Aku melihat
dari balik jendela ruangan kelas XII IPA 2, hari ini mendung dan sepertinya
sebentar lagi akan turun hujan. Aku segera mengeluarkan jaket dari tas ransel
hitamku dan mulai beranjak dari bangku tempat dudukku.
“Dim, bentar anak-anak pada ngumpul
tuh di cafe biasa. Gak ikutan?” Tanya Leo, teman sekelasku. Bukan, dia bukan
hanya sekedar teman bagiku, dapat dibilang dia sudah seperti saudaraku sendiri.
Dia sudah mengenalku sejak kami masuk di Sekolah Dasar yang sama. Apapun
keadaanku, Leo selalu mendukungku bahkan disaat-saat yang paling terpuruk
sekalipun, Leo selalu ada seakan-akan dia telah mengetahui segala isi hatiku
meskipun aku tidak mengatakannya. Aku hidup hanya bersama dengan ayah dan adik
perempuanku yang saat ini baru saja memasuki Sekolah Menengah Pertama. Ayah dan
ibuku bercerai ketika aku masih berusia 10 tahun dan adikku baru saja berusia 5
tahun. Saat ini ibuku telah menikah lagi dan memiliki seorang anak perempuan, entah
bagaimana aku dan adikku lebih memilih tinggal bersama dengan ayah. Meskipun
begitu, aku tidak pernah merasa kesepian karena Leo selalu menemaniku.
