Saturday, May 13, 2017

REMEMBER WHEN


PERTEMUAN
Dengan setengah berlari, Nayla menyusuri koridor sekolahnya sambil sesekali melihat jam tangan berwarna putih yang melingkar manis ditangannya, namun saat Ia melihat jam tiba-tiba saja bruk! Beberapa buku berhamburan dilantai, Nayla menabrak seseorang
“Astaga, maaf maaf gak sengaja” Ucap Nayla panik sambil merungkuk berusaha mengambil buku-buku yang berjatuhan dilantai tanpa melihat siapa yang ditabraknya
“Udahlah gak usah diberesin, kelas udah masuk dari tadi”
Nayla berhenti mengambil buku-buku tadi, Ia kembali berdiri tegak mengangkat wajah mungilnya dan melihat orang yang Ia tabrak dari bawah kaki dengan sneakers hitam dan seragam putih abu-abu, penampilan orang ini begitu rapi ditambah kacamata bening yang menempel diwajahnya berbeda dengan kebanyakan siswa laki-laki yang sering Ia temui. Namun muka itu asing bagi Nayla, Ia hanya sempat melihat keterangan kelas XII diseragam orang itu. Tanpa ekspresi orang itu mengambil buku-buku yang ada ditangan Nayla dan membereskan beberapa buku yang masih tersisa dilantai kemudian beranjak pergi meninggalkan Nayla. Sempat terpaku sejenak namun Nayla segera melanjutkan langkah menuju kelasnya. Sesampainya didepan kelas, Nayla segera masuk namun langkahnya terhenti saat guru yang saat itu mengajar menegurnya
“Nayla, tumben kamu terlambat”
“Iya maaf bu..” Kata Nayla memelas
“Yasudah masuk, tapi lain kali harus tepat waktu ya” Setelah itu Nayla pun berjalan masuk menuju bangkunya tepat disamping Fika sahabatnya yang sudah bersama sejak SMP, setelah duduk Nayla mengeluarkan buku dan mengikuti pelajaran.
***
“Tadi pagi kok tumben telat Nay?” Tanya Fika sambil menyantap bakso dihadapannya
“Iya nih lambat bangun gara-gara nonton film dari kamu tuh. Eh tapi tau gak Fi, tadi pagi disekolah aku nabrak orang loh” Jawab Nayla sembari menceritakan kejadian yang dialaminya
“Ha siapa? terus? orangnya marah-marah dong?” Tanya Fika penasaran
“Ya gak tau siapa, mukanya asing. Dianya gak marah sih, cuman jutek, dingin banget sok sok cool gitu tanpa ekspresi. Kayaknya tu orang butuh kehangatan deh” Jawab Nayla
“Hahaha Nay Nay, udah nabrak orang eh orangnya malah dikatain lagi” Fika tertawa kemudian ada seorang anak kecil menghampiri mereka berdua
“Kak, ini buat kaka” Ucap anak kecil itu pada Nayla sambil memberikan coklat berpita pink dan sebuah catatan diatasnya
“Eh, ini dari siapa?” Tanya Nayla bingung namun anak kecil itu segera pergi setelah Nayla mengambil coklat tersebut
“Itu bukannya anak pemilik kantin? Kok dia ngasih kamu coklat sih?” Fika bingung
“Kamu aja bingung apalagi aku Fi, eh tapi ada catatannya nih” Nayla kemudian membuka catatan itu dan mereka berdua membacanya bersama-sama
‘Jangan terlambat lagi ya’  Tulisan di kertas kecil itu membuat Nayla dan Fika mengerutkan dahi sambil saling melihat
“Wah Nayla punya secret admirer” Fika mulai berpendapat
“Apaan sih, kali aja ini bener dari anak kecil tadi” Nayla menyangkal
“Hahaa Nay mana mungkin anak sekecil itu bisa seromantis ini, masalahnya ini tuh bukan untuk pertama kalinya kamu dapat yang kayak ginian. Minggu lalu setangkai bunga mawar, trus kemaren boneka dan hari ini coklat, apalagi coba kalau bukan ada yang naksir diem-diem” Jelas Fika mengungkit kejadian beberapa hari yang lalu. Akhir-akhir ini Nayla memang sering sekali mendapatkan kejutan-kejutan kecil berupa barang dengan kata-kata menyemangati dan itu membuatnya bingung meskipun tak Ia perlihatkan pada Fika namun Fika pun bisa membaca dari raut muka Nayla apa yang Ia pikirkan.
***
Bel sekolah berbunyi menandakan waktu pulang telah tiba, Nayla dan Fika keluar dari dalam kelasnya dengan perbincangan kecil yang mengisi langkah mereka.
“Hay kalian” Sapa seseorang yang tiba-tiba saja berada didepan mereka
“Ka Vano” Ucap Nayla dan Fika hampir bersamaan. Vano merupakan teman Nayla sejak kecil, rumah mereka yang hanya berjarak beberapa meter membuat mereka sering main bersama meskipun Vano lebih tua satu tahun. Nayla sudah menganggap Vano seperti kakaknya sendiri, Vano juga selalu menjaga dan menemani Nayla dalam keadaan apa pun, hal ini membuat Nayla tidak pernah merasa kesepian meskipun Ia merupakan anak tunggal dikeluarganya. Saat memasuki bangku SMP, Vano juga mulai berteman dekat dengan Fika yang dikenalnya lewat Nayla. Itulah Vano, siapa pun yang dekat dengan Nayla juga akan dekat dengannya.
“Seharian gak liat kalian, ini aku yang sibuk atau kalian yang ngilang?” Tanya Vano memulai perbincangan
“Emang kita apaan ngilang, Ka Vano tuh yang sibuk sama OSIS” Jawab Fika
“Hehehe iya sih, soalnya kan udah mau pergantian jabatan. Kalian berdua jadi kan masuk dalam kepengurusan OSIS? Nama kalian udah aku masukin tuh sebagai calon pengganti, nanti tergantung ketua selanjutnya mau naro kalian dimana” Kata Vano
“Yah kita sih ikut aja ka” Ucap Nayla dan Fika pun menganggukkan kepalanya
“Ya ampun, hampir lupa” Fika menepuk dahinya “Aku udah janji mo nemenin nyokap buat beli kue” Lanjutnya
“Kue buat apa?” Tanya Nayla
“Itu loh entar sore dirumah ada arisan gitu jadi yah nyokap butuh bantuan buat nyiapin kue dan lain-lain” Jawab Fika
“Waaah asik dong banyak makanan kalau gitu” Sahut Vano sambil ketawa kecil
“Kerumah aja ka, sekalian gabung sama ibu-ibu” Fika tertawa “Yaudah deh aku duluan ya, nyokap bisa ngamuk ntar kalau kelamaan daaah” Lanjutnya sambil berjalan pergi
“Eh Fi, ntar malam jangan lupa ya” Ucap Vano sedikit berteriak mengingatkan Fika yang berjalan menjauh meninggalkannya dan Nayla. Fika hanya menganggkat jempolnya sambil terus berjalan.
“Emangnya ntar malam spesial banget yah ka, sampe sampe ngajak aku sama Fika. Biasanya kan kalau kaka mau tampil yaudah tampil aja” Ucap Nayla dengan sedikit rasa bingung karena Vano mengajaknya dan Nayla untuk datang ke café dimana Vano akan tampil band bersama teman-temannya. Vano memang mahir memainkan alat musik terutama piano dan gitar sehingga hobinya itu Ia manfaatkan untuk bergabung dengan band temannya yang biasa diundang untuk tampil dibeberapa café untuk mengisi kekosongan.
“Yah sekali sekali lah kalian nonton, sekalian kita bisa nongkrong di café itu, sebelum aku sibuk Persiapan UN nanti, apalagi kalau udah lulus kan bakal jarang banget ketemu kalian” Jelas Vano
“Ciieee gaya nih ka Vano” Goda Nayla sambil tertawa kecil
“Eh balik yuk” Ajak Vano
“Ayoo” Nayla dan Vano pun berjalan seiringan meinggalkan koridor sekolah sampai ketempat parkiran motor kemudian mereka pun pergi dengan menaiki motor satria biru milik Vano. Dalam perjalanan, Nayla mulai membuka pembicaraan untuk mengisi kekosongan
“Ka, tadi pagi aku nabrak orang dikoridor” Ucap Nayla
“Ha? Serius? Kok bisa?” Tanya Vano
“Tadi pagi aku telat ka, udah keburu waktu jadinya jalan cepet-cepet dong, lagian mana aku tau bakal ada orang yang lewat dari koridor sebelah. Yaudah ketabrak deh” Jelas Nayla
“Lagian kamu kenapa telat sih? Pasti gara-gara gak bareng aku kan” Kata Vano bercanda
“Idih PD banget Ka Vano, ya gak lah. Mana tadi anak kelas duabelas lagi” Ucap Nayla
“Terus dia marahin kamu?” Tanya Vano lagi
“Syukurnya gak ka, cuman mukanya itu gak ada ekspresi sama sekali, datar banget” Jawab Nayla
“Yah mungkin aja dia bete kamu tabrak, cuman gak bisa marah aja soalnya kan orang kalau liat muka kamu mana bisa marah, muka melas gitu” Kata Vano
“Iya kali ka hahaa” Nayla tertawa kecil begitu pun dengan Vano.
***
Nayla dan Fika keluar dari dalam mobil honda jazz merah milik Fika didepan sebuah cafe, dengan perlahan mereka berdua pun berjalan beriringan sampai masuk kedalam kafe tersebut dan memilih tempat untuk duduk. Dari kejauhan Vano yang sedang bersama dengan teman-temannya sudah memperhatikan Nayla dan Fika yang baru saja datang kemudian Vano pun menghampiri mereka.
“Hay, akhirnya datang juga” Ucap Vano sambil duduk dikursi kosong samping Nayla
“Sebenernya sih males, cuman yah menghargai undangan. Lagian Fika nih katanya mo cuci mata liat kaka kaka masa depan” Kata Nayla sambil sedikit tertawa
“Nay apaan sih” Fika menyangkal kemudian Vano pun hanya bisa terseyum melihat tingkah kekanak-kanakan Nayla dan Fika
“Oh ya ntar jangan buru-buru balik yah, selesai tampil aku mau kenalin kalian sama temen-temen aku” Ucap Vano
“Ada yang cakep gak kak?” Tanya Fika
“Hey enak aja, Aldo mo dikemanain Fi” Sahut Nayla mengingatkan Fika
“Oh iya hampir lupa, udah punya pacar akunya hehehee” Fika nyengir
“Hahahaa Fika kamu tuh bener bener yah” Vano tertawa, kemudian ada pelayan yang menghampiri Vano dan mengingatkan bahwa teman-teman band Vano sudah menunggunya untuk persiapan tampilan mereka.
“Eh aku kesana dulu ya” Ucap Vano
“Iya semangat kak” Ucap Nayla dan Fika hamper bersamaan
Vano dan ketiga teman-temannya terlihat naik ke atas panggung kecil, Vano mengambil gitar kemudian menyetel dan mencobanya setelah itu band mereka pun tampil dengan menyanyikan lagu yang telah mereka siapkan dalam latihan. Setelah tampil, Vano pun kembali mendatangi Nayla dan Fika
“Eh gabung yuk sama temen-temen aku” Ajak Vano, sementara Nayla dan Fika hanya saling melirik
“Ngapain kak? Kita kan gak kenal mereka” Ucap Nayla
“Iya kak, kita disini aja deh” Sambung Fika
“Kan udah aku bilang kalau aku tuh mau kenalin kalian ke mereka, lumayan loh banyak kenalan” Kata Vano
“Yaudah deh, yuk Nay” Ajak Fika, Nayla terdiam sejenak kemudian Ia pun hanya bisa mengikuti kedua temannya itu. Vano berjalan didepan diikuti Nayla dan Fika yang berjalan dibelakangnya sampai ke tempat dimana teman-teman Vano bersantai.
“Hey, kenalin ini adik-adik aku” Ucap Vano pada ke empat teman-temannya yang sedang duduk. Mata Nayla tertuju pada salah seorang teman Vano yang berada dihadapannya, wajah orang itu tak asing lagi bagi Nayla. Orang itu pun juga melihat Nayla meskipun kemudian Ia segera mengalihkan pandangannya dari Nayla. Nayla ingin sekali menegur orang itu, namun entah mengapa Ia seperti terpaku dan tak bisa berkata-kata
“Ini Nayla dan ini Fika. Nay, Fi kenalin ini temen-temen aku” Sambung Vano, kemudian teman-teman Vano pun menyambut baik Nayla dan Fika dengan mengenalkan diri mereka satu persatu.
“Hay, Doni” “Damar” “Faldi” “Rio” Ucap teman-teman Vano memperkenalkan nama mereka satu persatu sambil berjabat tangan dengan Nayla dan Fika secara bergantian. Dalam hati Nayla bersahut ‘Oh jadi namanya Rio’
“Kenapa baru dikenalin sekarang sih Van” Sahut salah seorang teman Vano yang bernama Damar
“Waktunya baru ketemu bro hehee” Vano sedikit tertawa “Nay, Fi, duduk sini yuk” ajak Vano sambil menyiapkan dua kursi kosong untuk Nayla dan Fika
“Kak, tadi kok yang tampil cuman kaka berempat aja?” Tanya Fika memecah keheningan, yang sebenarnya dalam hati Nayla juga bertanya demikian
“Oh, maksud kamu kenapa Rio gak ikutan tampil. Sebenernya Rio itu jago banget main drum, cuman yah dia pemalu sih orangnya, jadi gak pernah ikutan tampil, tapi dia yang jadi manager kita”
“Jadi band kakak pake manager juga ya?” Tanya Fika
“Yaiyalah, orang kalau mau hubungi kita ya langsung ke Rio aja, jadi Rio yang ngatur semuanya” Jawab Doni
“Ohh gitu” Ucap Fika kemudian mereka pun saling berbincang mengenai banyak hal, Fika terlihat cepat akrab dengan teman-teman Vano, berbeda dengan Nayla yang hanya mengikuti obrolan mereka tanpa berkata apa pun. Nayla dan Rio sesekali saling melirik namun tak lama segera mengalihkan pandangannya setelah mata mereka saling bertemu. Dalam hati Nayla bersahutan ‘ada apa ini? Kenapa diem, tegur aja Nay’
            “Nay, kok tumben dari tadi diem aja sih” Ucap Vano yang merasa aneh dengan tingkah Nayla saat itu, Nayla pun hanya bisa tersenyum mendengar teguran dari Vano
“Oh ya Fi, bukannya kamu harus jemput mama kamu ya?” Ucap Nayla sambil memberikan kode agar mereka pergi dari tempat itu dengan sedikit mencubit tangan Fika
“Haa.. a..apa sih Nay” Fika tak mengerti
“Iyaa, kamu kan tadi bilangnya mau jemput mama kamu” Nayla mencoba agar Fika mengerti dengan maksudnya
“I..i..iya sih..” Fika mencoba membenarkan perkataan Nayla meskipun Ia tidak paham dengan maksud Nayla
“Kak, kita balik duluan yah.. soalnya Fika harus jemput mamanya” Kata Nayla sambil berdiri dari tempat duduknya
“Loh, emangnya mamanya Fika dimana malem-malem gini?” Tanya Vano tak yakin dengan pernyataan Nayla
“Biasalah ibu-ibu shopping sampe malem. Kita duluan ya kak, byee” Jawab Nayla berpmitan sambil merangkul tangan Fika, Fika pun hanya bisa mengikuti Nayla
“Kak duluan ya” Ucap Fika sambil beranjak pergi mengikuti langkah kaki Nayla. Rio melihat Nayla yang berjalan meninggalkan tempat mereka, Vano yang mendapati Rio melihat Nayla hanya bisa tersenyum
“Liatin apa bro” Tegur Vano
“Apaan sih, gak ada” Rio menyangkal sambil sesekali tetap melirik Nayla yang berjalan pergi sampai hilang dari pandangan.
Sementara itu, ditempat yang berbeda Fika terus menanyakan keanehan tingkah Nayla “Nay, itu tadi maksudnya apa sih?” Tanya Fika bingung sambil terus berjalan beriringan dengan Nayla menuju tempat parkir
“Ntar aku jelasin” Jawab Nayla sampai akhirnya mereka sampai kedalam mobil
“Nay, sekarang jelasin” Kata Fika penasaran
“Iya sambil jalan tapi” Kata Nayla kemudian Fika pun mulai mengemudikan mobilnya
“Yang tadi itu, orang yang aku tabrak dikoridor tadi pagi” Ucap Nayla
“Ha? Siapa? Yang mana?” Tanya Fika
“Rio, Kak Rio”
“Pantes aja kalian berdua diem mulu, eh tapi kan seharusnya kalian biasa aja. Kok jadi kaku gitu sih Nay”
“Iya yah, seharusnya kan biasa aja” Nayla mengkerutkan dahinya sambil berpikir sejenak
“Aduh Fiii kok tadi malah jadi kaku sih, seharusnya kan senyum aja gitu paling gak negur bilang eh kaka yang tadi pagi kan. Kok akunya malah diem aja” tambah Nayla
“Ow ow ow kayaknya ada sesuatu nih” Fika tertawa kecil
“Apaan sih”
“Ya kalau gak ada apa-apa biasa aja dong Nay gak perlu kaku–kakuan gitu”
“Emang gak ada apa-apa”
“Masa?”
“Fikaaa” Ucap Nayla sambil melempar halus tissue kearah Fika yang sedang tertawa melihat tingkahnya kemudian Nayla pun hanya bisa tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
***
PINJAM BUKU
Nayla dan Fika sedang asik duduk dibangku dalam kelas mereka sambil melihat sebuah online shop diponsel milik Fika.
“Eh nih lucu” Kata Fika sambil menunjuk sebuah gambar baju dilayar ponsel miliknya
“Iya sih tapi coba liat yang lain dulu” Kata Nayla sambil terus melihat layar ponsel tersebut
“Yang ini bagus gak?” Tanya Fika
“Kamu kan udah punya yang model baju kayak gitu” Jawab Nayla
“Ya tapi kan warnanya beda Nay”
“Sama aja Fi mending cari yang lain coba” Ucap Nayla sambil menyentuh layar ponsel untuk menemukan sesuatu. Sampai akhirnya Fika tersadar bahwa teman-teman sekelas mereka bersiap-siap untuk pulang bahkan setengahnya sudah meninggalkan kelas.
