PERTEMUAN
Dengan
setengah berlari, Nayla menyusuri koridor sekolahnya sambil sesekali melihat
jam tangan berwarna putih yang melingkar manis ditangannya, namun saat Ia
melihat jam tiba-tiba saja bruk! Beberapa buku berhamburan dilantai, Nayla
menabrak seseorang
“Astaga,
maaf maaf gak sengaja” Ucap Nayla panik sambil merungkuk berusaha mengambil
buku-buku yang berjatuhan dilantai tanpa melihat siapa yang ditabraknya
“Udahlah
gak usah diberesin, kelas udah masuk dari tadi”
Nayla
berhenti mengambil buku-buku tadi, Ia kembali berdiri tegak mengangkat wajah
mungilnya dan melihat orang yang Ia tabrak dari bawah kaki dengan sneakers
hitam dan seragam putih abu-abu, penampilan orang ini begitu rapi ditambah
kacamata bening yang menempel diwajahnya berbeda dengan kebanyakan siswa
laki-laki yang sering Ia temui. Namun muka itu asing bagi Nayla, Ia hanya
sempat melihat keterangan kelas XII diseragam orang itu. Tanpa ekspresi orang
itu mengambil buku-buku yang ada ditangan Nayla dan membereskan beberapa buku
yang masih tersisa dilantai kemudian beranjak pergi meninggalkan Nayla. Sempat
terpaku sejenak namun Nayla segera melanjutkan langkah menuju kelasnya.
Sesampainya didepan kelas, Nayla segera masuk namun langkahnya terhenti saat
guru yang saat itu mengajar menegurnya
“Nayla,
tumben kamu terlambat”
“Iya
maaf bu..” Kata Nayla memelas
“Yasudah
masuk, tapi lain kali harus tepat waktu ya” Setelah itu Nayla pun berjalan
masuk menuju bangkunya tepat disamping Fika sahabatnya yang sudah bersama sejak
SMP, setelah duduk Nayla mengeluarkan buku dan mengikuti pelajaran.
***
“Tadi
pagi kok tumben telat Nay?” Tanya Fika sambil menyantap bakso dihadapannya
“Iya
nih lambat bangun gara-gara nonton film dari kamu tuh. Eh tapi tau gak Fi, tadi
pagi disekolah aku nabrak orang loh” Jawab Nayla sembari menceritakan kejadian
yang dialaminya
“Ha
siapa? terus? orangnya marah-marah dong?” Tanya Fika penasaran
“Ya
gak tau siapa, mukanya asing. Dianya gak marah sih, cuman jutek, dingin banget
sok sok cool gitu tanpa ekspresi. Kayaknya tu orang butuh kehangatan deh” Jawab
Nayla
“Hahaha Nay Nay, udah nabrak orang eh orangnya malah
dikatain lagi” Fika tertawa kemudian ada seorang anak kecil menghampiri mereka
berdua
“Kak, ini buat kaka” Ucap anak kecil itu pada Nayla
sambil memberikan coklat berpita pink dan sebuah catatan diatasnya
“Eh, ini dari siapa?” Tanya Nayla bingung namun anak
kecil itu segera pergi setelah Nayla mengambil coklat tersebut
“Itu bukannya anak pemilik kantin? Kok dia ngasih kamu
coklat sih?” Fika bingung
“Kamu aja bingung apalagi aku Fi, eh tapi ada
catatannya nih” Nayla kemudian membuka catatan itu dan mereka berdua membacanya
bersama-sama
‘Jangan
terlambat lagi ya’ Tulisan di
kertas kecil itu membuat Nayla dan Fika mengerutkan dahi sambil saling melihat
“Wah Nayla punya secret
admirer” Fika mulai berpendapat
“Apaan sih, kali aja ini bener dari anak kecil tadi”
Nayla menyangkal
“Hahaa Nay mana mungkin anak sekecil itu bisa
seromantis ini, masalahnya ini tuh bukan untuk pertama kalinya kamu dapat yang
kayak ginian. Minggu lalu setangkai bunga mawar, trus kemaren boneka dan hari
ini coklat, apalagi coba kalau bukan ada yang naksir diem-diem” Jelas Fika
mengungkit kejadian beberapa hari yang lalu. Akhir-akhir ini Nayla memang
sering sekali mendapatkan kejutan-kejutan kecil berupa barang dengan kata-kata
menyemangati dan itu membuatnya bingung meskipun tak Ia perlihatkan pada Fika
namun Fika pun bisa membaca dari raut muka Nayla apa yang Ia pikirkan.
***
Bel
sekolah berbunyi menandakan waktu pulang telah tiba, Nayla dan Fika keluar dari
dalam kelasnya dengan perbincangan kecil yang mengisi langkah mereka.
“Hay
kalian” Sapa seseorang yang tiba-tiba saja berada didepan mereka
“Ka
Vano” Ucap Nayla dan Fika hampir bersamaan. Vano merupakan teman Nayla sejak
kecil, rumah mereka yang hanya berjarak beberapa meter membuat mereka sering
main bersama meskipun Vano lebih tua satu tahun. Nayla sudah menganggap Vano
seperti kakaknya sendiri, Vano juga selalu menjaga dan menemani Nayla dalam
keadaan apa pun, hal ini membuat Nayla tidak pernah merasa kesepian meskipun Ia
merupakan anak tunggal dikeluarganya. Saat memasuki bangku SMP, Vano juga mulai
berteman dekat dengan Fika yang dikenalnya lewat Nayla. Itulah Vano, siapa pun
yang dekat dengan Nayla juga akan dekat dengannya.
“Seharian
gak liat kalian, ini aku yang sibuk atau kalian yang ngilang?” Tanya Vano
memulai perbincangan
“Emang
kita apaan ngilang, Ka Vano tuh yang sibuk sama OSIS” Jawab Fika
“Hehehe
iya sih, soalnya kan udah mau pergantian jabatan. Kalian berdua jadi kan masuk
dalam kepengurusan OSIS? Nama kalian udah aku masukin tuh sebagai calon
pengganti, nanti tergantung ketua selanjutnya mau naro kalian dimana” Kata Vano
“Yah
kita sih ikut aja ka” Ucap Nayla dan Fika pun menganggukkan kepalanya
“Ya
ampun, hampir lupa” Fika menepuk dahinya “Aku udah janji mo nemenin nyokap buat
beli kue” Lanjutnya
“Kue
buat apa?” Tanya Nayla
“Itu
loh entar sore dirumah ada arisan gitu jadi yah nyokap butuh bantuan buat
nyiapin kue dan lain-lain” Jawab Fika
“Waaah
asik dong banyak makanan kalau gitu” Sahut Vano sambil ketawa kecil
“Kerumah
aja ka, sekalian gabung sama ibu-ibu” Fika tertawa “Yaudah deh aku duluan ya,
nyokap bisa ngamuk ntar kalau kelamaan daaah” Lanjutnya sambil berjalan pergi
“Eh
Fi, ntar malam jangan lupa ya” Ucap Vano sedikit berteriak mengingatkan Fika
yang berjalan menjauh meninggalkannya dan Nayla. Fika hanya menganggkat
jempolnya sambil terus berjalan.
“Emangnya
ntar malam spesial banget yah ka, sampe sampe ngajak aku sama Fika. Biasanya
kan kalau kaka mau tampil yaudah tampil aja” Ucap Nayla dengan sedikit rasa
bingung karena Vano mengajaknya dan Nayla untuk datang ke café dimana Vano akan
tampil band bersama teman-temannya. Vano memang mahir memainkan alat musik terutama
piano dan gitar sehingga hobinya itu Ia manfaatkan untuk bergabung dengan band
temannya yang biasa diundang untuk tampil dibeberapa café untuk mengisi
kekosongan.
“Yah
sekali sekali lah kalian nonton, sekalian kita bisa nongkrong di café itu,
sebelum aku sibuk Persiapan UN nanti, apalagi kalau udah lulus kan bakal jarang
banget ketemu kalian” Jelas Vano
“Ciieee
gaya nih ka Vano” Goda Nayla sambil tertawa kecil
“Eh
balik yuk” Ajak Vano
“Ayoo”
Nayla dan Vano pun berjalan seiringan meinggalkan koridor sekolah sampai
ketempat parkiran motor kemudian mereka pun pergi dengan menaiki motor satria
biru milik Vano. Dalam perjalanan, Nayla mulai membuka pembicaraan untuk
mengisi kekosongan
“Ka,
tadi pagi aku nabrak orang dikoridor” Ucap Nayla
“Ha?
Serius? Kok bisa?” Tanya Vano
“Tadi
pagi aku telat ka, udah keburu waktu jadinya jalan cepet-cepet dong, lagian
mana aku tau bakal ada orang yang lewat dari koridor sebelah. Yaudah ketabrak
deh” Jelas Nayla
“Lagian
kamu kenapa telat sih? Pasti gara-gara gak bareng aku kan” Kata Vano bercanda
“Idih
PD banget Ka Vano, ya gak lah. Mana tadi anak kelas duabelas lagi” Ucap Nayla
“Terus
dia marahin kamu?” Tanya Vano lagi
“Syukurnya
gak ka, cuman mukanya itu gak ada ekspresi sama sekali, datar banget” Jawab
Nayla
“Yah
mungkin aja dia bete kamu tabrak, cuman gak bisa marah aja soalnya kan orang
kalau liat muka kamu mana bisa marah, muka melas gitu” Kata Vano
“Iya kali ka hahaa” Nayla tertawa kecil begitu pun dengan
Vano.
***
Nayla
dan Fika keluar dari dalam mobil honda jazz merah milik Fika didepan sebuah cafe,
dengan perlahan mereka berdua pun berjalan beriringan sampai masuk kedalam kafe
tersebut dan memilih tempat untuk duduk. Dari kejauhan Vano yang sedang bersama
dengan teman-temannya sudah memperhatikan Nayla dan Fika yang baru saja datang
kemudian Vano pun menghampiri mereka.
“Hay,
akhirnya datang juga” Ucap Vano sambil duduk dikursi kosong samping Nayla
“Sebenernya
sih males, cuman yah menghargai undangan. Lagian Fika nih katanya mo cuci mata
liat kaka kaka masa depan” Kata Nayla sambil sedikit tertawa
“Nay
apaan sih” Fika menyangkal kemudian Vano pun hanya bisa terseyum melihat
tingkah kekanak-kanakan Nayla dan Fika
“Oh
ya ntar jangan buru-buru balik yah, selesai tampil aku mau kenalin kalian sama
temen-temen aku” Ucap Vano
“Ada
yang cakep gak kak?” Tanya Fika
“Hey
enak aja, Aldo mo dikemanain Fi” Sahut Nayla mengingatkan Fika
“Oh
iya hampir lupa, udah punya pacar akunya hehehee” Fika nyengir
“Hahahaa
Fika kamu tuh bener bener yah” Vano tertawa, kemudian ada pelayan yang
menghampiri Vano dan mengingatkan bahwa teman-teman band Vano sudah menunggunya
untuk persiapan tampilan mereka.
“Eh
aku kesana dulu ya” Ucap Vano
“Iya
semangat kak” Ucap Nayla dan Fika hamper bersamaan
Vano
dan ketiga teman-temannya terlihat naik ke atas panggung kecil, Vano mengambil
gitar kemudian menyetel dan mencobanya setelah itu band mereka pun tampil
dengan menyanyikan lagu yang telah mereka siapkan dalam latihan. Setelah
tampil, Vano pun kembali mendatangi Nayla dan Fika
“Eh
gabung yuk sama temen-temen aku” Ajak Vano, sementara Nayla dan Fika hanya
saling melirik
“Ngapain
kak? Kita kan gak kenal mereka” Ucap Nayla
“Iya
kak, kita disini aja deh” Sambung Fika
“Kan
udah aku bilang kalau aku tuh mau kenalin kalian ke mereka, lumayan loh banyak
kenalan” Kata Vano
“Yaudah
deh, yuk Nay” Ajak Fika, Nayla terdiam sejenak kemudian Ia pun hanya bisa
mengikuti kedua temannya itu. Vano berjalan didepan diikuti Nayla dan Fika yang
berjalan dibelakangnya sampai ke tempat dimana teman-teman Vano bersantai.
“Hey,
kenalin ini adik-adik aku” Ucap Vano pada ke empat teman-temannya yang sedang
duduk. Mata Nayla tertuju pada salah seorang teman Vano yang berada
dihadapannya, wajah orang itu tak asing lagi bagi Nayla. Orang itu pun juga
melihat Nayla meskipun kemudian Ia segera mengalihkan pandangannya dari Nayla.
Nayla ingin sekali menegur orang itu, namun entah mengapa Ia seperti terpaku
dan tak bisa berkata-kata
“Ini
Nayla dan ini Fika. Nay, Fi kenalin ini temen-temen aku” Sambung Vano, kemudian
teman-teman Vano pun menyambut baik Nayla dan Fika dengan mengenalkan diri
mereka satu persatu.
“Hay,
Doni” “Damar” “Faldi” “Rio” Ucap teman-teman Vano memperkenalkan nama mereka
satu persatu sambil berjabat tangan dengan Nayla dan Fika secara bergantian.
Dalam hati Nayla bersahut ‘Oh jadi
namanya Rio’
“Kenapa
baru dikenalin sekarang sih Van” Sahut salah seorang teman Vano yang bernama
Damar
“Waktunya
baru ketemu bro hehee” Vano sedikit tertawa “Nay, Fi, duduk sini yuk” ajak Vano
sambil menyiapkan dua kursi kosong untuk Nayla dan Fika
“Kak,
tadi kok yang tampil cuman kaka berempat aja?” Tanya Fika memecah keheningan,
yang sebenarnya dalam hati Nayla juga bertanya demikian
“Oh,
maksud kamu kenapa Rio gak ikutan tampil. Sebenernya Rio itu jago banget main
drum, cuman yah dia pemalu sih orangnya, jadi gak pernah ikutan tampil, tapi
dia yang jadi manager kita”
“Jadi
band kakak pake manager juga ya?” Tanya Fika
“Yaiyalah,
orang kalau mau hubungi kita ya langsung ke Rio aja, jadi Rio yang ngatur
semuanya” Jawab Doni
“Ohh
gitu” Ucap Fika kemudian mereka pun saling berbincang mengenai banyak hal, Fika
terlihat cepat akrab dengan teman-teman Vano, berbeda dengan Nayla yang hanya
mengikuti obrolan mereka tanpa berkata apa pun. Nayla dan Rio sesekali saling
melirik namun tak lama segera mengalihkan pandangannya setelah mata mereka
saling bertemu. Dalam hati Nayla bersahutan ‘ada
apa ini? Kenapa diem, tegur aja Nay’
“Nay, kok tumben dari tadi diem aja
sih” Ucap Vano yang merasa aneh dengan tingkah Nayla saat itu, Nayla pun hanya
bisa tersenyum mendengar teguran dari Vano
“Oh
ya Fi, bukannya kamu harus jemput mama kamu ya?” Ucap Nayla sambil memberikan
kode agar mereka pergi dari tempat itu dengan sedikit mencubit tangan Fika
“Haa..
a..apa sih Nay” Fika tak mengerti
“Iyaa,
kamu kan tadi bilangnya mau jemput mama kamu” Nayla mencoba agar Fika mengerti
dengan maksudnya
“I..i..iya
sih..” Fika mencoba membenarkan perkataan Nayla meskipun Ia tidak paham dengan
maksud Nayla
“Kak,
kita balik duluan yah.. soalnya Fika harus jemput mamanya” Kata Nayla sambil
berdiri dari tempat duduknya
“Loh,
emangnya mamanya Fika dimana malem-malem gini?” Tanya Vano tak yakin dengan
pernyataan Nayla
“Biasalah
ibu-ibu shopping sampe malem. Kita duluan ya kak, byee” Jawab Nayla berpmitan sambil
merangkul tangan Fika, Fika pun hanya bisa mengikuti Nayla
“Kak
duluan ya” Ucap Fika sambil beranjak pergi mengikuti langkah kaki Nayla. Rio
melihat Nayla yang berjalan meninggalkan tempat mereka, Vano yang mendapati Rio
melihat Nayla hanya bisa tersenyum
“Liatin
apa bro” Tegur Vano
“Apaan
sih, gak ada” Rio menyangkal sambil sesekali tetap melirik Nayla yang berjalan
pergi sampai hilang dari pandangan.
Sementara
itu, ditempat yang berbeda Fika terus menanyakan keanehan tingkah Nayla “Nay,
itu tadi maksudnya apa sih?” Tanya Fika bingung sambil terus berjalan beriringan
dengan Nayla menuju tempat parkir
“Ntar
aku jelasin” Jawab Nayla sampai akhirnya mereka sampai kedalam mobil
“Nay,
sekarang jelasin” Kata Fika penasaran
“Iya
sambil jalan tapi” Kata Nayla kemudian Fika pun mulai mengemudikan mobilnya
“Yang
tadi itu, orang yang aku tabrak dikoridor tadi pagi” Ucap Nayla
“Ha?
Siapa? Yang mana?” Tanya Fika
“Rio,
Kak Rio”
“Pantes
aja kalian berdua diem mulu, eh tapi kan seharusnya kalian biasa aja. Kok jadi
kaku gitu sih Nay”
“Iya
yah, seharusnya kan biasa aja” Nayla mengkerutkan dahinya sambil berpikir sejenak
“Aduh
Fiii kok tadi malah jadi kaku sih, seharusnya kan senyum aja gitu paling gak
negur bilang eh kaka yang tadi pagi kan. Kok akunya malah diem aja” tambah
Nayla
“Ow
ow ow kayaknya ada sesuatu nih” Fika tertawa kecil
“Apaan
sih”
“Ya
kalau gak ada apa-apa biasa aja dong Nay gak perlu kaku–kakuan gitu”
“Emang
gak ada apa-apa”
“Masa?”
“Fikaaa”
Ucap Nayla sambil melempar halus tissue kearah Fika yang sedang tertawa melihat
tingkahnya kemudian Nayla pun hanya bisa tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
***
PINJAM BUKU
Nayla
dan Fika sedang asik duduk dibangku dalam kelas mereka sambil melihat sebuah
online shop diponsel milik Fika.
“Eh
nih lucu” Kata Fika sambil menunjuk sebuah gambar baju dilayar ponsel miliknya
“Iya
sih tapi coba liat yang lain dulu” Kata Nayla sambil terus melihat layar ponsel
tersebut
“Yang
ini bagus gak?” Tanya Fika
“Kamu
kan udah punya yang model baju kayak gitu” Jawab Nayla
“Ya
tapi kan warnanya beda Nay”
“Sama
aja Fi mending cari yang lain coba” Ucap Nayla sambil menyentuh layar ponsel
untuk menemukan sesuatu. Sampai akhirnya Fika tersadar bahwa teman-teman
sekelas mereka bersiap-siap untuk pulang bahkan setengahnya sudah meninggalkan
kelas.
“Nay,
anak-anak pada balik nih?” Tanya Fika sambil melihat sekeliling kelas
“Masa
sih” Ucap Nayla yang juga mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. Nayla pun
memanggil salah satu temannya yang sedang lewat dihadapan mereka
“Sa,
anak-anak pada balik ya?” Tanya Nayla
“Iya,
emang kalian belum tau, guru-guru kan lagi ada seminar jadi ya kita dibolehin
pulang sekarang” Jawab Shasa salah satu teman mereka
“Eh
sa, tumben bawa-bawa buku. Tebel lagi bukunya” Ucap Fika ketika melihat buku
yang dipegang oleh Shasa
“Ohh
iya nih, kalau gak karna tugas dari Pak Anto, ya gak bakal deh bawa-bawa buku
setebal ini” Jawab Shasa
“Ha?
