Tuesday, May 9, 2017

"VIOLA"



FIRST TIME

Langit masih terlihat gelap, matahari belum sepenuhnya terbit namun pagi itu Viola telah sibuk dengan perlengkapannya sendiri dan sempat risih dengan kepangan 20 yang menghiasi rambutnya ditemani dengan pita-pita hijau terang yang semakin membuatnya kurang nyaman, belum lagi perlengkapan yang harus Ia bawa. Namun sesampainya disekolah barunya Ia tak begitu risih lagi karena semua siswa baru yang mengikuti MOS juga kurang lebih berpenampilan sama sepertinya.
“Hey, nggak telat kan” sapa sahabatnya Febby yang sejak SMP menemani hari-hari Viola.
“Hey, nggak dong. Ini tuh belum jam 6 tau” Ucap Viola santai
“Oke lah, kirain kamu telat bangun”
“Gimana mau telat bangun kalau dari malam aja udah gelisah tidurnya”
“Udah, bawa santai aja lagi. Masih mau lima hari lagi kita kayak gini”
“Hah ? lima ? nggak salah, bukannya enam”
“Kok enam sih, kan hari ini udah”
“Udah apanya, kita aja belum ngapa-ngapain”
“Oh iya yah”
Setelah berbincang ria, tak lama setelah itu terdengar kakak senior dengan menggunakan seragam putih abu-abu yang merupakan panitia penyelenggaraan MOS tersebut menyuruh mereka untuk berkumpul. Semua peserta MOS termasuk Viola dan Febby pun bergerak cepat menuruti perintah dan berbaris di kelas masing-masing. Karena mereka berdua berada dikelompok yang berbeda.
Viola berdiri diam ditempatnya sambil sesekali melirik Febby yang juga berbaris tak jauh darinya. Ia merasa sangat asing disekolah yang baru Ia masuki, meskipun ada beberapa temannya yang berasal dari SMP yang sama.
“Wali-wali kelasnya berdiri didekat barisannya masing-masing, pilih ketua dan sekertaris” Sahut panitia yang berada didepan dengan menggunakan toa yang digandengnya sedari tadi.
Viola hanya melihat orang-orang disekitarnya semua terdiam kecuali para kakak senior yang merupakan panitia sedang memilih ketua dan seketaris dari masing-masing kelas. Tiba-tiba ada yang memegang lengannya dan Ia pun segera menoleh, seorang kakak senior perempuan yang merupakan wali kelasnya sedang berada disampingnya. Viola pun merasakan detak jantungnya berdetak dengan cepat.
“Kamu jadi sekertaris kelas ini yah” Ucap kakak senior tersebut sambil menarik pelan lengan Viola untuk menempatkannya dibarisan paling depan.
“Saya kak ?” Tanya Viola tak yakin
“Iya kamu, berbaris paling depan yah” Jawab kakak tersebut lalu menanyakan kembali pada temannya yang juga merupakan wali kelas tersebut.
“Jerry, yang ini kan” sahut senior tersebut pada temannya dan temannya pun hanya mengangguk sambil sedikit tersenyum
“Kamu disini yah” Kata senior tersebut lalu berdiri didepan barisan, berdampingan dengan kakak senior laki-laki yang juga merupakan wali kelas MOS di kelas Viola dan teman-teman barunya.
“Untuk wali kelasnya masing-masing, perkenalan sama adik-adiknya. Sambil duduk saja yah” Perintah lagi panitia yang berada didepan. Semua peserta MOS pun duduk melantai termasuk wali kelasnya yang terdiri dari dua orang panitia masing-masing perempuan dan laki-laki. Viola berpikir mungkin panitia yang berada didepan telah ditugasi untuk mengurus jalannya MOS ini.
“Kita perkenalan dulu, aku Sesha kelas 12 IPA1” Ucap senior tersebut yang bernama Sesha
“Hmm aku Jerry kelas 12 IPA2” Ucap senior disebelahnya yang bernama Jerry
“Oh ya, trus ketua sama sekertarisnya namanya siapa ?” Tanya Sesha
“Kalau aku Didit kak” Sahut Didit yang sebelumnya tidak dikenal Viola
“Aku Viola kak” Ucap Viola
“Oh Viola” Sahut Sesha sambil melirik Jerry dan Jerry pun hanya terdiam tanpa ekspresi
 “Peserta Mos semuanya tulis biodata dikertas selembar yah, kumpul sama wali kelasnya masing-masing” Sahut salah satu panitia
“Semuanya, nulis biodata dikertas selembar yah” Kata Shesa mengulangi pemberitahuan yang baru saja disampaikan
“Ehh, kayaknya barisan yang dibelakang nggak denger tuh” Kata Jerry
“Yaudah aku koordinir yang dibelakang aja, kamu disini yah. Jangan kemana-mana loh” Kata Shesa lalu beranjak dari tempatnya dan berjalan kebelakang barisan.
Seluruh perserta Mos pun sibuk menulis biodatanya masing-masing termasuk Viola.
“Ini kak” Ucap Viola sambil memberikan kertas biodatanya pada Jerry yang berada didepannya. Jerry pun mengambil kertas tersebut dan melihatnya
“Kok cuman ini sih, dikit banget” Protes Jerry
“Emangnya apa lagi kak ?” Tanya Viola hati-hati
“Kamu harus nulis asal sekolah, minat, bakat, prestasi, penyakit yang pernah diderita, kalau perlu nomor HP kamu juga ditulis” Kata Jerry sambil mengembalikan kertas tersebut pada Viola
“Emm iya deh kak” Viola pun mengambil kembali kertasnya dan menambahkan apa yang dikatakan Jerry. Setelah selesai Viola pun kembali memberikan kertasnya pada Jerry
“Coba aku lihat” Sahut Jerry sambil mengambil kertas biodata Viola dan melihatnya.
Kemudian terdengar lagi suara dari panitia yang menggunakan toa
“Adik-adik, Kita butuh lima orang untuk maju kedepan, kakak panitia tolong pilih dong lima orang itu”
“Untuk apa” Viola bersuara kecil bertanya pada dirinya sendiri namun suara kecil Viola itu terdengar oleh Jerry
“Nanti kamu juga bakalan tau kok, liat aja ntar kalau Cahya udah ngomong lagi” Sahut Jerry yang mengejutkan Viola.
“Cahya ?” Tanya Viola hati-hati nyaris seperti berbisik
“Oh iya kamu kan belum tau, yang didepan itu namanya Kak Cahya”
“Oh Kak Cahya. Emm iya kak” Viola tak berani berbicara banyak pada kakak panitia.
Setelah didepan telah terkumpul lima orang peserta Mos yang telah dipilih oleh panitia, Cahya pun kembali berbicara
“Oke, di sini sudah ada lima orang teman kalian”
“Mereka ini akan menirukan gaya dance 7icon” Lanjut Cahya sambil tersenyum
“Bingung yah, kenapa lima orang. Karena dua orangnya lagi dari kalian-kalian ini yang tertawa atau senyum-senyum lihat mereka didepan pas lagi joget” Cahya melanjutkan kembali kata-katanya.
“Jadi, jangan ada yang ketawa” Sahut salah satu panitia
“Oke, music” Sahut Cahya memberikan kode pada temannya dan terdengarlah lagu Playboy dari 7icon
“Ada-ada aja mereka. Ehh, kamu tinggal dialamat ini ?” Tanya Jerry sambil menunjuk alamat Viola yang tercantum dikertas tersebut
“Iya kak” Jawab Viola polos
“Berarti deket dong ama rumah aku, kompleks ini kan nggak jauh dari rumah aku”
“Oh gitu yah kak”
“Ehh, ulang tahun kamu akhir bulan ini yah?” Tanya Jerry saat melihat kembali kertas biodata Viola
“Iya kak” Jawab Viola
“Wahh, sayang banget yah Mos udah selesai di tanggal ini”
“Emangnya kenapa kak?”
“Yahh kalau ulang tahun kamu masih Mos, panitia ada bahan lagi buat dikerjain” Kata Jerry sambil tertawa kecil
“Yahh, masa gitu sih kak” Viola murung
“Itu udah suka-sukanya panitia lah dek, tapi kan untungnya ulang tahun kamu udah selesai Mos” Jerry tersenyum
“Iya yah kak” Viola membalas senyuman Jerry
“Oh ya, kenapa kamu nggak masuk SMA yang ada didekat rumah kamu itu ?” Tanya Jerry
“Emm disini udah keterima duluan kak trus juga pengen nyari suasana baru aja” Jawab Viola.
“Oh gitu..” Ucap Jerry
“Kalau kakak, kenapa nggak masuk di SMA yang itu aja ? kan deket”
“Yahh, aku kurang suka sama pergaulannya dek, trus SMA ini emang udah dari dulu keluarga aku banyak yang sekolah disini”
“Oh gitu kak” Viola sudah tak memperhatikan peserta Mos yang sedang berada didepan karena berbincang dengan Jerry.
“Tapi kamu mendaftar juga di SMA itu ?” Tanya Jerry
“Iya kak, tapi cuman ngambil formulir aja, pas aku tau disini udah diterima jadinya nggak ngurus berkas lagi” Jawab Viola
“Ohh sama dong kayak aku dulu, cuman aku udah ikut testnya. Kamu kenapa nggak ikut testnya juga ?”
“Yah gimana mau ikut kak, disini aja udah mos tapi disana masih test”
“Pantesan, mungkin disini terlalu cepet kali ya”
“Atau disana yang terlalu lambat kak”
“Udahlah, itu urusan sekolah. Lagian kalian ini sehabis mos ada liburnya kok”
“Beneran kak ?”
“Itulah baguslah sekolah ini, abis mos ada liburnya. Yah itung-itung buat kita fresh lah”
“Bagus dong kak”
“Iya dong” Senyum Jerry dan Viola pun juga tersenyum namun dilihat oleh panitia yang memperhatikan peserta jika ada yang tertawa. Seorang panitia pun menghampiri Viola
“Ehh kamu kok ketawa” Tunjuk panitia tersebut pada Viola
“Hah?” Viola terkejut dan hanya bisa diam
“Ehh nggak, tadi dia bicara ama aku” Sahut Jerry cepat
“Oh gitu, yaudah” Panitia tersebut pun pergi dan Viola tersenyum pada Jerry menandakan ucapan terimakasih yang dibalas senyuman juga oleh Jerry.
“Ehh, yang lain udah pada kumpul biodatanya kan” Sahut Sesha yang tiba-tiba datang
“Iya udah, nih biodatanya” Ucap Jerry sambil memberikan kertas-kertas yang sedari tadi Ia pegang
“Oh ya, Shesa tadi aku sempat ngeliat asal sekolah Viola, kalian dari SMP yang sama yah” Lanjut Jerry ketika sebelumnya masih terdiam
“Masa sih, coba aku liat” Kata Shesa sambil mengambil biodata
“Oh iya bener. Viola ternyata Kita dari SMP yang sama yah” Lanjut Shesa
“Wah kebetulan dong kak” Kata Viola dan Shesa pun hanya tersenyum lalu berjalan pergi diikuti Jerry
“Emm,, kamu udah liat-liat biodata Viola yah“ Kata Shesa saat berjalan bersama Jerry
“Yahh tadi itu cuman kebetulan aja Sa” Jerry menyangkal
“Hmm masa sih Ri” Shesa tak percaya
“Ah rese kamu” Jerry pun berjalan lebih cepat dan pergi meninggalkan Shesa yang hanya tertawa geli melihat tingkah temannya itu.
                                                                        *        *        *       

SMS

Hari pertama Mos telah terlewatkan sudah, baru satu hari dijalaninya namun Viola merasa seakan waktu sangat berjalan lambat saat mengikuti Mos. Ingin rasanya cepat-cepat menghabiskan sisa hari untuk mengikuti Mos dan meninggalkan putih biru diganti dengan putih abu-abu yang sudah dinantikannya. Rasanya seperti sangat cepat hari telah berganti lagi, ini merupakan hari kedua Mos yang diikuti Viola.
“Chayo Vio, ini hari kedua. Empat hari lagi Kita bakal ninggalin ini semua” Sahut Febby menyemangati Viola yang sibuk mengumpulkan daun-daun kering yang berserakan dihalaman sekolah.
“Iya iya” Sahut Viola sambil tersenyum, Febby tahu bahwa Viola sangat tak suka dibentak-bentak dan dimarahi jika Ia tak berbuat salah seperti yang dilakukan oleh kakak senior saat Mos berlangsung.
“Semuanya kumpul dilapangan sesuai kelasnya” Terdengar kembali suara Panitia dan semua peserta Mos pun mengikutinya.
“Waktunya pembagian tugas, untuk kelas pertama yang diujung sana membersihkan aula dan walikelasnya bimbing adik-adiknya” Kata panitia dan kelas yang disebutkan itu merupakan kelas Viola. Dengan dampingi Jerry dan Shesa mereka pun menuju ke aula.
Sesampainya di aula, Viola dan peserta Mos lainnya yang ada dikelas yang sama juga saling membantu membersihkan aula tersebut. Saat telah selesai membersihkannya. Shesa dan Jerry pun menyuruh mereka untuk berkumpul membentuk bundaran.
“Kalian semua udah pada saling kenal ?” Tanya Shesa
“Ada yang sudah tapi ada yang belum kak” Jawab salah satu perserta Mos
“Emm yaudah kalau gitu Kita kenalan aja dulu, sebutkan nama sama asal sekolahnya sekalian aku juga pengen memastikan nomor-nomor HP kalian nih. Supaya kalau ada informasi-informasi kan aku bisa SMS” Kata Shesa.
“Dimulai dari sebelah kanan sini aja” Sambung Jerry dan semuanya pun memperkenalkan dirinya masing-masing dan tiba saatnya giliran Viola
“Nama saya Viola Angela, asal sekolah dari SMP Bintang” Ucap Viola
“Nomor kamu yang akhirnya 777 itu?” Tanya Shesa
“Iya kak” Jawab Viola
“Oke” Ucap Shesa lalu melirik Jerry
“Kamu nggak mau ambil nomornya Ri” Lanjut Shesa sambil tertawa kecil dan Jerry pun hanya terdiam
“Oke lanjut” Sahut Jerry memecahkan keheningan dan Shesa pun hanya bisa tersenyum. Dan perkenalan pun terus berlanjut hingga akhirnya selesai lalu mereka semua kembali ke lapangan untuk melanjutkan kegiatan Mos tersebut.
                                    *           *           *
Viola terbaring lemas ditempat tidurnya, rasanya Ia ingin segera tidur namun mengingat harus pergi dengan Febby Ia pun mengurungkan niatnya. Tak lama kemudian ponselnya pun berbunyi menandakan ada pesan masuk, dibukanya pesan itu

From: Febby
           “Dmna ? Prgi skrng yuk.."
Viola pun menarik nafas panjang lalu mulai mengetik tombol diponselnya untuk membalas pesan dari Febby
To        : Febby
            “Iya iya, siap2 aj yah. Bentar lg aku dah mau k’situ..”
From : Febby
           “Ok’ok, ditnggu yah.. J
Viola pun bersiap-siap untuk pergi menuju kerumah Febby, dan setelah itu sampailah Ia ditempat tujuan. Febby yang mendengar suara mobil milik Viola pun bergegas keluar rumahnya dan mengajak Viola masuk. Meskipun dikamar Febby, Viola tetap menyempatkan berbaring lagi ditempat tidur Febby
“Kamu tau nggak, aku cape banget nget nget dehh pokoknya” Sahut Viola masih tetap dalam posisi berbaring
“Aku juga tau” Ucap Febby
Sesaat sesudah itu, terdengar lagi suara ponsel milik Viola berbunyi menandakan pesan masuk.
“Sms kamu tuh Vio” Sahut Febby
“Iya aku tau” Ucap Viola kemudian mengambil ponsel ditasnya.
From: (no name)
            “Ini dngan viola?”
“Siapa sih Vio ?” Tanya Febby yang sedang sibuk mengurus rambutnya yang basah
“Nggak tau, nomor baru” Jawab Viola datar kemudian membalas pesan singkat tersebut
To   : (no name)
         “Iya, maaf ini sapa yah?”
Viola kembali pada posisi awalnya dan tak lama dari situ ponselnya kembali berdering. Dibukanya pesan tersebut, matanya melotot dan reflex Ia terbangun dari baringnya sambil terus menatap layar ponsel yang berada ditangannya dengan tatapan tak percaya.
“Kenapa sih Vio?” Tanya Febby yang menyadari tingkah aneh Viola yang dilihatnya dari cermin
“Ini sms dari Kak Jerry” Jawab Viola
“Hah ? Kak Jerry?” Febby membalikkan badannya
“Iya, panitia Mos. Walikelas aku”
“Dia sms kamu ?”
“Iyyaa”
“Wahh, curiga aku”
“Iiih kamu apa-apaan sih”
“Becanda Vio”
Viola kembali melihat layar ponselnya lalu mulai menekan tombol-tombolnya untuk membalas pesan dari Jerry

To   : (no name)
         Ohh ka’jerry, kirain sapa :D
          ada perlu apa ka’ ?
“Yahh, sms yang tepat” Komentar Febby
“Udah ah diem, pergi sekarang yuk! sebelum aku ketiduran disini”
“Hhahaha, oke deh” Ucap Febby lalu bersiap pergi bersama Viola.
Saat sampai disebuah tempat perbelanjaan, Febby sibuk mencari suatu barang yang ingin dibelinya begitu pun dengan Viola yang juga disibukkan dengan ponselnya yang terus berbunyi menandakan pesan masuk dari Jerry.
“Dari tadi kayaknya kamu ribet sama HP yahh” Sahut Febby yang memperhatikan Viola
“Iya nih, Kak Jerry sms mulu” Sahut Viola
“Yaudah bales aja”
“Iya ini juga lagi dibales kok”
“Emm Vio, kayaknya…..” Ucap Febby yang enggan meneruskan perkataannya
“Kayaknya kenapa?” Tanya Viola bingung
‘Tapi masa iya sih baru kenal trus kakak kelas itu udah suka sama Vio’ Batin Febby mulai berbicara
“Emmm enggak kok, cuman perasaan aku aja kali”
“Ohh yaudah, asalkan kamu jangan mikirin yang macem-macem yahh” Nyengir Viola
“Iiih enggak lagi Vio” Febby tertawa kecil
“Vio, balik yuk! Udah jam berapa nih. Besok kan Kita harus pergi subuh-subuh lagi ke sekolah” Kata Febby sambil memperlihatkan jam yang yang melingkar manis ditangannya
“Iya yaudah yuk” Ajak Viola kemudian mereka berdua pun pulang
                        *           *           *
Pagi itu, seperti dua hari sebelumnya Viola dan peserta Mos lainnya tetap mengikuti jalannya Mos dan begitu pun hari-hari selanjutnya sampai akhirnya tiba lah saat hari terakhir kegiatan Mos tersebut. Hari itu Viola seperti lebih bersemangat dari sebelumnya, wajahnya berseri, ini merupakan hari terakhir dirinya menggunakan rok biru dan kaos Mos.
“Ciiyelah, cerah banget muka kamu. Tumben.. nggak kayak kemarin-kemarin” Sahut Febby tersenyum saat bertemu Viola dihalaman depan sekolah
“Iya dong, ini kan hari terakhir. Hatiku seneng banget tau nggak, hhehehe” Viola nyengir
“Ahhaha, gaya lu Vio” Sahut Febby sambil tertawa
“Adik-adik yang sudah datang, masuk ke aula sekarang” Perintah Panitia
“Ehh ke aula yuk” Ajak Viola
“Ciiyelah, semangat banget” Ejek Febby
“Harus dong, ini kan hari terakhir” Kata Viola sedikit berbisik
“Oke lah” Ucap Febby
Viola dan Febby duduk ditempat yang berbeda sesuai dengan barisan kelas mereka. Saat Viola duduk ditempatnya, Ia merasa ada yang berbeda. Rasanya Ia seperti tak ingin Mos ini berakhir, namun Ia pun segera menghapus rasa itu.
Hari itu seperti begitu cepat berjalan hingga sampailah saat jam makan istirahat dan waktu itu dimanfaatkan beberapa peserta untuk memberikan coklat pada kakak senior yang menjadi panitia favorit mereka. Termasuk Viola, Ia memberikan sebuah wafer coklat untuk Shesa yang selama Mos begitu baik dengannya.
“Kak, ini buat kakak” Kata Viola sambil memberikan wafer coklat yang dibawanya
“Wah, makasih yah Vio” Shesa tersenyum
“Iya sama-sama kak” Ucap Viola dan tiba-tiba Jerry pun datang ditengah-tengah mereka berdua
“Ehm, masa aku nggak dikasih sih” Sahut Jerry
“Emm…” Viola memeriksa tas kantongannya, Ia melihat ada dua coklat yang sama dan salah satu coklat itu memang sebenarnya untuk jaga-jaga walaupun itu merupakan coklat kesukaannya namun Viola tetap memberikan satu coklat itu pada Jerry karena pemikirannya masih ada satu coklat lagi untuknya
“Ini buat kakak” Kata Viola tersenyum
“Ehh beneren nih, padahal tadi aku cuman becanda loh”
“Iya kak, ini buat kakak” Viola memberikan coklat tersebut
“Ikhlas kan” Ucap Jerry sambil mengambil coklat tersebut
“Hhehe iya kak, ikhlas kok”
“Oke, makasih yah”
“Iya sama-sama kak” Jerry pun kembali duduk ditempatnya semula begitu pun Viola.
Saat Jerry baru saja duduk tiba-tiba ada salah satu peserta yang merupakan teman sekelas Mos Viola juga memberikan Jerry wafer coklat yang sama seperti wafer coklat yang diberikan Viola untuk Shesa namun jumlahnya lebih banyak lagi. Saat Jerry menerimanya Ia pun kembali beranjak dan menemui Viola kembali.
“Vio, aku bisa titip ini kan d’tas kamu?” Pinta Jerry sambil menunjukkan wafer coklat tersebut
“Emm,, iya boleh kok ka’” Sahut Viola sambil mengambil wafer coklat tersebut.
“Yaudah sebentar aku ambil yah”
Iya kak” Jerry pun kembali duduk ditempatnya
Jam istirahat selesai sudah, panitia kembali mengambil alih kegiatan tersebut.
“Adik-adik, karena ini adalah hari terakhir, sekarang Kita nyanyi sama-sama aja yah. Yang namanya Oni maju kedepan main gitar, Kita semua tau kok kamu pintar mainin gitar” Kata salah satu Panitia dan yang bernama Oni pun maju kedepan dengan percaya dirinya, Oni juga merupakan salah satu teman Viola dari SMP. Oni pun mulai memainkan gitar yang berada dipangkuannya dengan sangat indah, Ia melantunkan lagu milik Jamrud yang berjudul Pelangi Dimatamu. Panitia maupun beberapa peserta ikut bernyanyi bersama termasuk Viola meskipun suara Viola bernyanyi lebih seperti berbisik. Perasaan Viola semakin tidak ingin cepat-cepat mengakhiri hari terakhir Mos ini, Ia seakan meresa sedih apalagi ketika melihat panitia-panitia yang sudah tak lagi memberikan hukuman.
Setelah beberapa saat bernyanyi bersama, tiba-tiba terdengar keributan didepan pintu aula, panitia maupun peserta semuanya berdiri dan terdiam seketika. Ada beberapa panitia laki-laki yang sedang berkelahi, setelah melihat itu panitia laki-laki yang lainnya pun ikut membantu temannya masing-masing hingga terjadi kekacauan. Saling pukul-memukul tak terhindari lagi, beberapa panitia perempuan terlihat hanya bisa berteriak untuk menyuruh teman-temannya berhenti berkelahi. Viola semakin takut, dari kecil Ia sangat tak suka dengan perkelahian yang saling memukul dan itu sekarang terjadi didepan matanya, Viola dapat merasa tubuhnya bergetar seakan ingin terjatuh, dilihatnya Jerry sedang berusaha memisahkan teman-temannya yang sedang berkelahi. Kemudian Shesa pun mengambil alih kelasnya, Ia menyuruh semua peserta duduk kembali. Mata Shesa terlihat mengeluarkan air mata, sedih melihat teman-temannya berkelahi. Sampai akhirnya kekacauan pun meredah, Cahya kembali mengambil alih kegiatan tersebut
“Semua peserta harap diam, dan nama yang aku panggil maju kedepan” Ucap Cahya dengan wajah serius tanpa ekspresi
“Deny Hidayat, Indriani, dan Taufik. Tiga orang yang aku sebutin maju kedepan sekarang” Lanjut Cahya namun nama yang dipanggil tak juga maju
“Yang dipanggil tadi maju dong” Sahut salah satu panitia
“Semuanya berdiri” Perintah Cahya tegas dan semua peserta pun berdiri
“Tiga orang tadi mau maju sendiri atau mau dijemput” Lanjut kembali Cahya dengan raut muka tanpa ekspresi dan tiga orang tersebut pun maju dengan raut wajah yang terlihat bingung lalu berdiri berhadapan dengan peserta lain. Dalam hati Viola masih bertanya-tanya, ‘ada apa ini sebenarnya’, bukan hanya Viola, semua peserta pun sangat kebingungan
“Peserta yang berdiri didepan sekarang, tau nggak apa salah kalian” Kata Cahya sedikit membentak dan ketiganya pun menggeleng
“Emangnya kalian nggak punya mulut yah sampe pake isyarat kepala segala” Bentak panitia lainnya
“Tidak kak, kita nggak tau” Ucap ketiga peserta tersebut hampir bersamaan.
“Eh ehh, kenapa ini? Mereka bertiga kan adik waliku, kenapa dimajuin kedepan” Sahut salah satu panitia yang merupakan walikelas dari ketiga peserta yang sedang berdiri didepan.
“Mereka ini salah Rin” Ucap Cahya pada temannya yang bernama Rini
“Salah kenapa ?”
“Mereka nggak aktif, sering nggak denger kata-kata panitia. Emangnya kalian bertiga pikir kalian bisa seenaknya disini. Belum juga masuk sekolah udah buat masalah”
“Tapi masa cuman mereka sih, masih banyak yang lain kok. Mereka ini nggak tau apa-apa” Protes Rini
“Ehh udah dong, masa kalian berdua bertengkar hanya gara-gara tiga peserta Mos ini” Sahut panitia lainnya
“Semua peserta Mos selain dari tiga orang ini, kalian terima teman kalian diginiin. Dibentak-bentak padahal nggak salah” Kata Rini
“Ehh mereka ini salah Rin” Sahut Cahya
“Tapi buktinya nggak ada kan”
“Udah dong, Rini.. Cahya..” Sahut Shesa
“Ehh peserta lainnya kenapa diem aja, hanya gara-gara kalian kita bertengkar” Sahut panitia lainnya
“Nggak solidaritas banget sih kalian. Mana kebersamaannya” Sambung Rini
“Nggak kolektif nih kalian, selama Mos ini kan Kita selalu ngajarin kebersamaan. Tapi masa pas hari terakhir Kalian malah lupain itu” Lanjut lagi Cahya. Kemudian tiba-tiba seorang guru pun datang mencoba meredahkan suasana.
“Eh sudah sudah, semua orang kan masing-masing punya kesalahan dan yang lainnya diharapkan bisa memaafkan. Jika sadar membuat kesalahan segera minta maaf, jangan ditunda-tunda karena semakin bertambahnya waktu berarti bertambahnya usia. Begitu pun ketiga orang yang didepan ini yang juga sedang bertambah usia” kemudian terlihat dari belakang barisan keramaian beberapa panitia membawa kue ulang tahun sambil menyanyikan lagu Happy Birthday.
“Selamat Ulang Tahun yahh” Ucap Cahya dan Rini secara bergantian lalu menjabat tangan ketiga peserta tersebut. Senyum pun akhirnya terlihat dari ketiganya setelah sebelumnya sempat merasa takut.
Semua peserta maupun panitia terlihat lega kemudian semuanya pun bersama-sama menyanyikan lagu Happy Birthday, setelah peniupan lilin panitia pun saling mencolek cream kue tart pada beberapa peserta maupun sesama panitia. Bermain dengan cream kue pun tak dapat dihindari hingga kejar-kejaran kue didalam aula. Viola tersenyum dan Febby pun sudah berada disamping Viola saat itu.
“Kamu sempat ketakutan yahh” Sapa Davin pada Viola. Davin merupakan teman dekat Viola sejak SMP. Viola nyaman berada didekat Davin dan begitu pun sebaliknya, mungkin karena Viola menyukai Davin namun entah mengapa saat mulai masuk SMA dan mengikuti Mos ini, perasaan Viola terhadap Davin seakan memudar bahkan Viola berpikir Ia sudah tak lagi mengharapkan hubungan yang lebih bahkan hanya ingin tetap menjalin persahabatan dengan Davin.
“Hhehe, yah nggak juga sih” Viola menyangkal namun sambil tertawa kecil
“Masa sih, muka kamu tadi itu lucu tau nggak” Ejek Davin dan Viola pun hanya bisa memukul pundak Davin dan tiba-tiba saja ada air yang sedang mengarah kearah mereka berdua, reflex Viola pun berlindung dibelakang Davin. Saat ini para panitia dan peserta sedang bermain air sampai membasahi hampir seluruh lantai aula. Menyadari aula kotor akhirnya ketua panitia pun mengambil tindakan untuk menyuruh seluruh panitia dan peserta keluar ruangan dan bersenang-senang dihalaman.
Saat semua peserta dan panitia berada di halaman, ketua osis maupun ketua panitia pun saat itu menyuruh peserta untuk berbaris kembali sesuai kelasnya.
“Mulai saat ini kalian resmi dinyatakan sebagai siswa disekolah ini” Ucap Ketua Osis tegas dengan diakhiri senyuman
“Selamat datang disekolah ini, untuk melepas ini semua silahkan lemparkan papan nama kalian masing-masing” Lanjut keua panitia
Semua peserta pun segera melemparkan papan nama mereka yang selama satu minggu mereka pakai, ini merupakan akhir MOS dan mereka semua pun telah dinyatakan resmi sebagai siswa-siswi di sekolah tersebut.
Viola sibuk melihat keselilingnya, mencari seseorang namun orang yang Ia cari tak ditemukannya.‘Kak Jerry mana yah?’ Batinnya terus bertanya pada dirinya sendiri. Saat Febby kembali menghampirinya kosentrasinya pun pecah dan melupakan orang yang dicarinya itu. Ia pun kembali disibukkan dengan berfoto-foto ria masih tetap bersama Febby dan teman-teman barunya.
                                    *           *           *