“Nay, anak-anak pada balik nih?” Tanya Fika sambil melihat sekeliling kelas
“Masa sih” Ucap Nayla yang juga mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. Nayla pun memanggil salah satu temannya yang sedang lewat dihadapan mereka
“Sa, anak-anak pada balik ya?” Tanya Nayla
“Iya, emang kalian belum tau, guru-guru kan lagi ada seminar jadi ya kita dibolehin pulang sekarang” Jawab Shasa salah satu teman mereka
“Eh sa, tumben bawa-bawa buku. Tebel lagi bukunya” Ucap Fika ketika melihat buku yang dipegang oleh Shasa
“Ohh iya nih, kalau gak karna tugas dari Pak Anto, ya gak bakal deh bawa-bawa buku setebal ini” Jawab Shasa
“Ha? Tugas yang mana?” Tanya Nayla dan Fika bersamaan
“Itu loh yang buat revisi, minggu lalu kan Pak Anto gak masuk tuh jadi dia ngasih tugas cari buku biologi yang membahas tentang morfologi tubuh manusia” Jelas Shasa
“Kalian lupa yaa” Sambungnya
“Pelajaran Pak Anto kapan ya?” Tanya Nayla sambil berpikir
“Kan besok” Jawab Shasa
“Haa? ya ampun oh my god, nooo” Ucap Fika
 “Trus bukunya dapet dimana?” Tanya Nayla
“Di perpus ada, tapi kayaknya udah abis dipinjem sama yang lain. Kalau kalian mau, kalian bisa beli ditoko buku” Jawab Shasa
“Beli lagi, patungan ya Nay” Ucap Fika dan Nayla hanya bisa melihat Fika dengan tatapan kosong
“Oh iya, Pak Anto juga bilang kalau mau cari bukunya bisa tanya ke anak kelas duabelas, kata Pak Anto kita bisa minjem buku mereka karena dulu dia tuh pernah ngasih tugas yang sama. Kali aja mereka punya” Jelas Shasa
“Oh iya iyaa, makasih ya Shasa udah jelasin” Ucap Fika
“Iya nih Sa, kita bener-bener lupa banget” Sambung Nayla
“Yaudah, gue duluan ya” Kata Shasa kemudian berjalan meninggalkan kelas
“Fi, kita ke Ka Vano yuk” Ajak Nayla kemudian melihat Fika yang tiba-tiba tersenyum sambil melihat layar ponselnya. Merasa tak dihiraukan Nayla pun memanggil Fika dengan sedikit berteriak.
“Fikaaaa” Ucap Nayla
“Eh.. iya Nay” Kata Fika sambil kembali melihat Nayla
“Kita ke Ka Vano yuk, mungkin bukunya ada sama dia” Kata Nayla
“Emm kalau kamu aja yang ke Ka Vano gimana? Ntar kan kamu pulangnya bareng dia juga jadi sekalian aja. Rumah kalian juga cuman bersebelahan jadi gak ada masalah dong kalau aku gak ikut buat nanya buku” Kata Fika sambil tersenyum manis kearah Nayla, berharap Nayla setuju dengan perkataannya.
“Kok gitu sih, kalau bukunya gak ada di Ka Vano gimana?” Ucap Nayla
“Kan Ka Vano punya banyak temen di kelas duabelas, pasti ada yang punya bukunya dan dia pasti pinjemin buku temennya buat kita, ya gak” Kata Fika sambil terus tersenyum
“Fika stop ya pasang muka sok manis gitu. Emang kamu mau kemana sih?”
“Nayla aku baruuu aja diajak nonton sama Aldo, kan jarang-jarang dia ajak jalan gini. Kamu kan tau dia tuh anak basket dan latihan mereka tuh hampir tiap hari buat persiapan tanding. Ya jadi aku iya in deh” Fika tetap tersenyum diakhir perkataannya, sementara itu Nayla hanya bisa menahan tawanya melihat tingkah Fika
“Fika udah ya gak usah senyam senyum gitu gak lucu tau” Ucap Nayla
“Yaudah aku duluan yaa” Kata Fika sambil mengambil tasnya
“Eh tunggu dulu, kalau kamu nonton trus tugasnya gimana?”
“Kita kan kerja tugasnya sore Nay, lagian aku cuman nonton doang kok tenang aja, ntar pulang nonton aku langsung kerumah kamu kok”
“Bener ya, aku udah nyari bukunya jadi kamu dapat bagian revisi paling banyak” Ucap Nayla sambil menahan senyumnya
“Eh aturan dari mana, gak ada, masa gitu sih Nay, ntar deh kalau emang bukunya gak dapet sekalian aku yang nyari ditoko buku, tapi inget ya kalau beli berarti patungan”
“Hahahahaa ngomong gitu kek dari tadi, yaudah kamu boleh pergi kalau gitu” Ucap Nayla sambil tersenyum diakhir perkataannya
“Huu dasar, yaudah duluan yaa byeee” Sambungya, kemudian Fika pun pergi meninggalkan kelas. Sementara itu, Nayla sempat berpikir sejenak untuk dimana Ia harus mencari Vano, kemudian Nayla pun beranjak dari tempatnya dan juga meninggalkan kelas tersebut.
Nayla berjalan dikoridor sekolah sampai akhirnya berhenti didepan ruang osis, kemudian Ia memperhatikan ruangan itu sampai matanya terhenti pada satu pandangan, Vano. Nayla pun masuk kedalam ruangan itu dan menghampiri Vano yang terlihat sedang serius mengetik didepan sebuah laptop.
“Ka Vano” Sapa Nayla
“Eh Nay, tumben main kesini, ada apa?” Tanya Vano sambil berhenti melakukan kegiatannya
“Emm gak, cuman pengen nyari kaka aja. Kaka belum balik? Sibuk ya ka?”
“Dikit lagi balik kok, gak sibuk juga, emang ada apa sih? Kamu kalau tiba-tiba kayak gini pasti ada sesuatu” Ucap Vano sambil tertawa kecil
“Hehehee kaka tau aja, Ka Vano punya buku biologi tentang morfologi tubuh manusia gak?” Tanya Nayla
“Emm, ada gak ya dirumah” Vano berpikir, Nayla pun hanya bisa berharap Vano mengatakan iya
“Kayaknya gak ada deh buku kayak gitu, kamu kan tau aku gak suka pelajaran biologi”
“Ya kan kali aja ada gitu, soalnya kata Pak Anto dia pernah ngasih tugas kayak gini ke murid tahun lalu”
“Ya mana aku inget Nay, kalau ada tugas biologi paling aku ngerjain abis itu langsung lupa lagi” Ujar Vano, sempat terdiam kemudian Ia teringat sesuatu
“Eh tapi kayaknya ada deh sama temen aku” Sambungnya
“Oh ya?  Yaudah kak, pinjemin dong, diperpus udah ga ada soalnya, udah keburu dipinjem sama yang lain”
“Ya tapinya aku harus selesain laporan kegiatan osis dulu”
“Lama gak kak? Soalnya sebelum sore aku udah harus dirumah, udah janjian sama Fika mo kerja tugasnya” Tanya Nayla
“Ya kayaknya sih gak lama, ini juga cuman satu bagian. Atau kamu pergi aja sendiri, orangnya baik kok”
“Oh yaudah, aku pinjem sendiri aja kak kalau gitu. Namanya siapa?”
“Rio” Jawab Vano, mata Nayla sedikit membesar ketika mendengar jawaban Vano
“Kak, kayaknya aku nunggu kaka aja deh. Gak apa-apa kok” Ujar Nayla setelah sebelumnya sempat terdiam sejenak
“Loh emangnya kenapa? Tadi katanya pergi sendiri, lagian dia baik kok orangnya tenang aja” Ucap Vano
“Gak kak, gak jadi pergi sendiri, mending ditemenin aja deh sama Ka Vano”
“Kenapa sih Nay?” Vano mulai heran dengan tingkah Nayla yang menurutnya tidak biasa
“Kaka masih inget gak, aku pernah nabrak orang beberapa hari yang lalu”
“Iya masih”
“Itu orangnya… Ka Rio”
“Oh ya? Pantesan kemarin pas di café kamu diem aja” Vano tertawa kecil
“Kaka kok malah ketawa sih”
“Yaa, lagian kamu tuh lucu tau gak. Kalau kamu emang nabrak dia ya trus kenapa, orang dia biasa aja kok” Ujar Vano
“Dia gak bilang ke kaka kalau aku pernah nabrak dia?”
“Gak tuh, dia biasa aja. Tenang Nay, dia tuh orangnya cuek banget, hal-hal kayak gitu gak bakal diperhatiin sama dia” Jelas Vano
“Masa sih kak? Terus kenapa mukanya tuh dingin banget pas ketemu aku kemarin, datar gitu gak ada senyum-senyumnya, ya jadi aku pikir dia dendam atau gimanaa gitu”
“Hahahaa gak Nay, dia orangnya emang kayak gitu, tapi dia baik kok”
“Ya tetep aja, aku gak mau pinjem buku ama dia kalau gak ditemenin ama ka Vano” Ujar Nayla sambil duduk dikursi kosong samping Vano
“Apaan sih jangan kayak anak kecil dong Nay, kamu tuh bentar lagi udah kelas duabelas juga loh, ya paling gak kamu bisa terbiasa beradaptasi sama orang meskipun gak ada aku” Ujar Vano
“Kaka kok ngomongnya jadi kayak orang yang mau pergi jauh gitu sih” Nayla tertawa geli
“Ya emang mau pergi, orang bentar lagi udah mau kuliah” Vano membalas tawa Nayla
“Huu belaguuu” Sahut Nayla, kemudian ponsel milik Vano berdering menandakan sedang ada panggilan masuk, Vano pun segera mengangkatnya tanpa melihat nama kontak yang memanggilnya
“Halo” Ucap Vano sambil menempelkan ponsel ketelinganya
“Oh Rio, kenapa yo?” Ucap Vano, sedangkan mata Nayla kembali membesar ketika mendengar nama yang disebutkan oleh Vano
“Iya nih lagi sementara, ntar file yang sama kamu simpen aja dulu, besok kita satuin” Ujar Vano berbicara kepada Rio yang sedang meneleponnya
“Oh ya, Yo kebetulan nih ada Nayla dia mau pinjem buku katanya, kamu dimana?” Ucapan Vano membuat Nayla memukul pelan lengan Vano menandakan Ia tidak ingin bertemu Rio seorang diri
“Oh yaudah dia kesana aja ya” Ucap Vano kemudian menutup teleponnya, Vano lalu melihat kearah Nayla
“Dia ada tuh di perpus, katanya kamu kesana aja” Ucap Vano
“Kaka gimana sih, aku kan udah bilang perginya bareng” Nayla menggerutu
“Dia gak gigit orang kok Nay, lagian ada apa sih?  Kamu masih ngerasa kalau dia marah gara-gara kamu nabrak dia itu?” Tanya Vano penasaran sambil melihat muka polos Nayla
“Ya gak sih kak. Yaudah deh aku pergi sekarang” Ucap Nayla kemudian berdiri dari tempat duduknya dan mulai berjalan menuju pintu ruangan, namun kemudian Ia menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya
“Oh ya, aku sekalian balik duluan ya kak” Ucap Nayla sebelum melanjutkan langkahnya, Vano hanya mengangguk dan tersenyum.
Nayla berjalan perlahan menuju pintu ruang perpustakaan sekolah, sesampainya depan pintu Ia segera melihat keseliling ruangan sampai akhirnya matanya tertuju pada seseorang yang sedang asyik duduk disebuah kursi meja baca ditemani sebuah laptop dihadapannya. Nayla pun menghampiri orang tersebut
“Permisi, Kak Rio kan?” Sapa Nayla dan dengan hati-hati duduk disamping Rio, Rio pun menghentikan aktifitasnya dan melihat kearah Nayla
“Temennya Vano?” Ucap Rio kembali bertanya
“Iya” Jawab Nayla singkat
“Kamu butuh buku apa?” Tanya Rio
“Biologi kak, tentang morfologi tubuh manusia, kaka punya ya bukunya?”
“Setauku sih buku kayak gitu udah ada diperpus ini”
“Iya kak, tapi bukunya udah abis dipinjem sama yang lain”
“Oh ya? Hmm biasanya sih kalau bukunya udah keduluan dipinjem sama yang lain, kamu orang terakhir yang baru inget sama tugasnya” Ucapan Rio membuat Nayla mengkerutkan keningnya dan mengalihkan pandangannya dari Rio. Merasa Nayla tersinggung dengan perkataannya, Rio pun segera bersuara
“Bukunya ada. Tapi gak disini” Kata Rio
“Terus ? Dimana ?” Tanya Nayla dengan mata yang berbinar
“Yuk” Ajak Rio yang kemudian menutup laptopnya dan beranjak dari tempatnya. Nayla pun hanya bisa mengikuti langkah Rio hingga sampai ketempat dimana mobil milik Rio diparkirkan
“Kita mau kemana sih kak?” Tanya Nayla sebelum membuka pintu mobil
“Katanya mo pinjem buku” Jawab Rio dan Nayla pun hanya bisa mengangguk tanpa banyak berbicara.
Rio menghentikan mobilnya didepan sebuah tempat yang menyerupai toko buku. Nayla melihat papan yang tertera didepan tempat tersebut bertuliskan T’Books, Ia pun menghela napasnya karena merasa dipermainkan oleh Rio
“Toko buku? Kak, aku tuh mo minjem kalau emang bukunya gak ada di kaka yaudah aku bisa cari sendiri ditoko buku kayak gini” Ucap Nayla
“Yang bilang ini toko buku siapa?” Kata Rio
“Ini bukan toko buku?” Tanya Nayla
“Liat dulu baru komentar, yuk” Ucap Rio kemudian segera keluar dari mobilnya. Nayla pun hanya bisa menghela napas panjang dan mengikuti Rio.
Rio dan Nayla masuk kedalam tempat tersebut, semua buku-buku tersusun rapi lengkap dengan keterangan tema buku diatasnya. Rio berjalan menuju kesalah satu rak buku diikuti oleh Nayla dibelakangnya
“Kamu bisa cari buku yang kamu butuh” Ucap Rio kemudian menghentikan langkahnya dan mulai memperhatikan judul buku pada setiap buku yang ada. Nayla hanya mengangguk dan mencari buku untuk mengerjakan tugasnya. Setelah beberapa saat mencari, Rio kemudian mengambil salah satu buku dan memperlihatkannya pada Nayla
“Ini buku yang kamu cari?” Ucap Rio bertanya sambil memperlihatkan buku yang didapatkannya
“Oh iya bener ini” Nayla mengambil buku yang diberikan Rio dengan mata berbinar, hatinya lega sambil tersenyum Ia pun melihat kearah Rio
“Makasih ya kak”
“Sama-sama, yaudah yuk” Rio berjalan menuju kesebuah loket
“Bukunya sini dulu” Ucap Rio kemudian Nayla pun memberikan buku yang Ia bawa, sambil memegang buku Rio mengeluarkan sebuah kartu dari saku seragamnya
“Mba, mo pinjem yang ini” Ucap Rio sambil memberikan buku beserta sebuah kartu diatasnya
“Waktunya tiga hari ya” Kata seorang karyawan setelah memproses buku tersebut dan memberikannya pada Rio
“Makasih mba” Kata Rio kemudian berjalan menuju pintu keluar diikuti Nayla dibelakangnya.
“Makasih ya kak, lusa aku balikin ya. Bukunya aku kasih ke kaka atau bisa langsung balikin ke tempat ini aja?”
“Dua-duanya boleh kok”
“Emm aku langsung balikin ketempat ini aja ya kak”
“Yaudah terserah kamu”
“Aku duluan ya kak”
“Loh, gak bareng aja?”
“Gak usah kak, aku naik taksi aja. Ntar ngerepotin kaka lagi”
“Ya gak lah, mending bareng aja. Aku yang gak enak soalnya, ntar Vano marah loh, masa adiknya kubiarin pulang sendiri”
“Emang gak apa-apa kak pulangnya dianterin?”
“Yaelah gak apa-apa kali, santai aja, yuk” Nayla hanya mengangguk pelan dan mengikuti langkah Rio yang kemudian berjalan menuju ke mobilnya. Ketika dalam perjalanan, Nayla pun menanyakan tentang tempat yang dikiranya adalah toko buku pada Rio
“Kak, sebenernya tadi itu tempat apa sih?” Tanya Nayla
“Itu tempat peminjaman buku, jadi kamu daftar dulu kalau udah ada kartunya kamu bisa ngisi pake duit kamu, seberapa duitnya tergantung sama typenya juga. Kalau aku sih pake type yang A, jadi aku bayar buat setahun kedepan dan bebas minjem buku berapa pun tanpa bayar lagi” Jelas Rio
“Oh gituu, kirain toko buku. Aku kok gak tau ya masih ada tempat kayak gitu sekarang” Ujar Nayla
“Emang gak banyak yang tau, apalagi…..” Rio menghentikan perkataannya
“Kenapa? Kaka pasti mo bilang aku jarang nyari buku sendiri kan. Ya emang” Ucap Nayla sedikit sinis
“Ini rumah kamu yang disamping rumah Vano kan” Kata Rio mengalihkan
“Iya” Kata Nayla singkat sampai akhirnya teringat sesuatu
“Eh, kaka kok tau rumah aku?” Tanya Nayla
“Ya taulah, Vano kan sering cerita” Jawab Rio berusaha terlihat santai, Nayla pun hanya menganggukkan kepalanya.
***
PAMERAN
Matahari mulai menampakkan cahayanya memasuki celah jendela kamar Nayla yang saat itu sedang sibuk mengeringkan rambutnya dengan hairdryer, tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar
“Nay, cepet dong udah jam berapa nih” Teriak mama Nayla dari balik pintu kamar
“Iya mah, dikit lagi” Balas Nayla
“Kamu berangkat sama papa atau sama Vano?” Tanya mama Nayla
“Sama papa aja mah, Ka Vano paling masih mandi” Jawab Nayla
“Yaudah cepetan papa udah nungguin tuh” Kata mama Nayla
“Iya mah” Ucap Nayla kemudian segera mematikan hairdryer dan merapikan rambutnya lalu mengambil tas sekolah yang sudah disiapkan sebelumnya dan segera keluar dari kamarnya
Dalam perjalanan menuju sekolahnya, Nayla sibuk membuka sosial media lewat ponsel miliknya sampai beberapa saat pupil matanya membesar diikuti dengan senyuman diwajahnya, Ia pun mengalihkan pandangannya dari handphone dan melihat kearah jendela mobil sambil memikirkan sesuatu.
“Oh ya Nay, besok ada acara makan malam sekalian syukuran rumah baru Tante Emi, kamu siap-siap ya. Nanti ajak aja Vano atau Fika biar kamu ada temennya” Kata Papa Nayla sambil mengemudi
“Emm duh maaf pah, kayaknya Nayla gak ikut deh” Ucap Nayla
“Loh kenapa?”
“Besok malem tuh ada pameran lukisan gitu pah”
“Emangnya gak bisa perginya nanti aja?”
“Gak bisa pah, pamerannya cuman sekali aja dalam setahun, apalagi ntar ada yang special katanya ada lukisan aliran abstrak yang mirip sama lukisannya Pablo Picaso pah” Jelas Nayla dengan semangat
“Udah kamu gak usah jelasin, papa juga gak ngerti. Yaudah yang penting pulangnya jangan kemaleman” Ujar Papa Nayla
“Siap bos” Ucap Nayla sambil tersenyum
***
Saat jam pulang sekolah telah tiba, Nayla berjalan melewati koridor sekolahnya untuk menuju kelas Vano, sesampainya di kelas Vano, Nayla pun melihat ke sekeliling sudut ruangan kelas tersebut namun tak ada Vano dalam kelas itu. Kemudian tiba-tiba ada yang menepuk pundak Nayla dari belakang, refleks Nayla pun membalikkan badannya
“Ka Rio” Ucap Nayla
“Cari siapa? Vano?” Tanya Rio
“Iya, kaka liat gak? Dia belum pulang kan?” Jawab Nayla kemudian bertanya kembali
“Ada tuh di ruang osis, barusan aku dari sana, ini juga kekelas cuman mau ngambil yang ketinggalan” Jelas Rio
“Oh gitu, tapi gak lagi rapat kan?”