Tugas yang mana?” Tanya Nayla dan Fika bersamaan
“Itu
loh yang buat revisi, minggu lalu kan Pak Anto gak masuk tuh jadi dia ngasih
tugas cari buku biologi yang membahas tentang morfologi tubuh manusia” Jelas
Shasa
“Kalian
lupa yaa” Sambungnya
“Pelajaran
Pak Anto kapan ya?” Tanya Nayla sambil berpikir
“Kan
besok” Jawab Shasa
“Haa?
ya ampun oh my god, nooo” Ucap Fika
“Trus bukunya dapet dimana?” Tanya Nayla
“Di
perpus ada, tapi kayaknya udah abis dipinjem sama yang lain. Kalau kalian mau,
kalian bisa beli ditoko buku” Jawab Shasa
“Beli
lagi, patungan ya Nay” Ucap Fika dan Nayla hanya bisa melihat Fika dengan
tatapan kosong
“Oh
iya, Pak Anto juga bilang kalau mau cari bukunya bisa tanya ke anak kelas
duabelas, kata Pak Anto kita bisa minjem buku mereka karena dulu dia tuh pernah
ngasih tugas yang sama. Kali aja mereka punya” Jelas Shasa
“Oh
iya iyaa, makasih ya Shasa udah jelasin” Ucap Fika
“Iya
nih Sa, kita bener-bener lupa banget” Sambung Nayla
“Yaudah,
gue duluan ya” Kata Shasa kemudian berjalan meninggalkan kelas
“Fi,
kita ke Ka Vano yuk” Ajak Nayla kemudian melihat Fika yang tiba-tiba tersenyum
sambil melihat layar ponselnya. Merasa tak dihiraukan Nayla pun memanggil Fika
dengan sedikit berteriak.
“Fikaaaa”
Ucap Nayla
“Eh..
iya Nay” Kata Fika sambil kembali melihat Nayla
“Kita
ke Ka Vano yuk, mungkin bukunya ada sama dia” Kata Nayla
“Emm
kalau kamu aja yang ke Ka Vano gimana? Ntar kan kamu pulangnya bareng dia juga
jadi sekalian aja. Rumah kalian juga cuman bersebelahan jadi gak ada masalah
dong kalau aku gak ikut buat nanya buku” Kata Fika sambil tersenyum manis
kearah Nayla, berharap Nayla setuju dengan perkataannya.
“Kok
gitu sih, kalau bukunya gak ada di Ka Vano gimana?” Ucap Nayla
“Kan
Ka Vano punya banyak temen di kelas duabelas, pasti ada yang punya bukunya dan
dia pasti pinjemin buku temennya buat kita, ya gak” Kata Fika sambil terus
tersenyum
“Fika
stop ya pasang muka sok manis gitu. Emang kamu mau kemana sih?”
“Nayla
aku baruuu aja diajak nonton sama Aldo, kan jarang-jarang dia ajak jalan gini.
Kamu kan tau dia tuh anak basket dan latihan mereka tuh hampir tiap hari buat
persiapan tanding. Ya jadi aku iya in deh” Fika tetap tersenyum diakhir
perkataannya, sementara itu Nayla hanya bisa menahan tawanya melihat tingkah Fika
“Fika
udah ya gak usah senyam senyum gitu gak lucu tau” Ucap Nayla
“Yaudah
aku duluan yaa” Kata Fika sambil mengambil tasnya
“Eh
tunggu dulu, kalau kamu nonton trus tugasnya gimana?”
“Kita
kan kerja tugasnya sore Nay, lagian aku cuman nonton doang kok tenang aja, ntar
pulang nonton aku langsung kerumah kamu kok”
“Bener
ya, aku udah nyari bukunya jadi kamu dapat bagian revisi paling banyak” Ucap
Nayla sambil menahan senyumnya
“Eh
aturan dari mana, gak ada, masa gitu sih Nay, ntar deh kalau emang bukunya gak
dapet sekalian aku yang nyari ditoko buku, tapi inget ya kalau beli berarti
patungan”
“Hahahahaa
ngomong gitu kek dari tadi, yaudah kamu boleh pergi kalau gitu” Ucap Nayla
sambil tersenyum diakhir perkataannya
“Huu
dasar, yaudah duluan yaa byeee” Sambungya, kemudian Fika pun pergi meninggalkan
kelas. Sementara itu, Nayla sempat berpikir sejenak untuk dimana Ia harus
mencari Vano, kemudian Nayla pun beranjak dari tempatnya dan juga meninggalkan
kelas tersebut.
Nayla
berjalan dikoridor sekolah sampai akhirnya berhenti didepan ruang osis,
kemudian Ia memperhatikan ruangan itu sampai matanya terhenti pada satu
pandangan, Vano. Nayla pun masuk kedalam ruangan itu dan menghampiri Vano yang
terlihat sedang serius mengetik didepan sebuah laptop.
“Ka
Vano” Sapa Nayla
“Eh
Nay, tumben main kesini, ada apa?” Tanya Vano sambil berhenti melakukan
kegiatannya
“Emm
gak, cuman pengen nyari kaka aja. Kaka belum balik? Sibuk ya ka?”
“Dikit
lagi balik kok, gak sibuk juga, emang ada apa sih? Kamu kalau tiba-tiba kayak
gini pasti ada sesuatu” Ucap Vano sambil tertawa kecil
“Hehehee
kaka tau aja, Ka Vano punya buku biologi tentang morfologi tubuh manusia gak?”
Tanya Nayla
“Emm,
ada gak ya dirumah” Vano berpikir, Nayla pun hanya bisa berharap Vano
mengatakan iya
“Kayaknya
gak ada deh buku kayak gitu, kamu kan tau aku gak suka pelajaran biologi”
“Ya
kan kali aja ada gitu, soalnya kata Pak Anto dia pernah ngasih tugas kayak gini
ke murid tahun lalu”
“Ya
mana aku inget Nay, kalau ada tugas biologi paling aku ngerjain abis itu
langsung lupa lagi” Ujar Vano, sempat terdiam kemudian Ia teringat sesuatu
“Eh
tapi kayaknya ada deh sama temen aku” Sambungnya
“Oh
ya? Yaudah kak, pinjemin dong, diperpus
udah ga ada soalnya, udah keburu dipinjem sama yang lain”
“Ya
tapinya aku harus selesain laporan kegiatan osis dulu”
“Lama
gak kak? Soalnya sebelum sore aku udah harus dirumah, udah janjian sama Fika mo
kerja tugasnya” Tanya Nayla
“Ya
kayaknya sih gak lama, ini juga cuman satu bagian. Atau kamu pergi aja sendiri,
orangnya baik kok”
“Oh
yaudah, aku pinjem sendiri aja kak kalau gitu. Namanya siapa?”
“Rio”
Jawab Vano, mata Nayla sedikit membesar ketika mendengar jawaban Vano
“Kak,
kayaknya aku nunggu kaka aja deh. Gak apa-apa kok” Ujar Nayla setelah
sebelumnya sempat terdiam sejenak
“Loh
emangnya kenapa? Tadi katanya pergi sendiri, lagian dia baik kok orangnya
tenang aja” Ucap Vano
“Gak
kak, gak jadi pergi sendiri, mending ditemenin aja deh sama Ka Vano”
“Kenapa
sih Nay?” Vano mulai heran dengan tingkah Nayla yang menurutnya tidak biasa
“Kaka
masih inget gak, aku pernah nabrak orang beberapa hari yang lalu”
“Iya
masih”
“Itu
orangnya… Ka Rio”
“Oh
ya? Pantesan kemarin pas di café kamu diem aja” Vano tertawa kecil
“Kaka
kok malah ketawa sih”
“Yaa,
lagian kamu tuh lucu tau gak. Kalau kamu emang nabrak dia ya trus kenapa, orang
dia biasa aja kok” Ujar Vano
“Dia
gak bilang ke kaka kalau aku pernah nabrak dia?”
“Gak
tuh, dia biasa aja. Tenang Nay, dia tuh orangnya cuek banget, hal-hal kayak
gitu gak bakal diperhatiin sama dia” Jelas Vano
“Masa
sih kak? Terus kenapa mukanya tuh dingin banget pas ketemu aku kemarin, datar
gitu gak ada senyum-senyumnya, ya jadi aku pikir dia dendam atau gimanaa gitu”
“Hahahaa
gak Nay, dia orangnya emang kayak gitu, tapi dia baik kok”
“Ya
tetep aja, aku gak mau pinjem buku ama dia kalau gak ditemenin ama ka Vano”
Ujar Nayla sambil duduk dikursi kosong samping Vano
“Apaan
sih jangan kayak anak kecil dong Nay, kamu tuh bentar lagi udah kelas duabelas
juga loh, ya paling gak kamu bisa terbiasa beradaptasi sama orang meskipun gak
ada aku” Ujar Vano
“Kaka
kok ngomongnya jadi kayak orang yang mau pergi jauh gitu sih” Nayla tertawa
geli
“Ya
emang mau pergi, orang bentar lagi udah mau kuliah” Vano membalas tawa Nayla
“Huu
belaguuu” Sahut Nayla, kemudian ponsel milik Vano berdering menandakan sedang
ada panggilan masuk, Vano pun segera mengangkatnya tanpa melihat nama kontak
yang memanggilnya
“Halo”
Ucap Vano sambil menempelkan ponsel ketelinganya
“Oh
Rio, kenapa yo?” Ucap Vano, sedangkan mata Nayla kembali membesar ketika
mendengar nama yang disebutkan oleh Vano
“Iya
nih lagi sementara, ntar file yang sama kamu simpen aja dulu, besok kita
satuin” Ujar Vano berbicara kepada Rio yang sedang meneleponnya
“Oh
ya, Yo kebetulan nih ada Nayla dia mau pinjem buku katanya, kamu dimana?”
Ucapan Vano membuat Nayla memukul pelan lengan Vano menandakan Ia tidak ingin
bertemu Rio seorang diri
“Oh
yaudah dia kesana aja ya” Ucap Vano kemudian menutup teleponnya, Vano lalu
melihat kearah Nayla
“Dia
ada tuh di perpus, katanya kamu kesana aja” Ucap Vano
“Kaka
gimana sih, aku kan udah bilang perginya bareng” Nayla menggerutu
“Dia
gak gigit orang kok Nay, lagian ada apa sih?
Kamu masih ngerasa kalau dia marah gara-gara kamu nabrak dia itu?” Tanya
Vano penasaran sambil melihat muka polos Nayla
“Ya
gak sih kak. Yaudah deh aku pergi sekarang” Ucap Nayla kemudian berdiri dari
tempat duduknya dan mulai berjalan menuju pintu ruangan, namun kemudian Ia
menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya
“Oh
ya, aku sekalian balik duluan ya kak” Ucap Nayla sebelum melanjutkan
langkahnya, Vano hanya mengangguk dan tersenyum.
Nayla
berjalan perlahan menuju pintu ruang perpustakaan sekolah, sesampainya depan
pintu Ia segera melihat keseliling ruangan sampai akhirnya matanya tertuju pada
seseorang yang sedang asyik duduk disebuah kursi meja baca ditemani sebuah
laptop dihadapannya. Nayla pun menghampiri orang tersebut
“Permisi,
Kak Rio kan?” Sapa Nayla dan dengan hati-hati duduk disamping Rio, Rio pun
menghentikan aktifitasnya dan melihat kearah Nayla
“Temennya
Vano?” Ucap Rio kembali bertanya
“Iya”
Jawab Nayla singkat
“Kamu
butuh buku apa?” Tanya Rio
“Biologi
kak, tentang morfologi tubuh manusia, kaka punya ya bukunya?”
“Setauku
sih buku kayak gitu udah ada diperpus ini”
“Iya
kak, tapi bukunya udah abis dipinjem sama yang lain”
“Oh
ya? Hmm biasanya sih kalau bukunya udah keduluan dipinjem sama yang lain, kamu
orang terakhir yang baru inget sama tugasnya” Ucapan Rio membuat Nayla
mengkerutkan keningnya dan mengalihkan pandangannya dari Rio. Merasa Nayla
tersinggung dengan perkataannya, Rio pun segera bersuara
“Bukunya
ada. Tapi gak disini” Kata Rio
“Terus
? Dimana ?” Tanya Nayla dengan mata yang berbinar
“Yuk”
Ajak Rio yang kemudian menutup laptopnya dan beranjak dari tempatnya. Nayla pun
hanya bisa mengikuti langkah Rio hingga sampai ketempat dimana mobil milik Rio
diparkirkan
“Kita
mau kemana sih kak?” Tanya Nayla sebelum membuka pintu mobil
“Katanya
mo pinjem buku” Jawab Rio dan Nayla pun hanya bisa mengangguk tanpa banyak
berbicara.
Rio
menghentikan mobilnya didepan sebuah tempat yang menyerupai toko buku. Nayla
melihat papan yang tertera didepan tempat tersebut bertuliskan T’Books, Ia pun menghela napasnya karena
merasa dipermainkan oleh Rio
“Toko
buku? Kak, aku tuh mo minjem kalau emang bukunya gak ada di kaka yaudah aku
bisa cari sendiri ditoko buku kayak gini” Ucap Nayla
“Yang
bilang ini toko buku siapa?” Kata Rio
“Ini
bukan toko buku?” Tanya Nayla
“Liat
dulu baru komentar, yuk” Ucap Rio kemudian segera keluar dari mobilnya. Nayla
pun hanya bisa menghela napas panjang dan mengikuti Rio.
Rio
dan Nayla masuk kedalam tempat tersebut, semua buku-buku tersusun rapi lengkap
dengan keterangan tema buku diatasnya. Rio berjalan menuju kesalah satu rak
buku diikuti oleh Nayla dibelakangnya
“Kamu
bisa cari buku yang kamu butuh” Ucap Rio kemudian menghentikan langkahnya dan
mulai memperhatikan judul buku pada setiap buku yang ada. Nayla hanya
mengangguk dan mencari buku untuk mengerjakan tugasnya. Setelah beberapa saat
mencari, Rio kemudian mengambil salah satu buku dan memperlihatkannya pada
Nayla
“Ini
buku yang kamu cari?” Ucap Rio bertanya sambil memperlihatkan buku yang
didapatkannya
“Oh
iya bener ini” Nayla mengambil buku yang diberikan Rio dengan mata berbinar,
hatinya lega sambil tersenyum Ia pun melihat kearah Rio
“Makasih
ya kak”
“Sama-sama,
yaudah yuk” Rio berjalan menuju kesebuah loket
“Bukunya
sini dulu” Ucap Rio kemudian Nayla pun memberikan buku yang Ia bawa, sambil
memegang buku Rio mengeluarkan sebuah kartu dari saku seragamnya
“Mba,
mo pinjem yang ini” Ucap Rio sambil memberikan buku beserta sebuah kartu
diatasnya
“Waktunya
tiga hari ya” Kata seorang karyawan setelah memproses buku tersebut dan
memberikannya pada Rio
“Makasih
mba” Kata Rio kemudian berjalan menuju pintu keluar diikuti Nayla dibelakangnya.
“Makasih
ya kak, lusa aku balikin ya. Bukunya aku kasih ke kaka atau bisa langsung
balikin ke tempat ini aja?”
“Dua-duanya
boleh kok”
“Emm
aku langsung balikin ketempat ini aja ya kak”
“Yaudah
terserah kamu”
“Aku
duluan ya kak”
“Loh,
gak bareng aja?”
“Gak
usah kak, aku naik taksi aja. Ntar ngerepotin kaka lagi”
“Ya
gak lah, mending bareng aja. Aku yang gak enak soalnya, ntar Vano marah loh,
masa adiknya kubiarin pulang sendiri”
“Emang
gak apa-apa kak pulangnya dianterin?”
“Yaelah
gak apa-apa kali, santai aja, yuk” Nayla hanya mengangguk pelan dan mengikuti
langkah Rio yang kemudian berjalan menuju ke mobilnya. Ketika dalam perjalanan,
Nayla pun menanyakan tentang tempat yang dikiranya adalah toko buku pada Rio
“Kak,
sebenernya tadi itu tempat apa sih?” Tanya Nayla
“Itu
tempat peminjaman buku, jadi kamu daftar dulu kalau udah ada kartunya kamu bisa
ngisi pake duit kamu, seberapa duitnya tergantung sama typenya juga. Kalau aku
sih pake type yang A, jadi aku bayar buat setahun kedepan dan bebas minjem buku
berapa pun tanpa bayar lagi” Jelas Rio
“Oh
gituu, kirain toko buku. Aku kok gak tau ya masih ada tempat kayak gitu
sekarang” Ujar Nayla
“Emang
gak banyak yang tau, apalagi…..” Rio menghentikan perkataannya
“Kenapa?
Kaka pasti mo bilang aku jarang nyari buku sendiri kan. Ya emang” Ucap Nayla
sedikit sinis
“Ini
rumah kamu yang disamping rumah Vano kan” Kata Rio mengalihkan
“Iya”
Kata Nayla singkat sampai akhirnya teringat sesuatu
“Eh,
kaka kok tau rumah aku?” Tanya Nayla
“Ya
taulah, Vano kan sering cerita” Jawab Rio berusaha terlihat santai, Nayla pun
hanya menganggukkan kepalanya.
***
PAMERAN
Matahari mulai menampakkan cahayanya memasuki
celah jendela kamar Nayla yang saat itu sedang sibuk mengeringkan rambutnya
dengan hairdryer, tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar
“Nay,
cepet dong udah jam berapa nih” Teriak mama Nayla dari balik pintu kamar
“Iya
mah, dikit lagi” Balas Nayla
“Kamu
berangkat sama papa atau sama Vano?” Tanya mama Nayla
“Sama
papa aja mah, Ka Vano paling masih mandi” Jawab Nayla
“Yaudah
cepetan papa udah nungguin tuh” Kata mama Nayla
“Iya
mah” Ucap Nayla kemudian segera mematikan hairdryer dan merapikan rambutnya
lalu mengambil tas sekolah yang sudah disiapkan sebelumnya dan segera keluar
dari kamarnya
Dalam
perjalanan menuju sekolahnya, Nayla sibuk membuka sosial media lewat ponsel
miliknya sampai beberapa saat pupil matanya membesar diikuti dengan senyuman
diwajahnya, Ia pun mengalihkan pandangannya dari handphone dan melihat kearah
jendela mobil sambil memikirkan sesuatu.
“Oh
ya Nay, besok ada acara makan malam sekalian syukuran rumah baru Tante Emi,
kamu siap-siap ya. Nanti ajak aja Vano atau Fika biar kamu ada temennya” Kata
Papa Nayla sambil mengemudi
“Emm
duh maaf pah, kayaknya Nayla gak ikut deh” Ucap Nayla
“Loh
kenapa?”
“Besok
malem tuh ada pameran lukisan gitu pah”
“Emangnya
gak bisa perginya nanti aja?”
“Gak
bisa pah, pamerannya cuman sekali aja dalam setahun, apalagi ntar ada yang
special katanya ada lukisan aliran abstrak yang mirip sama lukisannya Pablo
Picaso pah” Jelas Nayla dengan semangat
“Udah
kamu gak usah jelasin, papa juga gak ngerti. Yaudah yang penting pulangnya
jangan kemaleman” Ujar Papa Nayla
“Siap
bos” Ucap Nayla sambil tersenyum
***
Saat
jam pulang sekolah telah tiba, Nayla berjalan melewati koridor sekolahnya untuk
menuju kelas Vano, sesampainya di kelas Vano, Nayla pun melihat ke sekeliling
sudut ruangan kelas tersebut namun tak ada Vano dalam kelas itu. Kemudian
tiba-tiba ada yang menepuk pundak Nayla dari belakang, refleks Nayla pun
membalikkan badannya
“Ka
Rio” Ucap Nayla
“Cari
siapa? Vano?” Tanya Rio
“Iya,
kaka liat gak? Dia belum pulang kan?” Jawab Nayla kemudian bertanya kembali
“Ada
tuh di ruang osis, barusan aku dari sana, ini juga kekelas cuman mau ngambil
yang ketinggalan” Jelas Rio
“Oh
gitu, tapi gak lagi rapat kan?”