KARENA WAFER

Viola terbaring ditempat tidurnya, rasanya badannya begitu segar sehabis mandi dan melupakan aktivitasnya yang sangat melelahkan. Tiba-tiba Ia teringat sesuatu dan Ia pun segera mengambil ponselnya, baru saja Ia akan mengetik pesan namun sebuah pesan pun masuk dan Ia segera membukanya.
From : Ka’ Jerry
            “De’, waferku masih ada ama kamu kan?”
To     : Ka’ Jerry
            “Astaga iya ka’, padahal aku baru aja mau sms kka.
            Jadi gmna dong ka’? masuk sekolah kan masih seminggu lagi”
From : Ka’ Jerry
            “Yaudah, aku ambilnya dirumah kamu aja
            Bs kan?”
To     : Ka’ Jerry
            “Emm, bs sih ka’.
            Tpi emangnya kka tau rumah aku?”
From : Ka’ Jerry
            “Yah kamu kasih tau alamatnya lah de’ :D”
To     : Ka’ Jerry
            “Ohh hhehe iya yah ka’”
            Rencana’nya kka kpan mau ambil nih?”
From : Ka’ Jerry
            “Em besok aja yah de’. Bs?”
To      : Ka’ Jerry
            “Ok’ok, bs ko’ ka’ ;)
From : Ka’ Jerry
            “Yaudah ntar kamu kirimin alamatnya yah J
To      : Ka’ Jerry
            “Iya ka’ J
@Kamar Jerry
Saat adik Jerry membuka pintu kamar Jerry, dilihatnya Jerry sedang asyik lompat-lompat kegirangan sambil menggenggam ponselnya dan sesekali melihat pesan yang berada diponselnya tersebut.
“Kaka ngapain?” Tanya adik Jerry dengan wajah heran sambil mengkerutkan keningnya.
“Ehh, kamu masuk ko’ nggak ngetuk-ngetuk pintu dulu sih. Kamu yang ngapain kesini” Sahut Jerry, Ia terlihat salah tingkah
“Yee orang cuman mau kasih tau ko’, kaka dipanggil mama tuh” Omel adik Jerry
“Hah? Ngapain cha?”
“Mana aku tau, tanya aja ndiri”
“Iih jadi adik kok bawel banget sih acha” sahut Jerry
“kaka tuh bawel, udah buruan sana. Aku laporin mama loh kaka udah dapet pacar baru lagi” Ucap adik Jerry yang bernama Acha
“Iih apa’an sih kamu cha, enak aja kalau ngomong” Protes Jerry
“Ehh emang bener, tuh barusan kaka lompat-lompat nggak jelas banget. Pasti karna baru dapet gebetan baru lagi kan. Hayyo ngakuu” Acha melihat Jerry dengan tatapan menyelidik
“nggak ada cha” ucap Jerry
“Ahh kaka bohong” Acha tak mau kalah
“beneran nggak ada cha, awas kamu yah” Jerry pun beranjak dari tempatnya dan mengejar Acha adiknya yang telah lari duluan.
*     *     *
@Kamar Viola
Pagi itu matahari mulai menampakkan cahayanya, Viola pun terbangun dari tidurnya. Rasanya masih ingin Ia melanjutkan tidurnya namun ponsel yang berada tak jauh darinya terus berdering. Viola pun mengambil ponselnya, ada 2 pesan masuk
From   : Ka’ Shesa
“Sdikit pemberitahuan, untuk semua panitia dan peserta mos, besok kita mau rekreasi ke pantai, tapi pake kendaraan masing-masing yah. Yang bisa dateng aja, kalau ga’ bisa yah ga’ apa-apa J
Viola terdiam sejenak sambil berpikir Ia akan datang atau tidak, lalu Ia pun membuka pesan yang lain.
From   : Ka’ Jerry
             “Pagi Vio J udah bngun de’ ?
Viola pun membalas pesan tersebut
To        : Ka’ Jerry
             “Baru bangun nih ka’, hhehe :D”
From   : Ka’ Jerry
             “Hhehe, kecapean yah de’ ?”
To        : Ka’ Jerry
             “Yah gitu deh ka’, soalnya udah seminggu ga’ bangun lambat kyak gini :D”
From   : Ka’ Jerry
             “Hhaha, mentang-mentang libur jadi mau tiduran terus nih de’ ?”
To        : Ka ‘Jerry
             “Yah ga’ lah ka’, rugi amat libur cuma tidur mulu :D”
From   : Ka’ Jerry
             “Bener de’,
              Oh ya, kamu udah dapet pesan dari shesa ?”
To        : Ka’ Jerry
             “Iya udah ka’. Kka pergi yah ?”
From   : Ka’ Jerry
             “Ga tau de’, kamu ?”
To        : Ka’ Jerry
             “Yah ga’ yau juga ka’, kalau temen aku ga’ pergi yah aku juga ga’”
From   : Ka’ Jerry
             “Ohh, kalau kamu pergi, mau gak bareng ama aku de’ ? J
Viola sempat tersenyum, batinnya mulai berkomentar ‘yeah, Ka Jerry ngajak bareng’ saat itu juga ponselnya berdering menandakan panggilan masuk, Ia pun menerima panggilan tersebut yang berasal dari Febby.
“Vioo, kamu udah dapet pesannya kan ?” Terdengar suara Febby
“Pesan yang mana?”
“Itu loh, besok kan ada rekreasi ke pantai. Kamu ikut gak ?”
“Oh yang itu, pengen sih. Cuman kamu pergi gak ?”
“Aku juga pengen tapi gak ada kendaraan lagian kayaknya besok aku harus pergi nemenin nyokap deh, trus tadi aku juga smsan sama Davin dan yang lainnya, katanya sih mereka juga gak pergi”
“Yaudah kita gak usah pergi kalau gitu. Lagian palingan kebanyakan senior”
“Hmm iya deh kalau gitu, yaudah aku tutup yah telponnya”
“Hah? Jadi kamu telpon cuman nanyain itu doang?”
“Hhehe, iya”
“Hmm dasar, yaudah, dahh”
“Dahh” telepon terputus, Viola kembali melanjutkan pesan yang akan Ia kirim untuk Jerry.
To        : Ka’ Jerry
             “Tapi sayangnya aku ga’ ada temennya ka’ L jadi bsok aku ga’ pergi”
From   : Ka’ Jerry
             “Yahh iya deh. Kalau gitu besok aku ke rumah kamu aja yah J
To        : Ka’ Jerry
             “Hah? Ngapain ka’ ?”
From   : Ka’ Jerry
             “Ambil wafer de’. Hhehe :D”
To        : Ka’ Jerry
             “Ohh iya deh ka’ :D”
Dan seterusnya, mereka pun terus saling mengirim pesan.
           
Hari terasa singkat, matahari mulai terbenam dan langit  pun mulai gelap. Viola merasa rumahnya sangat sepi. Mama dan kakaknya pergi keluar kota, padahal besok lusa adalah hari ulang tahun Viiola. Perasaan sedih mulai hadir namun segera diabaikannya, dikamarnya Ia hanya menonton film melalui laptop atau membaca novel karena hanya itu yang dapat Ia lakukan untuk mengisi waktu kosongnya. Dalam benak Viola sempat terlintas siapakah yang memberi ucapan pertama kali untuknya. Saat itu ponselnya kembali berdering dan Ia menduga itu pesan dari Jerry, setelah dilihatnya ternyata dugaannya tepat.
From   : Ka’ Jerry
             “Hay Vio J
To        : Ka’ Jerry
             “Hay jg kka Jerry J
From   : Ka’ Jerry
             “Lagi ngapain de’? aku ganggu ga’ ?”
To        : Ka’ Jerry
             “Lagi baca novel, kka ? Ga’ ganggu ko’ ka”
From   : Ka’ Jerry
             “Ohh, Ga’ sibuk kan de’ ?”
To        : Ka’ Jerry
             “Ga’, knpa ka’?”
From   : Ka’ Jerry
             “Aku depan rumah kamu nih”
Sontak Viola pun terkejut dan segera melihat keluar dari balik jendela kamarnya dan ternyata benar Jerry sedang duduk manis di atas motornya. Lalu viola pun segera keluar rumah untuk menghampiri Jerry.
“Kak Jerry? Kaka tau rumah aku ?” Tanya Viola saat telah berhadapan dengan Jerry
“Kamu kan udah sms alamatnya Vio” Jawab Jerry tenang
“Yah, untung kaka gak nyasar. Kaka kok gak bilang  kalau mau kesini, mau ambil wafer yah kak?”
Hhehe iya sih” Jerry nyengir
“Aku pikir kakak besok ngambil wafernya”
“Yah aku cuman lagi males aja dirumah”
“Oh gitu.. Yaudah tunggu bentar, aku ambilin dulu yah kak” Viola lalu masuk kedalam rumahnya
‘Aduuuhh Jerry, masa ajak jalan aja ngak berani sih’ batin Jerry berkomentar kemudian tak lama Viola pun keluar dari rumahnya
“Nih kak wafernya” Ucap Viola sambil memberikan wafer tersebut pada Jerry
“Iya, makasih yah udah disimpenin” ucap Jerry
“Iya sama-sama kak”
“Emm, Viola.. besok kamu sibuk gak? Atau ada acara gitu Tanya Jerry
Eemmm… kayaknya gak ada deh, emang kenapa kak?
Kalau ngak ada planning, kamu bisa gak nemenin aku jalan ?”
“ha? Emm.. Jalan? Kemana ka ?” Viola terkejut dengan ajakan Jerry yang menurutnya sangat tiba-tiba
“Kemana aja, taman juga boleh. Kamu bisa gak ? kalau gak bisa yah gak apa-apa juga sih” Jerry menunduk
“Emm... tapi besok kan ka?”
“Iya besok kok”
“Iya deh, aku bisa kok kak” Ucapan Viola disambut senyuman senang oleh Jerry
“Beneran? Yess.. Yaudah, besok jam 7 malam aku jemput yah” Kata Jerry ceria
“Iya kak” Viola membalas senyum Jerry
“Yaudah, aku balik yah” Pamit Jerry sambil terus tersenyum
“Iya kak, hati-hati” Kata Viola kemudian Jerry pun berjalan menuju mobilnya lalu meninggalkan rumah Viola.
                                                      *           *           *

UNGKAPAN HATI JERRY

Keesokkan harinya, tepat jam 7 lewat 5 menit malam itu Jerry sudah berada didepan rumah Viola menunggu sampai Viola keluar dari rumahnya.
“Hai kak” Sapa Viola menghampiri Jerry, penampilan Viola malam itu seolah semakin memikat hati Jerry dengan kesederhanaannya. Jerry dan Viola pun beranjak pergi dan meninggalkan halaman rumah Viola.
Diperjalanan Jerry memikirkan tempat yang tepat untuk dikunjungi dan akhirnya Ia pun membawa Viola kesebuah tempat yang merupakan tempat favoritnya, Ia juga berharap Viola dapat menyukai tempat tersebut.
Setelah sampai ditempat tujuan, Viola segera turun dari mobil milik Jerry. Mata Viola menunjukkan kekaguman pada tempat tersebut, sebenarnya tempat itu tak asing lagi baginya hanya saja ini pertama kalinya Ia ketempat itu pada malam hari, sebuah café yang berada diatas bukit. Lampu-lampu yang menghiasi kota dan disekeliling pantai terlihat sangat jelas dan memperindah pemandangan pada malam itu.
“Gimana tempatnya, kamu suka ?” Tanya Jerry
“Suka banget kak, baru kali ini aku kesini malem” Jawab Viola
“Kamu udah pernah kesini sebelumnya ?”
“Iya pernah kak, tapi waktu itu pagi sama sore. Aku gak tau kalau ternyata tempat ini lebih kelihatan keren kalau malam”
“ehh duduk dong, kamu betah juga berdiri mulu” Ajak Jerry lalu Viola pun mengikuti Jerry yang duduk disalah satu kursi yang berada di tempat tersebut
“Oh ya, aku ngajak kamu jalan sama sms kamu terus, itu ngak ada yang marah ?” Tanya Jerry hati-hati
Ngak ada lah kak, emangnya sapa yang mau marah” Viola sedikit nyengir
“Yah sapa tau aja de, pacar kamu mungkin”
“Aku ngak punya pacar kak. Kaka ngeledek yah”
Yah aku pikir kamu udah punya pacar, aku boleh mendaftar dong de’ ?”
“Ahhaha.. kaka becanda yah? ngak lucu tau kak” Viola tertawa garing
“Aku serius Vio, ngak becanda. Boleh ngak ?” Jerry mulai menatap Viola
“Kaka apaan sih. Kaka ada-ada aja deh”
Hmm jujur de, sebenarnya aku suka ma kamu dari hari pertama mos, sekarang aku hanya ingin kita punya hubungan lebih dari teman. Boleh de ?” Jerry terus menatap Viola dengan keseriusan dimatanya. Namun Viola tak berani membalas tatapan serius Jerry, Ia merasa ini seperti mimpi dan mencoba mencairkan suasana
“Lebih dari teman ? maksud kaka hubungan kayak kaka adik gitu. Kita jadi sodara kak” Viola mencoba mengelak
“Gimana yah aku ngejelasinnya” Jerry mulai kehabisan akal menghadapi sikap polos Viola kemudian melanjutkan kembali perkataannya
“Hmm, aku sayang kamu Vio. Kamu mau jadi pacar aku ?" Jerry pun mengungkapkan perasaannya, Viola sangat terkejut, pikirannya tak menentu dan entah mengapa Viola tiba-tiba teringat Davin. Namun pikiran tentang Davin segera dihilangkannya, Ia ingin melupakan perasaannya yang sempat menyukai Davin.
“Apa yang kaka suka dari aku ?” Tanya Viola pelan
“Aku ngeliat kamu orangnya simple, trus baik, ngak sombong, murah senyum juga, pokonya kamu lain lah dari yang lainnya” Jawab Jerry jujur
“Kalau menurut kamu, aku gimana ?” Jerry balik bertanya
“Emm, kaka orangnya baik, jujur, dewasa, sopan yah pokoknya gitu deh kak
“Jadi gimana de ?” Jerry menunggu kepastian
“Emm apa kaka ngak terlalu cepat ambil keputusan ? Kita baru aja kenal kak, kaka belum tahu sifat-sifat jelekku, aku hanya ngak mau nantinya kaka nyesal udah suka ama aku.. aku ini banyak kekurangan kak, belum lagi sifatku yang masih kekanak-kanakan, manja, dan yang lainnya. Aku takut kaka ngak bisa terima itu” Viola mencoba dewasa dan berpikir jauh kedepan.
“Apa pun kekurangan kamu, aku bisa terima de. Nyesal itu ngak ada sebelum, tapi sesudah.. jadi buat apa aku nyesal, aku kenal kamu orangnya gini, buat apa disesalkan” Jerry sempat terdiam dan meneruskan perkataannya
“Kalau memang kamu ngak bisa, yah ngak apa-apa.. aku hanya ngak mau berharap sesuatu yang ngak pasti, buat apa dipaksakan. Hanya itu aja” Jerry mulai pasrah
“Ka, kayak’nya aku butuh waktu. Lagian aku juga ngak mau ngecewain Ka Jerry.. aku hanya butuh waktu buat kenal Ka Jerry lebih jauh dan kayaknya Ka Jerry juga butuh waktu buat yakinkan hatinya kaka, beneran sama aku atau gimana.. mungkin untuk saat ini kita jadi kaka ade aja dulu ka. Aku harap kaka bisa ngerti” Viola merasa itu adalah kata-kata terbaik untuk disampaikannya pada Jerry. Ini memang terlalu cepat menurutnya, Ia juga ingin melihat keseriusan Jerry padanya. Viola juga tak ingin Jerry hanya mempermainkannya setelah Ia mengorbankan perasaan dan waktunya hanya untuk kesenangan sementara.
“iya de, aku bisa ngerti kok” Jerry tersenyum. Seakan ingin meredahkan suasana Viola pun mengajak Jerry agar segera pulang dan Jerry pun mengabulkannya.
Sesampainya didepan rumah Viola, Jerry pun pamit pulang sambil tersenyum dan meninggalkan Viola yang masih melihatnya sampai hilang dari pandangan.
*   *    *
Tepat jam 12 malam, ponsel milik Viola terus berdering menandakan pesan masuk, namun itu diabaikannya dan setelah jam 7 pagi barulah Ia terbangun. Ia melihat ponselnya ada 1 panggilan tak terjawab dan itu adalah Jerry lalu Ia membuka pesan masuk yang menumpuk, ini merupakan ulang tahun Viola yang ke 15tahun. Jerry orang pertama yang memberinya ucapan selamat ulang tahun, kemudian Davin dan setelah itu Febby sahabatnya serta teman-teman dekatnya yang lain. Setelah membalas semua pesan tersebut, Viola masih tetap terbaring ditempat tidurnya sambil berpikir ‘tahun ini, dirumah benar-benar sangat sepi’ Ia lalu teringat pada mamanya yang berada diluar kota. Tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tak ada acara apa-apa hari ini karena tak ada mamanya yang menyiapkan segala keperluan meskipun hanya sekedar acara makan-makan dirumahnya, itu sempat membuat Viola sedih belum lagi papanya yang sibuk bahkan mungkin tidak mengingat hari ulang tahunnya. Kemudian ponselnya kembali berdering dan itu adalah pesan dari mamanya yang memberikan ucapan disusul dengan papanya, hanya senyuman yang dapat Ia lakukan saat membaca pesan tersebut.
Hari itu terasa singkat, tak ada yang special menurut Viola kecuali ucapan dari teman-temannya yang terus datang melalui pesan singkat serta sms dari Jerry yang menemaninya sepanjang hari. Hingga malam tiba, Viola hanya asyik membaca novel dikamarnya tanpa mengetahui bahwa Febby telah mengajak Davin dan temannya yang lain untuk memberikan kejutan pada Viola malam itu.
Saat Viola sedang asyik membaca novel dikamar, tiba-tiba tantenya pun memberi tahu bahwa ada temannya yang sedang menunggu diteras rumah. Viola pun sempat heran dan segera keluar dari kamarnya menuju teras rumah. Ketika Ia membuka pintu tiba-tiba saja dihadapannya ada Febby yang membawa hadiah dan ada Davin yang membawa kue tanpa lilin dan diatas kue tersebut bertuliskan Happy Birthday ‘VIO’ serta dibelakang mereka berdua ada teman Viola yang lain sambil mereka menyanyikan lagu Happy Birthday untuk Viola. Langsung saja Viola memeluk Febby
“Makasih banyak yahh” Kata Viola sambil terus memeluk Febby
“Iya sama-sama, oh ya nih ada kado” Balas Febby dan memberikan hadiahnya untuk Viola saat Viola telah melepaskan pelukannya.
“Aduhh, ngak ada lilinnya nih” Sahut Davin sambil tertawa kecil
“Ngak apa-apa, lilin kan ngak penting. Kalian udah datang kesini ngasih surprise itu udah lebih dari cukup buat aku” Ucap Viola dan melanjutkan ucapannya
“Yaudah masuk yuk”
Sesampainya diruang tamu Viola pun mengambil piring dan sendok untuk tempat kue tersebut lalu kue tersebut dipotongnya untuk dibagikan pada teman-temannya saat itu. Suasana yang hidup kembali dirasakan Viola, Ia sangat senang dengan kejutan yang diberikan oleh teman-temannya. Sedikit mencuri waktu, Ia menyempatkan untuk bercerita dengan Febby tentang Jerry
“Febby” Panggil Viola pelan agar teman-temannya yang lain tak mendengar, keributan mereka memang membuat suara Viola tak didengar
“Kenapa Vio?” Tanya Febby penasaran, Ia tahu jika Viola sudah memperkecil suaranya berarti ada sesuatu yang ingin Viola katakan
“Ka Jerry” Ucap Viola masih tetap mengecilkan suaranya
“Kenapa Ka Jerry?” Febby makin penasaran
“Ka Jerry nembak aku tadi malem” Bisik Viola
“WHAT?” Febby tiba-tiba membesarkan suaranya dan membuat teman-teman yang lainnya menoleh kearah Febby dan Viola
“Sssssttt” Viola memperingatkan Febby agar tak terkejut
“Kenapa kalian?” Tanya Davin
“Ngak kenapa-kenapa kok, lanjut aja ceritanya” Viola mengelak
“Oh yaudah” Ucap salah satu temannya, untung saja mereka tetap melanjutkan obrolan mereka
“Jangan kenceng-kenceng Feb” Viola menarik tangan Febby agar sedikit menjauh dari teman-temannya
“Kecoplosan, kenapa bisa sih?” Tanya Febby memperkecil suaranya
“Mana aku tau” Jawab Viola juga dengan memperkecil suaranya
“Dia serius?”
“Kayaknya sih serius Feb, aku juga ngak tau sih”
“Trus, gimana?”
“Gimana apanya?”
“Kamu terima ngak Vio?” Febby terlihat serius menunggu jawaban Viola
“Aku tolak, tapi tepatnya aku belum jawab sih” Viola bimbang
“Trus Davin? Kamu udah gak suka lagi sama dia?”
“Kayaknya sih gitu, aku juga gak tau kenapa sih. Kayaknya emang aku ama Davin lebih cocok jadi teman aja deh”
“Yahh Vio galau, ulang tahun jangan galau-galauan dong Vio” Febby menyemangati
“Hmm, menurut kamu gimana?” Tanya Viola
“Kalau aku sih terserah kamu aja, perasaan kamunya gimana, ama sapa, Davin atau Ka Jerry?”
“Aku juga bingung”
“Hmm.. oh ya Vio, aku sempat baca ditwitter Ka Jerry” Febby mengingat sesuatu
“Hah? Apa’an? Di tweetnya yah?” Viola penasaran
“Lupa, tapi yang jelas, dia galau gitu, kamu terima apa ngak. Emangnya kamu jawab apa sih Vio?”
“Hmm aku cuman bilang, untuk saat ini kita kaka ade aja dulu”
“Berarti kamu masih kasih harapan dong ke dia”
“Bukan harapan sih, cuman aku pengen liat keseriusan dia aja. Aku ngak mau kali kalau sampai cuman dimainin doang, lagian kan Ka Jerry itu kaka kelas 12 pula sementara aku cuman adik kelas 10 yang baru masuk”
“Yahh, jadi Davin?”
“Ih kamu Davin mulu deh. Aku kan udah bilang, kayaknya aku sama dia itu cocoknya jadi teman aja. Lagian kayaknya dia juga berpikir begitu, dia kan orangnya cuek”
“Tapi... ehh, berati kamu suka nih sama Ka Jerry?”
“Aduuhhh... aku ngak tau. Galau beneran nih” Rengek Viola
“Udah udah, kita liat aja nanti. Lagian Ka Jerry masih tetep sms kamu juga kan?”
“Iya masih sih”
“Yaudah, katanya kamu mau liat keseriusan dia”
“Iya deh, doain aku yah”
“Hah? Doain apa?” Febby bengong
“Biar ngak galau. Hhehe” Viola nyengir
“Dasar lu, yaudah gabung ama mereka yuk” Ajak Febby dan mereka berdua pun kembali bergabung bersama dengan teman-temannya yang lain.
Malam itu membuat Viola sangat bahagia, selain dapat berkumpul dengan teman-temannya, Jerry juga setia menemaninya walaupun hanya lewat sms. Setelah menghabiskan malam bersama akhirnya teman-teman Viola pun bergegas pulang karena jam telah menunjukkan tepat pukul 11 malam
“Wahh, bisa-bisa ngak dibukain pintu nih aku” Sahut salah satu teman Viola
“Untung aku bawa kunci rumah” Sahut Febby
“Jadi mau balik sekarang nih ?” Tanya Davin
“Iya lah, balik sekarang yuk” Jawab Denis salah satu teman Viola
“Hmmm ayo” Ucap Davin
“Yaudah, kalau semuanya dah mau balik sekarang. Hati-hati yah” Ucap Viola lalu mengantarkan semua temannya keteras rumah
“Ehh iya, sekali lagi makasih yah surprisenya” Kata Viola
“Oke sip, kamu kebanyakan bilang makasihnya deh” Balas Davin
“Hehehe, soalnya kalau ngak ada kalian ulang tahunku rasanya suram” Viola tertawa kecil
“Iya iya Vio, sama-sama. Yaudah kita balik yah” Sahut Febby memeluk Viola dan bergegas meninggalkan rumah Viola. Akhirnya semua teman-teman Viola pun pulang dan rumah seketika menjadi sangat sepi.
Setelah membereskan ruang tamu yang agak berantakan Viola segera masuk kekamarnya, Ia ingin segera tidur namun sedikit pertanyaan muncul dibatinnya ‘tumben.. kok ka’ Jerry ngak sms lagi yah. Apa dia udah tidur?’  saat Viola baru saja memejamkan mata tiba-tiba ponselnya berdering, pesan dari Jerry