“Gak kok”
“Yaudah aku kesana duluan ya kak” Ucap Nayla kemudian berjalan menuju ruang osis untuk menemui Vano. Sesampainya di ruang osis, Nayla segera menghampiri Vano yang terlihat sedang sibuk membaca tumpukan kertas diatas mejanya
“Hay kak, sibuk nih” Sapa Nayla sambil duduk dihadapan Vano
“Hey Nay, akhir-akhir ini kamu lagi doyan keruang osis yah” Ucap Vano sedikit tertawa
“Apaan sih, kaka lagi apa tuh?” Tanya Nayla sambil melirik kertas yang dipegang oleh Vano
“Oh  ini, biasalah revisi laporan yang kemaren”
“Ada apa lagi? Pinjem buku?” Sambung Vano
“Ya enggak lah, ada berita penting yang sifatnya wajib didengerin” Ujar Nayla sambil terus tersenyum mewakili hatinya yang bahagia
“Berita penting apa sih? Kayaknya seneng banget”
“Kaka belum liat instagram hari ini?”
“Gak sempet, lagian kan kamu tau aku jarang buka medsos” Kata Vano kemudian Nayla pun segera mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan membuka sesuatu dalam ponsel itu kemudian memperlihatkannya pada Vano. Vano melihat layar ponsel tersebut dan yang dilihatnya adalah sebuah poster pertunjukan pameran. Vano mengalihkan pandangannya dari ponsel dan melihat wajah Nayla yang tersenyum lebar kearahnya
“Udah ada lagi ternyata” Ucap Vano
“Malahan ada yang special loh kak, ada lukisan yang mirip sama lukisannya Pablo Picaso” Kata Nayla sambil mengambil ponsel yang ditaruhnya diatas meja
“Masa sih? Abstrak gitu dong”
“Iya kak, malahan ada kuisnya, jadi siapa yang bisa nebak buat jelasin makna dari lukisan itu bakal dapet hadiah”
“Kayaknya makin seru aja” Vano dan Nayla tertawa kecil, sejak masih duduk dibangku SMP, mereka berdua memang selalu menghadiri pameran lukisan yang diadakan setiap tahun oleh sebuah komunitas seni.
“Kita pergi kan kak” Kata Nayla
“Iya lah, emangnya kapan?” Tanya Vano
“Besok malam pas weekend” Jawaban Nayla tiba-tiba membuat senyum diwajah Vano menghilang
“Kenapa kak?” Tanya Nayla yang merasa ada perubahan dari wajah Vano
“Pamerannya cuman besok yah?”
“Iya, kan kaka tau pamerannya hanya diadain sehari doang”
“Kok mendadak sih”
“Ya aku juga baru liat postnya tadi pagi, dan ternyata postnya itu udah dari beberapa minggu yang lalu. Kan akhir-akhir ini aku lagi banyak banget tugas trus kaka juga sibuk ya jadi baru sempet liat postnya” Ujar Nayla kemudian menunggu respon dari Vano yang saat itu terdiam seperti memikirkan sesuatu
“Aku gak bisa kalau besok Nay” Ucapan Vano seketika menghilangkan senyum diwajah Nayla
“Loh kenapa kak?” Tanya Nayla lemas
“Besok malam aku ada rapat sama anak osis” Jawab Vano merasa tidak enak hati dengan Nayla
“Yaaah, emang gak bisa ditunda aja rapatnya kak? Kan lagi weekend juga”
“Gak bisa Nay, waktu kita cuman besok, senin kita harus ajuin laporan ke kepsek. Bulan depan kan udah domisioner” Jelas Vano
“Tapi kan kaka udah janji kita bakal pergi tiap tahun” Nayla menunduk
“Nay, aku juga pengen banget datang, tapi ya mau gimana lagi. Ini tanggung jawab aku sebagai ketua osis” Ujar Vano merasa bersalah
“Pamerannya kan cuman setahun sekali doang kak” Nayla hanya menunduk sambil memutar-mutar ponsel ditangannya
“Kamu ngerti dong Nay, aku gak mungkin gak jadi pergi kalau gak ada yang penting” ucap Vano dengan sedikit meninggikan suaranya
“Jadi pamerannya gak penting” Balas Nayla yang juga sedikit meninggikan suaranya
“Udah dong Nay, jangan buat aku ngerasa bersalah gitu. Atau kamu pergi aja sama Fika” Vano mulai menurunkan volume suaranya seperti biasa
“Fika mana ngerti yang kayak gituan, yang ada ntar aku malah heboh sendiri” Nayla terus menunduk, hatinya mulai sedih tidak dapat datang pada pameran yang selalu ditunggunya setiap tahun
“Ya terus, aku gak bisa ninggalin gitu aja rapatnya”
“Jadi kita gak pergi nih tahun ini” Sambung Nayla dan mulai melihat Vano dengan wajah memelas
“Maaf Nay” Ucap Vano, Ia ingin sekali membujuk Nayla namun Ia sendiri pun bingung harus berbuat apa.
“Yaudah deh kak. Mo gimana lagi” Kata Nayla lemas
“Kita kan bisa pergi tahun depan” Ucap Vano memaksa tersenyum kemudian seperti teringat sesuatu dan refleks melanjutkan ucapannya
“Em mungkin aja gak ada tahun depan ya” Ucapan Vano membuat Nayla sedikit terkejut
“Maksudnya kak?”
“Eh gak, gak ada” Vano menyangkal, Nayla tidak meneruskan pertanyaannya karena sudah terlanjur kecewa tidak dapat menghadiri pameran tersebut.
“Yaudah kalau gitu, aku balik duluan ya kak” Kata Nayla lalu berdiri dari tempat duduknya
“Kamu pulang sama siapa? Aku anter ya” Kata Vano yang juga berdiri dari tempat duduknya
“Gak gausah kak, kaka lanjutin aja lagi baca apa tuh tadi. Aku duluan ya” Ucap Nayla dengan wajah tanpa ekspresi belum sempat Vano membalas perkataannya, Nayla sudah beranjak cepat berjalan meninggalkan ruangan tersebut. Vano hanya bisa melihat Nayla hingga menghilang dari pandangan dengan perasaan bersalah.
Ketika Nayla keluar dari pintu ruang osis tiba-tiba Ia berpapasan dengan Rio yang baru saja akan masuk kedalam ruangan itu. Mata mereka bertemu, Rio pun menyapanya
“Udah ketemu Vano?” Rio bingung harus berkata apa, karena melihat wajah Nayla dengan mata yang berkaca-kaca
“Udah, aku balik duluan ya ka” Ucap Nayla kemudian mulai melangkah namun Ia menghentikan langkahnya dan bertanya pada Rio
“Ka, emangnya rapat besok penting banget ya?”
“Lumayan sih, soalnya senin kita ada laporan yang harus diajuin ke kepsek” Jawab Rio
“Oke” Nayla kemudian melanjutkan langkahnya dengan perasaan kecewa. Rio pun juga meneruskan langkahnya dan masuk kedalam ruang osis menghampiri Vano
“Itu tadi Nayla kenapa? Kok kayaknya bete banget. Mukanya udah kayak pakaian yang setahun gak disetrika” Tanya Rio sambil duduk dihadapan Vano
“Kita gak bisa pergi ke pameran yang adanya hanya setahun sekali. Pameran itu tuh paling ditunggu sama Nayla karena hanya disitu dia bisa liat langsung lukisan-lukisan dari seniman dunia” Jawab Vano
“Kedengarannya bagus, kenapa gak pergi aja?”
“Pamerannya besok Yo, kita kan ada rapat”
“Kan ada gue Van” Jawaban Rio membuat Vano berpikir dalam diamnya
“Udah, biar gue yang pimpin rapat besok, jangan buat gue gak ada gunanya gitu dong Van, gue kan wakil ketua osis, jadi kalau lu gak ada, gue bisa gantiin”
“Tapi kan…” Belum sempat Vano melanjutkan perkataannya Rio segera memotongnya
“Udah gak usah tapi-tapian, kasian tuh tadi anak orang, waktu ketemu diatas senyum-senyum gak jelas eh pas tadi keluar ruangan malah kusut banget mukanya” Ujar Rio
“Eiiits sejak kapan lu perhatiin orang kayak gitu” Ledek Vano dan Rio pun hanya bisa menatap Vano dengan tatapan sinisnya
“Atau, lu aja yang nemenin Nayla” Ucap Vano dan membuat Rio mengkerutkan dahinya
“Apaan sih udah ya Van, jangan buat ide lagi” Kata Rio kemudian mulai tertawa sambil menggelengkan pelan kepalanya
“Van, udah pergi aja, lagian kan……” Rio enggan meneruskan perkataannya karena tiba-tiba teringat sesuatu
“Gue belum tentu bisa nemenin dia lagi tahun depan” Vano meneruskan perkataan Rio
“Bukan itu lagi maksud gue” Rio menyangkal padahal apa yang diteruskan Vano memang benar sesuai dengan yang akan Ia katakan. Sementara itu Vano hanya tersenyum
“Tapi beneran gak apa-apa nih gue gak ada pas rapat besok?”
“Iyaa, kayak gak percayaan banget sih sama teman sendiri”
“Yaudah, thank’s ya Yo” Vano tersenyum
Ditempat yang berbeda, Nayla berdiri didepan gerbang sekolahnya menunggu taksi yang lewat. Wajahnya seakan ingin jatuh ketanah, Ia belum bisa menerima bahwa tahun ini dirinya tidak dapat mengunjungi pameran yang setiap tahunnya Ia tunggu. Saat sedang sibuk dengan lamunannya yang tidak karuan, tiba-tiba ada yang melemparkan sesuatu dari arah belakang dan mengenai kepala Nayla.
“Aw” Refleks Nayla segera membalikkan badannya, namun tidak ada seorang pun disana, hanya dedaunan yang perlahan jatuh dari atas pohon-pohon yang terdapat ditempat itu. Nayla kemudian mengambil sebuah bungkusan yang mengenainya. Dibukanya bungkusan berbentuk kotak itu, sebuah coklat dan selembar tulisan diatasnya ‘Kamu pasti pergi ke pameran itu kok’ Nayla mengkerutkan keningnya
“Emang gue peduli” Ujar Nayla dengan nada tinggi dan kesal, Ia tidak memikirkan lagi siapa yang mengirimkan coklat dan ucapan itu padanya, hal ini seakan sudah biasa baginya karena entah siapa ada orang yang selalu memberikan Ia semangat disetiap harinya. Nayla membuka coklat itu dan segera menggigitnya dengan cepat. Tak peduli tatapan aneh orang-orang disekitarnya.
“Ini kok taksi dari tadi gak ada yang lewat sih” Nayla marah-marah sendiri sambal terus mengunyah coklat yang terus Ia gigit tanpa memperdulikan isi mulutnya yang penuh dan bibirnya yang mulai penuh dengan coklat. Ia benar-benar tidak peduli dengan kondisi wajahnya dan kelakuannya saat itu. Sampai akhirnya terlihat sebuah taksi yang akan lewat dan Nayla pun segera melambaikan tangannya dari kejauhan.
“Bapak kok dari tadi gak lewat-lewat sini sih pak, saya kan nungguin” Ucap Nayla setelah memasuki mobil tersebut
“Maaf neng, saya gak tau ada neng nungguin” Ucap sopir taksi yang kena omelan Nayla
“Yaudah jalan aja pak”
“Neng baru putus ya?” Tanya sopir taksi polos
“Lebih parah dari abis putus pak” Ucapan Nayla hanya menambah kebingungan sopir taksi itu
“Yang sabar ya neng” Ucapan sopir taksi itu membuat Nayla mengkerutkan keningnya.
***
Nayla terlihat duduk santai didepan televisi dengan sekotak cemilan dipelukannya, Ia melirik jam dinding yang saat itu menunjukkan tepat diangka 7, seakan membunuhnya setiap waktu, sebenarnya Ia masih kesal karena tidak dapat mengunjugi pameran yang selalu ditunggunya setiap tahun.
“Loh Nay, kamu gak jadi pergi?” Tanya mama Nayla yang tiba-tiba melintas dihadapan Nayla sambil menggunakan jam tangan kesayangannya
“Iya, katanya mau pergi ke mana tuh, yang kemarin pagi kamu bilang ke papa” Sambung papa Nayla
“Pameran pah, gak jadi” Jawab Nayla datar
“Kenapa? Yaudah kamu siap-siap aja gih, kita pergi ke rumah tante Emi aja” Ajak mama Nayla
‘Ikut mama papa gak yah, tapi pamerannya’ Pikir Nayla dalam diamnya, entah mengapa Ia merasa akan tetap mengunjungi pameran yang sudah ditunggunya setiap tahun meskipun tanpa Vano
“Emm gak deh mah, mama sama papa aja ya yang pergi, Nayla titip salam aja sama tante Emi”
“Yaudah, kalau kamu mau keluar jangan lupa periksa jendela sama pintu, mama sama papa pergi dulu yah”
“Iya mah pah, hati-hati” Nayla kembali melihat layar televisi yang berada dihadapannya meskipun begitu, pikirannya masih pada pameran yang entah mengapa Ia merasa akan tetap mengunjungi pameran itu meskipun sendirian
“Eh Vano” Terdengar samar-samar suara mama Nayla dari depan pintu rumah, dengan penasaran Nayla segera beranjak dari tempat duduknya dan dengan langkah perlahan berjalan menuju ruang tamu yang tidak jauh dari tempat sebelumnya, Ia menyembunyikan badannya dibalik dinding dan mencoba memastikan apakah diluar sana memang benar-benar Vano. Dengan sedikit mengintip keluar, dilihatnya Vano berdiri didepan pintu sambil berbicara dengan mama dan papa Nayla. ‘Ka Vano, katanya gak bisa’ Batinnya mulai berkomentar
“Ada tuh didalem, masuk aja, tante sama om mau pergi dulu ya” Terdengar suara khas mama Nayla.
“Oh mau kemana tante?”
“Ada selametan rumah baru adik tante, kalian nanti perginya hati-hati ya” Mama dan papa Nayla pun berjalan keluar rumah. Dilihatnya Vano juga mulai melangkahkan kakinya kedalam rumah, dengan gerak cepat Nayla pun segera kembali ketempatnya semula, mengambil cemilan yang tadi dipeluknya, wajahnya sengaja Ia buat datar seakan-akan Ia tidak mengetahui bahwa Vano akan datang.
“Hai Nay” Sapa Vano sambil duduk disamping Nayla” Kedua tetangga ini memang sudah sangat dekat, kedekatan mereka telah terjalin sejak kecil, orangtua keduanya pun sudah saling kenal sehingga membuat mereka tidak segan lagi ketika berada dirumah sahabatnya.
“Kok disini sih, mo pamitan dulu sebelum pergi rapat?” Nayla tetap menegakkan pandangannya pada televisi dihadapannya
“Kok jutek gitu sih”
“Biarin”
“Serius amat Nay, apa serunya sih nonton iklan gitu” Perkataan Vano membuat Nayla jadi sedikit salah tingkah, Ia berpura-pura tak menghiraukan keberadaan Vano disampingnya karena Ia ingin menunjukkan pada Vano rasa kecewa dan kesalnya.
“Emangnya kenapa sih, terserah aku dong mau nonton apa aja” Vano hanya tersenyum melihat tingkah Nayla
“Ganti baju gih, kita udah telat nih” Ucapan Vano membuat Nayla melirik ke arah Vano
“Kalau rapat gausah ajak-ajak aku kak, gak minat”
“Tapi kalau pameran pasti minat dong”
“Jadi kita ke pameran? Yeaaay” Nayla girang namun Ia bingung dengan kedatangan Vano yang sangat tiba-tiba
“Loh tapi bukannya kaka ada rapat ya? Tadi katanya penting terus gak bisa ditinggal, kok sekarang bisa disini?”
“Aku gak mungkin ngelewatin kesempatan tahun ini, udah ah ntar kalau kelamaan pergi bisa telat beneran nih kita”
“Oke, bentar ya kak” Nayla segera beranjak dari tempatnya lalu mulai menaiki tangga menuju kekamarnya. Tidak lama kemudian, Nayla telah turun dengan pakaian rapinya.
“Eh? Tumben cepet” sahut Vano saat melihat Nayla turun dari tangga
“Iyalaah, orang aku udah siapin semuanya kok, aku bakal tetep pergi lagi meskipun gak sama kaka” Nayla sedikit mengejek
“Gayanya kebanyakan, pergi sekarang yuk”
“Yuk” Ucap Nayla sambil tersenyum lebar
Nayla dan Vano terlihat asyik berjalan sambil sesekali berhenti jika melihat lukisan yang mereka sukai, sambil sesekali berfoto ria. Vano memperhatikan Nayla yang lincah dan seperti tanpa rasa lelah mengelilingi setiap sudut ruangan yang dipenuhi dengan berbagai lukisan unik dari beberapa negara. Nayla tampak sangat bahagia, disetiap fotonya selalu menebarkan senyuman dan wajah anehnya yang sengaja Ia buat sebagai candaannya dengan Vano. ‘Hampir aja aku ngerusak senyuman kamu malam ini Nay’ Batin Vano berkomentar
“Kak duduk disana yuk, kakiku mulai pegel nih” Sahut Nayla sambil menunjuk sebuah bangku yang letaknya tidak jauh dari mereka berdiri
“Eh kirain kamu gak ada capenya” Vano nyengir
“Apaan sih kak emang aku robot” Nayla memukul pelan pundak Vano, Vano pun hanya tertawa sambil berjalan menuju bangku yang dimaksud Nayla
“Kita pulang dikit lagi ya kak”
“Iyaa.. Nay, aku beli minum dulu ya” Ujar Vano beberapa saat setelah mereka duduk
“Emang ada? Dimana?”
“Ada lah, itu tuh tadi disana kita lewatin kok, kamu sih gak perhatiin”
“Oh yaudah jangan lama-lama ya kak, ntar aku diculik lagi kalau sendirian lama-lama”
“Yeee rugi orang nyulik kamu” Vano tertawa dan beranjak pergi, Nayla hanya melihat Vano sampai hilang dari pandangan.
Disisi lain, ada seseorang yang memperhatikan Nayla dari kejauhan. Sampai seorang anak kecil datang dan memberikan sebucket bunga mawar putih untuk Nayla dengan sebuah kartu ucapan. Nayla hanya bisa menerima bunga yang diberikan untuknya dengan wajah terkejut.
“Halo, kamu lucu banget sih, ini dari siapa ya?” Tanya Nayla pada anak kecil perempuan yang berada dihadapannya, anak itu hanya tersenyum manis pada Nayla dan pergi tanpa menjawab pertanyaannya. Nayla memperhatikan bunga itu dan mengambil selembar kartu ucapan yang terdapat disela-sela bunga tersebut. ‘Aku udah tau kalau kamu bakal kesini’ Tulisan dikartu ucapan itu membuat Nayla semakin bingung, Ia mengalihkan pandangannya untuk melihat sekeliling ruangan yang bisa dijangkaunya, dilihatnya hanya pengunjung lain yang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Nayla kembali melihat kartu ucapan tersebut, Ia memperhatikan tulisan dikartu ucapan itu dan membaliknya, matanya membesar ketika melihat sebuat nama yang tertulis dikartu itu ‘Danny’ ucap batin Nayla. Danny adalah mantan pacar Nayla ketika Ia baru masuk SMA, mereka bertemu saat masa orientasi sekolah. Danny juga merupakan pacar pertama Nayla, namun hubungan mereka hanya bertahan selama 6 bulan karena Danny harus pindah ke luar negeri mengikuti ayahnya. Sejujurnya perasaan Nayla pada Danny belum sepenuhnya hilang.