“Gak
kok”
“Yaudah
aku kesana duluan ya kak” Ucap Nayla kemudian berjalan menuju ruang osis untuk
menemui Vano. Sesampainya di ruang osis, Nayla segera menghampiri Vano yang
terlihat sedang sibuk membaca tumpukan kertas diatas mejanya
“Hay
kak, sibuk nih” Sapa Nayla sambil duduk dihadapan Vano
“Hey
Nay, akhir-akhir ini kamu lagi doyan keruang osis yah” Ucap Vano sedikit
tertawa
“Apaan
sih, kaka lagi apa tuh?” Tanya Nayla sambil melirik kertas yang dipegang oleh
Vano
“Oh ini, biasalah revisi laporan yang kemaren”
“Ada
apa lagi? Pinjem buku?” Sambung Vano
“Ya
enggak lah, ada berita penting yang sifatnya wajib didengerin” Ujar Nayla
sambil terus tersenyum mewakili hatinya yang bahagia
“Berita
penting apa sih? Kayaknya seneng banget”
“Kaka
belum liat instagram hari ini?”
“Gak
sempet, lagian kan kamu tau aku jarang buka medsos” Kata Vano kemudian Nayla
pun segera mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan membuka sesuatu dalam
ponsel itu kemudian memperlihatkannya pada Vano. Vano melihat layar ponsel
tersebut dan yang dilihatnya adalah sebuah poster pertunjukan pameran. Vano
mengalihkan pandangannya dari ponsel dan melihat wajah Nayla yang tersenyum
lebar kearahnya
“Udah
ada lagi ternyata” Ucap Vano
“Malahan
ada yang special loh kak, ada lukisan yang mirip sama lukisannya Pablo Picaso”
Kata Nayla sambil mengambil ponsel yang ditaruhnya diatas meja
“Masa
sih? Abstrak gitu dong”
“Iya
kak, malahan ada kuisnya, jadi siapa yang bisa nebak buat jelasin makna dari
lukisan itu bakal dapet hadiah”
“Kayaknya
makin seru aja” Vano dan Nayla tertawa kecil, sejak masih duduk dibangku SMP,
mereka berdua memang selalu menghadiri pameran lukisan yang diadakan setiap
tahun oleh sebuah komunitas seni.
“Kita
pergi kan kak” Kata Nayla
“Iya
lah, emangnya kapan?” Tanya Vano
“Besok
malam pas weekend” Jawaban Nayla tiba-tiba membuat senyum diwajah Vano
menghilang
“Kenapa
kak?” Tanya Nayla yang merasa ada perubahan dari wajah Vano
“Pamerannya
cuman besok yah?”
“Iya,
kan kaka tau pamerannya hanya diadain sehari doang”
“Kok
mendadak sih”
“Ya
aku juga baru liat postnya tadi pagi, dan ternyata postnya itu udah dari
beberapa minggu yang lalu. Kan akhir-akhir ini aku lagi banyak banget tugas
trus kaka juga sibuk ya jadi baru sempet liat postnya” Ujar Nayla kemudian
menunggu respon dari Vano yang saat itu terdiam seperti memikirkan sesuatu
“Aku
gak bisa kalau besok Nay” Ucapan Vano seketika menghilangkan senyum diwajah
Nayla
“Loh
kenapa kak?” Tanya Nayla lemas
“Besok
malam aku ada rapat sama anak osis” Jawab Vano merasa tidak enak hati dengan
Nayla
“Yaaah,
emang gak bisa ditunda aja rapatnya kak? Kan lagi weekend juga”
“Gak
bisa Nay, waktu kita cuman besok, senin kita harus ajuin laporan ke kepsek.
Bulan depan kan udah domisioner” Jelas Vano
“Tapi
kan kaka udah janji kita bakal pergi tiap tahun” Nayla menunduk
“Nay,
aku juga pengen banget datang, tapi ya mau gimana lagi. Ini tanggung jawab aku
sebagai ketua osis” Ujar Vano merasa bersalah
“Pamerannya
kan cuman setahun sekali doang kak” Nayla hanya menunduk sambil memutar-mutar
ponsel ditangannya
“Kamu
ngerti dong Nay, aku gak mungkin gak jadi pergi kalau gak ada yang penting”
ucap Vano dengan sedikit meninggikan suaranya
“Jadi
pamerannya gak penting” Balas Nayla yang juga sedikit meninggikan suaranya
“Udah
dong Nay, jangan buat aku ngerasa bersalah gitu. Atau kamu pergi aja sama Fika”
Vano mulai menurunkan volume suaranya seperti biasa
“Fika
mana ngerti yang kayak gituan, yang ada ntar aku malah heboh sendiri” Nayla
terus menunduk, hatinya mulai sedih tidak dapat datang pada pameran yang selalu
ditunggunya setiap tahun
“Ya
terus, aku gak bisa ninggalin gitu aja rapatnya”
“Jadi
kita gak pergi nih tahun ini” Sambung Nayla dan mulai melihat Vano dengan wajah
memelas
“Maaf
Nay” Ucap Vano, Ia ingin sekali membujuk Nayla namun Ia sendiri pun bingung
harus berbuat apa.
“Yaudah
deh kak. Mo gimana lagi” Kata Nayla lemas
“Kita
kan bisa pergi tahun depan” Ucap Vano memaksa tersenyum kemudian seperti
teringat sesuatu dan refleks melanjutkan ucapannya
“Em
mungkin aja gak ada tahun depan ya” Ucapan Vano membuat Nayla sedikit terkejut
“Maksudnya
kak?”
“Eh
gak, gak ada” Vano menyangkal, Nayla tidak meneruskan pertanyaannya karena
sudah terlanjur kecewa tidak dapat menghadiri pameran tersebut.
“Yaudah
kalau gitu, aku balik duluan ya kak” Kata Nayla lalu berdiri dari tempat
duduknya
“Kamu
pulang sama siapa? Aku anter ya” Kata Vano yang juga berdiri dari tempat
duduknya
“Gak
gausah kak, kaka lanjutin aja lagi baca apa tuh tadi. Aku duluan ya” Ucap Nayla
dengan wajah tanpa ekspresi belum sempat Vano membalas perkataannya, Nayla
sudah beranjak cepat berjalan meninggalkan ruangan tersebut. Vano hanya bisa
melihat Nayla hingga menghilang dari pandangan dengan perasaan bersalah.
Ketika
Nayla keluar dari pintu ruang osis tiba-tiba Ia berpapasan dengan Rio yang baru
saja akan masuk kedalam ruangan itu. Mata mereka bertemu, Rio pun menyapanya
“Udah
ketemu Vano?” Rio bingung harus berkata apa, karena melihat wajah Nayla dengan
mata yang berkaca-kaca
“Udah,
aku balik duluan ya ka” Ucap Nayla kemudian mulai melangkah namun Ia
menghentikan langkahnya dan bertanya pada Rio
“Ka,
emangnya rapat besok penting banget ya?”
“Lumayan
sih, soalnya senin kita ada laporan yang harus diajuin ke kepsek” Jawab Rio
“Oke”
Nayla kemudian melanjutkan langkahnya dengan perasaan kecewa. Rio pun juga
meneruskan langkahnya dan masuk kedalam ruang osis menghampiri Vano
“Itu
tadi Nayla kenapa? Kok kayaknya bete banget. Mukanya udah kayak pakaian yang
setahun gak disetrika” Tanya Rio sambil duduk dihadapan Vano
“Kita
gak bisa pergi ke pameran yang adanya hanya setahun sekali. Pameran itu tuh
paling ditunggu sama Nayla karena hanya disitu dia bisa liat langsung
lukisan-lukisan dari seniman dunia” Jawab Vano
“Kedengarannya
bagus, kenapa gak pergi aja?”
“Pamerannya
besok Yo, kita kan ada rapat”
“Kan
ada gue Van” Jawaban Rio membuat Vano berpikir dalam diamnya
“Udah,
biar gue yang pimpin rapat besok, jangan buat gue gak ada gunanya gitu dong
Van, gue kan wakil ketua osis, jadi kalau lu gak ada, gue bisa gantiin”
“Tapi
kan…” Belum sempat Vano melanjutkan perkataannya Rio segera memotongnya
“Udah
gak usah tapi-tapian, kasian tuh tadi anak orang, waktu ketemu diatas senyum-senyum
gak jelas eh pas tadi keluar ruangan malah kusut banget mukanya” Ujar Rio
“Eiiits
sejak kapan lu perhatiin orang kayak gitu” Ledek Vano dan Rio pun hanya bisa menatap
Vano dengan tatapan sinisnya
“Atau,
lu aja yang nemenin Nayla” Ucap Vano dan membuat Rio mengkerutkan dahinya
“Apaan
sih udah ya Van, jangan buat ide lagi” Kata Rio kemudian mulai tertawa sambil
menggelengkan pelan kepalanya
“Van,
udah pergi aja, lagian kan……” Rio enggan meneruskan perkataannya karena
tiba-tiba teringat sesuatu
“Gue
belum tentu bisa nemenin dia lagi tahun depan” Vano meneruskan perkataan Rio
“Bukan
itu lagi maksud gue” Rio menyangkal padahal apa yang diteruskan Vano memang
benar sesuai dengan yang akan Ia katakan. Sementara itu Vano hanya tersenyum
“Tapi
beneran gak apa-apa nih gue gak ada pas rapat besok?”
“Iyaa,
kayak gak percayaan banget sih sama teman sendiri”
“Yaudah,
thank’s ya Yo” Vano tersenyum
Ditempat
yang berbeda, Nayla berdiri didepan gerbang sekolahnya menunggu taksi yang
lewat. Wajahnya seakan ingin jatuh ketanah, Ia belum bisa menerima bahwa tahun
ini dirinya tidak dapat mengunjungi pameran yang setiap tahunnya Ia tunggu. Saat
sedang sibuk dengan lamunannya yang tidak karuan, tiba-tiba ada yang
melemparkan sesuatu dari arah belakang dan mengenai kepala Nayla.
“Aw”
Refleks Nayla segera membalikkan badannya, namun tidak ada seorang pun disana,
hanya dedaunan yang perlahan jatuh dari atas pohon-pohon yang terdapat ditempat
itu. Nayla kemudian mengambil sebuah bungkusan yang mengenainya. Dibukanya
bungkusan berbentuk kotak itu, sebuah coklat dan selembar tulisan diatasnya ‘Kamu pasti pergi ke pameran itu kok’ Nayla
mengkerutkan keningnya
“Emang
gue peduli” Ujar Nayla dengan nada tinggi dan kesal, Ia tidak memikirkan lagi
siapa yang mengirimkan coklat dan ucapan itu padanya, hal ini seakan sudah
biasa baginya karena entah siapa ada orang yang selalu memberikan Ia semangat
disetiap harinya. Nayla membuka coklat itu dan segera menggigitnya dengan
cepat. Tak peduli tatapan aneh orang-orang disekitarnya.
“Ini
kok taksi dari tadi gak ada yang lewat sih” Nayla marah-marah sendiri sambal
terus mengunyah coklat yang terus Ia gigit tanpa memperdulikan isi mulutnya
yang penuh dan bibirnya yang mulai penuh dengan coklat. Ia benar-benar tidak
peduli dengan kondisi wajahnya dan kelakuannya saat itu. Sampai akhirnya
terlihat sebuah taksi yang akan lewat dan Nayla pun segera melambaikan
tangannya dari kejauhan.
“Bapak
kok dari tadi gak lewat-lewat sini sih pak, saya kan nungguin” Ucap Nayla
setelah memasuki mobil tersebut
“Maaf
neng, saya gak tau ada neng nungguin” Ucap sopir taksi yang kena omelan Nayla
“Yaudah
jalan aja pak”
“Neng
baru putus ya?” Tanya sopir taksi polos
“Lebih
parah dari abis putus pak” Ucapan Nayla hanya menambah kebingungan sopir taksi
itu
“Yang
sabar ya neng” Ucapan sopir taksi itu membuat Nayla mengkerutkan keningnya.
***
Nayla
terlihat duduk santai didepan televisi dengan sekotak cemilan dipelukannya, Ia
melirik jam dinding yang saat itu menunjukkan tepat diangka 7, seakan
membunuhnya setiap waktu, sebenarnya Ia masih kesal karena tidak dapat mengunjugi
pameran yang selalu ditunggunya setiap tahun.
“Loh
Nay, kamu gak jadi pergi?” Tanya mama Nayla yang tiba-tiba melintas dihadapan
Nayla sambil menggunakan jam tangan kesayangannya
“Iya,
katanya mau pergi ke mana tuh, yang kemarin pagi kamu bilang ke papa” Sambung
papa Nayla
“Pameran
pah, gak jadi” Jawab Nayla datar
“Kenapa?
Yaudah kamu siap-siap aja gih, kita pergi ke rumah tante Emi aja” Ajak mama
Nayla
‘Ikut mama papa gak yah, tapi pamerannya’ Pikir Nayla
dalam diamnya, entah mengapa Ia merasa akan tetap mengunjungi pameran yang
sudah ditunggunya setiap tahun meskipun tanpa Vano
“Emm
gak deh mah, mama sama papa aja ya yang pergi, Nayla titip salam aja sama tante
Emi”
“Yaudah,
kalau kamu mau keluar jangan lupa periksa jendela sama pintu, mama sama papa
pergi dulu yah”
“Iya
mah pah, hati-hati” Nayla kembali melihat layar televisi yang berada
dihadapannya meskipun begitu, pikirannya masih pada pameran yang entah mengapa
Ia merasa akan tetap mengunjungi pameran itu meskipun sendirian
“Eh
Vano” Terdengar samar-samar suara mama Nayla dari depan pintu rumah, dengan
penasaran Nayla segera beranjak dari tempat duduknya dan dengan langkah
perlahan berjalan menuju ruang tamu yang tidak jauh dari tempat sebelumnya, Ia
menyembunyikan badannya dibalik dinding dan mencoba memastikan apakah diluar
sana memang benar-benar Vano. Dengan sedikit mengintip keluar, dilihatnya Vano
berdiri didepan pintu sambil berbicara dengan mama dan papa Nayla. ‘Ka Vano, katanya gak bisa’ Batinnya
mulai berkomentar
“Ada
tuh didalem, masuk aja, tante sama om mau pergi dulu ya” Terdengar suara khas
mama Nayla.
“Oh
mau kemana tante?”
“Ada
selametan rumah baru adik tante, kalian nanti perginya hati-hati ya” Mama dan
papa Nayla pun berjalan keluar rumah. Dilihatnya Vano juga mulai melangkahkan
kakinya kedalam rumah, dengan gerak cepat Nayla pun segera kembali ketempatnya
semula, mengambil cemilan yang tadi dipeluknya, wajahnya sengaja Ia buat datar
seakan-akan Ia tidak mengetahui bahwa Vano akan datang.
“Hai
Nay” Sapa Vano sambil duduk disamping Nayla” Kedua tetangga ini memang sudah
sangat dekat, kedekatan mereka telah terjalin sejak kecil, orangtua keduanya
pun sudah saling kenal sehingga membuat mereka tidak segan lagi ketika berada
dirumah sahabatnya.
“Kok
disini sih, mo pamitan dulu sebelum pergi rapat?” Nayla tetap menegakkan
pandangannya pada televisi dihadapannya
“Kok
jutek gitu sih”
“Biarin”
“Serius
amat Nay, apa serunya sih nonton iklan gitu” Perkataan Vano membuat Nayla jadi
sedikit salah tingkah, Ia berpura-pura tak menghiraukan keberadaan Vano
disampingnya karena Ia ingin menunjukkan pada Vano rasa kecewa dan kesalnya.
“Emangnya
kenapa sih, terserah aku dong mau nonton apa aja” Vano hanya tersenyum melihat
tingkah Nayla
“Ganti
baju gih, kita udah telat nih” Ucapan Vano membuat Nayla melirik ke arah Vano
“Kalau
rapat gausah ajak-ajak aku kak, gak minat”
“Tapi
kalau pameran pasti minat dong”
“Jadi
kita ke pameran? Yeaaay” Nayla girang namun Ia bingung dengan kedatangan Vano
yang sangat tiba-tiba
“Loh
tapi bukannya kaka ada rapat ya? Tadi katanya penting terus gak bisa ditinggal,
kok sekarang bisa disini?”
“Aku
gak mungkin ngelewatin kesempatan tahun ini, udah ah ntar kalau kelamaan pergi
bisa telat beneran nih kita”
“Oke,
bentar ya kak” Nayla segera beranjak dari tempatnya lalu mulai menaiki tangga
menuju kekamarnya. Tidak lama kemudian, Nayla telah turun dengan pakaian
rapinya.
“Eh?
Tumben cepet” sahut Vano saat melihat Nayla turun dari tangga
“Iyalaah,
orang aku udah siapin semuanya kok, aku bakal tetep pergi lagi meskipun gak
sama kaka” Nayla sedikit mengejek
“Gayanya
kebanyakan, pergi sekarang yuk”
“Yuk”
Ucap Nayla sambil tersenyum lebar
Nayla
dan Vano terlihat asyik berjalan sambil sesekali berhenti jika melihat lukisan
yang mereka sukai, sambil sesekali berfoto ria. Vano memperhatikan Nayla yang
lincah dan seperti tanpa rasa lelah mengelilingi setiap sudut ruangan yang
dipenuhi dengan berbagai lukisan unik dari beberapa negara. Nayla tampak sangat
bahagia, disetiap fotonya selalu menebarkan senyuman dan wajah anehnya yang
sengaja Ia buat sebagai candaannya dengan Vano. ‘Hampir aja aku ngerusak senyuman kamu malam ini Nay’ Batin Vano
berkomentar
“Kak
duduk disana yuk, kakiku mulai pegel nih” Sahut Nayla sambil menunjuk sebuah
bangku yang letaknya tidak jauh dari mereka berdiri
“Eh
kirain kamu gak ada capenya” Vano nyengir
“Apaan
sih kak emang aku robot” Nayla memukul pelan pundak Vano, Vano pun hanya
tertawa sambil berjalan menuju bangku yang dimaksud Nayla
“Kita
pulang dikit lagi ya kak”
“Iyaa..
Nay, aku beli minum dulu ya” Ujar Vano beberapa saat setelah mereka duduk
“Emang
ada? Dimana?”
“Ada
lah, itu tuh tadi disana kita lewatin kok, kamu sih gak perhatiin”
“Oh
yaudah jangan lama-lama ya kak, ntar aku diculik lagi kalau sendirian
lama-lama”
“Yeee
rugi orang nyulik kamu” Vano tertawa dan beranjak pergi, Nayla hanya melihat
Vano sampai hilang dari pandangan.
Disisi
lain, ada seseorang yang memperhatikan Nayla dari kejauhan. Sampai seorang anak
kecil datang dan memberikan sebucket bunga mawar putih untuk Nayla dengan
sebuah kartu ucapan. Nayla hanya bisa menerima bunga yang diberikan untuknya
dengan wajah terkejut.
“Halo,
kamu lucu banget sih, ini dari siapa ya?” Tanya Nayla pada anak kecil perempuan
yang berada dihadapannya, anak itu hanya tersenyum manis pada Nayla dan pergi
tanpa menjawab pertanyaannya. Nayla memperhatikan bunga itu dan mengambil selembar
kartu ucapan yang terdapat disela-sela bunga tersebut. ‘Aku udah tau kalau kamu
bakal kesini’ Tulisan dikartu ucapan itu membuat Nayla semakin bingung, Ia
mengalihkan pandangannya untuk melihat sekeliling ruangan yang bisa
dijangkaunya, dilihatnya hanya pengunjung lain yang sibuk dengan aktivitas
masing-masing. Nayla kembali melihat kartu ucapan tersebut, Ia memperhatikan
tulisan dikartu ucapan itu dan membaliknya, matanya membesar ketika melihat
sebuat nama yang tertulis dikartu itu ‘Danny’
ucap batin Nayla. Danny adalah mantan pacar Nayla ketika Ia baru masuk SMA, mereka
bertemu saat masa orientasi sekolah. Danny juga merupakan pacar pertama Nayla,
namun hubungan mereka hanya bertahan selama 6 bulan karena Danny harus pindah ke
luar negeri mengikuti ayahnya. Sejujurnya perasaan Nayla pada Danny belum
sepenuhnya hilang.
“Hai”
Seseorang yang tadi memperhatikan Nayla dari kejauhan tiba-tiba sudah berada
dihadapannya. Nayla mengangkat kepalanya dan melihat wajah orang yang saat itu
sedang tersenyum dihadapannya. Ia tak berkata apa-apa, Nayla hanya menatap
orang itu dengan tatapan yang tajam lalu berdiri dan mencoba pergi dari
tempatnya.
“Nay,
tunggu dulu. Aku mau minta maaf” Ucap orang itu sambil menahan lengan Nayla
“Udah
Dan, aku udah maafin kamu jadi gak usah sok sok manis dengan ngasih bunga kayak
gini” Nayla melempar sebucket bunga yang Ia pegang kebangku yang Ia duduki,
wajah Nayla seakan mengatakan bahwa masih ada kekecewaan dihatinya
“Nay
please, aku pengen ngomong”
“Mau ngomong apa? Udah ya Dan, aku udah bisa
lupain kamu, kamu pikir enak ditinggalin gitu aja” Nayla menatap orang itu yang
ternyata adalah Danny sambil mencoba untuk tetap tenang
“Makanya
aku mau ngomong dulu, aku mau jelasin ke kamu”
“Aku
bilang aku udah maafin kamu, kamu ninggalin aku gitu aja, aku udah bisa terima
hal itu, jadi gak perlu kamu jelasin apa-apa lagi karna gak ada pengaruhnya
juga bagi aku” Nayla mencoba melepaskan genggaman Danny dari lengannya. Tiba-tiba
ada seseorang yang langsung menggenggam tangan Danny agar melepaskan tangan
Nayla.
“Lepasin
gak” Ucap Vano dengan tatapan tajam kearah Danny. Danny pun tanpa berkata-kata
lagi segera melepaskan genggamannya dari lengan Nayla begitu juga dengan Vano.
“Ka
Vano, tolong kasih aku waktu buat bicara sama Nayla” Pinta Danny, saat itu Vano
menatap Nayla seakan bertanya pertanyaan yang sama dan Nayla pun menggelengkan
kepalanya seakan mengerti arti tatapan Vano.
“Nayla
gak mau bicara lagi sama kamu, orang udah gak mau ngapain dipaksain sih. Yuk
Nay” Ujar Vano sambil merangkul Nayla dan berjalan pergi meninggalkan Danny
yang masih terpaku ditempatnya.
Saat
dalam perjalanan pulang Nayla menatap kosong kearah jendela mobil. Dalam
lamunannya teringat saat Danny meninggalkannya secara tiba-tiba, tanpa kabar
dan tanpa pesan apapun sesaat sebelum keberangkatan Danny. Sampai akhirnya Ia
mendapat pesan diponselnya bahwa Danny akan segera berangkat ke Singapura
mengikuti ayahnya.
‘Maaf Nay, aku harus pergi. Ayah aku pindah ke
Singapura, maaf baru bisa ngabarin sekarang. Kita juga gak bakalan bisa LDR
kan. Kamu baik-baik ya. Danny’ Pesan Danny padanya teringat kembali bersama sakit
hati yang Ia rasakan saat itu
“Nay…”
Panggilan Vano memecah lamunan Nayla
“Eh
iya kak?”
“Udahlah
gak usah dipikirin, lagian ngapain sih dia dateng lagi”
“Gak
tau kak”
“Kamu
masih punya perasaan ya sama dia?” Pertanyaan Vano membuat Nayla terdiam
sejenak
“Gak
lah kak, ngapain nyimpen perasaan ke orang kayak dia”
“Iya,
dia juga gak pantes lagi dapet sayang dari kamu” ucapan Vano membuat Nayla
sedikit tertawa
“Terus
yang pantes siapa kak?”
“Aku
lah” Vano dan Nayla pun tertawa memecahkan keheningan malam itu. Vano menyalakan
radio pada mobilnya, terdengar lagu dari Mocca yang berjudul I Remember. Ini merupakan lagu kesukaan
Vano dan Nayla sejak mereka masih dibangku Sekolah Dasar, lagu dengan lirik
sederhana namun memiliki arti yang cukup dalam bagi mereka.
“Eh
kak, besarin dong lagu kita nih” Nayla kemudian mulai menyanyi dengan suara
cemprengnya yang khas
“Kamu
sadar gak sih suara kamu tuh cempreng banget, dibagusin dikit kek” Vano tertawa
kecil
“Ini
udah dibagusin kak”
I
remember..
All
the things that we shared,
and
the promise we made,
just
you and I
I
remember..
All
the laughter we shared,
all
the wishes we made,
upon
the roof at dawn
Mereka
berdua pun bernyanyi dengan suara seadanya sambil memperagakan gaya khas mereka
masing-masing seakan berada disebuah konser. Nayla terlihat tertawa lepas begitu
pun dengan Vano. Vano memang selalu berhasil dalam hal menghibur Nayla bahkan
dengan keadaan yang terburuk sekalipun.
***
DANNY
Siang
itu matahari bersinar begitu cerah dan pelajaran dalam kelas baru saja
berakhir, Nayla dan Fika terlihat sibuk memasukkan buku-buku mereka kedalam tas
ranselnya.
“Nay,
kita kekantin yuk” Ajak Fika setelah selesai membereskan segala peralatan
tulisnya
“Emang
masih ada yang buka ya jam segini?”
“Masih
kok, yuk.. leher gue kering banget nih butuh yang seger-seger”
“Yaudah
yuk” Nayla dan Fiak pun beranjak dari tempat mereka menuju ke kantin sekolah.
sesampainya dikantin, Nayla dan Fika duduk berhadapan setelah memesan dua gelas
es jeruk.
“Nay,
jadi gimana?” Fika memulai percakapan yang membuat Nayla mengkerutkan keningnya
“Gimana
apanya?”
“Katanya
kemaren lu ketemu sama Danny” Ucap Fika sambil menerima pesanan es jeruk mereka
dan tersenyum pada pelayannya
“Makasih”
Ucap Nayla pelan pada pelayan yang mengantarkan es jeruk mereka
“Yah
gitu aja sih, masa nih ya.. dia nyuruh anak kecil buat ngasih gue bunga,
awalnya sih gue pikir itu kan udah biasa, tapi ucapannya kali ini agak beda
gitu dan setelah gue balik kertasnya ternyata disitu ada tulisan nama Danny.
Horror gak tuh” Jelas Nayla
“Kok
horror sih Nay, romantis kek” Fika berkata dengan polosnya sambil
mengaduk-ngaduk es jeruk dihadapannya
“Idih
romantis pala lu”
“Eh
tunggu deh Nay” Ucap Fika, dari raut wajahnya Ia seperti sedang memikirkan
sesuatu
“Apaan?”
Tanya Nayla penasaran
“Dia
ngasih kamu bunga lewat anak kecil?”
“Iya”
“Kamu
inget gak, kamu pernah dapet coklat dari anak kecil juga” Fika mulai
berpendapat, Nayla pun mengingat kembali hal yang dikatakan Fika.
“Iya
inget, itu kan dari anak ibu kantin ini” mereka berdua pun saling menatap
seolah berbicara dalam tatapannya jika mereka memiliki pemikiran yang sama
“Jangan-jangan
yang selama ini ngasih bunga, coklat, dan sebagainya itu…” Nayla enggan
meneruskan perkataannya
“Danny”
Sambung Fika
“Gak
mungkin, gak.. please jangan dia”
Nayla seakan tak menerima hal ini
“Tapi
kalau emang dia, gimana dong Nay”
“Kenapa
harus dia sih, gue tuh berharap siapa kek gitu...”
“Siapa
Nay” Fika mulai mengeluarkan nada merayunya
“Siapa
aja asal jangan Danny”
“Lagian
gue heran deh sama Danny, kok bisa-bisanya sih dia kayak gitu. Padahal kan
setau gue dia orangnya baik”
“Kalau
dia baik dia gak bakalan ninggalin gue gitu aja Fik”
“Iya
sih, makanya gue bilang kok bisa-bisanya dia ngilang gitu. Paling gak kan dia
bisa jelasin ke lo dulu rencananya mau ngilang gitu”
“Ada
ya orang ngilang pamit dulu”
“Hehehee”
Fika nyengir
“Tapi
lo udah gak ada perasaan apa-apa kan ke dia?” pertanyaan Fika membuat Nayla
terdiam sejenak
“Gak
lah” Ujar Nayla
“Iya
Nay gak usah. Orang dianya yang ninggalin lu, gue rasa dia bakalan nyesel deh”
“Gue
udah gak peduli Fik dia nyesel apa gimana itu urusan dia” tiba-tiba terdengar ringtone ponsel milik Nayla yang
menandakan ada sebuah panggilan, Nayla pun segera menerimanya
“Nay
dimana?” terdengar suara Vano diseberang sana
“Ada
nih dikantin sama Fika, kakak udah dari ruang kepsek?”
“Udah
ini juga baru keluar, aku nyusul kesana ya”
“Okee”
Nayla menutup teleponnya
“Oh..
my.. god..” Fika terdiam, seakan tak percaya dengan apa yang Ia lihat
“Kenapa
Fik?” tanya Nayla penasaran
“Lo
gak bakalan percaya dengan apa yang bakal lo liat” perkataan Fika membuat Nayla
semakin penasaran. Perlahan Nayla pun menoleh kebelakang, Ia terkejut dengan
apa yang dilihatnya.
“Danny”
Ucap Nayla ketika melihat Danny sudah berada disampingnya
“Hai
Nayla, hai Fika, lama ya gak ketemu” Ujar Danny dengan senyuman lebarnya, tak
dapat dipungkiri Danny memang memiliki senyuman yang memikat. Fika hanya dapat
membalas senyuman Danny dan kembali mengarahkan pandangannya pada Nayla
“Ngapain
disini?” Tanya Nayla
“Aku
hanya berkunjung ke sekolah lama” Jawab Danny dengan santainya
“Duduk
sini ya” Sambungnya
“No… gak boleh” Nayla dengan cepat
menaruh tasnya ditempat yang hendak diduduki Danny
“Aku
duduk disamping Fika aja kalau gitu” Danny segera duduk disamping Fika,
menghindari Fika juga akan melakukan hal yang sama padanya. Sementara itu Fika
hanya bisa terdiam dengan senyuman anehnya, Ia tidak tahu harus berbuat apa.
Nayla dan Fika saling melihat seakan berkomunikasi dalam tatapan mereka
“Nay,
kamu masih gak mau bicara ama aku?” Ucap Danny
“Emang
gak ada tempat lain yang bisa kamu datengin” Ujar Nayla dengan wajah juteknya
“Kan
yang ada kamunya disini doang” perkataan Danny sontak membuat Nayla kembali
mengkerutkan keningnya. Tiba-tiba dari kejauhan Vano melihat Danny sedang duduk
bersama Nayla dan Fika, Ia pun mempercepat langkahnya berjalan ke arah mereka.
“Ngapain
dia disini Nay?” Tanya Vano setelah menghampiri mereka, Nayla hanya
menggelengkan kepalanya
“Duduk
disini kak” Nayla mengambil tasnya yang tadinya Ia letakkan, Vano pun duduk
disamping Nayla dan berhadapan dengan Danny
“Kak
Vano masih sama ya kayak dulu, selalu ngejagain Nayla” Ujar Danny
“Iya,
terutama ngejagain dia dari orang kayak lu” Vano memasang wajah datarnya,
dengan wajah seperti itu siapa pun akan takut berhadapan dengannya. Nayla
merasa sangat dilindungi jika Vano sudah berada disampingnya
“Kak,
tolong dong kasih kesempatan saya buat bicara sama Nayla” Pinta Danny dengan
wajah memelasnya
“Kok
mintanya sama saya, nih tanya sendiri sama Nayla, dia mau gak bicara sama kamu”
Vano melihat kearah Nayla
“Mau
bicara apalagi sih?” Tanya Nayla, kali ini Ia sudah lebih tenang menghadapi
Danny
“Aku
gak mau kamu salah paham lagi, aku mau jelasin semuanya termasuk kenapa waktu
itu aku baru ngabarin kamu pas udah mau berangkat”
“Yaudah
jelasin aja sekarang” Ucap Nayla, Danny melihat kearah Vano yang masih
memandangnya lalu Ia melihat lagi Fika yang juga memandangnya dan kembali
melihat Nayla
“Aku
gak mungkin bicara kalau gini keadaannya”
“Jadi
maksud kamu, aku sama Kak Vano ganggu gitu” Sahut Fika dengan polosnya
“Kalau
kamu emang mau bicara dan jelasin semuanya, jelasin sekarang dengan Kak Vano
dan Fika tetep disini atau gak sama sekali” tegas Nayla, Danny terdiam berpikir
sejenak
“Hai
semua” Sapa Aldo yang tiba-tiba datang memecah keheningan
“Eh?
Danny ya? Danny kan? Kok baru keliatan sih Dan, kemana aja” Sambung Aldo, tidak
jauh polosnya dengan Fika. Aldo tidak mengetahui persoalan yang terjadi antara
Nayla dan Danny, Ia hanya mengenal Danny karena mereka yang sering main basket
bersama saat awal masuk sekolah. Ia hanya tahu bahwa Danny memang sempat
memiliki hubungan dengan Nayla namun tidak mengetahui akhir hubungan mereka.
“Iya,
baru sempet ke Indonesia lagi” Jawab Danny
“Seneng
dong ketemu Nayla lagi” Perkataan Aldo membuat Fika membesarkan matanya pada
Aldo sebagai tanda bahwa ada yang salah dari ucapannya. Aldo yang mengerti itu
segera mengalihkan pembicaraannya
“Eh
iya, Fik belum mau balik? Balik sekarang yuk” Ajak Aldo, Fika melihat kearah
Nayla
“Iya
Fik balik aja gak apa-apa, aku juga bentar lagi bakal balik kok sama Kak Vano”
Ujar Nayla
“Yaudah
balik duluan ya semua, bye…” Fika beranjak dari tempatnya dan pergi bersama
Aldo.
“Duluan
yaa” Sambung Aldo yang saat itu menyisakan Nayla, Vano dan Danny
“Kalau
mau ngomong, sekarang aja, aku gak punya waktu lain lagi” Kata Nayla membuka
percakapan, Danny melihat Vano yang menatap tajam kearahnya, seakan siap
menerkam Danny jika menyakiti Nayla
“Okay,
pertama-tama, aku mau minta sama Ka Vano tolong matanya biasa aja, aku gak
bakalan ngapa-ngapain Nayla kok” Ucap Danny yang membuat Nayla melihat kearah
Vano diiringi dengan senyuman kecilnya
“Saya
biasa aja kok” Kata Vano santai
“Oke,
aku bener-bener minta maaf udah ninggalin kamu Nay, waktu itu aku bingung, gak
tahu harus gimana, papa tiba-tiba mutusin buat pindah dan ngurus semuanya
dengan keputusan dia tanpa nanya apa-apa dulu ke aku” Jelas Danny
“Aku
gak mau lebih nyakitin kamu, jadi aku putuskan untuk menghilang aja dari hidup
kamu Nay”
“Terus?”
Nayla mulai merasa kasihan terhadap Danny, namun itu tak ditunjukkannya, Ia
tetap dengan wajah tanpa ekspresi seolah tidak peduli dengan alasan Danny
“Ternyata
aku gak bisa, aku gak bisa lupain kamu, disana aku ketemu banyak cewek tapi
tetep aja aku gak bisa lupain kamu. Aku ke sini untuk nemuin kamu, untuk
memperbaiki hubungan kita”
“Yaudah
kalau itu tujuan kamu, hubungan kita sekarang udah baik. Jadi kamu bisa pulang
sekarang. Yuk kak” Kata Nayla sambil beranjak akan pergi namun tangannya segera
di tahan oleh Danny, seiring dengan itu, Vano dengan cepat menepis tangan Danny
“Gak
perlu pegang-pegang” Ucap Vano
“Nay,
tolong Nay, aku salah, tolong maafin aku”
“Aku
udah lama maafin kamu, jadi udah kan”
“Maksud
aku, tolong beri aku kesempatan lagi, aku sayang banget sama kamu Nay” Ucap
Danny memelas
“Gak
segampang itu Dan” Nayla berdiri sambil mengambil tasnya dan segera pergi
disusul oleh Vano tanpa berkata apa-apa. Danny hanya bisa terdiam melihat
mereka yang berjalan meninggalkannya, Ia terus melihat sambil terus memikirkan cara
untuk dapat mendekati Nayla kembali.
Dalam
perjalanan pulang, Nayla hanya diam, Ia hanya menatap kosong kearah jendela
mobil, melihat jalanan yang terus bergantian. Vano yang menyadari hal itu pun
memulai pembicaraan
“Nay,
kamu gak apa-apa?” Tanya Vano memecah keheningan
“Gak
apa-apa maksudnya?” Nayla mengalihkan pandangannya pada Vano yang sedang
mengemudi
“Soal
Danny”
“Oh,
ya gak lah” Nayla kembali melihat kearah jendela
“Tapi
kok dari tadi diem, mikiran dia ya?”
“Gak
lah, kaka apaan sih”
“Kamu
gak pernah bisa bohong dari aku loh Nay” Ucap Vano, membuat Nayla menghela
napas
“Menurut
kakak, omongan dia serius gak sih?”
“Kamu
mau aku jawab jujur nyakitin atau bohong nyenengin?”
“Ya
jujur lah”
“Kalau
aku lihat dari matanya sih, gak ada penyesalan sama sekali. Dia PD banget bisa
dapetin kamu lagi”
“Kakak
yakin?”
“Kenapa?
Kamu mulai luluh ya?”
“Bukan
gitu kak, aku tuh tahu banget gimana papanya Danny, yah aku kasian aja sama
dia, papanya selalu mutusin arah kehidupannya Danny tanpa mau tau apa mau
Danny”
“Kamu
yakin papanya kayak gitu?”
“Dari
cerita Danny sih gitu. Em.. menurut ka Vano, kalau aku ngasih kesempatan ke
Danny lagi? gimana?”
“Yah
aku sih terserah kamu, selama itu buat kamu seneng, ya aku juga seneng. Katanya
kamu udah gak punya perasaan apa-apa sama dia”
“Aku
juga gak ngerti kak, liat dia kok jadi kasihan gini”
“Kamu
tuh hatinya gampang luluh, susah bedain mana sayang mana kasihan”
“Udah
ah, ganti topik. Mampir makan dulu yuk, laper”
“Nay,
tadi kan abis dari kantin”
“Ka
Vano tadi cuman minum doang mana kenyang”
“Kecil
kecil makannya banyak”
“Biarin,
daripada kaka makan dikit langsung besar” Tawa Nayla diakhir ucapannya, disusul
dengan tawa kecil dari Vano.
***
Sejak
Danny kembali datang, Ia selalu mengunjungi Nayla meskipun tak pernah disambut
baik oleh Nayla. Datang kesekolah saat jam pulang sekolah, kerumah Nayla
bertemu dengan mamanya bahkan selalu menghubungi Nayla seakan-akan pesan itu
akan dibalas oleh Nayla.
“Nay,
udah ada yang jemput tuh” Kata Mama Nayla saat Nayla keluar dari kamarnya untuk
bersiap pergi ke sekolah
“Ha?
Ka Vano?”
“Mama
gak tahu, tapi dari tadi pagi udah didepan tuh”
“Yaudah
deh, Nayla pergi dulu yah ma”
“Gak
sarapan dulu?”
“Ntar
disekolah”
“Yaudah,
kasian tuh yang jemput udah lama nungguin”
“Iya
pergi ya mah” Pamit Nayla sambil mengecup kedua pipi mamanya, Nayla mengira
bahwa orang yang menjemputnya adalah Vano. Saat Nayla berjalan menuju mobil
tersebut, orang yang berada dalam mobil segera turun danberlari pelan membuka
pintu mobil untuk Nayla
“Pagi
Nay, berangkat yuk” Sapa Danny dengan senyuman lebar
“Danny?
Ngapain?” Nayla terkejut
“Jemput
kamu”
“Aku
perginya bareng Ka Vano”
“Sekali-sekali
bareng aku lah, lagian Ka Vano juga belum jemput kan” Ucap Danny, Nayla terdiam
sambil berpikir akan menerima tawaran Danny atau menunggu Vano
“Aku
udah nungguin dari tadi loh, yuk” Ucap Danny, akhirnya Nayla pun menerima
ajakan Danny, Ia masuk kedalam mobil Danny dan Danny pun menutup kembali
mobilnya dengan senyuman lebar kemudian melanjutkan perjalanannya untuk
mengantar Nayla ke sekolah.
Saat
mobil milik Danny baru saja dijalankan, beberapa detik kemudian mobil milik
Vano datang. Vano keluar dari dalam mobilnya dan mengetuk pintu rumah Nayla
“Assalamualaikum”
Ucap Vano sambil mengetuk pintu
“Walaikumsalam”
Ucap mama Nayla sambil membuka pintunya
“Nayla
udah siap tan?”
“Vano?
Tante pikir tadi Nayla udah berangkat sama kamu”
“Aku
baru aja nyampe tan”
“Oh,
Nayla udah berangkat baru aja”
“Sama
siapa tan?”
“Tante
juga gak tahu, tapi dari pagi udah ada yang nungguin didepan. Tante pikir itu kamu”
“Bukan
tan, yaudah saya permisi ya tante” Pamit Vano
“Iya,
hati-hati” Kata mama Vano sambil kembali menutup pintunya. Dalam mobilnya, Vano
mengambil ponsel dan segera menghubungi Nayla
“Halo”
Ucap Nayla setelah menerima telepon Vano
“Nay,
kamu berangkat sama siapa?”
“Sama
Danny kak, ntar aku ceritain ya” Kata Nayla sedikit mengecilkan suaranya
“Oh
yaudah, aku juga dijalan kesekolah”
“Iya
kak, bye” Nayla menutup teleponnya
***
Saat
jam istirahat, dikantin Nayla menceritakan kejadian yang dialaminya pagi tadi
pada Fika dan Vano yang berada dihadapannya. Vano memaklumi keputusan Nayla
begitupun dengan Fika.
“Jadi,
Danny dikasih kesempatan lagi nih?” Tanya Fika
“Gak
gitu juga sih, ya gak ada salahnya kan kita berteman” Jawab Nayla
“Yang
penting dia gak nyakitin kamu lagi” Kata Vano
“Ka
Vano tenang aja lagi” Kata Nayla seiring dengan bel masuk pelajaran selanjutnya
“Udah
bel, yuk” Ajak Fika
“Iya
yuk, bayar dulu tapi” Kata Nayla sambil beranjak dari tempat duduknya diikuti
oleh Vano dan Fika
“Bu,
ini ya” Ucap Nayla pada ibu pemilik kantin sambil membayar pesanannya
“Neng,
ini ada titipan untuk neng” Kata ibu pemilik kantin sambil memeberikan seikat
bunga edelweiss pada Nayla
“Dari
siapa bu?” Tanya Nayla sambil mengambil bunga itu
“Gak
tau, cuman niti tadi” Jawab ibu itu.
‘Aku senang lihat kamu senang’ Nayla
tersenyum membaca tulisan disebuah kertas kecil yang berada didalam bunga itu.
“Dari
siapa Nay?” Tanya Fika
“Biasa,
my secret admirer” Jawab Nayla sambil
tertawa kecil diakhir perkataannya
“Wah,
kali ini edelweiss ya” Ucap Fika
“Apa
sih?” Tanya Vano heran
“Itu
kak, Nayla’s secret admirer” Kata
Fika juga dengan tawa kecil
“Apaan
tuh, paling juga orang iseng” Ucap Vano sambil melirik bunga yang dipegang
Nayla.
***
Semenjak
hari itu, Nayla dan Danny sering jalan bersama. Mereka pergi nonton, makan,
shopping, bahkan Danny sesekali menjemput Nayla disekolah. Sementara Vano yang
disibukkan dengan persiapan pelepasan jabatannya sebagai pengurus OSIS, hanya
bisa mengawasi Nayla lewat ponselnya. Kekhawatiran Vano membuatnya selalu
menghubungi Nayla untuk memastikan bahwa Nayla baik-bak saja, perlakuan Vano
bukan tanpa alasan, Ia tahu betul bagaimana Danny meninggalkan Nayla dan
sesungguhnya Ia belum percaya sepenuhnya bahwa Danny telah berubah.
“Cowok
yang bareng Nayla, itu mantan dia ya?” Tanya Rio saat mereka sedang duduk
santai diruang OSIS
“Iya”
Jawab Vano
“Mereka
balikan?”
“Gak
lah, gue sebenarnya agak kurang suka sama Danny. Dia tahu kelemahan Nayla,
gampang luluh, gampang percaya sama orang, gue liat dia manfaatin itu dan gue
gak suka” Jelas Vano
“Terus
kenapa lu biarin?”
“Lu
tau sendiri lah, gue gak mungkin bilang ini ke dia, pasti dia malah nyerang gue
balik, bilang gue terlalu negative
thinking ke orang”
“Tapi
kalau Danny bener kayak yang apa lo bilang, gimana?”
“Yah
gue hanya bisa hibur dia lagi, dan gue gak bakalan diam aja kali ini”
“Kalau
emang bener kayak gitu, berarti lo biarin Nayla sakit lagi dong”
“Bukan
gitu Yo, gue biarin dia milih jalan hidupnya sendiri, kalau emang nyatanya yang
gue pikir ini bener, yah dia harus belajar, gak semua orang bisa dipercaya
kayak pikiran dia, apalagi orang kayak Danny”
“Lu
kenapa gak jujur aja sih sama dia?”
“Maksud
lu?”
“Soal……”
Rio menghentikan perkataannya
“Apa?
gak Yo, dia jangan tahu dulu. Belum saatnya”
“Ntar
dia marahin gue loh kalau dia lambat tahu”
“Dia
tuh kalau marah lucu lagi, tapi tetep nakutin juga. Jangan tatap matanya kalau
dia marah, ngeri”
“Apaan
sih” Rio tertawa kecil
Hingga
saat malam tiba, Vano tidak membiarkan chat
nya bersama Nayla putus, Ia terus menanyakan dimana keberadaan Nayla. Sementara
Nayla masih bersama dengan Danny
“Besok
gue berangkat loh Nay” Kata Danny
“Pesawat
jam berapa?” Tanya Nayla
“Jam
10 pagi” Jawab Danny
“Oh,
terus kita kemana nih?”
“Ntar
juga bakal tau”
“Dan,
serius.. kita kemana?”
“Bentar
lagi nyampe kok, tenang aja”
“Dan,
gue nanya, kita kemana?” Nayla mulai meninggikan suaranya, sampai akhirnya
mobil Danny berhenti didepan sebuah club.
“Yuk,
turun udah nyampe” Ajak Danny
“Dimana
ini Dan?” Tanya Nayla
“Tuh”
Kata Danny sambil mengangkat sedikit kepalanya untuk menunjukkan tempatnya pada
Nayla
“Club?”
Nayla mengkerutkan keningnya
“Iya,
kenapa sih? Have fun aja”
“Danny,
aku gak suka tempat kayak gini. Kalau emang kamu mau kesini, masuk aja gak usah
ngajak aku. Aku mau pulang” Kata Nayla sambil hendak akan keluar dari mobil
namun ditahan oleh Danny
“Nay,
kok jadi gak asik gini sih. Temen-temen aku nungguin didalem, aku mau kenalin
kamu ke mereka”
“Enggak,
kamu kan tahu aku gimana. Aku bukan anak party
partyan dan aku gak suka”
“Bentar
aja Nay, lagian kalau emang kamu gak suka yaudah gak usah dugem, duduk diem aja
didalem”
“Kamu
pikir aku bego, aku gak mau”
Ditempat lain diwaktu yang bersamaan
Vano
dan Rio sedang berada dalam perjalanan menuju kesebuah tempat percetakan untuk
mengecek poster buatan mereka sebagai kelengkapan diruang OSIS.
“Nayla
dimana sih? Kok gak bales chat” Kata Vano seakan bertanya pada dirinya sendiri
“Mungkin
lagi asik sama Danny” Ucap Rio
“Meskipun
kayak gitu dia gak mungkin gak nge cek hp nya”
“Dia
udah gede kali Van”
“Kalau
dia perginya sama Fika walaupun sampe subuh juga gue gak bakalan khawatir. Ini
perginya sama Danny”
“Ganti
status aja deh Van, lu jadi bokapnya”
“Perasaan
gue kok ga enak ya” Vano mengambil ponselnya, membuka sebuah aplikasi find my iphone yang sengaja Ia hubungkan
dengan ponsel milik Nayla. Matanya membesar ketika melihat lokasi Nayla, Ia pun
segera memutar balik mobilnya dengan cepat.
“Woy,
santai bro” Kata Rio terkejut sambil refleks memegang pegangan pintu mobil
“Kita
kemana sih? Ga jadi ke percetakan?” Tanya Rio bingung, namun tak dijawab oleh
Vano. Vano terus mengemudi, matanya tajam melihat lurus kearah depan dan Rio
hanya bisa diam.
Ditempat lain
Sementara
itu, Nayla menahan amarahnya, Ia benar-benar merasa kesal dan tidak menyangka
bahwa Danny ternyata tidak menghargainya.
“Dan,
udah deh aku gak mau ribut. Aku mau pulang” Kata Nayla sambil menggenggam erat
tasnya menahan amarah.
“Masa
balik sih”
“Aku
pulang sendiri”
“Enak
aja, enggak. Udah sampe sini juga” Kata Danny, Ia kemudian turun dari mobilnya
dan membuka pintu mobilnya untuk Nayla
“Apaan
sih” Ucap Nayla
“Turun
yuk”
“Kalau
aku turun, aku bakal langsung pulang” Kata Nayla dengan sedikit meninggikan
suaranya
“Nay
jangan bikin aku emosi, mending kamu turun terus kita masuk sama-sama” Kata
Danny
“Aku
udah bilang enggak, ya enggak” Nayla mempertegas ucapannya
“Apa
susahnya sih, tinggal masuk doang”
“Aku
gak mau”
“Jangan sok suci deh, club kayak gini mah
tempat biasa”
“Buat
kamu iya, aku enggak”
“Udahlah
Nay, bawa have fun aja, ini hari terakhir
aku disini”
“Teruuus?”
“Ya
kita masuk”
“Harus
berapa kali sih aku bilang, GAK MAU”
“Buat
apa aku deketin kamu kemaren-kemaren kalau akhirnya kita gak kesini” Perkataan
Danny membuat Nayla mengkerutkan keningnya
“Maksud
kamu?”
“Lo
pikir aku rela-relain deketin lo karena gue masih sayang sama lo? Gue udah
janjian sama temen-temen gue bakal bawa cewe oke, disini cewe yang jalan sama
gue yang paling oke menurut gue ya elo. Jangan buat gue malu deh”
“Jadi
kamu manfaatin aku? Kamu cuman mau nunjukin aku ke temen-temen kamu gitu?”
Nayla meninggikan suaranya, Ia merasa amarahnya benar-benar akan meledak
“Iyalah,
gue mau nunjukin ke temen-temen gue kalau cewe yang bareng sama gue tuh paling
oke. Udah deh, lu tuh cantik makanya gue pilih buat nemenin gue malam ini”
“Gue
gak nyangka pikiran lo sesempit itu”
“Selama
disini kan gue juga butuh temen jalan Nay, lo orangnya paling asik, gak banyak
mau, gak kayak cewek lain, seharusnya lo bersyukur gue milih lo buat nemenin
gue”
“Sakit
jiwa lo Dan” Nayla segera turun dari mobil dan hendak pergi meninggalkan Danny
namun Danny segera menahannya
“Mo
kemana? Lu gak bakalan bisa kemana-mana kali ini. Ikut gue kedalem, apa
susahnya sih”
“Gue
gak mau, cari orang lain aja, lepasin” Nayla mencoba melepaskan genggaman Danny
dari tangannya, namun kekuatannya kalah oleh kekuatan Danny
“Nay,
lu tuh cantik kenapa gak lu manfaatin buat seneng-seneng aja sih bareng sama
gue. Gue maunya elu, ya elu” Kata Danny
“Lepasin
gak?” Vano tiba-tiba datang dan segera menepiskan tangan Danny dari Nayla
“Eh
ada bodyguard nya” Ucap Danny sambil
melihat sinis Vano
“Lu
emang perlu dikasih pelajaran yah” Kata Vano
“Gue
udah banyak dapet pelajar kali di sekolah” Kata Danny seiring dengan
melayangnya pukulan Vano tepat diwajah Danny.
“Van..
Van.. tahan Van” Ucap Rio sambil menahan badan Vano untuk memukul Danny, Danny
hanya tersenyum sinis kearah Vano
“Lu
tau, Nayla tuh cewek paling polos yang pernah gue temuin, cewek kayak dia tuh
seharusnya bisa seneng-seneng bareng gue ditempat kayak gini, biar dia tahu
caranya nikmatin hidup” Kata Danny yang diiringi dengan pukulan dari Rio, pukulan
dari Rio mengejutkan Vano, bukan hanya membuat Danny sampai terduduk, Rio terus
memukul Danny seakan-akan tidak membiarkan Danny untuk bergerak sedikit pun
“Yo,
udah yo” Ucap Vano sambil menahan Rio, saat itu Danny terduduk lemah tak dapat
membalas pukulan dari Rio
“Mulut
lo tuh disekolahin” Tegas Rio, sementara itu Vano merangkul Nayla yang terdiam
tak bisa berkata apa-apa. Vano kemudian membawa Nayla untuk masuk kedalam mobil
miliknya.
“Yo,
ayo” Ajak Vano lalu Rio mengikuti langkah Vano meninggalkan Danny yang terduduk
lemah. Entah mengapa, Danny hanya tersenyum sinis melihat Vano, Rio dan Nayla
berjalan meninggalkan dirinya seakan-akan Ia puas dengan perlakuannya terhadap Nayla.
Dalam
perjalanan, Nayla diam dengan air mata yang terus mengalir tanpa bersuara. Vano
dan Rio juga diam, seakan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Vano
terlihat fokus mengemudi, sementara Rio melihat kosong kearah jendela begitu
pun dengan Nayla.
“Maaf”
Ucap Nayla kemudian menghapus air mata dipipinya
“Kok
minta maaf?” Tanya Vano
“Aku
seharusnya dengerin Ka Vano, meskipun aku gak ada niat buat balikan sama Danny,
tapi aku nemenin dia selama disini, padahal aku cuman mau nemenin dia sebagai
teman gak lebih, tapi dia…..” Nayla tidak melanjutkan perkataannya
“Udah,
lain kali kamu harus hati-hati. Gak semua orang bisa dipercaya sesuai sama
harapan kamu” Kata Vano
“Makasih
kak, aku gak tahu kalau gak ada kaka…” Nayla tidak dapat melanjutkan perkataannya
karena segera dipotong oleh Vano
“Udah
Nay, udah.. sekarang udah gak apa-apa kan?”
“Iya
kak, makasih ya kak”
“Apaan
sih, makasih makasih, kayak aku orang lain aja” Kata Vano, kemudian Ia teringat
sesuatu
“Seharusnya
makasih nih sama Rio, dia buat Danny jadi diem gak berkata apa-apa lagi”
Sambung Vano
“Apaan
sih” Rio bersuara
“Kak
Rio bisa mukul juga yah” Kata Nayla
“Jangan
asal Nay, SMP dulu dia pernah jadi anggota karate loh” Kata Vano
“Ini
nih, ini dia nih, ngarang” Kata Rio sambil tersenyum kecil
“Siapa
yang ngarang, orang bener kok” Kata Vano dengan tawa kecil diakhir perkataannya
“Kakak
cocok deh berdua” Kata Nayla juga dengan tawa kecilnya
“Tuh
kan Van, ketahuan deh kita” Kata Rio yang disambut dengan tawa lepas dari Nayla
dan Vano
“Ih
jijay” Ucap Vano. Mereka bertiga pun bercanda seadanya, mencoba melupakan
kejadian malam ini.
***
LIBURAN
TERINDAH
“Naylaaa…”
Panggil Fika yang baru saja memasuki ruangan kelas, membuat semua orang dalam
kelas melihat kearahnya. Nayla hanya bisa melihat Fika dengan tatapan heran
“Kamu
gak apa-apa kan? Kamu gak minum alkohol kan?” Tanya Fika setelah duduk
disamping Nayla
“Apaan
sih ya enggak lah” Jawab Nayla
“Emang
ya Danny brengsek”
“Males
banget denger namanya” Kata Nayla
“Iya
aku juga males nyebut namanya” Kata Fika
“Hahaha
apaan sih”
“Yaudah
pokoknya jangan ada Danny Danny lagi, waktu kamu nelpon semalem kesel banget
gue dengernya”
“Yaudah
gak usah bicarain dia lagi kalau gitu”
“Iya
deh hehehe” Fika nyengir kemudian melanjutkan perkataannya
“Ohiya
Nay, kemaren kan papaku udah nyewa vila di puncak untuk penelitian, tapi
ternyata penelitiannya pindah lokasi, sayang dong vila nya batal mending buat
kita aja yuk” Fika terlihat bersemangat
“Liburan
gitu?”
“Iya
Nay, weekend ini, semalem doang kok”
“Berdua?”
“Ya
kali Nay berdua doang, ajak Ka Vano juga sama siapa tuh temen-temennya Ka Vano,
terus aku ngajak Aldo juga hehehe”
“Kedengerannya
asik” Ucap Nayla
“Ya
pasti asik lah Nay, ntar bilangin ke Ka Vano ya”
“Yaudah
okay” Kata Nayla
***
Saat
jam istirahat tiba, seperti biasa Nayla berkumpul Bersama Fika dan Vano, namun
kali ini ada Rio yang bergabung bersama mereka. Fika pun mengajak Vano dan Rio
untuk ikut bersama mereka sesuai dengan rencananya.
“Boleh,
gimana yo?” Kata Vano kemudian melihat kearah Rio
“Kok
nanya sih” Ucap Rio
“Ikut
ya kak” Ajak Nayla
“Yaudah
deh iya” Kata Rio yang membuat Fika, Nayla dan Vano bersorak
“Aku
ngajak Aldo juga kok” Kata Fika
“Itu
sih gak perlu dibilangin udah pasti dia ikut” Kata Vano
“Ntar
kita barbecuean yey asik” Sahut Fika
“Ajak
temen kakak yang lain juga biar rame” Kata Nayla
“Ntar
deh coba ngajak yang lain” Kata Vano
“Perginya
pake mobil Vano kan ya?” Ucap Rio
“Iyalah,
kan mobil kak Vano paling gede” Sambung Nayla
“Mobilku
tumbal lagi nih” Kata Vano yang disambut tawa oleh yang lainnya.
Hari
pun terus berlanjut, sampai akhirnya weekend pun tiba dan mereka mempersiapkan
segala keperluannya. Mereka kumpul dirumah Nayla dan mengecek barang bawaan
mereka.
“Hai,
aku bawa Damar nih” Kata Rio yang baru saja sampai dirumah Nayla
“Hai
Ka Damar” Sapa Nayla dan Fika hamper bersamaan
“Faldi
sama Doni gak ikut?” Tanya Vano
“Mereka
ada urusan, jadi gak bisa ikut” Jawab Damar
“Oh
iya Ka Damar, kenalin ini Aldo” Kata Fika memperkenalkan Aldo
“Oh,
Damar” Ucap Damar sambil menyodorkan tangannya yang disambut segera oleh Aldo
“Aldo,
pacar Fika” Aldo memperkenalkan dirinya
“Pacar
Fika nya gak perlu diperjelas kali Al hahaha” Kata Nayla yang disambung dengan
tawa kecilnya
“Udah
siap kan semua?” Tanya Vano
“Tas
udah masuk semua?” Sambung Rio
“Iya
udah” Jawab Fika dan Nayla hamper bersamaan
“Yaudah
berangkat sekarang yuk” Ajak Vano
“Eh
doa dulu” Kata Damar
“Oh
iya ya yaudah” Ucap Rio sambil menundukkan kepalanya diikuti oleh Vano, Nayla,
Fika, Aldo dan Damar
“Amiiin”
Ucap Rio diikuti oleh yang lainnya
“Ayo”
Ajak Vano sambil berjalan menuju mobilnya begitu pun dengan yan lainnya.
Dalam
perjalanan mereka penuhi dengan candaan dan bernyanyi dengan suara seadanya
diiringi musik yang melantun cukup keras. Seperti biasa, macet agak
memperlambat perjalanan mereka. Mereka menikmati pemandangan kebun teh yang
menyejukkan saat masuk dikawasan puncak. Akhirnya sore hari mereka sampai
ditempat tujuan.
“Segeeer”
Sahut Fika saat keluar dari dalam mobil, sementara itu Aldo, Rio dan Damar
segera mengeluarkan tas dari dalam bagasi mobil. Vano meminta kunci vila pada
penjaganya dan membuka pintu vila tersebut. Vila dengan ukuran sederhana,
bangunannya yang dominasi menggunakan bahan kayu hitam menambah ciri khas
bangunan ini.
“Kamarnya
cuman dua” Kata Fika
“Gak
apa-apa lah, kita cowo tidur di sofa juga gak masalah” Kata Rio
“Ini
mau ditaro dimana?” Tanya Aldo yang sedang membawa dua tas ransel milik Fika
dan Nayla
“Taruh
dikamar yang ini aja Al” Jawab Fika sambil menunjuk salah satu kamar yang
berada di vila itu, Aldo pun memasukkan tas yang dibawanya ke dalam kamar yang
ditunjuk Fika
“Berarti
untuk tas cowo dikamar yang satunya ya” Kata Damar sambil membawa masuk tas
yang dibawanya setelah pintu kamar telah dibuka terlebih dahulu oleh Vano
“Mandi
dulu lah” Ucap Rio sambil berjalan menuju salah satu kamar
“Jangan
lama-lama, ngantri loh kita” Kata Vano
“Iya
ih bawel” Rio mencolek hidung Vano seperti wanita yang menggoda, membuat Nayla
dan Fika tertawa melihat tingkah lucu Rio
“Kak
Rio ternyata suka ngelucu juga ya” Kata Nayla
“Sapa
yang ngelucu, itu asli tau” Kata Rio
“Idih
amit amit, kalau asli beneran tau rasa lu” Ucap Vano
“Astagfirullahalazim”
Ucap Rio sambil berjalan masuk kedalam kamar
“Belum
mau mandi?” Tanya Vano sambil duduk disamping Nayla
“Fika
deluan deh” Jawab Nayla sambil melihat kearah Fika
“Iya
gue dulu, Al udah semua ya barangnya?” Tanya Fika
“Iya
udah kok” Jawab Aldo kemudian Fika pun masuk kedalam kamarnya
“Ka
Rio sama Ka Damar mana?” Tanya Aldo sambil duduk disofa yang tidak jauh dari
Vano
“Ada
didalem lagi mandi” Jawab Vano
“Berdua?”
Tanya Aldo dengan wajah terkejut
“Hahaha
ya gak lah, mungkin mereka gantian” Jawab Vano yang diiringi dengan tawa Nayla
“Oh
kirain hahaha” Ucap Aldo sambil tertawa kecil diakhir ucapannya
“Aku
masuk ya, mau tiduran hehehe” Kata Nayla
“Oh
yaudah, asal jangan ketiduran aja” Kata Vano
“Gak
lah” Nayla kemudian beranjak dari tempatnya menuju kekamarnya. Vano melihat
Nayla hingga masuk kedalam kamarnya.
Vano
dan Aldo kemudian bercerita tentang banyak hal, Vano menawarkan Aldo untuk
mengikuti pemilihan ketua osis tahun ini dan menjelaskan manfaat yang bisa Ia
dapatkan saat menjadi ketua osis. Namun Aldo sepertinya lebih tertarik untuk
fokus pada tim basketnya meskipun Vano telah menjelaskan bahwa menjadi ketua
osis akan lebih menguntungkan bagi tim basketnya karena Ia dapat mengerti
kebutuhan tim basket sekolah sehingga sekolah juga dapat lebih memperhatikan
kebutuhan siswa diluar akademik. Sampai akhirnya jam tangan Vano berbunyi,
seakan-akan sebagai alarm untuk mengingatkannya pada sesuatu. Vano pun mengeluarkan
sesuatu dari dalam sling bag nya,
sebuah botol putih berukuran kecil, Ia mengeluarkan dua pil kemudian dimasukkan
sekaligus kedalam mulutnya yang diiringi dengan meminum air setelahnya, layaknya
orang yang sedang minum obat. Disaat waktu yang bersamaan, Rio keluar dari
dalam kamarnya.
“Ka
Vano sakit?” Tanya Aldo setelah Vano selesai meminum airnya
“Enggak
kok, ini vitamin aja biar gak kecapean” Jawab Vano santai
“Liat
dong Ka” Pintah Aldo namun Rio segera datang menghampiri mereka
“Hey,
cepetan mandi sana udah mau magrib” Rio menepuk pelan pundak Aldo
“Ka
Damar udah?” Tanya Aldo
“Udah
kok, cuman dia lagi tidur tuh” Jawab Rio
“Aku
mau liat…” Aldo tidak dapat melanjutkan perkataanya karena segera dipotong oleh
Rio
“Udah
sana mandi, keburu maghrib” Kata Rio sambil menarik pelan tangan Aldo agar
segera beranjak dari tempatnya. Aldo pun hanya bisa pasrah dan segera beranjak
dari tempatnya tanpa berkata apa-apa lagi. setelah Aldo masuk kedalam kamar,
Rio melihat Vano begitu pun dengan Vano, seakan-akan sedang berbicara melalui
tatapan mereka.
***
Selepas
shalat maghrib, mereka berenam mempersiapkan segala keperluan untuk barbecue pada malam itu. Nayla dan Fika
mengatur dan melengkapi peralatan makan di meja berukuran sedang yang berada
dihalaman belakang vila itu dengan kolam renang dan pemandangan lampu-lampu
yang dapat mereka lihat dengan jelas. Sementara itu Rio dan Aldo bertugas untuk
memanggang bahan yang sebelumnya telah disiapkan oleh Vano dan Damar.
Musik
yang sengaja mereka putar dengan menggunakan sebuah speaker yang mereka bawa
dari rumah Nayla menemani liburan mereka malam itu. Bercanda dan tertawa lepas
bersama, malam itu seakan menjadi milik mereka. Sampai saat makan malam telah
selesai, mereka memutuskan untuk bermain truth
or dare, sebuah permainan yang sebenarnya sangat Nayla hindari. Rio mulai
memutar botolnya, dan yang dapat giliran adalah Fika
“Masa
aku sih” Fika tak terima
“Hayyo
hayyooo” Sahut yang lain bergantian
“Truth laaah” Kata Fika
“Okay,
aku yang nanya. Nayla atau Aldo?” Tanya Vano
“Jahat
ih, itu bukan pilihan lagi” Jawab Fika
“Jawab
aja Fi” Sahut Damar
“Rese
nih Ka Vano, beb kamu selalu dihati aku beb, tapi aku milih Nayla dulu ya”
Jawab Fika sambil memeluk Nayla
“Gak
apapa beb, kalau kamu duain aku sama Nayla sih aku ikhlas, asal jangan sama
yang lain ya, cukup Nayla aja” Kata Aldo yang disambut sorakan dan tawa dari
yang lain.
“Okay
next” Kata Fika sambil memutar botolnya, kali ini giliran Damar yang
mendapatkannya
“Truth” Ucap Damar
“Jujur
ya, siapa orang yang paling lu sayang banget di band kita?” Tanya Rio
“Gue
sayang semuanya lah, sama aja” Jawab Damar
“Gak,
pasti ada satu orang yang lu utamain” Timpal Rio
“Kalau
yang paling gue hargain sih ya, elu Van” Kata Damar
“Kenapa
gue?” Tanya Vano
“Gue
juga gak tahu, lu tuh seakan jantung band kita, kalau kita ada apa-apa selalu
lu kan yang ngurus, ya gak?” Jawab Damar kemudian seakan beratanya pada Rio
“Ah
lu nih, lu mau nikung gue ya nyari perhatiannya Vano?” Ucap Rio memulai
candaannya, hal ini dsambut tawa oleh Nayla, Fika dan Aldo
“Udah
udah apaan sih” Kata Vano masih dengan sisa tawanya. Damar memutar kembali botolnya
dan giliran selanjutnya adalah Vano
“Truth deh” Ucap Vano
“Aku
nanya, selama ini ada gak yang Ka Vano sembunyiin dari aku?” Tanya Nayla sambil
senyum dan mengangkat alisnya, seakan yakin bahwa Vano akan menjawab tidak ada.
Vano melihat kearah Rio yang juga sedang melihat Vano, kemudian Vano
mengalihkan pandangannya dari Rio dan kembali melihat Nayla
“Ada”
Jawab Vano, membuat suasana menjadi hening, senyuman diwajah Nayla perlahan
hilang
“Apa?”
Tanya Nayla
“Hahaha
bukan apa-apa kok, nanti kamu juga tahu kalau udah waktunya, sayangnya sekarang
belum dulu” Kata Vano dengan tawa kecilnya, Nayla sama sekali tidak tertawa.
Vano segera memutar kembali botolnya mengalihkan perhatian Nayla dan kepala
botol itu mengarah pada Rio
“Gue
pilih dare” Ucap Rio disambut sorakan
yang lain
“Beneran
ya?” Tanya Vano meyakinkan
“Iya”
Jawab Rio yakin
“Ka
Rio kirim sms sekarang ke Pak Indra bilang ‘Hai pak, udah makan?’ gitu” Kata
Aldo yang disambut tawa oleh Fika, Nayla, Vano dan Damar
“Pak
Indra? Pak Indra wali kelas kita?” Tanya Rio
“Hahaha
iya” Jawab Vano masih dengan sisa tawanya
“Mending
gue sms kepsek deh, serius” Kata Rio
“Hahaha
gak ada kak, harus Pak Indra” Tegas Aldo
“Tapi
lu tau sendiri kan Pak Indra gimana” Rio memelas
“Gak
ada tapi tapi, lu pilih dare ya tadi”
Kata Damar
“Sini
hp lu” Pintah Vano dan Rio pun pasrah memberikan ponselnya pada Vano. Vano
terlihat mengetik sesuatu diponsel milik Rio sementara Damar dan Aldo mendekat
pada Vano, Nayla dan Fika tak dapat menahan tawa mereka
“Send” Ucap Vano setelah itu
mengembalikan ponsel milik Rio, tidak lama kemudian saat Rio hendak memutar
botolnya, ponselnya berdering, Ia membuka sebuah pesan masuk. Matanya membesar,
Ia kemudian melihat kearah Vano, Aldo dan Damar. Vano mengambil ponsel dari
tangan Rio dan melihat pesan yang masuk Bersama dengan Aldo dan Damar.
“Belum
nih, kenapa? Rio mau ngajak bapak makan ya? Ayo” Ucap Vano membaca pesan yang
berada di layar ponsel milik Rio, seketika suasana menjadi ramai tawa kembali
“Ada
tanda smile nya lagi” Kata Aldo masih
dengan sisa tawanya
“Liat
dong” Ucap Fika sambil mengambil ponsel milik Rio dari tangan Vano kemudian
Fika melihatnya Bersama Nayla. Tawa mereka pun kembali lepas
“Tanggung
jawab kalian bertiga” Rio berdiri seakan-akan siap menyerang Vano, Aldo dan
Damar
“Apaan
sih gak ada, siniin hp nya Fi, kita bales pesannya Pak Indra” Pinta Damar,
sementara Aldo yang saat itu berada didekat Fika segera mengambil ponsel milik
Rio sebelum Rio mengambilnya. Vano, Aldo dan Damar berlari menghindari Rio yang
akan merebut kembali ponselnya. Mereka berempat berlarian di sekitar halaman
belakang vila saat itu sementara Nayla dan Fika tidak berhenti tertawa, mereka
berdua mengabadikan momen itu dengan foto dan video. Malam yang sangat
menyenangkan bahkan menjadi salah satu liburan terindah bagi mereka. Bahkan
membuat Nayla mengetahui satu hal bahwa Rio bukannya cowok dingin dan jutek
seperti pikirannya bahkan leluconnya selalu dapat membuat Nayla tertawa.
Keesokkan
harinya, saat matahari mulai menampakkan cahayanya, pagi itu mereka berenang di
kolam renang yang berada di belakang vila, tempat mereka semalam untuk barbecue dan bermain. Aldo mulai
terlihat akrab dengan Damar, Rio terlihat membaca buku sambil bersantai disisi
Timur kolam, Ia orang pertama yang berenang sebelum Aldo dan Damar. Rio mengisi
waktu istirahatnya dengan membaca, seakan tidak ingin ada waktu kosong yang
disia-siakan begitu saja. Fika hanya duduk dipinggir kolam renang melihat Aldo
dan Damar yang terus melakukan lomba renang seakan sedang berada di kejuaraan
nasional. Vano dan Nayla duduk tidak jauh dari kolam renang.
“Kak,
aku boleh nanya gak?” Tanya Nayla ditengah-tengah perbincangan mereka
“Nanya
apa?” Sebenarnya Vano sudah bisa menebak pertanyaan Nayla
“Kenapa
kaka nyembunyiin sesuatu dari aku?” Pertanyaan Nayla membuat Vano terdiam
sejenak
“Nanti
akan aku beritahu semuanya, tapi belum sekarang” Jawab Vano
“Kok?”
“Udah
kamu tenang aja, semuanya baik-baik aja kok, kamu percaya kan sama aku” Vano
meyakinkan Nayla
“Yaudah
deh iya, gak apapa kalau Kak Vano belum mo kasih tahu sekarang, aku percaya kok
sama Ka Vano” Kata Nayla kemudian tersenyum diakhir perkataannya, Ia memang
sangat mempercayai Vano, mengenal Vano dalam hidupnya merupakan anugerah
baginya.
“Renang
yuk” Ajak Vano
“Aku
kan gak tahu berenang Kak Vano” Kata Nayla
“Belajar”
Ucap Vano sambil berdiri, Ia berlari-lari ditempat melakukan pemanasan, Ia pun
siap untuk berenang, namun saat Ia mulai berlari pandangannya kabur dan
telinganya berdenging membuatnya terduduk lemah.
“Ka
Vano” Ucap Nayla sedikit berteriak saat melihat Vano terduduk lemah, Ia segera
beranjak dari tempatnya berlari kecil kearah Vano. Rio yang mendengar suara
Nayla segera belari kearah mereka berdua. Sementara Fika, Aldo dan Damar hanya
terdiam kaget melihat Vano.
“Van,
kenapa?” Tanya Rio khawatir
“Ka
Vano gak apa-apa?” Tanya Nayla yang juga khawatir. Vano tidak menjawab, Ia
berusaha menstabilkan keadaannya
“Gak
apa-apa kok, tadi pusing aja dikit” Jawab Vano ketika merasa lebih baik. Fika,
Aldo dan Damar segera menghampiri Vano
“Yakin
kak? Gak biasanya Ka Vano begini” Kata Nayla
“Iya
mungkin karena keseringan begadang kali, maklum lah” Ucap Vano
“Kak
Vano udah minum vitaminnya?” Tanya Aldo yang membuat Rio melihat kearahnya
“Vitamin?”
Tanya Nayla tak mengerti
“Iya
vitamin, katanya biar gak kecapean” Jawab Aldo
“Yaudah,
aku ambilin vitaminnya ya kak, kaka simpen dimana?” Tanya Nayla sambil hendak
beranjak
“Biar
aku aja Nay, kamu nemenin Vano aja” Kata Rio, yang hanya dibalas anggukan oleh
Nayla.
“Udah
lanjutin renangnya, gue gak apa-apa kok, cuman pusing dikit tadi” Kata Vano
“Lu
nakutin gue ah, kirain lu mo pingsan tadi” Kata Damar
“Iya
nih Ka Vano” Sambung Fika
“Lanjut
lanjut, gue nyusul mo renang juga abis ini” Kata Vano, kemudian Fika, Aldo dan
Damar pun kembali ketempat mereka semula
“Kaka
yakin gak apa-apa?” Tanya Nayla
“Gak
apa-apa Nay, tenang aja, akhir-akhir ini emang kadang kayak gitu” Jawab Vano
“Udah
periksa kedokter?”
“Udah
kok, anemia katanya, keseringan begadang, tapi udah gak apa-apa kok”
“Yaudah”
Nayla duduk kembali menemani Vano, sementara itu dari balik jendela, Rio
memperhatikan mereka.
Waktu
pun terus berjalan, selesai berenang mereka bersiap-siap untuk pulang. Setelah
semuanya siap, mereka keluar dari dalam vila dan Fika memberikan kunci pada
penjaga vila tersebut.
“Pulang
biar gue yang nyetir” Kata Rio pada Vano saat hendak masuk kedalam mobil
“Yakin?
Bukannya lu paling males sama tikungan-tikungan jalan?” Tanya Vano
“Udah
enggak” Jawab Rio kemudian masuk kedalam mobil, bersiap untuk mengemudi.
Setelah semuanya telah masuk kedalam mobil, Rio pun mulai menjalankan mobilnya
menuju kerumah Nayla, tempat awal mereka berkumpul.
Diperjalanan
pulang, mereka tetap masih dengan sisa liburan yang menyenangkan, bercanda dan
bernyanyi bersama hingga satu per satu diantara mereka tertidur disepanjang
perjalanan.
***
PROM NIGHT
Siang
itu merupakan jam pulang sekolah, didalam ruangan osis Vano sedang sibuk
mencari sesuatu sampai akhirnya Nayla datang menyapanya
“Hei
Kak” Sapa Nayla
“Hei
Nay” Balas Vano”
“Lagi
ngapain sih?” Tanya Nayla sambil duduk disalah satu kursi yang berada tidak
jauh dari Vano
“Nyari
note” Jawab Vano
“Note
kaka yang biru kecil itu?”
“Iya
yang sering aku bawa kemana-mana”
“Oh..
eh senin depan Kak Vano domisioner ya kan?”
“Iya,
tapi tiga bulan lagi UN”
“Seminggu
abis UN, ada prom kan?”
“Iya”
“Udah
kepikiran belum Kak Vano pake kemeja warna apa?”
“Belum
lah, masih lama juga”
“Aku
kan mo jait baju, biar kita samaan gitu hehehe”
“Kamu
pergi?” Vano mengalihkan pandangannya pada Nayla
“Iyalah”
“Bukannya
perwakilan kelas ketua ama sekertaris aja ya?”
“Sekertaris
aku gak bisa, yah aku lah yang gantiin”
“Terus
Fika?”
“Fika
kan nanti mo nari jadi pengisi acara”
“Oh
iya yah” Vano kembali mencari notenya dengan mengangkat kertas-kertas yang
terdapat di rak
“Aku
ntar pilih warna bajunya, kemeja Ka Vano ngikut yah”
“Serah
kamu deh, lagian belum tentu aku dapet kok prom nya”
“Ha?
Maksudnya?” Tanya Nayla heran kemudian Vano terhenti melakukan aktivitasnya
seakan teringat sesuatu
“Em..
kamu kan tahu, aku rencananya mau masuk univ yang di Bandung jadi yah mungkin
aja pas prom aku berangkat gitu” Jawab Vano mencoba santai
“Gak
asik ih, masa orang prom Ka Vano gak ikut”
“Kan
aku bilang ‘kalau’ belum pasti kok, gak ada yang pasti”
“Yaudah,
eh note kaka belum ketemu juga?”
“Belum
nih, dimana ya tadi?” Kata Vano seakan bertanya pada dirinya sendiri
“Dalem
tas?”
“Gak
ada Nay tadi aku udah liat disitu”
“Masa
sih” Nayla mengambil tas milik Vano yang berada didekatnya dan mengeluarkan
semua isi tas tersebut. Ia sedikit terkejut melihat sebuah amplop dengan logo
sebuah rumah sakit didepannya
“RS
Kencana, kaka dari rumah sakit ya?” Tanya Nayla sambil hendak mengambil amplop
itu namun Vano dengan cepat mengambil amplop yang dimaksud Nayla sebelum Nayla
menyentuhnya
“Iya
nih, itu yang waktu di puncak kemaren, dari hasilnya sih katanya anemia, udah
ada obat juga kok” Jelas Vano melipat amplop itu dan dimasukkan kedalam saku
celananya
“Oh
gitu” Ucap Nayla tanpa curiga kemudian Ia melihat note yang Vano cari terselip
dibuku-buku pelajaran milik Vano yang sebelumnya berada didalam tas
“Ini
dia” Ucap Nayla sambil mengambil note itu dan memperlihatkannya pada Vano
“Tadi
gak ada loh” Kata Vano
***
Tiga
Bulan Kemudian
Ujian
Nasional telah selesai, panitia pelaksana acara prom night disibukkan dengan persiapan sebelum hari H. Hari itu Nayla
menemani Vano untuk mencari kemeja yang akan dikenakan saat acara Prom Night.
“Warna
bajunya apa sih?” Tanya Vano sambil melihat Nayla yang sibuk memilih kemeja
disebuah boutique yang berada didalam
mall
“Tenang
aja kak, warna gak pasaran kok” Jawab Nayla
“Oh
ya kak, malam prom nanti band kakak
tampil kan?” Lanjut Nayla
“Iya,
buat ngisi acara katanya” Jawab Vano
“Bagus
dong” Kata Nayla kemudian mengambil salah satu kemeja yang berada dihadapannya
“Cobain
deh” Kata Nayla sambil memeberikan kemeja itu kepada Vano, kemeja dengan warna coklat
nude
“Ini?
Bagus juga” Ucap Vano
“Iya
dong, yaudah sana coba” Kata Nayla sambil mendorong pelan pundak Vano.
Setelah
selesai membeli sebuah kemeja, Vano dan Nayla keluar dari dalam boutique tersebut. Vano menghentikan
langkahnya saat mereka berdua berjalan menuju tempat parkir, telinganya kembali
berdering dan pandangannya tidak stabil. Ia mencoba tenang agar Nayla tidak
mengkhawatirkan dirinya
“Ka
Vano kenapa?” Tanya Nayla sambil memegang lengan Vano
“Gak,
gak apa-apa kok” Jawab Vano meyakinkan setelah beberapa saat terdiam
“Yuk,
balik” Ajak Vano
“Yakin?”
Tanya Nayla
“Iya,
ayo” Jawab Vano. Mereka berdua pun berjalan meninggalkan tempat itu.
Malam
yang ditunggu-tunggu oleh sebagian besar siswa kelas dua belas pun tiba. Vano datang
bersama dengan Nayla sementara Fika yang menjadi bagian dari kelompok menari
untuk mengisi acara pembukaan sudah berada di lokasi sejak sore hari. Rio datang
bersama Aldo, sementara Damar dan teman band Vano datang bersama.
Acara
prom night dibuka dengan tarian tradisional
yaitu Tari Yapong dari Fika bersama lima orang lainnya kemudian dilanjutkan
dengan sambutan-sambutan dari Kepala Sekolah dan perwakilan kelas dua belas.
Acara lainnya dilengkapi dengan penampilan band dari Vano yang melantunkan lagu
Sahabat Kecil dari Blackout dan Sebuah Kisah Klasih dari Sheila On7. Selain
itu, mereka menghadirkan bintang tamu yaitu seorang pianis yang membawa malam
itu menjadi bernuansa klasik dan sampailah pada pembacaan king dan queen prom yang
diplih melalui hasil voting oleh
seluruh siswa kelas dua belas. Rio menjadi salah satu kandidatnya.
“Tebak
siapa yang bakal jadi queen nya?” Tanya Fika sedikit berbisik pada Nayla
“Em..
Kak Moni deh kayaknya. Secara, dia kan model dan cantik juga jadi pasti banyak
yang pilih” Jawab Nayla sambil berpikir.
“Selera
lu tinggi amat, Kak Vanya lebih cocok jadi queen
nya. Dia itu cantik tapi tetap sederhana” Kata Fika
“Iya
sih” Ucap Nayla kemudian mereka pun kembali mengalihkan pandangannya kearah
panggung depan untuk melihat king dan queen prom. Dan betapa terkejutnya
mereka ketika mengetahui Rio menjadi king
prom pada malam itu, sementara queen
nya adalah Citra, salah satu siswi yang cantik dan berprestasi dibidang seni
lukis. Nayla dan Fika hanya bisa saling memandang dan tertawa kecil karena
tebakan mereka berdua tidak tepat. Akhirnya acara malam itu ditutup dengan
pemutaran film pendek yang merupakan kumpulan dari aktifitas sekolah selama
tiga bulan terakhir yang melibatkan seluruh siswa kelas dua belas. Tawa dan
tangis mereka bersatu malam itu, melihat kejadian lucu dan sedih selama masa
sekolah. Begitu pun dengan Rio dan Vano, juga Damar, Faldi dan Doni. Momen
malam itu mereka abadikan dengan berfoto dan bergaya disetiap jepretan fotonya.
***
DETIK
TERAKHIR
Beberapa
minggu telah berlalu, samapilah pada pengumuman kelulusan siswa kelas dua belas
termasuk Rio dan Vano. Sementara itu Nayla menunggu kabar mereka dengan
harap-harap cemas, meskipun Ia yakin Vano maupun Rio bisa lulus. Sore itu
seluruh siswa kelas duabelas berkumpul ditengah lapangan sekolah mendengarkan
arahan dari guru. Saat pengumuman mengatakan bahwa angkatan mereka saat itu
dapat lulus 100%, sontak semuanya berteriak, ada yang menangis, tertawa dan
banyak diantaranya yang sujud syukur. Nayla, Fika dan Aldo yang juga menunggu
pengumuman didepan kelasnya saling berpelukan mendengar bahwa mereka dapat
lulus 100%, itu menandakan bahwa Rio, Vano maupun temannya yang lain juga telah
lulus SMA.
Nayla
melihat keseluruh siswa kelas dua belas yang baru saja lulus, mencari wajah seseorang
yang diharapkannya segera Ia temukan kemudian Vano, Rio, Damar, Faldi dan Doni
terlihat keluar dari dalam kerumunan siswa-siswa lain dengan sedikit berlari.
Nayla yang melihat itu segera lari kearah Vano yang juga melihat kearahnya.
Vano membuka tangannya seakan-akan telah mengetahui bahwa Nayla akan
memeluknya. Nayla memeluk Vano, kali ini agak erat, tanpa sadar Nayla
menjatuhkan air matanya.
“Hey”
Vano perlahan melapaskan pelukannya dan melihat Nayla yang sedang menangis
“Kok?”
Ucap Vano sambil menghapus air mata dipipi Nayla
“Kakak
udah lulus yah, udah gak bisa pergi bareng lagi dong” Kata Nayla masih dengan
sisa tangisnya
“Apaan
sih, ntar dianterin deh kesekolahnya” Kata Vano
“Terus
gak ada yang bisa aku gangguin lagi dong di sekolah”
“Kamu
bisa gangguin aku dirumah kalau gitu”
“Yang
jagain aku disekolah siapa?”
“Ntar
kutitipin deh kepenjaga sekolah”
“Kak
Vanoo” Ucap Nayla sambil memeluk Vano kembali.
“Peluk
juga dong” Ucap Rio yang juga ikut memeluk Vano dari belakang
“Ikutan”
Fika ikut memeluk Nayla dari belakang yang disusul oleh Aldo juga Damar
sementara Faldi dibelakang Rio. Mereka berpelukan seakan-akan tidak bertemu
kembali. Doni mengambil gambar mereka dengan kameranya, ternyata Ia sudah
memotret bahkan saat Nayla berlari kearah Vano.
Beberapa
saat kemudian, pandangan Vano kabur, telinganya mulai berdenging namun kali ini
berbeda dengan sebelumnya, tubuhnya melemas, Vano pingsan. Nayla semakin panik
sementara Rio yang sudah memeluk Vano membaringkannya dan membiarkan kepala
Vano berada dipahanya. Nayla bingung, Ia tidak tahu ada apa dengan Vano, Ia
terus menyebut-nyebut nama Vano berharap Vano akan terbangun. Siswa lain yang
berada disekitar mereka berkumpul untuk mengetahui apa yang terjadi. Damar
segera mengambil mobilnya dan membawanya kelapangan sekolah tempat Vano berada
untuk segera dibawa kerumah sakit. Rio dan Aldo mengangkat Vano kedalam mobil
diikuti dengan Nayla yang segera naik kedalam mobil. Rio memberikan kunci mobil
milik Vano pada Aldo agar mereka menyusul menggunakan mobil milik Vano.
Kejadiannya begitu cepat terjadi, Aldo, Fika, Faldi dan Doni segera menuju
tempat parkir untuk kemudian menyusul mobil Damar yang belum jauh berjalan.
Nayla
menelpon Lisa, kakak Vano yang sedang berada dikampusnya. Nayla tidak berani
menelepon mama Vano karena takut membuat mamanya panik, seperti dirinya.
Sesampainya dirumah sakit, Vano segera dimasukkan keruang Unit Gawat Darurat.
Nayla, Fika, Aldo, Rio, Damar, Faldi dan Doni menunggu diluar ruangan. Nayla
bingung, panik, takut, sedih bercampur dalam benaknya. Ia tidak tahu harus
berbuat apa, Ia duduk diam menunggu kabar dan menunggu seserorang dapat
menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, Ia melihat Rio yang juga duduk terdiam
didepannya seakan sedang memikirkan sesuatu. Damar berjalan bolak balik tidak
tenang, Fika merangkul Nayla untuk dapat membuatnya lebih nyaman. Semua orang
menunggu, menunggu kejelasan tentang keadaan Vano yang sebenarnya.
***
Tiga
hari berlalu, Vano masih terbaring dirumah sakit, keadaannya belum menunjukkan
kemajuan. Nayla setiap hari datang menjenguknya, berharap disetiap Ia datang,
Vano dapat membuka matanya. Sampai akhirnya Ia memutuskan untuk bertanya pada
Lisa mengenai keadaan Vano yang sebenarnya.
“Kak
Lisa” Sapa Nayla sambil duduk disamping Lisa
“Hai
Nay” Balas Lisa
“Ka
Vano kenapa sih kak?” Tanya Nayla
“Dia
sakit Nay” Jawab Lisa
“Iya,
sakit apa kak?”
“Vano
pernah bilang sesuatu soal sakitnya?”
“Ka
Vano cuman pernah bilang kalau dia kena anemia” Perkataan Nayla membuat Lisa
menghela napas. Lisa pun menceritakan keadaan Vano pada Nayla setelah beberapa
saat sempat terdiam.
***
Nayla
berjalan dengan cepat, mencari keberadaan Rio, Ia menanyakan Rio pada Damar
yang tadi pergi bersama, Rio berada ditaman rumah sakit. Dengan air mata yang
mengalir dipipinya, Nayla terus berjalan dengan amarah yang terlihat jelas
diwajahnya. Ia mengingat lagi obrolannya dengan Lisa.
Beberapa saat yang lalu
“Nay,
dengerin kakak, apapun yang akan terjadi sama Vano, kita semua harus terima”
Kata Lisa menatap Nayla
“Maksud
kaka?” Tanya Nayla tak mengerti
“Nay, sejak kecil, Vano di diagnosis mengalami
“Nay, sejak kecil, Vano di diagnosis mengalami leukimia
mielositik kronis. Kata dokter penyakit ini terjadi sekitar 15 sampai 20
persen saja pada anak" Jawab Lisa
“Tapi
kenapa aku gak pernah sadar kak? Aku banyak ngabisin waktu sama Ka Vano, tapi
aku gak tahu kalau ternyata Ka Vano sakit”
“Kamu
pernah liat dia tiba-tiba diam disaat kalian ngobrol?”
“Sering”
“Saat
itu berarti dia lagi kesakitan, tapi sekalipun dia gak pernah mau nunjukin ke
orang-orang kalau dia lagi sakit. Ke orang rumah juga gitu. Kalau dirumah
biasanya dia langsung masuk kamar dan gak keluar-keluar”
“Kenapa
Ka Vano gak pernah cerita sih kak? Apa Ka Vano gak nganggap aku sebagai sahabat
dia?”
“Kamu
jangan berpikiran gitu Nay, dia hanya gak mau menyusahkan orang-orang disekitarnya.
Pikiran dia, kalau orang-orang tahu dia sakit, pasti semua orang akan kasihan
sama dia dan memperlakukan dia dengan berbeda. Dia gak mau kayak begitu Nay”
“Ka
Vano berpikir begitu?
“Iya,
satu-satunya orang yang tahu Vano sakit selain keluarga ya Rio”
“Rio?
Kak Rio?”
“Iya
Rio, itupun dia tahu tanpa sengaja. Papa Rio dokter, dan kebetulan dokter yang
menangani Vano ya papanya Rio. Kaka gak tahu gimana Vano minta ke Rio untuk
menyembunyikan ini selama bertahun-tahun. Rio dan Vano bukan kenal saat mereka
masuk SMA, tapi saat Vano didagnosis mengidap penyakit itu” Jelas Lisa
“Vano
itu adikku, tapi aku merasa kalau dia lebih dewasa dibanding aku” Lanjutnya.
***
Nayla
menghampiri Rio yang sedang duduk menatap kosong kearah depan. Saat Rio
menyadari Nayla berjalan kearahnya, Ia segera berdiri dari duduknya dan melihat
kearah Nayla yang perlahan berjalan mendekatinya. Plak! Sebuah tamparan dari
Nayla melayang dipipi Rio.
“Pinter
banget ya acting, kenapa gak ikut casting aja biar jadi aktor sekalian”
Kata Nayla dengan nada yang tinggi. Sementara Rio hanya diam sambil menatapnya
“Jago
ya nyembunyiin ini selama bertahun-tahun, belajar dimana?” Sambung Nayla masih
dengan amarahnya
“Tega
banget sih” Nayla mulai mengeluarkan air mata
“Nay..”
Ucap Rio, Ia bingung harus berbuat apa
“Selama
ini aku kayak orang bego, Ka Vano aku sakit dan aku sama sekali gak tahu” Nayla
terisak
“Nay,
tenang Nay” Ucap Rio sambil memegang pelan lengan Nayla namun segera Nayla
menepisnya
“Ka
Rio jahat! serius aku gak bisa percaya ini” Nayla masih dengan tangisnya
“Nay
jangan kayak gini Nay” Kata Rio sambil memegang kedua lengan Nayla
“Gak!
Lepasin kak, kaka jahat” Nayla mulai memberontak namun segera Rio memeluknya.
“Gimana
kalau ada apa-apa sama Ka Vano” Nayla terisak dalam pelukan Rio
“Gak
akan terjadi apa-apa sama Vano” Kata Rio menenangkan Nayla sementara Nayla
terus menangis, Ia melampiaskan segala amarah, kebingungan, ketakutan dan
kesedihannya yang Ia tahan saat mengetahui bahwa Vano ternyata mengidap suatu
penyakit mematikan.
***
Vano
terbaring disebuah ruangan lengkap dengan bantuan alat pernapasan. Ia terlihat
menggerakkan tangannya seiring dengan datangnya suster yang rutin untuk mengecek
perkembangan kondisi Vano. Suster yang melihat Vano mulai membuka matanya,
segera memanggil dokter.
“Dok,
pasien atas nama Devano mulai sadar” Ucap suster itu dengan sedikit meninggikan
suaranya sambil berlari kecil kearah seorang dokter yang berada tidak jauh dari
ruangan Vano. Sementara itu Lisa, Mama Vano, Damar, Faldi dan Doni yang sedang
duduk diluar ruangan segera berdiri dari duduknya berharap kabar baik dari
kondisi Vano. Dokter dan suster itu segera masuk kedalam ruangan memeriksa
keadaan Vano. Lisa segera menghubungi papanya sementara Damar segera mengambil
ponselnya dan menghubungi Rio.
Ditempat lain dalam waktu yang bersamaan
Rio
memberikan sebuah botol air minum untuk Nayla yang berada disampingnya. Nayla mulai
menenangkan pikirannya, sementara Rio terus mencoba untuk membuat Nayla
senyaman mungkin. Ponsel milik Rio berdering, menandakan ada panggilan masuk.
Rio pun mengangkatnya, telepon dari Damar yang memberitahukan bahwa Vano sudah
membuka matanya.
“Nay,
Vano udah sadar. Ke ruangan yuk” Kata Rio kemudian mereka berdua pun segera
berjalan dengan cepat. Saat dikoridor mereka bertemu dengan Fika dan Aldo yang
baru saja datang
“Nay,
Kak Rio” Panggil Fika kemudian berlari kecil mencoba menyamakan langkah kakinya
dengan Nayla dan Rio
“Ka
Vano udah mulai sadar” Kata Nayla sambil terus berjalan
“Alhamdulillah”
Ucap Fika dan Aldo hamper bersamaan.
Sesampainya
didepan ruangan, Nayla melihat Damar, Faldi dan Doni duduk didepan ruangan
Vano. Nayla berjalan mendekati jendela ruangan untuk melihat apa yang terjadi
didalam ruangan, dilihatnya Lisa dan mamanya sedang berbicara dengan Vano.
Senyuman mulai terlihat diwajah Nayla.
“Masuk
Nay” Kata Rio sambil membuka pintu ruangan dan Nayla pun berjalan masuk diikuti
Rio dibelakangnya
“Sini
Nay” Panggil Lisa memberikan tempat duduk pada Nayla
“Mah,
kita keluar dulu yuk” Ajak Lisa kemudian pada mamanya
“Eh
ada Nayla, yaudah mama keluar dulu ya Van” Kata Mama Vano sambil mulai beranjak
Lisa
dan mamanya berjalan keluar ruangan, sementara Nayla juga berjalan pelan hingga
duduk didekat Vano begitupun dengan Rio dibelakangnya
“Kak,
sakit ya?” Kata Nayla sambil menggenggam tangan Vano
“Gak
kok” Vano tersenyum
“Kok
tega sih” Nayla tak bisa menahan air matanya yang tiba-tiba saja keluar tanpa
disadari
“Hei,
sejak kapan Naylaku cengeng” Kata Vano pelan
“Kak
Vano akan baik-baik aja kan? Udah gak sakit lagi sekarang ya” Nayla menghapus
air matanya
“Sakitnya
ilang pas liat kamu” Kata Vano kemudian melihat Rio
“Yo,
thanks ya” Lanjut Vano
“Apaan
sih, jangan manja deh” Ucap Rio mencoba mencairkan suasana, Vano pun tertawa
kecil
“Baik-baik
yah Nay, jaga diri, percaya aja sama Rio, dia baik” Kata Vano membuat Nayla
semakin mengeratkan genggamannya
“Iya,
Kak Vano cepet sembuh dong” Nayla menahan air matanya
“Udah
sembuh kok, kaka sayang sama Nayla” Kata Vano sambil mengelus pelan kepala
Nayla
“Iya
Nayla juga” Ucap Nayla yang terus menatap Vano yang semakin lemah
“Yo,
makasih ya” Ucap Vano dengan suara yang semakin mengecil
“Lu
temen terbaik gue Van” Kata Rio menahan air matanya. Vano tersenyum melihat
Nayla dan Rio
“Gue
ngantuk” Vano mulai merasakan sakit yang amat dalam, namun tak ingin Ia
tunjukkan pada Nayla dan Rio
“Kakak
mo istirahat ya? Aku sama Ka Rio keluar ya” Kata Nayla pada Vano yang terus
tersenyum kearahnya hingga akhirnya matanya tertutup secara perlahan, genggaman
tangannya pada tangan Nayla mulai lepas
“Van?”
Panggil Rio
“Ka
Vano? Kakak udah tidur ya?” Sambung Nayla sampai akhirnya alat pernapasan Vano
mulai berbunyi menandakan Vano sudah tidak bernapas lagi. Rio segera membawa
Nayla yang mulai histeris
“Enggak,
alatnya rusak” Teriak Nayla dengan air mata yang mulai membanjiri pipinya
“Nay”
Rio terus mencoba membawa Nayla hingga keluar ruangan, bergantian dengan dokter
dan beberapa suster yang masuk kedalam ruangan itu
Fika
yang melihat kondisi Nayla tak dapat berkata apa-apa dan mulai mengerti dengan
apa yang terjadi. Aldo segera merangkul Fika mencoba menenangkan Fika agar
tidak histeris seperti Nayla
“Ka
Vano” Teriak Nayla dengan air mata yang terus mengalir Rio hanya bisa memeluk
Nayla meskipun Ia juga sama terpukulnya, air mata Rio juga tumpah saat itu
Lisa
yang juga banjir air mata merangkul mamanya yang saat itu terlihat mencoba
ikhlas dengan kepergian Vano. Seakan-akan kejadian ini telah mereka persiapkan
sejak lama. Dokter keluar dari dalam ruangan dan mengucapkan belasungkawa atas
meninggalnya Vano. Mendengar perkataan dokter Nayla semakin lemah hingga tidak
dapat berdiri, Ia terduduk lemah sementara Rio terus mencoba untuk
menenangkannya
“Enggak..
enggak.. tadi Ka Vano bilang dia ngantuk, dia cuman mau tidur sebentar kok”
Kata Nayla terisak sementara Fika tidak mampu menahan tangisnya dan semakin
sedih melihat Nayla
“Nay,
jangan gini Nay.. Vano udah tenang, dia udah gak sakit lagi” Kata Rio masih
memeluk Nayla
“Siapa
yang jagain aku kak, yang antar jemput aku kesekolah, yang lindungin aku dari
cowok kayak Danny, yang nemenin aku ke pameran tiap tahun, yang ngehibur aku,
yang selalu sabar, yang.. yang..” Nayla tak dapat melanjutkan kata-katanya, Ia
terus terisak dalam pelukan Rio
“Nay,
ikhlas” Ucap Rio yang mencoba kuat meskipun air mata yang terus mengalir tak
dapat ditahannya. Nayla menangis sejadi-jadinya, apalagi saat Ia melihat mayat
Vano mulai ditutup dan dibawa keluar ruangan lalu lewat dihadapannya. Tubuh
Vano yang saat itu sudah dingin, pucat dan tak bernyawa membuat Rio tak sanggup
melihatnya sehingga Ia memalingkan wajahnya saat mayat Vano dibawa keluar oleh
suster. Nayla, Rio dan semua orang yang ada saat itu tak ada yang menyangka bahwa
saat itu merupakan detik terakhir mereka melihat Vano.
***
RAHASIA HATI
Proses
pemakaman Vano telah selesai, menyisakan tangis dari orang-orang yang
menyayanginya. Papa Vano merupakan orang yang paling histeris diantara keluarga
besar Vano yang lainnya, itu karena Ia tidak menyaksikan detik-detik terakhir
Vano. Sementara itu, Nayla sudah mencoba ikhlas dengan kepergian Vano, Ia mulai
menenangkan pikirannya sendiri, begitu pun dengan Rio.
Nayla
masuk kedalam kamar Vano, melihat-lihat foto yang terpajang rapi diatas
mejanya. Fotonya bersama Vano saat masih kecil hingga SMA. Nayla tersenyum
melihat foto itu seakan membawanya kembali pada kenangan-kenangan indah yang Ia
lalui bersama Vano.
Rio
melihat Nayla yang tersenyum melihat fotonya bersama Vano kemudian masuk
kedalam kamar Vano menghampiri Nayla yang sedang duduk dikursi depan meja
belajar Vano, pintu kamar Ia biarkan terbuka.
“Nay”
Sapa Rio
“Ka
Rio” Nayla tersenyum
“Mau
tahu rahasia besar gak?” Tanya Rio
“Rahasia?”
Nayla tak mengerti
“Iya
rahasia, kamu bakal gak nyangka” Kata Rio sambil memberikan sebuah buku
berukuran sedang dan Ia berikan pada Nayla. Nayla melihat sampul buku itu yang
bertuliskan ‘Remember When’
“Jangan
dibuka dulu, ntar deh dirumah kamu, lebih asik baca liat sendiri” Kata Rio saat
Nayla hendak membuka buku itu
“Ini
apa kak?” Tanya Nayla
“Ntar
juga bakalan tahu, jaga baik-baik ya, itu dari Vano” Jawab Rio, membuat Nayla
menghela napas panjang
“Sekarang
aku tahu, waktu kita main truth or dare,
hal yang disembunyiin sama Ka Vano ternyata penyakitnya” Kata Nayla
“Kamu
tahu kenapa dia gak mau orang tahu penyakitnya?”
“Karna
dia gak mau nyusahin orang kan?”
“Bukan
cuman itu, dia mau semua orang perlakukan dia dengan semestinya, apa adanya ke
dia, kebayang gak kalau kamu sama yang lain tahu dia sakit? Kalian pasti coba
buat dia selalu senang, kalian gak akan bisa marah kalau dia buat salah, kalian
akan ikut semua mau dia, karna kalian tahu umur dia gak akan lama” Jelas Rio
“Itu
udah dia lihat sendiri di keluarganya, dari kecil dia selalu dimanjain dan dia
gak mau itu terjadi juga disekolah. Dia gak mau orang baik ke dia hanya karna
tahu kalau dia udah mau mati. Apalagi kamu” Tambah Rio
“Aku?”
Tanya Nayla
“Iya
kamu, katanya dia suka banget kalau kamu udah manja-manja ke dia, minta ini
itu, hal yang gak akan pernah dia dapetin dirumah atau dari siapapun. Dia
seneng kamu bergantung ke dia, itu buat dia jadi merasa berguna. Dia gak
bayangin kalau kamu tahu dia sakit, mungkin kamu gak akan sebergantung itu sama
dia. Dia jadi ketua osis, ikut kegiatan sana-sini, semuanya dia lakuin untuk
dapat lebih nikmatin hidupnya yang dia tahu itu singkat” Jawab Rio
“Ka
Vano” Ucap Nayla pelan
“Dia
tuh suka sebel lagi, kalau liat orang yang banyak nyia-nyiain waktu untuk hal
yang gak berguna hanya karna orang itu tahu bahwa dia belum mo mati. Beda sama
Vano, tiap hari dia pasti bersyukur masih bisa bernapas, masih bisa ketemu kamu,
masih bisa ngelakuin hal berguna buat orang lain. Salut gue” Jelas Rio, Nayla
menunduk
“Yaudah,
keluar yuk, gabung sama yang lain” Ajak Rio dan Nayla pun hanya mengangguk
pelan dan berjalan keluar kamar Vano sambil membawa buku yang diberikan Rio dan
sebuah foto masa kecilnya bersama Vano.
***
Malam
itu Nayla duduk bersandar diatas tempat tidurnya, ditangannya ada buku yang
diberikan oleh Rio, Ia menghela napas panjang dan mulai membuka buku itu, buku
dengan judul Remember When.
Dihalaman
pertama, ada fotonya bersama Vano saat mereka memakai baju seragam SD, kemudian
dibawahnya ada foto mereka dengan seragam SMP dan kemudian dengan seragam SMA.
Nayla tertawa kecil melihat foto itu, selanjutnya Ia membuka lembar kedua. Betapa
kagetnya Ia melihat fotonya dengan Rio, foto yang diambil saat Nayla pertama
kali bertemu dengan Rio dikoridor sekolah, dibawah foto itu terdapat tulisan ‘Jangan terlambat lagi ya’ itu
mengingatkan Nayla pada seseorang yang pernah memberikan tulisan yang sama
dengan sebuah coklat. Ternyata Vano sempat mengambil gambar Nayla dan Rio saat
itu.
“Jangan-jangan
selama ini…” Kata Nayla sambil membuka lagi lembaran selanjutnya, ada foto
Nayla bersama Rio diperpustakaan saat Nayla pertama kali menghampiri Rio,
dilengkapi dengan tulisan dibawahnya ‘Aku
seneng kalian ketemu’. Nayla membuka lembar selanjutnya, dilihatnya lagi
foto dirinya yang berdiri didepan pintu gerbang dengan memakan sebuah coklat,
Ia memutar ingatannya kembali saat itu, saat Vano menolak untuk pergi ke
pameran. Dibawah foto itu juga ada tulisan ‘kamu
ngambek ya? Aku kasih coklat biar kamu seneng dikit’ disamping foto itu,
ada foto Nayla sedang tersenyum memandang sebuah lukisan, foto yang diambil
saat Ia pergi ke pameran bersama Vano, dibawah foto itu tertulis ‘Aku kan udah bilang kalau kamu bakal ke
pameran’
Tanpa
Nayla sadari air matanya jatuh, Ia menangis mengingat semua kejadian itu, kemudian
dibukanya lagi lembar selanjutnya, ada fotonya bersama Danny didepan gerbang
sekolah saat Danny mengantarnya ke sekolah. ternyata saat Danny menjemput Nayla
dirumahnya, Vano segera melaju secepat mungkin agar dapat mengejar mobil milik
Danny untuk memastikan bahwa Danny benar-benar mengantar Nayla kesekolah.
Dibawah foto itu ada tulisan ‘Sebenernya
aku gak suka kamu sama Danny, tapi aku senang kalau kamu senang’. Air mata
Nayla kembali tumpah, Ia kemudian melihat bunga edelweiss yang disimpannya dalam
sebuah vas bunga berbentuk botol yang ternyata bunga itu dari Vano
Dilembar
selanjutnya, terdapat foto mereka berenam saat liburan di puncak dilengkapi
dengan tulisan ‘Tau gak kenapa aku
bahagia banget disini? Aku senang kamu bisa akrab sama Rio, aku senang kita
bisa ngumpul bareng, ini liburan terindah bagiku’ Disamping foto itu
terdapat foto Nayla dan Vano saat acara prom
night dengan tulisan dibawahnya ‘Warna
baju kita samaan, aku suka warna yang kamu pilih’ Nayla tersenyum melihat
foto itu
Nayla
membuka lembar-lembar selanjutnya yang penuh dengan foto dan kata-kata singkat
dari Vano. Foto yang diukir indah bersama dengan tulisan-tulisannya, bentuknya
unik, seakan dari foto itu Vano ingin menceritakan bahwa setiap momennya
bersama Nayla merupakan saat-saat yang bahagia. Sampai akhirnya ada sebuah
tulisan, tulisan yang ditulis oleh Vano saat dia sekarat, tulisan yang semakin
membuat air mata Nayla tak dapat berhenti mengalir saat membacanya.
Dear
Nayla Amanda,
Kalau
buku ini udah ditangan kamu sekarang, berarti aku udah gak ada ya..
Kamu pasti marah ya? Kesel ya? Maaf yaa, aku bukannya gak
mau ngasih tau, ntar dijelasin sama Rio deh kenapa aku gak bisa ngasih tahu
kamu soal ini.
Aku sakit sejak umurku 6 tahun, bahkan dokter bilang
mungkin aku gak akan bertahan sampai umurku 10 tahun. But see? Aku udah lewat
17 tahun tapi masih bisa nemenin kamu. Dokter yang nanganin aku itu papanya
Rio, waktu aku ke klinik papanya aku ketemu Rio, dia nemenin aku waktu
diperiksa, katanya baru kali itu liat anak seumur dia diperiksa sama papanya. Maaf
ya aku gak pernah cerita soal Rio, ntar kamu cemburu lagi kalau tahu aku punya
sahabat lain selain kamu hehee. Kamu jangan marahin dia yah, dia udah banyak
bantuin aku, selama ini dia seakan-akan gantiin papanya buat meriksa keadaanku,
aku juga yang minta dia buat jangan kasih tau siapa-siapa kalau aku sakit.
Kamu tahu Nay? Selama ini aku bertahan karena ada
kamu, sejak kita ketemu waktu SD, aku udah suka sama kamu, aku sama suara
cempreng kamu, aku suka cara kamu berpakaian, aku suka saat kamu sok-sokan
manja ke aku, aku suka cara kamu ketawa, aku suka senyum kamu, aku suka semua
tentang kamu. Dan sampai akhirnya aku sadar, aku sayang banget sama kamu, kamu
cinta pertama dan terakhir buatku.
Kaget ya? Sama aku juga
Tapi aku gak mau ubah hubungan persahabatan kita, aku
seneng kayak gini, ada disamping kamu, jagain kamu, buat kamu seneng itu udah
cukup. Aku kemarin sengaja kasih kamu coklat sama bunga tanpa bilang itu dari
aku. Aku juga pengen kali kayak orang-orang yang suka ngasih coklat dan bunga
sama cewek yang mereka suka. Kalau aku ngasihnya sebagai Vano pasti beda, jadi
aku ngasihnya diam-diam sebagai orang yang mencintaimu, katamu apa? secret
admirer ya? Boleh juga, tapi lebih tepatnya secret love karena aku tahu kita
gak akan pernah bisa sama-sama jadi pasangan. Ada orang yang lebih cocok sama
kamu, Rio.
Aku gak mau kamu sama orang lain, selama ini aku nyari
orang yang bisa gantiin posisiku buat jagain kamu, dan gak ada yang sebaik Rio.
Aku gak mau kamu punya urusan lagi sama cowok kayak Danny, aku gak mau ada
Danny Danny lain lagi. Aku tahu Rio juga udah suka sama kamu sejak pertama kali
kalian ketemu dikoridor sekolah, kamu gak tahu kan aku juga ada disitu, ngeliat
kalian dari jauh. Aku ngeliat Rio balik badan buat liatin kamu yang lari-lari
gak jelas karena telat, lucu deh, aku ketawa waktu liat itu.
Nay, jangan mau kena gombal sama cowok gak jelas, aku
percayain kamu sama Rio.
Nay, kamu baik-baik yaa, temenan terus sama Fika, dia
sahabat yang baik setelah aku hehee. Jangan pulang kemaleman kalau keluar
malam, jangan lupa jaketnya dipake, jangan sakit yaa. Makasih udah jadi orang
yang buat aku bisa ngerasain apa itu cinta, ketulusan dan keikhlasan.
Maaf yaa gak bisa terus disamping kamu, kalau kangen
aku peluk aja Rio. Jangan buang-buang waktu untuk hal yang gak guna Nay, kamu
gak akan pernah tahu betapa berharganya waktu kalau kamu sia-siain gitu aja.
Banyak-banyak bersyukur ya masih dikasih umur panjang. Ini rahasia hatiku Nay,
yang selama ini aku simpan.
Aku sayang kamu, see you in another life Nay. Bye..
Love,
Devano Rian
Nayla
menutup bukunya dengan terisak-isak, Ia tidak menyangka bahwa Vano sangat
memperhatikannya lebih dari yang Ia pikirkan. Sampai akhirnya Ia sadar bahwa
selama ini dia tidak dapat lepas dari Vano, rasa sayangnya yang teramat dalam
untuk Vano baru disadarinya saat Vano sudah tidak berada lagi disampingnya
untuk selamanya.
***
Tujuh
tahun kemudian
Nayla
berjalan ditaman kantornya, disebuah jalanan setapak dengan pemandangan hijau
dan kolam ikan disisi kanannya, Ia kemudian duduk disebuah bangku menikmati
alam itu sambil menunggu seseorang. Saat ini Ia bekerja sebagai seorang HRD di salah satu perusahaan swasta di
kota itu.
“Ehm,
sendirian aja” Ucap seseorang sambil duduk disamping Nayla
“Ka
Rio, lama banget sih” Kata Nayla
“Kamu
kali yang kecepetan” Kata Rio kemudian mereka tertawa kecil
“Design kakak udah selesai?” Tanya Nayla
“Udah
kok, aku punya design baru juga” Jawab Rio, saat ini Ia sudah menjadi seorang
arsitek dan memiliki cv sendiri.
“Ohh
gitu” Ucap Nayla
“Mau
liat gak?”
“Gak
usah, udah bosen liat gambaran kakak”
“Okay
aku bukain dulu” Kata Rio sambil mengambil ipadnya dan memperlihatkan sebuah
desain rumah pada Nayla meskipun Nayla tak memintanya
“Kok
tumben kali ini detail banget” Kata Nayla saat melihat desain dari Rio
“Iya,
masa buat rumah kita desainnya setengah-setengah sih. Jadi nanti disini ada
perpustakaan kecil buat kumpulan buku aku, kamu sama anak kita nanti, terus
disini dapur buat kamu masak, terus kalau kamu lagi bete aku udah nyiapin RTH
kecil disebelah sini, terus…” Jelas Rio sambil menjelaskan bagian-bagian dalam
desainnya, namun belum sempat Ia melanjutkan perkataannya Nayla segera
memotongnya
“Tunggu..
tunggu.. rumah kita?” Tanya Nayla bingung
“Iya
rumah kita” Jawab Rio santai
“Maksud
kakak?”
“Nikah
yah sama aku” Perkataan Rio membuat Nayla mengkerutkan keningnya
“Apaan?
Kakak selama ini nembak aku aja gak pernah, kita pacaran juga kagak, tiba-tiba ngajak
nikah” Kata Nayla
“Buat
apa pacaran kalau kita bisa lebih kenal kayak gini, kita kenal juga udah lebih
dari tujuh tahun. Lagian aku gak mau jadi pacar kamu, ntar status aku sama lagi
kayak sapa tuh mantan kamu, Danny?”
“Apaan
sih, udah kelaut lagi orangnya”
“Lagian
aku gak perlu jelasin perasaanku kan, udah dikasih tahu sama Vano lewat buku
dia”
“Emang
kakak gak mau tahu perasaan aku?”
“Ya
pasti sama lah”
“Dih
PD banget sih”
“Yah
makanya, nikah yuk” Tawar Rio sambil tersenyum lebar kearah Nayla
“Ini
serius ngelamar?”
“Yaiyalah,
kapan aku becanda”
“Kaka
becanda mulu lagi”
“Kali
ini serius Nay, tega amat sih orang ngelamar masa dibilangin becanda. Aku udah design rumah buat kita juga nih”
“Teruus?”
“Terus
nanti rumahnya buat kita tinggalin lah, masa buat tetangga”
“Hahaha
Ka Rio apaan sih” Tawa Nayla
“Nay
serius nih, nikah ya sama aku?”
“Aku
gak bisa bedain Ka Rio serius atau becanda” Kata Nayla kemudian Rio berdiri dan
mengeluarkan sesuatu dari saku celananya kemudian setengah berlutut dihadapan
Nayla
“Marry me?” Tanya Rio sambil menyodorkan
sebuah cincin bewarna silver. Nayla terkejut tak dapat berkata apa-apa. Ia
hanya dapat menganggukkan kepalanya dan tersenyum kearah Rio. Rio segera
memasangkan cincin yang sudah Ia siapkan jauh sebelumnya pada jari manis Nayla
“Makasih
Nay” Ucap Rio
“Aku
yang makasih kak” Nayla tersenyum kemudian ponsel milik Nayla berdering,
dilihatnya telepon dari Aldo dan Ia pun segera mengangkatnya
“Halo”
Ucap Nayla
“Halo
Nay, dimana?” Tanya Aldo
“Lagi
dikantor, kenapa? Jawab Nayla kemudian bertanya kembali
“Nih
Fika udah mo ngelahirin kayaknya, gue bingung mau diapain” Kata Aldo panik
“Kok
bingung sih, bawa kerumah sakit sekarang Al, cepetan” Kata Nayla geram
“Dia
teriak gue jadi panik banget ini, gak ada orang disini”
“Yaudah
cepet bawa kerumah sakit deket situ, sms gue ya rumah sakitnya, gue jalan
sekarang” Kata Nayla sambil memasukkan ponselnya kedalam tasnya.
“Ada
apa Nay?” Tanya Rio
“Fika
udah mo ngelahirin” Jawab Nayla
“Serius?
cepet yah”
“Cepet
apanya udah sembilan bulan Ka Rio, ayo” Nayla menarik pelan tangan Rio agar
dapat segera berjalan
“Ntar
abis itu kamu” Kata Rio
“Apaan
sih Ka Rio” Nayla tertawa begitu pun dengan Rio, kemudian Rio merangkul Nayla
dan mereka berdua berjalan dan meninggalkan tempat itu.
***
THE END

0 comments:
Post a Comment