From : Ka’ Jerry
“Maaf mengganggu de, kka cman mau blng ssuatu & mngkin ini bagi ade ga’ pnting tapi buat kka ini perlu dibilang
Jujur de, sbenarnya kka syng ma ade, kka suka ma ade. Tapi kka ga brharap blasannya krna kka liat slma ini ade ga mngharapkan kka jg. Tujuan kka saat ini bkn mau tembak ade, kka cman ingn bilang prasaan kka ke ade. Kka cman ga mau brhrap yg ga pasti. Kka bkn ga optimis tapi kka udah rasa dari caranya ade sms ke kka, di situ mnurut kka cerminan prasaannya ade ke kka. Kka jg ga mngkin maksain ade buat suka ma kka.
Maaf ga bisa bilang ini lngsung de, mngkin krna waktunya ga ada. Mksih de, kmarin-kmarin udah ngasih waktunya buat kka”
Tanpa Viola sadari tiba-tiba saja air matanya jatuh, perasaannya tak menentu. Entah mengapa tiba-tiba saja terlintas dipikiran Viola tentang perasaannya pada Davin teman dekatnya, Ia benar-benar bingung dengan perasaannya sendiri. Namun sepertinya Viola mulai merasakan apa yang dirasakan oleh Jerry, sedih karena tak dapat menerima Jerry. Ia ingin melihat ketulusan Jerry, bagaimana pun juga Jerry masih merupakan orang baru yang belum lama Ia kenal meskipun sudah merasa dekat dengan Jerry namun bagi Viola itu belum cukup. Lagi-lagi Ia tidak ingin dipermainkan namun selain itu Viola juga belum yakin dengan perasaannya pada Jerry karena Ia hanya menganggap Jerry sebagai kakak untuknya. Lalu dengan pelan Ia pun mencoba membalas pesan Jerry
To     : Ka’ Jerry
“Iya ka’, sekarang aku tau gimana perasaan kka. Maaf yah ka’, tapi saat ini aku bener-bener ingin kita jadi kka ade dulu.”
Viola menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan berharap Jerry mengerti maksudnya, tak lama ponselnya pun berdering kembali
From : Ka’ Jerry
            “Iya de, aku ngerti kok J
To     : Ka’ Jerry
           “Makasih ka’ J
            Bdw kka belum mau tidur?”
From : Ka’ Jerry
           “Ini baru aja mau tidur Vio
            Kalau kamu ?”
To     : Ka’ Jerry
           “Ohh, aku juga dah tidur nih ka’”
From : Ka’ Jerry
           “Yaudah tidur aja,
            Good nite, nice dream yah Vio J

To     : Ka’ Jerry
           “Iya, kka juga
            Good nite, sleep well ka’ Jerry J
Viola meletakkan ponselnya disamping meja yang berada disamping tempat tidurnya, Ia lalu mencoba menenangkan pikirannya agar menjadi lebih jernih dan menutup mata sambil berharap hari esok akan menjadi lebih baik lagi.
            *           *           *

AWAL KEBIMBANGAN

Satu minggu berlalu sudah, liburan telah berakhir dan sekolah siap untuk memasuki tahun ajaran baru. Hari ini merupakan hari pertama murid kelas 10 masuk sekolah baru mereka.
Saat tiba disekolah barunya, Ia sangat merasa asing dengan orang-orang yang baru Ia lihat, hanya Febby yang tetap setia bersamanya. Hari ini juga merupakan pembagian kelas mereka. Nama Viola telah terdaftar sebagai murid kelas X3 sedangkan Febby terdaftar dikelas X2, sekelas dengan Davin dan juga beberapa teman Viola yang dari sekolah yang sama. Sedangkan dikelas Viola hanya ada Ia dan salah seorang temannya saja yang berasal dari sekolah yang sama.
“Huuuaah... pengen sama-sama ama kalian” Rengek Viola
“Kamu sih kepisah” Sahut Davin lalu segera masuk kedalam kelas X2
“Kalau boleh milih aku juga ngak mau pisah kelas” Protes Viola
“Yaahh trus mau gimana lagi” Sahut Febby
“iya sih, yaudah” Viola pasrah
“Udah, yang penting kan kita masih sebelahan kelas” kata Febby
“Iya, yaudah kalau gitu. Aku dah pasrah nih”
“Jangan manyun gitu dong”
“Ngak lagi” Viola menyangkal
“Kalau gitu kita masuk aja dulu kekelas kita masing-masing” Ucap Febby
“yaudah kalau gitu, aku masuk kelas yah, dahh” Sahut Viola
“Iya aku juga mau masuk, dahh” Balas Febby lalu mereka berdua pun masuk kekelas masing-masing.
Viola benar-benar merasa asing dikelas barunya, namun setelah berkenalan dengan beberapa teman baru yang berada dikelas tersebut, Ia agak lega.
                                         
2 Bulan Kemudian..
Siang itu pelajaran terakhir akan segera dimulai, sambil menunggu guru masuk Viola dan teman-temannya menghabiskan waktu untuk bersantai.  Viola telah terbiasa dengan teman dan kelas barunya itu, rasa nyaman berada didekat teman serta kelasnya mulai terasa. Walaupun begitu, Ia dan Febby tetap bersama saat pulang sekolah, mereka seakan tak merasa keberatan lagi dengan terpisahnya kelas, persahabatan mereka tetap terjalin.
Viola dan Jerry semakin dekat, ternyata meskipun Viola sempat menolak cinta Jerry namun Jerry tak menyerah, Ia tetap berusaha mendekati Viola.
Viola merasa nyaman jika berkomunikasi dengan Jerry meskipun hanya sekedar saling mengirim pesan lewat ponselnya. Ia mulai tertarik dengan kedewasaan Jerry, baru kali Ia dekat dengan kaka kelas seperti Jerry. Mungkin tanpa disadarinya Viola telah menyukai Jerry.
“Viiooo” panggil Shelli teman sekelas Viola yang dekat dengannya
“Apa’an sih, jarak kita dekat nih jangan teriak-teriak deh” Omel Viola yang sedang asyik mendengar lagu dari ponsel milik temannya, Shelli pun mendekat kesamping Viola
“Ka Jerry itu siapa sih?” Tanya Shelli dengan mengecilkan suaranya sambil tersenyum menyelidiki
“Ehh.. kamu tau dari mana Ka Jerry ?” Viola terkejut
“Kamu baca sms aku yah?” Sambungnya, lalu Viola pun segera merebut ponselnya dari tangan Shelli namun Shelli dengan cepat menjauhkan ponsel tersebut hingga tak dapat dijangkau Viola
“Jawab dulu dong, itu siapa? Pacar kamu yahh” Shelli semakin penasaran
“Ngak, bukan kok.. kita belum pacaran” Ucap Viola mengatakan apa yang terlintas dipikirannya
“Hah belum pacaran, berarti nanti udah dong” Shelli nyengir
“Ehh.. aduhh.. ngak.. bukan kok” Viola gelagapan
“Hhaha hayyoo ngakuu” Shelli makin menyelidiki
“Aduuhh... Shelli kepo deh” Viola manyun
“Biarin, makanya jawab dulu dong. Daripada aku teriak-teriak Ka Jerry gimana. Lagian masa sama aku doang kamu rahasiaan gitu sih” Shelli makin penasaran
“Wahh parah banget sih kamu. Yaudah deh, iyaiya aku bakal ceritain tantang Ka Jerry tapi jangan ngasih tau sapa-sapa yah” Viola pasrah
“Nah gitu dong, dari tadi kek” Shelli lega
“Sini dong mendekat” Viola lalu menceritakan tentang dirinya dan Jerry dari awal mereka bertemu sampai saat itu. Shelli terlihat sangat memperhatikan setiap kata yang diucapkan Viola.
“Ohh jadi gitu” Shelli mangut-mangut
“Iya”
“Trus trus, gimana?” Tanya Shelli
“Gimana apanya, yaudah  gitu aja” Jawab Viola
“iih.. perasaan kamu sama Ka Jerry”
“Yahh” Viola terdiam
“Aku ngak tau” Sambungnya
“Kok ngak tau sih, kalau aku liat dari cara kamu sms ke dia, kayaknya kamu juga suka deh sama Ka Jerry” Kata Shelli dan Viola pun terdiam lalu berpikir
“Selama ini kamu senang kan kalau dia sms?” Shelli terus bertanya
“I..iya sih, trus kalau dia ngak sms kayak gimanaaa gitu” Kata Viola apa adanya
“Nah bener, berarti kamu suka sama Ka Jerry, trus sms Ka Jerry juga kamu ngak hapus-hapus kan. Padahal tadi aku cuma iseng doang loh liat-liat pesan kamu”
“Masa sih, aku sama sekali ngak sadar loh”
“Yahh kamu gimana sih, nanti kamu tunjukin yah ke aku yang mana Ka Jerry”
“Iyaiya, tapi dia lagi di Makassar tuh”
“Ngapain?”
“Mana aku tau, ada urusan kali. Lagian udah 3hari ini dia ngak pernah sms aku lagi” Viola menunduk dan mukanya terlihat murung
“Kenapa ngak kamu aja yang sms dia duluan. Kali aja dia nunggu sms dari kamu”
“Yahh masa aku harus sms dia duluan sih, selama ini aku ngak pernah sms dia duluan. Ngak ahh”
“Yaudah kalau gitu sabar aja, kalau dia kangen yah pasti dia juga bakal sms kamu kok” Shelli menyemangati
“Iyaiya, ternyata kamu ngak cuman pinter nanya doang tapi juga bisa ngasih saran yah” Ucap Viola sambil tertawa kecil
“Shelli gitu lohh” Ucap Shelli bangga kemudian juga tertawa bersama Viola
Tiba-tiba guru mereka pun datang, kemudian mereka berdua pun duduk dikursinya masing-masing begitu pun dengan siswa yang lainnya. Anjas yang merupakan ketua kelas pun memberi perintah agar semua siswa kelas X3 memberi salam
“Asslamualaium bu” Sahut seluruh siswa serempak
“Walaikumsalam, ibu ngak lama. Soalnya guru mau rapat setelah ini, jadi ibu hanya masuk dan memberikan tugas kelompok untuk kalian. Besok semuanya harus dikumpul” Kata guru tersebut tegas
“Coba buka LKS masing-masing halam 27 Uji Kompetensi 2 nomor 1 sampai 10” Lanjutnya
“Wahh, kebanyakan bu” Sahut siswa satu per satu
“Ini tentang Logaritma bu, susah” Sahut Viola
“Yasudah kalau begitu, kerjakan sampai 5 saja” Ucap guru tersebut yang disambut sorakan gembira dari seluruh siswa
“Tapii, buka halaman 35 uji kompetensi 1 nomor 1 sampai 5. Minggu lalu ibu sudah jelaskan tentang Fungsi Kuadrat kan” Sambungnya dan seluruh siswa pun hanya bisa pasrah
“Jangan lupa hari Senin dikumpul yah. Ibu pergi dulu” Guru tersebut pun segera pergi meninggalkan ruangan kelas
“Gila yah, baru juga masuk langsung ngasih tugas, mana banyak lagi tugasnya” Sahut Shelli
“Iya nih, tak adakah waktu untuk kita weekend dengan tenang tanpa tugas. Mana aku sama sekali ngak ngerti logaritma lagi” Ucap Viola
“Iya nih, kita kerja bareng yuuk” Ajak Shelli
“Jangan cuman kita berdua doang, dijamin nih tugas ngak bakal selesai” Komentar Viola
“Hhehe iya bener, ajak Anjas yuk, dia kan pintar ama yang kayak beginian” Usul Shelli
“Yah benar” Viola membetulkan
“Anjas, kita kerja bareng yuuk” Sahut Viola pada Anjas yang berada tak jauh dari mereka berdua
“Wah kebetulan banget, ntar malem Dayat, Hugo sama Riskhy mau kerumah aku juga tuh. Katanya mau ngerjain nih tugas sama-sama” Kata Anjas
“Ikutan doong” Sahut Putra yang mendengar percakapan mereka
“Waah ngak ngajak-ngajak nih kalian” Sahut Diani salah satu teman mereka
“Yaudah kalau gitu entar malem yang mau ngerjain tugas sama-sama kerumah aku aja” Teriak Anjas agar semua teman-temannya dapat mendengar
“Anjas ngak usah teriak-teriak dong” Ucap Shelli
“Lagian, ntar dikirain Kita ngak ngajak yang lain lagi”
“Yaudah, beneren entar malem yah, jam 7 aja” Kata Viola
“Iya, aku tunggu kalian jam 7, jangan ngaret. Kalau gitu aku duluan yah” Ucap Anjas lalu pergi meninggalkan ruangan kelas bersama Hugo dan Dayat
“Yah, malem minggu bukan jalan-jalan malah pake buat ngerja tugas deh. Oh ya, entar kita bereng yah Shel” ucap Viola
“iya tuh.. Oke, jam 7 jemput aku yah. Ntar kita skalian jalan-jalan aja, tapi jalan-jalannya kerumah Anjas” Shelli tertawa kecil
“Hhaha iya bener, balik yuk”
“Yuk” Shelli dan Viola pun bergegas untuk meninggalkan kelas yang mulai sepi.
                        ***
@Kamar Viola
Malam itu Viola terbaring diranjangnya, rasanya Ia ingin segera tidur setelah menghabiskan malam bersama teman-temannya, selain mengerjakan tugas mereka juga melakukan banyak hal dirumah Anjas seperti membeli gorengan lalu mereka makan bersama sambil bercanda ria. Lega rasanya karena besok adalah hari minggu dan Viola dapat bangun lambat seperti hari minggu biasanya. Baru saja Ia menutup mata, ponselnya pun berdering dan segera dibacanya pesan tersebut
From : Ka’ Jerry
           “Hai vio,
            Belum tidur de’ ?”
Viola lebih terlihat semangat dan tersenyum setelah membaca pesan dari Jerry, sudah 3hari ini Jerry tak lagi mengirim pesan untuknya.
To     : Ka’ Jerry
           “Hai jg ka’jerry
            Belum ka’, kka ?”

From : Ka’ Jerry
           “Belum lah de’ kalau udah mana bisa aku sms kamu :D
            Apalagi udah beberapa hari ga dngar kabar dari kamu. hhehe”
Viola tersenyum dan membalas lagi pesan dari Jerry begitu pun sebaliknya, mereka melakukan kebiasaan mereka berdua seperti hari-hari sebelumnya yaitu saling mengirim pesan atau smsan. Hingga setelah menghabiskan  waktu sekitar 1jam untuk smsan, Jerry teringat sesuatu dan ingin memberitahukannya pada Viola
From : Ka’ Jerry
           “De’,aku boleh cerita sesuatu ngak?”
To     : Ka’ Jerry
           “Kka mau cerita apa? Cerita aja ka’”
From : Ka’ Jerry
“Emm gini de’ critanya, skrng aku lagi punya pacar.. tapi jujur, aku kurang syang ma dia. Awalnya aku cuman dekat doang ma dia, cuman karena ngak mau nyakitin dia jadinya kita pacaran. Tapi, skali lagi aku jujur, aku kurang syang ma dia karena.............
Menurut kamu, apa yg hrus aku lakuin de’? aku ga mau jadinya permainin  cwek.. aku ga mau kena karma”
Jleek! Viola terdiam, tangannya yang tadi memegang ponsel sekarang terjatuh dengan lemas disamping bantalnya. Entah apa yang Ia pikirkan dalam diamnya, hatinya seakan sedih teringat perasaannya dengan Jerry ‘kenapa saat aku udah mulai suka kaka malah pacaran sama orang lain. Jadi selama 3hari ini ngak kasih kabar ternyata kaka pacaran ama orang lain batinnya mulai berkomentar, ingin rasanya apa yang ada dalam batinnya itu Ia tulis untuk dikirimkan pada Jerry, namun Ia tetap berusaha menenangkan pikirannya lalu mulai mencoba membalas pesan tersebut
To     : Ka’ Jerry
“Yah.. sbenarnya trserah kka aja sih itu. Jujur emang susah ka’, tapi lebih baik. Kalau mnurut’ku sih kka coba aja buat sayang sma pcar’nya kka itu, mngkin aja lambat laun kka bisa sayang spenuhnya ^^
Usahain jangan kecewain orng yg sayang sama kka”
Merasa itu adalah kata-kata yang terbaik untuk Jerry, Viola pun mengirimnya dan tetap berusaha untuk tidak memikirkan perasaannya saat itu. Sebenarnya Ia ingin bertanya siapa pacar Jerry, kapan mereka pacaran, lalu mengapa Ia tak bisa sayang dengan pacaranya itu, karena apa, apa karena dirinya. Namun Ia terus berusaha untuk melupakan pertanyaan-pertanyaannya itu.
From : Ka’Jerry
“Tapi, kalau aku sayangnya ma orang lain?? Salah?? Aku udah coba de’.. susah banget..”