“Hai” Seseorang yang tadi memperhatikan Nayla dari kejauhan tiba-tiba sudah berada dihadapannya. Nayla mengangkat kepalanya dan melihat wajah orang yang saat itu sedang tersenyum dihadapannya. Ia tak berkata apa-apa, Nayla hanya menatap orang itu dengan tatapan yang tajam lalu berdiri dan mencoba pergi dari tempatnya.
“Nay, tunggu dulu. Aku mau minta maaf” Ucap orang itu sambil menahan lengan Nayla
“Udah Dan, aku udah maafin kamu jadi gak usah sok sok manis dengan ngasih bunga kayak gini” Nayla melempar sebucket bunga yang Ia pegang kebangku yang Ia duduki, wajah Nayla seakan mengatakan bahwa masih ada kekecewaan dihatinya
“Nay please, aku pengen ngomong”
 “Mau ngomong apa? Udah ya Dan, aku udah bisa lupain kamu, kamu pikir enak ditinggalin gitu aja” Nayla menatap orang itu yang ternyata adalah Danny sambil mencoba untuk tetap tenang
“Makanya aku mau ngomong dulu, aku mau jelasin ke kamu”
“Aku bilang aku udah maafin kamu, kamu ninggalin aku gitu aja, aku udah bisa terima hal itu, jadi gak perlu kamu jelasin apa-apa lagi karna gak ada pengaruhnya juga bagi aku” Nayla mencoba melepaskan genggaman Danny dari lengannya. Tiba-tiba ada seseorang yang langsung menggenggam tangan Danny agar melepaskan tangan Nayla.
“Lepasin gak” Ucap Vano dengan tatapan tajam kearah Danny. Danny pun tanpa berkata-kata lagi segera melepaskan genggamannya dari lengan Nayla begitu juga dengan Vano.
“Ka Vano, tolong kasih aku waktu buat bicara sama Nayla” Pinta Danny, saat itu Vano menatap Nayla seakan bertanya pertanyaan yang sama dan Nayla pun menggelengkan kepalanya seakan mengerti arti tatapan Vano.
“Nayla gak mau bicara lagi sama kamu, orang udah gak mau ngapain dipaksain sih. Yuk Nay” Ujar Vano sambil merangkul Nayla dan berjalan pergi meninggalkan Danny yang masih terpaku ditempatnya.
Saat dalam perjalanan pulang Nayla menatap kosong kearah jendela mobil. Dalam lamunannya teringat saat Danny meninggalkannya secara tiba-tiba, tanpa kabar dan tanpa pesan apapun sesaat sebelum keberangkatan Danny. Sampai akhirnya Ia mendapat pesan diponselnya bahwa Danny akan segera berangkat ke Singapura mengikuti ayahnya.
‘Maaf Nay, aku harus pergi. Ayah aku pindah ke Singapura, maaf baru bisa ngabarin sekarang. Kita juga gak bakalan bisa LDR kan. Kamu baik-baik ya. Danny’ Pesan Danny padanya teringat kembali bersama sakit hati yang Ia rasakan saat itu
“Nay…” Panggilan Vano memecah lamunan Nayla
“Eh iya kak?”
“Udahlah gak usah dipikirin, lagian ngapain sih dia dateng lagi”
“Gak tau kak”
“Kamu masih punya perasaan ya sama dia?” Pertanyaan Vano membuat Nayla terdiam sejenak
“Gak lah kak, ngapain nyimpen perasaan ke orang kayak dia”
“Iya, dia juga gak pantes lagi dapet sayang dari kamu” ucapan Vano membuat Nayla sedikit tertawa
“Terus yang pantes siapa kak?”
“Aku lah” Vano dan Nayla pun tertawa memecahkan keheningan malam itu. Vano menyalakan radio pada mobilnya, terdengar lagu dari Mocca yang berjudul I Remember. Ini merupakan lagu kesukaan Vano dan Nayla sejak mereka masih dibangku Sekolah Dasar, lagu dengan lirik sederhana namun memiliki arti yang cukup dalam bagi mereka.
“Eh kak, besarin dong lagu kita nih” Nayla kemudian mulai menyanyi dengan suara cemprengnya yang khas
“Kamu sadar gak sih suara kamu tuh cempreng banget, dibagusin dikit kek” Vano tertawa kecil
“Ini udah dibagusin kak”
I remember..
All the things that we shared,
and the promise we made,
just you and I
I remember..
All the laughter we shared,
all the wishes we made,
upon the roof at dawn

Mereka berdua pun bernyanyi dengan suara seadanya sambil memperagakan gaya khas mereka masing-masing seakan berada disebuah konser. Nayla terlihat tertawa lepas begitu pun dengan Vano. Vano memang selalu berhasil dalam hal menghibur Nayla bahkan dengan keadaan yang terburuk sekalipun.
***
DANNY
Siang itu matahari bersinar begitu cerah dan pelajaran dalam kelas baru saja berakhir, Nayla dan Fika terlihat sibuk memasukkan buku-buku mereka kedalam tas ranselnya.
“Nay, kita kekantin yuk” Ajak Fika setelah selesai membereskan segala peralatan tulisnya
“Emang masih ada yang buka ya jam segini?”
“Masih kok, yuk.. leher gue kering banget nih butuh yang seger-seger”
“Yaudah yuk” Nayla dan Fiak pun beranjak dari tempat mereka menuju ke kantin sekolah. sesampainya dikantin, Nayla dan Fika duduk berhadapan setelah memesan dua gelas es jeruk.
“Nay, jadi gimana?” Fika memulai percakapan yang membuat Nayla mengkerutkan keningnya
“Gimana apanya?”
“Katanya kemaren lu ketemu sama Danny” Ucap Fika sambil menerima pesanan es jeruk mereka dan tersenyum pada pelayannya
“Makasih” Ucap Nayla pelan pada pelayan yang mengantarkan es jeruk mereka
“Yah gitu aja sih, masa nih ya.. dia nyuruh anak kecil buat ngasih gue bunga, awalnya sih gue pikir itu kan udah biasa, tapi ucapannya kali ini agak beda gitu dan setelah gue balik kertasnya ternyata disitu ada tulisan nama Danny. Horror gak tuh” Jelas Nayla
“Kok horror sih Nay, romantis kek” Fika berkata dengan polosnya sambil mengaduk-ngaduk es jeruk dihadapannya
“Idih romantis pala lu”
“Eh tunggu deh Nay” Ucap Fika, dari raut wajahnya Ia seperti sedang memikirkan sesuatu
“Apaan?” Tanya Nayla penasaran
“Dia ngasih kamu bunga lewat anak kecil?”
“Iya”
“Kamu inget gak, kamu pernah dapet coklat dari anak kecil juga” Fika mulai berpendapat, Nayla pun mengingat kembali hal yang dikatakan Fika.
“Iya inget, itu kan dari anak ibu kantin ini” mereka berdua pun saling menatap seolah berbicara dalam tatapannya jika mereka memiliki pemikiran yang sama
“Jangan-jangan yang selama ini ngasih bunga, coklat, dan sebagainya itu…” Nayla enggan meneruskan perkataannya
“Danny” Sambung Fika
“Gak mungkin, gak.. please jangan dia” Nayla seakan tak menerima hal ini
“Tapi kalau emang dia, gimana dong Nay”
“Kenapa harus dia sih, gue tuh berharap siapa kek gitu...”
“Siapa Nay” Fika mulai mengeluarkan nada merayunya
“Siapa aja asal jangan Danny”
“Lagian gue heran deh sama Danny, kok bisa-bisanya sih dia kayak gitu. Padahal kan setau gue dia orangnya baik”
“Kalau dia baik dia gak bakalan ninggalin gue gitu aja Fik”
“Iya sih, makanya gue bilang kok bisa-bisanya dia ngilang gitu. Paling gak kan dia bisa jelasin ke lo dulu rencananya mau ngilang gitu”
“Ada ya orang ngilang pamit dulu”
“Hehehee” Fika nyengir
“Tapi lo udah gak ada perasaan apa-apa kan ke dia?” pertanyaan Fika membuat Nayla terdiam sejenak
“Gak lah” Ujar Nayla
“Iya Nay gak usah. Orang dianya yang ninggalin lu, gue rasa dia bakalan nyesel deh”
“Gue udah gak peduli Fik dia nyesel apa gimana itu urusan dia” tiba-tiba terdengar ringtone ponsel milik Nayla yang menandakan ada sebuah panggilan, Nayla pun segera menerimanya
“Nay dimana?” terdengar suara Vano diseberang sana
“Ada nih dikantin sama Fika, kakak udah dari ruang kepsek?”
“Udah ini juga baru keluar, aku nyusul kesana ya”
“Okee” Nayla menutup teleponnya
“Oh.. my.. god..” Fika terdiam, seakan tak percaya dengan apa yang Ia lihat
“Kenapa Fik?” tanya Nayla penasaran
“Lo gak bakalan percaya dengan apa yang bakal lo liat” perkataan Fika membuat Nayla semakin penasaran. Perlahan Nayla pun menoleh kebelakang, Ia terkejut dengan apa yang dilihatnya.
“Danny” Ucap Nayla ketika melihat Danny sudah berada disampingnya
“Hai Nayla, hai Fika, lama ya gak ketemu” Ujar Danny dengan senyuman lebarnya, tak dapat dipungkiri Danny memang memiliki senyuman yang memikat. Fika hanya dapat membalas senyuman Danny dan kembali mengarahkan pandangannya pada Nayla
“Ngapain disini?” Tanya Nayla
“Aku hanya berkunjung ke sekolah lama” Jawab Danny dengan santainya
“Duduk sini ya” Sambungnya
No… gak boleh” Nayla dengan cepat menaruh tasnya ditempat yang hendak diduduki Danny
“Aku duduk disamping Fika aja kalau gitu” Danny segera duduk disamping Fika, menghindari Fika juga akan melakukan hal yang sama padanya. Sementara itu Fika hanya bisa terdiam dengan senyuman anehnya, Ia tidak tahu harus berbuat apa. Nayla dan Fika saling melihat seakan berkomunikasi dalam tatapan mereka
“Nay, kamu masih gak mau bicara ama aku?” Ucap Danny
“Emang gak ada tempat lain yang bisa kamu datengin” Ujar Nayla dengan wajah juteknya
“Kan yang ada kamunya disini doang” perkataan Danny sontak membuat Nayla kembali mengkerutkan keningnya. Tiba-tiba dari kejauhan Vano melihat Danny sedang duduk bersama Nayla dan Fika, Ia pun mempercepat langkahnya berjalan ke arah mereka.
“Ngapain dia disini Nay?” Tanya Vano setelah menghampiri mereka, Nayla hanya menggelengkan kepalanya
“Duduk disini kak” Nayla mengambil tasnya yang tadinya Ia letakkan, Vano pun duduk disamping Nayla dan berhadapan dengan Danny
“Kak Vano masih sama ya kayak dulu, selalu ngejagain Nayla” Ujar Danny
“Iya, terutama ngejagain dia dari orang kayak lu” Vano memasang wajah datarnya, dengan wajah seperti itu siapa pun akan takut berhadapan dengannya. Nayla merasa sangat dilindungi jika Vano sudah berada disampingnya
“Kak, tolong dong kasih kesempatan saya buat bicara sama Nayla” Pinta Danny dengan wajah memelasnya
“Kok mintanya sama saya, nih tanya sendiri sama Nayla, dia mau gak bicara sama kamu” Vano melihat kearah Nayla
“Mau bicara apalagi sih?” Tanya Nayla, kali ini Ia sudah lebih tenang menghadapi Danny
“Aku gak mau kamu salah paham lagi, aku mau jelasin semuanya termasuk kenapa waktu itu aku baru ngabarin kamu pas udah mau berangkat”
“Yaudah jelasin aja sekarang” Ucap Nayla, Danny melihat kearah Vano yang masih memandangnya lalu Ia melihat lagi Fika yang juga memandangnya dan kembali melihat Nayla
“Aku gak mungkin bicara kalau gini keadaannya”
“Jadi maksud kamu, aku sama Kak Vano ganggu gitu” Sahut Fika dengan polosnya
“Kalau kamu emang mau bicara dan jelasin semuanya, jelasin sekarang dengan Kak Vano dan Fika tetep disini atau gak sama sekali” tegas Nayla, Danny terdiam berpikir sejenak
“Hai semua” Sapa Aldo yang tiba-tiba datang memecah keheningan
“Eh? Danny ya? Danny kan? Kok baru keliatan sih Dan, kemana aja” Sambung Aldo, tidak jauh polosnya dengan Fika. Aldo tidak mengetahui persoalan yang terjadi antara Nayla dan Danny, Ia hanya mengenal Danny karena mereka yang sering main basket bersama saat awal masuk sekolah. Ia hanya tahu bahwa Danny memang sempat memiliki hubungan dengan Nayla namun tidak mengetahui akhir hubungan mereka.
“Iya, baru sempet ke Indonesia lagi” Jawab Danny
“Seneng dong ketemu Nayla lagi” Perkataan Aldo membuat Fika membesarkan matanya pada Aldo sebagai tanda bahwa ada yang salah dari ucapannya. Aldo yang mengerti itu segera mengalihkan pembicaraannya
“Eh iya, Fik belum mau balik? Balik sekarang yuk” Ajak Aldo, Fika melihat kearah Nayla
“Iya Fik balik aja gak apa-apa, aku juga bentar lagi bakal balik kok sama Kak Vano” Ujar Nayla
“Yaudah balik duluan ya semua, bye…” Fika beranjak dari tempatnya dan pergi bersama Aldo.
“Duluan yaa” Sambung Aldo yang saat itu menyisakan Nayla, Vano dan Danny
“Kalau mau ngomong, sekarang aja, aku gak punya waktu lain lagi” Kata Nayla membuka percakapan, Danny melihat Vano yang menatap tajam kearahnya, seakan siap menerkam Danny jika menyakiti Nayla
“Okay, pertama-tama, aku mau minta sama Ka Vano tolong matanya biasa aja, aku gak bakalan ngapa-ngapain Nayla kok” Ucap Danny yang membuat Nayla melihat kearah Vano diiringi dengan senyuman kecilnya
“Saya biasa aja kok” Kata Vano santai
“Oke, aku bener-bener minta maaf udah ninggalin kamu Nay, waktu itu aku bingung, gak tahu harus gimana, papa tiba-tiba mutusin buat pindah dan ngurus semuanya dengan keputusan dia tanpa nanya apa-apa dulu ke aku” Jelas Danny
“Aku gak mau lebih nyakitin kamu, jadi aku putuskan untuk menghilang aja dari hidup kamu Nay”
“Terus?” Nayla mulai merasa kasihan terhadap Danny, namun itu tak ditunjukkannya, Ia tetap dengan wajah tanpa ekspresi seolah tidak peduli dengan alasan Danny
“Ternyata aku gak bisa, aku gak bisa lupain kamu, disana aku ketemu banyak cewek tapi tetep aja aku gak bisa lupain kamu. Aku ke sini untuk nemuin kamu, untuk memperbaiki hubungan kita”
“Yaudah kalau itu tujuan kamu, hubungan kita sekarang udah baik. Jadi kamu bisa pulang sekarang. Yuk kak” Kata Nayla sambil beranjak akan pergi namun tangannya segera di tahan oleh Danny, seiring dengan itu, Vano dengan cepat menepis tangan Danny
“Gak perlu pegang-pegang” Ucap Vano
“Nay, tolong Nay, aku salah, tolong maafin aku”
“Aku udah lama maafin kamu, jadi udah kan”
“Maksud aku, tolong beri aku kesempatan lagi, aku sayang banget sama kamu Nay” Ucap Danny memelas
“Gak segampang itu Dan” Nayla berdiri sambil mengambil tasnya dan segera pergi disusul oleh Vano tanpa berkata apa-apa. Danny hanya bisa terdiam melihat mereka yang berjalan meninggalkannya, Ia terus melihat sambil terus memikirkan cara untuk dapat mendekati Nayla kembali.
Dalam perjalanan pulang, Nayla hanya diam, Ia hanya menatap kosong kearah jendela mobil, melihat jalanan yang terus bergantian. Vano yang menyadari hal itu pun memulai pembicaraan
“Nay, kamu gak apa-apa?” Tanya Vano memecah keheningan
“Gak apa-apa maksudnya?” Nayla mengalihkan pandangannya pada Vano yang sedang mengemudi
“Soal Danny”
“Oh, ya gak lah” Nayla kembali melihat kearah jendela
“Tapi kok dari tadi diem, mikiran dia ya?”
“Gak lah, kaka apaan sih”
“Kamu gak pernah bisa bohong dari aku loh Nay” Ucap Vano, membuat Nayla menghela napas
“Menurut kakak, omongan dia serius gak sih?”
“Kamu mau aku jawab jujur nyakitin atau bohong nyenengin?”
“Ya jujur lah”
“Kalau aku lihat dari matanya sih, gak ada penyesalan sama sekali. Dia PD banget bisa dapetin kamu lagi”
“Kakak yakin?”
“Kenapa? Kamu mulai luluh ya?”
“Bukan gitu kak, aku tuh tahu banget gimana papanya Danny, yah aku kasian aja sama dia, papanya selalu mutusin arah kehidupannya Danny tanpa mau tau apa mau Danny”
“Kamu yakin papanya kayak gitu?”
“Dari cerita Danny sih gitu. Em.. menurut ka Vano, kalau aku ngasih kesempatan ke Danny lagi? gimana?”
“Yah aku sih terserah kamu, selama itu buat kamu seneng, ya aku juga seneng. Katanya kamu udah gak punya perasaan apa-apa sama dia”
“Aku juga gak ngerti kak, liat dia kok jadi kasihan gini”
“Kamu tuh hatinya gampang luluh, susah bedain mana sayang mana kasihan”
“Udah ah, ganti topik. Mampir makan dulu yuk, laper”
“Nay, tadi kan abis dari kantin”
“Ka Vano tadi cuman minum doang mana kenyang”
“Kecil kecil makannya banyak”
“Biarin, daripada kaka makan dikit langsung besar” Tawa Nayla diakhir ucapannya, disusul dengan tawa kecil dari Vano.
***
Sejak Danny kembali datang, Ia selalu mengunjungi Nayla meskipun tak pernah disambut baik oleh Nayla. Datang kesekolah saat jam pulang sekolah, kerumah Nayla bertemu dengan mamanya bahkan selalu menghubungi Nayla seakan-akan pesan itu akan dibalas oleh Nayla.
“Nay, udah ada yang jemput tuh” Kata Mama Nayla saat Nayla keluar dari kamarnya untuk bersiap pergi ke sekolah
“Ha? Ka Vano?”
“Mama gak tahu, tapi dari tadi pagi udah didepan tuh”
“Yaudah deh, Nayla pergi dulu yah ma”
“Gak sarapan dulu?”
“Ntar disekolah”
“Yaudah, kasian tuh yang jemput udah lama nungguin”
“Iya pergi ya mah” Pamit Nayla sambil mengecup kedua pipi mamanya, Nayla mengira bahwa orang yang menjemputnya adalah Vano. Saat Nayla berjalan menuju mobil tersebut, orang yang berada dalam mobil segera turun danberlari pelan membuka pintu mobil untuk Nayla
“Pagi Nay, berangkat yuk” Sapa Danny dengan senyuman lebar
“Danny? Ngapain?” Nayla terkejut
“Jemput kamu”
“Aku perginya bareng Ka Vano”
“Sekali-sekali bareng aku lah, lagian Ka Vano juga belum jemput kan” Ucap Danny, Nayla terdiam sambil berpikir akan menerima tawaran Danny atau menunggu Vano
“Aku udah nungguin dari tadi loh, yuk” Ucap Danny, akhirnya Nayla pun menerima ajakan Danny, Ia masuk kedalam mobil Danny dan Danny pun menutup kembali mobilnya dengan senyuman lebar kemudian melanjutkan perjalanannya untuk mengantar Nayla ke sekolah.
Saat mobil milik Danny baru saja dijalankan, beberapa detik kemudian mobil milik Vano datang. Vano keluar dari dalam mobilnya dan mengetuk pintu rumah Nayla
“Assalamualaikum” Ucap Vano sambil mengetuk pintu
“Walaikumsalam” Ucap mama Nayla sambil membuka pintunya
“Nayla udah siap tan?”
“Vano? Tante pikir tadi Nayla udah berangkat sama kamu”
“Aku baru aja nyampe tan”
“Oh, Nayla udah berangkat baru aja”
“Sama siapa tan?”
“Tante juga gak tahu, tapi dari pagi udah ada yang nungguin didepan. Tante pikir itu kamu”
“Bukan tan, yaudah saya permisi ya tante” Pamit Vano
“Iya, hati-hati” Kata mama Vano sambil kembali menutup pintunya. Dalam mobilnya, Vano mengambil ponsel dan segera menghubungi Nayla
“Halo” Ucap Nayla setelah menerima telepon Vano
“Nay, kamu berangkat sama siapa?”
“Sama Danny kak, ntar aku ceritain ya” Kata Nayla sedikit mengecilkan suaranya
“Oh yaudah, aku juga dijalan kesekolah”
“Iya kak, bye” Nayla menutup teleponnya
***
Saat jam istirahat, dikantin Nayla menceritakan kejadian yang dialaminya pagi tadi pada Fika dan Vano yang berada dihadapannya. Vano memaklumi keputusan Nayla begitupun dengan Fika.
“Jadi, Danny dikasih kesempatan lagi nih?” Tanya Fika
“Gak gitu juga sih, ya gak ada salahnya kan kita berteman” Jawab Nayla
“Yang penting dia gak nyakitin kamu lagi” Kata Vano
“Ka Vano tenang aja lagi” Kata Nayla seiring dengan bel masuk pelajaran selanjutnya
“Udah bel, yuk” Ajak Fika
“Iya yuk, bayar dulu tapi” Kata Nayla sambil beranjak dari tempat duduknya diikuti oleh Vano dan Fika
“Bu, ini ya” Ucap Nayla pada ibu pemilik kantin sambil membayar pesanannya
“Neng, ini ada titipan untuk neng” Kata ibu pemilik kantin sambil memeberikan seikat bunga edelweiss pada Nayla
“Dari siapa bu?” Tanya Nayla sambil mengambil bunga itu
“Gak tau, cuman niti tadi” Jawab ibu itu.
‘Aku senang lihat kamu senang’ Nayla tersenyum membaca tulisan disebuah kertas kecil yang berada didalam bunga itu.
“Dari siapa Nay?” Tanya Fika
“Biasa, my secret admirer” Jawab Nayla sambil tertawa kecil diakhir perkataannya
“Wah, kali ini edelweiss ya” Ucap Fika
“Apa sih?” Tanya Vano heran
“Itu kak, Nayla’s secret admirer” Kata Fika juga dengan tawa kecil
“Apaan tuh, paling juga orang iseng” Ucap Vano sambil melirik bunga yang dipegang Nayla.
***
Semenjak hari itu, Nayla dan Danny sering jalan bersama. Mereka pergi nonton, makan, shopping, bahkan Danny sesekali menjemput Nayla disekolah. Sementara Vano yang disibukkan dengan persiapan pelepasan jabatannya sebagai pengurus OSIS, hanya bisa mengawasi Nayla lewat ponselnya. Kekhawatiran Vano membuatnya selalu menghubungi Nayla untuk memastikan bahwa Nayla baik-bak saja, perlakuan Vano bukan tanpa alasan, Ia tahu betul bagaimana Danny meninggalkan Nayla dan sesungguhnya Ia belum percaya sepenuhnya bahwa Danny telah berubah.
“Cowok yang bareng Nayla, itu mantan dia ya?” Tanya Rio saat mereka sedang duduk santai diruang OSIS
“Iya” Jawab Vano
“Mereka balikan?”
“Gak lah, gue sebenarnya agak kurang suka sama Danny. Dia tahu kelemahan Nayla, gampang luluh, gampang percaya sama orang, gue liat dia manfaatin itu dan gue gak suka” Jelas Vano
“Terus kenapa lu biarin?”
“Lu tau sendiri lah, gue gak mungkin bilang ini ke dia, pasti dia malah nyerang gue balik, bilang gue terlalu negative thinking ke orang”
“Tapi kalau Danny bener kayak yang apa lo bilang, gimana?”
“Yah gue hanya bisa hibur dia lagi, dan gue gak bakalan diam aja kali ini”
“Kalau emang bener kayak gitu, berarti lo biarin Nayla sakit lagi dong”
“Bukan gitu Yo, gue biarin dia milih jalan hidupnya sendiri, kalau emang nyatanya yang gue pikir ini bener, yah dia harus belajar, gak semua orang bisa dipercaya kayak pikiran dia, apalagi orang kayak Danny”
“Lu kenapa gak jujur aja sih sama dia?”
“Maksud lu?”
“Soal……” Rio menghentikan perkataannya
“Apa? gak Yo, dia jangan tahu dulu. Belum saatnya”
“Ntar dia marahin gue loh kalau dia lambat tahu”
“Dia tuh kalau marah lucu lagi, tapi tetep nakutin juga. Jangan tatap matanya kalau dia marah, ngeri”
“Apaan sih” Rio tertawa kecil
Hingga saat malam tiba, Vano tidak membiarkan chat nya bersama Nayla putus, Ia terus menanyakan dimana keberadaan Nayla. Sementara Nayla masih bersama dengan Danny
“Besok gue berangkat loh Nay” Kata Danny
“Pesawat jam berapa?” Tanya Nayla
“Jam 10 pagi” Jawab Danny
“Oh, terus kita kemana nih?”
“Ntar juga bakal tau”
“Dan, serius.. kita kemana?”
“Bentar lagi nyampe kok, tenang aja”
“Dan, gue nanya, kita kemana?” Nayla mulai meninggikan suaranya, sampai akhirnya mobil Danny berhenti didepan sebuah club.
“Yuk, turun udah nyampe” Ajak Danny
“Dimana ini Dan?” Tanya Nayla
“Tuh” Kata Danny sambil mengangkat sedikit kepalanya untuk menunjukkan tempatnya pada Nayla
“Club?” Nayla mengkerutkan keningnya
“Iya, kenapa sih? Have fun aja”
“Danny, aku gak suka tempat kayak gini. Kalau emang kamu mau kesini, masuk aja gak usah ngajak aku. Aku mau pulang” Kata Nayla sambil hendak akan keluar dari mobil namun ditahan oleh Danny
“Nay, kok jadi gak asik gini sih. Temen-temen aku nungguin didalem, aku mau kenalin kamu ke mereka”
“Enggak, kamu kan tahu aku gimana. Aku bukan anak party partyan dan aku gak suka”
“Bentar aja Nay, lagian kalau emang kamu gak suka yaudah gak usah dugem, duduk diem aja didalem”
“Kamu pikir aku bego, aku gak mau”
           

Ditempat lain diwaktu yang bersamaan
Vano dan Rio sedang berada dalam perjalanan menuju kesebuah tempat percetakan untuk mengecek poster buatan mereka sebagai kelengkapan diruang OSIS.
“Nayla dimana sih? Kok gak bales chat” Kata Vano seakan bertanya pada dirinya sendiri
“Mungkin lagi asik sama Danny” Ucap Rio
“Meskipun kayak gitu dia gak mungkin gak nge cek hp nya”
“Dia udah gede kali Van”
“Kalau dia perginya sama Fika walaupun sampe subuh juga gue gak bakalan khawatir. Ini perginya sama Danny”
“Ganti status aja deh Van, lu jadi bokapnya”
“Perasaan gue kok ga enak ya” Vano mengambil ponselnya, membuka sebuah aplikasi find my iphone yang sengaja Ia hubungkan dengan ponsel milik Nayla. Matanya membesar ketika melihat lokasi Nayla, Ia pun segera memutar balik mobilnya dengan cepat.
“Woy, santai bro” Kata Rio terkejut sambil refleks memegang pegangan pintu mobil
“Kita kemana sih? Ga jadi ke percetakan?” Tanya Rio bingung, namun tak dijawab oleh Vano. Vano terus mengemudi, matanya tajam melihat lurus kearah depan dan Rio hanya bisa diam.
Ditempat lain
Sementara itu, Nayla menahan amarahnya, Ia benar-benar merasa kesal dan tidak menyangka bahwa Danny ternyata tidak menghargainya.
“Dan, udah deh aku gak mau ribut. Aku mau pulang” Kata Nayla sambil menggenggam erat tasnya menahan amarah.
“Masa balik sih”
“Aku pulang sendiri”
“Enak aja, enggak. Udah sampe sini juga” Kata Danny, Ia kemudian turun dari mobilnya dan membuka pintu mobilnya untuk Nayla
“Apaan sih” Ucap Nayla
“Turun yuk”
“Kalau aku turun, aku bakal langsung pulang” Kata Nayla dengan sedikit meninggikan suaranya
“Nay jangan bikin aku emosi, mending kamu turun terus kita masuk sama-sama” Kata Danny
“Aku udah bilang enggak, ya enggak” Nayla mempertegas ucapannya
“Apa susahnya sih, tinggal masuk doang”
“Aku gak mau”
 “Jangan sok suci deh, club kayak gini mah tempat biasa”
“Buat kamu iya, aku enggak”
“Udahlah Nay, bawa have fun aja, ini hari terakhir aku disini”
“Teruuus?”
“Ya kita masuk”
“Harus berapa kali sih aku bilang, GAK MAU”
“Buat apa aku deketin kamu kemaren-kemaren kalau akhirnya kita gak kesini” Perkataan Danny membuat Nayla mengkerutkan keningnya
“Maksud kamu?”
“Lo pikir aku rela-relain deketin lo karena gue masih sayang sama lo? Gue udah janjian sama temen-temen gue bakal bawa cewe oke, disini cewe yang jalan sama gue yang paling oke menurut gue ya elo. Jangan buat gue malu deh”
“Jadi kamu manfaatin aku? Kamu cuman mau nunjukin aku ke temen-temen kamu gitu?” Nayla meninggikan suaranya, Ia merasa amarahnya benar-benar akan meledak
“Iyalah, gue mau nunjukin ke temen-temen gue kalau cewe yang bareng sama gue tuh paling oke. Udah deh, lu tuh cantik makanya gue pilih buat nemenin gue malam ini”
“Gue gak nyangka pikiran lo sesempit itu”
“Selama disini kan gue juga butuh temen jalan Nay, lo orangnya paling asik, gak banyak mau, gak kayak cewek lain, seharusnya lo bersyukur gue milih lo buat nemenin gue”
“Sakit jiwa lo Dan” Nayla segera turun dari mobil dan hendak pergi meninggalkan Danny namun Danny segera menahannya
“Mo kemana? Lu gak bakalan bisa kemana-mana kali ini. Ikut gue kedalem, apa susahnya sih”
“Gue gak mau, cari orang lain aja, lepasin” Nayla mencoba melepaskan genggaman Danny dari tangannya, namun kekuatannya kalah oleh kekuatan Danny
“Nay, lu tuh cantik kenapa gak lu manfaatin buat seneng-seneng aja sih bareng sama gue. Gue maunya elu, ya elu” Kata Danny
“Lepasin gak?” Vano tiba-tiba datang dan segera menepiskan tangan Danny dari Nayla
“Eh ada bodyguard nya” Ucap Danny sambil melihat sinis Vano
“Lu emang perlu dikasih pelajaran yah” Kata Vano
“Gue udah banyak dapet pelajar kali di sekolah” Kata Danny seiring dengan melayangnya pukulan Vano tepat diwajah Danny.
“Van.. Van.. tahan Van” Ucap Rio sambil menahan badan Vano untuk memukul Danny, Danny hanya tersenyum sinis kearah Vano
“Lu tau, Nayla tuh cewek paling polos yang pernah gue temuin, cewek kayak dia tuh seharusnya bisa seneng-seneng bareng gue ditempat kayak gini, biar dia tahu caranya nikmatin hidup” Kata Danny yang diiringi dengan pukulan dari Rio, pukulan dari Rio mengejutkan Vano, bukan hanya membuat Danny sampai terduduk, Rio terus memukul Danny seakan-akan tidak membiarkan Danny untuk bergerak sedikit pun
“Yo, udah yo” Ucap Vano sambil menahan Rio, saat itu Danny terduduk lemah tak dapat membalas pukulan dari Rio
“Mulut lo tuh disekolahin” Tegas Rio, sementara itu Vano merangkul Nayla yang terdiam tak bisa berkata apa-apa. Vano kemudian membawa Nayla untuk masuk kedalam mobil miliknya.
“Yo, ayo” Ajak Vano lalu Rio mengikuti langkah Vano meninggalkan Danny yang terduduk lemah. Entah mengapa, Danny hanya tersenyum sinis melihat Vano, Rio dan Nayla berjalan meninggalkan dirinya seakan-akan Ia puas dengan perlakuannya terhadap Nayla.
Dalam perjalanan, Nayla diam dengan air mata yang terus mengalir tanpa bersuara. Vano dan Rio juga diam, seakan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Vano terlihat fokus mengemudi, sementara Rio melihat kosong kearah jendela begitu pun dengan Nayla.
“Maaf” Ucap Nayla kemudian menghapus air mata dipipinya
“Kok minta maaf?” Tanya Vano
“Aku seharusnya dengerin Ka Vano, meskipun aku gak ada niat buat balikan sama Danny, tapi aku nemenin dia selama disini, padahal aku cuman mau nemenin dia sebagai teman gak lebih, tapi dia…..” Nayla tidak melanjutkan perkataannya
“Udah, lain kali kamu harus hati-hati. Gak semua orang bisa dipercaya sesuai sama harapan kamu” Kata Vano
“Makasih kak, aku gak tahu kalau gak ada kaka…” Nayla tidak dapat melanjutkan perkataannya karena segera dipotong oleh Vano
“Udah Nay, udah.. sekarang udah gak apa-apa kan?”
“Iya kak, makasih ya kak”
“Apaan sih, makasih makasih, kayak aku orang lain aja” Kata Vano, kemudian Ia teringat sesuatu
“Seharusnya makasih nih sama Rio, dia buat Danny jadi diem gak berkata apa-apa lagi” Sambung Vano
“Apaan sih” Rio bersuara
“Kak Rio bisa mukul juga yah” Kata Nayla
“Jangan asal Nay, SMP dulu dia pernah jadi anggota karate loh” Kata Vano
“Ini nih, ini dia nih, ngarang” Kata Rio sambil tersenyum kecil
“Siapa yang ngarang, orang bener kok” Kata Vano dengan tawa kecil diakhir perkataannya
“Kakak cocok deh berdua” Kata Nayla juga dengan tawa kecilnya
“Tuh kan Van, ketahuan deh kita” Kata Rio yang disambut dengan tawa lepas dari Nayla dan Vano
“Ih jijay” Ucap Vano. Mereka bertiga pun bercanda seadanya, mencoba melupakan kejadian malam ini.
***

LIBURAN TERINDAH
“Naylaaa…” Panggil Fika yang baru saja memasuki ruangan kelas, membuat semua orang dalam kelas melihat kearahnya. Nayla hanya bisa melihat Fika dengan tatapan heran
“Kamu gak apa-apa kan? Kamu gak minum alkohol kan?” Tanya Fika setelah duduk disamping Nayla
“Apaan sih ya enggak lah” Jawab Nayla
“Emang ya Danny brengsek”
“Males banget denger namanya” Kata Nayla
“Iya aku juga males nyebut namanya” Kata Fika
“Hahaha apaan sih”
“Yaudah pokoknya jangan ada Danny Danny lagi, waktu kamu nelpon semalem kesel banget gue dengernya”
“Yaudah gak usah bicarain dia lagi kalau gitu”
“Iya deh hehehe” Fika nyengir kemudian melanjutkan perkataannya
“Ohiya Nay, kemaren kan papaku udah nyewa vila di puncak untuk penelitian, tapi ternyata penelitiannya pindah lokasi, sayang dong vila nya batal mending buat kita aja yuk” Fika terlihat bersemangat
“Liburan gitu?”
“Iya Nay, weekend ini, semalem doang kok”
“Berdua?”
“Ya kali Nay berdua doang, ajak Ka Vano juga sama siapa tuh temen-temennya Ka Vano, terus aku ngajak Aldo juga hehehe”
“Kedengerannya asik” Ucap Nayla
“Ya pasti asik lah Nay, ntar bilangin ke Ka Vano ya”
“Yaudah okay” Kata Nayla
***
Saat jam istirahat tiba, seperti biasa Nayla berkumpul Bersama Fika dan Vano, namun kali ini ada Rio yang bergabung bersama mereka. Fika pun mengajak Vano dan Rio untuk ikut bersama mereka sesuai dengan rencananya.
“Boleh, gimana yo?” Kata Vano kemudian melihat kearah Rio
“Kok nanya sih” Ucap Rio
“Ikut ya kak” Ajak Nayla
“Yaudah deh iya” Kata Rio yang membuat Fika, Nayla dan Vano bersorak
“Aku ngajak Aldo juga kok” Kata Fika
“Itu sih gak perlu dibilangin udah pasti dia ikut” Kata Vano
“Ntar kita barbecuean yey asik” Sahut Fika
“Ajak temen kakak yang lain juga biar rame” Kata Nayla
“Ntar deh coba ngajak yang lain” Kata Vano
“Perginya pake mobil Vano kan ya?” Ucap Rio
“Iyalah, kan mobil kak Vano paling gede” Sambung Nayla
“Mobilku tumbal lagi nih” Kata Vano yang disambut tawa oleh yang lainnya.
Hari pun terus berlanjut, sampai akhirnya weekend pun tiba dan mereka mempersiapkan segala keperluannya. Mereka kumpul dirumah Nayla dan mengecek barang bawaan mereka.
“Hai, aku bawa Damar nih” Kata Rio yang baru saja sampai dirumah Nayla
“Hai Ka Damar” Sapa Nayla dan Fika hamper bersamaan
“Faldi sama Doni gak ikut?” Tanya Vano
“Mereka ada urusan, jadi gak bisa ikut” Jawab Damar
“Oh iya Ka Damar, kenalin ini Aldo” Kata Fika memperkenalkan Aldo
“Oh, Damar” Ucap Damar sambil menyodorkan tangannya yang disambut segera oleh Aldo
“Aldo, pacar Fika” Aldo memperkenalkan dirinya
“Pacar Fika nya gak perlu diperjelas kali Al hahaha” Kata Nayla yang disambung dengan tawa kecilnya
“Udah siap kan semua?” Tanya Vano
“Tas udah masuk semua?” Sambung Rio
“Iya udah” Jawab Fika dan Nayla hamper bersamaan
“Yaudah berangkat sekarang yuk” Ajak Vano
“Eh doa dulu” Kata Damar
“Oh iya ya yaudah” Ucap Rio sambil menundukkan kepalanya diikuti oleh Vano, Nayla, Fika, Aldo dan Damar
“Amiiin” Ucap Rio diikuti oleh yang lainnya
“Ayo” Ajak Vano sambil berjalan menuju mobilnya begitu pun dengan yan lainnya.
Dalam perjalanan mereka penuhi dengan candaan dan bernyanyi dengan suara seadanya diiringi musik yang melantun cukup keras. Seperti biasa, macet agak memperlambat perjalanan mereka. Mereka menikmati pemandangan kebun teh yang menyejukkan saat masuk dikawasan puncak. Akhirnya sore hari mereka sampai ditempat tujuan.
“Segeeer” Sahut Fika saat keluar dari dalam mobil, sementara itu Aldo, Rio dan Damar segera mengeluarkan tas dari dalam bagasi mobil. Vano meminta kunci vila pada penjaganya dan membuka pintu vila tersebut. Vila dengan ukuran sederhana, bangunannya yang dominasi menggunakan bahan kayu hitam menambah ciri khas bangunan ini.
“Kamarnya cuman dua” Kata Fika
“Gak apa-apa lah, kita cowo tidur di sofa juga gak masalah” Kata Rio
“Ini mau ditaro dimana?” Tanya Aldo yang sedang membawa dua tas ransel milik Fika dan Nayla
“Taruh dikamar yang ini aja Al” Jawab Fika sambil menunjuk salah satu kamar yang berada di vila itu, Aldo pun memasukkan tas yang dibawanya ke dalam kamar yang ditunjuk Fika
“Berarti untuk tas cowo dikamar yang satunya ya” Kata Damar sambil membawa masuk tas yang dibawanya setelah pintu kamar telah dibuka terlebih dahulu oleh Vano
“Mandi dulu lah” Ucap Rio sambil berjalan menuju salah satu kamar
“Jangan lama-lama, ngantri loh kita” Kata Vano
“Iya ih bawel” Rio mencolek hidung Vano seperti wanita yang menggoda, membuat Nayla dan Fika tertawa melihat tingkah lucu Rio
“Kak Rio ternyata suka ngelucu juga ya” Kata Nayla
“Sapa yang ngelucu, itu asli tau” Kata Rio
“Idih amit amit, kalau asli beneran tau rasa lu” Ucap Vano
“Astagfirullahalazim” Ucap Rio sambil berjalan masuk kedalam kamar
“Belum mau mandi?” Tanya Vano sambil duduk disamping Nayla
“Fika deluan deh” Jawab Nayla sambil melihat kearah Fika
“Iya gue dulu, Al udah semua ya barangnya?” Tanya Fika
“Iya udah kok” Jawab Aldo kemudian Fika pun masuk kedalam kamarnya
“Ka Rio sama Ka Damar mana?” Tanya Aldo sambil duduk disofa yang tidak jauh dari Vano
“Ada didalem lagi mandi” Jawab Vano
“Berdua?” Tanya Aldo dengan wajah terkejut
“Hahaha ya gak lah, mungkin mereka gantian” Jawab Vano yang diiringi dengan tawa Nayla
“Oh kirain hahaha” Ucap Aldo sambil tertawa kecil diakhir ucapannya
“Aku masuk ya, mau tiduran hehehe” Kata Nayla
“Oh yaudah, asal jangan ketiduran aja” Kata Vano
“Gak lah” Nayla kemudian beranjak dari tempatnya menuju kekamarnya. Vano melihat Nayla hingga masuk kedalam kamarnya.
Vano dan Aldo kemudian bercerita tentang banyak hal, Vano menawarkan Aldo untuk mengikuti pemilihan ketua osis tahun ini dan menjelaskan manfaat yang bisa Ia dapatkan saat menjadi ketua osis. Namun Aldo sepertinya lebih tertarik untuk fokus pada tim basketnya meskipun Vano telah menjelaskan bahwa menjadi ketua osis akan lebih menguntungkan bagi tim basketnya karena Ia dapat mengerti kebutuhan tim basket sekolah sehingga sekolah juga dapat lebih memperhatikan kebutuhan siswa diluar akademik. Sampai akhirnya jam tangan Vano berbunyi, seakan-akan sebagai alarm untuk mengingatkannya pada sesuatu. Vano pun mengeluarkan sesuatu dari dalam sling bag nya, sebuah botol putih berukuran kecil, Ia mengeluarkan dua pil kemudian dimasukkan sekaligus kedalam mulutnya yang diiringi dengan meminum air setelahnya, layaknya orang yang sedang minum obat. Disaat waktu yang bersamaan, Rio keluar dari dalam kamarnya.
“Ka Vano sakit?” Tanya Aldo setelah Vano selesai meminum airnya
“Enggak kok, ini vitamin aja biar gak kecapean” Jawab Vano santai
“Liat dong Ka” Pintah Aldo namun Rio segera datang menghampiri mereka
“Hey, cepetan mandi sana udah mau magrib” Rio menepuk pelan pundak Aldo
“Ka Damar udah?” Tanya Aldo
“Udah kok, cuman dia lagi tidur tuh” Jawab Rio
“Aku mau liat…” Aldo tidak dapat melanjutkan perkataanya karena segera dipotong oleh Rio
“Udah sana mandi, keburu maghrib” Kata Rio sambil menarik pelan tangan Aldo agar segera beranjak dari tempatnya. Aldo pun hanya bisa pasrah dan segera beranjak dari tempatnya tanpa berkata apa-apa lagi. setelah Aldo masuk kedalam kamar, Rio melihat Vano begitu pun dengan Vano, seakan-akan sedang berbicara melalui tatapan mereka.
***
Selepas shalat maghrib, mereka berenam mempersiapkan segala keperluan untuk barbecue pada malam itu. Nayla dan Fika mengatur dan melengkapi peralatan makan di meja berukuran sedang yang berada dihalaman belakang vila itu dengan kolam renang dan pemandangan lampu-lampu yang dapat mereka lihat dengan jelas. Sementara itu Rio dan Aldo bertugas untuk memanggang bahan yang sebelumnya telah disiapkan oleh Vano dan Damar.
Musik yang sengaja mereka putar dengan menggunakan sebuah speaker yang mereka bawa dari rumah Nayla menemani liburan mereka malam itu. Bercanda dan tertawa lepas bersama, malam itu seakan menjadi milik mereka. Sampai saat makan malam telah selesai, mereka memutuskan untuk bermain truth or dare, sebuah permainan yang sebenarnya sangat Nayla hindari. Rio mulai memutar botolnya, dan yang dapat giliran adalah Fika
“Masa aku sih” Fika tak terima
“Hayyo hayyooo” Sahut yang lain bergantian
Truth laaah” Kata Fika
“Okay, aku yang nanya. Nayla atau Aldo?” Tanya Vano
“Jahat ih, itu bukan pilihan lagi” Jawab Fika
“Jawab aja Fi” Sahut Damar
“Rese nih Ka Vano, beb kamu selalu dihati aku beb, tapi aku milih Nayla dulu ya” Jawab Fika sambil memeluk Nayla
“Gak apapa beb, kalau kamu duain aku sama Nayla sih aku ikhlas, asal jangan sama yang lain ya, cukup Nayla aja” Kata Aldo yang disambut sorakan dan tawa dari yang lain.
 “Okay next” Kata Fika sambil memutar botolnya, kali ini giliran Damar yang mendapatkannya
Truth” Ucap Damar
“Jujur ya, siapa orang yang paling lu sayang banget di band kita?” Tanya Rio
“Gue sayang semuanya lah, sama aja” Jawab Damar
“Gak, pasti ada satu orang yang lu utamain” Timpal Rio
“Kalau yang paling gue hargain sih ya, elu Van” Kata Damar
“Kenapa gue?” Tanya Vano
“Gue juga gak tahu, lu tuh seakan jantung band kita, kalau kita ada apa-apa selalu lu kan yang ngurus, ya gak?” Jawab Damar kemudian seakan beratanya pada Rio
“Ah lu nih, lu mau nikung gue ya nyari perhatiannya Vano?” Ucap Rio memulai candaannya, hal ini dsambut tawa oleh Nayla, Fika dan Aldo
“Udah udah apaan sih” Kata Vano masih dengan sisa tawanya. Damar memutar kembali botolnya dan giliran selanjutnya adalah Vano
Truth deh” Ucap Vano
“Aku nanya, selama ini ada gak yang Ka Vano sembunyiin dari aku?” Tanya Nayla sambil senyum dan mengangkat alisnya, seakan yakin bahwa Vano akan menjawab tidak ada. Vano melihat kearah Rio yang juga sedang melihat Vano, kemudian Vano mengalihkan pandangannya dari Rio dan kembali melihat Nayla
“Ada” Jawab Vano, membuat suasana menjadi hening, senyuman diwajah Nayla perlahan hilang
“Apa?” Tanya Nayla
“Hahaha bukan apa-apa kok, nanti kamu juga tahu kalau udah waktunya, sayangnya sekarang belum dulu” Kata Vano dengan tawa kecilnya, Nayla sama sekali tidak tertawa. Vano segera memutar kembali botolnya mengalihkan perhatian Nayla dan kepala botol itu mengarah pada Rio
“Gue pilih dare” Ucap Rio disambut sorakan yang lain
“Beneran ya?” Tanya Vano meyakinkan
“Iya” Jawab Rio yakin
“Ka Rio kirim sms sekarang ke Pak Indra bilang ‘Hai pak, udah makan?’ gitu” Kata Aldo yang disambut tawa oleh Fika, Nayla, Vano dan Damar
“Pak Indra? Pak Indra wali kelas kita?” Tanya Rio
“Hahaha iya” Jawab Vano masih dengan sisa tawanya
“Mending gue sms kepsek deh, serius” Kata Rio
“Hahaha gak ada kak, harus Pak Indra” Tegas Aldo
“Tapi lu tau sendiri kan Pak Indra gimana” Rio memelas
“Gak ada tapi tapi, lu pilih dare ya tadi” Kata Damar
“Sini hp lu” Pintah Vano dan Rio pun pasrah memberikan ponselnya pada Vano. Vano terlihat mengetik sesuatu diponsel milik Rio sementara Damar dan Aldo mendekat pada Vano, Nayla dan Fika tak dapat menahan tawa mereka
Send” Ucap Vano setelah itu mengembalikan ponsel milik Rio, tidak lama kemudian saat Rio hendak memutar botolnya, ponselnya berdering, Ia membuka sebuah pesan masuk. Matanya membesar, Ia kemudian melihat kearah Vano, Aldo dan Damar. Vano mengambil ponsel dari tangan Rio dan melihat pesan yang masuk Bersama dengan Aldo dan Damar.
“Belum nih, kenapa? Rio mau ngajak bapak makan ya? Ayo” Ucap Vano membaca pesan yang berada di layar ponsel milik Rio, seketika suasana menjadi ramai tawa kembali
“Ada tanda smile nya lagi” Kata Aldo masih dengan sisa tawanya
“Liat dong” Ucap Fika sambil mengambil ponsel milik Rio dari tangan Vano kemudian Fika melihatnya Bersama Nayla. Tawa mereka pun kembali lepas
“Tanggung jawab kalian bertiga” Rio berdiri seakan-akan siap menyerang Vano, Aldo dan Damar
“Apaan sih gak ada, siniin hp nya Fi, kita bales pesannya Pak Indra” Pinta Damar, sementara Aldo yang saat itu berada didekat Fika segera mengambil ponsel milik Rio sebelum Rio mengambilnya. Vano, Aldo dan Damar berlari menghindari Rio yang akan merebut kembali ponselnya. Mereka berempat berlarian di sekitar halaman belakang vila saat itu sementara Nayla dan Fika tidak berhenti tertawa, mereka berdua mengabadikan momen itu dengan foto dan video. Malam yang sangat menyenangkan bahkan menjadi salah satu liburan terindah bagi mereka. Bahkan membuat Nayla mengetahui satu hal bahwa Rio bukannya cowok dingin dan jutek seperti pikirannya bahkan leluconnya selalu dapat membuat Nayla tertawa.
Keesokkan harinya, saat matahari mulai menampakkan cahayanya, pagi itu mereka berenang di kolam renang yang berada di belakang vila, tempat mereka semalam untuk barbecue dan bermain. Aldo mulai terlihat akrab dengan Damar, Rio terlihat membaca buku sambil bersantai disisi Timur kolam, Ia orang pertama yang berenang sebelum Aldo dan Damar. Rio mengisi waktu istirahatnya dengan membaca, seakan tidak ingin ada waktu kosong yang disia-siakan begitu saja. Fika hanya duduk dipinggir kolam renang melihat Aldo dan Damar yang terus melakukan lomba renang seakan sedang berada di kejuaraan nasional. Vano dan Nayla duduk tidak jauh dari kolam renang.
“Kak, aku boleh nanya gak?” Tanya Nayla ditengah-tengah perbincangan mereka
“Nanya apa?” Sebenarnya Vano sudah bisa menebak pertanyaan Nayla
“Kenapa kaka nyembunyiin sesuatu dari aku?” Pertanyaan Nayla membuat Vano terdiam sejenak
“Nanti akan aku beritahu semuanya, tapi belum sekarang” Jawab Vano
“Kok?”
“Udah kamu tenang aja, semuanya baik-baik aja kok, kamu percaya kan sama aku” Vano meyakinkan Nayla
“Yaudah deh iya, gak apapa kalau Kak Vano belum mo kasih tahu sekarang, aku percaya kok sama Ka Vano” Kata Nayla kemudian tersenyum diakhir perkataannya, Ia memang sangat mempercayai Vano, mengenal Vano dalam hidupnya merupakan anugerah baginya.
“Renang yuk” Ajak Vano
“Aku kan gak tahu berenang Kak Vano” Kata Nayla
“Belajar” Ucap Vano sambil berdiri, Ia berlari-lari ditempat melakukan pemanasan, Ia pun siap untuk berenang, namun saat Ia mulai berlari pandangannya kabur dan telinganya berdenging membuatnya terduduk lemah.
“Ka Vano” Ucap Nayla sedikit berteriak saat melihat Vano terduduk lemah, Ia segera beranjak dari tempatnya berlari kecil kearah Vano. Rio yang mendengar suara Nayla segera belari kearah mereka berdua. Sementara Fika, Aldo dan Damar hanya terdiam kaget melihat Vano.
“Van, kenapa?” Tanya Rio khawatir
“Ka Vano gak apa-apa?” Tanya Nayla yang juga khawatir. Vano tidak menjawab, Ia berusaha menstabilkan keadaannya
“Gak apa-apa kok, tadi pusing aja dikit” Jawab Vano ketika merasa lebih baik. Fika, Aldo dan Damar segera menghampiri Vano
“Yakin kak? Gak biasanya Ka Vano begini” Kata Nayla
“Iya mungkin karena keseringan begadang kali, maklum lah” Ucap Vano
“Kak Vano udah minum vitaminnya?” Tanya Aldo yang membuat Rio melihat kearahnya
“Vitamin?” Tanya Nayla tak mengerti
“Iya vitamin, katanya biar gak kecapean” Jawab Aldo
“Yaudah, aku ambilin vitaminnya ya kak, kaka simpen dimana?” Tanya Nayla sambil hendak beranjak
“Biar aku aja Nay, kamu nemenin Vano aja” Kata Rio, yang hanya dibalas anggukan oleh Nayla.
“Udah lanjutin renangnya, gue gak apa-apa kok, cuman pusing dikit tadi” Kata Vano
“Lu nakutin gue ah, kirain lu mo pingsan tadi” Kata Damar
“Iya nih Ka Vano” Sambung Fika
“Lanjut lanjut, gue nyusul mo renang juga abis ini” Kata Vano, kemudian Fika, Aldo dan Damar pun kembali ketempat mereka semula
“Kaka yakin gak apa-apa?” Tanya Nayla
“Gak apa-apa Nay, tenang aja, akhir-akhir ini emang kadang kayak gitu” Jawab Vano
“Udah periksa kedokter?”
“Udah kok, anemia katanya, keseringan begadang, tapi udah gak apa-apa kok”
“Yaudah” Nayla duduk kembali menemani Vano, sementara itu dari balik jendela, Rio memperhatikan mereka.
Waktu pun terus berjalan, selesai berenang mereka bersiap-siap untuk pulang. Setelah semuanya siap, mereka keluar dari dalam vila dan Fika memberikan kunci pada penjaga vila tersebut.
“Pulang biar gue yang nyetir” Kata Rio pada Vano saat hendak masuk kedalam mobil
“Yakin? Bukannya lu paling males sama tikungan-tikungan jalan?” Tanya Vano
“Udah enggak” Jawab Rio kemudian masuk kedalam mobil, bersiap untuk mengemudi. Setelah semuanya telah masuk kedalam mobil, Rio pun mulai menjalankan mobilnya menuju kerumah Nayla, tempat awal mereka berkumpul.
Diperjalanan pulang, mereka tetap masih dengan sisa liburan yang menyenangkan, bercanda dan bernyanyi bersama hingga satu per satu diantara mereka tertidur disepanjang perjalanan.
***

PROM NIGHT
Siang itu merupakan jam pulang sekolah, didalam ruangan osis Vano sedang sibuk mencari sesuatu sampai akhirnya Nayla datang menyapanya
“Hei Kak” Sapa Nayla
“Hei Nay” Balas Vano”
“Lagi ngapain sih?” Tanya Nayla sambil duduk disalah satu kursi yang berada tidak jauh dari Vano
“Nyari note” Jawab Vano
“Note kaka yang biru kecil itu?”
“Iya yang sering aku bawa kemana-mana”
“Oh.. eh senin depan Kak Vano domisioner ya kan?”
“Iya, tapi tiga bulan lagi UN”
“Seminggu abis UN, ada prom kan?”
“Iya”
“Udah kepikiran belum Kak Vano pake kemeja warna apa?”
“Belum lah, masih lama juga”
“Aku kan mo jait baju, biar kita samaan gitu hehehe”
“Kamu pergi?” Vano mengalihkan pandangannya pada Nayla
“Iyalah”
“Bukannya perwakilan kelas ketua ama sekertaris aja ya?”
“Sekertaris aku gak bisa, yah aku lah yang gantiin”
“Terus Fika?”
“Fika kan nanti mo nari jadi pengisi acara”
“Oh iya yah” Vano kembali mencari notenya dengan mengangkat kertas-kertas yang terdapat di rak
“Aku ntar pilih warna bajunya, kemeja Ka Vano ngikut yah”
“Serah kamu deh, lagian belum tentu aku dapet kok prom nya”
“Ha? Maksudnya?” Tanya Nayla heran kemudian Vano terhenti melakukan aktivitasnya seakan teringat sesuatu
“Em.. kamu kan tahu, aku rencananya mau masuk univ yang di Bandung jadi yah mungkin aja pas prom aku berangkat gitu” Jawab Vano mencoba santai
“Gak asik ih, masa orang prom Ka Vano gak ikut”
“Kan aku bilang ‘kalau’ belum pasti kok, gak ada yang pasti”
“Yaudah, eh note kaka belum ketemu juga?”
“Belum nih, dimana ya tadi?” Kata Vano seakan bertanya pada dirinya sendiri
“Dalem tas?”
“Gak ada Nay tadi aku udah liat disitu”
“Masa sih” Nayla mengambil tas milik Vano yang berada didekatnya dan mengeluarkan semua isi tas tersebut. Ia sedikit terkejut melihat sebuah amplop dengan logo sebuah rumah sakit didepannya
“RS Kencana, kaka dari rumah sakit ya?” Tanya Nayla sambil hendak mengambil amplop itu namun Vano dengan cepat mengambil amplop yang dimaksud Nayla sebelum Nayla menyentuhnya
“Iya nih, itu yang waktu di puncak kemaren, dari hasilnya sih katanya anemia, udah ada obat juga kok” Jelas Vano melipat amplop itu dan dimasukkan kedalam saku celananya
“Oh gitu” Ucap Nayla tanpa curiga kemudian Ia melihat note yang Vano cari terselip dibuku-buku pelajaran milik Vano yang sebelumnya berada didalam tas
“Ini dia” Ucap Nayla sambil mengambil note itu dan memperlihatkannya pada Vano
“Tadi gak ada loh” Kata Vano
***
Tiga Bulan Kemudian
Ujian Nasional telah selesai, panitia pelaksana acara prom night disibukkan dengan persiapan sebelum hari H. Hari itu Nayla menemani Vano untuk mencari kemeja yang akan dikenakan saat acara Prom Night.
“Warna bajunya apa sih?” Tanya Vano sambil melihat Nayla yang sibuk memilih kemeja disebuah boutique yang berada didalam mall
“Tenang aja kak, warna gak pasaran kok” Jawab Nayla
“Oh ya kak, malam prom nanti band kakak tampil kan?” Lanjut Nayla
“Iya, buat ngisi acara katanya” Jawab Vano
“Bagus dong” Kata Nayla kemudian mengambil salah satu kemeja yang berada dihadapannya
“Cobain deh” Kata Nayla sambil memeberikan kemeja itu kepada Vano, kemeja dengan warna coklat nude
“Ini? Bagus juga” Ucap Vano
“Iya dong, yaudah sana coba” Kata Nayla sambil mendorong pelan pundak Vano.
Setelah selesai membeli sebuah kemeja, Vano dan Nayla keluar dari dalam boutique tersebut. Vano menghentikan langkahnya saat mereka berdua berjalan menuju tempat parkir, telinganya kembali berdering dan pandangannya tidak stabil. Ia mencoba tenang agar Nayla tidak mengkhawatirkan dirinya
“Ka Vano kenapa?” Tanya Nayla sambil memegang lengan Vano
“Gak, gak apa-apa kok” Jawab Vano meyakinkan setelah beberapa saat terdiam
“Yuk, balik” Ajak Vano
“Yakin?” Tanya Nayla
“Iya, ayo” Jawab Vano. Mereka berdua pun berjalan meninggalkan tempat itu.
Malam yang ditunggu-tunggu oleh sebagian besar siswa kelas dua belas pun tiba. Vano datang bersama dengan Nayla sementara Fika yang menjadi bagian dari kelompok menari untuk mengisi acara pembukaan sudah berada di lokasi sejak sore hari. Rio datang bersama Aldo, sementara Damar dan teman band Vano datang bersama.
Acara prom night dibuka dengan tarian tradisional yaitu Tari Yapong dari Fika bersama lima orang lainnya kemudian dilanjutkan dengan sambutan-sambutan dari Kepala Sekolah dan perwakilan kelas dua belas. Acara lainnya dilengkapi dengan penampilan band dari Vano yang melantunkan lagu Sahabat Kecil dari Blackout dan Sebuah Kisah Klasih dari Sheila On7. Selain itu, mereka menghadirkan bintang tamu yaitu seorang pianis yang membawa malam itu menjadi bernuansa klasik dan sampailah pada pembacaan king dan queen prom yang diplih melalui hasil voting oleh seluruh siswa kelas dua belas. Rio menjadi salah satu kandidatnya.
“Tebak siapa yang bakal jadi queen nya?” Tanya Fika sedikit berbisik pada Nayla
“Em.. Kak Moni deh kayaknya. Secara, dia kan model dan cantik juga jadi pasti banyak yang pilih” Jawab Nayla sambil berpikir.
“Selera lu tinggi amat, Kak Vanya lebih cocok jadi queen nya. Dia itu cantik tapi tetap sederhana” Kata Fika
“Iya sih” Ucap Nayla kemudian mereka pun kembali mengalihkan pandangannya kearah panggung depan untuk melihat king dan queen prom. Dan betapa terkejutnya mereka ketika mengetahui Rio menjadi king prom pada malam itu, sementara queen nya adalah Citra, salah satu siswi yang cantik dan berprestasi dibidang seni lukis. Nayla dan Fika hanya bisa saling memandang dan tertawa kecil karena tebakan mereka berdua tidak tepat. Akhirnya acara malam itu ditutup dengan pemutaran film pendek yang merupakan kumpulan dari aktifitas sekolah selama tiga bulan terakhir yang melibatkan seluruh siswa kelas dua belas. Tawa dan tangis mereka bersatu malam itu, melihat kejadian lucu dan sedih selama masa sekolah. Begitu pun dengan Rio dan Vano, juga Damar, Faldi dan Doni. Momen malam itu mereka abadikan dengan berfoto dan bergaya disetiap jepretan fotonya.
***

DETIK TERAKHIR
Beberapa minggu telah berlalu, samapilah pada pengumuman kelulusan siswa kelas dua belas termasuk Rio dan Vano. Sementara itu Nayla menunggu kabar mereka dengan harap-harap cemas, meskipun Ia yakin Vano maupun Rio bisa lulus. Sore itu seluruh siswa kelas duabelas berkumpul ditengah lapangan sekolah mendengarkan arahan dari guru. Saat pengumuman mengatakan bahwa angkatan mereka saat itu dapat lulus 100%, sontak semuanya berteriak, ada yang menangis, tertawa dan banyak diantaranya yang sujud syukur. Nayla, Fika dan Aldo yang juga menunggu pengumuman didepan kelasnya saling berpelukan mendengar bahwa mereka dapat lulus 100%, itu menandakan bahwa Rio, Vano maupun temannya yang lain juga telah lulus SMA.
Nayla melihat keseluruh siswa kelas dua belas yang baru saja lulus, mencari wajah seseorang yang diharapkannya segera Ia temukan kemudian Vano, Rio, Damar, Faldi dan Doni terlihat keluar dari dalam kerumunan siswa-siswa lain dengan sedikit berlari. Nayla yang melihat itu segera lari kearah Vano yang juga melihat kearahnya. Vano membuka tangannya seakan-akan telah mengetahui bahwa Nayla akan memeluknya. Nayla memeluk Vano, kali ini agak erat, tanpa sadar Nayla menjatuhkan air matanya.
“Hey” Vano perlahan melapaskan pelukannya dan melihat Nayla yang sedang menangis
“Kok?” Ucap Vano sambil menghapus air mata dipipi Nayla
“Kakak udah lulus yah, udah gak bisa pergi bareng lagi dong” Kata Nayla masih dengan sisa tangisnya
“Apaan sih, ntar dianterin deh kesekolahnya” Kata Vano
“Terus gak ada yang bisa aku gangguin lagi dong di sekolah”
“Kamu bisa gangguin aku dirumah kalau gitu”
“Yang jagain aku disekolah siapa?”
“Ntar kutitipin deh kepenjaga sekolah”
“Kak Vanoo” Ucap Nayla sambil memeluk Vano kembali.
“Peluk juga dong” Ucap Rio yang juga ikut memeluk Vano dari belakang
“Ikutan” Fika ikut memeluk Nayla dari belakang yang disusul oleh Aldo juga Damar sementara Faldi dibelakang Rio. Mereka berpelukan seakan-akan tidak bertemu kembali. Doni mengambil gambar mereka dengan kameranya, ternyata Ia sudah memotret bahkan saat Nayla berlari kearah Vano.
Beberapa saat kemudian, pandangan Vano kabur, telinganya mulai berdenging namun kali ini berbeda dengan sebelumnya, tubuhnya melemas, Vano pingsan. Nayla semakin panik sementara Rio yang sudah memeluk Vano membaringkannya dan membiarkan kepala Vano berada dipahanya. Nayla bingung, Ia tidak tahu ada apa dengan Vano, Ia terus menyebut-nyebut nama Vano berharap Vano akan terbangun. Siswa lain yang berada disekitar mereka berkumpul untuk mengetahui apa yang terjadi. Damar segera mengambil mobilnya dan membawanya kelapangan sekolah tempat Vano berada untuk segera dibawa kerumah sakit. Rio dan Aldo mengangkat Vano kedalam mobil diikuti dengan Nayla yang segera naik kedalam mobil. Rio memberikan kunci mobil milik Vano pada Aldo agar mereka menyusul menggunakan mobil milik Vano. Kejadiannya begitu cepat terjadi, Aldo, Fika, Faldi dan Doni segera menuju tempat parkir untuk kemudian menyusul mobil Damar yang belum jauh berjalan.
Nayla menelpon Lisa, kakak Vano yang sedang berada dikampusnya. Nayla tidak berani menelepon mama Vano karena takut membuat mamanya panik, seperti dirinya. Sesampainya dirumah sakit, Vano segera dimasukkan keruang Unit Gawat Darurat. Nayla, Fika, Aldo, Rio, Damar, Faldi dan Doni menunggu diluar ruangan. Nayla bingung, panik, takut, sedih bercampur dalam benaknya. Ia tidak tahu harus berbuat apa, Ia duduk diam menunggu kabar dan menunggu seserorang dapat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, Ia melihat Rio yang juga duduk terdiam didepannya seakan sedang memikirkan sesuatu. Damar berjalan bolak balik tidak tenang, Fika merangkul Nayla untuk dapat membuatnya lebih nyaman. Semua orang menunggu, menunggu kejelasan tentang keadaan Vano yang sebenarnya.
***
Tiga hari berlalu, Vano masih terbaring dirumah sakit, keadaannya belum menunjukkan kemajuan. Nayla setiap hari datang menjenguknya, berharap disetiap Ia datang, Vano dapat membuka matanya. Sampai akhirnya Ia memutuskan untuk bertanya pada Lisa mengenai keadaan Vano yang sebenarnya.
“Kak Lisa” Sapa Nayla sambil duduk disamping Lisa
“Hai Nay” Balas Lisa
“Ka Vano kenapa sih kak?” Tanya Nayla
“Dia sakit Nay” Jawab Lisa
“Iya, sakit apa kak?”
“Vano pernah bilang sesuatu soal sakitnya?”
“Ka Vano cuman pernah bilang kalau dia kena anemia” Perkataan Nayla membuat Lisa menghela napas. Lisa pun menceritakan keadaan Vano pada Nayla setelah beberapa saat sempat terdiam.
***
Nayla berjalan dengan cepat, mencari keberadaan Rio, Ia menanyakan Rio pada Damar yang tadi pergi bersama, Rio berada ditaman rumah sakit. Dengan air mata yang mengalir dipipinya, Nayla terus berjalan dengan amarah yang terlihat jelas diwajahnya. Ia mengingat lagi obrolannya dengan Lisa.
Beberapa saat yang lalu
“Nay, dengerin kakak, apapun yang akan terjadi sama Vano, kita semua harus terima” Kata Lisa menatap Nayla
“Maksud kaka?” Tanya Nayla tak mengerti
“Nay, sejak kecil, Vano di diagnosis mengalami  
“Nay, sejak kecil, Vano di diagnosis mengalami leukimia mielositik kronis. Kata dokter penyakit ini terjadi sekitar 15 sampai  20 persen saja pada anak" Jawab Lisa
“Tapi kenapa aku gak pernah sadar kak? Aku banyak ngabisin waktu sama Ka Vano, tapi aku gak tahu kalau ternyata Ka Vano sakit”
“Kamu pernah liat dia tiba-tiba diam disaat kalian ngobrol?”
“Sering”
“Saat itu berarti dia lagi kesakitan, tapi sekalipun dia gak pernah mau nunjukin ke orang-orang kalau dia lagi sakit. Ke orang rumah juga gitu. Kalau dirumah biasanya dia langsung masuk kamar dan gak keluar-keluar”
“Kenapa Ka Vano gak pernah cerita sih kak? Apa Ka Vano gak nganggap aku sebagai sahabat dia?”
“Kamu jangan berpikiran gitu Nay, dia hanya gak mau menyusahkan orang-orang disekitarnya. Pikiran dia, kalau orang-orang tahu dia sakit, pasti semua orang akan kasihan sama dia dan memperlakukan dia dengan berbeda. Dia gak mau kayak begitu Nay”
“Ka Vano berpikir begitu?
“Iya, satu-satunya orang yang tahu Vano sakit selain keluarga ya Rio”
“Rio? Kak Rio?”
“Iya Rio, itupun dia tahu tanpa sengaja. Papa Rio dokter, dan kebetulan dokter yang menangani Vano ya papanya Rio. Kaka gak tahu gimana Vano minta ke Rio untuk menyembunyikan ini selama bertahun-tahun. Rio dan Vano bukan kenal saat mereka masuk SMA, tapi saat Vano didagnosis mengidap penyakit itu” Jelas Lisa
“Vano itu adikku, tapi aku merasa kalau dia lebih dewasa dibanding aku” Lanjutnya.
***
Nayla menghampiri Rio yang sedang duduk menatap kosong kearah depan. Saat Rio menyadari Nayla berjalan kearahnya, Ia segera berdiri dari duduknya dan melihat kearah Nayla yang perlahan berjalan mendekatinya. Plak! Sebuah tamparan dari Nayla melayang dipipi Rio.
“Pinter banget ya acting, kenapa gak ikut casting aja biar jadi aktor sekalian” Kata Nayla dengan nada yang tinggi. Sementara Rio hanya diam sambil menatapnya
“Jago ya nyembunyiin ini selama bertahun-tahun, belajar dimana?” Sambung Nayla masih dengan amarahnya
“Tega banget sih” Nayla mulai mengeluarkan air mata
“Nay..” Ucap Rio, Ia bingung harus berbuat apa
“Selama ini aku kayak orang bego, Ka Vano aku sakit dan aku sama sekali gak tahu” Nayla terisak
“Nay, tenang Nay” Ucap Rio sambil memegang pelan lengan Nayla namun segera Nayla menepisnya
“Ka Rio jahat! serius aku gak bisa percaya ini” Nayla masih dengan tangisnya
“Nay jangan kayak gini Nay” Kata Rio sambil memegang kedua lengan Nayla
“Gak! Lepasin kak, kaka jahat” Nayla mulai memberontak namun segera Rio memeluknya.
“Gimana kalau ada apa-apa sama Ka Vano” Nayla terisak dalam pelukan Rio
“Gak akan terjadi apa-apa sama Vano” Kata Rio menenangkan Nayla sementara Nayla terus menangis, Ia melampiaskan segala amarah, kebingungan, ketakutan dan kesedihannya yang Ia tahan saat mengetahui bahwa Vano ternyata mengidap suatu penyakit mematikan.
***
Vano terbaring disebuah ruangan lengkap dengan bantuan alat pernapasan. Ia terlihat menggerakkan tangannya seiring dengan datangnya suster yang rutin untuk mengecek perkembangan kondisi Vano. Suster yang melihat Vano mulai membuka matanya, segera memanggil dokter.
“Dok, pasien atas nama Devano mulai sadar” Ucap suster itu dengan sedikit meninggikan suaranya sambil berlari kecil kearah seorang dokter yang berada tidak jauh dari ruangan Vano. Sementara itu Lisa, Mama Vano, Damar, Faldi dan Doni yang sedang duduk diluar ruangan segera berdiri dari duduknya berharap kabar baik dari kondisi Vano. Dokter dan suster itu segera masuk kedalam ruangan memeriksa keadaan Vano. Lisa segera menghubungi papanya sementara Damar segera mengambil ponselnya dan menghubungi Rio.
Ditempat lain dalam waktu yang bersamaan
Rio memberikan sebuah botol air minum untuk Nayla yang berada disampingnya. Nayla mulai menenangkan pikirannya, sementara Rio terus mencoba untuk membuat Nayla senyaman mungkin. Ponsel milik Rio berdering, menandakan ada panggilan masuk. Rio pun mengangkatnya, telepon dari Damar yang memberitahukan bahwa Vano sudah membuka matanya.
“Nay, Vano udah sadar. Ke ruangan yuk” Kata Rio kemudian mereka berdua pun segera berjalan dengan cepat. Saat dikoridor mereka bertemu dengan Fika dan Aldo yang baru saja datang
“Nay, Kak Rio” Panggil Fika kemudian berlari kecil mencoba menyamakan langkah kakinya dengan Nayla dan Rio
“Ka Vano udah mulai sadar” Kata Nayla sambil terus berjalan
“Alhamdulillah” Ucap Fika dan Aldo hamper bersamaan.
Sesampainya didepan ruangan, Nayla melihat Damar, Faldi dan Doni duduk didepan ruangan Vano. Nayla berjalan mendekati jendela ruangan untuk melihat apa yang terjadi didalam ruangan, dilihatnya Lisa dan mamanya sedang berbicara dengan Vano. Senyuman mulai terlihat diwajah Nayla.
“Masuk Nay” Kata Rio sambil membuka pintu ruangan dan Nayla pun berjalan masuk diikuti Rio dibelakangnya
“Sini Nay” Panggil Lisa memberikan tempat duduk pada Nayla
“Mah, kita keluar dulu yuk” Ajak Lisa kemudian pada mamanya
“Eh ada Nayla, yaudah mama keluar dulu ya Van” Kata Mama Vano sambil mulai beranjak
Lisa dan mamanya berjalan keluar ruangan, sementara Nayla juga berjalan pelan hingga duduk didekat Vano begitupun dengan Rio dibelakangnya
“Kak, sakit ya?” Kata Nayla sambil menggenggam tangan Vano
“Gak kok” Vano tersenyum
“Kok tega sih” Nayla tak bisa menahan air matanya yang tiba-tiba saja keluar tanpa disadari
“Hei, sejak kapan Naylaku cengeng” Kata Vano pelan
“Kak Vano akan baik-baik aja kan? Udah gak sakit lagi sekarang ya” Nayla menghapus air matanya
“Sakitnya ilang pas liat kamu” Kata Vano kemudian melihat Rio
“Yo, thanks ya” Lanjut Vano
“Apaan sih, jangan manja deh” Ucap Rio mencoba mencairkan suasana, Vano pun tertawa kecil
“Baik-baik yah Nay, jaga diri, percaya aja sama Rio, dia baik” Kata Vano membuat Nayla semakin mengeratkan genggamannya
“Iya, Kak Vano cepet sembuh dong” Nayla menahan air matanya
“Udah sembuh kok, kaka sayang sama Nayla” Kata Vano sambil mengelus pelan kepala Nayla
“Iya Nayla juga” Ucap Nayla yang terus menatap Vano yang semakin lemah
“Yo, makasih ya” Ucap Vano dengan suara yang semakin mengecil
“Lu temen terbaik gue Van” Kata Rio menahan air matanya. Vano tersenyum melihat Nayla dan Rio
“Gue ngantuk” Vano mulai merasakan sakit yang amat dalam, namun tak ingin Ia tunjukkan pada Nayla dan Rio
“Kakak mo istirahat ya? Aku sama Ka Rio keluar ya” Kata Nayla pada Vano yang terus tersenyum kearahnya hingga akhirnya matanya tertutup secara perlahan, genggaman tangannya pada tangan Nayla mulai lepas
“Van?” Panggil Rio
“Ka Vano? Kakak udah tidur ya?” Sambung Nayla sampai akhirnya alat pernapasan Vano mulai berbunyi menandakan Vano sudah tidak bernapas lagi. Rio segera membawa Nayla yang mulai histeris
“Enggak, alatnya rusak” Teriak Nayla dengan air mata yang mulai membanjiri pipinya
“Nay” Rio terus mencoba membawa Nayla hingga keluar ruangan, bergantian dengan dokter dan beberapa suster yang masuk kedalam ruangan itu
Fika yang melihat kondisi Nayla tak dapat berkata apa-apa dan mulai mengerti dengan apa yang terjadi. Aldo segera merangkul Fika mencoba menenangkan Fika agar tidak histeris seperti Nayla
“Ka Vano” Teriak Nayla dengan air mata yang terus mengalir Rio hanya bisa memeluk Nayla meskipun Ia juga sama terpukulnya, air mata Rio juga tumpah saat itu
Lisa yang juga banjir air mata merangkul mamanya yang saat itu terlihat mencoba ikhlas dengan kepergian Vano. Seakan-akan kejadian ini telah mereka persiapkan sejak lama. Dokter keluar dari dalam ruangan dan mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya Vano. Mendengar perkataan dokter Nayla semakin lemah hingga tidak dapat berdiri, Ia terduduk lemah sementara Rio terus mencoba untuk menenangkannya
“Enggak.. enggak.. tadi Ka Vano bilang dia ngantuk, dia cuman mau tidur sebentar kok” Kata Nayla terisak sementara Fika tidak mampu menahan tangisnya dan semakin sedih melihat Nayla
“Nay, jangan gini Nay.. Vano udah tenang, dia udah gak sakit lagi” Kata Rio masih memeluk Nayla
“Siapa yang jagain aku kak, yang antar jemput aku kesekolah, yang lindungin aku dari cowok kayak Danny, yang nemenin aku ke pameran tiap tahun, yang ngehibur aku, yang selalu sabar, yang.. yang..” Nayla tak dapat melanjutkan kata-katanya, Ia terus terisak dalam pelukan Rio
“Nay, ikhlas” Ucap Rio yang mencoba kuat meskipun air mata yang terus mengalir tak dapat ditahannya. Nayla menangis sejadi-jadinya, apalagi saat Ia melihat mayat Vano mulai ditutup dan dibawa keluar ruangan lalu lewat dihadapannya. Tubuh Vano yang saat itu sudah dingin, pucat dan tak bernyawa membuat Rio tak sanggup melihatnya sehingga Ia memalingkan wajahnya saat mayat Vano dibawa keluar oleh suster. Nayla, Rio dan semua orang yang ada saat itu tak ada yang menyangka bahwa saat itu merupakan detik terakhir mereka melihat Vano.
***

RAHASIA HATI
Proses pemakaman Vano telah selesai, menyisakan tangis dari orang-orang yang menyayanginya. Papa Vano merupakan orang yang paling histeris diantara keluarga besar Vano yang lainnya, itu karena Ia tidak menyaksikan detik-detik terakhir Vano. Sementara itu, Nayla sudah mencoba ikhlas dengan kepergian Vano, Ia mulai menenangkan pikirannya sendiri, begitu pun dengan Rio.
Nayla masuk kedalam kamar Vano, melihat-lihat foto yang terpajang rapi diatas mejanya. Fotonya bersama Vano saat masih kecil hingga SMA. Nayla tersenyum melihat foto itu seakan membawanya kembali pada kenangan-kenangan indah yang Ia lalui bersama Vano.
Rio melihat Nayla yang tersenyum melihat fotonya bersama Vano kemudian masuk kedalam kamar Vano menghampiri Nayla yang sedang duduk dikursi depan meja belajar Vano, pintu kamar Ia biarkan terbuka.
“Nay” Sapa Rio
“Ka Rio” Nayla tersenyum
“Mau tahu rahasia besar gak?” Tanya Rio
“Rahasia?” Nayla tak mengerti
“Iya rahasia, kamu bakal gak nyangka” Kata Rio sambil memberikan sebuah buku berukuran sedang dan Ia berikan pada Nayla. Nayla melihat sampul buku itu yang bertuliskan ‘Remember When
“Jangan dibuka dulu, ntar deh dirumah kamu, lebih asik baca liat sendiri” Kata Rio saat Nayla hendak membuka buku itu
“Ini apa kak?” Tanya Nayla
“Ntar juga bakalan tahu, jaga baik-baik ya, itu dari Vano” Jawab Rio, membuat Nayla menghela napas panjang
“Sekarang aku tahu, waktu kita main truth or dare, hal yang disembunyiin sama Ka Vano ternyata penyakitnya” Kata Nayla
“Kamu tahu kenapa dia gak mau orang tahu penyakitnya?”
“Karna dia gak mau nyusahin orang kan?”
“Bukan cuman itu, dia mau semua orang perlakukan dia dengan semestinya, apa adanya ke dia, kebayang gak kalau kamu sama yang lain tahu dia sakit? Kalian pasti coba buat dia selalu senang, kalian gak akan bisa marah kalau dia buat salah, kalian akan ikut semua mau dia, karna kalian tahu umur dia gak akan lama” Jelas Rio
“Itu udah dia lihat sendiri di keluarganya, dari kecil dia selalu dimanjain dan dia gak mau itu terjadi juga disekolah. Dia gak mau orang baik ke dia hanya karna tahu kalau dia udah mau mati. Apalagi kamu” Tambah Rio
“Aku?” Tanya Nayla
“Iya kamu, katanya dia suka banget kalau kamu udah manja-manja ke dia, minta ini itu, hal yang gak akan pernah dia dapetin dirumah atau dari siapapun. Dia seneng kamu bergantung ke dia, itu buat dia jadi merasa berguna. Dia gak bayangin kalau kamu tahu dia sakit, mungkin kamu gak akan sebergantung itu sama dia. Dia jadi ketua osis, ikut kegiatan sana-sini, semuanya dia lakuin untuk dapat lebih nikmatin hidupnya yang dia tahu itu singkat” Jawab Rio
“Ka Vano” Ucap Nayla pelan
“Dia tuh suka sebel lagi, kalau liat orang yang banyak nyia-nyiain waktu untuk hal yang gak berguna hanya karna orang itu tahu bahwa dia belum mo mati. Beda sama Vano, tiap hari dia pasti bersyukur masih bisa bernapas, masih bisa ketemu kamu, masih bisa ngelakuin hal berguna buat orang lain. Salut gue” Jelas Rio, Nayla menunduk
“Yaudah, keluar yuk, gabung sama yang lain” Ajak Rio dan Nayla pun hanya mengangguk pelan dan berjalan keluar kamar Vano sambil membawa buku yang diberikan Rio dan sebuah foto masa kecilnya bersama Vano.
***
Malam itu Nayla duduk bersandar diatas tempat tidurnya, ditangannya ada buku yang diberikan oleh Rio, Ia menghela napas panjang dan mulai membuka buku itu, buku dengan judul Remember When.
Dihalaman pertama, ada fotonya bersama Vano saat mereka memakai baju seragam SD, kemudian dibawahnya ada foto mereka dengan seragam SMP dan kemudian dengan seragam SMA. Nayla tertawa kecil melihat foto itu, selanjutnya Ia membuka lembar kedua. Betapa kagetnya Ia melihat fotonya dengan Rio, foto yang diambil saat Nayla pertama kali bertemu dengan Rio dikoridor sekolah, dibawah foto itu terdapat tulisan ‘Jangan terlambat lagi ya’ itu mengingatkan Nayla pada seseorang yang pernah memberikan tulisan yang sama dengan sebuah coklat. Ternyata Vano sempat mengambil gambar Nayla dan Rio saat itu.
“Jangan-jangan selama ini…” Kata Nayla sambil membuka lagi lembaran selanjutnya, ada foto Nayla bersama Rio diperpustakaan saat Nayla pertama kali menghampiri Rio, dilengkapi dengan tulisan dibawahnya ‘Aku seneng kalian ketemu’. Nayla membuka lembar selanjutnya, dilihatnya lagi foto dirinya yang berdiri didepan pintu gerbang dengan memakan sebuah coklat, Ia memutar ingatannya kembali saat itu, saat Vano menolak untuk pergi ke pameran. Dibawah foto itu juga ada tulisan ‘kamu ngambek ya? Aku kasih coklat biar kamu seneng dikit’ disamping foto itu, ada foto Nayla sedang tersenyum memandang sebuah lukisan, foto yang diambil saat Ia pergi ke pameran bersama Vano, dibawah foto itu tertulis ‘Aku kan udah bilang kalau kamu bakal ke pameran
Tanpa Nayla sadari air matanya jatuh, Ia menangis mengingat semua kejadian itu, kemudian dibukanya lagi lembar selanjutnya, ada fotonya bersama Danny didepan gerbang sekolah saat Danny mengantarnya ke sekolah. ternyata saat Danny menjemput Nayla dirumahnya, Vano segera melaju secepat mungkin agar dapat mengejar mobil milik Danny untuk memastikan bahwa Danny benar-benar mengantar Nayla kesekolah. Dibawah foto itu ada tulisan ‘Sebenernya aku gak suka kamu sama Danny, tapi aku senang kalau kamu senang’. Air mata Nayla kembali tumpah, Ia kemudian melihat bunga edelweiss yang disimpannya dalam sebuah vas bunga berbentuk botol yang ternyata bunga itu dari Vano
Dilembar selanjutnya, terdapat foto mereka berenam saat liburan di puncak dilengkapi dengan tulisan ‘Tau gak kenapa aku bahagia banget disini? Aku senang kamu bisa akrab sama Rio, aku senang kita bisa ngumpul bareng, ini liburan terindah bagiku’ Disamping foto itu terdapat foto Nayla dan Vano saat acara prom night dengan tulisan dibawahnya ‘Warna baju kita samaan, aku suka warna yang kamu pilih’ Nayla tersenyum melihat foto itu
Nayla membuka lembar-lembar selanjutnya yang penuh dengan foto dan kata-kata singkat dari Vano. Foto yang diukir indah bersama dengan tulisan-tulisannya, bentuknya unik, seakan dari foto itu Vano ingin menceritakan bahwa setiap momennya bersama Nayla merupakan saat-saat yang bahagia. Sampai akhirnya ada sebuah tulisan, tulisan yang ditulis oleh Vano saat dia sekarat, tulisan yang semakin membuat air mata Nayla tak dapat berhenti mengalir saat membacanya.
Dear Nayla Amanda,
Kalau buku ini udah ditangan kamu sekarang, berarti aku udah gak ada ya..
Kamu pasti marah ya? Kesel ya? Maaf yaa, aku bukannya gak mau ngasih tau, ntar dijelasin sama Rio deh kenapa aku gak bisa ngasih tahu kamu soal ini.
Aku sakit sejak umurku 6 tahun, bahkan dokter bilang mungkin aku gak akan bertahan sampai umurku 10 tahun. But see? Aku udah lewat 17 tahun tapi masih bisa nemenin kamu. Dokter yang nanganin aku itu papanya Rio, waktu aku ke klinik papanya aku ketemu Rio, dia nemenin aku waktu diperiksa, katanya baru kali itu liat anak seumur dia diperiksa sama papanya. Maaf ya aku gak pernah cerita soal Rio, ntar kamu cemburu lagi kalau tahu aku punya sahabat lain selain kamu hehee. Kamu jangan marahin dia yah, dia udah banyak bantuin aku, selama ini dia seakan-akan gantiin papanya buat meriksa keadaanku, aku juga yang minta dia buat jangan kasih tau siapa-siapa kalau aku sakit.
Kamu tahu Nay? Selama ini aku bertahan karena ada kamu, sejak kita ketemu waktu SD, aku udah suka sama kamu, aku sama suara cempreng kamu, aku suka cara kamu berpakaian, aku suka saat kamu sok-sokan manja ke aku, aku suka cara kamu ketawa, aku suka senyum kamu, aku suka semua tentang kamu. Dan sampai akhirnya aku sadar, aku sayang banget sama kamu, kamu cinta pertama dan terakhir buatku.
Kaget ya? Sama aku juga
Tapi aku gak mau ubah hubungan persahabatan kita, aku seneng kayak gini, ada disamping kamu, jagain kamu, buat kamu seneng itu udah cukup. Aku kemarin sengaja kasih kamu coklat sama bunga tanpa bilang itu dari aku. Aku juga pengen kali kayak orang-orang yang suka ngasih coklat dan bunga sama cewek yang mereka suka. Kalau aku ngasihnya sebagai Vano pasti beda, jadi aku ngasihnya diam-diam sebagai orang yang mencintaimu, katamu apa? secret admirer ya? Boleh juga, tapi lebih tepatnya secret love karena aku tahu kita gak akan pernah bisa sama-sama jadi pasangan. Ada orang yang lebih cocok sama kamu, Rio.
Aku gak mau kamu sama orang lain, selama ini aku nyari orang yang bisa gantiin posisiku buat jagain kamu, dan gak ada yang sebaik Rio. Aku gak mau kamu punya urusan lagi sama cowok kayak Danny, aku gak mau ada Danny Danny lain lagi. Aku tahu Rio juga udah suka sama kamu sejak pertama kali kalian ketemu dikoridor sekolah, kamu gak tahu kan aku juga ada disitu, ngeliat kalian dari jauh. Aku ngeliat Rio balik badan buat liatin kamu yang lari-lari gak jelas karena telat, lucu deh, aku ketawa waktu liat itu.
Nay, jangan mau kena gombal sama cowok gak jelas, aku percayain kamu sama Rio.
Nay, kamu baik-baik yaa, temenan terus sama Fika, dia sahabat yang baik setelah aku hehee. Jangan pulang kemaleman kalau keluar malam, jangan lupa jaketnya dipake, jangan sakit yaa. Makasih udah jadi orang yang buat aku bisa ngerasain apa itu cinta, ketulusan dan keikhlasan.
Maaf yaa gak bisa terus disamping kamu, kalau kangen aku peluk aja Rio. Jangan buang-buang waktu untuk hal yang gak guna Nay, kamu gak akan pernah tahu betapa berharganya waktu kalau kamu sia-siain gitu aja. Banyak-banyak bersyukur ya masih dikasih umur panjang. Ini rahasia hatiku Nay, yang selama ini aku simpan.
Aku sayang kamu, see you in another life Nay. Bye..
Love,
Devano Rian

Nayla menutup bukunya dengan terisak-isak, Ia tidak menyangka bahwa Vano sangat memperhatikannya lebih dari yang Ia pikirkan. Sampai akhirnya Ia sadar bahwa selama ini dia tidak dapat lepas dari Vano, rasa sayangnya yang teramat dalam untuk Vano baru disadarinya saat Vano sudah tidak berada lagi disampingnya untuk selamanya.
***
Tujuh tahun kemudian
Nayla berjalan ditaman kantornya, disebuah jalanan setapak dengan pemandangan hijau dan kolam ikan disisi kanannya, Ia kemudian duduk disebuah bangku menikmati alam itu sambil menunggu seseorang. Saat ini Ia bekerja sebagai seorang HRD di salah satu perusahaan swasta di kota itu.
“Ehm, sendirian aja” Ucap seseorang sambil duduk disamping Nayla
“Ka Rio, lama banget sih” Kata Nayla
“Kamu kali yang kecepetan” Kata Rio kemudian mereka tertawa kecil
Design kakak udah selesai?” Tanya Nayla
“Udah kok, aku punya design baru juga” Jawab Rio, saat ini Ia sudah menjadi seorang arsitek dan memiliki cv sendiri.
“Ohh gitu” Ucap Nayla
“Mau liat gak?”
“Gak usah, udah bosen liat gambaran kakak”
“Okay aku bukain dulu” Kata Rio sambil mengambil ipadnya dan memperlihatkan sebuah desain rumah pada Nayla meskipun Nayla tak memintanya
“Kok tumben kali ini detail banget” Kata Nayla saat melihat desain dari Rio
“Iya, masa buat rumah kita desainnya setengah-setengah sih. Jadi nanti disini ada perpustakaan kecil buat kumpulan buku aku, kamu sama anak kita nanti, terus disini dapur buat kamu masak, terus kalau kamu lagi bete aku udah nyiapin RTH kecil disebelah sini, terus…” Jelas Rio sambil menjelaskan bagian-bagian dalam desainnya, namun belum sempat Ia melanjutkan perkataannya Nayla segera memotongnya
“Tunggu.. tunggu.. rumah kita?” Tanya Nayla bingung
“Iya rumah kita” Jawab Rio santai
“Maksud kakak?”
“Nikah yah sama aku” Perkataan Rio membuat Nayla mengkerutkan keningnya
“Apaan? Kakak selama ini nembak aku aja gak pernah, kita pacaran juga kagak, tiba-tiba ngajak nikah” Kata Nayla
“Buat apa pacaran kalau kita bisa lebih kenal kayak gini, kita kenal juga udah lebih dari tujuh tahun. Lagian aku gak mau jadi pacar kamu, ntar status aku sama lagi kayak sapa tuh mantan kamu, Danny?”
“Apaan sih, udah kelaut lagi orangnya”
“Lagian aku gak perlu jelasin perasaanku kan, udah dikasih tahu sama Vano lewat buku dia”
“Emang kakak gak mau tahu perasaan aku?”
“Ya pasti sama lah”
“Dih PD banget sih”
“Yah makanya, nikah yuk” Tawar Rio sambil tersenyum lebar kearah Nayla
“Ini serius ngelamar?”
“Yaiyalah, kapan aku becanda”
“Kaka becanda mulu lagi”
“Kali ini serius Nay, tega amat sih orang ngelamar masa dibilangin becanda. Aku udah design rumah buat kita juga nih”
“Teruus?”
“Terus nanti rumahnya buat kita tinggalin lah, masa buat tetangga”
“Hahaha Ka Rio apaan sih” Tawa Nayla
“Nay serius nih, nikah ya sama aku?”
“Aku gak bisa bedain Ka Rio serius atau becanda” Kata Nayla kemudian Rio berdiri dan mengeluarkan sesuatu dari saku celananya kemudian setengah berlutut dihadapan Nayla
Marry me?” Tanya Rio sambil menyodorkan sebuah cincin bewarna silver. Nayla terkejut tak dapat berkata apa-apa. Ia hanya dapat menganggukkan kepalanya dan tersenyum kearah Rio. Rio segera memasangkan cincin yang sudah Ia siapkan jauh sebelumnya pada jari manis Nayla
“Makasih Nay” Ucap Rio
“Aku yang makasih kak” Nayla tersenyum kemudian ponsel milik Nayla berdering, dilihatnya telepon dari Aldo dan Ia pun segera mengangkatnya
“Halo” Ucap Nayla
“Halo Nay, dimana?” Tanya Aldo
“Lagi dikantor, kenapa? Jawab Nayla kemudian bertanya kembali
“Nih Fika udah mo ngelahirin kayaknya, gue bingung mau diapain” Kata Aldo panik
“Kok bingung sih, bawa kerumah sakit sekarang Al, cepetan” Kata Nayla geram
“Dia teriak gue jadi panik banget ini, gak ada orang disini”
“Yaudah cepet bawa kerumah sakit deket situ, sms gue ya rumah sakitnya, gue jalan sekarang” Kata Nayla sambil memasukkan ponselnya kedalam tasnya.
“Ada apa Nay?” Tanya Rio
“Fika udah mo ngelahirin” Jawab Nayla
“Serius? cepet yah”
“Cepet apanya udah sembilan bulan Ka Rio, ayo” Nayla menarik pelan tangan Rio agar dapat segera berjalan
“Ntar abis itu kamu” Kata Rio
“Apaan sih Ka Rio” Nayla tertawa begitu pun dengan Rio, kemudian Rio merangkul Nayla dan mereka berdua berjalan dan meninggalkan tempat itu.

***
THE END


0 comments:

Post a Comment

 

Readvelo Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang