sampai perlahan menghilang
dari pandangan.
Setelah beberapa saat
kemudian, Viola yang akan tidur mendengar ponselnya berdering
From : Ka’ Jerry
“Vio?”
Perasaan Viola mulai tak
enak, tidak biasanya Jerry mengirim sms datar seperti ini, lalu Ia pun membalas
pesan tersebut berharap semuanya akan baik-baik saja
To : Ka’ Jerry
“Iya ka’?”
From : Ka’ Jerry
“klau boleh tau, yg tadi itu sapa
yah de?”
Viola gundah, Ia benar-benar
membutuhkan sedikit waktu untuk membalas pesan tersebut, Ia tak tahu harus bagaimana.
Ia selalu dibuat bimbang dengan perasaannya sendiri ‘mungkin emang ini saatnya, udah sebulan lebih aku sembunyiin ini dari
Ka Jerry. Aku ngak bisa kayak gini terus, mau sampe kapan’ batin Viola
mulai berkomentar, Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya tak harus
dibiarkan terus seperti ini karena bagaimana pun juga Davin adalah kekasihnya
dan Ia harus menghargai itu
From : Ka’ Jerry
“Itu tadi Davin ka’,,
Pacar aku”
Air matanya menetes lagi,
entah mengapa seperti ada pertengkaran dalam batinnya. Namun Ia terus
meyakinkan dirinya sendiri bahwa balasan pesan itu memang seharusnya Ia
katakan.
Di tempat lain dalam waktu
yang bersamaan
Jerry terlihat berantakan, Ia
menatap kosong kedepan dengan ponselnya yang masih dalam genggamannya setelah
membaca pesan dari Viola. Ia merasa terjebak dalam sebuah cerita yang tak
pernah diinginkannya ‘kenapa jadi gini?
Apa perasaan Vio juga kayak gini dulu waktu dia tahu aku punya pacar saat dekat
dengan dia’ batin Jerry berkomentar. Ia bingung dengan Viola yang selama
ini meresponnya dengan baik tapi ternyata telah menjadi milik orang lain dan Ia
pun memutuskan untuk tidak membalas pesan dari Viola malam itu.
Kemudian Jerry meletakkan
ponselnya jauh darinya sambil berbaring berpikir apa yang akan terjadi setelah
ini, hatinya sakit jika memikirkan waktu-waktu yang banyak terlewatkan dengan
tawa namun akhirnya seperti ini. ‘Mungkin
emang aku yang salah, terlalu lama menunda-nunda waktu padahal udah ada
kesempatan tapi sekarang.. apa kesempatan itu bakal dateng lagi?’ pikir
Jerry, Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri, menutup mata lalu berharap ini
hanya mimpi buruk yang hanya numpang lewat malam ini.
* * *
DUA
HATI
Hari ini Viola sudah memiliki
janji untuk belajar bersama dirumah Febby mengingat besok adalah Ujian Semester
1 untuk mereka. Sesampainya Viola dirumah Febby, Ia pun segera menceritakan
semua kejadian yang dialaminya semalam juga keresahan hatinya saat itu
“Terus gimana dong?” Tanya
Febby setelah mendengar semua cerita Viola
“Aku juga ngak tau Feb,
sampai sekarang Ka Jerry ngak sms lagi”
“Emm kita liat di twitternya
aja yuk, kali aja dia ngeluarin semuanya disitu” Usul Febby
“Iyaiya coba buka aja” Viola
dan Febby pun segera membuka laptop untuk melihat sebuah akun sosial.
“Sumpah sakit” Viola membaca
kalimat yang terlihat di profil twitter Jerry
“Naik dari lantai bawah
sampai lantai teratas, setelah sampai lalu jatuh dari lantai teratas, begitu
rasanya” Baca Viola di akun tersebut dan mereka berdua pun saling melihat
“Tuuh kan Feb, Ka Jerry pasti
marah sama aku” Rengek Viola
“Mungkin dia ngak marah Vio,
tapi yah mungkin dia kecewa kali” Komentar Febby
“Aduuh gimana dong nih Feb”
“Udah udah, mendingan coba
deh kamu sms aja dia” Usul Febby
“Iih ngapain, aku ngak berani
kali Feb lagian selama ini yang sms duluan itu selalu Ka Jerry” Ucap Viola
“Aduh bukan saatnya buat
gengsi-gengsian deh Vio, kamu mau kayak gini terus? ngak kan”
“Yaahh Febby, serius nih”
“Iyalah serius, kamu juga
ngak mau kan kayak gini terus. Dia itu senior kita loh, kamu juga ngak mau kan
di judge jelek sama senior”
“Iiya deh..” Viola pun
mengambil ponselnya dan mulai mengetik sebuah pesan
To : Ka’ Jerry
“Ka’ Jerry?”
“Aduuhh kira-kira dibales
ngak yah” Pikir Viola
“Tenang aja Vio, kalau emang
dia ngak bales yah kemungkinan dia lagi butuh waktu aja” Febby menenangkan
sampai beberapa saat kemudian ponsel Viola pun berdering dan mereka berdua sama-sama
membukanya
From : Ka’ Jerry
“Iya knpa Vio?”
“Tuh kan dibales” Sahut Febby
“Bilang apa lagi nih Feb?”
Tanya Viola
“Udah bilang aja, kakak ngak
apa-apa kan” Jawab Febby
“Ha? Apa ngak aneh yah Feb?”
“Yah trus mau bilang apa lagi
dong”
“I..iya deh”
To : Ka’ Jerry
“Em, kka ga knpa2 kan?”
From : Ka’ Jerry
“Emangnya knpa Vio?”
To : Ka’ Jerry
“Yah, aku liat dari TL twitter,
sttus kka ga enak smua.
Kka lgi ada mslah yah?”
“Kira-kira dia bakal bales apa
yah Feb?” Viola gundah
“Yah tungguin aja Vio”
From : Ka’ Jerry
“ga knpa-knpa kok de,
Mngkin aku lebih baik diam aja J”
To : Ka’ Jerry
“yaudah klau gitu,
Kka tenangin aja pkiran kka, biar
bs rileks”
From : Ka’ Jerry
“Hanya satu yg bs tenangin aku,
Tpi msalahnya yg sering tenangin
aku itu yg jdi mslahnya”
Viola terdiam setelah membaca
pesan dari Jerry sementara Febby yang juga sudah membaca pesan tersebut
berusaha mencarikan jalan keluar untuk sahabatnya ini.
“Aku harus bales apa Feb?”
Tanya Viola tak bersemangat
“Aduh ribet nih sekarang,
yaudah jalan satu-satunya mending kamu jujur aja deh Vio, coba bilang gini, apa
yang kaka maksud itu aku” Jelas Febby
“hah? Tapiiiii....... yaudah
deh”
To : Ka’ Jerry
“Maaf sbelum’nya ka’,
Tapi apa yg kka maksud itu aku?”
“Hhuuaahh Ka Jerry bakal
bales apa yaah” Viola membantingkan dirinya diatas tempat tidur sambil menutupi
wajahnya dengan bantal
“Aduuh Vio, kayaknya kamu
bener-bener galau tingkat kronis deh sekarang” Ucap Febby sambil mengambil
ponsel Viola yang berada didekatnya
“Ehh Vio, nih smsnya Davin
kamu ngak bales?” Tanya Febby sambil terus membaca pesan tersebut namun tak
terdengar jawaban apa pun dari Viola yang terus menutupi wajahnya dengan bantal
“Vio..Vioo… Viiooo” Teriak
Febby karena Viola tak juga menjawabnya kemudian Ia pun menarik bantal yang
digenggam Viola
“Ya ampun Vio” Febby sedikit
terkejut melihat Viola menangis setelah Ia menarik bantalnya
“Hhhhh Febby” Viola memeluk
Febby dengan air mata yang masih mengalir
“Kok nangis sih? Udah dong..
semuanya pasti bakal baik-baik aja” Febby menenangkan
“Kamu tau ngak Feb” Viola
melepaskan pelukannya dari Febby
“Apa?”
“Selama ini, aku berusaha
menutupi hubungan aku sama Davin dari Ka Jerry. Itu semua karna aku ngak mau Ka
Jerry menjauh dari aku, baru kali ini aku dekat sama cowok yang ngak pantang
menyerah kayak Ka Jerry meskipun aku udah pernah tolak dia tapi tetap aja dia
perhatian dan terus nunjukin sayangnya, dia juga dewasa dan ngak manja” Viola
tersedu dan Febby pun hanya bisa mengelus pundak Viola sambil menunggu Viola
melanjutkan ceritanya
“Baru kali ini Feb, ada cowok
yang buat aku dari ngak suka jadi suka dan itu dia mulai semuanya dari awal.
Aku ngak pernah kenal dia sebelumnya bahkan sejak awal ketemu dia aku ngak
pernah sedikit pun punya feeling apa pun ke Ka Jerry. Dan sekarang semuanya
malah jadi kayak gini, aku udah ngecewain dia Feb” Jelas Viola
“Kayaknya dia emang kecewa
Vio, tapi aku yakin dia pasti bisa mengerti kok. Mending kamu jujur aja deh
sama dia gimana perasaan kamu sebenarnya tapi kamu juga harus ingat kalau
sekarang kamu juga punya Davin” Febby menenangkan
“Feb, kalau aku…” Viola
terdiam sejenak lalu meneruskan ucapannya
“kalau akuu.. putus aja sama
Davin, menurut kamu gimana?” Tanya Viola sambil menghapus air matanya
“Hah? Eehh… yah, aku ngak tau
kalau soal itu. Tergantung ama kamu Vio, coba pikir baik-baik deh” Jawab Febby
“Aku bingung Feb” Viola
menunduk sambil menutupi wajahnya dengan bantal
“Hmm… sebenarnya kamu punya
perasaan ngak sih sama Davin?” Tanya Febby
“Emm” Viola menegakkan
kepalanya sambil menatap Febby
“Aku ngak tau” Jawab Viola
“Yaaah Vio, kalau kamu ngak
suka seharusnya bilang dari awal” Ucap Febby
“Tapi aku rasa, dengan
berjalannya waktu pasti perasaan aku ke Davin bakal balik lagi kok”
“kalian kan udah sebulan,
trus sekarang perasaan kamu ke Davin gimana?”
“Yahh.. gituu”
“Gitu gimana?”
“Aku juga ngak tau Feb” Viola
meringis kemudian ponselnya berdering
From : Ka’ Jerry
“Yg buat kamu merasa apa de’?”
To :
Ka’ Jerry
“Yah merasa aja ka’, dari sms2nya kka smpe yg
ada di twitter”
From : Ka’ Jerry
“Klau iya?”
“Febby aku harus jawab apa
nih?” Tanya Viola kebingungan
“Yaudah bilang aja kamu minta
maaf, pokoknya yang gitu-gitu deh” Jawab Febby
To : Ka’ Jerry
“Klau emang iya, aku minta maaf ka’, mngkin emang aku udah
kecewain kka tapi aku pernah bermaksud
sperti itu ka’”
From : Ka’ Jerry
“Em entar abis magrib kamu keluar gak?”
To : Ka’ Jerry
“Kayaknya ngak deh ka’, besok kan mau ujian
semester. Knpa ka’?
From : Ka’ Jerry
“Aku kerumah kamu yah, ngak lama kok”
“Febby, Ka Jerry mau kerumah
aku” Sahut Viola
“Yaudah, ini waktunya kamu
buat bilang semuanya”
“Iya deh, hmm.. waktunya
bener-bener ngak tepat banget, masa disaat-saat mau semesteran”
“Yah sabar aja, semoga cepat
selesai deh masalahnya”
“Iya nih, thanks yah Feb,
kamu udah tenangin aku”
“Ih lebay deh, nyantai aja
kali”
“hhehe yaudah kalau gitu aku
balik yah, soalnya udah mau magrib nih”
“Iya, kamu hati-hati dijalan,
jangan mikir yang macem-macem” Febby mengingatkan
“Apaan sih, kalau gitu aku
balik yah” Pamit Viola sambil memeluk Febby
“Iya pokoknya aku doain yang
terbaik buat kamu deh” Ucap Febby
“Thank you”
“Sama-sama, ntar cerita lagi
yah”
“Iya nanti aku kabarin
pokoknya, bye”
“Bye” Ucap Febby lalu Viola
pun beranjak pergi dan meninggalkan rumah Febby.
Saat malam tiba tepatnya
pukul 07.00 Jerry sudah berada didepan rumah Viola, Ia ingin semuanya jelas dan
memastikan kembali perasaan Viola kepadanya.
“Ka’ Jerry” Panggil Viola
saat membuka pintu rumahnya
“Duduk ka’, udah lama yah?”
lanjutnya
“ngak kok, barusan juga
sampai sini” Jawab Jerry
“Ohh iya deh” Viola lalu
terdiam begitu juga dengan Jerry
“Emm Vio?” Suara Jerry memecah
keheningan
“Iya kak?”
“Aku ngak mau basa-basi lagi,
Davin itu beneran pacar kamu?” Pertanyaan Jerry membuat Viola sedikit menarik
napas.
“Emm, iya ka’” Jawab Viola
namun melihat ekspresi Jerry yang menurutnya tak seperti biasanya itu Ia segera
melanjutkan ucapannya
“Ka Jerry, aku minta maaf,
mungkin Ka Jerry kecewa tapi sama sekali aku benar-benar ngak punya niat buat
ngecewain kakak”
“Vio, jujur aku emang kecewa
tapi yah mau digimanain lagi. Lagian aku juga minta maaf, yah salah aku juga
sih terlalu lama menunda waktu buat nembak kamu, sebenarnya aku udah senang
dengan kita yang kayak kemarin-kemarin itu sambil tunggu waktu yang tepat tapi
ternyataa…” Ungkap Jerry
“Kak, jujur aku nungguin
kakak tapi aku pikir kayaknya kakak udah ngak pikirin lagi perasaan aku dan
nganggap aku hanya sebagai adik, makanya aku terima Davin” Jelas Viola
“Aku nunggu lampu ijo dari
kamu Vio”
“Aku bukan lampu merah yang
ada diperempatan kak, yang lama ngasih lampu ijo”
“Yah mungkin emang aku yang kurang
peka, jadinya gini deh. Lagian kayaknya aku emang salah, kata Shesa aku yang
ngilang-ngilang”
“Ngilang-ngilang gimana kak?”
“Yah saat aku pdkt sama kamu,
aku malah pacaran sama orang lain. Bodoh yah aku” mendengar perkataan Jerry
yang terakhir, Viola hanya diam
“Hmm mendingan kita saling
maafin aja. Yang penting kamu tau, aku sayang sama kamu Viola”
“Sebenarnya aku juga sayang
sama kaka” Viola menahan air matanya, perasaannya benar-benar tak menentu, Ia
merasa bahwa Ia dan Jerry tak ditakdirkan untuk bersama meskipun mereka saling
menyayangi. Waktu datang selalu disaat-saat yang tidak tepat.
“Emm, kalau boleh tau, apa
alasan kamu terima dia?” Pertanyaan Jerry membuat Viola berpikir agar tak salah
menjawab
“Emmm, dia itu teman lama aku
kak, kita udah deket dari sebelum UN dan dia baik banget sama aku kak, aku ngak
mau ngecewain dia apalagi sampai merusak pertemanan kita. Lagian dulu emang aku
juga pernah suka sama dia” Jelas Viola
“Ohh gitu, sebenernya aku
ngak suka tanya ini, tapi hanya sekedar pengen tahu aja.. emangnya kapan dia
nembak kamu?”
“Sekitaran minggu-minggu
kemarin kak”
“Oohhh, padahal minggu
kemarin aku juga mau nembak kamu. Yaah udahlah, longlast ya Vio” Jerry
tersenyum
“Makasih kak”
“Em tapiii,,, kenapa kamu
baru ngasih tau sekarang kalau kamu udah punya pacar?” Tanya Jerry penasaran,
Ia ingin mendengar semua penjelasan dari Viola agar tak ada lagi kejanggalan
dalam hatinya
“Sebenarnya, aku mau ngasih
tau kakak tapi di sisi lain aku juga ngak mau kakak menjauh dari aku. Baru kali
ini aku dekat sama cowok kayak Ka Jerry, yah aku harap kakak bisa ngerti dengan
posisi aku” Jawab Viola jujur
“Aku ngerti Vio, aku juga
pernah dalam posisi yang sama kayak kamu. Hmm mau ngak mau, aku emang harus
menjauh dari kamu. Aku juga ngak bisa terus-terusan dalam posisi yang berharap
kayak gini apalagi kamu udah punya pacar, yang penting aku tau perasaan kamu
yah itu udah cukup”
“Makasih kak, yaaa semoga
kaka juga bisa dapet pacar yang terbaik buat kaka”
“Amiin, semoga aja yah.
Lagian aku tinggal beberapa bulan lagi kok disini”
“Hah? Maksud kaka?”
“Viola, aku udah pernah
cerita kan sama kamu tentang tes beasiswa ke Singapura?”
“Iya kak, kalau itu aku tahu”
“Alhamdulilah aku diterima
dan dapet beasiswa itu, jadi setelah UN nanti aku harus kesana buat ngurus itu
semua” Jelas Jerry yang membuat Viola sempat tersentak kaget
“Ooh gitu, selamat yah kak,
emm sapa tau aja kaka bisa dapat jodoh disana” Canda Viola meskipun dalam
hatinya telah menahan tangis
“Kamu nih ada-ada aja deh
Vio” Jerry tertawa kecil
“Berarti kaka tinggal 4 bulan
lagi dong disini?”
“Yaah kurang lebih begitu”
Ucap Jerry dan Viola hanya bisa mengangguk
“Eemm Vio, kayaknya aku harus
balik deh, lagian besok kan mau semesteran” Kata Jerry
“Iya sih, yaudah deh.
Hati-hati yah kak”
“Iya, aku pulang dulu” Pamit
Jerry lalu beranjak dari tempatnya dan pergi meninggalkan rumah Viola. Setelah
Jerry telah hilang dari pandangannya, tanpa Ia sadari air mata jatuh membasahi
pipinya. Ia pun segera berlari masuk menuju kamarnya dan memeluk boneka panda
kesayangannya. Viola tak memperhatikan lagi ponselnya yang sedari tadi berdering,
Ia benar-benar ingin menenangkan hatinya malam itu meskipun dengan cucuran air
mata. Ia harus menerima kehilangan sosok Jerry yang selalu menenangkannya
dengan nasehat yang cocok untuknya, Ia harus membiasakan diri untuk tak
menanyakan hal apapun tentang kehidupan SMA yang baru Ia masuki. Ia sendiri
juga tak tau apa yang seharusnya Ia lakukan untuk Jerry maupun Davin karena tak
ingin mengecewakan atau menyakiti hati siapa pun diantara mereka berdua. Sampai
menyadari bahwa Ia telah terperangkap dalam dua hati yang berbeda namun berada
ditempat yang sama.
***
“Violaaa…” Teriak Febby
memanggil Viola dari kejauhan sambil berlari kecil menghampiri Viola yang
sedang duduk sendiri di koridor depan perpustakaan
“Hey, jadi gimana?” Tanya
Febby setelah berada disamping Viola
“Yaah gitu, kayaknya Ka Jerry
ngak marah, malahan dia juga sempat minta maaf karena terlalu lama pdkt dan
kesannya jadi harapan palsu” Jawab Viola
“Hmm yang penting masalah
kamu sama Ka Jerry udah selesai kan?”
“Iya udah kok Feb”
“Naah sekarang tinggal kamu
sama Davin, tau ngak sih semalem dia curhat sama aku” Ucap Febby
“Masa sih? Dia curhat apaan?”
“Emm, tapi kamu jangan kasih
tau dia kalau aku bilang ini ke kamu”
“Iya tenang aja, emang dia
bilang apaan?”
“Hmmm… semalem kamu keasyikan
sama Ka Jerry yah? Sampe-sampe lupa balas smsnya Davin”
“Ooh iya, semalem aku cuekin
hp”
“Nah itu, Davin pikir kamu
ngapain sampe-sampe ngak bales sms trus ditelpon juga ngak diangkat”
“Hmm trus dia ngambek?”
“Yah ngak tau juga sih,
lagian mana bisa dia ngambek, dia itu kan sayang banget sama kamu”
“Hmm… kayaknya mulai sekarang
aku emang harus ngelupain Ka Jerry deh Feb”
“Serius? Yakin?”
“Emm aku harus yakin,
meskipun aku menganggap Ka Jerry sebagai kakak tapi semakin aku dekat semakin
juga aku ngak bisa melupakan perasaan ke Ka Jerry. Lagian katanya dia juga
harus menjauh dari aku” Viola murung
“Masa sih? Dia bilang gitu?”
“Iya Feb, aku udah mikirin
itu semua semalem. Lagian aku juga ngak bisa terus-terusan dua hati kayak gini”
Jelas Viola
“Iya juga sih, yaudah kalau
gitu kamu jangan cuek-cuek lagi sama Davin. Lagian Davin itu kan pacar kamu,
seharusnya kamu lebih perhatian sama dia dibanding Ka Jerry”
“Iya Feb, mungkin emang Ka
Jerry itu hanya sekedar menemani aku aja, bukan memiliki”
“Yah mungkin emang kayak gitu,
lagian kamu udah milih Davin orang yang lebih lama kamu kenal dibanding Ka
Jerry yang baru kamu kenal” Kata Febby
“Iya, aku juga ngak tahu
gimana sifat aslinya Ka Jerry, mungkin emang semuanya udah diatur ama Tuhan.
Aku yakin kok pilihan aku ngak salah” Jelas Viola
“Bener tuh, mungkin takdir
kamu emang sama Davin, kalau aku pikir sih selama ini kayaknya kamu ngak pernah
dapet waktu yang pas buat jadi pacarnya Ka Jerry. Soalnya disaat Ka Jerry
nembak tapi kamu ngak diterima trus pas kamu suka sama dia malah pacaran ama
orang lain, sekarang pas kamu udah sama Davin Ka Jerrynya malah putus dan
dateng lagi ke kamu”
“Thanks banget yah Feb,
selama ini kamu udah kasih saran yang baik buat aku”
“Iih lebay deh, nyantai aja
lagi Vio. Kayak orang baru kenal aja”
“Hhehehe” Viola tertawa kecil
* * *
KEPERGIAN
JERRY
4
Bulan Kemudian
Jerry berjalan menuju tempat
parkiran sambil membawa tas ransel dipunggungnya, melewati koridor sekolah
sambil sesekali melihat kesekelilingnya, dari lapangan basket maupun setiap
kelas yang hanya terisi dengan beberapa siswa kelas 12, rasanya sepi tanpa ada
siswa kelas 10 maupun 11. Hari ini merupakan hari terakhir UN SMA dan malam
nanti akan diadakan prom nite di salah satu gedung yang telah dipersiapkan
sebelumnya.
Sesampainya dirumah Jerry
telah disambut dengan sahutan adiknya,
“Ciiieee yang baru aja
selesai UN” Sahut Acha yang sedang asyik duduk dikursi depan televisi
“Iya dong” Ucap Jerry sambil
duduk disamping Acha
“Kaka jadi berangkat ke
Singapura? Kapan?” Tanya Acha
“Iya lah, berangkatnya hari
senin” Jawab Jerry
“Berarti lusa dong, cepet
amat ka”
“Yah kan emang udah
perjanjiannya kayak gitu”
“Terus kapan kaka pulang?”
“Mungkin beberapa bulan
kedepan atau sampai pengumuman kelulusan”
“Ohh, Kaka ngak pamitan dulu
sama Viola?” Mendengar pertanyaan Acha, Jerry hanya terdiam sampai beberapa
saat kemudian berbicara
“Hhh… untuk apa? Lagian dia
udah bahagia sama pacarnya. Meskipun sebenarnya kaka pengen sih ngeliat dia
dulu sebelum berangkat, tapi yah mau diapain lagi” Setelah menjawab, Jerry
segera beranjak dan masuk ke kamarnya untuk menghindari pertanyaan Acha yang
mungkin akan membuatnya semakin teringat dengan Viola, sampai-sampai Ia lupa
mengambil ponselnya yang tadi Ia letakkan diatas meja.
‘Ka
Jerry pasti masih suka sama Viola’ batin
Acha berkomentar, saat Ia ingin mengambil remote televisi yang berada diatas
meja dilihatnya ada ponsel milik Jerry, kemudian terlintas begitu saja sebuah
ide dari Acha. Ia pun mengambil ponsel tersebut lalu membuka kontak nomor
telepon sampai menemukan nomor telepon Viola dan segera mencatat nomor tersebut
diponselnya.
Setelah malam tiba, Viola
terlihat asyik menonton sebuah sinetron ditelevisi hingga terdengar bunyi
ketukan pintu dari luar rumah yang menandakan ada tamu lalu Ia pun segera
beranjak dari tempatnya, setelah Ia membuka pintu dilihatnya Davin dengan
pakaian yang begitu rapi
“Davin? Kok rapi banget”
Viola sedikit terkejut melihat penampilan Davin yang menggunakan kemeja putih
dilapisi dengan jas hitam.
“Kok kamu belum siap-siap
sih?” Tanya Davin
“Siap-siap? Mau kemana emangnya?
Kamu kok udah kayak orang mau kepesta gitu sih” Ucap Viola
“Loh kamu gimana sih, malam
ini kan emang ada acara prom nite. Kamu lupa ya?”
“Emm,, ngak lupa sih” Kata
Viola
“Trus kenapa belum
siap-siap?”
“Yah aku males aja Vin, emang
penting yah datang ke acara itu” Viola acuh
“Kamu gimana sih Vio, aku
udah cakep gini kamunya malah males-malesan”
“Iidih, PD banget sih cakep”
Viola meledek
“Emang iya kan?”
“Yah terserah kamu deh”
“Viola ayo dong, lagian Febby
sama yang lain juga pada pergi kok”
“Hmm…” Viola berpikir
sejenak, dalam pikirannya Ia tau disana pasti ada Jerry
“Ayo dong Vio, masa kamu tega
sih biarin aku dateng sendirian” Bujuk Davin
“Iyaiya deh, tapi kita jangan
lama-lama yah disana”
“Yes, yaudah ganti baju sana”
“Tunggu bentar yaa” Viola pun
masuk ke kamarnya dan mengambil sebuah gaun sebatas lutut berwarna pink yang
akan Ia kenakan. Setelah mengoles wajahnya dengan sedikit sentuhan make up yang
simple, Viola pun siap untuk pergi ke acara prom nite tersebut.
“Naah, kalau gini kan enak
dilihat” Ucap Davin setelah melihat penampilan Viola yang menurutnya berbeda
kali ini
“Apaan sih, yaudah yuk,
pokoknya jangan lama-lama yah kita disana”
“Iya bawel, yuk” Davin dan
Viola pun beranjak pergi menuju kesebuah gedung dimana acara prom nite dilaksanakan.
Sesampainya di gedung
tersebut, Viola dan Davin bertemu dengan Febby yang saat itu juga sedang
bersama Denis
“Katanya males dateng” Sahut
Febby setelah menghampiri Viola dan Davin
“Apaan sih Feb” Ucap Viola
“Kalau sama aku mana mungkin
dia males” Ucap Davin yang disambut pukulan kecil dari Viola
“Davin apaan sih” ucap Viola
lalu mereka pun tertawa kecil
“Kalian tuh, mentang-mentang
pasangan baru” Sindir Viola
“Hhehehe” Febby nyengir
“Tahun ajaran baru, kelas
baru, pacar baru juga dong” Sahut Denis
“Denger tuh Feb, berarti
setiap pergantian tahun ajaran dia selalu punya pacar baru” Ucap Davin
memanas-manasi Febby dengan candanya sementara Febby hanya melihat Denis dengan
tatapan sinis
“Ehh bukan gitu, pacar
barunya cuma kamu aja kok Feb” Denis membela diri
“Lebay kalian” Sahut Viola
lalu mereka berempat pun tertawa bersama
“Ehh, aku ambil minum dulu
yah disana” Ucap Viola
“Mau aku temenin?” Tanya
Davin
“Ngak usah, cuman deket doang
kok disitu” Jawab Viola lalu berjalan menuju sebuah meja yang diatasnya telah tersedia
orange juice dan beberapa minuman bersoda. Tanpa Viola sadari sejak Ia berjalan
menuju meja tersebut, ada yang memperhatikannya dari kejauhan.
‘Kapan
yah aku bisa benar-benar ngelupain kamu Vio’ batin Jerry berkomentar, lalu Ia pun berniat
untuk menghampiri Viola hanya sekedar untuk berpamitan bahwa besok lusa Ia akan
berangkat. Namun baru saja Ia melangkahkan kaki, dilihatnya Davin telah
menghampiri Viola duluan dan akhirnya Jerry pun mengurungkan niatnya untuk berpamitan
dengan Viola lalu Ia mengalihkan pandangannya dan berkumpul kembali bersama
teman-temannya.
“Davin aku kan udah bilang
ngak usah ditemenin” Ucap Viola saat melihat Davin tiba-tiba berada
disampingnya
“Aku juga mau ngambil minum
Vio, haus nih” Kata Davin
“Oohh yaudah”
“Kesana yuk” Ajak Davin
setelah mereka masing-masing mengambil segelas orange juice
“Ayo” Viola dan Davin pun
kembali berkumpul bersama Febby dan Denis
***
Jerry terlihat sibuk
merapikan pakaiannya untuk dimasukkan kedalam koper, kemudian Acha yang masih
menggunakan seragam sekolah masuk kekamar Jerry
“Eheemm yang mau berangkat”
Sahut Acha sambil duduk didekat Jerry
“Apaan sih, eh kamu kok udah
pulang?” Tanya Jerry setelah melihat jam dinding
“Pelajaran terakhir gurunya
ngak masuk kak, lagi ada urusan katanya. Lagian kakak kan mau berangkat jadi
biar aku juga bisa ikut nganterin ke bandara” Jawab Acha
“Ohh… kamu nih ada-ada aja”
“Emang pesawat kakak jam
berapa sih?”
“Berangkatnya sih jam 3, tapi
kan harus check in dulu jadi agak cepet perginya”
“Emm kakak udah pamitan sama
Viola?”
“Udahlah Cha, ngak usah
tanyain itu mulu. Lagian biarpun dia tau kakak berangkat hari ini, dia juga
ngak bakalan dateng ke bandara kok” Ucap Jerry mencoba tetap santai
“Jadi kakak ngarep dia dateng
ke bandara yah?” Tebak Acha
“Ehh bukan… ngak gituu…
cuman…” Jerry terdiam sejenak lalu melanjutkan perkataannya
“Eh kok kamu jadi kepo gini
sih”
“Bilang aja iya kak, ngak
usah bohong sama aku”
“Udah deh mendingan kamu
ganti baju trus buatin kaka minum yah”
“Idih malah nyuruh lagi”
“Kamu nih, kakak kan udah mau
pergi jadi sekali-sekali buatin minum dong”
“Hmm mentang-mentang mau
berangkat, yaudah iya deh.. tapi ntar kaka ke ruang tengah yah” Acha pun
beranjak dari tempatnya, setelah keluar dari kamar Jerry Ia mengambil ponsel
disakunya lalu menulis sebuah pesan.
Di tempat lain dalam waktu
yang bersamaan
Viola asyik menyelesaikan
tugas yang diberikan dari gurunya sampai Shelli datang mengejutkannya
“Heey serius amat” Sahut
Shelli
“Kamu nih, emangnya kamu udah
selesain tugas yang di bab 4 ?” Tanya Viola
“Belum sih, 2 nomor lagi nih”
Jawab Shelli
“Yeee.. kirain udah”
“Eh Ka Jerry hari ini
berangkat kemana sih Vio?” Pertanyaan Shelli membuat Viola terdiam sambil
mengingat sesuatu
“Ha? Berangkat? Emangnya hari
ini?” Viola kembali bertanya
“Yaelaah malah balik nanya,
iya tadi tweet dia masuk di timeline aku” Kata Shelli
“Emang tweet dia apa?” Tanya
Viola penasaran
“Dia cuman tulis lagi packing
aja, kalau gitu berarti dia pasti mau berangkat kan” Jawab Shelli
“Emangnya dia kemana sih
Vio?” Lanjut Shelli menanyakan pertanyaannya yang belum juga dijawab Viola yang
sekarang masih terdiam
‘Masa
iya sih hari ini, tapi dulu kan dia emang bilang perginya setelah UN’ batin Viola berkomentar
“Violaa,, kok malah ngelamun
sih” Sahut Shelli
“Ha? Eh.. engak kok” Ucap
Viola
“Hmm… kalian udah lost
contact yah?” Tebak Shelli
“Ngak gitu juga sih, tapi
beberapa bulan ini Kita emang udah ngak pernah ada kontak lagi” Kata Viola lalu
terdiam sejenak dan melanjutkan perkataannya
“Tapi mungkin dia emang
berangkat hari ini, Ka Jerry mau ngelanjutin kuliahnya di Singapura”
“Serius? Wah hebat dong Ka
Jerry” Ucap Shelli
“Yah gitu deh” Kata Viola
lalu ponselnya berdering menandakan pesan masuk yang segera dibukanya
From : (no name)
“Ini bener nomornya Viola?”
To : (no name)
“Iya, maaf ini siapa yah?”
“Sapa Vio?” Tanya Shelli
“Ngak tau nih, nomer baru”
Jawab Viola, tak lama kemudian ponselnya kembali berdering
From : (no name)
“Ini aku Acha, adik Ka Jerry.
Kenal kan?”
To : (no name)
“Ohh adiknya Ka Jerry, ada apa?”
“Adiknya Ka Jerry” Ucap Viola
pelan namun didengar Shelli
“Adiknya Ka Jerry? maksud
kamu Acha?”
“Iya shel”
“Dia dapet nomer kamu dari
mana yah, perasaan dia ngak pernah tuh minta nomer hp kamu sama aku” Komentar
Shelli
“Perhatian sebentar” Kata
guru mereka dari depan kelas yang membuat semua siswa terdiam dan mengalihkan
pandangannya pada guru tersebut
“Ibu dan guru-guru lain ada
acara, jadi untuk hari ini Kalian pulangnya cepat. Tugas itu jadikan PR dan
besok pagi tugas itu kumpul dimeja ibu” Kata guru tersebut sambil membereskan
buku-bukunya kemudian keluar kelas
“Pulang cepat? Kalau
pulangnya dari jam 10 tadi sih itu baru dibilang pulang cepat” Komentar Anjas
“Iya nih, orang ini juga udah
mau jam 2 kok” Sambung Shelli
“Hmm yah gitu deehh” Sahut
Viola sambil membaca pesan yang baru saja masuk diponselnya
From : (no name)
“Em kamu ngak mau dateng ke bandara?
Ka jerry bentar udah mau berangkat loh”
To : (no name)
“Hmm kayaknya ngak deh, maaf yah..
Salam aja ama ka jerry”
From : (no name)
“Loh kenapa? padahal Ka jerry pengen liat kamu
Pesawatnya berangkat jam 3”
To : (no name)
“Maaf cha, tapi aku gak bisa
Bukannya gak mau, cman ngejaga perasaan pacar
aku aja”
“Eh Vio, ada Davin tuh” Ucap
Shelli saat melihat Davin menunggu didepan kelas mereka
“Iya, aku duluan keluar ya
Shel” Kata Viola
“Ya ntar aku nyusul deh” Ucap
Shelli lalu Viola pun beranjak dan menghampiri Davin
“Kalian baru keluar yah,
padahal tadi kelas aku gurunya udah ngak masuk” Kata Davin saat Viola telah
berada didepannya
“Iya tuh, gurunya rajin
banget sih”
“Yaudah, belum mau balik?”
Tanya Davin
“Emm.. dikit lagi yah. Febby
mana?”
“Ada tuh sama Denis, mau
hampirin mereka?”
“Em iya deh, ke mereka aja
yuk” Ajak Viola lalu mereka berdua pun menghampiri Febby dan Denis yang sedang
duduk dikursi panjang koridor sekolah.
“Hooy” Sapa Viola dan Davin
hampir bersamaan
“Kelas kalian lama amat sih
keluarnya, padahal kelas kita udah keluar dari tadi” Ucap Febby
“Yah itu kan tergantung
gurunya” Kata Viola sambil duduk disamping Febby
“Vio pinjam hp kamu dong”
Pinta Davin
“Buat apa?” Tanya Viola
“Pulsa aku habis, mau sms
temen yang jual pulsa” Jawab Davin lalu Viola pun memberikan ponselnya
Setelah selesai mengetik
sebuah pesan dan hendak mengembalikan ponsel pada Viola, tak sengaja jari Davin
membuka sebuah pesan yang baru saja masuk dan Ia pun membacanya karena mengira
itu adalah balasan dari smsnya.
From : (no name)
“aku tau, tapi untuk terakhir kalinya coba
ketemu sama ka jerry
Dia pengen bnget ktemu kamu tapi dia gak mau dianggap ngerusak hubungan org. selama ini aku gak pernah
ngasih apa-apa ke ka jerry,
Tapi sbelum dia berangkat aku pengen liat dia senyum, hnya
ini yg bs aku lakuin. Tlng vio, untuk terakhir kalinya aja, aku yakin pcar kamu
pasti bs ngerti kok.
Skrng ka jerry udah di bandara dan aku tau dia msh berharap
ada kamu meskipun dia gak tau aku blng ini. Pesawatnya jam 3 vio, tlng hanya
untuk terakhir kali aja temuin ka jerry..
Perasaan Davin tergugah,
setelah beberapa saat bepikir dan melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul
02.10 kemudian melihat wajah Viola yang sedang tertawa bersama Febby dan Denis ‘sampai kapan kamu nyembunyiin ini dari aku
Vio? Kamu harus ke bandara’ batin
Davin berkomentar, lalu Ia pun membalas pesan tersebut
To : (no name)
“Tenang aja, viola pasti bakal kesitu kok
Janji..”
Setelah mengembalikan ponsel
pada Viola Ia lalu menarik tangan Viola dan mengajaknya pergi
“Kita mau kemana Vin?” Tanya
Viola
“Udah ikut aja” Kata Davin
datar
“Kalian kemana sih? Kita ikut
boleh kan?” Tanya Denis
“Iya kalau kalian mau, ikut
aja” Jawab Davin sambil tetap memegang tangan Viola, mengajaknya sampai ke
tempat parkiran
“Vin Kita mau kemana sih
sebenernya” Viola berhenti didepan mobil juke milik Davin, baru kali ini Davin
seperti itu padanya
“Masuk aja Vio, ntar kamu
juga tau kok” Davin membuka pintu mobil namun Viola masih tetap berdiri
ditempatnya sambil menatap Davin dan Davin pun membalas tatapan Viola dengan
lebih tajam seakan mengisyaratkan harus ikut dengannya dan Viola pun masuk
kedalam mobil di ikuti Davin lalu Febby dan Denis
Diperjalanan Viola maupun
Davin hanya diam tanpa berbicara sedikit pun, sementara Viola yang tidak
mengetahui maksud dari itu semua hanya bisa menyimpan rasa kesal pada Davin
yang menurutnya sangat aneh saat itu
“Mereka kenapa sih?” Tanya
Denis sedikit berbisik pada Febby, Ia sadar dengan situasi yang tidak
mengenakkan saat itu
“Aku juga ngak tau, baru kali
ini Davin kayak gitu” Jawab Febby sedikit berbisik.
Setelah sampai tempat
parkiran bandara, Davin melihat jam tangannya yang telah menunjukkan pukul
02.30 lalu Ia pun mengajak Viola, Febby dan Denis untuk segera turun.
“Bandara?” Tanya Viola sambil
menatap Davin dengan wajah bingung
“Iya, masih ada waktu kok” Jawab
Davin mencoba santai
“Siapa yang mau berangkat
sih?” Tanya Febby penasaran
“Aku makin ngak ngerti deh
sama kamu Vin” sambung Denis
“Kenapa cuman diem? Kita
buang-buang waktu disini, ayo” Davin kembali menarik lembut tangan Viola dan
membawanya masuk dalam gedung bandara
Dalam waktu yang bersamaan
“Aku pamit yah ma” Ucap Jerry
sambil memeluk mamanya
“Iya hati-hati yah disana
sayang” Kata mama Jerry
“Acha, kaka pamit yah” Ucap
Jerry pada Acha yang terlihat gelisah
“Kaka udah mau masuk? Dikit
lagi deh kak” Acha mencoba menahan Jerry karena Ia tau Viola akan datang
sebentar lagi
“Kamu kenapa sih Cha? Dari
tadi kaka perhatiin kayaknya gelisah gitu. Tenang aja, aku nanti bakalan balik
juga kok. Makanya kamu doain semoga aku lancar disana” Kata Jerry, Ia mulai
curiga dengan sikap Acha yang menurutnya tak seperti biasa
“Kak, temenin aku kesana dulu
yuk” Ajak Acha sambil menarik lengan Jerry
“Acha apaan sih, aku udah mau
berangkat nih” Tolak Jerry
“Kakak ayoo, aku yakin kakak
bakalan nyesel udah nolak ajakanku” Kata Acha meyakinkan, Jerry yang juga
penasaran saat itu pun menerima ajakan Acha meskipun Ia sendiri masih tak
mengerti maksud Acha
Ketika Jerry dan Acha
berjalan, dari arah yang berlawanan Viola dan Davin juga sedang berjalan sampai
pandangan mereka pun bertemu. Jerry berhenti melangkah ketika melihat Viola dan
Davin begitu pun sebaliknya.
“Davin?” Viola menatap Davin
dalam, merasa ini semua kejutan yang tak pernah dibayangkan olehnya.
“Viola, aku tahu meskipun
kamu ngak pernah cerita” Ucap Davin sambil memegang salah satu bahu Viola
“Vin kenapa kamu ngelakuin
ini?” Mata Viola berkaca menahan air mata yang siap untuk jatuh
“Vio, aku sayang banget sama
kamu, apa pun itu aku lakuin asal kamu bahagia” Ucap Davin tulus
“Vin,, akuu…” Viola tak lagi
dapat menahan air matanya yang jatuh seketika melihat ketulusan Davin
“Udah, kamu jangan
buang-buang waktu, bicara sama Ka Jerry apa pun yang pengen kamu bilang” Kata
Davin lalu Viola pun berjalan menghampiri Jerry yang hanya beberapa langkah
darinya. Sementara Febby dan Denis hanya bisa terdiam melihat sahabat mereka
begitu pun dengan Acha
“Viola, kamu dateng juga”
Ucap Jerry tak percaya
“Kenapa kaka ngak bilang sih
berangkat hari ini” Kata Viola namun belum sempat Jerry berbicara Ia segera
memotongnya
“Kenapa kaka selalu kayak
gini? Selalu dateng, terus pergi gitu aja dan dateng lagi disaat yang ngak
tepat. Mau kaka apa sih” Viola tak dapat lagi menahan amarahnya, Ia ingin
mengeluarkan seluruh isi hatinya yang mengganjal
“Vio maafin aku, sebenernya
aku pengen banget pamit ke kamu tapi keadaannya yang ngak memungkinkan. Aku
hanya mau kamu bahagia dengan pilihanmu sendiri, Davin itu cowok yang baik kok,
buktinya dia mau nganterin kamu kesini. Viola, mungkin kita emang ngak
ditakdirkan untuk sama-sama bahkan dari awal. Tapi yang pasti aku senang bisa
kenal kamu lebih banyak” Ucap Jerry bijaksana
“Kak, aku hanya ngak mau
kakak menjauh lagi. Aku butuh temen curhat, aku butuh sosok seorang kakak kayak
Ka Jerry buat dengerin aku cerita apa pun itu dan aku juga butuh kakak yang
bisa aku tanya-tanya tentang kehidupan SMA yang belum bisa dipahami. Aku emang
udah milih Davin kak’, tapi juga milih Ka Jerry sebagai kakak sekaligus teman
buat aku” Air mata Viola tak dapat berhenti, mengalir senada dengan perasaanya
“Iya, kita masih bisa jadi
adik kakak kok. udah dong, kok nangis terus” Ucap Jerry dan Viola pun mencoba
menghapus air matanya
“Davin, sini” Panggil Jerry
pada Davin yang hendak berbalik badan, seakan Jerry mengetahui bahwa Davin akan
pergi saat itu. Tanpa berkomentar Davin pun berjalan menghampiri Jerry dan
Viola lalu berdiri ditengah-tengah mereka berdua
“Vio, ada Davin yang bakal
ngejagain kamu, aku yakin dia cowok yang baik buat kamu. Kamu ngak salah pilih”
Ucap Jerry pada Viola yang sedang menghapus air mata dipipinya kemudian Jerry
menatap Davin sambil memegang salah satu pundak Davin
“Vin, jaga Viola yah, jangan
biarin dia nangis kayak gini lagi. Aku tahu kamu sayang banget sama dia lebih
dari aku”
“Iya Ka Jerry, walaupun kaka
ngak bilang aku juga bakal tetap jagain Viola kok” Davin tersenyum
“Tuh Vio, kamu ngak salah
pilih, pantes aja kamu milih Davin dibanding aku, ternyata selain lebih cakep
dia juga pinter ngambil hati kamu” Canda Jerry ditengah-tengah keseriusannya
“Kakak apaan sih” Viola
terlihat malu-malu
“Muka kamu merah loh Vio”
Tegur Jerry
“Kakak iiiiihh jail deh”
Viola menutupi pipinya dengan tangannya
“Ahhahaha semoga kalian
langgeng yah”
“Iya ka, makasih” Ucap Davin
sambil merangkul Viola
“Yaudah, ngak ada lagi yang
perlu aku khawatirin. Semuanya udah selesai dan sekarang.. aku harus pergi”
Kata Jerry setelah sempat melihat jam tangannya
“Hmm yaudah deh kak, kaka
hati-hati aja disana. Jangan lupa sama Indonesia yah kak” Ucap Viola
“Iyaa, kamu juga baik-baik
disini. Belajar biar nanti bisa lulus, jangan pacaran mulu, jadiin motivasi
belajar aja” Pesan Jerry
“Iya Ka Jerry” Viola
mengangguk
“Yaudah kayaknya aku udah
bener-bener harus pergi sekarang. Emm… Acha” Kata Jerry kemudian memanggil Acha
yang berdiri tak jauh dari mereka
“Iya kak” Acha pun
menghampiri Jerry
“Kamu perhatian juga yah sama
kaka” Ucap Jerry dan Acha hanya bisa nyengir
“Makasih, ini juga berkat
kamu Cha” Lanjut Jerry
“Yaudah, semoga kalian semua
bisa tetap bahagia kayak gini. Aku pergii.. byebye” Pamit Jerry lalu
meninggalkan tempat tersebut
“Bye kak” Ucap Viola, Acha
dan Davin hampir bersamaan sambil melihat Jerry yang lama-kelamaan menghilang
dari pandangan
“Makasih yah Vio, kamu udah
dateng, ternyata kamu nepatin janji juga.. bye” Kata Acha sambil tersenyum belum
sempat Viola berbicara namun Acha telah pergi
“Hah janji? Janji apa? Aku
ngerasa ngak pernah buat janji hari ini” Viola bingung kemudian Ia menatap
Davin dengan tatapan menyelidiki
“Sorry, tadi ngak sengaja sms
Acha kebuka yah aku baca dan……” Davin tak sempat lagi meneruskan perkataannya
karena Viola sudah duluan memukul pelan bahu Davin
“Daviiinn…..” Viola gemas
“Aawww… Vio jangan gitu”
Davin mencoba meraih tangan Viola yang mencubit pelan perutnya dan menahannya
lalu mengajak Viola untuk segera pulang.
* * *
SATU
PILIHAN
“Oohh jadi ini alasannya kamu
ngajak Viola tiba-tiba pergi” Sahut Febby saat mereka berempat telah berada
didalam mobil
“Yah gitu deh” Ucap Davin
Kamu tuh Vin, aku pikir Kita bakalan
kemana tadi, ehh ternyata cuman ke airport toh” Sahut Denis
“Yaudah nih Kita udah nyampe
sekolah” Ucap Davin saat mobil yang Ia kendarai telah berhenti didepan gerbang
sekolah
“Davin jahat banget sih masa
turunin Kita didepan gerbang” Sahut Febby cemberut
“Loh kalau aku anterin kalian
berdua sampe rumah terus mobil Denis mau ditinggalin disekolah gitu” Kata Davin
“Maksud mereka tuh kenapa
ngak dianterin sampe tempat parkir Vin, Iya kan?” Sahut Viola
“Nah itu Viola tahu” Sahut
Denis
“Sekali-sekali jalan Den, kan
juga berdua ama Febby” Davin tertawa kecil
“Dasar lu Vin, yaudah aku ama
Febby turun yah” Ucap Denis sambil membuka pintu mobil dan segera turun
“Iya kalian hati-hati
dijalan, bye” Sahut Febby
“Iya.. bye” Ucap Viola dan
Davin hampir bersamaan
“Kita langsung balik yah Vio”
Kata Davin
“Iyalah Vin, mau kemana lagi”
Ucap Viola lalu Davin pun menancap gas pergi meninggalkan sekolah
Sudah setengah perjalanan
namun Viola dan Davin hanya diam tanpa berkata apa-apa, melihat situasi yang
sangat tidak menyenangkan itu akhirnya Viola pun mencoba untuk bicara
“Davin?” Ucap Viola
“Iya Vio” Balas Davin
“Emm… kamu ngak marah?” Tanya
Viola pelan
“Hah marah? Kenapa aku harus
marah?” Davin mencoba santai dengan senyumnya
“Kamu ngak marah kalau aku
deket ama Ka Jerry?”
“Itu kan hak kamu Vio, aku
percaya kok sama kamu” Kata Davin
“Beneran? Maafin aku yah Vin”
Ucap Viola
“Kok minta maaf sih? Emang
kamu salah apa?”
“Yah aku ngak jujur sama kamu
tentang Ka Jerry”
“Aku kan udah bilang, aku
percaya sama kamu Vio” Ucap Davin setelah terdiam sejenak Ia lalu melanjutkan
ucapannya
“Hmm… emang sih, jujur aku
sempat cemburu.. tapi yah aku tahu itu wajar kok. siapa yang ngak cemburu kalau
pacarnya deket banget ama cowok lain”
“Vin, aku bener-bener minta
maaf soal itu” Mata Viola mulai berkaca mendengar kejujuran Davin
“Vio, ngak perlu minta maaf, kamu
ngak salah kok. Aku yakin kamu bisa jaga kepercayaan aku”
“Vin, makasih yah kamu udah
mau percaya ama aku. Ternyata kamu juga bisa sebijak ini yah” Kata Viola yang
tak menyangka bahwa Davin yang dikenalnya manja atau kadang kekanak-kanakan
ternyata dapat bijaksana saat itu
“Apaan sih Vio” Davin
tersenyum lalu menghentikan mobilnya karena telah sampai didepan rumah Viola
“Emm… makasih banyak yah Vin”
Ucap Viola
“Hmm Vio, aku sayang banget
ama kamu, aku cuman mau Kita bisa saling percaya dan saling jujur apa pun
masalahnya” Kata Davin sambil menggenggam lembut tangan Viola
“Pokoknya mulai sekarang
kalau ada yang kamu ngak suka atau apa pun itu, kamu ngomong yah.. jangan diem”
Kata Viola sambil menatap mata Davin menunjukkan ketulusannya
“Iya Vio, aku juga minta maaf
mungkin selama ini aku kurang peka, tapi jangan sampai ada orang lain lagi yah
diantara kita”
“Iya Vin, aku kan udah pilih
kamu jadi ngak akan ada orang lain lagi. Soal Ka Jerry… aku akui kalau emang
sih susah buat lupain dia tapi aku sadar kok ternyata Ka Jerry itu lebih cocok
jadi kakak buat aku, soalnya selama ini aku suka karena kebaikan dia sama
kedewasaan dia dalam masalah. Beda sama kamu” Jelas Viola
“Kamu nih, buat aku melayang
tahu ngak” Davin tertawa kecil
“Daviin… aku serius” Ucap
Viola yang juga tertawa kecil
“Iyaiya aku tahu, kamu jangan
buat aku cemburu lagi yah” Kata Davin
“Iya Vin, kamu juga”
“Udah kamu jangan nangis lagi
dong” Ucap Davin
“Apaan sih, aku ngak nangis
Vin” Viola menyangkal
“Tuh mata kamu berkaca-kaca”
Davin memperhatikan mata Viola
“Apaan sih.. enggak Vin”
Viola memukul pelan pundak Davin
“Yaudah kalau gitu kamu masuk
gih sana, udah sore nih” Davin mengingatkan
“Emm iya deh, kamu hati-hati
yah.. jangan ngebut-ngebut” Kata Viola
“Iya, aku ngak ngebut kok
Vio... tenang aja” Kata Davin
“Yaudah aku masuk yaah” Pamit
Viola sambil membuka pintu mobil dan keluar
“Bye” Ucap Davin setelah
membuka salah satu jendela mobil tersebut
“Bye” Balas Viola sambil
melambaikan tangannya dan mobil juke milik Davin pun melaju pelan meninggalkan
rumah Viola
***
Liburan telah berakhir dengan
awalnya tahun ajaran baru, kini Viola bersama dengan teman-teman
seperjuangannya telah duduk dibangku kelas 11 SMA. Viola mengambil jurusan IPA
bersama Davin sementara Febby mengambil jurusan Bahasa dan Denis IPS
“Kamu nih Vio, aku cariin
dari tadi ternyata ada diperpus, mentang-mentang udah jadi anak IPA nih” Omel
Febby setelah menghampiri Viola yang sedang asyik dengan laptopnya dan duduk
disamping Viola
“Apaan sih, kamu juga..
Selamat yah bisa masuk kelas Bahasa1, kayaknya ada yang bakal bener-bener jadi
sastrawan nih” Ucap Viola
“Hhehehe kamu bisa aja. Oh ya
tumben kamu ke perpus, ngapain sih?” Ucap Febby sambil melirik layar laptop
yang berada didepan Viola
“Internetan, sekalian buka
twitter juga sih. Sayang nih perpus ada wifi nya tapi udah jarang dipake” Kata
Viola
“Ohh sambil liat profil Ka
Jerry juga yaah” Kata Febby saat melihat layar laptop tersebut
“Hhehehe dia tadi mention,
sekalian aku pengen aja liat profilnya” Ucap Viola santai
“Tapi itu foto profilnya sama
cewek yah?” Tanya Febby meyakinkan apa yang Ia lihat
“Iyaa, itu pacarnya.. cantik
yah” Kata Viola sambil tersenyum
“Iya cantik, tapi kok kamu
senyum-senyum gitu sih” Febby bingung
“Yaahh aku seneng aja,
sekarang Ka Jerry udah dapet orang yang cocok buat dia” Kata Viola sambil
memilih tulisan log out pada akun sosialnya
“Ohh gitu, berarti sekarang
kamu udah bener-bener lupain Ka Jerry nih”
“Ngak gitu juga sih, aku
tetap ingat sama kebaikan dia. Bagaimana pun juga dia kan orang yang pernah
deket sama aku, tapi bukan berarti aku masih punya perasaan ama Ka Jerry.
Lagian sekarang Davin udah ngak kekanak-kanakan lagi, mungkin dia udah sadar
dan sekarang aku ama Ka Jerry udah bahagia dengan pilihan masing-masing” Jelas
Viola
“Ciieee seneng nih sekarang,
setiap orang emang harus punya satu pilihan yang jelas” Kata Febby
“Yaapp… One choice” Ucap
Viola sambil tersenyum kemudian menutup laptopnya.
“Heey para leadis, ternyata
kalian disini” Sahut Denis menghampiri Viola dan Febby
“Iya nih, dicariin dari tadi
juga” Kata Davin
“Yee mana Kita tahu kalian
berdua nyariin kita” Sahut Febby
“Kalian ngak laper? Ke kantin
yuk” ajak Denis
“Huuu laper mulu, dasar perut
karet” Ucap Viola lalu tertawa kecil
“Iya nih, banyak cacing kali
diperut kamu Den” Lanjut Davin
“Apaan sih kalian, lagian
ngapain sih lama-lama diperpus, ngak bikin kenyang tahu” Ucap Denis
“Iyaiya Kita ke kantin kok”
Sahut Febby
“Kamu emang paling
ngertiinaku deh sayang” Kata Denis pada Febby yang disambut tawa dari Viola dan
Davin
“Iidiiiihh apaan sih Denis
jangan malu-maluin dong” Ucap Febby cemberut
“Hhehehe ngak ngak, damai
Feb.. mending Kita ke kantin yuk” Kata Denis lalu merangkul Febby agar segera
beranjak pergi menuju kantin
“Kita ikut mereka yuk Vio”
Ajak Davin
“Iya Vin, yuk” Ucap Viola setelah
memasukkan laptop kedalam tasnya
“Aku bawain yah tas
laptopnya” Tawar Davin
“Iih Davin lebay banget sih,
ngak usah aku bisa bawa sendiri kok” Viola menolak
“Itu berat Vio, ngak apa-apa
kok aku bawain yah”
“Davin iih, sok sok lagi..
yaudah nih” Viola memberikan tas laptopnya pada Davin
“Ngak baik tau cewek bawa
berat-berat” Ucap Davin
“Idiih apaan sih Davin lebay
taauuu” Viola dan Davin pun tertawa bersama lalu mereka beranjak pergi menyusul
Febby dan Denis ke kantin sekolah.
‘Cinta
selalu datang tanpa disadari, kapan pun itu meskipun seseorang tak sedang lagi
ingin mencari Cinta atau bahkan bertekad untuk menutup hatinya. Menentukan satu
pilihan dalam cinta sudah menjadi bumbunya, memilih dengan keyakinan yang kuat
dan kata hati yang tak pernah bisa diajak berbohong’
‘Pilihan
itu emang sulit, sulit banget.. tapi Kita juga harus punya kepercayaan untuk
memilih bahwa apa yang dipilih itu memang terbaik untuk diri sendiri juga orang
lain dan ngak merugikan siapa pun. Meskipun awalnya sakit bahkan harus ada
tangis kesedihan, apa pun itu tetap percaya bahwa Tuhan selalu memberikan yang
terbaik meskipun awalnya Kita tak menyukai itu namun itulah cara Tuhan
merencanakan suatu kebahagiaan untuk Kita bersama orang yang Kita sayangi’
*
* *
SELESAI

0 comments:
Post a Comment