To     : Ka’Jerry
“Yah,, kalau sdh bgtu smua trgantung ma kka, itu hnya perasaannya kka yg tau.
Paling ga kka hargai orang yg sayang ma kka ^^”

From : Ka’ Jerry
           “Mnghargai tdk hrus pcaran kan??
Lagian aku pcran ama dia krna orang yg aku sayang itu kayaknya ga respon ma aku, jadi aku coba cari yg lain. Aku juga ga’ mau orng yg aku sayang itu terima tapi ga bener-bener sayang”
‘Apa maksudnya ini, kaka nyinggung aku? Aku ngak respon gimana ka?’ batin Viola terus berkomentar. Ingin sekali rasanya Ia mengatakan itu pada Jerry namun Ia terus mengurungkan niatnya. Ia hanya bisa memendam perasaannya
To     : Ka’ Jerry
             “Hmm betul juga sih yg kka bilang,
              Yah ikut kata hati’nya kka aja kalau gitu”

From : Ka’ Jerrry
           “Kalau mau ikuti kata hatiku, aku sayang ama orang lain
            Tapi, aku kayak digantungin ama orang itu.. tapi ga tau lah, masih ada harapan ga yah
            Biar aja deh..”
To     : Ka’ Jerry
            “Hmm optimis aja kka, pasti ada jalan kok ;) aku rasa masih ada harapan
             Emm bdw kka blum ngantuk nih? Kayaknya aku udah mau tidur deh ka’”
Viola berniat untuk mengakhiri percakapan ini, Ia seperti ingin melupakan apa yang dikatakan Jerry malam ini padanya. Perasaanya benar-benar campur aduk sekarang. Viola tak peduli lagi apa balasan pesan dari Jerry, Ia meletakkan ponselnya diatas meja yang tak jauh dari tempat tidurnya, lalu mulai menutup mata meskipun didengarnya ponsel kembali berdering, Ia tetap tak ingin bergerak sama sekali dan tetap pada posisinya mencoba menenangkan pikiran dan melupakan kesedihan dihatinya kemudian tertidur.
          ***
Di Minggu pagi ini, seperti biasa Viola selalu bangun lambat, biasanya jika ada janji atau planning yang Ia buat dengan temannya meskipun hanya sekedar jogging barulah Ia akan bangun sepagi mungkin namun tidak dengan pagi ini. Saat Ia terbangun dilihatnya jam telah menunjukkan pukul 8 pagi, Ia ingin tidur kembali namun mengingat pekerjaan mingguannya dirumah yaitu mengepel lantai yang harus Ia kerjakan, dengan masih sedikit rasa ngantuk Ia pun bangun dan segera membereskan kamarnya yang lumayan berantakan. Ia melakukan aktivitasnya dihari minggu seperti biasa sambil menunggu datangnya hari esok. Hari ini tak ada pesan masuk dari Jerry, entah mengapa hari ini Ia memang menginginkannya. Ia tak ingin dulu teringat oleh Jerry yang sekarang telah menjadi milik orang lain. Hari ini benar-benar sederhana, hingga malam tiba hanya Ia habiskan untuk menonton tv dan tidur lebih cepat hingga datangnya pagi.
Pagi itu terlihat mendung, membuat upacara pada senin itu begitu tenang karena cuaca yang mendukung. Selesainya upacara berlangsung seluruh siswa pun masuk kekelasnya masing-masing begitu juga dengan Viola namun hari ini Ia sedikit berbeda dari biasanya yang selalu penuh canda.
“Vio kenapa sih? Kok kayak orang putus asa gitu” tegur Shelli ketika melihat Viola yang duduk dikelas tanpa ekspresi diwajahnya
“Nggak kenapa-kenapa kok” ucap Viola datar
“Aduuhh.. lagi ada masalah yah? cerita dong. Kali aja abis cerita bisa agak lega” Shelli sangat tak menyukai jika teman candanya kehilangan semangat seperti itu.
“Hhhhh” Viola menarik napas panjang lalu menunduk sebentar dan kembali melihat Shelli yang menunggunya berbicara
“Aku sendiri juga nggak tau aku kenapa. Cuman lagi nggak mood aja” Ucap Viola masih dengan tanpa semangat
“Yaahh kenapa bisa nggak mood? Vio galau yaahh”
“Hah? Galau?” Viola lalu berpikir dan menyadari mengapa Ia seperti ini, perasaannya benar-benar tak menentu.
“kayaknya galau beneran niih” tebak Shelli melihat ekspresi Viola yang membingungkan
“Hhuuuaa” Rengek Viola sambil menjatuhkan pelan kepalanya keatas meja yang berada didepannya
“Aduuhh.. jangan galau gitu dong Vio. Kenapa emangnya? Ka Jerry yah?” Tebak Shelli namun Viola hanya semakin merengek dan menaikkan kembali kepalanya lalu melihat Shelli
“Aku ngak tahu” Jerit Viola, kemudian Shelli pun melihat Viola sebentar lalu segera meminjam ponselnya
“Hp kamu mana? Sini’in dong” Pinta Shelli sambil mengulurkan tangannya kemudian Viola tanpa berkata apa-apa lagi Ia segera memberikan ponselnya pada Shelli dan Ia pun menjatuhkan kembali kepalanya keatas meja. Shelli yang telah menggenggem ponsel milik Viola segera membuka pesan dari Jerry hingga Ia menemukan satu pesan yang membuatnya terkejut dan terpaku melihat pesan tersebut.
“Jadi karena ini” Ucap Shelli yang tak dihiraukan oleh Viola
“Aduuuh Vio sabar yah” Kata Shelli sambil mengelus-ngelus pundak Viola
“Aku rasa Ka Jerry itu terpaksa kok pacaran ama orang lain, kamu sih nggak kasih kepastian ke dia” komentar Shelli lalu Viola pun segera menaikkan kepalanya dan memandang Shelli
“Maksud kamu?” ucap Viola
“Yah, kamu belum bilang perasaan kamu ke Ka Jerry kan?”
“Emangnya perasaan aku gimana” Viola terlihat bingung
“Ya ampun, Violaa kamu tuh suka juga kan sama Ka Jerry” Shelli meyakinkan
“Masa sih? Menurut kamu gitu yah” Viola tak yakin
“Terus kalau emang kamu nggak ada feeling sama Ka Jerry ngapain kamu galau badai gini pas tau Ka Jerry punya pacar” Mendengar perkataan Shelli, Viola hanya terdiam dan mengalihkan pandangannya dari Shelli, berpikir akan perasaannya terhadap Jerry ‘Aku bener-bener suka yah sama Ka Jerry? Kok bisa? Aku kenapa nggak sadar’ batinnya mulai berkomentar. Shelli yang menyadari bahwa Viola sedang memikirkan perasaannya hanya bisa terdiam menunggu Viola berbicara
“Aku bener-bener bingung Shell, aku sendiri juga nggak yakin sih kalau ternyata aku juga jadi suka beneran ama Ka Jerry. Awalnya emang aku suka ama dia, tapi hanya sebagai kakak” Jelas Viola
“Terus? Sekarang gimana?”
“Yaaahh kalau sekarang sih.. aku juga nggak tau” Viola menunduk
“Kenapa nggak yakin? Davin?” Mendengar Shelli menyebut nama Davin, Viola segera memandang Shelli
“Hah? Kok jadi Davin sih” Viola mengkerutkan keningnya
“kamu suka juga kan sama Davin?” Tanya Shelli yang membuat Viola makin menarik nafas panjang
“enggak kok, udah nggak lagi” Ucap Viola spontan
“udah nggak? Berarti dulu pernah dong” Shelli menebak sambil tertawa kecil
“Yaaah iya sih, tapi itu kan dulu. Ehh kamu kok tau Davin?” Tanya Viola heran
“Banyak gosip lagi, ada juga yang bilang Davin itu mantan kamu lah” Jawab Shelli apa adanya
“Hah? Sapa yang bilang gitu?” Viola terkejut
“Nggak tau.. dulu waktu tes masuk SMA, kamu sering boncengan ama Davin kan?”
“Iya sih, kamu tau dari mana? Kamu liat yah” Tanya Viola menyelidiki
“nggak pernah liat sih, cuman dengar-dengar dari orang aja. Cewek yang suka ama Davin kan nggak cuman satu orang doang, makanya pas mereka ngeliat kamu boncengan ama Davin, jadi ciut deh satu-satu lantaran dikirain Davin udah digebet duluan ama kamu” Jelas Shelli menceritakan apa yang Ia ketahui
“serius? Sampe segitunya?” Viola tak percaya
“Iyaa, ngapain coba aku ngarang” Shelli berkata apa adanya, mereka berdua sama-sama diam sejenak
“Ehh.. terus terus, kenapa sekarang kamu udah nggak suka lagi ama Davin?” Tanya Shelli tiba-tiba
“iih Shelli kepo deh, yah sekali lagi aku bilang, Aku bener-bener nggak tauu.. tiba-tiba aja gitu, perasaan aku udah nggak kayak dulu lagi. Denger orang ada yang suka ama Davin yah aku biasa aja” Jawab Viola mengeluarkan isi hatinya
“Hmmm karena udah ada Ka Jerry kan” Tebak Shelli
“Apaan sih shelli” Sanggah Viola
“Emang bener kan?” Ucap Shelli jail
“Hmm,, tapi kalau menurut kamu nih ya, aku cocoknya ama Ka Jerry atau Davin?” Tanya Viola yang ingin mendengar pendapat dari Shelli
“Kalau menurut aku sih cocokan ama Davin, soalnya kan Davin satu angkatan ama Kita jadi gampang gitu kalau mau komunikasi ama kita-kita. Kalau Ka Jerry kan senior jadi Kita pasti segan kalau ada apa-apa” Jawab Shelli apa adanya
“Tambah galau kan kamu Vio” Ejek Shelli bercanda
“Apaan sih, udah ahh.. males bicarain itu-itu mulu” Ucap Viola
“Makanya jangan galau dong”
“Ih sapa yang galau coba” Viola mengelak
“Ehh ngomong-ngomong guru nggak masuk nih” sambung Viola sambil melihat disekitarnya
“Oh iya yah, keasyikan ngobrol kita malah nggak sadar kalau dari tadi guru nggak masuk-masuk” Ucap Shelli yang juga mencoba melihat kelas lain dari jendela kelas.
“Kayaknya kelas-kelas lain juga guru-gurunya pada nggak masuk deh” Ucap Viola dan kemudian ketua kelas mereka pun masuk kedalam kelas dan meminta seluruh siswa kelas tersebut masuk untuk mendengarkan penyampaiannya
“Teman-teman, saat ini seluruh guru-guru sedang ada rapat dan setelah rapat mereka semua akan menghadiri sebuah pertemuan, aku juga nggak tau pertemuan apaan tapi yang jelas untuk hari ini Kita semua dibolehkan untuk pulang” perkataan Anjas pun disambut teriakan gembira dari seluruh siswa dikelas tersebut
“Horeee yes.. pulang pulaang. Tumben guru rapat mulu” Sahut Shelli gembira sementara Viola masih terpaku ditempatnya
“Dirumah aku ngapain coba, tambah galau nih” Ucap Viola tak bersemangat sambil mengambil tasnya
“yah dia galau beneran” sahut Shelli, kemudian ponsel milik Viola berdering menandakan pesan masuk yang segera dibacanya. Saat membaca pesan tersebut Viola sangat terkejut, matanya agak melotot memandang layar ponselnya kemudian Ia merasa tubuhnya mulai melemas seakan tak percaya dengan pesan yang Ia baca
From: Yhani
            “Innalilahiwainalilahi rojiun,
              Syg, kirana meninggal L
Lalu dengan pelan dan mata yang mulai berkaca-kaca, Viola pun membalas pesan tersebut
To     : Yhani
           “ innalilahi
            Serius say? Tau dari mana?”
From : Yhani
           “Dari Tiwi, barusan dia sms. Kita kerumahnya yah, sekarang”
To     : Yhani
           “Iya, aku ke febby dulu”
Shelli yang melihat mata Viola yang seperti akan mengeluarkan air mata segera bertanya pada Viola
“Kamu kenapa Vio?”
“temen SMP aku ada yang meninggal Shell, dia temen dekat kita” air mata Viola kemudian jatuh dan sontak Shelli pun segera memeluk Viola.
“Aku ke Febby dulu yah Shell” Viola pun meninggalkan ruangan kelas dan segera menghampiri Febby dikelasnya.
“Feb” Panggil Viola didepan pintu kelas dan Febby pun segera menghampiri Viola lalu memeluknya.
“Kirana Vio” ucap Febby
“Iya, kita kerumah kirana yah” Kata Viola mencoba tenang
“Kamu bawa kendaraan?” Tanya Febby
“Nggak sih” Jawab Viola tak bersemangat
“Kalian ngak melayat?” Tanya Davin tiba-tiba saat berpapasan dengan Viola dan Febby
“Melayat kok, tapii...” Ucap Viola namun belum sempat Ia meneruskan perkataannya, Davin telah memotongnya
“Yaudah bareng aja yuk”
“Kamu bawa mobil?” Tanya Viola
“Ngak sih, hari ini aku bawa motor” Jawab Davin
Terus Febby gimana?” Tanya Viola
“Kan ada Denis, dia juga bawa motor kok” Jawab Davin
“Yuk pergi sekarang, nungguin apa lagi” Sahut Denis yang merupakan teman dekat Davin
Tanpa berkata-kata lagi mereka berempat pun segera menuju tempat parkir  dan pergi meninggalkan sekolah menuju rumah kirana untuk melayat. Kirana adalah teman SMP mereka yang menderita kanker, saat Kirana masih hidup mereka sering bersama-sama bahkan rumah Kirana menjadi tempat perkumpulan mereka untuk membahas apa saja sampai UN tiba.
Saat melewati pintu gerbang tanpa diketahui Viola, ada yang memperhatikannya dari jauh. Shesa yang melihat Viola berboncengan dengan Davin sempat terkejut karena sepengetahuannya Jerry sedang dekat dengan Viola, pertanyaan pun muncul dikepala Shesa, ada hubungan apa Viola dan Davin. Tanpa berpikir panjang Shesa pun segera membuka akun twitternya dan memention Jerry.
***

PERTEMUAN SINGKAT

Sesampainya dirumah, seperti biasa Viola langsung masuk kekamarnya dan berbaring ditempat tidur, dilihatnya jam telah menunjukkan pukul 5 sore. Hari ini benar-benar diluar dugaannya, Ia lalu teringat kembali wajah Kirana yang polos namun Viola selalu mencoba untuk tetap tenang dan mengiklaskan kepergian Kirana sampai akhirnya Ia tertidur.
Matahari mulai menampakkan cahayanya, pagi itu Viola lebih awal berangkat kesekolah dari hari-hari sebelumnya. Viola dan teman-temannya pun melakukan aktivitas disekolah seperti biasa, Viola tak ingin sedih berlama-lama karena Ia yakin temannya Kirana sudah tenang dialamnya.
Saat jam istirahat tiba, entah mengapa Viola enggan untuk mengikuti teman-temannya pergi kekantin. Ia hanya ingin menikmati suasana disekitar ruangan kelas 10. Shesa yang kebetulan sehabis dari perpustakaan dan berjalan melewati daerah kelas 10, melihat Viola yang sedang asyik duduk sendirian disebuah kursi panjang dibawah pohon yang tidak jauh dari kelasnya. Shesa pun menghampirinya
“Hey Vio?” Sapa Shesa sambil duduk disamping Viola
“Hey ka, Kaka dari mana? tumben ada disekitar sini” tanya Viola
“Yah, aku sih tadi dari perpus, balikin buku yang kemaren aku pinjem. Kamu kok menyendiri sih?”
“Yah cuman lagi pengen aja ka”
“Masa sih? Galau yah?”
“Ngak lah ka, apa coba yang digalauin” Viola menyangkal sambil tertawa kecil dan Shesa pun teringat sesuatu
“Oh ya, kalau boleh tau yang kemarin boncengan sama kamu itu siapa? Davin yah? Atau?” tanya Shesa hati-hati
“Ohh, iya ka. Kemarin itu aku boncengan ama Davin. Kaka kok bisa tau Davin?”
“Yah kan alumni SMP yang sama” Ucap Shesa sederhana dan mulai bertanya
“Em kamu pacaran sama sapa sekarang de? Davin?”
“Aku ngak pacaran sama sapa-sapa kok ka, Davin itu cuman temen kok. Kemarin itu kita pergi melayat kerumah temen aku yang meninggal ka” jelas Viola
“temen kamu meninggal de? Innalilahi”
“Iya ka, makanya aku ama Davin bareng sama teman-teman yang lain juga perginya sama-sama”
“Oh gitu yah. Emm trus, gimana ama Jerry de?” Tanya Shesa menyelidiki
“Emm, yah ngak kenapa-kenapa ka, Ka Jerry kan udah punya pacar” Ucap Viola
“Dia ngak bener-bener sayang kok sama pacarnya, dia itu sayangnya sama kamu Vio” mendengar perkataanya Shesa, Viola pun hanya bisa diam dan menunduk, berpikir apa yang harus Ia katakan.
“Vio, aku tau Jerry, dia itu kalau udah sayang sama orang yah dia bakal bener-bener sayang” Jelas Shesa
“Emm, gitu yah ka. Aku cuman ngak mau dipermainin aja ka, aku masih sedikit trauma sih” Ucap Viola pelan
“Trauma kenapa Vio? Cerita aja lagi”
“Emm soalnya dulu aku suka dibohongin mulu ama cowo, aku ngak mau dibohongin lagi ka”
“Oh gitu, tapi aku yakin kok, Jerry ngak gitu orangnya. Dia baik kalau nyayangin orang”
“Iya ka, aku rasa juga Ka Jerry orangnya bener-bener baik”
“Trus, perasaan kamu sendiri gimana ama Jerry?” Tanya Shesa, Ia ingin mengetahui isi hati Viola demi temannya Jerry
“Emm...” Viola terdiam sejenak, berpikir dan meyakinkan hatinya akan perasaannya pada Jerry
“kayaknya ka, aku.. juga suka sama Ka Jerry” ucap Viola sembari terus meyakinkan hatinya bahwa Ia tak salah bicara
“Bener de? Iya deh, yang penting kamu juga jangan main-main ama temen aku de. Kamu tenang aja, Jerry ngak mungkin bohongin kamu kok. Buktinya, meskipun dia udah punya pacar, dia tetep ngaku kan ama kamu” Kata Shesa, Ia lega mendengar Viola juga menyukai Jerry, paling tidak Jerry masih punya harapan
“Iya ka, emm.. oh ya, kaka sendiri pacaran sama siapa?” Tanya Viola yang membuat Shesa sedikit terkejut
“Yah.. aku sih ngak pacaran sama sapa-sapa kok” Jawab Shesa
“Masa sih ka”
“Iya bener, kamu nih. Eh kayaknya udah mau masuk bentar lagi. Aku kekelas yah Vio” Kata Shesa sambil beranjak dari tempatnya
“Yah, Ka Shesa kabur” Sahut Viola yang hanya disambut lambaian tangan oleh Shesa.
***
Bel tanda berakhirnya pelajaran pada hari itu terdengar keseluruh ruangan disekolah tersebut dan seluruh siswa siswi pun berhamburan keluar kelas.
“Jeerryy.....” panggil Shesa sambil berlari kecil kearah Jerry yang sedang berjalan sendirian dikoridor sekolah.
“ada apa lagi sha?” tanya Jerry datar
“mulai sekarang kamu nggak perlu lagi tu’ galau badai mulu mikirin perasaannya Vio ke kamu” ucap Shesa ceria
“hah? Apaan sih Sesha, maksud kamu apa?” Jerry tak mengerti
“Viola juga suka ama kamu Jerry” Ucap Shesa jelas, Jerry hanya terdiam dengan pandangan kosong lalu melihat wajah Shesa yang menunggu komentar Jerry.
“kamu tau dari mana? Aku udah ngak mau terlalu berharap banyak Sha, apalagi kemarin dia boncengan ama cowo yang aku juga ngak tau itu sapa” Ucap Jerry murung sambil duduk dibangku panjang yang berada tak jauh darinya
“aku denger dari Vio, dia sendiri yang bilang kalau dia juga sebenarnya suka sama kamu tapi kamunya malah pacaran ama orang lain” omel Shesa sambil duduk didekat Jerry
“masa sih? Dia ngomong gitu?” Jerry tak percaya
“iyaa, terus yang kemarin boncengan ama dia itu namanya Davin, dia temen seperjuangannya Vio di SMP” Jelas Shesa
“wahh, ada harapan dong” Jerry tersenyum
“emang ada, cuman kamunya aja yang kurang peka. Kamu pikir gimana perasaannya pas dia tau kalau orang yang menarik pelan hatinya terus tiba-tiba pacaran ama orang lain”
“iya siih, aku juga ngak tau kenapa aku jadi kayak gini” Jerry menunduk
“terus, kalau udah kayak gini, pacar kamu gimana?”
“emm.. aku ngak mungkin mutusin dia gitu aja”
“yang nyuruh kamu putusin dia siapa coba, mending kamu urusin aja dulu hubungan kamu. Jangan hanya karna denger Vio juga suka ama kamu trus pacar kamu dilupain gitu aja. Ngak mau karma kan” Shesa menasehati
“Iya sih, ntar aku coba bicara sama Vio juga deh. Aku juga pengen denger langsung dari dia gimana perasaannya” Ucap Jerry
“Yaudah, aku dukung kamu kok” Kata Shesa sambil memukul pelan pundak Jerry dan Jerry pun hanya tersenyum
“kalau gitu aku duluan yah, bentar ada les nih” kata Shesa sambil beranjak dari tempatnya
“Iya deh, makasih banyak yah Sha” Ucap Jerry tersenyum
“Iya sama-sama, duluan yah, bye” Shesa pun meninggalkan Jerry yang masih duduk ditempatnya.

@Rumah Viola
Viola melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 8 malam lalu Ia pun menyalakan televisi dan mencari channel yang bagus. Saat sedang asyik menonton sebuah siaran komedi tiba-tiba saja Ia mendengar suara ketukan pintu dari luar yang menandakan ada tamu.
“Ih siapa sih ganggu aja, paling juga teman papa. Papa kan lagi keluar kota” Ucap Viola pelan sambil beranjak dari tempatnya dan membuka pintu. Sontak Viola sempat terkejut dan terdiam sejenak lalu akhirnya bicara
“Ka Jerry”
“Hai Vio, ganggu yah” Kata Jerry
“Ngak kok ka, cuman aku heran aja, tumben kakak dateng ngak bilang-bilang dulu”
“Tadinya aku emang ngak ada niat buat kesini, cuman gara-gara tadi baru pulang dari rumah temen trus lewat depan kompleks rumah kamu yah aku mampir aja” Jelas Jerry
“Ohh gitu, masuk ka” Tawar Viola
“Eh ngak usah, diteras aja”
“Emm yaudah deh, duduk aja kalau gitu ka” Ucap Viola sambil duduk dikursinya, begitu pun dengan Jerry
“Kamu lagi ngapain tadi?” Tanya Jerry
“Cuman nonton aja kok ka” Jawab Viola
“Ohh nonton apa’an?
“Acara komedi gitu ka di tv, biasalah penghibur hati”
“Kamu suka juga yah nonton komedi? Sama dong kalau gitu” dan seterusnya mereka berbincang tentang apa pun yang terlintas saat itu.
 Jerry terdiam begitu pun dengan Viola saat mereka sama-sama kehabisan akal untuk mencari topik pembicaraan. Namun setelah beberapa saat saling terdiam, Jerry sadar ini tak baik jika terus dibiarkan.
“Emm Vio?” Ucap Jerry lalu diam sejenak dan mulai bicara lagi
“Tadii... kamu ketemu Shesa yah?”
“Em iya ka. Kenapa?” Viola mulai merasa jantungnya berdebar tak menentu
“Ngak, tapi... aku... pengen tanya sesuatu ama kamu. Boleh ngak?” Ucap Jerry hati-hati
“Tanya aja kali ka, aku jawab ko”
“Beneran yah, tapi jawab jujur”
“Iya Ka Jerry, emang kaka mau nanya apa?”
“Emm aku langsung to the poin aja yah, sebenarnya... perasaan kamu ke aku itu gimana sih de?” Tanya Jerry pelan, Ia sangat penasaran dengan jawaban Viola, saat itu Ia benar-benar ingin mengetahui kepastian dari Viola tentang perasaannya
“Ha? Emmm... gimana apanya ka?” Viola pura-pura tak mengerti saat sebelumnya sempat terkejut dalam diamnya. Ia benar-benar harus meyakinkan perasaannya pada Jerry sambil merangkai kata-kata yang akan Ia sampaikan
“Yah perasaan kamu ke aku, kamu suka atau ngak ? eh bukan... kamu sayang atau ngak sama aku de?” Tanya Jerry langsung, Ia tak ingin lagi larut dalam menunggu kepastian dari Viola
“Aku rasa, kakak kan udah punya pacar jadi untuk apa lagi ka Jerry tanya tentang perasaan aku ke kakak. Lagian apa pun perasaan aku, itu juga ngak penting kan buat kakak” Viola masih tak ingin mengatakan perasaannya pada Jerry. Ia hanya tak ingin mengganggu hubungan Jerry, apalagi sampai membuat Jerry melupakan pacarnya
“Vio, kamu ngak tau gimana ngak enaknya diberi harapan tapi ngak diberi kepastian tentang gimana perasaan kamu sebenarnya. Aku tau, aku emang udah salah pacaran ama orang lain. Tapi apa ngak boleh kalau aku tau kepastian dari kamu de” Jerry mulai resah, meskipun menyayangi Viola namun Ia juga ingin tau perasaan Viola terhadapnya
“Ka Jerry, aku benar-benar minta maaf, aku bukannya ngak mau ngasih kepastian. Tapi aku rasa kakak udah nyaman dengan kita yang kayak kemarin-kemarin, apalagi setelah tau kalau kakak pacaran ama orang lain, itu buat aku ngira kalau kaka udah ngak perlu lagi kepastian dari aku ka” Viola mengeluarkan isi hatinya
“Yaudah, aku ngerti ko de, yang penting kamu tau kalau aku sayang sama kamu Vio” Jerry tersenyum
“Maaf yah ka’ kalau kemarin-kemarin udah buat kaka nunggu, tapi aku beneran ngak bermaksud kayak gitu. Emm aku juga sayang ko sama kaka” Mata Viola tiba-tiba membesar dan tangannya reflex memegang halus bibirnya, menandakan bahwa Ia sama sekali tak sadar dengan ucapannya yang terakhir.  Namun hal itu disambut senyuman lebar oleh Jerry
“Makasih yah de, kamu udah kasih kepastian. Aku senang ko” Jerry lega, mendengar langsung perasaan Viola
“Longlast yah buat hubungan kaka” Viola tersenyum
“Iya de, aku coba jalanin terus ko hubunganku” Kata Jerry lalu melihat jam yang melingkar ditangannya
“Oh ya, udah jam 10 nih, aku balik yah. Ngak enak juga kalau terlalu malam aku disini” Ucap Jerry sambil beranjak dari tempatnya
“Iya sih, yaudah deh kalau gitu hati-hati aja yah ka” Kata Viola yang juga beranjak dari tempat duduknya
“Iya de, kamu juga tidur aja sana, besok kan mau sekolah”
“Iya kaka, abis ini aku langsung tidur ko”
“Yaudah aku balik yah. bye” Jerry berjalan menuju mobilnya
“Bye ka” Viola melihat Jerry sampai hilang dari pandangan. Ia pun masuk rumahnya dan mematikan televisi yang tadi Ia nyalakan lalu masuk ke kamarnya dan berbaring diranjangnya. Ia tersenyum mengingat semua kejadian yang hari ini Ia alami, pertemuan singkatnya dengan Jerry sudah membuatnya merasa lega.
***

SUATU KEBETULAN

Sore itu Viola sedang asyik mendengarkan musik dari mp3 miliknya namun karena merasa bosan Ia pun mengambil ponselnya lalu mencari sebuah nama dikontak untuk dihubunginya
“Hallooo” terdengar suara setelah beberapa saat Viola meletakkan ponselnya ditelinga
“Shellii dimana?” Tanya Viola
“Dirumah, tumben nelpon. Ada apa Vio?” Ucap Shelli
“Aku boring banget nih, jalan yuuk”
“Yah kamu telat ngajaknya, aku udah punya janji duluan nih Vio”
“Belagu banget sih pake punya janji segala, tumben”
“Hhehehe” Shelli nyengir
“Janji ama sapa sih Shell ?”
“Sama teman lama aku, soalnya udah lama banget ngak ketemu dia”
“Ohh iya deh, lain kali aja kalau gitu”
“Oke deh, aku pergi dulu yah Vio”
“Iya Shel, kamu hati-hati” Viola tertawa kecil
“Aduuuhh perhatian banget sih” Balas Shelli
“Udah ah, ntar pulsa aku abis lagi, oke bye..”
“Bye” Ucap Shelli lalu Viola pun mengakhiri telepon
“Uuhh enaknya ngapain kalau kayak gini, tidur aja deh” Kata Viola sambil membantingkan dirinya diatas tempat tidur
Di tempat yang berbeda
Shelli mengetuk pintu rumah dan tak lama kemudian pintu tersebut pun dibuka oleh seorang gadis seumurannya
“Shelliii” Ucap gadis itu
“Achaaa” Balas Shelli lalu mereka berdua pun berpelukan
“Masuk yuk” Ajak Acha dan Ia pun mengajak Shelli masuk ke kamarnya
“Kalau Kita cerita-cerita disini lebih nyaman dan aman pastinya” Kata Acha sambil duduk diatas tempat tidurnya diikuti Shelli
“Aman? Maksud kamu?” Tanya Shelli bingung
“Iya aman tanpa gangguan dari kakak aku, dia kan jail banget” Jawab Acha
“Ohh kirain apaan, duh udah lama banget nih ngak ketemu” Kata Shelli
“Iya nih, kamu sih pas masuk SMP udah ngak pernah kasih kabar lagi”
“Gimana mau kasih kabar Cha, hpku rusak.. pas diperbaiki kontaknya malah ilang semua. Kamu tuh yang ganti nomor hp”
“Hhehehe mana aku tau hp kamu rusak”
“Ehh jadi gimana nih sekolah kamu?” Tanya Shelli
“Baik kok, kamu sendiri?”
“Baik juga”
“Oh ya, waktu kamu nyebutin sekolah kamu kemarin, aku baru inget berarti kamu satu sekolah ama kakaku dong” Ucap Acha
“Kakak kamu? Emangnya dia kelas berapa?”
“Udah kelas 12 sih, kali aja kamu kenal.. dia juga pengurus osis” Jelas Acha
“Emang namanya siapa Cha?”
“Namanya Jerry”
“Haaaaa?? Ka Jerry?” Shelli terkejut
“Iya, kamu kenal yah?” Acha sedikit bingung melihat respon Shelli yang tak biasa
‘gimana ngak, dia kan deket ama Viola’ batin Shelli berkomentar lalu Ia menjawab pertanyaan Acha
“Iya kenal kok, dia kan yang MOS aku dulu”
“Ohh… tau ngak, dia itu deket sama adik kelasnya yang seangkatan sama kita”
“Viola maksud kamu?” Ucap Shelli
“Nah loh, kok kamu tau sih?” Tanya Acha
“Iyalah tau, orang dia temen sekelas aku kok” Jawab Shelli
“Waah kok bisa kebetulan banget yah”
“Seharusnya aku yang tanya Cha, kok kamu bisa tau Viola sih?” Tanya Shelli penasaran
“Iya dong, aku kan sering baca sms nya dihp Ka Jerry” Jawab Acha santai
“Serius? Kamu kepo juga yah Cha” Shelli tertawa kecil
“Hhehehe.. pokoknya kalau dia udah ke kamar mandi, aku ambil lagi hpnya trus baca deh smsnya ama Viola”
“Wahh dasar kamu miss kepo”
“Hhehehehe” Acha nyengir lalu kembali berkata
“Kamu tau ngak, Ka Jerry tuh suka banget ama Viola sampai-sampai foto Viola ada di laptop sama di hpnya juga”
“Masa sih Cha?”
“Iya Shel, aku liat kok.. terus nama panjang Viola yang dia tulis dibuku itu juga dia foto loh” Jelas Acha
“Sampai segitunya?”
“Yah itulah Ka Jerry, rumah Viola juga ngak jauh dari sini kan?”
“Iya, kamu tau juga?”
“Aku kan baca smsnya, hhehehe”
“Tapi bukannya Ka Jerry udah  punya pacar yah?” Tanya Shelli
“Iya sih, tapi kayaknya Ka Jerry ngak suka deh sama pacarnya itu” Jawab Acha
“Masa sih? Terus ngapain dia pacaran kalau gitu”
“Yah mana aku tau.. Emm emangnya Viola itu juga suka yah sama Ka Jerry?”
“Emm kayaknya sih iya, cuman Ka Jerry nya udah punya pacar tuh”
“Iya sih, aku juga bingung ama kakakku itu”
‘Waahh ada berita baru nih buat Viola’ batin Shelli
“Ehh ngomong-ngomong Kita kok malah jadi ngegosipin kakak aku yah” Sahut Acha
“Ini mah bukan gosip Cha, tapi kenyataan” Ucap Shelli
“Iya sih, yaudah deh kalau gitu Kita ganti topik” Usul Acha
“Iyaiya, aku pengen denger cerita kamu tentang sekolah baru nih”
“Aku juga pengen denger cerita kamu”
Dan seterusnya, mereka berdua pun melanjutkan cerita dengan topik lain tanpa membicarakan lagi tentang Viola dan Jerry.

Keesokkan harinya disekolah saat jam istirahat, dikantin Shelli pun menceritakan semua yang Ia ketahui dari Acha tentang Jerry.
“Kok bisa kebetulan banget kayak gitu sih” Komentar Viola setelah mendengarkan cerita dari Shelli
“Yah gitu deh, namanya juga takdir. Tapi aku ngak nyangka loh Ka Jerry sampai simpan foto kamu dihpnya” Ucap Shelli
“Hmmm… Ka Jerry orangnya susah ditebak”
“Masa sih?”
“Iya, mana sekarang Davin malah sms-sms terus lagi”
“Jangan-jangan dia mau pdkt lagi sama kamu” Tebak Shelli
“Febby pernah bilang gitu sih” Ucap Viola
“Yah terus?”
“Emm… menurut kamu, misalnya.. tapi ini masih misalnya aja yah. Kalau emang Davin coba deket lagi, lebih baik aku sama Davin atau Ka Jerry?”
“Hmmmm… aku kan udah pernah bilang, kalau menurut aku sih, mendingan kamu ama Davin” Kata Shelli
“Masa sih? Kenapa?”
“Iih lupa yah, gini.. kalau kamu sama Davin kan seangkatan jadi lebih gampang deket sama kita-kita biar kalau jalan bareng kan ngak perlu jaim. Tapi kalau sama Ka Jerry, dia kan senior jadi yah kita pasti segan gitu lah” Terawang Shelli
“Oohh, trus aku harus gimana dong?” Viola bingung
“Emm atau gini aja, siapa yang duluan nembak kamu yah itu yang kamu terima” Saran Shelli
“Gitu yah?” Viola tak yakin
“Yah itu kan cuman saran, lagian siapa cepat dia dapat”
“Yeee… kamu kira aku barang apa” Ucap Viola cemberut
“Hhehehe.. Tapi itu juga kan masih terserah kamu Vio, keputusan tetap kamu yang harus pilih satu pilihan aja”
“Iyaa, ciieee tumben bijak gitu”
“Kan belajar dari kamu” Shelli tertawa kecil begitu pun dengan Viola
“Kamu nih, yaudah Kita masuk kelas yuk” Ajak Viola
“Ayoo” Shelli dan Viola pun beranjak dari tempatnya dan pergi meninggalkan kantin menuju ke kelas mereka.
***
@Rumah Jerry
Sore itu Jerry bersama Acha dan dua orang sepupu mereka sedang duduk diruang tamu sambil sesekali bercanda
“Eh Jerry coba aku liat tangan kamu” Sahut salah satu sepupu Jerry
“Hah buat apa?” Tanya Jerry bingung
“Mau ngeramal tuh Ka” Sahut Acha sekaligus menjawab pertanyaan Jerry
“Ohh bilang kek, nih” Ucap Jerry sambil menunjukkan tangannya pada sepupunya itu
“Emm kalau aku liat dari garis tangan kamu.. jodohmu udah deket nih” Kata sepupu Jerry
“Iya lah deket, orang rumahnya aja ada dikompleks deket sini kok” Sahut Acha tiba-tiba
“Tuh kan bener” Sahut sepupu Jerry
“Haa? Eh Acha maksudnya apa?” Jerry pura-pura tak mengerti meskipun Ia tahu yang dimaksud Acha itu adalah Viola
“Emang iya kan, namanya Viola” Ucap Acha yang membuat Jerry semakin terkejut
“Ehh kamu tahu dari mana Cha?” Tanya Jerry penasaran
“Ada deeehh” Acha lalu beranjak dari tempatnya menuju dapur untuk mengambil segelas minuman dan Jerry pun mengejarnya
“Acha kamu tahu dari mana sih?” Kata Jerry semakin penasaran
“Lagian cari pacar seumuran ama aku, yah aku tahu lah” Kata Acha santai
“Kamu tuh emang ratunya kepo” Jerry gemas
“Iih biarin dari pada ngak tau apa-apa” Cibir Acha sambil mengeluarkan lidahnya dan segera pergi meninggalkan Jerry
“Nih anak tahu dari mana sih” Jerry bertanya-tanya sendiri, bingung mengapa Acha bisa tahu tentang Viola.
                                                            *           *           *

DAVIN ATAU JERRY

2 Bulan Kemudian
Viola sedang duduk didepan kelasnya sambil membaca sebuah novel, Febby pun datang menghampirinya
“Hey, aku cari dari tadi, ternyata disini. Sms ku kenapa ngak dibales sih?” Sahut Febby
“Ha? Sms yang mana? Dari tadi hp aku simpan ditas tuh dalem kelas” Ucap Viola
“Hm pantesan” Febby lalu terdiam, begitu pun Viola yang kembali membaca novelnya lalu teringat sesuatu
“Eh, entar malem jadwal kita les kan?” Tanya Viola
“Iya, bareng yahh” Ucap Febby
“Iyalah, aku perginya sama sapa lagi kalau bukan sama kamu” Kata Viola
“Emang” Kata Febby terdiam sejenak lalu menyambung perkataannya
“Oh ya Vio, jadi gimana tuh kamu ama Ka Jerry?” Tanya Febby
“Emm…” Viola menutup novelnya sambil melirik Febby“ Yah gitu deh, ngak ada apa-apa. Dia cuman kadang curhat aja tentang pacarnya”
“Kamu suka yah sama dia?”
“Ngak tau juga sih Feb, aku bingung. Udah beberapa minggu ini Ka Jerry ngak pernah lagi hubungin aku, sms pun udah ngak pernah” Viola menunduk
“sibuk kali.. oh ya, terus, Davin?”
“Kok Davin sih, emangnya dia kenapa” Viola kembali melihat Febby
“Bukannya Davin dekat juga yah sama kamu?”
“Iya sih, tapi yah dekat-dekat gitu aja”
“Aku denger-denger dia lagi nyari pacar tuh, bosen kali dia jomblo mulu”
“Terus? Hubungannya ama aku apa Feb ?”
“Ih Vio beneran ngak nyadar apa pura-pura ngak nyadar sih. Dia itu maunya ama kamu Vio”
“Masa sih, udah deh Feb, aku  udah ngak ada feeling lagi ko buat pacaran ama dia. Semenjak kenal Ka Jerry perasaan aku ama Davin udah pudar”
“Ih ngak percaya, liat aja ntar” Ucap Febby setelah tak lama kemudian bel masuk kelas berbunyi lalu mereka berdua pun beranjak dari tempatnya masing-masing.
* * *
@Rumah Davin
Davin dan Denis terlihat asyik bermain playstation yang ada dikamar Davin
“Aaahhh” Davin melempar stick playstationnya
“Tumben kamu kalah mulu kali ini” Ucap Denis sambil tertawa kecil
“Aku ngak main lagi ah, lagi gak konsen nih” Kata Davin sambil berbaring diranjangnya
“Gak konsen? Kenapa?” Tanya Denis yang terus melanjutkan permainannya
“Hmm… Viola” Jawab Davin
“Maksudnya? Emang kenapa ama Viola?”
“Menurut kamu, sebaiknya aku cepat nembak Viola atau gimana?” Davin meminta saran dari Denis
“Yaah kalau aku sih mending kamu cepetan nembak Viola kalau ngak mau keduluan ama orang lain” Kata Denis
“Maksudnya? Keduluan ama sapa?”
“Gini bro, kamu tahu Ka Jerry kan?” Denis menghentikan permainannya dan duduk disamping Davin
“Kakak kelas itu? aku pernah denger namanya sih. Emang dia kenapa?”
“Dia itu juga suka sama Viola”
“Masa sih? Kamu tahu darimana?” Tanya Davin sedikit terkejut
“Yaiyalah tahu, dia kan senior diekstrakulikuler aku disekolah. Kamu juga tahu kan, waktu Mos aku sekelas sama Viola dan Ka Jerry walikelasnya. Dia juga sering tanya-tanya Viola kalau kita latihan” Jawab Denis
“Serius?”
“Iya lah bro, masa aku bohong sih. Makanya kalau kamu emang beneran suka ama Viola yah tembak aja bro, saingan kamu senior tuh” Denis meyakinkan
“Tapi aku belum berani bro, kalau dia tolak gimana?”
“Payah lu bro, belum tempur udah nyerah duluan. Kapan mau majunya kalau gini” Denis gemas
“Tapi kira-kira Viola juga suka ngak yah ama aku” Davin menerawang
“Yaelah, inget gak waktu SMP, Febby pernah bilang ke aku kalau Viola sebenernya suka sama kamu tapi kamunya malah cuek”
“Hmm… jadi tembak sekarang nih”
“Iyalah, kapan lagi.. keduluan ama senior baru tau rasa lu” Ucap Denis meyakinkan Davin
“Yaudah deh, kalau lewat sms ngak apa-apa nih?”
“Yah emangnya kalau ngomong langsung kamu berani?”
“Yah engak sih, bisa-bisa kehabisan kata-kata”
“Dasar lu”
“Yah kamu kan tahu Den, aku orangnya pemalu”
“Yaudah makanya kalau gak berani langsung yah lewat hp aja”
“Iya deh, bilangnya gimana?” Tanya Davin polos
“Somplak lu, nembak cewek aja ribetnya minta ampun” Denis semakin gemas dengan Davin
“Yaahh aku kan baru kali ini nembak cewek Den”
“Iya deh iya, ntar aku ajarin bro”
“Oke bro” Davin pun mengambil ponselnya dan mulai mengetik sebuah pesan untuk dikirimkan pada Viola
Ditempat lain dalam waktu yang bersamaan
Disalah satu kelas yang ditempati Viola, Febby dan beberapa orang yang merupakan teman sekelas les mereka sedang asyik menerima materi dari seorang guru yang sering mereka sapa mam Vanny hanya sedikit lebih tua dari mereka. Ditempat inilah Viola, Febby serta beberapa temannya mengikuti les bahasa inggris setiap 2 kali dalam satu minggu. Saat yang lainnya sedang mengerjakan sebuah soal, Viola terlihat sibuk dengan ponsel miliknya yang terus berdering sementara Febby yang menyadari hal itu pun hanya diam melihat Viola. Wajahnya terlihat bingung sampai Ia tak konsen menerima materi saat itu sampai waktunya selesai
“Kamu kenapa sih Vio, dari tadi sibuk mulu ma HP. Ka Jerry sms yah?” Febby mengoceh saat hendak keluar dari dalam kelas
“Bukan Ka Jerry yang sms Feb” Ucap Viola tak bersemangat sambil duduk di kursi panjang yang berada dikoridor tempat les tersebut
“Terus dari siapa? Davin yah?” Tanya Febby
“Iya” Jawab Viola singkat dengan muka datar
“Kenapa Vio? Emm… Davin nembak kamu yah?” Tebak Febby
“Kamu kok tau sih” Viola membesarkan matanya, terkejut dengan tebakan Febby yang benar
“Aku kan udah bilang, Davin emang suka ama kamu. Trus gimana jawabanmu?” Tanya Febby penasaran
“Aku belum jawab, aku ngak tau harus jawab apa Feb” Jawab Viola bimbang
“Loh kenapa? Kamu juga suka kan sama Davin?”
“Yah makanya itu aku ngak tau. Kalau aku terima Davin, gimana ama Ka Jerry”
“Iya sih..”
“Aku harus jawab apa Feb, apa aku tolak Davin aja”
“Ehh, yahh.. hm itu sih terserah kamu Vio. Itu udah menyangkut perasaan kamu, hanya kamu yang bisa mutusin semuanya” Febby menasehati
“Tapi bantuin aku dong Feb, aku bener-bener ngak tau mau jawab apa. Mana dia nembaknya lewat hp lagi”
“Yah kamu tau sendiri lah Vio, Davin orangnya kan emang pemalu, mana berani dia ngomong langsung ke kamu”
“Iya sih, tapi gimana ama Ka Jerry Feb, aku ngak tau kenapa pikiran aku malah ke Ka Jerry. Dulu waktu Ka Jerry nembak aku, pikiranku juga melayang ke Davin trus sekarang malah kebalikannya. Aku harus gimana nih Feb” Viola terlihat sangat bingung, perasaannya benar-benar tak menentu
“Jangan bimbang dibuat pilihan, kamu pasti tau kok yang terbaik buat kamu itu apa Vio. sekarang gini deh, coba kamu pikirin kalau misalnya kamu terima Davin itu bakalan gimana nantinya, atau malah sebaliknya kamu tolak Davin dan tetap nungguin Ka Jerry itu juga bakalan gimana, kamu tau sendiri kan Ka Jerry juga udah punya pacar, cuman sekedar ngingetin kamu aja ko, semua ada konsekuensinya dan kamu harus terima itu”
“Febby aku bener-bener bingung. Nih kamu pegang aja dulu HP aku, terserah kamu mau balas apa sms dari Davin” Kata Viola sambil memberikan handphone nya pada Febby.
“Vio aku ngak tau, ini udah bener-bener menyangkut kehidupan pribadi kamu nantinya”
“Febby terus aku harus gimana dong, aku juga ngak mau ngecewain Davin, dia baik banget ama aku, Kita juga udah lama temenan, aku ngak mau semuanya rusak” Viola terdiam, menatap kosong kedepan begitu juga dengan Febby yang masih menunggu Viola berbicara sampai beberapa saat kemudian
“Feb, kayaknya aku…..” Kata Viola namun terhenti
“Apa?” Febby penasaran
“Aku… bakal terima Davin”
“Beneran? Yakin?”
“Iya, aku juga ngak mau kali berharap terus ama Ka Jerry. Lagian Ka Jerry juga udah punya pacar, kalau aku juga punya pacar jadi kita kan sama-sama ngak saling berharap” Kata Viola yang disambut pelukan dari Febby
“Apa pun itu aku selalu ngedukung kamu kok, yaudah cepetan kamu bales aja nih sms Davin” Febby pun memberikan handphone ketangan Viola namun Viola menolaknya
“Kamu aja deh yang bales, terserah kamu mau bilang apa, yang penting intinya aku terima Davin” Ucap Viola dan Febby pun membalas pesan dari Davin.
 Viola terus menatap kedepan dengan perasaan tak menentu, Ia memang menyukai Davin sejak kedekatan mereka saat sebelum Ujian Nasional SMP berlangsung. Namun ketika mulai memasuki kehidupan SMA dan datangnya Jerry yang mulai mengisi kehidupannya, Viola seakan telah melupakan perasaannya pada Davin apalagi setelah mengetahui bahwa sejak masuk SMA Davin sudah menjadi incaran banyak cewek disekolahnya. Bahkan salah satu teman sekelas Viola pun juga menyukai Davin. Itu yang sempat membuat Viola risih karena Ia tak mengharapkan seorang pacar yang banyak disukai cewek apalagi itu teman sekolahnya. Namun perasaan tak enak itu segera dihilangkan Viola, mengingat malam ini Ia telah resmi menjadi pacar Davin. Senang, namun Ia masih dibuat bimbang dengan perasaannya sendiri dan saat itu pun Ia bertekad untuk melupakan Jerry dan mencoba mulai mengembalikan perasaannya pada Davin yang sekarang telah menjadi pacarnya.
***
“Ciieee yang galaunya ngak abis-abis” Sahut Shelli saat memasuki kelas dan melihat Viola yang termenung dibangkunya
“Apaan sih Shel,  Udah ngak lagi” Ucap  Viola santai
“Masa sih.. Oke deh kalau gitu” Shelli pun diam dan membuka bukunya
“Shel” Panggil Viola sedikit berbisik
“Kenapa?”
“Ada yang mau aku bilang ke kamu”
“Iya apa? Bilang aja kali”
“Tapi jangan kasih tau sapa-sapa yah” Viola mulai serius
“Iya ngak bakal aku kasih tau sapa-sapa ko, janji.. keep silent” Shelli meyakinkan
“Hmm jadi gini, semalem itu.. aku…” Viola ragu menyambung ucapannya
“Iya kamu kenapa? Jangan bikin penasaran gitu dong Vio” Rengek Shelli
“Tapi janji yah ngak ngasih tau sapa-sapa dulu”
“Iya janji, beneran deh. Emang ada apa sih?”
“Gini shel, aku semalem udah… jadian sama Davin” Ucap Viola pelan
“What? Serius? Wahhh congratulation yahh” Ucap Shelli riang menepuk pelan pundak Viola
“Iyaiya, tapi jangan kasih tau orang dulu”
“Iya kamu tenang aja, lagian kenapa sih dirahasiain gitu bukannya itu kabar bagus yah?” Tanya Shelli bingung
“Ngak kenapa-kenapa sih, aku masih ngak enak aja sama yang lain. Terus juga aku belum siap kalau banyak yang tau apalagi kalau sampai ke anak kelas 12” Jawab Viola
“Yah kenapa harus ngak enak ama yang lain sih, Davin kan bukan pacar orang”
“Yah bukan itu masalahnya, tapi kan…..” Belum sempat Viola melanjutkan ucapannya, Shelli segera memotongnya
“Karena teman sekelas kita ada yang suka sama Davin? Udahlah Vio santai aja lagi, Davinnya kan suka sama kamu jadi apa salahnya sih”
“Iya sih, tapi paling ngak untuk saat ini jangan dulu deh. Biarin aja mereka tau sendiri nanti”
“Yaudah deh kalau gitu. Terus gimana ama Ka Jerry?” Pertanyaan Shelli membuat Viola terdiam sejenak
“Kalau itu sih, yah aku juga ngak tau Shel”
“Hmm aku tahu, pasti kamu ngak pengen ini banyak yang tahu biar ngak sampe ke anak kelas 12 itu maksudnya Ka Jerry kan? emm bukannya waktu itu kamu bilang kalau Ka Jerry udah punya pacar yah”
“Iya sih dia udah punya pacar, tapi hampir sebulan ini Ka Jerry udah ngak pernah lagi hubungin aku, sama sekali dia ngak ngasih kabar apa-apa padahal biasanya dia sering curhat tentang pacarnya”
“Dia lagi sibuk kali Vio, udahlah kan sekarang kamu juga punya Davin” Shelli menyemangati
“Iya sih, mungkin emang Ka Jerry udah lupain aku, mungkin juga dia udah ngak berharap lagi”
“Yah mungkin, udahlah Vio lagian cakepan Davin kok dibanding Ka Jerry”
“Apaan siih shellliiii” Viola mendorong pelan bahu Shelli lalu terdiam dan dalam diamnya Viola mulai bicara dalam hati ‘Aku harus ngelupain Ka Jerry, HARUS’ tegas Viola.
“Teman-teman guru Kita ngak masuk tapi dia ngasih tugas buat dikerjain sekarang, tugasnya di LKS sambungan yang minggu lalu” Sahut Anjas yang berada didepan papan tulis
“Kumpulnya kapan?” Tanya Shelli
“Hari inilah, sebentar pas jamnya udah abis tugas ini harus selesai trus dikumpul ama aku, ntar aku yang bawa ke ruang guru” Jelas Anjas
“Oke deh, Vio mending Kita cepet kerjanya yuk biar abis itu Kita bisa ke kantin, laper nih” Kata Shelli dan Viola pun hanya mengangguk pelan

@Koridor Sekolah:
Saat jam pelajaran terakhir berlangsung, lagi-lagi dikelas Viola guru mata pelajaran yang mengajar saat itu berhalangan hadir tanpa memberikan mereka tugas, akhirnya beberapa teman Viola pun memutuskan untuk pulang termasuk Shelli, namun tidak dengan Viola. Ia hanya memanfaatkan waktu itu untuk membaca sebuah novel yang baru saja dipinjamnya dari perpustakaan sekolah.
Viola duduk disebuah bangku panjang yang berada tak jauh dari kelasnya, saat sedang asyik membaca sendirian sambil ditemani lagu yang Ia putar dari handphone miliknya, Viola tak sadar ada yang memperhatikannya dari kejauhan dan kemudian menghampirinya
“Hai Vio” Sapa Davin sambil duduk disamping Viola
“Ehh Davin” Viola tersenyum
“Dari kemarin-kemarin aku perhatiin kamu baca novel mulu” Kata Davin membuka pembicaraan
“Iya nih, lagi dapet cerita bagus aja” Kata Viola
“Em aku ngak ganggu nih?” Tanya Davin pelan
“Idih nyantai aja lagi Vin” Viola memukul pelan bahu Davin
“Iya deh” Davin tertawa kecil
“Eh kamu ngak masuk kelas?” Tanya Viola sambil melirik kelas Davin yang hanya bersebelahan dengan kelasnya
“Bete dikelas” Jawab Davin
“Loh kenapa?”
“Gurunya marah mulu sih”
“Kalau gurunya marah-marah trus ngapain kamu keluar ntar malah tambah dimarahin tau”
“Ngak bakal dimarahin Vio, aku kan udah izin tadi lagian aku juga udah selesain tugas kok. Jadi mendingan aku temenin kamu disini kan” Davin tersenyum diakhir ucapannya sambil melirik Viola
“Iih kamu nih ya, masuk aja sana”
“Ngak mau, kamu sendiri ngapain diluar?”
“Kelas aku kan gurunya ngak masuk Vin, malahan temen aku udah ada yang pulang”
“Ohh gitu, yaudah aku disini aja nemenin kamu” Ucap Davin santai
“Davin” tegas Viola
“Viola” Balas Davin lalu mereka tertawa bersama
“Davin, ntar kamu dimarahin lama-lama diluar kelas” Viola mengingatkan
“Hmm.. iya deh aku masuk tapiiiii ntar pulang bareng yah”
“Emm gimana yahh” Ucap Viola sambil melihat ke atas menandakan Ia sedang berfikir lalu Ia pun melanjutkan ucapannya
“Aku dijemput aja yah Vin, nanti malah ngerepotin kamu”
“Aduh Vio sama sekali ngak ngerepotin kok, sekarang kamu udah jadi tanggung jawab aku” Davin tertawa kecil
“Apaan sih Davin lebay deh” balas Viola yang juga ikut tertawa kecil
“Lagian kamu ngak mau aku anter sih. Kalau masih ngak mau juga, aku bakal disini terus sama kamu”
“Davin ntar gurunya marah tau”
“Biarin aja, ntar kalau gurunya marah aku bilang kamu yang nahan aku biar ngak masuk” Davin bercanda
“Apaan sih Davin kok jahat gitu”
“Makanya, aku anterin yah pulangnya” bujuk Davin
“Hmm iya deh.. yaudah kalau gitu kamu masuk gih sana” perintah Viola
“Yesss,, iya deh aku masuk kalau gitu. Tapi bener yah, kamu nungguin aku sampe keluar kelas” Davin mengingatkan
“Iya aku disini terus kok Vin, kamu tenang aja” Viola meyakinkan
“Iya deh kalau gitu aku masuk yah, jangan kemana-mana loh”
“Iya Davin Fahreza, masuk gih sana” Viola mendorong pelan bahu Davin agar segera beranjak
“Iyaiya baweel” Davin pun beranjak dari tempatnya lalu berjalan mundur agar dapat tetap melihat Viola lalu melambai sebelum masuk kedalam kelasnya dan Viola pun hanya dapat tersenyum melihat tingkah Davin.
                                                      *           *           *
 GALAU

Tidak terasa satu minggu sudah Viola dan Davin pacaran, selama itu Viola menganggap Davin seorang sosok yang cuek namun perhatian. Meskipun kadang Viola masih teringat dengan Jerry namun kasih sayang dari Davin untuknya dapat melupakan perasaannya pada Jerry walau hanya sesaat. Hubungan mereka pun juga sudah diketahui oleh teman-teman Viola karena Davin menjadikan foto mereka berdua sebagai profil BBM ponselnya dan ternyata respon teman-teman Viola tak seburuk yang Ia kira malahan semuanya merespon baik hubungan Viola dan Davin.
Saat Viola sedang asyik menonton sebuah drama korea dikamarnya, ponselnya berdering menandakan pesan masuk dan Viola segera membukanya karena mengira bahwa itu pesan dari Davin
From    : Ka’ Jerry
             “Hay Vio J
              Apa kabar?”
Viola terdiam, terpaku ditempatnya dengan pikiran tak menentu ‘Ka Jerry kenapa datang lagi? kenapa baru ngasih kabar? Kemana selama sebulan lebih ini? Aku udah punya pacar ka” batin Viola mulai berbicara, ingin rasanya Ia mengatakan semua itu pada Jerry namun lagi-lagi Ia menahannya lalu membalas pesan  tersebut
To        : Ka’ Jerry
             “Hay jg ka’
              Alhamdulilah baik J klau kka?”
From    : Ka’ Jerry
             “Baik jg kok de’
              Lama ngak jumpa yah, jadi kangen. Hhehehe :D”
Perasaan Viola kembali tak menentu, senang namun Ia teringat Davin apalagi saat membaca kata terakhir pesan dari Jerry membuatnya meneteskan air mata tanpa Ia sadari namun segera dihapusnya dan membalas pesan Jerry
To        : Ka’ Jerry
             “Hhehe, ingat pacar kka :D”
From    : Ka’ Jerry
             “Hmm…
              Aku udah ngak punya pacar Vio, sekitar 2minggu yg lalu aku putus”
Viola menarik nafas panjang terdiam dengan menggenggam ponselnya, tak dapat Ia tahan lagi air matanya kembali menetes dengan perasaan yang bercampur aduk ‘kenapa kaka baru dateng lagi? Kalau kakak putusnya 2 minggu lalu berarti itu seminggu sebelum aku jadian sama Davin kak. Kemana kaka kemarin-kemarin? Kenapa baru ngasih kabar sekarang? Kaka jahat!’ batin Viola terus berkomentar bertanya semua keganjalan dalam hatinya. Namun Ia menahan semua pertanyaan itu, Ia tak ingin terlihat sedih didepan Jerry dan akhirnya Ia pun membalas singkat pesannya
To        : Ka’ Jerry
             “Knpa bs ka’?”
From    : Ka’Jerry
             “Aku ngak bs terusin hbungan itu de,
              rasanya ngak enak pcran dgn org tapi hati udah sma org yg lain”
Air mata Viola semakin deras, hatinya seakan tak kuat membaca setiap kata yang dikirim Jerry ‘kakak kenapa bilang ini ke aku, apa maksudnya kak? Apa orang lain yang dimaksud itu aku? Kakak kenapa selalu nyindir aku sih? Kenapa kakak selalu aja kayak gini ngak pernah mau langsung ngomong kalau itu aku. Tolong jangan buat aku tambah bingung dengan perasaan aku kak…”  Viola hanya bisa berbicara dihatinya, Ia benar-benar tak tau harus membalas apa pesan dari Jerry, setelah mematikan laptop dan menyimpannya Viola memutuskan untuk segera tidur menenangkan perasaannya
To        : Ka’ Jerry
             “kka sabar aja yah, kka pasti dpt penggantinya kok ;)
              Oh  ya ka’, aku udah mau tdur nih
              Soalnya besok pagi ada ulangan, ngak apa-apa kan ka’?”
From    : Ka’ Jerry
             “Yahh iya deh klau gitu, smga ulngan bsok lancar ya de
              Tdur aja, good nite
              Nice dream yah viola J
Viola pun meletakkan ponselnya diatas meja dan segera berbaring diranjangnya, Ia benar-benar ingin menenangkan pikirannya dari Jerry maupun Davin sampai akhirnya Ia tertidur.
Di tempat lain dalam waktu yang bersamaan
Jerry sedang duduk termenung sambil melihat bintang dari jendela kamarnya ‘Yahh.. kenapa Viola udah tidur sih, padahal kan malam ini aku mau nembak dia. Yaudah deh, aku bakal cari waktu yang tepat biar bisa nembak Viola’ batin Jerry berbicara, malam ini Ia memang sudah berencana untuk menyatakan perasaannya pada Viola yang disayanginya bahkan saat baru saja putus dengan pacarnya Jerry pun telah menyusun kata-kata untuk meminta Viola menjadi kekasihnya hanya saja karena kesibukan Jerry 2 minggu lalu untuk mengurus nilai dan persiapan sebuah tes agar bisa mendapat beasiswa ke Singapura dan masuk Universitas idamannya, Ia pun menunda rencananya untuk menembak Viola agar tetap bisa fokus dan memberi kejutan pada Viola orang yang tanpa diketahuinya telah menjadi milik Davin.
***
Sejak malam itu, Viola dan Jerry kembali dekat seperti sebelumnya mereka sering bertukar pikiran tentang segala hal dan ini membuat Viola makin sulit untuk melupakan Jerry meskipun Ia telah mencoba berbagai cara agar jauh dari Jerry namun tetap saja Jerry tak menyerah untuk terus dekat dengannya. Hal ini yang membuat Viola masih enggan untuk memberitahukan hubungannya dengan Davin.
Kedewasaan Jerry selama ini membuat Viola tak ingin jauh dari Jerry, sifat seorang cowok yang Ia idamkan semua ada pada Jerry yang sudah Ia anggap sebagai kakaknya sendiri. Viola tak ingin Jerry menjauh darinya saat mengetahui bahwa Ia telah menjadi kekasih Davin. Ketulusan dan kebaikan Jerry padanya membuat Viola semakin dibuat bimbang oleh perasaannya sendiri.
Dengan berjalannya waktu yang terasa cepat, satu bulan lebih sudah Viola menjadi kekasih Davin dan selama itu juga Viola dekat dengan Jerry yang masih tak mengetahui hubungan Viola dan Davin. Setiap kali Viola ingin mengatakan tentang hubungannya dengan Davin, selalu saja Jerry membuat Ia mengurungkan niatnya karena melihat Jerry yang begitu perhatian dengan sikap dewasanya dibanding Davin yang menurut Viola selalu menuntut untuk diperhatikan dengan sikap kekanak-kanakannya. Namun Viola selalu mencoba menghargai Davin sebagai kekasihnya meskipun sebenarnnya Ia masih bimbang dengan perasaannya sendiri yang menurutnya masih setengah-setengah antara Davin dan Jerry.
Hingga sampai suatu ketika Jerry yang berkunjung kerumah Viola menawarkan sebuah bazar makanan yang pada akhirnya Viola pun membeli bazar tersebut
“Tapi kakak anterin yah makanannya, soalnya aku ngak ada temennya kalau mau ngambil” Ucap Viola sambil memberikan menu makanan bazar tersebut
“Iya aku bakalan anter kok, pokoknya besok malem tungguin aja tapi agak lambat dikit ngak apa-apa kan?”
“Ngak masalah kak, yang penting makanannya sampai kesini ngak nyangkut kemana-mana” Viola tertawa kecil
“Kamu nih, tenang aja Vio makanan itu ngak bakalan nyangkut diperut aku kok” Canda Jerry yang disambut tawa dari keduanya
“Yaudah kalau gitu aku pamit yah, soalnya masih ada urusan nih” Ucap Jerry sambil beranjak dari tempatnya
“Iya kak, hati-hati” Sahut Viola saat Jerry hendak memasuki mobilnya
“Yooii,, bye” Jerry pun pergi meninggalkan rumah Viola
Keesokkan harinya, Viola sengaja mengkosongkan planning malam minggu ini karena menunggu bazar yang akan diantarkan Jerry kerumahnya. Namun tanpa sepengetahuan Viola, ternyata Davin dan ketiga temannya mendatangi rumahnya sekedar untuk berkunjung atau pun jalan-jalan
“Viooo temen kamu nih” Teriak mama Viola
“Iyaiya ma” Viola pun segera beranjak dari tempatnya yang mengira bahwa teman yang mamanya maksud itu adalah Jerry. Namun setibanya Ia diteras sempat terkejut melihat kedatangan  Davin, Anjas, Dayat dan Hugo
“Lohh kalian” Ucap Viola terkejut
“Iya kita, kamu pikir sapa? Ngak usah kaget gitu lagi Vio” Davin heran dengan ekspresi wajah Viola yang menurutnya memang sedang terkejut
“Enggak kok” Viola lalu duduk disamping Davin
“Tumben kalian kesini ngak bilang-bilang dulu” lanjutnya
“Soalnya Kita ngak tau nih mau kemana, abis nemenin Anjas kerumah pacarnya yah kita kesini, kebetulan aja lewat” Jelas Hugo
“Ohh gitu” setelah itu mereka pun berbicara tentang apa saja yang mereka alami bersama sambil tertawa bercanda. Namun setelah beberapa saat mereka bercanda, Anjas, Hugo dan Dayat memutuskan untuk pergi kerumah Shelli
“Eh Kita kerumah Shelli yuk” Ajak Hugo
“Ayoo” Dayat menyambung
“Ngapain kalian kesana?” Tanya Viola
“Yah jalan-jalan, emang tadi rencananya abis dari sini Kita mau langsung kerumah Shelli” Jawab Dayat
“Iya, lagian ngak enak juga kali kita bertiga disini kayaknya ganggu kamu ama Davin deh” Sambung Anjas
“Iih apaan sih, nyantai aja lagi” Sahut Viola
“Ngak ah, mendingan Kita kerumah Shelli aja” Kata Hugo
“Emm… kamu ngak ikut ama mereka Vin?” Tanya Viola mengingat bahwa Jerry akan mengantar bazar makanannya sebentar lagi
“Ngapain aku ikut mereka” Jawab Davin
“Kamu nih Vio, Davin kan mau malam mingguan disini mana mungkin dia mau ikutan ma kita-kita” sahut Anjas
“Apaan sih kalian rese deh” cetus Viola
“Yaudah kalau gitu Kita kerumah Shelli dulu yah Vio” Pamit Dayat sambil beranjak dari tempatnya disusul oleh Anjas dan Hugo
“Iya deh, hati-hati kalian” Ucap Viola dan mereka bertiga pun pergi meninggalkan rumah Viola.
“Kamu kok bisa jalan ama mereka sih Vin? Mereka kan temen sekelas aku” Tanya Viola membuka pembicaraan
“Yah ngak tahu juga sih, sebenernya tadi aku baru pulang dari rumah sepupu tapi dijalan pas lampu merah ketemu mereka bertiga dan kebetulan mereka mau kerumah kamu trus ngajak aku deh, yah aku ikut lah” Jawab Davin
“Ohh gitu” ucap Viola sambil berpikir tentang Jerry yang akan kerumahnya, takut jika Jerry mendapati Ia sedang bersama Davin
“Emm kamu udah makan?” Tanya Davin
“Belum, kamu?”
“Udah tadi, kenapa belum makan?”
“Yaahhh…” Viola sempat terdiam namun segera melanjutkan uucapannya
“Aku nungguin bazar yang mau dianterin”
“Ohh, bazar dari mana?”
“Bazar itu… punyanya kakak kelas” Jawab Viola hati-hati, Ia tak mau berbohong meskipun dalam hatinya merasa tidak enak jika Davin tahu
“Dia tahu rumah kamu ngak?” Tanya Davin, Ia juga penasaran dengan kakak kelas yang dimaksud Viola
“I..iiyaa dia tahu” Jawab Viola pelan
“Coba kamu sms deh, masa udah jam 9 gini bazarnya ngak dianterin juga” Ucap Davin, firasatnya mengatakan bahwa kakak kelas yang dimaksud adalah Jerry yang tanpa sepengetahuan Viola, Davin telah mengetahui kedekatan dia dengan Jerry kakak kelas yang bahkan sebelum menjadi pacarnya sudah dekat dengan Viola.
“Dia emang udah bilang, kalau dia bakalan telat ngantar bazarnya” Kata Viola, Ia selalu hati-hati dalam berbicara saat itu
“Emangnya kakak kelas siapa sih?” Tanya Davin memastikan
“emm…” Viola benar-benar bingung namun Ia tak ingin terlihat salah tingkah
“Kakak kelas 12, palingan bentar lagi dia nongol kok” Jawab Viola mencoba tetap santai denga bicaranya
“Ohh…” Davin tak ingin bertanya lagi, dalam hatinya Ia semakin yakin bahwa itu adalah Jerry
Setelah itu Viola segera mencari topik lain untuk dibahas agar dapat mencairkan suasana yang menurutnya mulai tak enak dan mereka berdua pun kembali menceritakan berbagai pengalaman mereka masing-masing yang dapat mengundang tawa. Beberapa waktu kemudian, terdengar suara sebuah mobil yang sepertinya menuju kerumah Viola
“Itu, kakak kelas yang anterin bazar kamu kali” Ucap Davin
“Emm ngak tau yah” Viola hanya tetap mencoba menenangkan dirinya sendiri agar tak salah dalam berbicara kemudian saat Viola serta Davin sedang sama-sama terdiam melihat siapa yang akan datang dan ternyata itu adalah benar Jerry.
 Viola pun segera beranjak dari tempatnya dan itu sempat membuat Davin heran karena Viola begitu cepat beranjak seakan-akan tak ingin Jerry melihat kebersamaan mereka, lalu Viola pun menunggu Jerry yang sedang berjalan setelah turun dari mobilnya, ekspresi Jerry saat itu terlihat lain dari biasanya sementara Viola mencoba tetap tenang meskipun hatinya tak menentu saat itu
“Ini dek bazar kamu, maaf yah telat” ucap Jerry datar sambil memberikan bungkusan makanan pada Viola
“Iya kak ngak apa-apa kok, makasih yah” kata Viola sambil menerima bungkusan tersebut
“Yaudah kalau gitu aku pamit yah” Ucap Jerry yang sempat melihat Davin sebelum Ia berbalik
“Iya kak, hati-hati” Ucap Viola
“Iya” Jerry pun berjalan pelan menuju mobilnya sambil berpikir siapa cowok yang bersama Viola saat itu dan Viola pun hanya bisa terdiam ditempatnya melihat Jerry yang tak seperti biasanya itu hingga menghilang dari pandangan lalu Viola pun kembali duduk ketempatnya semula
“Kita makan bareng yuk” Ajak Viola sambil hendak membuka bungkusan tersebut
“Ngak deh, kamu makan aja, aku kan udah tadi” Ucap Davin yang mulai curiga dengan Viola dan Jerry meskipun itu tak diperlihatikannya
“Emm yaudah deh. Aku kedalam dulu yah” Viola pun menyimpan makanan tersebut kedalam rumahnya dan kembali menemani Davin diteras.
“Em aku balik aja yah Vio, udah malem banget nih” Ucap Davin
“Hmm yaudah deh, aku juga ngak mau kamu terlalu kemaleman dijalan” Kata Viola
“Iya, aku pamit yah, salam sama mama kamu” Davin beranjak dari tempatnya
“Iya, hati-hati yah pelan-pelan aja bawa mobilnya” Ucap Viola
“Kamu tenang aja, ntar kalau udah sampe rumah baru aku sms” Davin pun berjalan menuju motornya sambil sesekali berbalik melihat Viola yang menunggunya sampai perlahan menghilang dari pandangan.
Setelah beberapa saat kemudian, Viola yang akan tidur mendengar ponselnya berdering
From   : Ka’ Jerry
             “Vio?”
Perasaan Viola mulai tak enak, tidak biasanya Jerry mengirim sms datar seperti ini, lalu Ia pun membalas pesan tersebut berharap semuanya akan baik-baik saja
To       : Ka’ Jerry
            “Iya ka’?”
From   : Ka’ Jerry
            “klau boleh tau, yg tadi itu sapa yah de?”
Viola gundah, Ia benar-benar membutuhkan sedikit waktu untuk membalas pesan tersebut, Ia tak tahu harus bagaimana. Ia selalu dibuat bimbang dengan perasaannya sendiri ‘mungkin emang ini saatnya, udah sebulan lebih aku sembunyiin ini dari Ka Jerry. Aku ngak bisa kayak gini terus, mau sampe kapan’ batin Viola mulai berkomentar, Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya tak harus dibiarkan terus seperti ini karena bagaimana pun juga Davin adalah kekasihnya dan Ia harus menghargai itu
From  : Ka’ Jerry
           “Itu tadi Davin ka’,,
            Pacar aku”
Air matanya menetes lagi, entah mengapa seperti ada pertengkaran dalam batinnya. Namun Ia terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa balasan pesan itu memang seharusnya Ia katakan.
Di tempat lain dalam waktu yang bersamaan
Jerry terlihat berantakan, Ia menatap kosong kedepan dengan ponselnya yang masih dalam genggamannya setelah membaca pesan dari Viola. Ia merasa terjebak dalam sebuah cerita yang tak pernah diinginkannya ‘kenapa jadi gini? Apa perasaan Vio juga kayak gini dulu waktu dia tahu aku punya pacar saat dekat dengan dia’ batin Jerry berkomentar. Ia bingung dengan Viola yang selama ini meresponnya dengan baik tapi ternyata telah menjadi milik orang lain dan Ia pun memutuskan untuk tidak membalas pesan dari Viola malam itu.
Kemudian Jerry meletakkan ponselnya jauh darinya sambil berbaring berpikir apa yang akan terjadi setelah ini, hatinya sakit jika memikirkan waktu-waktu yang banyak terlewatkan dengan tawa namun akhirnya seperti ini. ‘Mungkin emang aku yang salah, terlalu lama menunda-nunda waktu padahal udah ada kesempatan tapi sekarang.. apa kesempatan itu bakal dateng lagi?’ pikir Jerry, Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri, menutup mata lalu berharap ini hanya mimpi buruk yang hanya numpang lewat malam ini.
                                                      *           *           *

DUA HATI

Hari ini Viola sudah memiliki janji untuk belajar bersama dirumah Febby mengingat besok adalah Ujian Semester 1 untuk mereka. Sesampainya Viola dirumah Febby, Ia pun segera menceritakan semua kejadian yang dialaminya semalam juga keresahan hatinya saat itu
“Terus gimana dong?” Tanya Febby setelah mendengar semua cerita Viola
“Aku juga ngak tau Feb, sampai sekarang Ka Jerry ngak sms lagi”
“Emm kita liat di twitternya aja yuk, kali aja dia ngeluarin semuanya disitu” Usul Febby
“Iyaiya coba buka aja” Viola dan Febby pun segera membuka laptop untuk melihat sebuah akun sosial.
“Sumpah sakit” Viola membaca kalimat yang terlihat di profil twitter Jerry
“Naik dari lantai bawah sampai lantai teratas, setelah sampai lalu jatuh dari lantai teratas, begitu rasanya” Baca Viola di akun tersebut dan mereka berdua pun saling melihat
“Tuuh kan Feb, Ka Jerry pasti marah sama aku” Rengek Viola
“Mungkin dia ngak marah Vio, tapi yah mungkin dia kecewa kali” Komentar Febby
“Aduuh gimana dong nih Feb”
“Udah udah, mendingan coba deh kamu sms aja dia” Usul Febby
“Iih ngapain, aku ngak berani kali Feb lagian selama ini yang sms duluan itu selalu Ka Jerry” Ucap Viola
“Aduh bukan saatnya buat gengsi-gengsian deh Vio, kamu mau kayak gini terus? ngak kan”
“Yaahh Febby, serius nih”
“Iyalah serius, kamu juga ngak mau kan kayak gini terus. Dia itu senior kita loh, kamu juga ngak mau kan di judge jelek sama senior”
“Iiya deh..” Viola pun mengambil ponselnya dan mulai mengetik sebuah pesan
To     : Ka’ Jerry
          “Ka’ Jerry?”
“Aduuhh kira-kira dibales ngak yah” Pikir Viola
“Tenang aja Vio, kalau emang dia ngak bales yah kemungkinan dia lagi butuh waktu aja” Febby menenangkan sampai beberapa saat kemudian ponsel Viola pun berdering dan mereka berdua sama-sama membukanya
From  : Ka’ Jerry
           “Iya knpa Vio?”
“Tuh kan dibales” Sahut Febby
“Bilang apa lagi nih Feb?” Tanya Viola
“Udah bilang aja, kakak ngak apa-apa kan” Jawab Febby
“Ha? Apa ngak aneh yah Feb?”
“Yah trus mau bilang apa lagi dong”
“I..iya deh”
To      : Ka’ Jerry
           “Em, kka ga knpa2 kan?”
From  : Ka’ Jerry
           “Emangnya knpa Vio?”
To      : Ka’ Jerry
           “Yah, aku liat dari TL twitter, sttus kka ga enak smua.
            Kka lgi ada mslah yah?”
“Kira-kira dia bakal bales apa yah Feb?” Viola gundah
“Yah tungguin aja Vio”
From  : Ka’ Jerry
           “ga knpa-knpa kok de,
            Mngkin aku lebih baik diam aja J
To      : Ka’ Jerry
           “yaudah klau gitu,
            Kka tenangin aja pkiran kka, biar bs rileks”
From  : Ka’ Jerry
           “Hanya satu yg bs tenangin aku,
            Tpi msalahnya yg sering tenangin aku itu yg jdi mslahnya”
Viola terdiam setelah membaca pesan dari Jerry sementara Febby yang juga sudah membaca pesan tersebut berusaha mencarikan jalan keluar untuk sahabatnya ini.
“Aku harus bales apa Feb?” Tanya Viola tak bersemangat
“Aduh ribet nih sekarang, yaudah jalan satu-satunya mending kamu jujur aja deh Vio, coba bilang gini, apa yang kaka maksud itu aku” Jelas Febby
“hah? Tapiiiii....... yaudah deh”
To     : Ka’ Jerry
          “Maaf sbelum’nya ka’,
            Tapi apa yg kka maksud itu aku?”
“Hhuuaahh Ka Jerry bakal bales apa yaah” Viola membantingkan dirinya diatas tempat tidur sambil menutupi wajahnya dengan bantal
“Aduuh Vio, kayaknya kamu bener-bener galau tingkat kronis deh sekarang” Ucap Febby sambil mengambil ponsel Viola yang berada didekatnya
“Ehh Vio, nih smsnya Davin kamu ngak bales?” Tanya Febby sambil terus membaca pesan tersebut namun tak terdengar jawaban apa pun dari Viola yang terus menutupi wajahnya dengan bantal
“Vio..Vioo… Viiooo” Teriak Febby karena Viola tak juga menjawabnya kemudian Ia pun menarik bantal yang digenggam Viola
“Ya ampun Vio” Febby sedikit terkejut melihat Viola menangis setelah Ia menarik bantalnya
“Hhhhh Febby” Viola memeluk Febby dengan air mata yang masih mengalir
“Kok nangis sih? Udah dong.. semuanya pasti bakal baik-baik aja” Febby menenangkan
“Kamu tau ngak Feb” Viola melepaskan pelukannya dari Febby
“Apa?”
“Selama ini, aku berusaha menutupi hubungan aku sama Davin dari Ka Jerry. Itu semua karna aku ngak mau Ka Jerry menjauh dari aku, baru kali ini aku dekat sama cowok yang ngak pantang menyerah kayak Ka Jerry meskipun aku udah pernah tolak dia tapi tetap aja dia perhatian dan terus nunjukin sayangnya, dia juga dewasa dan ngak manja” Viola tersedu dan Febby pun hanya bisa mengelus pundak Viola sambil menunggu Viola melanjutkan ceritanya
“Baru kali ini Feb, ada cowok yang buat aku dari ngak suka jadi suka dan itu dia mulai semuanya dari awal. Aku ngak pernah kenal dia sebelumnya bahkan sejak awal ketemu dia aku ngak pernah sedikit pun punya feeling apa pun ke Ka Jerry. Dan sekarang semuanya malah jadi kayak gini, aku udah ngecewain dia Feb” Jelas Viola
“Kayaknya dia emang kecewa Vio, tapi aku yakin dia pasti bisa mengerti kok. Mending kamu jujur aja deh sama dia gimana perasaan kamu sebenarnya tapi kamu juga harus ingat kalau sekarang kamu juga punya Davin” Febby menenangkan
“Feb, kalau aku…” Viola terdiam sejenak lalu meneruskan ucapannya
“kalau akuu.. putus aja sama Davin, menurut kamu gimana?” Tanya Viola sambil menghapus air matanya
“Hah? Eehh… yah, aku ngak tau kalau soal itu. Tergantung ama kamu Vio, coba pikir baik-baik deh” Jawab Febby
“Aku bingung Feb” Viola menunduk sambil menutupi wajahnya dengan bantal
“Hmm… sebenarnya kamu punya perasaan ngak sih sama Davin?” Tanya Febby
“Emm” Viola menegakkan kepalanya sambil menatap Febby
“Aku ngak tau” Jawab Viola
“Yaaah Vio, kalau kamu ngak suka seharusnya bilang dari awal” Ucap Febby
“Tapi aku rasa, dengan berjalannya waktu pasti perasaan aku ke Davin bakal balik lagi kok”
“kalian kan udah sebulan, trus sekarang perasaan kamu ke Davin gimana?”
“Yahh.. gituu”
“Gitu gimana?”
“Aku juga ngak tau Feb” Viola meringis kemudian ponselnya berdering
From    : Ka’ Jerry
             “Yg buat kamu merasa apa de’?”
To        : Ka’ Jerry
             “Yah merasa aja ka’, dari sms2nya kka smpe yg ada di twitter”
From    : Ka’ Jerry
             “Klau iya?”
“Febby aku harus jawab apa nih?” Tanya Viola kebingungan
“Yaudah bilang aja kamu minta maaf, pokoknya yang gitu-gitu deh” Jawab Febby
To        : Ka’ Jerry
“Klau emang iya, aku minta maaf ka’, mngkin emang aku udah kecewain    kka tapi aku pernah bermaksud sperti itu ka’”
From    : Ka’ Jerry
             “Em entar abis magrib kamu keluar gak?”
To        : Ka’ Jerry
             “Kayaknya ngak deh ka’, besok kan mau ujian semester. Knpa ka’?
From    : Ka’ Jerry
             “Aku kerumah kamu yah, ngak lama kok”
“Febby, Ka Jerry mau kerumah aku” Sahut Viola
“Yaudah, ini waktunya kamu buat bilang semuanya”
“Iya deh, hmm.. waktunya bener-bener ngak tepat banget, masa disaat-saat mau semesteran”
“Yah sabar aja, semoga cepat selesai deh masalahnya”
“Iya nih, thanks yah Feb, kamu udah tenangin aku”
“Ih lebay deh, nyantai aja kali”
“hhehe yaudah kalau gitu aku balik yah, soalnya udah mau magrib nih”
“Iya, kamu hati-hati dijalan, jangan mikir yang macem-macem” Febby mengingatkan
“Apaan sih, kalau gitu aku balik yah” Pamit Viola sambil memeluk Febby
“Iya pokoknya aku doain yang terbaik buat kamu deh” Ucap Febby
“Thank you”
“Sama-sama, ntar cerita lagi yah”
“Iya nanti aku kabarin pokoknya, bye”
“Bye” Ucap Febby lalu Viola pun beranjak pergi dan meninggalkan rumah Febby.
Saat malam tiba tepatnya pukul 07.00 Jerry sudah berada didepan rumah Viola, Ia ingin semuanya jelas dan memastikan kembali perasaan Viola kepadanya.
“Ka’ Jerry” Panggil Viola saat membuka pintu rumahnya
“Duduk ka’, udah lama yah?” lanjutnya
“ngak kok, barusan juga sampai sini” Jawab Jerry
“Ohh iya deh” Viola lalu terdiam begitu juga dengan Jerry
“Emm Vio?” Suara Jerry memecah keheningan
“Iya kak?”
“Aku ngak mau basa-basi lagi, Davin itu beneran pacar kamu?” Pertanyaan Jerry membuat Viola sedikit menarik napas.
“Emm, iya ka’” Jawab Viola namun melihat ekspresi Jerry yang menurutnya tak seperti biasanya itu Ia segera melanjutkan ucapannya
“Ka Jerry, aku minta maaf, mungkin Ka Jerry kecewa tapi sama sekali aku benar-benar ngak punya niat buat ngecewain kakak”
“Vio, jujur aku emang kecewa tapi yah mau digimanain lagi. Lagian aku juga minta maaf, yah salah aku juga sih terlalu lama menunda waktu buat nembak kamu, sebenarnya aku udah senang dengan kita yang kayak kemarin-kemarin itu sambil tunggu waktu yang tepat tapi ternyataa…” Ungkap Jerry
“Kak, jujur aku nungguin kakak tapi aku pikir kayaknya kakak udah ngak pikirin lagi perasaan aku dan nganggap aku hanya sebagai adik, makanya aku terima Davin” Jelas Viola
“Aku nunggu lampu ijo dari kamu Vio”
“Aku bukan lampu merah yang ada diperempatan kak, yang lama ngasih lampu ijo”
“Yah mungkin emang aku yang kurang peka, jadinya gini deh. Lagian kayaknya aku emang salah, kata Shesa aku yang ngilang-ngilang”
“Ngilang-ngilang gimana kak?”
“Yah saat aku pdkt sama kamu, aku malah pacaran sama orang lain. Bodoh yah aku” mendengar perkataan Jerry yang terakhir, Viola hanya diam
“Hmm mendingan kita saling maafin aja. Yang penting kamu tau, aku sayang sama kamu Viola”
“Sebenarnya aku juga sayang sama kaka” Viola menahan air matanya, perasaannya benar-benar tak menentu, Ia merasa bahwa Ia dan Jerry tak ditakdirkan untuk bersama meskipun mereka saling menyayangi. Waktu datang selalu disaat-saat yang tidak tepat.
“Emm, kalau boleh tau, apa alasan kamu terima dia?” Pertanyaan Jerry membuat Viola berpikir agar tak salah menjawab
“Emmm, dia itu teman lama aku kak, kita udah deket dari sebelum UN dan dia baik banget sama aku kak, aku ngak mau ngecewain dia apalagi sampai merusak pertemanan kita. Lagian dulu emang aku juga pernah suka sama dia” Jelas Viola
“Ohh gitu, sebenernya aku ngak suka tanya ini, tapi hanya sekedar pengen tahu aja.. emangnya kapan dia nembak kamu?”
“Sekitaran minggu-minggu kemarin kak”
“Oohhh, padahal minggu kemarin aku juga mau nembak kamu. Yaah udahlah, longlast ya Vio” Jerry tersenyum
“Makasih kak”
“Em tapiii,,, kenapa kamu baru ngasih tau sekarang kalau kamu udah punya pacar?” Tanya Jerry penasaran, Ia ingin mendengar semua penjelasan dari Viola agar tak ada lagi kejanggalan dalam hatinya
“Sebenarnya, aku mau ngasih tau kakak tapi di sisi lain aku juga ngak mau kakak menjauh dari aku. Baru kali ini aku dekat sama cowok kayak Ka Jerry, yah aku harap kakak bisa ngerti dengan posisi aku” Jawab Viola jujur
“Aku ngerti Vio, aku juga pernah dalam posisi yang sama kayak kamu. Hmm mau ngak mau, aku emang harus menjauh dari kamu. Aku juga ngak bisa terus-terusan dalam posisi yang berharap kayak gini apalagi kamu udah punya pacar, yang penting aku tau perasaan kamu yah itu udah cukup”
“Makasih kak, yaaa semoga kaka juga bisa dapet pacar yang terbaik buat kaka”
“Amiin, semoga aja yah. Lagian aku tinggal beberapa bulan lagi kok disini”
“Hah? Maksud kaka?”
“Viola, aku udah pernah cerita kan sama kamu tentang tes beasiswa ke Singapura?”
“Iya kak, kalau itu aku tahu”
“Alhamdulilah aku diterima dan dapet beasiswa itu, jadi setelah UN nanti aku harus kesana buat ngurus itu semua” Jelas Jerry yang membuat Viola sempat tersentak kaget
“Ooh gitu, selamat yah kak, emm sapa tau aja kaka bisa dapat jodoh disana” Canda Viola meskipun dalam hatinya telah menahan tangis
“Kamu nih ada-ada aja deh Vio” Jerry tertawa kecil
“Berarti kaka tinggal 4 bulan lagi dong disini?”
“Yaah kurang lebih begitu” Ucap Jerry dan Viola hanya bisa mengangguk
“Eemm Vio, kayaknya aku harus balik deh, lagian besok kan mau semesteran” Kata Jerry
“Iya sih, yaudah deh. Hati-hati yah kak”
“Iya, aku pulang dulu” Pamit Jerry lalu beranjak dari tempatnya dan pergi meninggalkan rumah Viola. Setelah Jerry telah hilang dari pandangannya, tanpa Ia sadari air mata jatuh membasahi pipinya. Ia pun segera berlari masuk menuju kamarnya dan memeluk boneka panda kesayangannya. Viola tak memperhatikan lagi ponselnya yang sedari tadi berdering, Ia benar-benar ingin menenangkan hatinya malam itu meskipun dengan cucuran air mata. Ia harus menerima kehilangan sosok Jerry yang selalu menenangkannya dengan nasehat yang cocok untuknya, Ia harus membiasakan diri untuk tak menanyakan hal apapun tentang kehidupan SMA yang baru Ia masuki. Ia sendiri juga tak tau apa yang seharusnya Ia lakukan untuk Jerry maupun Davin karena tak ingin mengecewakan atau menyakiti hati siapa pun diantara mereka berdua. Sampai menyadari bahwa Ia telah terperangkap dalam dua hati yang berbeda namun berada ditempat yang sama.
***
“Violaaa…” Teriak Febby memanggil Viola dari kejauhan sambil berlari kecil menghampiri Viola yang sedang duduk sendiri di koridor depan perpustakaan
“Hey, jadi gimana?” Tanya Febby setelah berada disamping Viola
“Yaah gitu, kayaknya Ka Jerry ngak marah, malahan dia juga sempat minta maaf karena terlalu lama pdkt dan kesannya jadi harapan palsu” Jawab Viola
“Hmm yang penting masalah kamu sama Ka Jerry udah selesai kan?”
“Iya udah kok Feb”
“Naah sekarang tinggal kamu sama Davin, tau ngak sih semalem dia curhat sama aku” Ucap Febby
“Masa sih? Dia curhat apaan?”
“Emm, tapi kamu jangan kasih tau dia kalau aku bilang ini ke kamu”
“Iya tenang aja, emang dia bilang apaan?”
“Hmmm… semalem kamu keasyikan sama Ka Jerry yah? Sampe-sampe lupa balas smsnya Davin”
“Ooh iya, semalem aku cuekin hp”
“Nah itu, Davin pikir kamu ngapain sampe-sampe ngak bales sms trus ditelpon juga ngak diangkat”
“Hmm trus dia ngambek?”
“Yah ngak tau juga sih, lagian mana bisa dia ngambek, dia itu kan sayang banget sama kamu”
“Hmm… kayaknya mulai sekarang aku emang harus ngelupain Ka Jerry deh Feb”
“Serius? Yakin?”
“Emm aku harus yakin, meskipun aku menganggap Ka Jerry sebagai kakak tapi semakin aku dekat semakin juga aku ngak bisa melupakan perasaan ke Ka Jerry. Lagian katanya dia juga harus menjauh dari aku” Viola murung
“Masa sih? Dia bilang gitu?”
“Iya Feb, aku udah mikirin itu semua semalem. Lagian aku juga ngak bisa terus-terusan dua hati kayak gini” Jelas Viola
“Iya juga sih, yaudah kalau gitu kamu jangan cuek-cuek lagi sama Davin. Lagian Davin itu kan pacar kamu, seharusnya kamu lebih perhatian sama dia dibanding Ka Jerry”
“Iya Feb, mungkin emang Ka Jerry itu hanya sekedar menemani aku aja, bukan memiliki”
“Yah mungkin emang kayak gitu, lagian kamu udah milih Davin orang yang lebih lama kamu kenal dibanding Ka Jerry yang baru kamu kenal” Kata Febby
“Iya, aku juga ngak tahu gimana sifat aslinya Ka Jerry, mungkin emang semuanya udah diatur ama Tuhan. Aku yakin kok pilihan aku ngak salah” Jelas Viola
“Bener tuh, mungkin takdir kamu emang sama Davin, kalau aku pikir sih selama ini kayaknya kamu ngak pernah dapet waktu yang pas buat jadi pacarnya Ka Jerry. Soalnya disaat Ka Jerry nembak tapi kamu ngak diterima trus pas kamu suka sama dia malah pacaran ama orang lain, sekarang pas kamu udah sama Davin Ka Jerrynya malah putus dan dateng lagi ke kamu”
“Thanks banget yah Feb, selama ini kamu udah kasih saran yang baik buat aku”
“Iih lebay deh, nyantai aja lagi Vio. Kayak orang baru kenal aja”
“Hhehehe” Viola tertawa kecil
                                                            *           *           *

KEPERGIAN JERRY

4 Bulan Kemudian
Jerry berjalan menuju tempat parkiran sambil membawa tas ransel dipunggungnya, melewati koridor sekolah sambil sesekali melihat kesekelilingnya, dari lapangan basket maupun setiap kelas yang hanya terisi dengan beberapa siswa kelas 12, rasanya sepi tanpa ada siswa kelas 10 maupun 11. Hari ini merupakan hari terakhir UN SMA dan malam nanti akan diadakan prom nite di salah satu gedung yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Sesampainya dirumah Jerry telah disambut dengan sahutan adiknya,
“Ciiieee yang baru aja selesai UN” Sahut Acha yang sedang asyik duduk dikursi depan televisi
“Iya dong” Ucap Jerry sambil duduk disamping Acha
“Kaka jadi berangkat ke Singapura? Kapan?” Tanya Acha
“Iya lah, berangkatnya hari senin” Jawab Jerry
“Berarti lusa dong, cepet amat ka”
“Yah kan emang udah perjanjiannya kayak gitu”
“Terus kapan kaka pulang?”
“Mungkin beberapa bulan kedepan atau sampai pengumuman kelulusan”
“Ohh, Kaka ngak pamitan dulu sama Viola?” Mendengar pertanyaan Acha, Jerry hanya terdiam sampai beberapa saat kemudian berbicara
“Hhh… untuk apa? Lagian dia udah bahagia sama pacarnya. Meskipun sebenarnya kaka pengen sih ngeliat dia dulu sebelum berangkat, tapi yah mau diapain lagi” Setelah menjawab, Jerry segera beranjak dan masuk ke kamarnya untuk menghindari pertanyaan Acha yang mungkin akan membuatnya semakin teringat dengan Viola, sampai-sampai Ia lupa mengambil ponselnya yang tadi Ia letakkan diatas meja.
‘Ka Jerry pasti masih suka sama Viola’ batin Acha berkomentar, saat Ia ingin mengambil remote televisi yang berada diatas meja dilihatnya ada ponsel milik Jerry, kemudian terlintas begitu saja sebuah ide dari Acha. Ia pun mengambil ponsel tersebut lalu membuka kontak nomor telepon sampai menemukan nomor telepon Viola dan segera mencatat nomor tersebut diponselnya.

Setelah malam tiba, Viola terlihat asyik menonton sebuah sinetron ditelevisi hingga terdengar bunyi ketukan pintu dari luar rumah yang menandakan ada tamu lalu Ia pun segera beranjak dari tempatnya, setelah Ia membuka pintu dilihatnya Davin dengan pakaian yang begitu rapi
“Davin? Kok rapi banget” Viola sedikit terkejut melihat penampilan Davin yang menggunakan kemeja putih dilapisi dengan jas hitam.
“Kok kamu belum siap-siap sih?” Tanya Davin
“Siap-siap? Mau kemana emangnya? Kamu kok udah kayak orang mau kepesta gitu sih” Ucap Viola
“Loh kamu gimana sih, malam ini kan emang ada acara prom nite. Kamu lupa ya?”
“Emm,, ngak lupa sih” Kata Viola
“Trus kenapa belum siap-siap?”
“Yah aku males aja Vin, emang penting yah datang ke acara itu” Viola acuh
“Kamu gimana sih Vio, aku udah cakep gini kamunya malah males-malesan”
“Iidih, PD banget sih cakep” Viola meledek
“Emang iya kan?”
“Yah terserah kamu deh”
“Viola ayo dong, lagian Febby sama yang lain juga pada pergi kok”
“Hmm…” Viola berpikir sejenak, dalam pikirannya Ia tau disana pasti ada Jerry
“Ayo dong Vio, masa kamu tega sih biarin aku dateng sendirian” Bujuk Davin
“Iyaiya deh, tapi kita jangan lama-lama yah disana”
“Yes, yaudah ganti baju sana”
“Tunggu bentar yaa” Viola pun masuk ke kamarnya dan mengambil sebuah gaun sebatas lutut berwarna pink yang akan Ia kenakan. Setelah mengoles wajahnya dengan sedikit sentuhan make up yang simple, Viola pun siap untuk pergi ke acara prom nite tersebut.
“Naah, kalau gini kan enak dilihat” Ucap Davin setelah melihat penampilan Viola yang menurutnya berbeda kali ini
“Apaan sih, yaudah yuk, pokoknya jangan lama-lama yah kita disana”
“Iya bawel, yuk” Davin dan Viola pun beranjak pergi menuju kesebuah gedung dimana acara prom nite dilaksanakan.
Sesampainya di gedung tersebut, Viola dan Davin bertemu dengan Febby yang saat itu juga sedang bersama Denis
“Katanya males dateng” Sahut Febby setelah menghampiri Viola dan Davin
“Apaan sih Feb” Ucap Viola
“Kalau sama aku mana mungkin dia males” Ucap Davin yang disambut pukulan kecil dari Viola
“Davin apaan sih” ucap Viola lalu mereka pun tertawa kecil
“Kalian tuh, mentang-mentang pasangan baru” Sindir Viola
“Hhehehe” Febby nyengir
“Tahun ajaran baru, kelas baru, pacar baru juga dong” Sahut Denis
“Denger tuh Feb, berarti setiap pergantian tahun ajaran dia selalu punya pacar baru” Ucap Davin memanas-manasi Febby dengan candanya sementara Febby hanya melihat Denis dengan tatapan sinis
“Ehh bukan gitu, pacar barunya cuma kamu aja kok Feb” Denis membela diri
“Lebay kalian” Sahut Viola lalu mereka berempat pun tertawa bersama
“Ehh, aku ambil minum dulu yah disana” Ucap Viola
“Mau aku temenin?” Tanya Davin
“Ngak usah, cuman deket doang kok disitu” Jawab Viola lalu berjalan menuju sebuah meja yang diatasnya telah tersedia orange juice dan beberapa minuman bersoda. Tanpa Viola sadari sejak Ia berjalan menuju meja tersebut, ada yang memperhatikannya dari kejauhan.
‘Kapan yah aku bisa benar-benar ngelupain kamu Vio’ batin Jerry berkomentar, lalu Ia pun berniat untuk menghampiri Viola hanya sekedar untuk berpamitan bahwa besok lusa Ia akan berangkat. Namun baru saja Ia melangkahkan kaki, dilihatnya Davin telah menghampiri Viola duluan dan akhirnya Jerry pun mengurungkan niatnya untuk berpamitan dengan Viola lalu Ia mengalihkan pandangannya dan berkumpul kembali bersama teman-temannya.
“Davin aku kan udah bilang ngak usah ditemenin” Ucap Viola saat melihat Davin tiba-tiba berada disampingnya
“Aku juga mau ngambil minum Vio, haus nih” Kata Davin
“Oohh yaudah”
“Kesana yuk” Ajak Davin setelah mereka masing-masing mengambil segelas orange juice
“Ayo” Viola dan Davin pun kembali berkumpul bersama Febby dan Denis
***
Jerry terlihat sibuk merapikan pakaiannya untuk dimasukkan kedalam koper, kemudian Acha yang masih menggunakan seragam sekolah masuk kekamar Jerry
“Eheemm yang mau berangkat” Sahut Acha sambil duduk didekat Jerry
“Apaan sih, eh kamu kok udah pulang?” Tanya Jerry setelah melihat jam dinding
“Pelajaran terakhir gurunya ngak masuk kak, lagi ada urusan katanya. Lagian kakak kan mau berangkat jadi biar aku juga bisa ikut nganterin ke bandara” Jawab Acha
“Ohh… kamu nih ada-ada aja”
“Emang pesawat kakak jam berapa sih?”
“Berangkatnya sih jam 3, tapi kan harus check in dulu jadi agak cepet perginya”
“Emm kakak udah pamitan sama Viola?”
“Udahlah Cha, ngak usah tanyain itu mulu. Lagian biarpun dia tau kakak berangkat hari ini, dia juga ngak bakalan dateng ke bandara kok” Ucap Jerry mencoba tetap santai
“Jadi kakak ngarep dia dateng ke bandara yah?” Tebak Acha
“Ehh bukan… ngak gituu… cuman…” Jerry terdiam sejenak lalu melanjutkan perkataannya
“Eh kok kamu jadi kepo gini sih”
“Bilang aja iya kak, ngak usah bohong sama aku”
“Udah deh mendingan kamu ganti baju trus buatin kaka minum yah”
“Idih malah nyuruh lagi”
“Kamu nih, kakak kan udah mau pergi jadi sekali-sekali buatin minum dong”
“Hmm mentang-mentang mau berangkat, yaudah iya deh.. tapi ntar kaka ke ruang tengah yah” Acha pun beranjak dari tempatnya, setelah keluar dari kamar Jerry Ia mengambil ponsel disakunya lalu menulis sebuah pesan.


Di tempat lain dalam waktu yang bersamaan
Viola asyik menyelesaikan tugas yang diberikan dari gurunya sampai Shelli datang mengejutkannya
“Heey serius amat” Sahut Shelli
“Kamu nih, emangnya kamu udah selesain tugas yang di bab 4 ?” Tanya Viola
“Belum sih, 2 nomor lagi nih” Jawab Shelli
“Yeee.. kirain udah”
“Eh Ka Jerry hari ini berangkat kemana sih Vio?” Pertanyaan Shelli membuat Viola terdiam sambil mengingat sesuatu
“Ha? Berangkat? Emangnya hari ini?” Viola kembali bertanya
“Yaelaah malah balik nanya, iya tadi tweet dia masuk di timeline aku” Kata Shelli
“Emang tweet dia apa?” Tanya Viola penasaran
“Dia cuman tulis lagi packing aja, kalau gitu berarti dia pasti mau berangkat kan” Jawab Shelli
“Emangnya dia kemana sih Vio?” Lanjut Shelli menanyakan pertanyaannya yang belum juga dijawab Viola yang sekarang masih terdiam
‘Masa iya sih hari ini, tapi dulu kan dia emang bilang perginya setelah UN’ batin Viola berkomentar
“Violaa,, kok malah ngelamun sih” Sahut Shelli
“Ha? Eh.. engak kok” Ucap Viola
“Hmm… kalian udah lost contact yah?” Tebak Shelli
“Ngak gitu juga sih, tapi beberapa bulan ini Kita emang udah ngak pernah ada kontak lagi” Kata Viola lalu terdiam sejenak dan melanjutkan perkataannya
“Tapi mungkin dia emang berangkat hari ini, Ka Jerry mau ngelanjutin kuliahnya di Singapura”
“Serius? Wah hebat dong Ka Jerry” Ucap Shelli
“Yah gitu deh” Kata Viola lalu ponselnya berdering menandakan pesan masuk yang segera dibukanya
From      : (no name)
              “Ini bener nomornya Viola?”
To          : (no name)
               “Iya, maaf ini siapa yah?”
“Sapa Vio?” Tanya Shelli
“Ngak tau nih, nomer baru” Jawab Viola, tak lama kemudian ponselnya kembali berdering
From      : (no name)
              “Ini aku Acha, adik Ka Jerry. Kenal kan?”
To          : (no name)
              “Ohh adiknya Ka Jerry, ada apa?”
“Adiknya Ka Jerry” Ucap Viola pelan namun didengar Shelli
“Adiknya Ka Jerry? maksud kamu Acha?”
“Iya shel”
“Dia dapet nomer kamu dari mana yah, perasaan dia ngak pernah tuh minta nomer hp kamu sama aku” Komentar Shelli
“Perhatian sebentar” Kata guru mereka dari depan kelas yang membuat semua siswa terdiam dan mengalihkan pandangannya pada guru tersebut
“Ibu dan guru-guru lain ada acara, jadi untuk hari ini Kalian pulangnya cepat. Tugas itu jadikan PR dan besok pagi tugas itu kumpul dimeja ibu” Kata guru tersebut sambil membereskan buku-bukunya kemudian keluar kelas
“Pulang cepat? Kalau pulangnya dari jam 10 tadi sih itu baru dibilang pulang cepat” Komentar Anjas
“Iya nih, orang ini juga udah mau jam 2 kok” Sambung Shelli
“Hmm yah gitu deehh” Sahut Viola sambil membaca pesan yang baru saja masuk diponselnya
From        : (no name)
                  “Em kamu ngak mau dateng ke bandara?
                   Ka jerry bentar udah mau berangkat loh”
To            : (no name)
                  “Hmm kayaknya ngak deh, maaf yah..
                   Salam aja ama ka jerry”
From        : (no name)
                  “Loh kenapa? padahal Ka jerry pengen liat kamu
                  Pesawatnya berangkat jam 3”
To            : (no name)
                  “Maaf cha, tapi aku gak bisa
                   Bukannya gak mau, cman ngejaga perasaan pacar aku aja”
“Eh Vio, ada Davin tuh” Ucap Shelli saat melihat Davin menunggu didepan kelas mereka
“Iya, aku duluan keluar ya Shel” Kata Viola
“Ya ntar aku nyusul deh” Ucap Shelli lalu Viola pun beranjak dan menghampiri Davin
“Kalian baru keluar yah, padahal tadi kelas aku gurunya udah ngak masuk” Kata Davin saat Viola telah berada didepannya
“Iya tuh, gurunya rajin banget sih”
“Yaudah, belum mau balik?” Tanya Davin
“Emm.. dikit lagi yah. Febby mana?”
“Ada tuh sama Denis, mau hampirin mereka?”
“Em iya deh, ke mereka aja yuk” Ajak Viola lalu mereka berdua pun menghampiri Febby dan Denis yang sedang duduk dikursi panjang koridor sekolah.
“Hooy” Sapa Viola dan Davin hampir bersamaan
“Kelas kalian lama amat sih keluarnya, padahal kelas kita udah keluar dari tadi” Ucap Febby
“Yah itu kan tergantung gurunya” Kata Viola sambil duduk disamping Febby
“Vio pinjam hp kamu dong” Pinta Davin
“Buat apa?” Tanya Viola
“Pulsa aku habis, mau sms temen yang jual pulsa” Jawab Davin lalu Viola pun memberikan ponselnya
Setelah selesai mengetik sebuah pesan dan hendak mengembalikan ponsel pada Viola, tak sengaja jari Davin membuka sebuah pesan yang baru saja masuk dan Ia pun membacanya karena mengira itu adalah balasan dari smsnya.
From        : (no name)
                  “aku tau, tapi untuk terakhir kalinya coba ketemu sama ka jerry
Dia pengen bnget ktemu kamu tapi dia gak mau dianggap ngerusak  hubungan org. selama ini aku gak pernah ngasih apa-apa ke ka jerry,
Tapi sbelum dia berangkat aku pengen liat dia senyum, hnya ini yg bs aku lakuin. Tlng vio, untuk terakhir kalinya aja, aku yakin pcar kamu pasti bs ngerti kok.
Skrng ka jerry udah di bandara dan aku tau dia msh berharap ada kamu meskipun dia gak tau aku blng ini. Pesawatnya jam 3 vio, tlng hanya untuk terakhir kali aja temuin ka jerry..
Perasaan Davin tergugah, setelah beberapa saat bepikir dan melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 02.10 kemudian melihat wajah Viola yang sedang tertawa bersama Febby dan Denis ‘sampai kapan kamu nyembunyiin ini dari aku Vio? Kamu harus ke bandara’  batin Davin berkomentar, lalu Ia pun membalas pesan tersebut
To            : (no name)
                  “Tenang aja, viola pasti bakal kesitu kok
                   Janji..”
Setelah mengembalikan ponsel pada Viola Ia lalu menarik tangan Viola dan mengajaknya pergi
“Kita mau kemana Vin?” Tanya Viola
“Udah ikut aja” Kata Davin datar
“Kalian kemana sih? Kita ikut boleh kan?” Tanya Denis
“Iya kalau kalian mau, ikut aja” Jawab Davin sambil tetap memegang tangan Viola, mengajaknya sampai ke tempat parkiran
“Vin Kita mau kemana sih sebenernya” Viola berhenti didepan mobil juke milik Davin, baru kali ini Davin seperti itu padanya
“Masuk aja Vio, ntar kamu juga tau kok” Davin membuka pintu mobil namun Viola masih tetap berdiri ditempatnya sambil menatap Davin dan Davin pun membalas tatapan Viola dengan lebih tajam seakan mengisyaratkan harus ikut dengannya dan Viola pun masuk kedalam mobil di ikuti Davin lalu Febby dan Denis
Diperjalanan Viola maupun Davin hanya diam tanpa berbicara sedikit pun, sementara Viola yang tidak mengetahui maksud dari itu semua hanya bisa menyimpan rasa kesal pada Davin yang menurutnya sangat aneh saat itu
“Mereka kenapa sih?” Tanya Denis sedikit berbisik pada Febby, Ia sadar dengan situasi yang tidak mengenakkan saat itu
“Aku juga ngak tau, baru kali ini Davin kayak gitu” Jawab Febby sedikit berbisik.
Setelah sampai tempat parkiran bandara, Davin melihat jam tangannya yang telah menunjukkan pukul 02.30 lalu Ia pun mengajak Viola, Febby dan Denis untuk segera turun.
“Bandara?” Tanya Viola sambil menatap Davin dengan wajah bingung
“Iya, masih ada waktu kok” Jawab Davin mencoba santai
“Siapa yang mau berangkat sih?” Tanya Febby penasaran
“Aku makin ngak ngerti deh sama kamu Vin” sambung Denis
“Kenapa cuman diem? Kita buang-buang waktu disini, ayo” Davin kembali menarik lembut tangan Viola dan membawanya masuk dalam gedung bandara
Dalam waktu yang bersamaan
“Aku pamit yah ma” Ucap Jerry sambil memeluk mamanya
“Iya hati-hati yah disana sayang” Kata mama Jerry
“Acha, kaka pamit yah” Ucap Jerry pada Acha yang terlihat gelisah
“Kaka udah mau masuk? Dikit lagi deh kak” Acha mencoba menahan Jerry karena Ia tau Viola akan datang sebentar lagi
“Kamu kenapa sih Cha? Dari tadi kaka perhatiin kayaknya gelisah gitu. Tenang aja, aku nanti bakalan balik juga kok. Makanya kamu doain semoga aku lancar disana” Kata Jerry, Ia mulai curiga dengan sikap Acha yang menurutnya tak seperti biasa
“Kak, temenin aku kesana dulu yuk” Ajak Acha sambil menarik lengan Jerry
“Acha apaan sih, aku udah mau berangkat nih” Tolak Jerry
“Kakak ayoo, aku yakin kakak bakalan nyesel udah nolak ajakanku” Kata Acha meyakinkan, Jerry yang juga penasaran saat itu pun menerima ajakan Acha meskipun Ia sendiri masih tak mengerti maksud Acha
Ketika Jerry dan Acha berjalan, dari arah yang berlawanan Viola dan Davin juga sedang berjalan sampai pandangan mereka pun bertemu. Jerry berhenti melangkah ketika melihat Viola dan Davin begitu pun sebaliknya.
“Davin?” Viola menatap Davin dalam, merasa ini semua kejutan yang tak pernah dibayangkan olehnya.
“Viola, aku tahu meskipun kamu ngak pernah cerita” Ucap Davin sambil memegang salah satu bahu Viola
“Vin kenapa kamu ngelakuin ini?” Mata Viola berkaca menahan air mata yang siap untuk jatuh
“Vio, aku sayang banget sama kamu, apa pun itu aku lakuin asal kamu bahagia” Ucap Davin tulus
“Vin,, akuu…” Viola tak lagi dapat menahan air matanya yang jatuh seketika melihat ketulusan Davin
“Udah, kamu jangan buang-buang waktu, bicara sama Ka Jerry apa pun yang pengen kamu bilang” Kata Davin lalu Viola pun berjalan menghampiri Jerry yang hanya beberapa langkah darinya. Sementara Febby dan Denis hanya bisa terdiam melihat sahabat mereka begitu pun dengan Acha
“Viola, kamu dateng juga” Ucap Jerry tak percaya
“Kenapa kaka ngak bilang sih berangkat hari ini” Kata Viola namun belum sempat Jerry berbicara Ia segera memotongnya
“Kenapa kaka selalu kayak gini? Selalu dateng, terus pergi gitu aja dan dateng lagi disaat yang ngak tepat. Mau kaka apa sih” Viola tak dapat lagi menahan amarahnya, Ia ingin mengeluarkan seluruh isi hatinya yang mengganjal
“Vio maafin aku, sebenernya aku pengen banget pamit ke kamu tapi keadaannya yang ngak memungkinkan. Aku hanya mau kamu bahagia dengan pilihanmu sendiri, Davin itu cowok yang baik kok, buktinya dia mau nganterin kamu kesini. Viola, mungkin kita emang ngak ditakdirkan untuk sama-sama bahkan dari awal. Tapi yang pasti aku senang bisa kenal kamu lebih banyak” Ucap Jerry bijaksana
“Kak, aku hanya ngak mau kakak menjauh lagi. Aku butuh temen curhat, aku butuh sosok seorang kakak kayak Ka Jerry buat dengerin aku cerita apa pun itu dan aku juga butuh kakak yang bisa aku tanya-tanya tentang kehidupan SMA yang belum bisa dipahami. Aku emang udah milih Davin kak’, tapi juga milih Ka Jerry sebagai kakak sekaligus teman buat aku” Air mata Viola tak dapat berhenti, mengalir senada dengan perasaanya
“Iya, kita masih bisa jadi adik kakak kok. udah dong, kok nangis terus” Ucap Jerry dan Viola pun mencoba menghapus air matanya
“Davin, sini” Panggil Jerry pada Davin yang hendak berbalik badan, seakan Jerry mengetahui bahwa Davin akan pergi saat itu. Tanpa berkomentar Davin pun berjalan menghampiri Jerry dan Viola lalu berdiri ditengah-tengah mereka berdua
“Vio, ada Davin yang bakal ngejagain kamu, aku yakin dia cowok yang baik buat kamu. Kamu ngak salah pilih” Ucap Jerry pada Viola yang sedang menghapus air mata dipipinya kemudian Jerry menatap Davin sambil memegang salah satu pundak Davin
“Vin, jaga Viola yah, jangan biarin dia nangis kayak gini lagi. Aku tahu kamu sayang banget sama dia lebih dari aku”
“Iya Ka Jerry, walaupun kaka ngak bilang aku juga bakal tetap jagain Viola kok” Davin tersenyum
“Tuh Vio, kamu ngak salah pilih, pantes aja kamu milih Davin dibanding aku, ternyata selain lebih cakep dia juga pinter ngambil hati kamu” Canda Jerry ditengah-tengah keseriusannya
“Kakak apaan sih” Viola terlihat malu-malu
“Muka kamu merah loh Vio” Tegur Jerry
“Kakak iiiiihh jail deh” Viola menutupi pipinya dengan tangannya
“Ahhahaha semoga kalian langgeng yah”
“Iya ka, makasih” Ucap Davin sambil merangkul Viola
“Yaudah, ngak ada lagi yang perlu aku khawatirin. Semuanya udah selesai dan sekarang.. aku harus pergi” Kata Jerry setelah sempat melihat jam tangannya
“Hmm yaudah deh kak, kaka hati-hati aja disana. Jangan lupa sama Indonesia yah kak” Ucap Viola
“Iyaa, kamu juga baik-baik disini. Belajar biar nanti bisa lulus, jangan pacaran mulu, jadiin motivasi belajar aja” Pesan Jerry
“Iya Ka Jerry” Viola mengangguk
“Yaudah kayaknya aku udah bener-bener harus pergi sekarang. Emm… Acha” Kata Jerry kemudian memanggil Acha yang berdiri tak jauh dari mereka
“Iya kak” Acha pun menghampiri Jerry
“Kamu perhatian juga yah sama kaka” Ucap Jerry dan Acha hanya bisa nyengir
“Makasih, ini juga berkat kamu Cha” Lanjut Jerry
“Yaudah, semoga kalian semua bisa tetap bahagia kayak gini. Aku pergii.. byebye” Pamit Jerry lalu meninggalkan tempat tersebut
“Bye kak” Ucap Viola, Acha dan Davin hampir bersamaan sambil melihat Jerry yang lama-kelamaan menghilang dari pandangan
“Makasih yah Vio, kamu udah dateng, ternyata kamu nepatin janji juga.. bye” Kata Acha sambil tersenyum belum sempat Viola berbicara namun Acha telah pergi
“Hah janji? Janji apa? Aku ngerasa ngak pernah buat janji hari ini” Viola bingung kemudian Ia menatap Davin dengan tatapan menyelidiki
“Sorry, tadi ngak sengaja sms Acha kebuka yah aku baca dan……” Davin tak sempat lagi meneruskan perkataannya karena Viola sudah duluan memukul pelan bahu Davin
“Daviiinn…..” Viola gemas
“Aawww… Vio jangan gitu” Davin mencoba meraih tangan Viola yang mencubit pelan perutnya dan menahannya lalu mengajak Viola untuk segera pulang.
                                          *           *           *

SATU PILIHAN

“Oohh jadi ini alasannya kamu ngajak Viola tiba-tiba pergi” Sahut Febby saat mereka berempat telah berada didalam mobil
“Yah gitu deh” Ucap Davin
Kamu tuh Vin, aku pikir Kita bakalan kemana tadi, ehh ternyata cuman ke airport toh” Sahut Denis
“Yaudah nih Kita udah nyampe sekolah” Ucap Davin saat mobil yang Ia kendarai telah berhenti didepan gerbang sekolah
“Davin jahat banget sih masa turunin Kita didepan gerbang” Sahut Febby cemberut
“Loh kalau aku anterin kalian berdua sampe rumah terus mobil Denis mau ditinggalin disekolah gitu” Kata Davin
“Maksud mereka tuh kenapa ngak dianterin sampe tempat parkir Vin, Iya kan?” Sahut Viola
“Nah itu Viola tahu” Sahut Denis
“Sekali-sekali jalan Den, kan juga berdua ama Febby” Davin tertawa kecil
“Dasar lu Vin, yaudah aku ama Febby turun yah” Ucap Denis sambil membuka pintu mobil dan segera turun
“Iya kalian hati-hati dijalan, bye” Sahut Febby
“Iya.. bye” Ucap Viola dan Davin hampir bersamaan
“Kita langsung balik yah Vio” Kata Davin
“Iyalah Vin, mau kemana lagi” Ucap Viola lalu Davin pun menancap gas pergi meninggalkan sekolah
Sudah setengah perjalanan namun Viola dan Davin hanya diam tanpa berkata apa-apa, melihat situasi yang sangat tidak menyenangkan itu akhirnya Viola pun mencoba untuk bicara
“Davin?” Ucap Viola
“Iya Vio” Balas Davin
“Emm… kamu ngak marah?” Tanya Viola pelan
“Hah marah? Kenapa aku harus marah?” Davin mencoba santai dengan senyumnya
“Kamu ngak marah kalau aku deket ama Ka Jerry?”
“Itu kan hak kamu Vio, aku percaya kok sama kamu” Kata Davin
“Beneran? Maafin aku yah Vin” Ucap Viola
“Kok minta maaf sih? Emang kamu salah apa?”
“Yah aku ngak jujur sama kamu tentang Ka Jerry”
“Aku kan udah bilang, aku percaya sama kamu Vio” Ucap Davin setelah terdiam sejenak Ia lalu melanjutkan ucapannya
“Hmm… emang sih, jujur aku sempat cemburu.. tapi yah aku tahu itu wajar kok. siapa yang ngak cemburu kalau pacarnya deket banget ama cowok lain”
“Vin, aku bener-bener minta maaf soal itu” Mata Viola mulai berkaca mendengar kejujuran Davin
“Vio, ngak perlu minta maaf, kamu ngak salah kok. Aku yakin kamu bisa jaga kepercayaan aku”
“Vin, makasih yah kamu udah mau percaya ama aku. Ternyata kamu juga bisa sebijak ini yah” Kata Viola yang tak menyangka bahwa Davin yang dikenalnya manja atau kadang kekanak-kanakan ternyata dapat bijaksana saat itu
“Apaan sih Vio” Davin tersenyum lalu menghentikan mobilnya karena telah sampai didepan rumah Viola
“Emm… makasih banyak yah Vin” Ucap Viola
“Hmm Vio, aku sayang banget ama kamu, aku cuman mau Kita bisa saling percaya dan saling jujur apa pun masalahnya” Kata Davin sambil menggenggam lembut tangan Viola
“Pokoknya mulai sekarang kalau ada yang kamu ngak suka atau apa pun itu, kamu ngomong yah.. jangan diem” Kata Viola sambil menatap mata Davin menunjukkan ketulusannya
“Iya Vio, aku juga minta maaf mungkin selama ini aku kurang peka, tapi jangan sampai ada orang lain lagi yah diantara kita”
“Iya Vin, aku kan udah pilih kamu jadi ngak akan ada orang lain lagi. Soal Ka Jerry… aku akui kalau emang sih susah buat lupain dia tapi aku sadar kok ternyata Ka Jerry itu lebih cocok jadi kakak buat aku, soalnya selama ini aku suka karena kebaikan dia sama kedewasaan dia dalam masalah. Beda sama kamu” Jelas Viola
“Kamu nih, buat aku melayang tahu ngak” Davin tertawa kecil
“Daviin… aku serius” Ucap Viola yang juga tertawa kecil
“Iyaiya aku tahu, kamu jangan buat aku cemburu lagi yah” Kata Davin
“Iya Vin, kamu juga”
“Udah kamu jangan nangis lagi dong” Ucap Davin
“Apaan sih, aku ngak nangis Vin” Viola menyangkal
“Tuh mata kamu berkaca-kaca” Davin memperhatikan mata Viola
“Apaan sih.. enggak Vin” Viola memukul pelan pundak Davin
“Yaudah kalau gitu kamu masuk gih sana, udah sore nih” Davin mengingatkan
“Emm iya deh, kamu hati-hati yah.. jangan ngebut-ngebut” Kata Viola
“Iya, aku ngak ngebut kok Vio... tenang aja” Kata Davin
“Yaudah aku masuk yaah” Pamit Viola sambil membuka pintu mobil dan keluar
“Bye” Ucap Davin setelah membuka salah satu jendela mobil tersebut
“Bye” Balas Viola sambil melambaikan tangannya dan mobil juke milik Davin pun melaju pelan meninggalkan rumah Viola
***
Liburan telah berakhir dengan awalnya tahun ajaran baru, kini Viola bersama dengan teman-teman seperjuangannya telah duduk dibangku kelas 11 SMA. Viola mengambil jurusan IPA bersama Davin sementara Febby mengambil jurusan Bahasa dan Denis IPS
“Kamu nih Vio, aku cariin dari tadi ternyata ada diperpus, mentang-mentang udah jadi anak IPA nih” Omel Febby setelah menghampiri Viola yang sedang asyik dengan laptopnya dan duduk disamping Viola
“Apaan sih, kamu juga.. Selamat yah bisa masuk kelas Bahasa1, kayaknya ada yang bakal bener-bener jadi sastrawan nih” Ucap Viola
“Hhehehe kamu bisa aja. Oh ya tumben kamu ke perpus, ngapain sih?” Ucap Febby sambil melirik layar laptop yang berada didepan Viola
“Internetan, sekalian buka twitter juga sih. Sayang nih perpus ada wifi nya tapi udah jarang dipake” Kata Viola
“Ohh sambil liat profil Ka Jerry juga yaah” Kata Febby saat melihat layar laptop tersebut
“Hhehehe dia tadi mention, sekalian aku pengen aja liat profilnya” Ucap Viola santai
“Tapi itu foto profilnya sama cewek yah?” Tanya Febby meyakinkan apa yang Ia lihat
“Iyaa, itu pacarnya.. cantik yah” Kata Viola sambil tersenyum
“Iya cantik, tapi kok kamu senyum-senyum gitu sih” Febby bingung
“Yaahh aku seneng aja, sekarang Ka Jerry udah dapet orang yang cocok buat dia” Kata Viola sambil memilih tulisan log out pada akun sosialnya
“Ohh gitu, berarti sekarang kamu udah bener-bener lupain Ka Jerry nih”
“Ngak gitu juga sih, aku tetap ingat sama kebaikan dia. Bagaimana pun juga dia kan orang yang pernah deket sama aku, tapi bukan berarti aku masih punya perasaan ama Ka Jerry. Lagian sekarang Davin udah ngak kekanak-kanakan lagi, mungkin dia udah sadar dan sekarang aku ama Ka Jerry udah bahagia dengan pilihan masing-masing” Jelas Viola
“Ciieee seneng nih sekarang, setiap orang emang harus punya satu pilihan yang jelas” Kata Febby
“Yaapp… One choice” Ucap Viola sambil tersenyum kemudian menutup laptopnya.
“Heey para leadis, ternyata kalian disini” Sahut Denis menghampiri Viola dan Febby
“Iya nih, dicariin dari tadi juga” Kata Davin
“Yee mana Kita tahu kalian berdua nyariin kita” Sahut Febby
“Kalian ngak laper? Ke kantin yuk” ajak Denis
“Huuu laper mulu, dasar perut karet” Ucap Viola lalu tertawa kecil
“Iya nih, banyak cacing kali diperut kamu Den” Lanjut Davin
“Apaan sih kalian, lagian ngapain sih lama-lama diperpus, ngak bikin kenyang tahu” Ucap Denis
“Iyaiya Kita ke kantin kok” Sahut Febby
“Kamu emang paling ngertiinaku deh sayang” Kata Denis pada Febby yang disambut tawa dari Viola dan Davin
“Iidiiiihh apaan sih Denis jangan malu-maluin dong” Ucap Febby cemberut
“Hhehehe ngak ngak, damai Feb.. mending Kita ke kantin yuk” Kata Denis lalu merangkul Febby agar segera beranjak pergi menuju kantin
“Kita ikut mereka yuk Vio” Ajak Davin
“Iya Vin, yuk” Ucap Viola setelah memasukkan laptop kedalam tasnya
“Aku bawain yah tas laptopnya” Tawar Davin
“Iih Davin lebay banget sih, ngak usah aku bisa bawa sendiri kok” Viola menolak
“Itu berat Vio, ngak apa-apa kok aku bawain yah”
“Davin iih, sok sok lagi.. yaudah nih” Viola memberikan tas laptopnya pada Davin
“Ngak baik tau cewek bawa berat-berat” Ucap Davin
“Idiih apaan sih Davin lebay taauuu” Viola dan Davin pun tertawa bersama lalu mereka beranjak pergi menyusul Febby dan Denis ke kantin sekolah.

‘Cinta selalu datang tanpa disadari, kapan pun itu meskipun seseorang tak sedang lagi ingin mencari Cinta atau bahkan bertekad untuk menutup hatinya. Menentukan satu pilihan dalam cinta sudah menjadi bumbunya, memilih dengan keyakinan yang kuat dan kata hati yang tak pernah bisa diajak berbohong’
‘Pilihan itu emang sulit, sulit banget.. tapi Kita juga harus punya kepercayaan untuk memilih bahwa apa yang dipilih itu memang terbaik untuk diri sendiri juga orang lain dan ngak merugikan siapa pun. Meskipun awalnya sakit bahkan harus ada tangis kesedihan, apa pun itu tetap percaya bahwa Tuhan selalu memberikan yang terbaik meskipun awalnya Kita tak menyukai itu namun itulah cara Tuhan merencanakan suatu kebahagiaan untuk Kita bersama orang yang Kita sayangi’
                                                    *            *           *   

SELESAI

0 comments:

Post a Comment

 

Readvelo Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang